INDRAMAYU, (lintaspantursindonesia.com) — PERTANYAAN:
Beberapa waktu ini ramai kasus penggelapan karyawan salah satu bank negara senilai kurang lebih Rp28 miliar yang merupakan dana jemaat gereja. Pertanyaan saya, dalam kasus penggelapan ini, apakah perusahaan (bank) yang menaungi karyawan tersebut memang harus bertanggung jawab untuk mengganti uangnya? Apakah tanggung jawab ini termasuk hukuman pidana menurutKUHP baru? Lantas, apakah pelaku juga sebenarnya bertanggung jawab untuk mengganti kerugian dalam KUHP baru? Atas penjelasannya diucapkan terimakasih, untuk ubklawyers beserta Paralegalnya semoga dimudahkan segala permasalahannya. Aamiin..
Wassalam,
Daenk Sukara – Gabus Wetan
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
“INTISARI JAWABAN”
【ℌ𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔓𝔦𝔡𝔞𝔫𝔞】
𝔇𝔞𝔩𝔞𝔪 𝔨𝔞𝔰𝔲𝔰 𝔭𝔢𝔫𝔤𝔤𝔢𝔩𝔞𝔭𝔞𝔫 𝔡𝔞𝔫𝔞 𝔫𝔞𝔰𝔞𝔟𝔞𝔥 𝔬𝔩𝔢𝔥 𝔨𝔞𝔯𝔶𝔞𝔴𝔞𝔫 𝔟𝔞𝔫𝔨, 𝔱𝔞𝔫𝔤𝔤𝔲𝔫𝔤 𝔧𝔞𝔴𝔞𝔟 𝔟𝔞𝔫𝔨 𝔡𝔞𝔫 𝔭𝔢𝔩𝔞𝔨𝔲 𝔥𝔞𝔯𝔲𝔰 𝔡𝔦𝔟𝔢𝔡𝔞𝔨𝔞𝔫 𝔰𝔢𝔠𝔞𝔯𝔞 𝔱𝔢𝔤𝔞𝔰. 𝔅𝔞𝔫𝔨 𝔭𝔞𝔡𝔞 𝔡𝔞𝔰𝔞𝔯𝔫𝔶𝔞 𝔱𝔦𝔡𝔞𝔨 𝔰𝔢𝔠𝔞𝔯𝔞 𝔬𝔱𝔬𝔪𝔞𝔱𝔦𝔰 𝔟𝔢𝔯𝔱𝔞𝔫𝔤𝔤𝔲𝔫𝔤 𝔧𝔞𝔴𝔞𝔟 𝔰𝔢𝔠𝔞𝔯𝔞 𝔭𝔦𝔡𝔞𝔫𝔞, 𝔨𝔞𝔯𝔢𝔫𝔞 𝔨𝔬𝔯𝔭𝔬𝔯𝔞𝔰𝔦 𝔟𝔞𝔯𝔲 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔡𝔦𝔪𝔦𝔫𝔱𝔞𝔦 𝔭𝔢𝔯𝔱𝔞𝔫𝔤𝔤𝔲𝔫𝔤𝔧𝔞𝔴𝔞𝔟𝔞𝔫 𝔧𝔦𝔨𝔞 𝔱𝔦𝔫𝔡𝔞𝔨 𝔭𝔦𝔡𝔞𝔫𝔞 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔡𝔦𝔩𝔞𝔨𝔲𝔨𝔞𝔫 𝔨𝔞𝔯𝔶𝔞𝔴𝔞𝔫𝔫𝔶𝔞 𝔪𝔢𝔯𝔲𝔭𝔞𝔨𝔞𝔫 𝔟𝔞𝔤𝔦𝔞𝔫 𝔡𝔞𝔯𝔦 𝔨𝔢𝔟𝔦𝔧𝔞𝔨𝔞𝔫 𝔞𝔱𝔞𝔲 𝔨𝔢𝔩𝔞𝔩𝔞𝔦𝔞𝔫 𝔰𝔢𝔯𝔦𝔲𝔰 𝔨𝔬𝔯𝔭𝔬𝔯𝔞𝔰𝔦.
𝔇𝔦 𝔰𝔦𝔰𝔦 𝔩𝔞𝔦𝔫, 𝔞𝔭𝔞𝔨𝔞𝔥 𝔭𝔢𝔩𝔞𝔨𝔲 𝔴𝔞𝔧𝔦𝔟 𝔪𝔢𝔪𝔟𝔞𝔶𝔞𝔯 𝔤𝔞𝔫𝔱𝔦 𝔯𝔲𝔤𝔦 𝔞𝔱𝔞𝔰 𝔡𝔞𝔫𝔞 𝔫𝔞𝔰𝔞𝔟𝔞𝔥 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔡𝔦𝔤𝔢𝔩𝔞𝔭𝔨𝔞𝔫𝔫𝔶𝔞?
𝔓𝔢𝔫𝔧𝔢𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔩𝔢𝔟𝔦𝔥 𝔩𝔞𝔫𝔧𝔲𝔱 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔄𝔫𝔡𝔞 𝔟𝔞𝔠𝔞 𝔲𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔡𝔦 𝔟𝔞𝔴𝔞𝔥 𝔦𝔫𝔦.
ULASAN SELENGKAPNYA;
Terimakasih atas pertanyaan Anda.
Artikel ini dibuat berdasarkan KUHP lama dan UU 1/2023 tentang KUHP yang diundangkan pada tanggal 2 Januari 2023.
Bentuk Tanggung Jawab Bank Jika Karyawan Menggelapkan Dana Nasabah
D͟a͟l͟a͟m͟ r͟a͟n͟a͟h͟ p͟͟i͟͟d͟͟a͟͟n͟͟a͟͟, j͟i͟k͟a͟ k͟a͟r͟y͟a͟w͟a͟n͟ m͟e͟n͟g͟g͟e͟l͟a͟p͟k͟a͟n͟ u͟a͟n͟g͟ n͟͟a͟͟s͟͟a͟͟b͟͟a͟͟h͟͟, b͟a͟n͟k͟ t͟i͟d͟a͟k͟ s͟e͟c͟a͟r͟a͟ o͟t͟o͟m͟a͟t͟i͟s͟ w͟a͟j͟i͟b͟ m͟e͟n͟g͟g͟a͟n͟t͟i͟ k͟͟e͟͟r͟͟u͟͟g͟͟i͟͟a͟͟n͟͟. Namun, d͟a͟l͟a͟m͟ r͟a͟n͟a͟h͟ p͟͟e͟͟r͟͟d͟͟a͟͟t͟͟a͟͟, b͟a͟n͟k͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟m͟i͟n͟t͟a͟i͟ p͟͟e͟͟r͟͟t͟͟a͟͟n͟͟g͟͟g͟͟u͟͟n͟͟g͟͟j͟͟a͟͟w͟͟a͟͟b͟͟a͟͟n͟͟.
Dasar utamanya adalah Pasal 1367 KUHPerdata yang mengatur bahwa p͟e͟m͟b͟e͟r͟i͟ k͟e͟r͟j͟a͟ b͟e͟r͟t͟a͟n͟g͟g͟u͟n͟g͟ j͟a͟w͟a͟b͟ a͟t͟a͟s͟ k͟e͟r͟u͟g͟i͟a͟n͟ a͟k͟i͟b͟a͟t͟ p͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ b͟a͟w͟a͟h͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ k͟a͟r͟y͟a͟w͟a͟n͟n͟y͟a͟ (vicarious liability).
Namun, terdapat batas penting terkait dengan tanggung jawab bank atas perbuatan karyawannya ini. J͟i͟k͟a͟ p͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ k͟a͟r͟y͟a͟w͟a͟n͟ t͟e͟r͟s͟e͟b͟u͟t͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ d͟i͟ l͟u͟a͟r͟ k͟e͟w͟e͟n͟a͟n͟g͟a͟n͟ r͟e͟s͟m͟i͟ (di luar sistem atau prosedur bank), m͟a͟k͟a͟ s͟e͟c͟a͟r͟a͟ d͟o͟k͟t͟r͟i͟n͟a͟l͟ t͟a͟n͟g͟g͟u͟n͟g͟ j͟a͟w͟a͟b͟ b͟a͟n͟k͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟͟i͟͟k͟͟e͟͟s͟͟a͟͟m͟͟p͟͟i͟͟n͟͟g͟͟k͟͟a͟͟n͟͟.
Meski demikian, dalam praktiknya, bank sering tetap mengganti kerugian akibat tindakan karyawannya. Hal ini bukan semata kewajiban hukum, melainkan penerapan prinsip kehati-hatian, perlindungan konsumen, serta menjaga kepercayaan publik terhadap sistem perbankan.
Dalam konteks perbankan, hubungan kepercayaan antara nasabah dan bank menjadi kunci. N͟a͟s͟a͟b͟a͟h͟ b͟e͟r͟t͟r͟a͟n͟s͟a͟k͟s͟i͟ k͟a͟r͟e͟n͟a͟ k͟e͟p͟e͟r͟c͟a͟y͟a͟a͟n͟ t͟e͟r͟h͟a͟d͟a͟p͟ i͟͟n͟͟s͟͟t͟͟i͟͟t͟͟u͟͟s͟͟i͟͟, b͟u͟k͟a͟n͟ s͟e͟m͟a͟t͟a͟ k͟a͟r͟e͟n͟a͟ i͟n͟d͟i͟v͟i͟d͟u͟ k͟͟a͟͟r͟͟y͟͟a͟͟w͟͟a͟͟n͟͟n͟͟y͟͟a͟͟.
Sebagai perbandingan, dalam ~KUHP lama yang saat ini sudah dicabut dan dinyatakan tidak berlaku,~ p͟e͟r͟t͟a͟n͟g͟g͟u͟n͟g͟j͟a͟w͟a͟b͟a͟n͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ f͟o͟k͟u͟s͟ p͟a͟d͟a͟ i͟͟n͟͟d͟͟i͟͟v͟͟i͟͟d͟͟u͟͟. Korporasi belum diatur secara komprehensif sebagai subjek tindak pidana, sehingga d͟a͟l͟a͟m͟ k͟a͟s͟u͟s͟ p͟͟e͟͟n͟͟g͟͟g͟͟e͟͟l͟͟a͟͟p͟͟a͟͟n͟͟, y͟a͟n͟g͟ d͟i͟p͟i͟d͟a͟n͟a͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ p͟e͟l͟a͟k͟u͟ (k͟a͟r͟y͟a͟w͟a͟n͟).
Sementara itu, dalam UU 1/2023 tentang KUHP baru yang telah berlaku sejak tanggal 2 Januari 2026,[¹] k͟o͟r͟p͟o͟r͟a͟s͟i͟ t͟e͟l͟a͟h͟ d͟i͟a͟k͟u͟i͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ s͟u͟b͟j͟e͟k͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟͟͟i͟͟͟d͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟a͟͟͟.[²] Namun, t͟i͟d͟a͟k͟ s͟e͟t͟i͟a͟p͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ o͟l͟e͟h͟ k͟a͟r͟y͟a͟w͟a͟n͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟m͟i͟n͟t͟a͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟t͟a͟n͟g͟g͟u͟n͟g͟j͟a͟w͟a͟b͟a͟n͟n͟y͟a͟ k͟e͟p͟a͟d͟a͟ k͟͟o͟͟r͟͟p͟͟o͟͟r͟͟a͟͟s͟͟i͟͟.
Sebagai informasi, korporasi menurut UU 1/2023 mencakup badan hukum yang antara lain berbentuk PT, yayasan, koperasi, BUMN, BUMD, perkumpulan baik yang berbadan hukum atau tidak, firma, CV.[³]
Kemudian, y͟a͟n͟g͟ d͟i͟m͟a͟k͟s͟u͟d͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ d͟a͟l͟a͟m͟ l͟i͟n͟g͟k͟u͟p͟ u͟s͟a͟h͟a͟ a͟t͟a͟u͟ k͟e͟g͟i͟a͟t͟a͟n͟ k͟͟o͟͟r͟͟p͟͟o͟͟r͟͟a͟͟s͟͟i͟͟, b͟a͟i͟k͟ s͟e͟n͟d͟i͟r͟i͟-s͟e͟n͟d͟i͟r͟i͟ a͟t͟a͟u͟ b͟e͟r͟s͟a͟m͟a͟-s͟a͟m͟a͟ o͟l͟e͟h͟:[⁴]
- pengurus yang mempunyai kedudukan fungsional dalam struktur organisasi korporasi; atau
- orang yang berdasarkan hubungan kerja atau hubungan lain yang bertindak untuk dan atas nama korporasi atau bertindak demi kepentingan korporasi.
Perlu diperhatikan bahwa korporasi hanya dapat dipidana atas perbuatan karyawannya jika:[⁵]
- Tindak pidana dilakukan untuk kepentingan korporasi;
- Terdapat pembiaran atau kelalaian serius dalam pengawasan;
- Perbuatan merupakan bagian dari kebijakan korporasi.
Dalam kasus penggelapan yang dilakukan secara pribadi oleh karyawan bank dan dilakukan di luar sistem resmi, u͟n͟s͟u͟r͟-u͟n͟s͟u͟r͟ t͟e͟r͟s͟e͟b͟u͟t͟ u͟m͟u͟m͟n͟y͟a͟ t͟i͟d͟a͟k͟ t͟͟e͟͟r͟͟p͟͟e͟͟n͟͟u͟͟h͟͟i͟͟. Oleh karena itu, bank tidak dapat dipidana, kecuali terbukti adanya kegagalan sistemik dalam pengendalian internal, seperti jika terbukti terdapat pembiaran dan kelalaian serius dalam pengawasan oleh bank.[⁶]
Dapat kami simpulkan bahwa penggantian kerugian oleh bank kepada nasabah atas perbuatan karyawannya bukanlah bentuk hukuman pidana, melainkan bentuk tanggung jawab perdata atau kebijakan institusional.
Bank baru dapat dimintai pertanggungjawaban pidana jika terdapat pembiaran atau kelalaian serius dalam pengawasan terhadap karyawannya.
Bisakah Pelaku Penggelapan Dipidana untuk Membayar Ganti Rugi?
Berdasarkan KUHP baru, p͟͟͟e͟͟͟l͟͟͟a͟͟͟k͟͟͟u͟͟͟ p͟e͟n͟g͟g͟e͟l͟a͟p͟a͟n͟ b͟e͟r͟t͟a͟n͟g͟g͟u͟n͟g͟ j͟a͟w͟a͟b͟ s͟e͟c͟a͟r͟a͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ s͟e͟k͟a͟l͟i͟g͟u͟s͟ w͟a͟j͟i͟b͟ m͟e͟m͟u͟l͟i͟h͟k͟a͟n͟ k͟e͟r͟u͟g͟i͟a͟n͟ k͟͟o͟͟r͟͟b͟͟a͟͟n͟͟.
Pertama, dari aspek pidana pokok, penggelapan merupakan tindak pidana terhadap harta benda yang d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟j͟a͟t͟u͟h͟i͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ p͟e͟n͟j͟a͟r͟a͟ a͟t͟a͟u͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ d͟e͟n͟d͟a͟ s͟e͟s͟u͟a͟i͟ k͟e͟t͟e͟n͟t͟u͟a͟n͟ K͟U͟H͟P͟ b͟͟a͟͟r͟͟u͟͟. Hal ini berdasarkan Pasal 486 UU 1/2023 tentang penggelapan yang berbunyi:
- Setiap Orang yang secara melawan hukum memiliki suatu Barang yang sebagian atau seluruhnya milik orang lain, yang ada dalam kekuasaannya bukan karena Tindak Pidana, dipidana karena penggelapan, dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun atau pidana denda paling banyak kategori IV.
Kedua, KUHP baru secara tegas mengatur pidana tambahan berupa kewajiban pembayaran ganti rugi atau restitusi sebagaimana diatur di dalam Pasal VII angka 6 UU 1/2026 yang mengubah Pasal 66 ayat (1) huruf d UU 1/2023 dan penjelasannya.
P͟i͟d͟a͟n͟a͟ t͟a͟m͟b͟a͟h͟a͟n͟ t͟e͟r͟s͟e͟b͟u͟t͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟k͟e͟n͟a͟k͟a͟n͟ j͟i͟k͟a͟ p͟e͟n͟j͟a͟t͟u͟h͟a͟n͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ p͟o͟k͟o͟k͟ s͟a͟j͟a͟ t͟i͟d͟a͟k͟ c͟u͟k͟u͟p͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟n͟c͟a͟p͟a͟i͟ t͟u͟j͟u͟a͟n͟ p͟͟e͟͟m͟͟i͟͟d͟͟a͟͟n͟͟a͟͟a͟͟n͟͟.[⁷]
Ketentuan ini menegaskan bahwa h͟a͟k͟i͟m͟ d͟a͟p͟a͟t͟ m͟e͟m͟e͟r͟i͟n͟t͟a͟h͟k͟a͟n͟ p͟e͟l͟a͟k͟u͟ u͟n͟t͟u͟k͟ s͟e͟c͟a͟r͟a͟ l͟a͟n͟g͟s͟u͟n͟g͟ m͟e͟n͟g͟g͟a͟n͟t͟i͟ k͟e͟r͟u͟g͟i͟a͟n͟ k͟o͟r͟b͟a͟n͟ d͟a͟l͟a͟m͟ p͟u͟t͟u͟s͟a͟n͟ p͟͟i͟͟d͟͟a͟͟n͟͟a͟͟, [⁸] s͟e͟h͟i͟n͟g͟g͟a͟ t͟i͟d͟a͟k͟ l͟a͟g͟i͟ b͟e͟r͟g͟a͟n͟t͟u͟n͟g͟ s͟e͟p͟e͟n͟u͟h͟n͟y͟a͟ p͟a͟d͟a͟ g͟u͟g͟a͟t͟a͟n͟ p͟e͟r͟d͟a͟t͟a͟ t͟͟e͟͟r͟͟p͟͟i͟͟s͟͟a͟͟h͟͟.
Dengan demikian, selain pidana pokok berupa penjara dan denda, saat ini h͟a͟k͟i͟m͟ d͟a͟p͟a͟t͟ m͟e͟m͟u͟t͟u͟s͟ m͟e͟n͟g͟g͟a͟n͟t͟i͟ k͟e͟r͟u͟g͟i͟a͟n͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ b͟a͟g͟i͟a͟n͟ d͟a͟r͟i͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ t͟͟a͟͟m͟͟b͟͟a͟͟h͟͟a͟͟n͟͟. Pelaku tetap bertanggung jawab penuh, meskipun kerugian korban telah terlebih dahulu diganti oleh pihak lain, misalnya oleh bank.
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat dan dapat dijadikan pembelajaran untuk kita semua terlebih untuk penanya dan Paralegal ubklawyers pada khususnya.
D͟a͟s͟a͟r͟ H͟u͟k͟u͟m͟:
- Kitab Undang-Undang Hukum Perdata;
- Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana;
- Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana.
Artikel ini dibuat oleh Zenny Rezania Dewantari. SH, MH, M, Hum dipublikasikan “..Hukumonline.com..” dengan judul Karyawan Menggelapkan Dana, Bank Harus Tanggung Jawab? pada tanggal 28 April 2026. Dan diteruskan oleh ubklawyers pada tanggal 04 Mei 2026M/17 Dzulqa’idah 1447H.
Seluruh Informasi Hukum yang ada di LBH-UMAR BIN KHATTAB disiapkan semata-mata untuk t͟͟͟u͟͟͟j͟͟͟u͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟ p͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, p͟e͟m͟b͟e͟l͟a͟j͟a͟r͟a͟n͟ dan b͟e͟r͟s͟i͟f͟a͟t͟ u͟m͟u͟m͟. Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan Pengacara, Konsultan Hukum dan/atau Paralegal UBK LAWYERS.
Sedang menghadapi permasalahan hukum? A͟j͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟t͟a͟n͟y͟a͟a͟n͟ melalui email, telepon atau chat.👇🏼
Email:
ubklawyer@gmail.com
Telepon/Chat:
089666552118
Berkenan G͟a͟b͟u͟n͟g͟ G͟r͟o͟u͟p͟, untuk jadi bagian Keluarga Besar UBK LAWYERS. Klik link dibawah.👇🏼
I͟K͟U͟T͟I͟ W͟h͟a͟t͟s͟A͟p͟p͟ C͟h͟a͟n͟n͟e͟l͟ LBH-UMAR BIN KHATTAB. Untuk memperkaya Riset Hukum Anda, klik link dibawah.👇🏼
🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸
#cerdashukum
#studylawtogether
#ubklawyers

