INDRAMAYU, (lintaspanturaindonesia.com) — PERTANYAAN:
Belakangan ini, media sosial dihebohkan dengan munculnya kasus kekerasan seksual yang terjadi di Pesantren Pati. Menurut berita yang beredar, perbuatan pencabulan dan perkosaan dilakukan oleh pengasuh dan oknum kyai pesantren tersebut. Pelaku melakukan perbuatannya dengan mencekoki santriwati dengan doktrin yang menyesatkan. Sampai saat ini, terdapat puluhan santriwati yang menjadi korban. Mengingat banyaknya korban dan mayoritas korban adalah anak-anak, apa sanksi yang dapat dikenakan kepada kiai tersebut? Atas penjelasannya diucapkan terimakasih, untuk ubklawyers beserta Paralegalnya semoga dimudahkan urusan dan rezekinya. Aamiin..
Wassalam,
Rappi Daponk – Jambak City
•••••••••••••••••••••••••••••••••••
“INTISARI JAWABAN”
【ℌ𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔓𝔦𝔡𝔞𝔫𝔞】
𝔎𝔶𝔞𝔦 𝔪𝔢𝔯𝔲𝔭𝔞𝔨𝔞𝔫 𝔰𝔞𝔩𝔞𝔥 𝔰𝔞𝔱𝔲 𝔲𝔫𝔰𝔲𝔯 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔥𝔞𝔯𝔲𝔰 𝔡𝔦𝔭𝔢𝔫𝔲𝔥𝔦 𝔬𝔩𝔢𝔥 𝔭𝔢𝔰𝔞𝔫𝔱𝔯𝔢𝔫. 𝔎𝔶𝔞𝔦 𝔞𝔡𝔞𝔩𝔞𝔥 𝔰𝔢𝔬𝔯𝔞𝔫𝔤 𝔭𝔢𝔫𝔡𝔦𝔡𝔦𝔨 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔪𝔢𝔪𝔦𝔩𝔦𝔨𝔦 𝔨𝔬𝔪𝔭𝔢𝔱𝔢𝔫𝔰𝔦 𝔦𝔩𝔪𝔲 𝔞𝔤𝔞𝔪𝔞 ℑ𝔰𝔩𝔞𝔪 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔟𝔢𝔯𝔭𝔢𝔯𝔞𝔫 𝔰𝔢𝔟𝔞𝔤𝔞𝔦 𝔣𝔦𝔤𝔲𝔯, 𝔱𝔢𝔩𝔞𝔡𝔞𝔫, 𝔡𝔞𝔫/𝔞𝔱𝔞𝔲 𝔭𝔢𝔫𝔤𝔞𝔰𝔲𝔥 𝔭𝔢𝔰𝔞𝔫𝔱𝔯𝔢𝔫.
𝔓𝔢𝔯𝔟𝔲𝔞𝔱𝔞𝔫 𝔨𝔢𝔨𝔢𝔯𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔰𝔢𝔨𝔰𝔲𝔞𝔩 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔡𝔦𝔩𝔞𝔨𝔲𝔨𝔞𝔫 𝔬𝔩𝔢𝔥 𝔨𝔶𝔞𝔦 𝔱𝔢𝔯𝔥𝔞𝔡𝔞𝔭 𝔰𝔞𝔫𝔱𝔯𝔦𝔴𝔞𝔱𝔦 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔡𝔦𝔧𝔢𝔯𝔞𝔱 𝔟𝔢𝔯𝔡𝔞𝔰𝔞𝔯𝔨𝔞𝔫 𝔟𝔢𝔟𝔢𝔯𝔞𝔭𝔞 𝔭𝔞𝔰𝔞𝔩 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔱𝔢𝔯𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔡𝔞𝔩𝔞𝔪 𝔘𝔘 1/2023, 𝔘𝔘 𝔗𝔓𝔎𝔖 𝔰𝔢𝔯𝔱𝔞 𝔘𝔘 𝔓𝔢𝔯𝔩𝔦𝔫𝔡𝔲𝔫𝔤𝔞𝔫 𝔄𝔫𝔞𝔨 𝔡𝔞𝔫 𝔭𝔢𝔯𝔲𝔟𝔞𝔥𝔞𝔫𝔫𝔶𝔞. 𝔐𝔢𝔩𝔦𝔥𝔞𝔱 𝔰𝔱𝔞𝔱𝔲𝔰 𝔨𝔶𝔞𝔦 𝔰𝔢𝔟𝔞𝔤𝔞𝔦 𝔰𝔢𝔬𝔯𝔞𝔫𝔤 𝔭𝔢𝔫𝔡𝔦𝔡𝔦𝔨/𝔱𝔢𝔫𝔞𝔤𝔞 𝔨𝔢𝔭𝔢𝔫𝔡𝔦𝔡𝔦𝔨𝔞𝔫/𝔭𝔢𝔫𝔤𝔞𝔰𝔲𝔥 𝔡𝔞𝔫 𝔨𝔬𝔯𝔟𝔞𝔫 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔟𝔢𝔯𝔰𝔱𝔞𝔱𝔲𝔰 𝔰𝔢𝔟𝔞𝔤𝔞𝔦 𝔞𝔫𝔞𝔨, 𝔱𝔢𝔯𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔭𝔢𝔪𝔟𝔢𝔯𝔞𝔱𝔞𝔫 𝔞𝔱𝔞𝔲 𝔱𝔞𝔪𝔟𝔞𝔥𝔞𝔫 𝔱𝔢𝔯𝔥𝔞𝔡𝔞𝔭 𝔰𝔞𝔫𝔨𝔰𝔦 𝔭𝔦𝔡𝔞𝔫𝔞𝔫𝔶𝔞.
𝔓𝔢𝔫𝔧𝔢𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔩𝔢𝔟𝔦𝔥 𝔩𝔞𝔫𝔧𝔲𝔱 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔄𝔫𝔡𝔞 𝔟𝔞𝔠𝔞 𝔲𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔡𝔦 𝔟𝔞𝔴𝔞𝔥 𝔦𝔫𝔦.
ULASAN SELENGKAPNYA;
Terimakasih atas pertanyaan Anda.
Artikel ini dibuat berdasarkan KUHP lama dan UU 1/2023 tentang KUHP yang diundangkan pada tanggal 2 Januari 2023.
Sebelumnya, kami turut bersimpati terhadap korban dugaan pelecehan seksual tersebut. “Semoga korban diberikan kekuatan, perlindungan, dan pendampingan yang layak dalam menghadapi proses ini, serta memperoleh keadilan sesuai ketentuan hukum yang berlaku”.
Kyai sebagai Unsur Pesantren
Perlu diketahui bahwa sistem hukum Indonesia memiliki undang-undang yang khusus mengatur mengenai pesantren, yaitu UU Pesantren. Menurut Pasal 1 angka 1 UU Pesantren, pondok pesantren, dayah, surau, meunasah atau p͟e͟s͟a͟n͟t͟r͟e͟n͟ adalah l͟e͟m͟b͟a͟g͟a͟ y͟a͟n͟g͟ b͟e͟r͟b͟a͟s͟i͟s͟ m͟a͟s͟y͟a͟r͟a͟k͟a͟t͟ d͟a͟n͟ d͟i͟d͟i͟r͟i͟k͟a͟n͟ o͟l͟e͟h͟ p͟͟e͟͟r͟͟s͟͟e͟͟o͟͟r͟͟a͟͟n͟͟g͟͟a͟͟n͟͟, y͟͟a͟͟y͟͟a͟͟s͟͟a͟͟n͟͟, o͟͟͟r͟͟͟g͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟i͟͟͟s͟͟͟a͟͟͟s͟͟͟i͟͟͟ m͟a͟s͟y͟a͟r͟a͟k͟a͟t͟ I͟͟s͟͟l͟͟a͟͟m͟͟, d͟͟a͟͟n͟͟/a͟t͟a͟u͟ m͟a͟s͟y͟a͟r͟a͟k͟a͟t͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟a͟n͟a͟m͟k͟a͟n͟ k͟e͟i͟m͟a͟n͟a͟n͟ d͟a͟n͟ k͟e͟t͟a͟k͟w͟a͟a͟n͟ k͟͟e͟͟p͟͟a͟͟d͟͟a͟͟ A͟l͟l͟a͟h͟ S͟͟W͟͟T͟͟. M͟e͟n͟y͟e͟m͟a͟i͟k͟a͟n͟ a͟k͟h͟l͟a͟k͟ m͟u͟l͟i͟a͟ s͟e͟r͟t͟a͟ m͟e͟m͟e͟g͟a͟n͟g͟ t͟e͟g͟u͟h͟ a͟j͟a͟r͟a͟n͟ I͟s͟l͟a͟m͟ r͟a͟h͟m͟a͟t͟a͟n͟ l͟i͟l͟’a͟l͟a͟m͟i͟n͟ y͟a͟n͟g͟ t͟e͟r͟c͟e͟r͟m͟i͟n͟ d͟a͟r͟i͟ s͟i͟f͟a͟t͟ r͟e͟n͟d͟a͟h͟ h͟͟a͟͟t͟͟i͟͟, t͟͟o͟͟l͟͟e͟͟r͟͟a͟͟n͟͟, k͟͟e͟͟s͟͟e͟͟i͟͟m͟͟b͟͟a͟͟n͟͟g͟͟a͟͟n͟͟, m͟͟o͟͟d͟͟e͟͟r͟͟a͟͟t͟͟, d͟a͟n͟ n͟i͟l͟a͟i͟ l͟u͟h͟u͟r͟ b͟a͟n͟g͟s͟a͟ I͟n͟d͟o͟n͟e͟s͟i͟a͟ l͟a͟i͟n͟n͟y͟a͟ m͟e͟l͟a͟l͟u͟i͟ p͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, d͟a͟k͟w͟a͟h͟ I͟͟s͟͟l͟͟a͟͟m͟͟, k͟͟e͟͟t͟͟e͟͟l͟͟a͟͟d͟͟a͟͟n͟͟a͟͟n͟͟, d͟a͟n͟ p͟e͟m͟b͟e͟r͟d͟a͟y͟a͟a͟n͟ m͟a͟s͟y͟a͟r͟a͟k͟a͟t͟ d͟a͟l͟a͟m͟ k͟e͟r͟a͟n͟g͟k͟a͟ N͟e͟g͟a͟r͟a͟ K͟e͟s͟a͟t͟u͟a͟n͟ R͟e͟p͟u͟b͟l͟i͟k͟ I͟͟n͟͟d͟͟o͟͟n͟͟e͟͟s͟͟i͟͟a͟͟.
Pesantren terdiri atas:[¹]
a. pesantren yang
menyelenggarakan
pendidikan dalam
bentuk pengkajian
kitab kuning;
b. pesantren yang
menyelenggarakan
pendidikan dalam
bentuk dirasah
islamiah dengan
pola pendidikan
muallimin; atau
c. pesantren yang
menyelenggarakan
pendidikan dalam
bentuk lainnya yang
terintegrasi dengan
pendidikan umum.
Kemudian, pesantren memiliki beberapa unsur yang harus dipenuhi, yaitu paling sedikit:[²]
a. kyai;
b. santri yang
bermukim di
pesantren;
c. pondok atau
asrama;
d. masjid atau
musalah; dan
e. kajian Kitab Kuning
atau Dirasah
Islamiah dengan
Pola Pendidikan
Muallimin.
Berdasarkan ketentuan di atas, kiai merupakan salah satu unsur pesantren yang harus dipenuhi. Menurut Pasal 1 angka 9 UU Pesantren, k͟y͟a͟i͟ adalah s͟e͟o͟r͟a͟n͟g͟ p͟e͟n͟d͟i͟d͟i͟k͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟m͟i͟l͟i͟k͟i͟ k͟o͟m͟p͟e͟t͟i͟s͟i͟ i͟l͟m͟u͟ a͟g͟a͟m͟a͟ I͟s͟l͟a͟m͟ y͟a͟n͟g͟ b͟e͟r͟p͟e͟r͟a͟n͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ f͟͟i͟͟g͟͟u͟͟r͟͟, t͟͟e͟͟l͟͟a͟͟d͟͟a͟͟n͟͟, d͟͟a͟͟n͟͟/a͟t͟a͟u͟ p͟e͟n͟g͟a͟s͟u͟h͟ p͟͟e͟͟s͟͟a͟͟n͟͟t͟͟r͟͟e͟͟n͟͟.
Dalam penyelenggaraan pesantren, kyai harus:[³]
a. berpendidikan
pesantren;
b. berpendidikan
tinggi keagamaan
Islam; dan/atau
c. memiliki
kompetensi ilmu
agama Islam.
Kyai dalam penyelenggaraan pesantren merupakan pemimpin tertinggi pesantren yang menjadi p͟͟e͟͟n͟͟g͟͟a͟͟s͟͟u͟͟h͟͟, f͟͟i͟͟g͟͟u͟͟r͟͟, d͟a͟n͟ t͟e͟l͟a͟d͟a͟n͟ d͟a͟l͟a͟m͟ p͟e͟n͟y͟e͟l͟e͟n͟g͟g͟a͟r͟a͟a͟n͟ p͟e͟s͟a͟n͟t͟r͟e͟n͟.[⁴]
Apabila kyai sebagai pimpinan pesantren melakukan pelecehan seksual atau kekerasan seksual terhadap santriwati, maka t͟e͟r͟d͟a͟p͟a͟t͟ b͟e͟b͟e͟r͟a͟p͟a͟ k͟e͟t͟e͟n͟t͟u͟a͟n͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ y͟a͟n͟g͟ d͟a͟p͟a͟t͟ m͟͟e͟͟n͟͟j͟͟e͟͟r͟͟a͟͟t͟͟n͟͟y͟͟a͟͟. Berikut ulasannya.
Tindak Pidana Kekerasan Seksual Terhadap Anak
Perbuatan pelecehan seperti pencabulan atau perkosaan yang diduga dilakukan oleh kyai tersebut termasuk dalam ranah tindak pidana kekerasan seksual (“TPKS”).
Berdasarkan Pasal 1 angka 1 UU TPKS, yang dimaksud dengan T͟P͟K͟S͟ adalah s͟e͟g͟a͟l͟a͟ p͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟m͟e͟n͟u͟h͟i͟ u͟n͟s͟u͟r͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ sebagaimana diatur dalam undang-undang ini dan perbuatan seksual lainnya sebagaimana diatur dalam undang-undang sepanjang ditentukan dalam undang-undang ini.
Adapun yang dimaksud dengan k͟o͟r͟b͟a͟n͟ adalah o͟r͟a͟n͟g͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟g͟a͟l͟a͟m͟i͟ p͟e͟n͟d͟e͟r͟i͟t͟a͟a͟n͟ f͟͟i͟͟s͟͟i͟͟k͟͟, m͟͟e͟͟n͟͟t͟͟a͟͟l͟͟, k͟e͟r͟u͟g͟i͟a͟n͟ e͟͟k͟͟o͟͟n͟͟o͟͟m͟͟i͟͟, d͟͟a͟͟n͟͟/a͟t͟a͟u͟ k͟e͟r͟u͟g͟i͟a͟n͟ s͟o͟s͟i͟a͟l͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟a͟k͟i͟b͟a͟t͟k͟a͟n͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ k͟e͟k͟e͟r͟a͟s͟a͟n͟ s͟͟͟e͟͟͟k͟͟͟s͟͟͟u͟͟͟a͟͟͟l͟͟͟.[⁵] Sedangkan a͟n͟a͟k͟ adalah s͟e͟s͟e͟o͟r͟a͟n͟g͟ y͟a͟n͟g͟ b͟e͟l͟u͟m͟ b͟e͟r͟u͟s͟i͟a͟ 18 t͟͟a͟͟h͟͟u͟͟n͟͟, t͟e͟r͟m͟a͟s͟u͟k͟ a͟n͟a͟k͟ y͟a͟n͟g͟ m͟a͟s͟i͟h͟ d͟a͟l͟a͟m͟ k͟͟a͟͟n͟͟d͟͟u͟͟n͟͟g͟͟a͟͟n͟͟.[⁶]
Tindak pidana kekerasan seksual berdasarkan ketentuan Pasal 4 ayat (1) UU TPKS terdiri atas:
a. pelecehan seksual
nonfisik;
b. pelecehan
seksual fisik;
c. pemaksaan
kontrasepsi;
d. pemaksaan
sterilisasi;
e. pemaksaan
perkawinan;
f. penyiksaan seksual;
g. eksploitasi seksual;
h. perbudakan
seksual; dan
i. Kekerasan seksual
berbasis elektronik.
Selain jenis tindak pidana kekerasan seksual yang diatur dalam ketentuan Pasal 4 ayat (1) UU TPKS, terdapat juga tindak pidana kekerasan seksual lainnya. Contohnya perkosaan, persetubuhan terhadap anak, perbuatan cabul terhadap anak, dan/atau eksploitasi seksual terhadap anak.[⁷]
Tindakan persetubuhan dengan anak dikenal juga sebagai statutory rape. Artinya, w͟a͟l͟a͟u͟p͟u͟n͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟a͟n͟ k͟e͟k͟e͟r͟a͟s͟a͟n͟ s͟e͟k͟s͟u͟a͟l͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ o͟r͟a͟n͟g͟ d͟e͟w͟a͟s͟a͟ t͟i͟d͟a͟k͟ m͟e͟n͟g͟g͟u͟n͟a͟k͟a͟n͟ k͟e͟k͟e͟r͟a͟s͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ m͟͟e͟͟m͟͟a͟͟k͟͟s͟͟a͟͟, s͟e͟c͟a͟r͟a͟ h͟u͟k͟u͟m͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟a͟n͟-t͟i͟n͟d͟a͟k͟a͟n͟ t͟e͟r͟s͟e͟b͟u͟t͟ m͟a͟s͟u͟k͟ d͟a͟l͟a͟m͟ k͟a͟t͟e͟g͟o͟r͟i͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ p͟e͟r͟k͟o͟s͟a͟a͟n͟ t͟e͟r͟h͟a͟d͟a͟p͟ a͟͟n͟͟a͟͟k͟͟.[⁸]
Lantas, apa sanksi hukum yang dapat dikenakan terhadap kyai yang lecehkan santriwati?
Jerat Pidana Pelecehan Seksual dalam UU TPKS
Menurut hemat kami, perbuatan yang dilakukan oleh kyai terhadap santriwati dapat dianggap sebagai pelecehan seksual fisik Hal tersebut sebagaimana diatur dalam Pasal 6 ayat (3) UU TPKS jo. Pasal II ayat (5) huruf g UU 1/2026, yang berbunyi:
- Setiap orang yang m͟e͟n͟y͟a͟l͟a͟h͟g͟u͟n͟a͟k͟a͟n͟ k͟͟e͟͟d͟͟u͟͟d͟͟u͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, w͟͟e͟͟w͟͟e͟͟n͟͟a͟͟n͟͟g͟͟, k͟͟e͟͟p͟͟e͟͟r͟͟c͟͟a͟͟y͟͟a͟͟a͟͟n͟͟, a͟t͟a͟u͟ p͟e͟r͟b͟a͟w͟a͟ y͟a͟n͟g͟ t͟i͟m͟b͟u͟l͟ d͟a͟r͟i͟ t͟i͟p͟u͟ m͟u͟s͟l͟i͟h͟a͟t͟ a͟t͟a͟u͟ h͟u͟b͟u͟n͟g͟a͟n͟ k͟e͟a͟d͟a͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ m͟e͟m͟a͟n͟f͟a͟a͟t͟k͟a͟n͟ k͟͟e͟͟r͟͟e͟͟n͟͟t͟͟a͟͟n͟͟a͟͟n͟͟, k͟e͟t͟i͟d͟a͟k͟s͟e͟t͟a͟r͟a͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ k͟e͟t͟e͟r͟g͟a͟n͟t͟u͟n͟g͟a͟n͟ s͟͟e͟͟s͟͟e͟͟o͟͟r͟͟a͟͟n͟͟g͟͟, m͟e͟m͟a͟k͟s͟a͟ a͟t͟a͟u͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ p͟e͟n͟y͟e͟s͟a͟t͟a͟n͟ m͟e͟n͟g͟g͟e͟r͟a͟k͟k͟a͟n͟ o͟r͟a͟n͟g͟ i͟t͟u͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ m͟e͟m͟b͟i͟a͟r͟k͟a͟n͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ persetubuhan atau perbuatan cabul dengannya atau dengan orang lain, dipidana dengan pidana penjara paling lama 12 tahun dan/atau pidana denda paling banyak kategori VII, yaitu Rp5 miliar.[⁹]
Mengingat terduga pelaku adalah k͟y͟a͟i͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟r͟u͟p͟a͟k͟a͟n͟ s͟e͟o͟r͟a͟n͟g͟ p͟e͟n͟d͟i͟d͟i͟k͟ d͟a͟n͟ k͟o͟r͟b͟a͟n͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ a͟͟n͟͟a͟͟k͟͟, maka sanksi pidana ditambah 1/3 karena:[¹⁰]
a. pelecehan seksual
fisik dilakukan oleh
pendidik atau
tenaga
kependidikan,
atau tenaga
profesional lain
yang mendapatkan
mandat untuk
melakukan
penanganan,
pelindungan, dan
pemulihan; dan
b. pelecehan seksual
fisik dilakukan
terhadap anak.
Jerat Pidana Pelecehan Seksual dalam KUHP dan UU 1/2023
Selain UU TPKS, terdapat juga sanksi pidana lain yang dapat menjerat pelaku berdasarkan hukum pidana. Dalam hal ini, kami akan merujuk pada UU 1/2023 tentang KUHP baru yang berlaku sejak 2 Januari 2026.[¹¹] Namun, untuk memperkaya pengetahuan Anda, kami akan membandingkan ketentuannya dengan ~KUHP lama~ yang sudah tidak berlaku.
Pertama, mengenai perbuatan pencabulan, pelaku yang merupakan pendidik/tenaga kependidikan/pengasuh dapat dikenai sanksi berdasarkan pasal berikut:
Pasal 418 UU 1/2023
- Setiap orang yang melakukan percabulan dengan anak kandung, anak angkatnya, atau anak di bawah pengawasannya yang dipercayakan padanya untuk diasuh atau didik, dipidana dengan pidana penjara paling lama 12 tahun.
- Dipidana dengan pidana penjara paling lama 12 tahun:[¹²]
a. Pejabat yang
melakukan
percabulan dengan
bawahannya atau
dengan orang yang
dipercayakan atau
diserahkan padanya
untuk dijaga; atau
b. dokter, guru,
pegawai,
pengurus, atau
petugas pada
lembaga
pemasyarakatan,
lembaga negara,
tempat latihan
karya, rumah
pendidikan,
rumah yatim dan
atau piatu, rumah
sakit jiwa, atau panti
sosial yang
melakukan
perbuatan cabul
dengan orang yang
dimasukkan ke
lembaga, rumah,
atau panti tersebut.
~Pasal 294 KUHP lama~
- Barang siapa yang melakukan perbuatan cabul dengan anaknya, anak tirinya, anak angkatnya, anak di bawah pengawasannya yang belum dewasa, atau dengan orang yang belum dewasa yang pemeliharaannya, pendidikan atau penjagaannya diserahkan kepadanya ataupun dengan bujangnya atau bawahannya yang belum dewasa, diancam dengan penjara paling lama 7 tahun.
- Diancam dengan pidana yang sama:
- pejabat yang melakukan perbuatan cabul dengan orang yang karena jabatan adalah bawahannya, atau dengan orang yang penjagaannya dipercayakan atau diserahkan kepadanya,
- pengurus, dokter, guru, pegawai, pengawas atau pesuruh dalam penjara, tempat pekerjaan negara, tempat pendidikan, rumah piatu, rumah sakit, rumah sakit jiwa atau lembaga sosial, yang melakukan perbuatan cabul dengan orang yang dimasukkan ke dalamnya.
Adapun yang dimaksud dengan perbuatan c͟a͟b͟u͟l͟ adalah k͟o͟n͟t͟a͟k͟ s͟e͟k͟s͟u͟a͟l͟ y͟a͟n͟g͟ b͟e͟r͟k͟a͟i͟t͟a͟n͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ n͟a͟f͟s͟u͟ b͟͟i͟͟r͟͟a͟͟h͟͟i͟͟, k͟e͟c͟u͟a͟l͟i͟ p͟͟e͟͟r͟͟k͟͟o͟͟s͟͟a͟͟a͟͟n͟͟.[¹³]
Kedua, mengenai perbuatan perkosaan, pelaku dapat dipidana berdasarkan pasal berikut:
Pasal VII angka 44 UU 1/2026 yang mengubah Pasal 473 ayat (1) UU 1/2023
- Setiap Orang yang d͟e͟n͟g͟a͟n͟ K͟e͟k͟e͟r͟a͟s͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ A͟n͟c͟a͟m͟a͟n͟ K͟e͟k͟e͟r͟a͟s͟a͟n͟ m͟e͟m͟a͟k͟s͟a͟ s͟e͟s͟e͟o͟r͟a͟n͟g͟ b͟e͟r͟s͟e͟t͟u͟b͟u͟h͟ d͟͟e͟͟n͟͟g͟͟a͟͟n͟͟n͟͟y͟͟a͟͟, dipidana karena melakukan perkosaan, dengan pidana penjara paling lama 12 tahun.
~Pasal 285 KUHP lama~
- Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang wanita bersetubuh dengan dia di luar perkawinan, diancam karena melakukan perkosaan dengan pidana penjara paling alam 12 tahun.
Sebagai informasi, terdapat perluasan perbuatan yang dikategorikan sebagai perkosaan, yaitu:
Pasal VII angka 44 UU 1/2026 yang mengubah Pasal 473 ayat (2) UU 1/2023
- Termasuk Tindak Pidana perkosaan dan dipidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi perbuatan (salah satunya) persetubuhan dengan Anak;
Pasal VII angka 44 UU 1/2026 yang mengubah Pasal 473 ayat (3) UU 1/2023
- Dianggap juga melakukan Tindak Pidana perkosaan, jika dalam keadaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dengan cara:
a. memasukkan alat
kelamin ke dalam
anus atau mulut
orang lain;
b. memasukkan alat
kelamin orang lain
ke dalam anus atau
mulutnya sendiri;
atau
c. memasukkan
bagian tubuhnya
yang bukan alat
kelamin atau suatu
benda ke dalam alat
kelamin atau anus
orang lain.
Karena korban adalah seorang anak, perlu ditinjau ketentuan Pasal VII angka 44 UU 1/2026 yang mengubah Pasal 473 ayat (4) UU 1/2023 yang menyatakan bahwa tindak pidana perkosaan/persetubuhan yang dilakukan terhadap anak dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 tahun atau pidana denda paling banyak kategori VII, yaitu Rp5 miliar.[¹⁴]
Jerat Pidana Pelecehan Seksual dalam UU Perlindungan Anak
Selain itu, terdapat juga sanksi pidana yang termuat dalam UU Perlindungan Anak dan perubahannya. Berdasarkan Pasal 76D UU 35/2014, setiap orang dilarang melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan untuk memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain.
Ketentuan pidana ini berlaku pula bagi setiap orang yang dengan sengaja melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain.[¹⁵]
Secara historis, sanksi pidana dari dilanggarnya ketentuan di atas sebelum berlakunya UU 1/2023 mengacu pada Pasal 81 ayat (1) Perppu 1/2016. Akan tetapi, saat ini terdapat ketentuan Pasal VII angka 55 UU 1/2026 yang mengubah Pasal 622 ayat (1) huruf n dan ayat (6) huruf a UU 1/2023. Pasal tersebut m͟e͟n͟c͟a͟b͟u͟t͟ k͟e͟t͟e͟n͟t͟u͟a͟n͟ P͟a͟s͟a͟l͟ 81 a͟y͟a͟t͟ (1) P͟e͟r͟p͟p͟u͟ 1/2016 dan kini pengacuan sanksi pidananya diganti dengan Pasal 473 ayat (4) UU 1/2023 sebagaimana kami jelaskan.
Walaupun demikian, ketentuan Pasal 81 ayat (3) Perppu 1/2016 tetap mengatur bahwa p͟e͟r͟k͟o͟s͟a͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ o͟l͟e͟h͟ p͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟/t͟e͟n͟a͟g͟a͟ k͟͟e͟͟p͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟/p͟e͟n͟g͟a͟s͟u͟h͟ s͟e͟p͟e͟r͟t͟i͟ k͟͟y͟͟a͟͟i͟͟, p͟i͟d͟a͟n͟a͟n͟y͟a͟ d͟i͟t͟a͟m͟b͟a͟h͟ 1/3. Selain itu, m͟e͟n͟g͟i͟n͟g͟a͟t͟ k͟o͟r͟b͟a͟n͟ b͟e͟r͟j͟u͟m͟l͟a͟h͟ l͟e͟b͟i͟h͟ d͟a͟r͟i͟ 1 o͟͟r͟͟a͟͟n͟͟g͟͟, pelaku berpotensi dipidana mati, seumur hidup, atau pidana penjara paling singkat 10 tahun dan paling lama 20 tahun.[¹⁶]
Selain pidana pokok, pelaku dapat juga dikenai tindakan berupa kebiri kimia dan pemasangan chip/alat pendeteksi elektronik.[¹⁷]
Terhadap keberadaan pasal-pasal dalam UU TPKS, UU 1/2023, serta UU Perlindungan Anak dan perubahannya, dapat diterapkan doktrin lex specialis derogat legi generali, yang artinya h͟u͟k͟u͟m͟ k͟h͟u͟s͟u͟s͟ m͟e͟n͟y͟a͟m͟p͟i͟n͟g͟k͟a͟n͟ h͟u͟k͟u͟m͟ u͟͟͟m͟͟͟u͟͟͟m͟͟͟.[¹⁸] Dalam kasus hukum pidana, terdapat tindak pidana umum yang diatur dalam KUHP dan tindak pidana khusus yang pengaturan hukumnya berada di luar KUHP. Menindaklanjuti kasus hukum yang Anda tanyakan, tindak pidana khusus, contohnya pelecehan seksual terhadap anak, diatur dalam UU Perlindungan Anak dan perubahannya.
Pada kasus ini, UU Perlindungan Anak dan perubahannya memiliki karakteristik unsur yang lebih spesifik dibandingkan UU TPKS dan UU 1/2023. Walau demikian, dalam praktiknya, p͟e͟n͟y͟i͟d͟i͟k͟ d͟a͟p͟a͟t͟ m͟e͟n͟g͟e͟n͟a͟k͟a͟n͟ p͟a͟s͟a͟l͟ b͟e͟r͟l͟a͟p͟i͟s͟ t͟e͟r͟h͟a͟d͟a͟p͟ s͟u͟a͟t͟u͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟m͟e͟n͟u͟h͟i͟ u͟n͟s͟u͟r͟-u͟n͟s͟u͟r͟ p͟e͟l͟e͟c͟e͟h͟a͟n͟ s͟e͟k͟s͟u͟a͟l͟ f͟i͟s͟i͟k͟ sebagaimana diatur dalam UU TPKS, UU 1/2023, serta UU Perlindungan Anak dan perubahannya. Artinya, j͟i͟k͟a͟ u͟n͟s͟u͟r͟-u͟n͟s͟u͟r͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟n͟y͟a͟ t͟͟e͟͟r͟͟p͟͟e͟͟n͟͟u͟͟h͟͟i͟͟, p͟e͟n͟y͟i͟d͟i͟k͟ d͟a͟p͟a͟t͟ m͟e͟n͟g͟g͟u͟n͟a͟k͟a͟n͟ p͟a͟s͟a͟l͟-p͟a͟s͟a͟l͟ t͟͟e͟͟r͟͟s͟͟e͟͟b͟͟u͟͟t͟͟.
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat dan dapat dijadikan pembelajaran untuk kita semua terlebih untuk penanya dan Paralegal ubklawyers pada khususnya.
D͟a͟s͟a͟r͟ H͟u͟k͟u͟m͟:
- Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak;
- Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak;
- Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak;
- Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Menjadi Undang-Undang;
- Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren;
- Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual;
- Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana;
- Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana.
Artikel ini adalah pemutakhiran dari artikel dengan judul Guru Melecehkan Siswa, Ini Deretan Jerat Pasalnya, yang pertama kali dipublikasikan pada 02 Oktober 2024. Dipublikasikan kedua oleh “..Hukumonline.com..” dengan judul Jerat Hukum Kiai yang Melecehkan Santriwati di Pondok Pesantren, pada tanggal 08 Mei 2026. Dan diteruskan oleh ubklawyers pada tanggal 12 Mei 2026M/25 Dzulqa’idah 1447H.
Seluruh Informasi Hukum yang ada di LBH-UMAR BIN KHATTAB disiapkan semata-mata untuk t͟͟͟u͟͟͟j͟͟͟u͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟ p͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, p͟e͟m͟b͟e͟l͟a͟j͟a͟r͟a͟n͟ dan b͟e͟r͟s͟i͟f͟a͟t͟ u͟m͟u͟m͟. Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan Pengacara, Konsultan Hukum dan/atau Paralegal UBK LAWYERS.
Sedang menghadapi permasalahan hukum? A͟j͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟t͟a͟n͟y͟a͟a͟n͟ melalui email, telepon atau chat.👇🏼
Email:
ubklawyer@gmail.com
Telepon/Chat:
089666552118
Berkenan G͟a͟b͟u͟n͟g͟ G͟r͟o͟u͟p͟, untuk jadi bagian Keluarga Besar UBK LAWYERS. Klik link dibawah.👇🏼
I͟K͟U͟T͟I͟ W͟h͟a͟t͟s͟A͟p͟p͟ C͟h͟a͟n͟n͟e͟l͟ LBH-UMAR BIN KHATTAB. Untuk memperkaya Riset Hukum Anda, klik link dibawah.👇🏼
🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸
#cerdashukum
#studylawtogether
#ubklawyers

