Indramayu — PEMALSU TANDA TANGAN, 6 TAHUN PIDANA dan/atau 2 MILIAR DENDA
PERTANYAAN
Saya mau tanya, berapa lama hasil forensik pemalsuan tanda tangan keluar? Lalu, bagaimana jerat hukum bagi pelaku pemalsuan tanda tangan menurut KUHP dan UU 1/2023?
Atas penjelasannya diucapkan terimakasih, untuk ubklawyers dan paralegalnya semoga selalu diberikan kesehatan, kesuksesan, kesabaran dan keselamatan dunia-akhirat. Aamiin..
Wenning – Pertamina Exor
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
“INTISARI JAWABAN”
【Hukum Pidana】
ˢᵉᵖᵃⁿʲᵃⁿᵍ ᵖᵉⁿᵉˡᵘˢᵘʳᵃⁿ ᵏᵃᵐⁱ, ᵏᵉˡᵘᵃʳⁿʸᵃ ʰᵃˢⁱˡ ᶠᵒʳᵉⁿˢⁱᵏ ᵖᵉᵐᵃˡˢᵘᵃⁿ ᵗᵃⁿᵈᵃ ᵗᵃⁿᵍᵃⁿ ᵗⁱᵈᵃᵏ ᵈᵃᵖᵃᵗ ᵈⁱᵖᵃˢᵗⁱᵏᵃⁿ ˢᵉᶜᵃʳᵃ ˢᵉᵖᵉⁿᵘʰⁿʸᵃ, ᵐᵉⁿᵍⁱⁿᵍᵃᵗ ʳᵘᵐⁱᵗⁿʸᵃ ᵖᵉʳˢʸᵃʳᵃᵗᵃⁿ ᵈᵃⁿ ˡᵃⁿᵍᵏᵃʰ ᵈᵃˡᵃᵐ ᵐᵉᵐᵇᵘᵏᵗⁱᵏᵃⁿ ᵖᵉᵐᵃˡˢᵘᵃⁿ ˢᵘᵃᵗᵘ ᵗᵃⁿᵈᵃ ᵗᵃⁿᵍᵃⁿ.
ᴬᵖᵃᵇⁱˡᵃ ᵗᵉˡᵃʰ ᵗᵉʳᵇᵘᵏᵗⁱ ᵈᵃˡᵃᵐ ʰᵃˢⁱˡ ᶠᵒʳᵉⁿˢⁱᵏ ʸᵃⁿᵍ ᵈⁱˡᵃᵏᵘᵏᵃⁿ ᵒˡᵉʰ ᴸᵃᵇᵒʳᵃᵗᵒʳⁱᵘᵐ ᶠᵒʳᵉⁿˢⁱᵏ ᴾᵒˡʳⁱ, ᵐᵃᵏᵃ ᵖᵉˡᵃᵏᵘ ᵖᵉᵐᵃˡˢᵘᵃⁿ ᵗᵃⁿᵈᵃ ᵗᵃⁿᵍᵃⁿ ᵈᵃᵖᵃᵗ ᵈⁱᵏᵉⁿᵃᵏᵃⁿ ᴾᵃˢᵃˡ ²⁶³ ʲᵒ. ᴾᵃˢᵃˡ ³⁹² ᴷᵁᴴᴾ ˡᵃᵐᵃ ᵈᵃⁿ ᴾᵃˢᵃˡ ³⁹¹ ʲᵒ. ᴾᵃˢᵃˡ ³⁹² ᵁᵁ ¹/²⁰²³ ᵗᵉⁿᵗᵃⁿᵍ ᴷᵁᴴᴾ ᵇᵃʳᵘ ʸᵃⁿᵍ ᵇᵉʳˡᵃᵏᵘ ³ ᵗᵃʰᵘⁿ ˢᵉʲᵃᵏ ᵗᵃⁿᵍᵍᵃˡ ᵈⁱᵘⁿᵈᵃⁿᵍᵏᵃⁿ ʸᵃⁱᵗᵘ ᵗᵃʰᵘⁿ ²⁰²⁶.
ᴾᵉⁿʲᵉˡᵃˢᵃⁿ ˡᵉᵇⁱʰ ˡᵃⁿʲᵘᵗ ᵈᵃᵖᵃᵗ ᴬⁿᵈᵃ ᵇᵃᶜᵃ ᵘˡᵃˢᵃⁿ ᵈⁱ ᵇᵃʷᵃʰ ⁱⁿⁱ.
ULASAN SELENGKAPNYA;
Terimakasih atas pertanyaan Anda.
Artikel ini dibuat berdasarkan KUHP lama dan UU 1/2023 tentang KUHP yang diundangkan pada tanggal 2 Januari 2023.
Hasil Forensik Pemalsuan Tanda Tangan
Perlu diketahui sebelumnya, F͟o͟r͟e͟n͟s͟i͟k͟ m͟e͟r͟u͟p͟a͟k͟a͟n͟ s͟a͟l͟a͟h͟ s͟a͟t͟u͟ m͟e͟t͟o͟d͟e͟ i͟l͟m͟i͟a͟h͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟g͟u͟n͟a͟k͟a͟n͟ d͟a͟l͟a͟m͟ p͟r͟o͟s͟e͟s͟ p͟e͟m͟b͟u͟k͟t͟i͟a͟n͟ h͟͟u͟͟k͟͟u͟͟m͟͟, t͟e͟r͟m͟a͟s͟u͟k͟ d͟a͟l͟a͟m͟ p͟e͟r͟k͟a͟r͟a͟ p͟e͟m͟a͟l͟s͟u͟a͟n͟ t͟a͟n͟d͟a͟ t͟͟a͟͟n͟͟g͟͟a͟͟n͟͟. Dalam kasus ini, tidak dapat dibuktikan hanya melalui pengamatan biasa karena secara visual dapat tampak sangat mirip dengan tanda tangan asli. Oleh karena itu, untuk membuktikan keabsahan atau kepalsuan tanda tangan tersebut, menurut hemat kami d͟i͟p͟e͟r͟l͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟m͟e͟r͟i͟k͟s͟a͟a͟n͟ f͟o͟r͟e͟n͟s͟i͟k͟ o͟l͟e͟h͟ l͟e͟m͟b͟a͟g͟a͟ y͟a͟n͟g͟ b͟͟e͟͟r͟͟w͟͟e͟͟n͟͟a͟͟n͟͟g͟͟, y͟a͟i͟t͟u͟ L͟a͟b͟o͟r͟a͟t͟o͟r͟i͟u͟m͟ F͟o͟r͟e͟n͟s͟i͟k͟ K͟e͟p͟o͟l͟i͟s͟i͟a͟n͟ N͟e͟g͟a͟r͟a͟ R͟e͟p͟u͟b͟l͟i͟k͟ I͟n͟d͟o͟n͟e͟s͟i͟a͟ (“L͟a͟b͟f͟o͟r͟ P͟͟͟o͟͟͟l͟͟͟r͟͟͟i͟͟͟”). Sebagai informasi. Labfor Polri ini memiliki tugas dan fungsi dalam membina serta menyelenggarakan pemeriksaan ilmiah atas barang bukti yang berkaitan dengan tindak pidana.[¹]
Kemudian, d͟a͟l͟a͟m͟ h͟a͟l͟ p͟e͟m͟a͟l͟s͟u͟a͟n͟ d͟͟o͟͟k͟͟u͟͟m͟͟e͟͟n͟͟, p͟e͟m͟e͟r͟i͟k͟s͟a͟a͟n͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ o͟l͟e͟h͟ B͟i͟d͟a͟n͟g͟ D͟o͟k͟u͟m͟e͟n͟ K͟͟r͟͟i͟͟m͟͟i͟͟n͟͟a͟͟l͟͟i͟͟s͟͟t͟͟i͟͟k͟͟, y͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟c͟a͟k͟u͟p͟ a͟n͟a͟l͟i͟s͟i͟s͟ t͟a͟n͟d͟a͟ t͟͟a͟͟n͟͟g͟͟a͟͟n͟͟, d͟a͟n͟ h͟a͟s͟i͟l͟ k͟e͟t͟i͟k͟a͟n͟ d͟͟͟o͟͟͟k͟͟͟u͟͟͟m͟͟͟e͟͟͟n͟͟͟. Melalui pendekatan ilmiah seperti analisis tekanan goresan, arah penulisan, hingga karakteristik unik dari individu penulis, a͟h͟l͟i͟ f͟o͟r͟e͟n͟s͟i͟k͟ d͟a͟p͟a͟t͟ m͟e͟n͟y͟i͟m͟p͟u͟l͟k͟a͟n͟ a͟p͟a͟k͟a͟h͟ s͟u͟a͟t͟u͟ t͟a͟n͟d͟a͟ t͟a͟n͟g͟a͟n͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ a͟s͟l͟i͟ a͟t͟a͟u͟ h͟a͟s͟i͟l͟ p͟e͟m͟a͟l͟s͟u͟a͟n͟ k͟a͟r͟e͟n͟a͟ s͟e͟j͟a͟t͟i͟n͟y͟a͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟n͟g͟i͟d͟e͟n͟t͟i͟f͟i͟k͟a͟s͟i͟k͟a͟n͟ t͟a͟n͟d͟a͟ t͟a͟n͟g͟a͟n͟ k͟e͟l͟i͟h͟a͟t͟a͟n͟n͟y͟a͟ s͟e͟o͟l͟a͟h͟-o͟l͟a͟h͟ s͟a͟m͟a͟ t͟e͟t͟a͟p͟i͟ p͟a͟d͟a͟ k͟͟e͟͟n͟͟y͟͟a͟͟t͟͟a͟͟a͟͟n͟͟ t͟i͟d͟a͟k͟l͟a͟h͟ s͟͟a͟͟m͟͟a͟͟.[²]
Oleh karena itu, menjawab pertanyaan Anda mengenai berapa lama hasil forensik pemalsuan tanda tangan dikeluarkan, maka menurut hemat kami c͟e͟p͟a͟t͟ a͟t͟a͟u͟ l͟a͟m͟a͟n͟y͟a͟ w͟a͟k͟t͟u͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟b͟u͟t͟u͟h͟k͟a͟n͟ u͟n͟t͟u͟k͟ h͟a͟s͟i͟l͟ f͟o͟r͟e͟n͟s͟i͟k͟ t͟e͟r͟s͟e͟b͟u͟t͟ t͟e͟r͟g͟a͟n͟t͟u͟n͟g͟ k͟e͟l͟e͟n͟g͟k͟a͟p͟a͟n͟ d͟o͟k͟u͟m͟e͟n͟ p͟e͟m͟b͟a͟n͟d͟i͟n͟g͟ y͟a͟n͟g͟ a͟k͟a͟n͟ d͟i͟p͟e͟r͟i͟k͟s͟a͟ d͟a͟n͟ A͟n͟d͟a͟ s͟e͟r͟a͟h͟k͟a͟n͟ k͟e͟p͟a͟d͟a͟ p͟e͟n͟y͟i͟d͟i͟k͟ k͟͟e͟͟p͟͟o͟͟l͟͟i͟͟s͟͟i͟͟a͟͟n͟͟.
Dengan demikian, perlu diperhatikan persyaratan barang bukti dokumen yang wajib memenuhi kelengkapan teknis sebagai berikut:[³]
a. dokumen bukti yang
dikirimkan adalah
dokumen asli bukan
merupakan tindasan
karbon, faks atau
fotokopi;
b. dokumen bukti
dilengkapi dengan
dokumen
pembanding
collected dan
requested yang
valid;
c. dokumen bukti
berupa fotokopi
hanya dapat
diperiksa apabila
tujuan pemeriksaan
adalah untuk
mengetahui apakah
dokumen bukti
merupakan fotokopi
dari dokumen
pembanding;
d. untuk pemeriksaan
fisik dokumen antara
lain penghapusan,
perubahan,
penambahan/
penyisipan atau
ketidakwajaran
lainnya cukup
dikirim dokumen
buktinya saja; dan
e. Seluruh dokumen
dikumpulkan dalam
1 amplop, tidak
boleh d͟͟i͟͟l͟͟i͟͟p͟͟a͟͟t͟͟,
d͟͟i͟͟b͟͟u͟͟n͟͟g͟͟k͟͟u͟͟s͟͟, d͟͟i͟͟i͟͟k͟͟a͟͟t͟͟,
d͟͟i͟͟l͟͟a͟͟k͟͟, d͟i͟s͟e͟g͟e͟l͟, dan
segera dikirim ke
Labfor Polri.
Sepanjang penelusuran kami, c͟e͟p͟a͟t͟ a͟t͟a͟u͟ l͟a͟m͟b͟a͟t͟n͟y͟a͟ h͟a͟s͟i͟l͟ p͟e͟m͟e͟r͟i͟k͟s͟a͟a͟n͟ f͟o͟r͟e͟n͟s͟i͟k͟ j͟u͟g͟a͟ s͟a͟n͟g͟a͟t͟ d͟i͟p͟e͟n͟g͟a͟r͟u͟h͟i͟ o͟͟l͟͟e͟͟h͟͟ v͟o͟l͟u͟m͟e͟ p͟e͟k͟e͟r͟j͟a͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ s͟e͟d͟a͟n͟g͟ d͟i͟t͟a͟n͟g͟a͟n͟i͟ o͟l͟e͟h͟ L͟a͟b͟f͟o͟r͟ P͟o͟l͟r͟i͟ i͟t͟u͟ s͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟r͟͟i͟͟. Proses analisis tanda tangan bukanlah pekerjaan yang sederhana, mengingat bentuk dan tarikan-tarikan grafis pada suatu tanda tangan sangat kompleks dan sering kali bersifat unik serta individual.
Di sisi lain, kesulitan bertambah ketika pemeriksa harus menganalisis spesifikasi dan permanensi dari suatu tanda tangan yang pada dasarnya tidak bisa lepas dari pengaruh kebiasaan motorik penandatangan. Penelitian oleh para ahli grafologi menunjukkan bahwa variasi dalam tulisan tangan seseorang, termasuk tanda tangan, pada akhirnya menjadi bagian dari kebiasaan yang tidak disadari (habitual) dan bersifat otomatis.
Oleh karena itu, seorang pemeriksa dokumen forensik harus memiliki kemampuan untuk membedakan antara variasi yang wajar dengan indikasi pemalsuan. Pemeriksa harus mampu menentukan:[⁴]
a. apakah variasi
(perbedaan) yang
muncul merupakan
variasi yang wajar
atau tidak;
b. apakah variasi
tersebut muncul
secara berulang dan
konsisten dalam
dokumen
pembanding; serta
c. apakah variasi
tersebut merupakan
unsur grafis pribadi
yang bersifat sangat
individual.
Analisis ini memerlukan ketelitian tinggi dan tidak dapat dilakukan secara tergesa-gesa, s͟e͟h͟i͟n͟g͟g͟a͟ s͟a͟n͟g͟a͟t͟ w͟a͟j͟a͟r͟ a͟p͟a͟b͟i͟l͟a͟ d͟a͟l͟a͟m͟ b͟e͟b͟e͟r͟a͟p͟a͟ k͟a͟s͟u͟s͟ m͟e͟m͟b͟u͟t͟u͟h͟k͟a͟n͟ w͟a͟k͟t͟u͟ y͟a͟n͟g͟ c͟u͟k͟u͟p͟ p͟͟a͟͟n͟͟j͟͟a͟͟n͟͟g͟͟.
Tindak Pidana Pemalsuan Tanda Tangan Menurut KUHP dan UU 1/2023
Menjawab pertanyaan selanjutnya, pada dasarnya, t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ p͟e͟m͟a͟l͟s͟u͟a͟n͟ t͟a͟n͟d͟a͟ t͟a͟n͟g͟a͟n͟ t͟e͟r͟m͟a͟s͟u͟k͟ d͟a͟l͟a͟m͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ p͟e͟m͟a͟l͟s͟u͟a͟n͟ s͟u͟r͟a͟t͟ yang diatur dalam Pasal 263 jo. Pasal 392 KUHP lama yang pada saat artikel ini diterbitkan masih berlaku dan Pasal 391 jo. Pasal 392 UU 1/2023 tentang KUHP baru yang berlaku 3 tahun sejak tanggal diundangkan,[⁵] yaitu tahun 2026 berikut.
Pasal 263 KUHP
- Barang siapa membuat surat palsu atau memalsukan surat yang dapat menimbulkan sesuatu hak, perikatan atau pembebasan hutang, atau yang diperuntukkan sebagai bukti dari pada sesuatu hal dengan maksud untuk memakai atau menyuruh orang lain memakai surat tersebut seolah-olah isinya benar dan tidak dipalsu, diancam jika pemakaian tersebut dapat menimbulkan kerugian, karena pemalsuan surat, dengan pidana penjara paling lama enam tahun.
- Pasal 263 ayat (2) KUHP yang menyebutkan bahwa Diancam dengan pidana yang sama, barang siapa dengan sengaja memakai surat palsu atau yang dipalsukan seolah-olah sejati, jika pemakaian surat itu dapat menimbulkan kerugian. Penjelasan dapat menimbulkan kerugian adalah seseorang dengan sengaja memakai surat palsu atau yang dipalsukan mendapatkan keuntungan yang mengakibatkan timbulnya kerugian.
Pasal 264 KUHP
1) Pemalsuan surat diancam dengan pidana penjara paling lama 8 tahun, jika dilakukan terhadap:
- akta-akta otentik;
- surat hutang atau sertifikat hutang dari sesuatu negara atau bagiannya ataupun dari suatu lembaga umum;
- surat sero atau hutang atau sertifikat sero atau hutang dan suatu perkumpulan, yayasan, perseroan atau maskapai;
- talon, tanda bukti dividen atau bunga dari salah satu surat yang diterangkan dalam 2 dan 3, atau tanda bukti yang dikeluarkan sebagai pengganti surat-surat itu;
- surat kredit atau surat dagang untuk diedarkan.
2) Diancam dengan pidana yang sama barang siapa dengan sengaja memakai surat tersebut dalam ayat pertama, yang isinya tidak sejati atau yang dipalsukan seolah-olah benar dan tidak dipalsu, jika pemalsuan surat itu dapat menimbulkan kerugian.
Pasal 391 UU 1/2023
- Setiap orang yang membuat secara tidak benar atau memalsu Surat yang dapat menimbulkan suatu hak, perikatan atau pembebasan utang, atau yang diperuntukkan sebagai bukti dari suatu hal, dengan maksud untuk menggunakan atau meminta orang lain menggunakan seolah-olah isinya benar dan tidak palsu, jika penggunaan Surat tersebut dapat menimbutkan kerugian, dipidana karena pemalsuan Surat, dengan pidana penjara paling lama 6 tahun atau pidana denda paling banyak kategori VI, yaitu Rp2 miliar.[⁶]
- Setiap orang yang menggunakan surat yang isinya tidak benar atau yang dipalsu, seolah-olah benar atau tidak dipalsu, jika penggunaan surat tersebut dapat menimbulkan kerugian dipidana dengan pidana yang sama dengan ayat (1).
Pasal 392 UU 1/2023
1) Dipidana dengan pidana penjara paling lama 8 tahun, setiap orang yang melakukan pemalsuan surat terhadap:
- akta autentik;
- surat utang atau sertifikat utang dari suatu Negara atau bagiannya atau dari suatu lembaga umum;
- saham, Surat utang, sertifikat saham, sertifikat utang dari suatu perkumpulan, yayasan, perseroan atau persekutuan;
- talon, tanda bukti dividen atau tanda bukti bunga salah satu Surat sebagaimana dimaksud dalam huruf b dan huruf c atau tanda bukti yang dikeluarkan sebagai pengganti Surat tersebut;
- surat kredit atau Surat dagang yang diperuntukkan guna diedarkan;
- surat keterangan mengenai hak atas tanah; atau
- surat berharga lainnya yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan.
2) Setiap Orang yang menggunakan Surat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang isinya tidak benar atau dipalsu, seolah-olah benar atau tidak dipalsu, penggunaan surat tersebut dapat menimbulkan kerugian, dipidana dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
U͟r͟a͟i͟a͟n͟ p͟a͟s͟a͟l͟ d͟i͟a͟t͟a͟s͟ t͟e͟r͟g͟o͟l͟o͟n͟g͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ p͟e͟m͟a͟l͟s͟u͟a͟n͟ s͟͟u͟͟r͟͟a͟͟t͟͟. Lebih lanjut, menurut R. Soesilo bentuk-bentuk pemalsuan surat itu dilakukan dengan cara:[⁷]
a. membuat surat
palsu, seperti
membuat isinya
bukan semestinya
(tidak benar);
b. memalsu surat,
seperti mengubah
surat sedemikian
rupa sehingga isinya
menjadi lain dari isi
yang asli. Caranya
bermacam-macam,
tidak senantiasa
surat itu diganti
dengan yang lain,
dapat pula dengan
cara mengurangkan,
menambah atau
mengubah sesuatu
dari surat itu;
c. memalsu tanda
tangan juga
termasuk
pengertian
memalsu surat;
d. penempelan foto
orang lain dari
pemegang yang
berhak. Misalnya
foto dalam ijazah
sekolah.
Berdasarkan uraian diatas, p͟e͟m͟a͟l͟s͟u͟a͟n͟ t͟a͟n͟d͟a͟ t͟a͟n͟g͟a͟n͟ t͟e͟r͟g͟o͟l͟o͟n͟g͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ b͟e͟n͟t͟u͟k͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ p͟e͟m͟a͟l͟s͟u͟a͟n͟ s͟͟u͟͟r͟͟a͟͟t͟͟. Namun, perlu diingat bahwasanya tidak semua tanda tangan palsu atas suatu dokumen merupakan tindak pidana pemalsuan surat. Berikut adalah uraian mengenai surat surat yang dapat dikenai sanksi pidana dari pemalsuan surat sebagai berikut:[⁸]
a. surat yang dapat
menerbitkan hak,
seperti ijazah, karcis
tanda masuk, atau
surat andil;
b. surat yang dapat
menerbitkan
perjanjian, seperti
surat perjanjian
piutang, perjanjian
jual beli, perjanjian
sewa, dan perjanjian
lainnya;
c. surat yang dapat
menerbitkan suatu
pembebasan utang,
seperti kwitansi, cek,
dan lainnya;
d. surat yang dapat
dipergunakan
sebagai suatu
keterangan atas
suatu peristiwa,
seperti surat tanda
kelahiran, buku kas,
dan lainnya.
Oleh karena itu, apabila hasil pemeriksaan forensik oleh Labfor Polri telah membuktikan secara sah bahwa telah terjadi pemalsuan tanda tangan, maka pelaku dapat dikenai pertanggungjawaban pidana sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku, sebagaimana telah diuraikan dalam sejumlah pasal di atas.
Namun demikian, penting untuk ditekankan bahwa pemenuhan unsur kerugian menjadi syarat esensial dalam pembuktian tindak pidana pemalsuan tanda tangan, khususnya apabila dikaitkan dengan delik materil yang menuntut adanya akibat nyata bagi pihak tertentu. Menurut hemat kami, t͟a͟n͟p͟a͟ a͟d͟a͟n͟y͟a͟ k͟͟e͟͟r͟͟u͟͟g͟͟i͟͟a͟͟n͟͟, m͟a͟k͟a͟ p͟e͟m͟b͟u͟k͟t͟i͟a͟n͟ t͟e͟r͟h͟a͟d͟a͟p͟ u͟n͟s͟u͟r͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ p͟e͟m͟a͟l͟s͟u͟a͟n͟ t͟a͟n͟d͟a͟ t͟a͟n͟g͟a͟n͟ m͟e͟n͟j͟a͟d͟i͟ l͟͟e͟͟m͟͟a͟͟h͟͟.
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat dan dapat dijadikan pembelajaran untuk kita semua terlebih untuk penanya dan Paralegal ubklawyers pada khususnya.
D͟a͟s͟a͟r͟ H͟͟u͟͟k͟͟u͟͟m͟͟:
- Kitab Undang-Undang Hukum Pidana;
- Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana;
- Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2009 tentang Tata Cara dan Persyaratan Permintaan Pemeriksaan Teknis Kriminalistik Tempat Kejadian Perkara dan Laboratoris Kriminalistik Barang Bukti kepada Laboratorium Forensik Kepolisian Negara Republik Indonesia;
Artikel ini adalah pemutakhiran dari artikel dengan judul Forensik Pemalsuan Tanda Tangan, yang dibuat oleh Togar S.M. Sijabat, S.H., M.H. Dan pertama kali dipublikasikan pada 18 Oktober 2016. Dipublikasikan kedua oleh “..Hukumonline.com..” pada tanggal 14 Agustus 2025. Dan diteruskan oleh ubklawyers, pada tanggal 30 Agustus 2025.
Seluruh Informasi Hukum yang ada di LBH-UMAR BIN KHATTAB disiapkan semata-mata untuk t͟͟͟u͟͟͟j͟͟͟u͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟ p͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, p͟e͟m͟b͟e͟l͟a͟j͟a͟r͟a͟n͟ dan b͟e͟r͟s͟i͟f͟a͟t͟ u͟m͟u͟m͟. Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan Pengacara, Konsultan Hukum dan/atau Paralegal UBK LAWYERS.
Sedang menghadapi permasalahan hukum? A͟j͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟t͟a͟n͟y͟a͟a͟n͟ melalui email, telepon atau chat.👇🏼
Email:
ubklawyer@gmail.com
Telepon/Chat:
089666552118
Berkenan G͟a͟b͟u͟n͟g͟ G͟r͟o͟u͟p͟, untuk jadi bagian Keluarga Besar UBK LAWYERS. Klik link dibawah.👇🏼
I͟K͟U͟T͟I͟ W͟h͟a͟t͟s͟A͟p͟p͟ C͟h͟a͟n͟n͟e͟l͟ LBH-UMAR BIN KHATTAB. Untuk memperkaya Riset Hukum Anda, klik link dibawah.👇🏼
🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸
#cerdashukum
#studylawtogether
#ubklawyers
PERTANYAAN
Saya mau tanya, berapa lama hasil forensik pemalsuan tanda tangan keluar? Lalu, bagaimana jerat hukum bagi pelaku pemalsuan tanda tangan menurut KUHP dan UU 1/2023?
Atas penjelasannya diucapkan terimakasih, untuk ubklawyers dan paralegalnya semoga selalu diberikan kesehatan, kesuksesan, kesabaran dan keselamatan dunia-akhirat. Aamiin..
Wenning – Pertamina Exor
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
“INTISARI JAWABAN”
【Hukum Pidana】
ˢᵉᵖᵃⁿʲᵃⁿᵍ ᵖᵉⁿᵉˡᵘˢᵘʳᵃⁿ ᵏᵃᵐⁱ, ᵏᵉˡᵘᵃʳⁿʸᵃ ʰᵃˢⁱˡ ᶠᵒʳᵉⁿˢⁱᵏ ᵖᵉᵐᵃˡˢᵘᵃⁿ ᵗᵃⁿᵈᵃ ᵗᵃⁿᵍᵃⁿ ᵗⁱᵈᵃᵏ ᵈᵃᵖᵃᵗ ᵈⁱᵖᵃˢᵗⁱᵏᵃⁿ ˢᵉᶜᵃʳᵃ ˢᵉᵖᵉⁿᵘʰⁿʸᵃ, ᵐᵉⁿᵍⁱⁿᵍᵃᵗ ʳᵘᵐⁱᵗⁿʸᵃ ᵖᵉʳˢʸᵃʳᵃᵗᵃⁿ ᵈᵃⁿ ˡᵃⁿᵍᵏᵃʰ ᵈᵃˡᵃᵐ ᵐᵉᵐᵇᵘᵏᵗⁱᵏᵃⁿ ᵖᵉᵐᵃˡˢᵘᵃⁿ ˢᵘᵃᵗᵘ ᵗᵃⁿᵈᵃ ᵗᵃⁿᵍᵃⁿ.
ᴬᵖᵃᵇⁱˡᵃ ᵗᵉˡᵃʰ ᵗᵉʳᵇᵘᵏᵗⁱ ᵈᵃˡᵃᵐ ʰᵃˢⁱˡ ᶠᵒʳᵉⁿˢⁱᵏ ʸᵃⁿᵍ ᵈⁱˡᵃᵏᵘᵏᵃⁿ ᵒˡᵉʰ ᴸᵃᵇᵒʳᵃᵗᵒʳⁱᵘᵐ ᶠᵒʳᵉⁿˢⁱᵏ ᴾᵒˡʳⁱ, ᵐᵃᵏᵃ ᵖᵉˡᵃᵏᵘ ᵖᵉᵐᵃˡˢᵘᵃⁿ ᵗᵃⁿᵈᵃ ᵗᵃⁿᵍᵃⁿ ᵈᵃᵖᵃᵗ ᵈⁱᵏᵉⁿᵃᵏᵃⁿ ᴾᵃˢᵃˡ ²⁶³ ʲᵒ. ᴾᵃˢᵃˡ ³⁹² ᴷᵁᴴᴾ ˡᵃᵐᵃ ᵈᵃⁿ ᴾᵃˢᵃˡ ³⁹¹ ʲᵒ. ᴾᵃˢᵃˡ ³⁹² ᵁᵁ ¹/²⁰²³ ᵗᵉⁿᵗᵃⁿᵍ ᴷᵁᴴᴾ ᵇᵃʳᵘ ʸᵃⁿᵍ ᵇᵉʳˡᵃᵏᵘ ³ ᵗᵃʰᵘⁿ ˢᵉʲᵃᵏ ᵗᵃⁿᵍᵍᵃˡ ᵈⁱᵘⁿᵈᵃⁿᵍᵏᵃⁿ ʸᵃⁱᵗᵘ ᵗᵃʰᵘⁿ ²⁰²⁶.
ᴾᵉⁿʲᵉˡᵃˢᵃⁿ ˡᵉᵇⁱʰ ˡᵃⁿʲᵘᵗ ᵈᵃᵖᵃᵗ ᴬⁿᵈᵃ ᵇᵃᶜᵃ ᵘˡᵃˢᵃⁿ ᵈⁱ ᵇᵃʷᵃʰ ⁱⁿⁱ.
ULASAN SELENGKAPNYA;
Terimakasih atas pertanyaan Anda.
Artikel ini dibuat berdasarkan KUHP lama dan UU 1/2023 tentang KUHP yang diundangkan pada tanggal 2 Januari 2023.
Hasil Forensik Pemalsuan Tanda Tangan
Perlu diketahui sebelumnya, F͟o͟r͟e͟n͟s͟i͟k͟ m͟e͟r͟u͟p͟a͟k͟a͟n͟ s͟a͟l͟a͟h͟ s͟a͟t͟u͟ m͟e͟t͟o͟d͟e͟ i͟l͟m͟i͟a͟h͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟g͟u͟n͟a͟k͟a͟n͟ d͟a͟l͟a͟m͟ p͟r͟o͟s͟e͟s͟ p͟e͟m͟b͟u͟k͟t͟i͟a͟n͟ h͟͟u͟͟k͟͟u͟͟m͟͟, t͟e͟r͟m͟a͟s͟u͟k͟ d͟a͟l͟a͟m͟ p͟e͟r͟k͟a͟r͟a͟ p͟e͟m͟a͟l͟s͟u͟a͟n͟ t͟a͟n͟d͟a͟ t͟͟a͟͟n͟͟g͟͟a͟͟n͟͟. Dalam kasus ini, tidak dapat dibuktikan hanya melalui pengamatan biasa karena secara visual dapat tampak sangat mirip dengan tanda tangan asli. Oleh karena itu, untuk membuktikan keabsahan atau kepalsuan tanda tangan tersebut, menurut hemat kami d͟i͟p͟e͟r͟l͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟m͟e͟r͟i͟k͟s͟a͟a͟n͟ f͟o͟r͟e͟n͟s͟i͟k͟ o͟l͟e͟h͟ l͟e͟m͟b͟a͟g͟a͟ y͟a͟n͟g͟ b͟͟e͟͟r͟͟w͟͟e͟͟n͟͟a͟͟n͟͟g͟͟, y͟a͟i͟t͟u͟ L͟a͟b͟o͟r͟a͟t͟o͟r͟i͟u͟m͟ F͟o͟r͟e͟n͟s͟i͟k͟ K͟e͟p͟o͟l͟i͟s͟i͟a͟n͟ N͟e͟g͟a͟r͟a͟ R͟e͟p͟u͟b͟l͟i͟k͟ I͟n͟d͟o͟n͟e͟s͟i͟a͟ (“L͟a͟b͟f͟o͟r͟ P͟͟͟o͟͟͟l͟͟͟r͟͟͟i͟͟͟”). Sebagai informasi. Labfor Polri ini memiliki tugas dan fungsi dalam membina serta menyelenggarakan pemeriksaan ilmiah atas barang bukti yang berkaitan dengan tindak pidana.[¹]
Kemudian, d͟a͟l͟a͟m͟ h͟a͟l͟ p͟e͟m͟a͟l͟s͟u͟a͟n͟ d͟͟o͟͟k͟͟u͟͟m͟͟e͟͟n͟͟, p͟e͟m͟e͟r͟i͟k͟s͟a͟a͟n͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ o͟l͟e͟h͟ B͟i͟d͟a͟n͟g͟ D͟o͟k͟u͟m͟e͟n͟ K͟͟r͟͟i͟͟m͟͟i͟͟n͟͟a͟͟l͟͟i͟͟s͟͟t͟͟i͟͟k͟͟, y͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟c͟a͟k͟u͟p͟ a͟n͟a͟l͟i͟s͟i͟s͟ t͟a͟n͟d͟a͟ t͟͟a͟͟n͟͟g͟͟a͟͟n͟͟, d͟a͟n͟ h͟a͟s͟i͟l͟ k͟e͟t͟i͟k͟a͟n͟ d͟͟͟o͟͟͟k͟͟͟u͟͟͟m͟͟͟e͟͟͟n͟͟͟. Melalui pendekatan ilmiah seperti analisis tekanan goresan, arah penulisan, hingga karakteristik unik dari individu penulis, a͟h͟l͟i͟ f͟o͟r͟e͟n͟s͟i͟k͟ d͟a͟p͟a͟t͟ m͟e͟n͟y͟i͟m͟p͟u͟l͟k͟a͟n͟ a͟p͟a͟k͟a͟h͟ s͟u͟a͟t͟u͟ t͟a͟n͟d͟a͟ t͟a͟n͟g͟a͟n͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ a͟s͟l͟i͟ a͟t͟a͟u͟ h͟a͟s͟i͟l͟ p͟e͟m͟a͟l͟s͟u͟a͟n͟ k͟a͟r͟e͟n͟a͟ s͟e͟j͟a͟t͟i͟n͟y͟a͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟n͟g͟i͟d͟e͟n͟t͟i͟f͟i͟k͟a͟s͟i͟k͟a͟n͟ t͟a͟n͟d͟a͟ t͟a͟n͟g͟a͟n͟ k͟e͟l͟i͟h͟a͟t͟a͟n͟n͟y͟a͟ s͟e͟o͟l͟a͟h͟-o͟l͟a͟h͟ s͟a͟m͟a͟ t͟e͟t͟a͟p͟i͟ p͟a͟d͟a͟ k͟͟e͟͟n͟͟y͟͟a͟͟t͟͟a͟͟a͟͟n͟͟ t͟i͟d͟a͟k͟l͟a͟h͟ s͟͟a͟͟m͟͟a͟͟.[²]
Oleh karena itu, menjawab pertanyaan Anda mengenai berapa lama hasil forensik pemalsuan tanda tangan dikeluarkan, maka menurut hemat kami c͟e͟p͟a͟t͟ a͟t͟a͟u͟ l͟a͟m͟a͟n͟y͟a͟ w͟a͟k͟t͟u͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟b͟u͟t͟u͟h͟k͟a͟n͟ u͟n͟t͟u͟k͟ h͟a͟s͟i͟l͟ f͟o͟r͟e͟n͟s͟i͟k͟ t͟e͟r͟s͟e͟b͟u͟t͟ t͟e͟r͟g͟a͟n͟t͟u͟n͟g͟ k͟e͟l͟e͟n͟g͟k͟a͟p͟a͟n͟ d͟o͟k͟u͟m͟e͟n͟ p͟e͟m͟b͟a͟n͟d͟i͟n͟g͟ y͟a͟n͟g͟ a͟k͟a͟n͟ d͟i͟p͟e͟r͟i͟k͟s͟a͟ d͟a͟n͟ A͟n͟d͟a͟ s͟e͟r͟a͟h͟k͟a͟n͟ k͟e͟p͟a͟d͟a͟ p͟e͟n͟y͟i͟d͟i͟k͟ k͟͟e͟͟p͟͟o͟͟l͟͟i͟͟s͟͟i͟͟a͟͟n͟͟.
Dengan demikian, perlu diperhatikan persyaratan barang bukti dokumen yang wajib memenuhi kelengkapan teknis sebagai berikut:[³]
a. dokumen bukti yang
dikirimkan adalah
dokumen asli bukan
merupakan tindasan
karbon, faks atau
fotokopi;
b. dokumen bukti
dilengkapi dengan
dokumen
pembanding
collected dan
requested yang
valid;
c. dokumen bukti
berupa fotokopi
hanya dapat
diperiksa apabila
tujuan pemeriksaan
adalah untuk
mengetahui apakah
dokumen bukti
merupakan fotokopi
dari dokumen
pembanding;
d. untuk pemeriksaan
fisik dokumen antara
lain penghapusan,
perubahan,
penambahan/
penyisipan atau
ketidakwajaran
lainnya cukup
dikirim dokumen
buktinya saja; dan
e. Seluruh dokumen
dikumpulkan dalam
1 amplop, tidak
boleh d͟͟i͟͟l͟͟i͟͟p͟͟a͟͟t͟͟,
d͟͟i͟͟b͟͟u͟͟n͟͟g͟͟k͟͟u͟͟s͟͟, d͟͟i͟͟i͟͟k͟͟a͟͟t͟͟,
d͟͟i͟͟l͟͟a͟͟k͟͟, d͟i͟s͟e͟g͟e͟l͟, dan
segera dikirim ke
Labfor Polri.
Sepanjang penelusuran kami, c͟e͟p͟a͟t͟ a͟t͟a͟u͟ l͟a͟m͟b͟a͟t͟n͟y͟a͟ h͟a͟s͟i͟l͟ p͟e͟m͟e͟r͟i͟k͟s͟a͟a͟n͟ f͟o͟r͟e͟n͟s͟i͟k͟ j͟u͟g͟a͟ s͟a͟n͟g͟a͟t͟ d͟i͟p͟e͟n͟g͟a͟r͟u͟h͟i͟ o͟͟l͟͟e͟͟h͟͟ v͟o͟l͟u͟m͟e͟ p͟e͟k͟e͟r͟j͟a͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ s͟e͟d͟a͟n͟g͟ d͟i͟t͟a͟n͟g͟a͟n͟i͟ o͟l͟e͟h͟ L͟a͟b͟f͟o͟r͟ P͟o͟l͟r͟i͟ i͟t͟u͟ s͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟r͟͟i͟͟. Proses analisis tanda tangan bukanlah pekerjaan yang sederhana, mengingat bentuk dan tarikan-tarikan grafis pada suatu tanda tangan sangat kompleks dan sering kali bersifat unik serta individual.
Di sisi lain, kesulitan bertambah ketika pemeriksa harus menganalisis spesifikasi dan permanensi dari suatu tanda tangan yang pada dasarnya tidak bisa lepas dari pengaruh kebiasaan motorik penandatangan. Penelitian oleh para ahli grafologi menunjukkan bahwa variasi dalam tulisan tangan seseorang, termasuk tanda tangan, pada akhirnya menjadi bagian dari kebiasaan yang tidak disadari (habitual) dan bersifat otomatis.
Oleh karena itu, seorang pemeriksa dokumen forensik harus memiliki kemampuan untuk membedakan antara variasi yang wajar dengan indikasi pemalsuan. Pemeriksa harus mampu menentukan:[⁴]
a. apakah variasi
(perbedaan) yang
muncul merupakan
variasi yang wajar
atau tidak;
b. apakah variasi
tersebut muncul
secara berulang dan
konsisten dalam
dokumen
pembanding; serta
c. apakah variasi
tersebut merupakan
unsur grafis pribadi
yang bersifat sangat
individual.
Analisis ini memerlukan ketelitian tinggi dan tidak dapat dilakukan secara tergesa-gesa, s͟e͟h͟i͟n͟g͟g͟a͟ s͟a͟n͟g͟a͟t͟ w͟a͟j͟a͟r͟ a͟p͟a͟b͟i͟l͟a͟ d͟a͟l͟a͟m͟ b͟e͟b͟e͟r͟a͟p͟a͟ k͟a͟s͟u͟s͟ m͟e͟m͟b͟u͟t͟u͟h͟k͟a͟n͟ w͟a͟k͟t͟u͟ y͟a͟n͟g͟ c͟u͟k͟u͟p͟ p͟͟a͟͟n͟͟j͟͟a͟͟n͟͟g͟͟.
Tindak Pidana Pemalsuan Tanda Tangan Menurut KUHP dan UU 1/2023
Menjawab pertanyaan selanjutnya, pada dasarnya, t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ p͟e͟m͟a͟l͟s͟u͟a͟n͟ t͟a͟n͟d͟a͟ t͟a͟n͟g͟a͟n͟ t͟e͟r͟m͟a͟s͟u͟k͟ d͟a͟l͟a͟m͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ p͟e͟m͟a͟l͟s͟u͟a͟n͟ s͟u͟r͟a͟t͟ yang diatur dalam Pasal 263 jo. Pasal 392 KUHP lama yang pada saat artikel ini diterbitkan masih berlaku dan Pasal 391 jo. Pasal 392 UU 1/2023 tentang KUHP baru yang berlaku 3 tahun sejak tanggal diundangkan,[⁵] yaitu tahun 2026 berikut.
Pasal 263 KUHP
- Barang siapa membuat surat palsu atau memalsukan surat yang dapat menimbulkan sesuatu hak, perikatan atau pembebasan hutang, atau yang diperuntukkan sebagai bukti dari pada sesuatu hal dengan maksud untuk memakai atau menyuruh orang lain memakai surat tersebut seolah-olah isinya benar dan tidak dipalsu, diancam jika pemakaian tersebut dapat menimbulkan kerugian, karena pemalsuan surat, dengan pidana penjara paling lama enam tahun.
- Pasal 263 ayat (2) KUHP yang menyebutkan bahwa Diancam dengan pidana yang sama, barang siapa dengan sengaja memakai surat palsu atau yang dipalsukan seolah-olah sejati, jika pemakaian surat itu dapat menimbulkan kerugian. Penjelasan dapat menimbulkan kerugian adalah seseorang dengan sengaja memakai surat palsu atau yang dipalsukan mendapatkan keuntungan yang mengakibatkan timbulnya kerugian.
Pasal 264 KUHP
1) Pemalsuan surat diancam dengan pidana penjara paling lama 8 tahun, jika dilakukan terhadap:
- akta-akta otentik;
- surat hutang atau sertifikat hutang dari sesuatu negara atau bagiannya ataupun dari suatu lembaga umum;
- surat sero atau hutang atau sertifikat sero atau hutang dan suatu perkumpulan, yayasan, perseroan atau maskapai;
- talon, tanda bukti dividen atau bunga dari salah satu surat yang diterangkan dalam 2 dan 3, atau tanda bukti yang dikeluarkan sebagai pengganti surat-surat itu;
- surat kredit atau surat dagang untuk diedarkan.
2) Diancam dengan pidana yang sama barang siapa dengan sengaja memakai surat tersebut dalam ayat pertama, yang isinya tidak sejati atau yang dipalsukan seolah-olah benar dan tidak dipalsu, jika pemalsuan surat itu dapat menimbulkan kerugian.
Pasal 391 UU 1/2023
- Setiap orang yang membuat secara tidak benar atau memalsu Surat yang dapat menimbulkan suatu hak, perikatan atau pembebasan utang, atau yang diperuntukkan sebagai bukti dari suatu hal, dengan maksud untuk menggunakan atau meminta orang lain menggunakan seolah-olah isinya benar dan tidak palsu, jika penggunaan Surat tersebut dapat menimbutkan kerugian, dipidana karena pemalsuan Surat, dengan pidana penjara paling lama 6 tahun atau pidana denda paling banyak kategori VI, yaitu Rp2 miliar.[⁶]
- Setiap orang yang menggunakan surat yang isinya tidak benar atau yang dipalsu, seolah-olah benar atau tidak dipalsu, jika penggunaan surat tersebut dapat menimbulkan kerugian dipidana dengan pidana yang sama dengan ayat (1).
Pasal 392 UU 1/2023
1) Dipidana dengan pidana penjara paling lama 8 tahun, setiap orang yang melakukan pemalsuan surat terhadap:
- akta autentik;
- surat utang atau sertifikat utang dari suatu Negara atau bagiannya atau dari suatu lembaga umum;
- saham, Surat utang, sertifikat saham, sertifikat utang dari suatu perkumpulan, yayasan, perseroan atau persekutuan;
- talon, tanda bukti dividen atau tanda bukti bunga salah satu Surat sebagaimana dimaksud dalam huruf b dan huruf c atau tanda bukti yang dikeluarkan sebagai pengganti Surat tersebut;
- surat kredit atau Surat dagang yang diperuntukkan guna diedarkan;
- surat keterangan mengenai hak atas tanah; atau
- surat berharga lainnya yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan.
2) Setiap Orang yang menggunakan Surat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang isinya tidak benar atau dipalsu, seolah-olah benar atau tidak dipalsu, penggunaan surat tersebut dapat menimbulkan kerugian, dipidana dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
U͟r͟a͟i͟a͟n͟ p͟a͟s͟a͟l͟ d͟i͟a͟t͟a͟s͟ t͟e͟r͟g͟o͟l͟o͟n͟g͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ p͟e͟m͟a͟l͟s͟u͟a͟n͟ s͟͟u͟͟r͟͟a͟͟t͟͟. Lebih lanjut, menurut R. Soesilo bentuk-bentuk pemalsuan surat itu dilakukan dengan cara:[⁷]
a. membuat surat
palsu, seperti
membuat isinya
bukan semestinya
(tidak benar);
b. memalsu surat,
seperti mengubah
surat sedemikian
rupa sehingga isinya
menjadi lain dari isi
yang asli. Caranya
bermacam-macam,
tidak senantiasa
surat itu diganti
dengan yang lain,
dapat pula dengan
cara mengurangkan,
menambah atau
mengubah sesuatu
dari surat itu;
c. memalsu tanda
tangan juga
termasuk
pengertian
memalsu surat;
d. penempelan foto
orang lain dari
pemegang yang
berhak. Misalnya
foto dalam ijazah
sekolah.
Berdasarkan uraian diatas, p͟e͟m͟a͟l͟s͟u͟a͟n͟ t͟a͟n͟d͟a͟ t͟a͟n͟g͟a͟n͟ t͟e͟r͟g͟o͟l͟o͟n͟g͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ b͟e͟n͟t͟u͟k͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ p͟e͟m͟a͟l͟s͟u͟a͟n͟ s͟͟u͟͟r͟͟a͟͟t͟͟. Namun, perlu diingat bahwasanya tidak semua tanda tangan palsu atas suatu dokumen merupakan tindak pidana pemalsuan surat. Berikut adalah uraian mengenai surat surat yang dapat dikenai sanksi pidana dari pemalsuan surat sebagai berikut:[⁸]
a. surat yang dapat
menerbitkan hak,
seperti ijazah, karcis
tanda masuk, atau
surat andil;
b. surat yang dapat
menerbitkan
perjanjian, seperti
surat perjanjian
piutang, perjanjian
jual beli, perjanjian
sewa, dan perjanjian
lainnya;
c. surat yang dapat
menerbitkan suatu
pembebasan utang,
seperti kwitansi, cek,
dan lainnya;
d. surat yang dapat
dipergunakan
sebagai suatu
keterangan atas
suatu peristiwa,
seperti surat tanda
kelahiran, buku kas,
dan lainnya.
Oleh karena itu, apabila hasil pemeriksaan forensik oleh Labfor Polri telah membuktikan secara sah bahwa telah terjadi pemalsuan tanda tangan, maka pelaku dapat dikenai pertanggungjawaban pidana sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku, sebagaimana telah diuraikan dalam sejumlah pasal di atas.
Namun demikian, penting untuk ditekankan bahwa pemenuhan unsur kerugian menjadi syarat esensial dalam pembuktian tindak pidana pemalsuan tanda tangan, khususnya apabila dikaitkan dengan delik materil yang menuntut adanya akibat nyata bagi pihak tertentu. Menurut hemat kami, t͟a͟n͟p͟a͟ a͟d͟a͟n͟y͟a͟ k͟͟e͟͟r͟͟u͟͟g͟͟i͟͟a͟͟n͟͟, m͟a͟k͟a͟ p͟e͟m͟b͟u͟k͟t͟i͟a͟n͟ t͟e͟r͟h͟a͟d͟a͟p͟ u͟n͟s͟u͟r͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ p͟e͟m͟a͟l͟s͟u͟a͟n͟ t͟a͟n͟d͟a͟ t͟a͟n͟g͟a͟n͟ m͟e͟n͟j͟a͟d͟i͟ l͟͟e͟͟m͟͟a͟͟h͟͟.
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat dan dapat dijadikan pembelajaran untuk kita semua terlebih untuk penanya dan Paralegal ubklawyers pada khususnya.
D͟a͟s͟a͟r͟ H͟͟u͟͟k͟͟u͟͟m͟͟:
- Kitab Undang-Undang Hukum Pidana;
- Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana;
- Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2009 tentang Tata Cara dan Persyaratan Permintaan Pemeriksaan Teknis Kriminalistik Tempat Kejadian Perkara dan Laboratoris Kriminalistik Barang Bukti kepada Laboratorium Forensik Kepolisian Negara Republik Indonesia;
Artikel ini adalah pemutakhiran dari artikel dengan judul Forensik Pemalsuan Tanda Tangan, yang dibuat oleh Togar S.M. Sijabat, S.H., M.H. Dan pertama kali dipublikasikan pada 18 Oktober 2016. Dipublikasikan kedua oleh “..Hukumonline.com..” pada tanggal 14 Agustus 2025. Dan diteruskan oleh ubklawyers, pada tanggal 30 Agustus 2025.
Seluruh Informasi Hukum yang ada di LBH-UMAR BIN KHATTAB disiapkan semata-mata untuk t͟͟͟u͟͟͟j͟͟͟u͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟ p͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, p͟e͟m͟b͟e͟l͟a͟j͟a͟r͟a͟n͟ dan b͟e͟r͟s͟i͟f͟a͟t͟ u͟m͟u͟m͟. Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan Pengacara, Konsultan Hukum dan/atau Paralegal UBK LAWYERS.
Sedang menghadapi permasalahan hukum? A͟j͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟t͟a͟n͟y͟a͟a͟n͟ melalui email, telepon atau chat.👇🏼
Email:
ubklawyer@gmail.com
Telepon/Chat:
089666552118
Berkenan G͟a͟b͟u͟n͟g͟ G͟r͟o͟u͟p͟, untuk jadi bagian Keluarga Besar UBK LAWYERS. Klik link dibawah.👇🏼
I͟K͟U͟T͟I͟ W͟h͟a͟t͟s͟A͟p͟p͟ C͟h͟a͟n͟n͟e͟l͟ LBH-UMAR BIN KHATTAB. Untuk memperkaya Riset Hukum Anda, klik link dibawah.👇🏼
🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸
#cerdashukum
#studylawtogether
#ubklawyers
