INDRAMAYU, Analisis dari DR. Suhaeli Nawawi selaku pembina Yayasan Wiralodra Indramayu (YWI) terkait “Geopolotik di Era Narasi” muncul di ruang punlik melalui grup WhatsApp, Minggu 03 Mei 2026.
Pernyataan kemenangan dalam konflik modern sering kali lebih mencerminkan kebutuhan politik daripada realitas strategis. Klaim kemenangan Amerika Serikat atas Iran—di tengah situasi yang masih cair, negosiasi yang belum tuntas, dan potensi eskalasi yang belum sepenuhnya reda—menunjukkan bahwa “menang” tidak lagi sekadar kategori militer, melainkan konstruksi narasi. Dalam logika geopolitik kontemporer, yang menentukan bukan hanya siapa yang unggul di medan tempur, tetapi siapa yang lebih dulu dan lebih meyakinkan dalam mendefinisikan akhir cerita.
Secara taktis, sebuah negara bisa saja berhasil menghantam target lawan, menunjukkan superioritas teknologi, atau memaksakan tekanan militer. Namun secara strategis, kemenangan mensyaratkan perubahan perilaku lawan atau tercapainya tujuan politik yang jelas. Di titik inilah paradoks muncul: jika lawan belum benar-benar tunduk, jika konflik belum selesai, dan jika ancaman masih tersisa—lalu kemenangan itu diukur dengan apa? Di sinilah publik boleh sedikit bergumam, bahkan sambil tersenyum sinis: “menang apaan, tuh?”
Di balik klaim tersebut, terdapat kebutuhan yang sangat nyata: mengakhiri konflik tanpa terlihat kalah. Tekanan domestik, batasan hukum seperti War Powers Act, serta risiko perang berkepanjangan memaksa pemimpin untuk merumuskan jalan keluar yang “terhormat”. Maka lahirlah apa yang dalam kajian hubungan internasional dikenal sebagai face-saving exit—keluar dari konflik sambil tetap membawa label kemenangan. Ini bukan kebohongan total, tetapi juga bukan kebenaran utuh; ia adalah kompromi antara fakta dan kebutuhan politik.
Akhirnya, perang modern bukan hanya tentang peluru dan rudal, melainkan tentang persepsi dan legitimasi. Kemenangan menjadi sesuatu yang dinegosiasikan di ruang media, bukan hanya di medan tempur. Maka ketika sebuah kekuatan besar menyatakan diri menang dalam situasi yang masih ambigu, mungkin kita tidak perlu langsung menolak, tetapi juga tidak perlu menelan mentah-mentah. Cukup pahami satu hal: dalam geopolitik, kadang yang paling menentukan bukan siapa yang benar-benar menang—melainkan siapa yang paling dulu berhasil berkata, “kami menang,” dan membuat dunia, atau setidaknya publiknya sendiri, percaya. Kalian gimana? (Taryam)
Editor: Abdul Gani

