Oleh: Suhaeli Nawawi, Pembina YWI
Pendahuluan
INDRAMAYU — Al-Qur’an berulang kali mengingatkan manusia tentang asal-usulnya. Salah satunya adalah dari sulālah min ṭīn (سلالة من طين) — “saripati tanah” (QS. Al-Mu’minūn [23]:12). Saripati ini merujuk pada unsur-unsur dasar pembentuk tubuh manusia yang juga terdapat dalam tanah: karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, fosfor, dan sulfur (CHNOPS). Dari unsur sederhana ini, proses biologis yang amat kompleks melahirkan sistem reproduksi yang memungkinkan keberlangsungan manusia: sperma pada laki-laki dan ovum pada perempuan.
Tahap Pertama: Saripati Tanah Menjadi Proto-Gamet
Ilmu biologi menjelaskan bahwa tubuh manusia tersusun dari molekul-molekul organik yang bersumber dari unsur tanah dan air. Protein, lemak, karbohidrat, dan asam nukleat adalah hasil olahan saripati ini. Dari sinilah terbentuk sel-sel tubuh, termasuk sel-sel kelamin (gamet).
Al-Qur’an menggambarkan tahap awal ini dengan kalimat:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن سُلَالَةٍ مِّن طِينٍ
“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (yang berasal) dari tanah.” (QS. Al-Mu’minūn [23]:12)
Proto-gamet ini dapat dipahami sebagai potensi genetik yang tersimpan dalam ṣulb (tulang belakang/lumbal) dan tarā’ib (tulang dada/pelvis), sebagaimana tersirat dalam QS. Ath-Thāriq [86]:7.
Tahap Kedua: Pembentukan Sperma dan Ovum
Dalam tubuh laki-laki, proto-gamet berkembang di testis menjadi spermatogonia yang kemudian mengalami pembelahan hingga menghasilkan sperma matang. Sementara dalam tubuh perempuan, proto-gamet yang tersimpan dalam ovarium berkembang menjadi sel telur (ovum).
Proses ini memakan waktu panjang, diatur dengan sangat teliti oleh mekanisme hormonal, sehingga hanya sebagian kecil dari jutaan sel yang benar-benar matang dan siap berfungsi.
Al-Qur’an menyinggung keluarnya sperma ini sebagai ma’ māhīn (air hina/mani):
أَلَمْ يَكُ نُطْفَةً مِّن مَّنِيٍّ يُمْنَىٰ
“Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim)?” (QS. Al-Qiyāmah [75]:37)
Tahap Ketiga: Nutfah – Titik Pertemuan
Nutfah adalah titik temu sperma dan ovum. Satu sel sperma menembus lapisan pelindung ovum, lalu bersatu membentuk zigot. Pada momen inilah terbentuk manusia baru dengan kombinasi genetik unik.
Al-Qur’an menyebut tahap ini dengan sangat indah:
ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَّكِينٍ
“Kemudian Kami menjadikannya air mani (nutfah) yang disimpan dalam tempat yang kokoh (rahim).” (QS. Al-Mu’minūn [23]:13)
Refleksi
Rangkaian ini — dari saripati tanah, proto-gamet, sperma dan ovum, hingga nutfah — memperlihatkan keserasian antara wahyu dan sains. Al-Qur’an tidak menjelaskan dengan bahasa laboratorium, melainkan dengan bahasa universal yang menggugah kesadaran spiritual manusia. Sains kemudian menyingkap detail-detail mekanisme yang menakjubkan, seolah menjadi tafsir biologis atas ayat-ayat penciptaan.
Penutup
Proses terbentuknya manusia tidak hanya fenomena biologis, tetapi juga ayat-ayat kauniyah yang menyingkap kebesaran Sang Pencipta. Dari tanah yang sederhana, lahirlah sistem reproduksi yang kompleks, lalu dari setetes nutfah, tumbuhlah seorang manusia dengan akal, hati, dan ruh.
Sebagaimana firman Allah:
فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ
“Maka Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik.” (QS. Al-Mu’minūn [23]:14)
Akhir kalam, والله اعلم بالصواب

