INDRAMAYU, ( lintaspanturaindonesia.com) — PERTANYAAN:
Beberapa waktu lalu viral video yang menunjukkan oknum aparat yang menuduh tukang jajanan es gabus menggunakan spons dalam dagangannya. Hal ini bermula dari laporan warga yang menduga terdapat jajanan yang mengandung kandungan berbahaya. Namun, setelah diselidiki melalui hasil pemeriksaan laboratorium, ternyata es gabus tersebut tidak terbukti berbahaya seperti yang dituduhkan oleh oknum aparat tersebut. Lantas, apa sanksi yang dapat diberikan terhadap oknum aparat yang telah menuduh/memfitnah tersebut?
Atas penjelasannya diucapkan terimakasih, untuk ubklawyers beserta Paralegalnya semoga dimudahkan urusannya dan dilancarkan rezekinya. Aamiin..
bye:
Sugiyanto. SE – Cirebon
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
“INTISARI JAWABAN”
【ℌ𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔓𝔦𝔡𝔞𝔫𝔞】
𝔓𝔞𝔡𝔞 𝔡𝔞𝔰𝔞𝔯𝔫𝔶𝔞, 𝔪𝔢𝔪𝔭𝔢𝔯𝔡𝔞𝔤𝔞𝔫𝔤𝔨𝔞𝔫 𝔭𝔞𝔫𝔤𝔞𝔫 𝔞𝔱𝔞𝔲 𝔪𝔞𝔨𝔞𝔫𝔞𝔫 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔟𝔢𝔯𝔟𝔞𝔥𝔞𝔶𝔞 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔟𝔢𝔯𝔭𝔬𝔱𝔢𝔫𝔰𝔦 𝔡𝔦𝔨𝔢𝔫𝔞𝔦 𝔰𝔞𝔫𝔨𝔰𝔦 𝔥𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔟𝔞𝔦𝔨 𝔟𝔢𝔯𝔲𝔭𝔞 𝔞𝔡𝔪𝔦𝔫𝔦𝔰𝔱𝔯𝔞𝔱𝔦𝔣 𝔪𝔞𝔲𝔭𝔲𝔫 𝔭𝔦𝔡𝔞𝔫𝔞, 𝔟𝔢𝔯𝔡𝔞𝔰𝔞𝔯𝔨𝔞𝔫 𝔘𝔘 𝔓𝔞𝔫𝔤𝔞𝔫 𝔡𝔞𝔫 𝔘𝔘 𝔓𝔢𝔯𝔩𝔦𝔫𝔡𝔲𝔫𝔤𝔞𝔫 𝔎𝔬𝔫𝔰𝔲𝔪𝔢𝔫.
𝔑𝔞𝔪𝔲𝔫, 𝔡𝔞𝔩𝔞𝔪 𝔥𝔞𝔩 𝔰𝔢𝔰𝔢𝔬𝔯𝔞𝔫𝔤 𝔪𝔢𝔫𝔲𝔡𝔲𝔥 𝔱𝔞𝔫𝔭𝔞 𝔟𝔲𝔨𝔱𝔦 𝔬𝔯𝔞𝔫𝔤 𝔩𝔞𝔦𝔫 𝔱𝔢𝔩𝔞𝔥 𝔪𝔢𝔫𝔧𝔲𝔞𝔩 𝔪𝔞𝔨𝔞𝔫𝔞𝔫 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔟𝔢𝔯𝔟𝔞𝔥𝔞𝔶𝔞 𝔰𝔢𝔯𝔱𝔞 𝔪𝔢𝔫𝔤𝔲𝔫𝔤𝔤𝔞𝔥 𝔳𝔦𝔡𝔢𝔬-𝔫𝔶𝔞 𝔨𝔢 𝔪𝔢𝔡𝔦𝔞 𝔰𝔬𝔰𝔦𝔞𝔩, 𝔪𝔢𝔫𝔲𝔯𝔲𝔱 𝔥𝔢𝔪𝔞𝔱 𝔨𝔞𝔪𝔦 𝔭𝔢𝔩𝔞𝔨𝔲 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔡𝔦𝔧𝔢𝔯𝔞𝔱 𝔟𝔢𝔯𝔡𝔞𝔰𝔞𝔯𝔨𝔞𝔫 𝔘𝔘 1/2023 𝔡𝔞𝔫 𝔘𝔘 ℑ𝔗𝔈. 𝔖𝔢𝔯𝔱𝔞 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔧𝔲𝔤𝔞 𝔡𝔦𝔤𝔲𝔤𝔞𝔱 𝔰𝔢𝔠𝔞𝔯𝔞 𝔭𝔢𝔯𝔡𝔞𝔱𝔞 𝔰𝔢𝔟𝔞𝔤𝔞𝔦𝔪𝔞𝔫𝔞 𝔡𝔦𝔞𝔱𝔲𝔯 𝔡𝔞𝔩𝔞𝔪 𝔓𝔞𝔰𝔞𝔩 1372 𝔎𝔘ℌ 𝔓𝔢𝔯𝔡𝔞𝔱𝔞.
𝔓𝔢𝔫𝔧𝔢𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔩𝔢𝔟𝔦𝔥 𝔩𝔞𝔫𝔧𝔲𝔱 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔄𝔫𝔡𝔞 𝔟𝔞𝔠𝔞 𝔲𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔡𝔦 𝔟𝔞𝔴𝔞𝔥 𝔦𝔫𝔦.
ULASAN SELENGKAPNYA;
Terimakasih atas pertanyaan Anda.
Hukumnya Menjual Makanan Berbahaya
Pertama-tama kami akan menerangkan terlebih dahulu mengenai menjual makanan berbahaya. Dalam menerangkan soal ini, kami akan berpedoman pada ketentuan UU Pangan dan perubahannya.
Makanan seperti jajanan es gabus ini menurut hemat kami termasuk pada kategori pangan, sebagaimana Pasal 64 angka 1 Perppu Cipta Kerja yang mengubah Pasal 1 angka 1 UU Pangan, yang berbunyi:
Pangan adalah s͟e͟g͟a͟l͟a͟ s͟e͟s͟u͟a͟t͟u͟ y͟a͟n͟g͟ b͟e͟r͟a͟s͟a͟l͟ d͟a͟r͟i͟ s͟u͟m͟b͟e͟r͟ h͟a͟y͟a͟t͟i͟ p͟r͟o͟d͟u͟k͟ p͟͟e͟͟r͟͟t͟͟a͟͟n͟͟i͟͟a͟͟n͟͟, p͟͟e͟͟r͟͟k͟͟e͟͟b͟͟u͟͟n͟͟a͟͟n͟͟, k͟͟e͟͟h͟͟u͟͟t͟͟a͟͟n͟͟a͟͟n͟͟, p͟͟e͟͟r͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟a͟͟n͟͟, p͟͟e͟͟t͟͟e͟͟r͟͟n͟͟a͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, p͟͟e͟͟r͟͟a͟͟i͟͟r͟͟a͟͟n͟͟, d͟a͟n͟ a͟͟i͟͟r͟͟, b͟a͟i͟k͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟o͟l͟a͟h͟ m͟a͟u͟p͟u͟n͟ t͟i͟d͟a͟k͟ d͟i͟o͟l͟a͟h͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟p͟e͟r͟u͟n͟t͟u͟k͟k͟a͟n͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ m͟a͟k͟a͟n͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ m͟i͟n͟u͟m͟a͟n͟ b͟a͟g͟i͟ k͟o͟n͟s͟u͟m͟s͟i͟ m͟͟a͟͟n͟͟u͟͟s͟͟i͟͟a͟͟, t͟e͟r͟m͟a͟s͟u͟k͟ b͟a͟h͟a͟n͟ t͟a͟m͟b͟a͟h͟a͟n͟ p͟͟a͟͟n͟͟g͟͟a͟͟n͟͟, b͟a͟h͟a͟n͟ b͟a͟k͟u͟ p͟͟a͟͟n͟͟g͟͟a͟͟n͟͟, d͟a͟n͟ b͟a͟h͟a͟n͟ l͟a͟i͟n͟n͟y͟a͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟g͟u͟n͟a͟k͟a͟n͟ d͟a͟l͟a͟m͟ p͟͟e͟͟n͟͟y͟͟i͟͟a͟͟p͟͟a͟͟n͟͟, p͟͟e͟͟n͟͟g͟͟o͟͟l͟͟a͟͟h͟͟a͟͟n͟͟, d͟͟a͟͟n͟͟/a͟t͟a͟u͟ p͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ m͟a͟k͟a͟n͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ m͟͟i͟͟n͟͟u͟͟m͟͟a͟͟n͟͟.
Perlu diketahui bahwa salah satu lingkup pengaturan penyelenggaraan pangan salah satunya meliputi keamanan pangan,[¹] yaitu k͟o͟n͟d͟i͟s͟i͟ d͟͟a͟͟n͟͟ u͟p͟a͟y͟a͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟p͟e͟r͟l͟u͟k͟a͟n͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟n͟c͟e͟g͟a͟h͟ p͟a͟n͟g͟a͟n͟ d͟a͟r͟i͟ k͟e͟m͟u͟n͟g͟k͟i͟n͟a͟n͟ c͟e͟m͟a͟r͟a͟n͟ b͟͟i͟͟o͟͟l͟͟o͟͟g͟͟i͟͟s͟͟, k͟͟i͟͟m͟͟i͟͟a͟͟, d͟a͟n͟ b͟e͟n͟d͟a͟ l͟a͟i͟n͟ y͟a͟n͟g͟ d͟a͟p͟a͟t͟ m͟͟e͟͟n͟͟g͟͟g͟͟a͟͟n͟͟g͟͟g͟͟u͟͟, m͟͟e͟͟r͟͟u͟͟g͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, d͟a͟n͟ m͟e͟m͟b͟a͟h͟a͟y͟a͟k͟a͟n͟ k͟e͟s͟e͟h͟a͟t͟a͟n͟ m͟a͟n͟u͟s͟i͟a͟ s͟e͟r͟t͟a͟ t͟i͟d͟a͟k͟ b͟e͟r͟t͟e͟n͟t͟a͟n͟g͟a͟n͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ a͟͟g͟͟a͟͟m͟͟a͟͟, k͟͟e͟͟y͟͟a͟͟k͟͟i͟͟n͟͟a͟͟n͟͟, d͟a͟n͟ b͟u͟d͟a͟y͟a͟ m͟a͟s͟y͟a͟r͟a͟k͟a͟t͟ s͟e͟h͟i͟n͟g͟g͟a͟ a͟m͟a͟n͟ u͟n͟t͟u͟k͟ d͟͟i͟͟k͟͟o͟͟n͟͟s͟͟u͟͟m͟͟s͟͟i͟͟.[²]
Keamanan pangan ini diselenggarakan melalui salah satunya pemberian jaminan keamanan pangan dan mutu pangan.[³] Dalam pemberian jaminan keamanan pangan dan mutu pangan ini, s͟e͟t͟i͟a͟p͟ o͟r͟a͟n͟g͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟m͟p͟r͟o͟d͟u͟k͟s͟i͟ d͟a͟n͟ m͟e͟m͟p͟e͟r͟d͟a͟g͟a͟n͟g͟k͟a͟n͟ p͟a͟n͟g͟a͟n͟ w͟a͟j͟i͟b͟ m͟e͟m͟e͟n͟u͟h͟i͟ s͟t͟a͟n͟d͟a͟r͟ k͟e͟a͟m͟a͟n͟a͟n͟ p͟a͟n͟g͟a͟n͟ d͟a͟n͟ m͟u͟t͟u͟ p͟a͟n͟g͟a͟n͟ yang ditetapkan oleh pemerintah.[⁴]
Selain itu, s͟e͟t͟i͟a͟p͟ o͟r͟a͟n͟g͟ j͟u͟g͟a͟ d͟i͟l͟a͟r͟a͟n͟g͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟n͟g͟e͟d͟a͟r͟k͟a͟n͟ p͟a͟n͟g͟a͟n͟ t͟͟e͟͟r͟͟c͟͟e͟͟m͟͟a͟͟r͟͟, yaitu pangan yang:[⁵]
- m͟e͟n͟g͟a͟n͟d͟u͟n͟g͟ b͟a͟h͟a͟n͟ b͟͟e͟͟r͟͟a͟͟c͟͟u͟͟n͟͟, b͟͟e͟͟r͟͟b͟͟a͟͟h͟͟a͟͟y͟͟a͟͟, a͟t͟a͟u͟ y͟a͟n͟g͟ d͟a͟p͟a͟t͟ m͟e͟m͟b͟a͟h͟a͟y͟a͟k͟a͟n͟ k͟e͟s͟e͟h͟a͟t͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ j͟i͟w͟a͟ m͟a͟n͟u͟s͟i͟a͟;
- mengandung cemaran yang melampaui ambang batas maksimal yang ditetapkan;
- mengandung bahan yang dilarang digunakan dalam kegiatan proses produksi pangan;
- mengandung bahan yang kotor, busuk, tengik, terurai, atau mengandung bahan nabati atau hewani yang berpenyakit atau berasal dari bangkai;
- diproduksi dengan cara yang dilarang; dan/atau
- sudah kedaluwarsa.
Pelanggaran atas ketentuan dapat dikenai sanksi administratif berupa:[⁶]
- denda;
- penghentian sementara dari kegiatan, produksi, dan/atau peredaran;
- penarikan pangan dari peredaran oleh produsen;
- ganti rugi; dan/atau
- pencabutan izin.
Di samping itu, setiap orang yang memproduksi dan memperdagangkan pangan yang dengan sengaja tidak memenuhi standar keamanan pangan dan mutu pangan yang mengakibatkan timbulnya korban gangguan kesehatan manusia dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 tahun dan atau pidana denda paling banyak kategori III,[⁷] yaitu sebesar Rp50 juta.[⁸] menjual makanan berbahaya juga dapat dilihat pada perspektif perlindungan konsumen.
Menurut Pasal 8 ayat (1) huruf a UU Perlindungan Konsumen, p͟e͟l͟a͟k͟u͟ u͟s͟a͟h͟a͟ d͟i͟l͟a͟r͟a͟n͟g͟ m͟e͟m͟p͟r͟o͟d͟u͟k͟s͟i͟ d͟͟a͟͟n͟͟/a͟t͟a͟u͟ m͟e͟m͟p͟e͟r͟d͟a͟g͟a͟n͟g͟k͟a͟n͟ b͟a͟r͟a͟n͟g͟ d͟͟a͟͟n͟͟/a͟t͟a͟u͟ j͟a͟s͟a͟ y͟a͟n͟g͟ t͟i͟d͟a͟k͟ m͟e͟m͟e͟n͟u͟h͟i͟ a͟t͟a͟u͟ t͟i͟d͟a͟k͟ m͟e͟m͟e͟n͟u͟h͟i͟ a͟t͟a͟u͟ t͟i͟d͟a͟k͟ s͟e͟s͟u͟a͟i͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ s͟t͟a͟n͟d͟a͟r͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟p͟e͟r͟s͟y͟a͟r͟a͟t͟k͟a͟n͟ d͟a͟n͟ k͟e͟t͟e͟n͟t͟u͟a͟n͟ p͟e͟r͟a͟t͟u͟r͟a͟n͟ p͟͟e͟͟r͟͟u͟͟n͟͟d͟͟a͟͟n͟͟g͟͟-u͟͟n͟͟d͟͟a͟͟n͟͟g͟͟a͟͟n͟͟.
Bagi pelaku usaha yang melanggar ketentuan di atas, dapat dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun atau pidana denda paling banyak kategori IV,[⁹] yaitu sebesar Rp200 juta.[¹⁰]
Namun, pada pertanyaan Anda menyebutkan bahwa es gabus yang mengandung spons ini hanyalah tuduhan yang tidak berdasar dan sudah dibuktikan tidak bahaya oleh hasil laboratorium.
Lantas, bagaimanakah hukumnya?
Sanksi Pidana Menuduh
Menurut hemat kami, tindakan menuduh penjual es gabus yang dilakukan oknum aparat sebagaimana Anda terangkan pada pertanyaan bisa dikategorikan sebagai perbuatan pencemaran nama baik. Hal tersebut secara historis pernah diatur dalam ~Pasal 310 KUHP lama yang sudah tidak berlaku jo. Putusan MK No. 78/PUU-XXI/2023.~ Kemudian, tindakan menuduh diatur kembali dalam Pasal 433 UU 1/2023 tentang KUHP baru yang berlaku sejak 2 Januari 2026,[¹¹] sebagai berikut:
~Pasal 310 KUHP jo. Putusan MK No. 78/PUU-XXI/2023~
- Barang siapa sengaja menyerang kehormatan atau nama baik seseorang dengan menuduhkan sesuatu hal dengan cara lisan, yang maksudnya terang supaya hal itu diketahui umum, diancam karena pencemaran dengan pidana penjara paling lama 9 bulan atau pidana denda paling banyak Rp4,5 juta.[¹²]
- Jika hal itu dilakukan dengan tulisan atau gambaran yang disiarkan, dipertunjukkan atau ditempelkan di muka umum, maka diancam karena pencemaran tertulis dengan pidana penjara paling lama 1 tahun 4 bulan atau pidana denda paling banyak Rp4,5.[¹³]
- Tidak merupakan pencemaran atau pencemaran tertulis, jika perbuatan jelas dilakukan demi kepentingan umum atau karena terpaksa untuk membela diri.
Pasal 433 UU 1/2023
- Setiap orang yang dengan lisan menyerang kehormatan atau nama baik orang lain dengan cara menuduhkan suatu hal, dengan maksud supaya hal tersebut diketahui umum, dipidana karena pencemaran dengan pidana penjara paling lama 9 bulan atau pidana denda paling banyak kategori II, yaitu sebesar Rp10 juta.[¹⁴]
- Jika perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan tulisan atau gambar yang disiarkan, dipertunjukkan, atau ditempelkan di tempat umum, dipidana karena pencemaran tertulis, dengan pidana penjara paling lama 1 tahun 6 bulan atau pidana denda paling banyak kategori III, yaitu sebesar Rp50 juta.[¹⁵]
- Perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) tidak dipidana jika dilakukan untuk kepentingan umum atau karena terpaksa membela diri.
Menurut Penjelasan Pasal 433 ayat (1) UU 1/2023, s͟i͟f͟a͟t͟ d͟a͟r͟i͟ p͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ p͟e͟n͟c͟e͟m͟a͟r͟a͟n͟ d͟a͟l͟a͟m͟ k͟e͟t͟e͟n͟t͟u͟a͟n͟ i͟n͟i͟ m͟e͟r͟u͟p͟a͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ p͟e͟n͟g͟h͟i͟n͟a͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ c͟a͟r͟a͟ m͟͟e͟͟n͟͟u͟͟d͟͟u͟͟h͟͟, b͟a͟i͟k͟ s͟e͟c͟a͟r͟a͟ l͟͟i͟͟s͟͟a͟͟n͟͟, t͟͟u͟͟l͟͟i͟͟s͟͟a͟͟n͟͟, m͟a͟u͟p͟u͟n͟ g͟͟a͟͟m͟͟b͟͟a͟͟r͟͟, y͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟y͟e͟r͟a͟n͟g͟ k͟e͟h͟o͟r͟m͟a͟t͟a͟n͟ d͟a͟n͟ n͟a͟m͟a͟ b͟a͟i͟k͟ s͟͟e͟͟s͟͟e͟͟o͟͟r͟͟a͟͟n͟͟g͟͟, s͟e͟h͟i͟n͟g͟g͟a͟ m͟e͟r͟u͟g͟i͟k͟a͟n͟ o͟r͟a͟n͟g͟ t͟͟e͟͟r͟͟s͟͟e͟͟b͟͟u͟͟t͟͟. Perbuatan yang dituduhkan tidak perlu harus suatu tindak pidana, t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ m͟e͟n͟u͟r͟u͟t͟ k͟e͟t͟e͟n͟t͟u͟a͟n͟ d͟a͟l͟a͟m͟ p͟a͟s͟a͟l͟ i͟n͟i͟ o͟b͟j͟e͟k͟n͟y͟a͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ o͟r͟a͟n͟g͟ p͟͟e͟͟r͟͟s͟͟e͟͟o͟͟r͟͟a͟͟n͟͟g͟͟a͟͟n͟͟. Penistaan terhadap lembaga pemerintah atau sekelompok orang tidak termasuk ketentuan pasal ini.
Kemudian, karena perbuatan menuduh yang dilakukan kepada penjual jajanan es gabus d͟i͟u͟n͟g͟g͟a͟h͟ k͟e͟ s͟o͟s͟i͟a͟l͟ m͟͟e͟͟d͟͟i͟͟a͟͟, menurut kami, pelaku juga dapat dijerat dengan ketentuan yang terdapat dalam UU ITE dan perubahannya. Khususnya ketentuan pada Pasal 27A UU 1/2024, sebagai berikut:
- S͟e͟t͟i͟a͟p͟ o͟r͟a͟n͟g͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ s͟e͟n͟g͟a͟j͟a͟ m͟͟e͟͟n͟͟y͟͟e͟͟r͟͟a͟͟n͟͟g͟͟ k͟e͟h͟o͟r͟m͟a͟t͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ n͟a͟m͟a͟ b͟a͟i͟k͟ o͟r͟a͟n͟g͟ l͟a͟i͟n͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ c͟a͟r͟a͟ m͟e͟n͟u͟d͟u͟h͟k͟a͟n͟ s͟u͟a͟t͟u͟ h͟a͟l͟, dengan maksud supaya hal tersebut diketahui umum dalam bentuk informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang dilakukan melalui sistem elektronik.
Perlu diingat bahwa frasa “orang lain” pada pasal di atas, menurut Putusan MK No. 105/PUU-XXII/2024 (hal. 459), bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat secara bersyarat sepanjang tidak dimaknai “kecuali lembaga pemerintah, sekelompok orang dengan identitas spesifik atau tertentu, institusi, korporasi, profesi atau jabatan”. Selain itu, frasa “suatu hal” juga bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat secara bersyarat sepanjang tidak dimaknai suatu perbuatan yang merendahkan kehormatan atau nama baik seseorang.
Setiap orang melanggar ketentuan di atas dapat dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 tahun dan/atau denda paling banyak kategori III, yaitu Rp50 juta.[¹⁶] Sebagaimana diatur dalam Pasal 45 ayat (4) UU 1/2024 jo. Pasal II ayat (5) huruf c UU 1/2026.
Gugatan Perbuatan Melawan Hukum
Selain sanksi pidana, sebagai korban pencemaran nama baik, pedagang es gabus juga bisa menempuh upaya perdata dengan melakukan gugatan perbuatan melawan hukum. Hal demikian berdasar pada ketentuan Pasal 1372 KUH Perdata, sebagai berikut:
- T͟u͟n͟t͟u͟t͟a͟n͟ p͟e͟r͟d͟a͟t͟a͟ t͟e͟n͟t͟a͟n͟g͟ h͟a͟l͟ p͟e͟n͟g͟h͟i͟n͟a͟a͟n͟ d͟i͟a͟j͟u͟k͟a͟n͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟m͟p͟e͟r͟o͟l͟e͟h͟ p͟e͟n͟g͟g͟a͟n͟t͟i͟a͟n͟ k͟e͟r͟u͟g͟i͟a͟n͟ s͟e͟r͟t͟a͟ p͟e͟m͟u͟l͟i͟h͟a͟n͟ k͟e͟h͟o͟r͟m͟a͟t͟a͟n͟ d͟a͟n͟ n͟a͟m͟a͟ b͟͟a͟͟i͟͟k͟͟.
Dalam menilai satu sama lain, hakim harus memperhatikan kasar atau tidaknya penghinaan, begitu pula pangkat, kedudukan dan kemampuan kedua belah pihak dan keadaan.
Menurut Mariam Darus Badrulzaman dalam bukunya Hukum Perikatan Dalam KUH Perdata Buku Ketiga Yurisprudensi, Doktrin Serta Penjelasan (hal. 170), berdasarkan pasal di atas, undang-undang menentukan bahwa p͟e͟n͟g͟h͟i͟n͟a͟a͟n͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ p͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ p͟͟i͟͟d͟͟a͟͟n͟͟a͟͟, y͟a͟n͟g͟ m͟e͟m͟p͟u͟n͟y͟a͟i͟ a͟s͟p͟e͟k͟ p͟e͟r͟d͟a͟t͟a͟. Tujuan tuntutan perdata adalah sebagai berikut:
- memperoleh ganti rugi dari pelaku.
- pemulihan kehormatan dan nama baik.
Sebagai informasi, dalam artikel Pasal Penghinaan yang Merisaukan Sang Begawan, J.Satrio memaparkan bahwa Pasal 1372 KUH Perdata ini merupakan salah satu varian dari tuntutan ganti rugi berdasarkan tindakan melawan hukum yang umum, yaitu Pasal 1365 KUH Perdata. K͟e͟s͟a͟m͟a͟a͟n͟ k͟e͟d͟u͟a͟ p͟a͟s͟a͟l͟ i͟n͟i͟ t͟e͟r͟l͟e͟t͟a͟k͟ p͟a͟d͟a͟ d͟a͟s͟a͟r͟ g͟u͟g͟a͟t͟a͟n͟n͟y͟a͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ a͟d͟a͟n͟y͟a͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟a͟n͟ m͟e͟l͟a͟w͟a͟n͟ h͟͟u͟͟k͟͟u͟͟m͟͟. Namun, lebih lanjut diterangkan bahwa pada asasnya orang tidak bisa menuntut ganti rugi berdasarkan Pasal 1372 KUH Perdata, juga sekaligus menuntut ganti rugi berdasarkan Pasal 1365 KUH Perdata.
Hal ini karena pada tindakan menghina ada unsur-unsur tindakan melawan hukum yang khas, dan ada pengaturannya secara khusus, yang tidak ada perumusannya dalam pengaturan tindakan melawan hukum secara umum.
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat dan dapat dijadikan pembelajaran untuk kita semua terlebih untuk penanya dan Paralegal ubklawyers pada khususnya.
D͟a͟s͟a͟r͟ H͟u͟k͟u͟m͟:
- Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
- Kitab Undang-Undang Hukum Perdata;
- Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen;
- Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik;
- Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan;
- Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik;
- Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja;
- Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana;
- Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja Menjadi Undang-Undang;
- Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2024 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik;
- Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana;
- Peraturan Pemerintah Nomor 86 Tahun 2019 tentang Keamanan Pangan;
- Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2026 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 86 Tahun 2019 tentang Keamanan Pangan;
- Peraturan Mahkamah Agung Nomor 2 Tahun 2012 tentang Penyesuaian Batasan Tindak Pidana Ringan dan Jumlah Denda dalam KUHP.
Artikel ini dibuat oleh Muhammad Raihan Nugraha. SH, dipublikasikan “..Hukumonline.com..” dengan judul Hukumnya Menuduh Menjual Makanan Berbahaya, pada tanggal 09 Maret 2026. Dan diteruskan oleh ubklawyers pada tanggal 14 Maret 2026M/24 Ramadhan 1447H.
Seluruh Informasi Hukum yang ada di LBH-UMAR BIN KHATTAB disiapkan semata-mata untuk t͟͟͟u͟͟͟j͟͟͟u͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟ p͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, p͟e͟m͟b͟e͟l͟a͟j͟a͟r͟a͟n͟ dan b͟e͟r͟s͟i͟f͟a͟t͟ u͟m͟u͟m͟. Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan Pengacara, Konsultan Hukum dan/atau Paralegal UBK LAWYERS.
Sedang menghadapi permasalahan hukum? A͟j͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟t͟a͟n͟y͟a͟a͟n͟ melalui email, telepon atau chat.👇🏼
Email:
ubklawyer@gmail.com
Telepon/Chat:
089666552118
Berkenan G͟a͟b͟u͟n͟g͟ G͟r͟o͟u͟p͟, untuk jadi bagian Keluarga Besar UBK LAWYERS. Klik link dibawah.👇🏼
I͟K͟U͟T͟I͟ W͟h͟a͟t͟s͟A͟p͟p͟ C͟h͟a͟n͟n͟e͟l͟ LBH-UMAR BIN KHATTAB. Untuk memperkaya Riset Hukum Anda, klik link dibawah.👇🏼
🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸
#cerdashukum
#studylawtogether
#ubklawyers

