INDRAMAYU, (lintaspanturaindonesia.com) — PERTANYAAN:
Apakah percakapan di e-mail bisa dijadikan alat bukti pada proses persidangan perdata? Atas pencerahannya diucapkan terimakasih, untuk ubklawyers dan paralegalnya semoga semakin jaya selalu. Aamiin..
Wassalam,
Tarnata – Paranormal Elite
•••••••••••••••••••••••••••••••••
“INTISARI JAWABAN”
【ℌ𝔲𝔨𝔲𝔪 & 𝔗𝔢𝔨𝔫𝔬𝔩𝔬𝔤𝔦】
𝔓𝔞𝔡𝔞 𝔡𝔞𝔰𝔞𝔯𝔫𝔶𝔞, 𝔱𝔢𝔯𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 5 𝔧𝔢𝔫𝔦𝔰 𝔞𝔩𝔞𝔱 𝔟𝔲𝔨𝔱𝔦 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔰𝔞𝔥 𝔡𝔞𝔩𝔞𝔪 𝔥𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔞𝔠𝔞𝔯𝔞 𝔭𝔢𝔯𝔡𝔞𝔱𝔞, 𝔰𝔢𝔟𝔞𝔤𝔞𝔦𝔪𝔞𝔫𝔞 𝔡𝔦𝔧𝔢𝔩𝔞𝔰𝔨𝔞𝔫 𝔡𝔞𝔩𝔞𝔪 𝔓𝔞𝔰𝔞𝔩 164 ℌℑℜ, 𝔶𝔞𝔦𝔱𝔲 𝔰𝔲𝔯𝔞𝔱, 𝔰𝔞𝔨𝔰𝔦, 𝔭𝔢𝔯𝔰𝔞𝔫𝔤𝔨𝔞𝔞𝔫, 𝔭𝔢𝔫𝔤𝔞𝔨𝔲𝔞𝔫, 𝔡𝔞𝔫 𝔰𝔲𝔪𝔭𝔞𝔥. 𝔖𝔢𝔡𝔞𝔫𝔤𝔨𝔞𝔫 𝔓𝔞𝔰𝔞𝔩 1866 𝔎𝔘ℌ 𝔓𝔢𝔯𝔡𝔞𝔱𝔞 𝔪𝔢𝔫𝔤𝔞𝔱𝔲𝔯 𝔟𝔞𝔥𝔴𝔞 𝔞𝔩𝔞𝔱 𝔟𝔲𝔨𝔱𝔦 𝔡𝔞𝔩𝔞𝔪 𝔭𝔢𝔯𝔨𝔞𝔯𝔞 𝔭𝔢𝔯𝔡𝔞𝔱𝔞 𝔱𝔢𝔯𝔡𝔦𝔯𝔦 𝔡𝔞𝔯𝔦 𝔟𝔲𝔨𝔱𝔦 𝔱𝔢𝔯𝔱𝔲𝔩𝔦𝔰, 𝔟𝔲𝔨𝔱𝔦 𝔰𝔞𝔨𝔰𝔦, 𝔭𝔢𝔯𝔰𝔞𝔫𝔤𝔨𝔞𝔞𝔫, 𝔭𝔢𝔫𝔤𝔞𝔨𝔲𝔞𝔫, 𝔡𝔞𝔫 𝔰𝔲𝔪𝔭𝔞𝔥.
𝔑𝔞𝔪𝔲𝔫, 𝔘𝔘 ℑ𝔗𝔈 𝔡𝔞𝔫 𝔭𝔢𝔯𝔲𝔟𝔞𝔥𝔞𝔫𝔫𝔶𝔞 𝔱𝔢𝔩𝔞𝔥 𝔪𝔢𝔪𝔭𝔢𝔯𝔱𝔢𝔤𝔞𝔰 𝔨𝔢𝔡𝔲𝔡𝔲𝔨𝔞𝔫 𝔢-𝔪𝔞𝔦𝔩 𝔰𝔢𝔟𝔞𝔤𝔞𝔦 𝔰𝔞𝔩𝔞𝔥 𝔰𝔞𝔱𝔲 𝔟𝔢𝔫𝔱𝔲𝔨 𝔦𝔫𝔣𝔬𝔯𝔪𝔞𝔰𝔦 𝔢𝔩𝔢𝔨𝔱𝔯𝔬𝔫𝔦𝔨 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔡𝔦𝔧𝔞𝔡𝔦𝔨𝔞𝔫 𝔞𝔩𝔞𝔱 𝔟𝔲𝔨𝔱𝔦 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔰𝔞𝔥 𝔡𝔞𝔩𝔞𝔪 𝔥𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔞𝔠𝔞𝔯𝔞 𝔭𝔢𝔯𝔡𝔞𝔱𝔞. 𝔄𝔭𝔞 𝔡𝔞𝔰𝔞𝔯 𝔥𝔲𝔨𝔲𝔪𝔫𝔶𝔞?
𝔓𝔢𝔫𝔧𝔢𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔩𝔢𝔟𝔦𝔥 𝔩𝔞𝔫𝔧𝔲𝔱 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔄𝔫𝔡𝔞 𝔟𝔞𝔠𝔞 𝔲𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔡𝔦 𝔟𝔞𝔴𝔞𝔥 𝔦𝔫𝔦.
ULASAN SELENGKAPNYA;
Terimakasih atas pertanyaan Anda.
Alat Bukti dalam Hukum Acara Perdata
Hukum acara perdata mengatur tata cara beracara di pengadilan dalam perkara perdata. Dalam proses ini, terdapat 5 jenis alat bukti yang sah sebagaimana dijelaskan dalam Pasal 164 HIR, yaitu:
a. surat;
b. saksi;
c. persangkaan;
d. pengakuan; dan
e. sumpah.
Sedangkan Pasal 1866 KUH Perdata mengatur tentang jenis-jenis alat bukti dalam perkara perdata, yang berbunyi:
Alat pembuktian meliputi:
a. bukti tertulis;
b. bukti saksi;
c. persangkaan;
d. pengakuan;
e. sumpah.
Semuanya tunduk pada aturan-aturan yang tercantum dalam bab-bab berikut.
Lalu, terkait pertanyaan Anda mengenai apakah e-mail dapat dikatakan sebagai alat bukti yang sah yang berlaku dalam proses peradilan perdata? Berikut penjelasannya.
E-mail Sebagai Informasi Elektronik
E-mail, electronic mail, atau surat elektronik merupakan salah satu bentuk informasi elektronik. Definisi informasi elektronik diatur dalam Pasal 1 angka 1 UU 19/2016:
- Informasi Elektronik adalah satu atau sekumpulan data elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto, electronic data interchange (EDI), surat elektronik (electronic mail), telegram, teleks, telecopy atau sejenisnya, huruf, tanda, angka, Kode Akses, simbol, atau perforasi yang telah diolah yang memiliki arti atau dapat dipahami oleh orang yang mampu memahaminya.
Selain memahami arti informasi elektronik, penting juga untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan dokumen elektronik, yaitu s͟e͟t͟i͟a͟p͟ i͟n͟f͟o͟r͟m͟a͟s͟i͟ e͟l͟e͟k͟t͟r͟o͟n͟i͟k͟ y͟a͟n͟g͟ d͟͟i͟͟b͟͟u͟͟a͟͟t͟͟, d͟͟i͟͟t͟͟e͟͟r͟͟u͟͟s͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, d͟͟i͟͟k͟͟i͟͟r͟͟i͟͟m͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, d͟͟i͟͟t͟͟e͟͟r͟͟i͟͟m͟͟a͟͟, a͟t͟a͟u͟ d͟i͟s͟i͟m͟p͟a͟n͟ d͟a͟l͟a͟m͟ b͟e͟n͟t͟u͟k͟ a͟͟n͟͟a͟͟l͟͟o͟͟g͟͟, d͟͟i͟͟g͟͟i͟͟t͟͟a͟͟l͟͟, e͟͟l͟͟e͟͟k͟͟t͟͟r͟͟o͟͟m͟͟a͟͟g͟͟n͟͟e͟͟t͟͟i͟͟k͟͟, o͟͟p͟͟t͟͟i͟͟k͟͟a͟͟l͟͟, a͟t͟a͟u͟ s͟͟e͟͟j͟͟e͟͟n͟͟i͟͟s͟͟n͟͟y͟͟a͟͟, y͟a͟n͟g͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟͟i͟͟l͟͟i͟͟h͟͟a͟͟t͟͟, d͟͟i͟͟t͟͟a͟͟m͟͟p͟͟i͟͟l͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, d͟͟a͟͟n͟͟/a͟t͟a͟u͟ d͟i͟d͟e͟n͟g͟a͟r͟ m͟e͟l͟a͟l͟u͟i͟ k͟o͟m͟p͟u͟t͟e͟r͟ a͟t͟a͟u͟ s͟i͟s͟t͟e͟m͟ e͟͟l͟͟e͟͟k͟͟t͟͟r͟͟o͟͟n͟͟i͟͟k͟͟, t͟e͟r͟m͟a͟s͟u͟k͟ t͟e͟t͟a͟p͟i͟ t͟͟i͟͟d͟͟a͟͟k͟͟ t͟e͟r͟b͟a͟t͟a͟s͟ p͟a͟d͟a͟ t͟͟u͟͟l͟͟i͟͟s͟͟a͟͟n͟͟, s͟͟u͟͟a͟͟r͟͟a͟͟, g͟͟a͟͟m͟͟b͟͟a͟͟r͟͟, p͟͟e͟͟t͟͟a͟͟, r͟͟a͟͟n͟͟c͟͟a͟͟n͟͟g͟͟a͟͟n͟͟, f͟o͟t͟o͟ a͟t͟a͟u͟ s͟͟e͟͟j͟͟e͟͟n͟͟i͟͟s͟͟n͟͟y͟͟a͟͟, h͟͟u͟͟r͟͟u͟͟f͟͟, t͟͟a͟͟n͟͟d͟͟a͟͟, a͟͟n͟͟g͟͟k͟͟a͟͟, k͟o͟d͟e͟ a͟͟k͟͟s͟͟e͟͟s͟͟, s͟i͟m͟b͟o͟l͟ a͟t͟a͟u͟ p͟e͟r͟f͟o͟r͟a͟s͟i͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟m͟i͟l͟i͟k͟i͟ m͟a͟k͟n͟a͟ a͟t͟a͟u͟ a͟r͟t͟i͟ a͟t͟a͟u͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟p͟a͟h͟a͟m͟i͟ o͟l͟e͟h͟ o͟r͟a͟n͟g͟ y͟a͟n͟g͟ m͟a͟m͟p͟u͟ m͟͟e͟͟m͟͟a͟͟h͟͟a͟͟m͟͟i͟͟n͟͟y͟͟a͟͟.[¹]
Kedudukan E-mail Sebagai Alat Bukti Perkara Perdata
Selanjutnya, kita perlu merujuk pada ketentuan yang tercantum dalam Pasal 5 UU 1/2024 sebagai berikut
- Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dan/atau hasil cetaknya merupakan alat bukti hukum yang sah.
- Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dan/atau hasil cetaknya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan perluasan dari alat bukti yang sah sesuai dengan Hukum Acara yang berlaku di Indonesia.
- Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dinyatakan sah apabila menggunakan Sistem Elektronik sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang ini.
- Ketentuan mengenai Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku dalam hal diatur lain dalam Undang-Undang.
Sebagai informasi, k͟e͟b͟e͟r͟a͟d͟a͟a͟n͟ i͟n͟f͟o͟r͟m͟a͟s͟i͟ e͟l͟e͟k͟t͟r͟o͟n͟i͟k͟ d͟͟a͟͟n͟͟/a͟t͟a͟u͟ d͟o͟k͟u͟m͟e͟n͟ e͟l͟e͟k͟t͟r͟o͟n͟i͟k͟ m͟e͟n͟g͟i͟k͟a͟t͟ d͟a͟n͟ d͟i͟a͟k͟u͟i͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ a͟l͟a͟t͟ b͟͟͟u͟͟͟k͟͟͟t͟͟͟i͟͟͟ y͟a͟n͟g͟ s͟a͟h͟ untuk memberikan kepastian hukum terhadap penyelenggaraan sistem elektronik dan transaksi elektronik, terutama dalam pembuktian dan hal yang berkaitan dengan perbuatan hukum yang dilakukan melalui sistem elektronik. Lalu, khusus untuk informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik berupa hasil intersepsi atau penyadapan atau perekaman yang merupakan bagian dari penyadapan harus dilakukan dalam rangka penegakan hukum atas permintaan kepolisian, kejaksaan, dan/atau institusi lainnya yang kewenangannya ditetapkan berdasarkan undang-undang.[²]
Berdasarkan ketentuan di atas, dapat disimpulkan bahwa UU ITE dan perubahannya telah mempertegas kedudukan e-mail sebagai salah satu bentuk informasi elektronik yang dapat dijadikan alat bukti yang sah dalam hukum acara perdata.
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat dan dapat dijadikan pembelajaran untuk kita semua terlebih untuk penanya dan Paralegal ubklawyers pada khususnya.
D͟a͟s͟a͟r͟ H͟u͟k͟u͟m͟:
- Herzien Inlandsch Reglement (H.I.R) (S. 1941-44);
- Kitab Undang-Undang Hukum Perdata;
- Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2024 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.
- Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik;
- Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik;
Artikel ini adalah pemutakhiran kedua dari artikel dengan judul E-mail Sebagai Alat Bukti Perkara Perdata yang dibuat oleh Abi Jam’an Kurnia, S.H. dan pertama kali dipublikasikan pada 12 Desember 2018, kemudian dimutakhirkan pertama kali oleh Abi Jam’an Kurnia, S.H. pada 12 Desember 2018. Dipublikasikan kedua oleh “..Hukumonline.com..” pada tanggal 28 April 2026, dan diteruskan oleh ubklawyers pada tanggal 24 Mei 2026M/07 Zulhijjah 1447H.
Seluruh Informasi Hukum yang ada di LBH-UMAR BIN KHATTAB disiapkan semata-mata untuk t͟͟͟u͟͟͟j͟͟͟u͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟ p͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, p͟e͟m͟b͟e͟l͟a͟j͟a͟r͟a͟n͟ dan b͟e͟r͟s͟i͟f͟a͟t͟ u͟m͟u͟m͟. Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan Pengacara, Konsultan Hukum dan/atau Paralegal UBK LAWYERS.
Sedang menghadapi permasalahan hukum? A͟j͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟t͟a͟n͟y͟a͟a͟n͟ melalui email, telepon atau chat.👇🏼
Email:
ubklawyer@gmail.com
Telepon/Chat:
089666552118
Berkenan G͟a͟b͟u͟n͟g͟ G͟r͟o͟u͟p͟, untuk jadi bagian Keluarga Besar UBK LAWYERS. Klik link dibawah.👇🏼
I͟K͟U͟T͟I͟ W͟h͟a͟t͟s͟A͟p͟p͟ C͟h͟a͟n͟n͟e͟l͟ LBH-UMAR BIN KHATTAB. Untuk memperkaya Riset Hukum Anda, klik link dibawah.👇🏼
🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸
#cerdashukum
#studylawtogether
#ubklawyers

