INDRAMAYU, (lintaspantursindonesia.com) — PERTANYAAN:
Adakah perbedaan antara PKWTT dengan permanent employee? Siapa pihak dalam PKWTT dan perjanjian outsourcing? Apakah PKWTT sama dengan outsourcing? Atas pencerahannya diucapkan terimakasih, untuk ubklawyers beserta Paralegalnya semoga diberikan kemampuan dalam menjalankan profesinya. Aamiin..
Bye,
Noverius Zai-Sumatera Utara
••••••••••••••••••••••••••••••••••••
“INTISARI JAWABAN”
【ℌ𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔎𝔢𝔱𝔢𝔫𝔞𝔤𝔞𝔨𝔢𝔯𝔧𝔞𝔞𝔫 】
𝔎𝔞𝔯𝔶𝔞𝔴𝔞𝔫 𝔱𝔢𝔱𝔞𝔭 𝔞𝔱𝔞𝔲 𝔭𝔢𝔯𝔪𝔞𝔫𝔢𝔫𝔱 𝔢𝔪𝔭𝔩𝔬𝔶𝔢𝔢 𝔪𝔢𝔯𝔲𝔭𝔞𝔨𝔞𝔫 𝔭𝔦𝔥𝔞𝔨 𝔡𝔞𝔩𝔞𝔪 𝔭𝔢𝔯𝔧𝔞𝔫𝔧𝔦𝔞𝔫 𝔨𝔢𝔯𝔧𝔞 𝔴𝔞𝔨𝔱𝔲 𝔱𝔦𝔡𝔞𝔨 𝔱𝔢𝔯𝔱𝔢𝔫𝔱𝔲 𝔞𝔱𝔞𝔲 𝔓𝔎𝔚𝔗𝔗, 𝔨𝔞𝔯𝔢𝔫𝔞 𝔓𝔎𝔚𝔗𝔗 𝔞𝔡𝔞𝔩𝔞𝔥 𝔭𝔢𝔯𝔧𝔞𝔫𝔧𝔦𝔞𝔫 𝔨𝔢𝔯𝔧𝔞 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔪𝔢𝔫𝔤𝔞𝔱𝔲𝔯 𝔥𝔲𝔟𝔲𝔫𝔤𝔞𝔫 𝔨𝔢𝔯𝔧𝔞 𝔭𝔢𝔫𝔤𝔲𝔰𝔞𝔥𝔞 𝔡𝔞𝔫 𝔨𝔞𝔯𝔶𝔞𝔴𝔞𝔫 𝔱𝔢𝔱𝔞𝔭. 𝔖𝔢𝔡𝔞𝔫𝔤𝔨𝔞𝔫 𝔭𝔢𝔯𝔧𝔞𝔫𝔧𝔦𝔞𝔫 𝔬𝔲𝔱𝔰𝔬𝔲𝔯𝔠𝔦𝔫𝔤 𝔞𝔱𝔞𝔲 𝔭𝔢𝔯𝔧𝔞𝔫𝔧𝔦𝔞𝔫 𝔞𝔩𝔦𝔥 𝔡𝔞𝔶𝔞 𝔞𝔡𝔞𝔩𝔞𝔥 𝔭𝔢𝔯𝔧𝔞𝔫𝔧𝔦𝔞𝔫 𝔞𝔫𝔱𝔞𝔯𝔞 𝔭𝔢𝔯𝔲𝔰𝔞𝔥𝔞𝔞𝔫 𝔭𝔢𝔪𝔟𝔢𝔯𝔦 𝔭𝔢𝔨𝔢𝔯𝔧𝔞𝔞𝔫 𝔡𝔢𝔫𝔤𝔞𝔫 𝔭𝔢𝔯𝔲𝔰𝔞𝔥𝔞𝔞𝔫 𝔞𝔩𝔦𝔥 𝔡𝔞𝔶𝔞 𝔲𝔫𝔱𝔲𝔨 𝔪𝔢𝔩𝔞𝔨𝔰𝔞𝔫𝔞𝔨𝔞𝔫 𝔰𝔲𝔞𝔱𝔲 𝔭𝔢𝔨𝔢𝔯𝔧𝔞𝔞𝔫 𝔱𝔢𝔯𝔱𝔢𝔫𝔱𝔲.
𝔖𝔢𝔩𝔞𝔫𝔧𝔲𝔱𝔫𝔶𝔞, 𝔓𝔎𝔚𝔗𝔗 𝔟𝔢𝔯𝔟𝔢𝔡𝔞 𝔡𝔢𝔫𝔤𝔞𝔫 𝔭𝔢𝔯𝔧𝔞𝔫𝔧𝔦𝔞𝔫 𝔬𝔲𝔱𝔰𝔬𝔲𝔯𝔠𝔦𝔫𝔤 𝔞𝔱𝔞𝔲 𝔭𝔢𝔯𝔧𝔞𝔫𝔧𝔦𝔞𝔫 𝔞𝔩𝔦𝔥 𝔡𝔞𝔶𝔞. 𝔓𝔦𝔥𝔞𝔨 𝔡𝔞𝔩𝔞𝔪 𝔭𝔢𝔯𝔧𝔞𝔫𝔧𝔦𝔞𝔫 𝔞𝔩𝔦𝔥 𝔡𝔞𝔶𝔞 𝔞𝔡𝔞𝔩𝔞𝔥 𝔭𝔢𝔯𝔲𝔰𝔞𝔥𝔞𝔞𝔫 𝔞𝔩𝔦𝔥 𝔡𝔞𝔶𝔞 𝔡𝔞𝔫 𝔭𝔢𝔯𝔲𝔰𝔞𝔥𝔞𝔞𝔫 𝔭𝔢𝔪𝔟𝔢𝔯𝔦 𝔭𝔢𝔨𝔢𝔯𝔧𝔞𝔞𝔫 𝔲𝔫𝔱𝔲𝔨 𝔪𝔢𝔩𝔞𝔨𝔰𝔞𝔫𝔞𝔨𝔞𝔫 𝔭𝔢𝔨𝔢𝔯𝔧𝔞𝔞𝔫 𝔱𝔢𝔯𝔱𝔢𝔫𝔱𝔲.
𝔖𝔢𝔟𝔞𝔩𝔦𝔨𝔫𝔶𝔞, 𝔭𝔦𝔥𝔞𝔨 𝔡𝔞𝔩𝔞𝔪 𝔓𝔎𝔚𝔗𝔗 𝔞𝔡𝔞𝔩𝔞𝔥 𝔭𝔢𝔨𝔢𝔯𝔧𝔞 𝔡𝔞𝔫 𝔭𝔢𝔫𝔤𝔲𝔰𝔞𝔥𝔞 𝔰𝔢𝔩𝔞𝔨𝔲 𝔭𝔢𝔪𝔟𝔢𝔯𝔦 𝔨𝔢𝔯𝔧𝔞. 𝔄𝔯𝔱𝔦𝔫𝔶𝔞, 𝔡𝔞𝔩𝔞𝔪 𝔓𝔎𝔚𝔗𝔗 𝔱𝔢𝔯𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔥𝔲𝔟𝔲𝔫𝔤𝔞𝔫 𝔨𝔢𝔯𝔧𝔞 𝔞𝔫𝔱𝔞𝔯𝔞 𝔭𝔢𝔨𝔢𝔯𝔧𝔞 𝔡𝔢𝔫𝔤𝔞𝔫 𝔭𝔢𝔫𝔤𝔲𝔰𝔞𝔥𝔞 𝔰𝔢𝔥𝔦𝔫𝔤𝔤𝔞 𝔱𝔦𝔪𝔟𝔲𝔩 𝔭𝔲𝔩𝔞 𝔥𝔞𝔨-𝔥𝔞𝔨 𝔎𝔢𝔱𝔢𝔫𝔞𝔤𝔞𝔨𝔢𝔯𝔧𝔞𝔞𝔫 𝔟𝔞𝔤𝔦 𝔭𝔢𝔨𝔢𝔯𝔧𝔞.
𝔓𝔢𝔫𝔧𝔢𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔩𝔢𝔟𝔦𝔥 𝔩𝔞𝔫𝔧𝔲𝔱 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔄𝔫𝔡𝔞 𝔟𝔞𝔠𝔞 𝔲𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔡𝔦 𝔟𝔞𝔴𝔞𝔥 𝔦𝔫𝔦.
ULASAN SELENGKAPNYA;
Terimakasih atas pertanyaan Anda.
Sebelum membahas lebih lanjut terkait permanent employee, PKWTT maupun outsourcing, kita perlu terlebih dahulu memahami definisinya sebagaimana tertulis dalam UU Ketenagakerjaan yang telah diubah oleh Perppu Cipta Kerja, PP 35/2021, dan Permenaker 7/2026.
Definisi PKWTT, PKWT, dan Perjanjian Alih Daya
UU Ketenagakerjaan tidak mengenal istilah permanent employee, melainkan istilah yang dikenal adalah karyawan PKWTT atau PKWT. Dalam praktiknya, hubungan kerja permanent employee atau yang biasa dikenal dengan sebutan karyawan tetap dengan perusahaan diatur berdasarkan perjanjian kerja waktu tidak tertentu (“PKWTT”).
Adapun definisi PKWTT sebagaimana diatur dalam Pasal 1 angka 11 PP 35/2021 sebagai berikut:
- Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu yang selanjutnya disingkat PKWTT adalah Perjanjian Kerja antara Pekerja/Buruh dengan Pengusaha untuk mengadakan Hubungan Kerja yang bersifat tetap.
Kemudian, P͟K͟W͟T͟T͟ d͟a͟p͟a͟t͟ m͟e͟n͟s͟y͟a͟r͟a͟t͟k͟a͟n͟ m͟a͟s͟a͟ p͟e͟r͟c͟o͟b͟a͟a͟n͟ k͟e͟r͟j͟a͟ p͟a͟l͟i͟n͟g͟ l͟a͟m͟a͟ 3 b͟͟u͟͟l͟͟a͟͟n͟͟, dan d͟a͟l͟a͟m͟ m͟a͟s͟a͟ p͟e͟r͟c͟o͟b͟a͟a͟n͟ k͟͟e͟͟r͟͟j͟͟a͟͟, p͟e͟n͟g͟u͟s͟a͟h͟a͟ d͟i͟l͟a͟r͟a͟n͟g͟ m͟e͟m͟b͟a͟y͟a͟r͟ u͟p͟a͟h͟ d͟i͟ b͟a͟w͟a͟h͟ u͟p͟a͟h͟ m͟i͟n͟i͟m͟u͟m͟ y͟a͟n͟g͟ b͟͟e͟͟r͟͟l͟͟a͟͟k͟͟u͟͟.[¹]
Selain itu, sebaiknya kita pahami juga definisi perjanjian kerja waktu tertentu (“PKWT”), yaitu perjanjian kerja antara pekerja/buruh dengan pengusaha untuk mengadakan hubungan kerja dalam waktu tertentu atau untuk pekerjaan tertentu.[²] D͟a͟l͟a͟m͟ p͟͟r͟͟a͟͟k͟͟t͟͟i͟͟k͟͟n͟͟y͟͟a͟͟, P͟K͟W͟T͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ p͟e͟r͟j͟a͟n͟j͟i͟a͟n͟ k͟e͟r͟j͟a͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟g͟i͟k͟a͟t͟ k͟a͟r͟y͟a͟w͟a͟n͟ k͟o͟n͟t͟r͟a͟k͟ d͟a͟n͟ p͟e͟k͟e͟r͟j͟a͟ l͟͟e͟͟p͟͟a͟͟s͟͟.
Lebih lanjut, d͟a͟l͟a͟m͟ P͟͟K͟͟W͟͟T͟͟, t͟i͟d͟a͟k͟ d͟a͟p͟a͟t͟ m͟e͟n͟s͟y͟a͟r͟a͟t͟k͟a͟n͟ a͟d͟a͟n͟y͟a͟ m͟a͟s͟a͟ p͟e͟r͟c͟o͟b͟a͟a͟n͟ k͟͟e͟͟r͟͟j͟͟a͟͟. J͟i͟k͟a͟ d͟a͟l͟a͟m͟ P͟K͟W͟T͟ d͟i͟s͟y͟a͟r͟a͟t͟k͟a͟n͟ m͟a͟s͟a͟ p͟e͟r͟c͟o͟b͟a͟a͟n͟ k͟͟e͟͟r͟͟j͟͟a͟͟, m͟a͟k͟a͟ m͟a͟s͟a͟ p͟e͟r͟c͟o͟b͟a͟a͟n͟ k͟e͟r͟j͟a͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟s͟y͟a͟r͟a͟t͟k͟a͟n͟ b͟a͟t͟a͟l͟ d͟e͟m͟i͟ h͟u͟k͟u͟m͟ d͟a͟n͟ m͟a͟s͟a͟ k͟e͟r͟j͟a͟ t͟e͟t͟a͟p͟ d͟͟i͟͟h͟͟i͟͟t͟͟u͟͟n͟͟g͟͟.[³]
Selanjutnya mengenai perjanjian outsourcing, kami asumsikan yang Anda maksud dengan perjanjian outsourcing atau dalam bahasa Indonesia dikenal alih daya, bukan merupakan perjanjian kerja yang menjadi dasar hubungan kerja antara perusahaan outsourcing dengan pekerja outsourcing. Hal ini karena hubungan kerja perusahaan outsourcing dan pekerja outsourcing didasarkan pada PKWT atau PKWTT, sebagaimana diatur dalam Pasal 18 ayat (1) PP 35/2021, berikut:
- Hubungan kerja antara perusahaan alih daya dengan pekerja/buruh yang dipekerjakan, didasarkan pada PKWT atau PKWTT.
Berbeda dengan perjanjian kerja, perjanjian outsourcing atau perjanjian alih daya adalah badan usaha berbentuk badan hukum yang memenuhi syarat untuk melaksanakan pekerjaan tertentu berdasarkan perjanjian yang disepakati dengan perusahaan pemberi pekerjaan.[⁴]
Perjanjian alih daya ini menjadi dasar dilakukannya penyerahan sebagian pelaksanaan pekerjaan. Seperti diatur pada Pasal 2 Permenaker 7/2026, sebagai berikut:
- Perusahaan pemberi pekerjaan dapat menyerahkan sebagian pelaksanaan pekerjaan kepada perusahaan alih daya melalui perjanjian alih daya yang dibuat secara tertulis.
Adapun sebagian pelaksanaan pekerjaan di sini merupakan jenis dan bidang pekerjaan di perusahaan pemberi pekerjaan dalam bentuk penyediaan jasa pekerja/buruh.[⁵] Jenis dan bidang pekerjaan di perusahaan pemberi pekerjaan merupakan kegiatan penunjang, yang meliputi:[⁶]
- layanan kebersihan;
- penyediaan makanan dan minuman;
- pengamanan;
- penyediaan pengemudi dan angkuatan pekerja/buruh;
- layanan penunjang operasional; dan
- pekerjaan penunjang di bidang pertambangan, perminyakan, gas, dan ketenagalistrikan.
Pihak dalam PKWTT, PKWT, dan Perjanjian Alih Daya
Berdasarkan definisi yang telah diuraikan di atas, p͟i͟h͟a͟k͟ d͟a͟l͟a͟m͟ P͟K͟W͟T͟ d͟a͟n͟ P͟K͟W͟T͟T͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ p͟e͟n͟g͟u͟s͟a͟h͟a͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ p͟e͟m͟b͟e͟r͟i͟ k͟e͟r͟j͟a͟ d͟a͟n͟ p͟͟e͟͟k͟͟e͟͟r͟͟j͟͟a͟͟.
Sedangkan dalam outsourcing, terdapat 2 perjanjian yang mendasari yaitu:
1. PKWT dan PKWTT
Mengingat hubungan kerja pekerjaan outsourcing didasarkan pada PKWT dan PKWTT. Maka para pihak yang terlibat dalam perjanjian ini adalah perusahaan outsourcing dan pekerja outsourcing. Selayaknya hubungan kerja lain, h͟u͟b͟u͟n͟g͟a͟n͟ k͟e͟r͟j͟a͟ o͟u͟t͟s͟o͟u͟r͟c͟i͟n͟g͟ h͟a͟r͟u͟s͟ b͟͟e͟͟b͟͟a͟͟s͟͟, s͟e͟s͟e͟o͟r͟a͟n͟g͟ t͟i͟d͟a͟k͟ b͟o͟l͟e͟h͟ d͟͟͟i͟͟͟p͟͟͟e͟͟͟r͟͟͟b͟͟͟u͟͟͟d͟͟͟a͟͟͟k͟͟͟, d͟i͟p͟e͟r͟u͟l͟u͟r͟ m͟a͟u͟p͟u͟n͟ d͟͟i͟͟p͟͟e͟͟r͟͟h͟͟a͟͟m͟͟b͟͟a͟͟k͟͟a͟͟n͟͟.[⁷]
2. Perjanjian Alih Daya
Dalam perjanjian alih daya, pada dasarnya terdapat 2 pihak yang mengikatkan diri, antara lain:
a. perusahaan
pemberi
pekerjaan, yaitu
perusahaan yang
menyerahkan
sebagian
pelaksanaan
pekerjaan kepada
perusahaan alih
daya;[⁸] dan
b. perusahaan alih
daya, yaitu badan
usaha berbentuk
badan hukum yang
memenuhi syarat
untuk
melaksanakan
pekerjaan tertentu
berdasarkan
perjanjian yang
disepakati dengan
perusahaan
pemberi pekerjaan.
[⁹]
Menjawab pertanyaan Anda, dapat disimpulkan bahwa k͟a͟r͟y͟a͟w͟a͟n͟ t͟e͟t͟a͟p͟ a͟t͟a͟u͟ p͟e͟r͟m͟a͟n͟e͟n͟t͟ e͟m͟p͟l͟o͟y͟e͟e͟ m͟e͟r͟u͟p͟a͟k͟a͟n͟ p͟i͟h͟a͟k͟ d͟a͟l͟a͟m͟ P͟͟K͟͟W͟͟T͟͟T͟͟, karena P͟K͟W͟T͟T͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ p͟e͟r͟j͟a͟n͟j͟i͟a͟n͟ k͟e͟r͟j͟a͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟g͟a͟t͟u͟r͟ h͟u͟b͟u͟n͟g͟a͟n͟ k͟e͟r͟j͟a͟ p͟e͟n͟g͟u͟s͟a͟h͟a͟ d͟a͟n͟ k͟a͟r͟y͟a͟w͟a͟n͟ t͟͟e͟͟t͟͟a͟͟p͟͟.
Selanjutnya, P͟K͟W͟T͟T͟ d͟a͟n͟ p͟e͟r͟j͟a͟n͟j͟i͟a͟n͟ o͟u͟t͟s͟o͟u͟r͟c͟i͟n͟g͟ a͟t͟a͟u͟ p͟e͟r͟j͟a͟n͟j͟i͟a͟n͟ a͟l͟i͟h͟ d͟a͟y͟a͟ m͟e͟r͟u͟p͟a͟k͟a͟n͟ d͟u͟a͟ h͟a͟l͟ y͟a͟n͟g͟ b͟͟͟e͟͟͟r͟͟͟b͟͟͟e͟͟͟d͟͟͟a͟͟͟. Pihak dalam perjanjian alih daya adalah perusahaan alih daya dan perusahaan pemberi pekerjaan untuk melaksanakan pekerjaan tertentu.
Sebaliknya, pihak dalam PKWTT adalah pekerja dan pengusaha selaku pemberi kerja. Artinya, d͟a͟l͟a͟m͟ P͟K͟W͟T͟T͟ t͟e͟r͟d͟a͟p͟a͟t͟ h͟u͟b͟u͟n͟g͟a͟n͟ k͟e͟r͟j͟a͟ a͟n͟t͟a͟r͟a͟ p͟e͟k͟e͟r͟j͟a͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ p͟e͟n͟g͟u͟s͟a͟h͟a͟ s͟e͟h͟i͟n͟g͟g͟a͟ t͟i͟m͟b͟u͟l͟ p͟u͟l͟a͟ h͟a͟k͟-h͟a͟k͟ K͟e͟t͟e͟n͟a͟g͟a͟k͟e͟r͟j͟a͟a͟n͟ b͟a͟g͟i͟ p͟͟e͟͟k͟͟e͟͟r͟͟j͟͟a͟͟.
Hal yang Perlu Diperhatikan dalam PKWTT, PKWT, dan Perjanjian Alih Daya
Apabila PKWTT dibuat secara tertulis, maka PKWTT paling sedikit memuat:[¹⁰]
a. nama, alamat
perusahaan, dan
jenis usaha;
b. nama, jenis
kelamin, umur, dan
alamat pekerja
buruh;
c. jabatan atau jenis
pekerjaan;
d. tempat pekerjaan;
e. besarnya upah dan
cara
pembayarannya;
f. syarat-syarat kerja
yang memuat hak
dan kewajiban
pengusaha dan
pekerja/buruh;
g. mulai dan jangka
waktu berlakunya
perjanjian kerja;
h. tempat dan tanggal
perjanjian kerja
dibuat; dan
i. tanda tangan para
pihak dalam
perjanjian kerja.
Dalam hal PKWTT dibuat secara lisan, p͟e͟n͟g͟u͟s͟a͟h͟a͟ w͟a͟j͟i͟b͟ m͟e͟m͟b͟u͟a͟t͟ s͟u͟r͟a͟t͟ p͟͟e͟͟n͟͟g͟͟a͟͟n͟͟g͟͟k͟͟a͟͟t͟͟a͟͟n͟͟, yang paling sedikit memuat keterangan:[¹¹]
a. nama dan alamat
pekerja/buruh;
b. tanggal mulai
bekerja;
c. jenis pekerjaan;
d. besarnya upah;
e. syarat masa
percobaan kerja
(apabila ada).[¹²]
Sedangkan berdasarkan Pasal 13 PP 35/2021, PKWT paling sedikit harus memuat:
a. nama, alamat
perusahaan, dan
jenis usaha;
b. nama, jenis kelamin,
umur, dan alamat
pekerja/buruh;
c. jabatan atau jenis
pekerjaan;
d. tempat pekerjaan;
e. besaran dan cara
pembayaran upah;
f. hak dan kewajiban
pengusaha dan
pekerja/buruh
sesuai dengan
ketentuan peraturan
perundang-
undangan dan/atau
syarat kerja yang
diatur dalam
peraturan
perusahaan atau
perjanjian kerja
bersama;
g. mulai dan jangka
waktu berlakunya
PKWT;
h. tempat dan tanggal
PKWT dibuat; dan
i. tanda tangan para
pihak dalam PKWT.
Kemudian untuk perjanjian alih daya, Pasal 4 ayat (1) Permenaker 7/2026, mengatur bahwa perjanjian alih daya paling sedikit memuat:
a. pekerjaan yang
dialihdayakan
kepada perusahaan
alih daya;
b. jangka waktu
perjanjian alih daya;
c. lokasi pelaksanaan
pekerjaan;
d. jumlah pekerja/
buruh alih daya;
e. pelindungan dan
hak pekerja/buruh
alih daya paling
sedikit meliputi
upah, upah kerja
lembur, waktu kerja
dan waktu istirahat,
cuti tahunan, hak
atas keselamatan
dan kesehatan kerja,
jaminan sosial,
tunjangan hari raya
keagamaan, dan
hak atas
berakhirnya
hubungan kerja atau
pemutusan
hubungan kerja; dan
f. hak dan kewajiban
perusahaan alih
daya dan
perusahaan yang
menyerahkan
sebagian
pelaksanaan
pekerjaan.
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat dan dapat dijadikan pembelajaran untuk kita semua terlebih untuk penanya dan Paralegal ubklawyers pada khususnya.
D͟a͟s͟a͟r͟ H͟u͟k͟u͟m͟:
- Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan;
- Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja;
- Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Penetapan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja Menjadi Undang-Undang;
- Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2021 tentang Perjanjian Kerja Waktu Tertentu, Alih Daya, Waktu Kerja dan Waktu Istirahat, dan Pemutusan Hubungan Kerja;
- Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 7 Tahun 2026 tentang Pekerjaan Alih Daya.
Artikel ini adalah pemutakhiran ketiga dari artikel dengan judul Perbedaan Ketentuan untuk Pekerja Tetap, Kontrak dan Outsourcing, yang dibuat oleh Si Pokrol dan pertama kali dipublikasikan pada 14 Mei 2003, yang dimutakhirkan pertama kali oleh Erizka Permatasari, S.H. pada 14 April 2021, dan dimutakhirkan kedua kali pada 22 Mei 2025. Dipublikasikan kedua oleh “..Hukumonline.com..” dengan judul Perbedaan Ketentuan PKWTT, PKWT dan Outsourcing, pada tanggal 21 Mei 2026. Dan diteruskan oleh ubklawyers pada tanggal 10 Juni 2026M/24 Zulhijjah 1447H.
Seluruh Informasi Hukum yang ada di LBH-UMAR BIN KHATTAB disiapkan semata-mata untuk t͟͟͟u͟͟͟j͟͟͟u͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟ p͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, p͟e͟m͟b͟e͟l͟a͟j͟a͟r͟a͟n͟ dan b͟e͟r͟s͟i͟f͟a͟t͟ u͟m͟u͟m͟. Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan Pengacara, Konsultan Hukum dan/atau Paralegal UBK LAWYERS.
Sedang menghadapi permasalahan hukum? A͟j͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟t͟a͟n͟y͟a͟a͟n͟ melalui email, telepon atau chat.👇🏼
Email:
ubklawyer@gmail.com
Telepon/Chat:
089666552118
Berkenan G͟a͟b͟u͟n͟g͟ G͟r͟o͟u͟p͟, untuk jadi bagian Keluarga Besar UBK LAWYERS. Klik link dibawah.👇🏼
I͟K͟U͟T͟I͟ W͟h͟a͟t͟s͟A͟p͟p͟ C͟h͟a͟n͟n͟e͟l͟ LBH-UMAR BIN KHATTAB. Untuk memperkaya Riset Hukum Anda, klik link dibawah.👇🏼
🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸
#cerdashukum
#studylawtogether
#ubklawyers

