INDRAMAYU (lintaspanturaindonesia.com) — PERTANYAAN:
Di mana saya dapat menemukan ketentuan hukum/peraturan mengenai syarat sah menjadi ahli/memberikan keterangan sebagai ahli dalam suatu perkara pidana? Apakah hakim terikat dengan keterangan ahli? Atas pencerahannya diucapkan terimakasih, untuk ubklawyers beserta Paralegalnya semoga dimudahkan urusannya, diterima ibadah puasanya dan bisa dipertemukan dengan malam Lailatul Qodr. Aamiin..
bye;
Rudy Pangestu – Tembaga Citi
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
“INTISARI JAWABAN;
【ℌ𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔓𝔦𝔡𝔞𝔫𝔞】
𝔎𝔢𝔱𝔢𝔯𝔞𝔫𝔤𝔞𝔫 𝔞𝔥𝔩𝔦 𝔞𝔡𝔞𝔩𝔞𝔥 𝔞𝔩𝔞𝔱 𝔟𝔲𝔨𝔱𝔦 𝔡𝔞𝔩𝔞𝔪 𝔭𝔢𝔯𝔨𝔞𝔯𝔞 𝔭𝔦𝔡𝔞𝔫𝔞 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔟𝔢𝔯𝔲𝔭𝔞 𝔨𝔢𝔱𝔢𝔯𝔞𝔫𝔤𝔞𝔫 𝔡𝔞𝔯𝔦 𝔞𝔥𝔩𝔦 𝔭𝔞𝔡𝔞 𝔱𝔞𝔥𝔞𝔭 𝔭𝔢𝔫𝔶𝔢𝔩𝔦𝔡𝔦𝔨𝔞𝔫, 𝔭𝔢𝔫𝔶𝔦𝔡𝔦𝔨𝔞𝔫, 𝔭𝔢𝔫𝔲𝔫𝔱𝔲𝔱𝔞𝔫, 𝔡𝔞𝔫/𝔞𝔱𝔞𝔲 𝔭𝔢𝔪𝔢𝔯𝔦𝔨𝔰𝔞𝔞𝔫 𝔡𝔦 𝔰𝔦𝔡𝔞𝔫𝔤 𝔭𝔢𝔫𝔤𝔞𝔡𝔦𝔩𝔞𝔫. 𝔏𝔞𝔫𝔱𝔞𝔰, 𝔞𝔡𝔞𝔨𝔞𝔥 𝔰𝔶𝔞𝔯𝔞𝔱 𝔟𝔞𝔤𝔦 𝔰𝔢𝔬𝔯𝔞𝔫𝔤 𝔞𝔥𝔩𝔦 𝔪𝔢𝔪𝔟𝔢𝔯𝔦𝔨𝔞𝔫 𝔨𝔢𝔱𝔢𝔯𝔞𝔫𝔤𝔞𝔫𝔫𝔶𝔞 𝔡𝔦 𝔭𝔢𝔯𝔰𝔦𝔡𝔞𝔫𝔤𝔞𝔫?
𝔓𝔢𝔫𝔧𝔢𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔩𝔢𝔟𝔦𝔥 𝔩𝔞𝔫𝔧𝔲𝔱 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔄𝔫𝔡𝔞 𝔟𝔞𝔠𝔞 𝔲𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔡𝔦 𝔟𝔞𝔴𝔞𝔥 𝔦𝔫𝔦.
ULASAN SELENGKAPNYA;
Terimakasih atas pertanyaan Anda.
Artikel ini dibuat berdasarkan KUHAP lama dan UU 20/2025 tentang KUHAP yang diundangkan pada tanggal 17 Desember 2025.
Dasar Hukum Keterangan Ahli
Dasar hukum keterangan ahli dapat Anda temukan dalam UU 20/2025 tentang KUHAP baru yang telah berlaku sejak tanggal 2 Januari 2026.[¹] Untuk memperkaya wawasan Anda, kami juga akan menyajikan ketentuan dalam ~KUHAP lama yang saat ini telah dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.~[²]
Lantas, apa yang dimaksud dengan keterangan ahli? Berikut pengertiannya:
Pasal 1 angka 52 UU 20/2025
- Keterangan ahli adalah alat bukti dalam perkara pidana yang berupa keterangan dari ahli pada tahap penyelidikan, penyidikan, penuntutan, dan/atau pemeriksaan di sidang pengadilan.
~Pasal 1 angka 28 KUHAP lama~
- Keterangan ahli adalah keterangan yang diberikan oleh seorang yang memiliki keahlian khusus tentang hal yang diperlukan untuk membuat terang suatu perkara pidana guna kepentingan pemeriksaan.
Keterangan ahli pada sidang perkara pidana, diatur di Pasal 238 ayat (1) UU 20/2025, yang menyatakan bahwa keterangan ahli d͟i͟s͟a͟m͟p͟a͟i͟k͟a͟n͟ s͟e͟c͟a͟r͟a͟ l͟a͟n͟g͟s͟u͟n͟g͟ d͟i͟ s͟i͟d͟a͟n͟g͟ p͟e͟n͟g͟a͟d͟i͟l͟a͟n͟ d͟i͟ b͟a͟w͟a͟h͟ s͟u͟m͟p͟a͟h͟ a͟t͟a͟u͟ j͟a͟n͟j͟i͟ m͟e͟n͟g͟e͟n͟a͟i͟ a͟p͟a͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟k͟e͟t͟a͟h͟u͟i͟ s͟e͟s͟u͟a͟i͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ k͟͟e͟͟a͟͟h͟͟l͟͟i͟͟a͟͟n͟͟n͟͟y͟͟a͟͟.
Secara historis, ketentuan mengenai keterangan ahli ini pernah diatur di dalam Pasal 186 KUHAP lama dan penjelasannya yang menerangkan bahwa keterangan ahli ialah a͟p͟a͟ y͟a͟n͟g͟ s͟e͟o͟r͟a͟n͟g͟ a͟h͟l͟i͟ n͟y͟a͟t͟a͟k͟a͟n͟ d͟i͟ s͟i͟d͟a͟n͟g͟ p͟͟e͟͟n͟͟g͟͟a͟͟d͟͟i͟͟l͟͟a͟͟n͟͟. Keterangan ahli dapat juga diberikan pada waktu pemeriksaan oleh penyidik atau penuntut umum yang dituangkan dalam bentuk laporan dan dibuat dengan mengingat sumpah di waktu ia menerima jabatan/pekerjaan. Jika tidak dilakukan pada pemeriksaan oleh penyidik atau penuntut umum, maka pada pemeriksaan di sidang, diminta untuk memberikan keterangan dan dicatat dalam berita acara pemeriksaan. Keterangan tersebut diberikan setelah ia mengucap sumpah atau janji di hadapan hakim.
Adapun, perbandingan aturan mengenai keterangan ahli dalam pemeriksaan di persidangan dapat dilihat pada tabel berikut:
UU 20/2025
- Dalam hal pengaduan yang diterima terdapat surat atau tulisan palsu, dipalsukan, atau diduga palsu oleh penyidik, untuk kepentingan penyidikan, penyidik dapat meminta keterangan mengenai hal itu kepada ahli;[³]
- Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani korban luka, keracunan, atau mati yang diduga akibat peristiwa tindak pidana, penyidik berwenang mengajukan permintaan keterangan kepada ahli kedokteran forensik atau dokter dan/atau ahli lainnya;[⁴]
- Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman, dokter, atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan;[⁵]
- Dalam hal diperlukan untuk menjernihkan duduk persoalan yang timbul di sidang pengadilan, hakim ketua sidang dapat meminta keterangan ahli dan dapat pula meminta agar diajukan bahan baru oleh yang berkepentingan.[⁶]
~KUHAP Lama~
- Dalam hal diterima pengaduan suatu surat atau tulisan palsu atau dipalsukan atau diduga palsu oleh penyidik, maka untuk kepentingan penyidikan, penyidik dapat meminta keterangan mengenai hal itu dari orang ahli;[⁷]
- Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani korban luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan/atau ahli lainnya;[⁸]
- Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau dokter atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan;[⁹]
- Dalam hal diperlukan untuk menjernihkan duduk persoalan yang timbul di sidang pengadilan, hakim ketua sidang dapat minta keterangan ahli.[¹⁰]
Menurut M. Yahya Harahap dalam buku Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP, M. Yahya Harahap menjelaskan tentang ~Pasal 179 ayat (1) KUHAP lama~ tentang maksud ahli kedokteran kehakiman biasanya adalah ahli forensik atau ahli bedah mayat. Akan tetapi pasal itu sendiri tidak membatasinya hanya ahli kedokteran kehakiman saja, tetapi meliputi ahli lainnya (hal. 229).
Sementara itu, menurut Penjelasan Pasal 49 ayat (1) UU 20/2025 k͟e͟t͟e͟r͟a͟n͟g͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟b͟e͟r͟i͟k͟a͟n͟ o͟l͟e͟h͟ a͟h͟l͟i͟ k͟e͟d͟o͟k͟t͟e͟r͟a͟n͟ f͟o͟r͟e͟n͟s͟i͟k͟ d͟i͟a͟n͟g͟g͟a͟p͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ k͟e͟t͟e͟r͟a͟n͟g͟a͟n͟ a͟͟h͟͟l͟͟i͟͟. Sedangkan k͟e͟t͟e͟r͟a͟n͟g͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟b͟e͟r͟i͟k͟a͟n͟ o͟l͟e͟h͟ d͟o͟k͟t͟e͟r͟ b͟u͟k͟a͟n͟ a͟h͟l͟i͟ k͟e͟d͟o͟k͟t͟e͟r͟a͟n͟ f͟o͟r͟e͟n͟s͟i͟k͟ d͟i͟a͟n͟g͟g͟a͟p͟ h͟a͟n͟y͟a͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ k͟͟e͟͟t͟͟e͟͟r͟͟a͟͟n͟͟g͟͟a͟͟n͟͟.
Syarat Pemberi Keterangan Ahli
Di dalam Pasal 1 angka 51 UU 20/2025 diatur bahwa yang dimaksud dengan ahli adalah seseorang yang memiliki:
- Pengetahuan dalam bidang tertentu yang dibuktikan dengan ijazah akademik atau sertifikat tertentu; dan/atau
- Pengalaman dan keterampilan khusus yang terkait dengan peristiwa pidana.
Namun, ketentuan tersebut sepanjang penelusuran kami tidak diatur lebih lanjut dalam UU 20/2025.
Sebagai perbandingan, kami akan mengutip tulisan Andi Hamzah dalam buku Hukum Acara Pidana Indonesia, bahwa Ned. Sv. memberikan definisi k͟e͟t͟e͟r͟a͟n͟g͟a͟n͟ a͟h͟l͟i͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ p͟e͟n͟d͟a͟p͟a͟t͟ s͟e͟o͟r͟a͟n͟g͟ a͟h͟l͟i͟ y͟a͟n͟g͟ b͟e͟r͟h͟u͟b͟u͟n͟g͟a͟n͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ i͟l͟m͟u͟ p͟e͟n͟g͟e͟t͟a͟h͟u͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ t͟e͟l͟a͟h͟ d͟͟i͟͟p͟͟e͟͟l͟͟a͟͟j͟͟a͟͟r͟͟i͟͟n͟͟y͟͟a͟͟, tentang suatu apa yang dimintai pertimbangannya. Adapun, yang dimaksud dengan keahlian adalah ilmu pengetahuan yang dipelajari seseorang (hal. 273).
Ilmu pengetahuan sendiri dapat diperluas maknanya meliputi kriminalistik, sehingga van Bemmelen sebagaimana dikutip Andi Hamzah dalam buku yang sama, menyebutkan bahwa i͟l͟m͟u͟ t͟͟u͟͟l͟͟i͟͟s͟͟a͟͟n͟͟, i͟l͟m͟u͟ s͟͟e͟͟n͟͟j͟͟a͟͟t͟͟a͟͟, p͟e͟n͟g͟e͟t͟a͟h͟u͟a͟n͟ t͟e͟n͟t͟a͟n͟g͟ s͟i͟d͟i͟k͟ j͟a͟r͟i͟ d͟a͟n͟ l͟a͟i͟n͟n͟y͟a͟ t͟e͟r͟m͟a͟s͟u͟k͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ i͟l͟m͟u͟ p͟e͟n͟g͟e͟t͟a͟h͟u͟a͟n͟ (hal. 273).
Di sisi lain, dalam California Evidence Code memberikan syarat s͟e͟s͟e͟o͟r͟a͟n͟g͟ d͟a͟p͟a͟t͟ m͟e͟m͟b͟e͟r͟i͟k͟a͟n͟ k͟e͟t͟e͟r͟a͟n͟g͟a͟n͟ a͟h͟l͟i͟ j͟i͟k͟a͟ i͟a͟ m͟e͟m͟p͟u͟n͟y͟a͟i͟ p͟͟e͟͟n͟͟g͟͟e͟͟t͟͟a͟͟h͟͟u͟͟a͟͟n͟͟, k͟͟e͟͟a͟͟h͟͟l͟͟i͟͟a͟͟n͟͟, p͟͟e͟͟n͟͟g͟͟a͟͟l͟͟a͟͟m͟͟a͟͟n͟͟, l͟͟a͟͟t͟͟i͟͟h͟͟a͟͟n͟͟, a͟t͟a͟u͟ p͟e͟n͟d͟i͟d͟i͟k͟a͟n͟ k͟h͟u͟s͟u͟s͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟m͟a͟d͟a͟i͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟m͟e͟n͟u͟h͟i͟ s͟y͟a͟r͟a͟t͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ s͟e͟o͟r͟a͟n͟g͟ a͟h͟l͟i͟ t͟e͟n͟t͟a͟n͟g͟ h͟a͟l͟ y͟a͟n͟g͟ b͟e͟r͟k͟a͟i͟t͟a͟n͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ k͟e͟t͟e͟r͟a͟n͟g͟a͟n͟n͟y͟a͟ (hal. 273-274).
Terkait dengan pemberian keterangan ahli, dapat Anda lihat contohnya dalam SEMA 13/2008 yang mengimbau hakim meminta keterangan dari ahli di bidang pers terhadap perkara-perkara yang diajukan ke pengadilan yang berhubungan dengan delik pers. Keterangan ahli tersebut dimintakan dari Dewan Pers karena mereka yang mengetahui seluk beluk pers secara teori dan praktik. Hal ini dilatarbelakangi oleh banyaknya perkara-perkara di bidang pers dan hakim perlu mendapat gambaran objektif tentang ketentuan yang berhubungan dengan UU Pers.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa s͟y͟a͟r͟a͟t͟ s͟e͟s͟e͟o͟r͟a͟n͟g͟ b͟i͟s͟a͟ m͟e͟m͟b͟e͟r͟i͟k͟a͟n͟p k͟e͟t͟e͟r͟a͟n͟g͟a͟n͟ a͟h͟l͟i͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ i͟a͟ m͟͟e͟͟m͟͟i͟͟l͟͟i͟͟k͟͟i͟͟ p͟e͟n͟g͟e͟t͟a͟h͟u͟a͟n͟ d͟a͟l͟a͟m͟ b͟i͟d͟a͟n͟g͟ t͟e͟r͟t͟e͟n͟t͟u͟ (d͟i͟b͟u͟k͟t͟i͟k͟a͟n͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ i͟j͟a͟z͟a͟h͟ a͟t͟a͟u͟ s͟͟e͟͟r͟͟t͟͟i͟͟f͟͟i͟͟k͟͟a͟͟t͟͟) d͟͟a͟͟n͟͟/a͟t͟a͟u͟ m͟e͟m͟p͟u͟n͟y͟a͟i͟ p͟e͟n͟g͟a͟l͟a͟m͟a͟n͟ d͟a͟n͟ k͟e͟t͟r͟a͟m͟p͟i͟l͟a͟n͟ k͟h͟u͟s͟u͟s͟ t͟e͟r͟k͟a͟i͟t͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ p͟͟e͟͟r͟͟k͟͟a͟͟r͟͟a͟͟.
Selain syarat tersebut, dalam menyampaikan keterangan ahli di persidangan, seorang ahli juga harus memenuhi ketentuan berikut:
- Disampaikan langsung di sidang pengadilan di bawah sumpah atau janji mengenai apa yang diketahui sesuai dengan keahliannya;[¹¹]
- Jika sebelum memberikan keterangan di depan sidang pengadilan perlu melakukan pemeriksaan, penelitian, atau pengamatan terkait perkara, maka wajib menyampaikan surat tugas atau izin dari institusi/lembaga tempat ia bekerja.[¹²]
Apakah Hakim Terikat dengan Keterangan Ahli?
Lantas, apakah hakim terikat dengan keterangan ahli? Pada dasarnya hakim bebas menilai dan tidak ada keharusan bagi hakim untuk menerima kebenaran keterangan ahli tersebut. Keterangan ahli pada dasarnya bersifat menguatkan keyakinan hakim karena kekuatan alat bukti keterangan ahli bersifat bebas (vrij bewijskracht) atau tidak mengikat hakim untuk memakainya apabila bertentangan dengan keyakinan hakim.[¹³]
K͟e͟t͟e͟r͟a͟n͟g͟a͟n͟ a͟h͟l͟i͟ b͟e͟r͟f͟u͟n͟g͟s͟i͟ m͟e͟n͟j͟a͟d͟i͟ a͟l͟a͟t͟ b͟a͟n͟t͟u͟ h͟a͟k͟i͟m͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟n͟e͟m͟u͟k͟a͟n͟ k͟e͟b͟e͟n͟a͟r͟a͟n͟ d͟a͟n͟ h͟a͟k͟i͟m͟ b͟e͟b͟a͟s͟ m͟e͟n͟g͟g͟u͟n͟a͟k͟a͟n͟ k͟e͟t͟e͟r͟a͟n͟g͟a͟n͟ a͟h͟l͟i͟ t͟e͟r͟s͟e͟b͟u͟t͟ a͟t͟a͟u͟ t͟͟i͟͟d͟͟a͟͟k͟͟. J͟i͟k͟a͟ m͟e͟m͟a͟n͟g͟ k͟e͟t͟e͟r͟a͟n͟g͟a͟n͟ a͟h͟l͟i͟ b͟e͟r͟t͟e͟n͟t͟a͟n͟g͟a͟n͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ k͟e͟y͟a͟k͟i͟n͟a͟n͟ h͟a͟k͟i͟m͟ b͟e͟r͟d͟a͟s͟a͟r͟k͟a͟n͟ a͟l͟a͟s͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ j͟͟e͟͟l͟͟a͟͟s͟͟, h͟a͟k͟i͟m͟ d͟a͟p͟a͟t͟ mengesampingkan n͟y͟a͟.[¹⁴]
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat dan dapat dijadikan pembelajaran untuk kita semua terlebih untuk penanya dan Paralegal ubklawyers pada khususnya.
D͟a͟s͟a͟r͟ H͟u͟k͟u͟m͟:
- Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers;
- Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2025 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana;
- Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 13 Tahun 2008 tentang Meminta Keterangan Saksi Ahli.
Artikel ini adalah pemutakhiran kedua dari artikel dengan judul Syarat dan Dasar Hukum Keterangan Ahli dalam Perkara Pidana yang dibuat oleh Tri Jata Ayu Pramesti, S.H., dan pertama kali dipublikasikan pada Senin, 11 November 2013, yang dimutakhirkan pertama kali oleh Nafiatul Munawaroh, S.H., M.H. pada Rabu, 28 Desember 2022. Dipublikasikan kedua oleh “..Hukumonline.com..” dengan judul Syarat Keterangan Ahli dalam Perkara Pidana, pada tanggal 04 Februari 2026. Dan diteruskan oleh ubklawyers pada tanggal 04 Maret 2026M/14 Ramadhan 1447H.
Seluruh Informasi Hukum yang ada di LBH-UMAR BIN KHATTAB disiapkan semata-mata untuk t͟͟͟u͟͟͟j͟͟͟u͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟ p͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, p͟e͟m͟b͟e͟l͟a͟j͟a͟r͟a͟n͟ dan b͟e͟r͟s͟i͟f͟a͟t͟ u͟m͟u͟m͟. Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan Pengacara, Konsultan Hukum dan/atau Paralegal UBK LAWYERS.
Sedang menghadapi permasalahan hukum? A͟j͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟t͟a͟n͟y͟a͟a͟n͟ melalui email, telepon atau chat.👇🏼
Email:
ubklawyer@gmail.com
Telepon/Chat:
089666552118
Berkenan G͟a͟b͟u͟n͟g͟ G͟r͟o͟u͟p͟, untuk jadi bagian Keluarga Besar UBK LAWYERS. Klik link dibawah.👇🏼
I͟K͟U͟T͟I͟ W͟h͟a͟t͟s͟A͟p͟p͟ C͟h͟a͟n͟n͟e͟l͟ LBH-UMAR BIN KHATTAB. Untuk memperkaya Riset Hukum Anda, klik link dibawah.👇🏼
🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸
#cerdashukum
#studylawtogether
#ubklawyers

