INDRAMAYU, (lintaspanturaindonesia.com — PERTANYAAN:
A melaporkan B ke kantor Polisi Resort Kota, yaitu tentang B yang dituduh telah melakukan penipuan/penggelapan. Setelah penyelidik Kepolisian Resort Kota melakukan pemeriksaan, ternyata B tidak terbukti melakukan tindak pidana penipuan/penggelapan, dengan akhir kata kedua belah pihak sepakat menyelesaikan secara damai dengan surat perjanjian damai.
Jika kemudian A merasa dirugikan dengan surat perjanjian damai tersebut, lalu A melaporkan kembali kasus yang sama ke kantor Polsek dengan menggunakan bantuan pengacara, apa upaya hukum yang dapat dilakukan B?
Atas penjelasannya diucapkan terimakasih, untuk ubklawyers beserta Paralegalnya semoga semakin sukses dalam menjalankan profesinya. Aamiin..
Wassalam..
Menyenk Sunjaya – Jambak. II
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
“INTISARI JAWABAN”
【ℌ𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔓𝔦𝔡𝔞𝔫𝔞】
𝔇𝔞𝔩𝔞𝔪 𝔭𝔢𝔫𝔶𝔢𝔩𝔢𝔰𝔞𝔦𝔞𝔫 𝔰𝔲𝔞𝔱𝔲 𝔭𝔢𝔯𝔨𝔞𝔯𝔞 𝔭𝔦𝔡𝔞𝔫𝔞, 𝔰𝔞𝔞𝔱 𝔦𝔫𝔦 𝔡𝔦𝔨𝔢𝔫𝔞𝔩 𝔪𝔢𝔨𝔞𝔫𝔦𝔰𝔪𝔢 𝔨𝔢𝔞𝔡𝔦𝔩𝔞𝔫 𝔯𝔢𝔰𝔱𝔬𝔯𝔞𝔱𝔦𝔣. 𝔐𝔢𝔨𝔞𝔫𝔦𝔰𝔪𝔢 𝔦𝔫𝔦 𝔪𝔢𝔫𝔤𝔞𝔨𝔬𝔪𝔬𝔡𝔦𝔯 𝔨𝔢𝔰𝔢𝔭𝔞𝔨𝔞𝔱𝔞𝔫 𝔭𝔞𝔯𝔞 𝔭𝔦𝔥𝔞𝔨 𝔶𝔞𝔦𝔱𝔲 𝔭𝔢𝔩𝔞𝔨𝔲 𝔡𝔞𝔫 𝔨𝔬𝔯𝔟𝔞𝔫 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔞𝔨𝔞𝔫 𝔪𝔢𝔫𝔧𝔞𝔡𝔦 𝔡𝔞𝔰𝔞𝔯 𝔡𝔦𝔥𝔢𝔫𝔱𝔦𝔨𝔞𝔫𝔫𝔶𝔞 𝔰𝔲𝔞𝔱𝔲 𝔭𝔢𝔯𝔨𝔞𝔯𝔞.
𝔏𝔞𝔫𝔱𝔞𝔰, 𝔟𝔦𝔰𝔞𝔨𝔞𝔥 𝔰𝔲𝔞𝔱𝔲 𝔭𝔢𝔯𝔨𝔞𝔯𝔞 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔱𝔢𝔩𝔞𝔥 𝔡𝔦𝔥𝔢𝔫𝔱𝔦𝔨𝔞𝔫 𝔭𝔢𝔫𝔶𝔢𝔩𝔦𝔡𝔦𝔨𝔞𝔫𝔫𝔶𝔞 𝔪𝔢𝔩𝔞𝔩𝔲𝔦 𝔨𝔢𝔰𝔢𝔭𝔞𝔨𝔞𝔱𝔞𝔫 𝔡𝔞𝔪𝔞𝔦 𝔡𝔦𝔩𝔞𝔭𝔬𝔯𝔨𝔞𝔫 𝔩𝔞𝔤𝔦 𝔨𝔢 𝔨𝔞𝔫𝔱𝔬𝔯 𝔭𝔬𝔩𝔦𝔰𝔦 𝔩𝔞𝔦𝔫?
𝔓𝔢𝔫𝔧𝔢𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔩𝔢𝔟𝔦𝔥 𝔩𝔞𝔫𝔧𝔲𝔱 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔄𝔫𝔡𝔞 𝔟𝔞𝔠𝔞 𝔲𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔡𝔦 𝔟𝔞𝔴𝔞𝔥 𝔦𝔫𝔦.
ULASAN SELENGKAPNYA;
Terimakasih atas pertanyaan Anda.
Artikel ini dibuat berdasarkan KUHAP lama dan UU 20/2025 tentang KUHAP yang diundangkan pada tanggal 17 Desember 2025.
Penghentian Penyelidikan
Pada dasarnya, a͟n͟g͟g͟o͟t͟a͟ P͟o͟l͟r͟i͟ k͟h͟u͟s͟u͟s͟n͟y͟a͟ p͟e͟n͟y͟e͟l͟i͟d͟i͟k͟ b͟e͟r͟w͟e͟n͟a͟n͟g͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟n͟e͟r͟i͟m͟a͟ l͟a͟p͟o͟r͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ p͟e͟n͟g͟a͟d͟u͟a͟n͟ d͟a͟r͟i͟ s͟e͟s͟e͟o͟r͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟g͟e͟n͟a͟i͟ a͟d͟a͟n͟y͟a͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ b͟a͟i͟k͟ s͟e͟c͟a͟r͟a͟ t͟e͟r͟t͟u͟l͟i͟s͟ m͟a͟u͟p͟u͟n͟ m͟e͟l͟a͟l͟u͟i͟ m͟e͟d͟i͟a͟ t͟e͟l͟e͟k͟o͟m͟u͟n͟i͟k͟a͟s͟i͟ d͟͟a͟͟n͟͟/a͟t͟a͟u͟ m͟e͟d͟i͟a͟ e͟͟͟l͟͟͟e͟͟͟k͟͟͟t͟͟͟r͟͟͟o͟͟͟n͟͟͟i͟͟͟k͟͟͟.[¹] Begitu pula p͟e͟n͟y͟e͟l͟i͟d͟i͟k͟ j͟u͟g͟a͟ m͟e͟m͟p͟u͟n͟y͟a͟i͟ t͟u͟g͟a͟s͟ d͟a͟n͟ w͟e͟w͟e͟n͟a͟n͟g͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟n͟e͟r͟i͟m͟a͟ l͟a͟p͟o͟r͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ p͟e͟n͟g͟a͟d͟u͟a͟n͟ d͟a͟r͟i͟ s͟e͟s͟e͟o͟r͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟g͟e͟n͟a͟i͟ a͟d͟a͟n͟y͟a͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟͟i͟͟d͟͟a͟͟n͟͟a͟͟.[²]
Jika penyidik memutuskan suatu peristiwa merupakan suatu tindak pidana, maka penyidik menindaklanjuti peristiwa tersebut ke tahap penyidikan. Namun, a͟p͟a͟b͟i͟l͟a͟ p͟e͟n͟y͟i͟d͟i͟k͟ m͟e͟m͟u͟t͟u͟s͟k͟a͟n͟ s͟u͟a͟t͟u͟ p͟e͟r͟i͟s͟t͟i͟w͟a͟ b͟u͟k͟a͟n͟ m͟e͟r͟u͟p͟a͟k͟a͟n͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟͟i͟͟d͟͟a͟͟n͟͟a͟͟, m͟a͟k͟a͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟n͟g͟h͟e͟n͟t͟i͟a͟n͟ p͟͟e͟͟n͟͟y͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟.[³]
Mekanisme Keadilan Restoratif
Mengenai perjanjian perdamaian yang Anda maksud, kami asumsikan sebagai penyelesaian perkara melalui mekanisme keadilan restoratif. Ketentuan mengenai mekanisme keadilan restoratif ini telah diakomodir di dalam UU 20/2025 tentang KUHAP baru yang sudah berlaku sejak tanggal 2 Januari 2026.[⁴]
Hal ini berbeda dengan ~KUHAP lama yang saat ini telah dicabut dan dinyatakan tidak berlaku,~[⁵] dimana tidak diatur secara khusus. Dalam rezim hukum acara pidana sebelumnya, ketentuan mengenai keadilan restoratif merujuk pada beberapa peraturan internal institusi penegak hukum, seperti Perpol 8/2021 pada kepolisian, Perja 15/2020 pada kejaksaan, dan Perma 1/2024 pada Mahkamah Agung.
Menurut UU 20/2025, mekanisme keadilan restoratif dilakukan untuk memulihkan keadaan semula korban yang dilakukan pada tahap penyelidikan, penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan.[⁶]
Dalam Pasal 1 angka 21 UU 20/2025 diterangkan bahwa yang dimaksud dengan keadilan restoratif a͟d͟a͟l͟a͟h͟ p͟e͟n͟d͟e͟k͟a͟t͟a͟n͟ d͟a͟l͟a͟m͟ p͟e͟n͟a͟n͟g͟a͟n͟a͟n͟ p͟e͟r͟k͟a͟r͟a͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ m͟e͟l͟i͟b͟a͟t͟k͟a͟n͟ p͟a͟r͟a͟ p͟͟i͟͟h͟͟a͟͟k͟͟, b͟a͟i͟k͟ k͟͟o͟͟r͟͟b͟͟a͟͟n͟͟, k͟e͟l͟u͟a͟r͟g͟a͟ k͟͟o͟͟r͟͟b͟͟a͟͟n͟͟, t͟͟e͟͟r͟͟s͟͟a͟͟n͟͟g͟͟k͟͟a͟͟, k͟e͟l͟u͟a͟r͟g͟a͟ t͟͟e͟͟r͟͟s͟͟a͟͟n͟͟g͟͟k͟͟a͟͟, t͟͟e͟͟r͟͟d͟͟a͟͟k͟͟w͟͟a͟͟, k͟e͟l͟u͟a͟r͟g͟a͟ t͟͟e͟͟r͟͟d͟͟a͟͟k͟͟w͟͟a͟͟, d͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟/a͟͟t͟͟a͟͟u͟͟ p͟i͟h͟a͟k͟ l͟a͟i͟n͟ y͟a͟n͟g͟ t͟͟e͟͟r͟͟k͟͟a͟͟i͟͟t͟͟, y͟a͟n͟g͟ b͟e͟r͟t͟u͟j͟u͟a͟n͟ m͟e͟n͟g͟u͟p͟a͟y͟a͟k͟a͟n͟ p͟e͟m͟u͟l͟i͟h͟a͟n͟ k͟e͟a͟d͟a͟a͟n͟ s͟͟e͟͟m͟͟u͟͟l͟͟a͟͟.
Adapun mekanisme keadilan restoratif dapat dilakukan untuk memulihkan keadaan semula yang berupa:[⁷]
- pemaafan dari korban dan/atau keluarganya;
- pengembalian barang yang diperoleh dari tindak pidana kepada korban;
- penggantian biaya perawatan medis dan/atau psikologis;
- ganti rugi atas kerugian lain yang diderita korban sebagai akibat tindak pidana yang dialami korban;
- memperbaiki kerusakan yang ditimbulkan dari akibat tindak pidana yang dialami korban; atau
- membayar ganti rugi yang ditimbulkan dari akibat tindak pidana.
Pemulihan keadaan semula ini harus dituangkan dalam kesepakatan yang wajib dilaksanakan dalam jangka waktu paling lama 7 hari.[⁸] Pencabutan laporan atau pengaduan hanya dapat dilakukan setelah pelaku memenuhi seluruh kesepakatan.[⁹] S͟e͟t͟e͟l͟a͟h͟ s͟e͟l͟u͟r͟u͟h͟ k͟͟e͟͟s͟͟e͟͟p͟͟a͟͟k͟͟a͟͟t͟͟a͟͟n͟͟ t͟e͟r͟l͟a͟k͟s͟a͟n͟a͟ p͟e͟r͟k͟a͟r͟a͟ w͟a͟j͟i͟b͟ d͟i͟h͟e͟n͟t͟i͟k͟a͟n͟ d͟a͟n͟ d͟i͟m͟i͟n͟t͟a͟k͟a͟n͟ p͟e͟n͟e͟t͟a͟p͟a͟n͟ p͟͟͟e͟͟͟n͟͟͟g͟͟͟a͟͟͟d͟͟͟i͟͟͟l͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟.[¹⁰]
Menurut Pasal 80 ayat (1) UU 20/2025, mekanisme k͟e͟a͟d͟i͟l͟a͟n͟ r͟e͟s͟t͟o͟r͟a͟t͟i͟f͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟k͟e͟n͟a͟k͟a͟n͟ t͟e͟r͟h͟a͟d͟a͟p͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟m͟e͟n͟u͟h͟i͟ s͟y͟a͟r͟a͟t͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ b͟e͟r͟i͟k͟u͟t͟:
- tindak pidana diancam dengan pidana denda paling banyak kategori III, yaitu sebesar Rp50 juta,[¹¹] atau diancam dengan pidana penjara paling lama 5 tahun;
- tindak pidana yang pertama kali dilakukan; dan/atau
- bukan merupakan pengulangan tindak pidana, kecuali terhadap tindak pidana yang putusannya berupa pidana denda atau tindak pidana yang dilakukan karena kealpaan.
Dalam hal belum terdapat tindak pidana sebagaimana dimaksud di atas, berdasarkan laporan korban dilakukan mekanisme keadilan restoratif pada tahap penyelidikan berupa kesepakatan damai antara pelaku dan korban.[¹²]
Mekanisme keadilan restoratif dilakukan melalui:[¹³]
- permohonan yang diajukan oleh pelaku tindak pidana, tersangka, terdakwa, atau keluarganya, dan/atau korban tindak pidana atau keluarganya; atau
- penawaran dari penyelidik, penyidik, penuntut umum, atau kepada korban dan tersangka.
Mekanisme k͟e͟a͟d͟i͟l͟a͟n͟ r͟e͟s͟t͟o͟r͟a͟t͟i͟f͟ i͟n͟i͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ t͟a͟n͟p͟a͟ t͟͟e͟͟k͟͟a͟͟n͟͟a͟͟n͟͟, p͟͟a͟͟k͟͟s͟͟a͟͟a͟͟n͟͟, i͟͟n͟͟t͟͟i͟͟m͟͟i͟͟d͟͟a͟͟s͟͟i͟͟, t͟͟i͟͟p͟͟u͟͟ d͟a͟y͟a͟, a͟n͟c͟a͟m͟a͟n͟ k͟͟e͟͟k͟͟e͟͟r͟͟a͟͟s͟͟a͟͟n͟͟, k͟͟e͟͟k͟͟e͟͟r͟͟a͟͟s͟͟a͟͟n͟͟, p͟͟e͟͟n͟͟y͟͟i͟͟k͟͟s͟͟a͟͟a͟͟n͟͟, d͟a͟n͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟r͟e͟n͟d͟a͟h͟k͟a͟n͟ k͟e͟m͟a͟n͟u͟s͟i͟a͟a͟n͟ t͟e͟r͟h͟a͟d͟a͟p͟ t͟͟e͟͟r͟͟s͟͟a͟͟n͟͟g͟͟k͟͟a͟͟, t͟͟e͟͟r͟͟d͟͟a͟͟k͟͟w͟͟a͟͟, k͟͟o͟͟r͟͟b͟͟a͟͟n͟͟, d͟͟a͟͟n͟͟/a͟t͟a͟u͟ k͟͟e͟͟l͟͟u͟͟a͟͟r͟͟g͟͟a͟͟n͟͟y͟͟a͟͟.[¹⁴]
Keadilan Restoratif pada Tahap Penyelidikan
Dalam kasus Anda mekanisme keadilan restoratif terjadi pada tahap penyelidikan. Sebagaimana sudah disebutkan di atas, jika belum terdapat tindak pidana yang memenuhi syarat sebagaimana disebut di atas, laporan korban dilakukan mekanisme keadilan restoratif pada tahap penyelidikan berupa kesepakatan damai antara pelaku dan korban.
Lebih lanjut, soal keadilan restoratif pada tahap penyelidikan diatur dalam Pasal 83 ayat (1) UU 20/2025 yang berbunyi:
- Mekanisme keadilan restoratif pada tahap penyelidikan dan penyidikan dilakukan melalui kesepakatan untuk menyelesaikan perkara di hadapan penyelidik atau penyidik.
Kesepakatan sebagaimana dimaksud di pasal di atas, dibuktikan dengan s͟u͟r͟a͟t͟ k͟e͟s͟e͟p͟a͟k͟a͟t͟a͟n͟ p͟e͟n͟y͟e͟l͟e͟s͟a͟i͟a͟n͟ p͟e͟r͟k͟a͟r͟a͟ d͟a͟n͟ d͟i͟t͟a͟n͟d͟a͟t͟a͟n͟g͟a͟n͟i͟ o͟l͟e͟h͟ p͟͟e͟͟l͟͟a͟͟k͟͟u͟͟, k͟͟o͟͟r͟͟b͟͟a͟͟n͟͟, d͟a͟n͟ p͟e͟n͟y͟e͟l͟i͟d͟i͟k͟ a͟t͟a͟u͟ p͟͟e͟͟n͟͟y͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟.[¹⁵]
Berdasarkan surat kesepakatan penyelesaian perkara ini, penyelidik menerbitkan surat penghentian penyelidikan.[¹⁶]
Surat kesepakatan penyelesaian perkara atau perjanjian perdamaian, menurut hemat kami tetap mengacu pada KUH Perdata tentang perikatan. Ini selaras dengan pendapat Doddy Wiraatmadja Kosasih, S.H. M.Kn. (penulis sebelumnya) yang menyatakan bahwa berdasarkan praktik pengalaman pribadinya, dalam konteks penanganan perkara pidana, perbuatan pembuatan perjanjian perdamaian tetap bersinggungan dengan aturan-aturan dalam KUH Perdata tentang perikatan.
Oleh karena itu, berlaku ketentuan Pasal 1858 KUH Perdata, yang pada intinya menyatakan bahwa s͟u͟a͟t͟u͟ p͟e͟r͟d͟a͟m͟a͟i͟a͟n͟ m͟e͟m͟p͟u͟n͟y͟a͟i͟ k͟e͟k͟u͟a͟t͟a͟n͟ s͟e͟p͟e͟r͟t͟i͟ s͟u͟a͟t͟u͟ k͟e͟p͟u͟t͟u͟s͟a͟n͟ h͟a͟k͟i͟m͟ p͟a͟d͟a͟ t͟i͟n͟g͟k͟a͟t͟ a͟͟k͟͟h͟͟i͟͟r͟͟. P͟e͟r͟d͟a͟m͟a͟i͟a͟n͟ i͟t͟u͟ t͟i͟d͟a͟k͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟b͟a͟n͟t͟a͟h͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ a͟l͟a͟s͟a͟n͟ b͟a͟h͟w͟a͟ t͟e͟r͟j͟a͟d͟i͟ k͟e͟k͟e͟l͟i͟r͟u͟a͟n͟ m͟e͟n͟g͟e͟n͟a͟i͟ h͟u͟k͟u͟m͟ a͟t͟a͟u͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ a͟͟͟l͟͟͟a͟͟͟s͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟ b͟a͟h͟w͟a͟ s͟a͟l͟a͟h͟ s͟a͟t͟u͟ p͟i͟h͟a͟k͟ d͟͟i͟͟r͟͟u͟͟g͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟.
Bisakah Kasus yang Sama Dilaporkan pada Dua Kantor Polisi Berbeda?
Jadi menurut hemat kami, seharusnya j͟i͟k͟a͟ s͟u͟d͟a͟h͟ t͟e͟r͟d͟a͟p͟a͟t͟ p͟e͟r͟d͟a͟m͟a͟i͟a͟n͟ d͟a͟n͟ s͟u͟d͟a͟h͟ t͟e͟r͟b͟i͟t͟ s͟u͟r͟a͟t͟ p͟e͟n͟g͟h͟e͟n͟t͟i͟a͟n͟ p͟͟e͟͟n͟͟y͟͟e͟͟l͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, p͟e͟l͟a͟k͟u͟ t͟i͟d͟a͟k͟ d͟a͟p͟a͟t͟ m͟e͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟l͟a͟p͟o͟r͟a͟n͟ k͟e͟m͟b͟a͟l͟i͟ k͟e͟ k͟a͟n͟t͟o͟r͟ p͟o͟l͟i͟s͟i͟ y͟a͟n͟g͟ b͟͟e͟͟r͟͟b͟͟e͟͟d͟͟a͟͟.
Selain karena menurut keterangan Anda penyelidik menyimpulkan tidak adanya tindak pidana, juga telah ada surat kesepakatan damai para pihak yaitu A dan B yang kami asumsikan sebagai bentuk mekanisme keadilan restoratif. Pada prinsipnya, perkara baru dihentikan apabila seluruh kesepakatan telah terlaksana dan telah ada penetapan dari pengadilan.
Maka, apabila terdapat pelaporan kembali terhadap kasus yang sama, seharusnya kepolisian tidak melanjutkan laporan tersebut ke tahap selanjutnya seperti penyelidikan dan penyidikan.
Pada kasus Anda, s͟e͟b͟a͟i͟k͟n͟y͟a͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ o͟l͟e͟h͟ B͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ m͟e͟n͟u͟n͟j͟u͟k͟k͟a͟n͟ s͟u͟r͟a͟t͟ p͟e͟n͟g͟h͟e͟n͟t͟i͟a͟n͟ p͟e͟n͟y͟e͟l͟i͟d͟i͟k͟a͟n͟ d͟a͟r͟i͟ k͟e͟p͟o͟l͟i͟s͟i͟a͟n͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟m͟b͟u͟k͟t͟i͟k͟a͟n͟ b͟a͟h͟w͟a͟ s͟e͟b͟e͟l͟u͟m͟n͟y͟a͟ B͟ s͟u͟d͟a͟h͟ p͟e͟r͟n͟a͟h͟ d͟i͟n͟y͟a͟t͟a͟k͟a͟n͟ t͟i͟d͟a͟k͟ m͟e͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ t͟͟e͟͟r͟͟s͟͟e͟͟b͟͟u͟͟t͟͟.
Upaya Hukum
Upaya hukum yang dapat dilakukan B dalam menghadapi permasalahan hukum yang menimpanya, antara lain:
- Menghadiri proses penyelidikan dan/atau penyidikan untuk m͟e͟m͟b͟e͟r͟i͟k͟a͟n͟ k͟e͟t͟e͟r͟a͟n͟g͟a͟n͟ k͟e͟p͟a͟d͟a͟ p͟e͟n͟y͟e͟l͟i͟d͟i͟k͟ a͟t͟a͟u͟p͟u͟n͟ p͟e͟n͟y͟i͟d͟i͟k͟ y͟a͟n͟g͟ m͟͟e͟͟m͟͟e͟͟r͟͟i͟͟k͟͟s͟͟a͟͟, bahwa sebelumnya telah dilakukan proses penyelidikan dan perkara telah dihentikan karena B tidak terbukti melakukan tindak pidana penipuan/penggelapan. Selain itu, A dan B telah bersepakat menyelesaikan secara damai dengan menandatangani surat perjanjian damai.
- Membuat s͟u͟r͟a͟t͟ p͟e͟r͟m͟o͟h͟o͟n͟a͟n͟ s͟e͟c͟a͟r͟a͟ t͟e͟r͟t͟u͟l͟i͟s͟ k͟e͟p͟a͟d͟a͟ p͟i͟h͟a͟k͟ P͟o͟l͟s͟e͟k͟ u͟n͟t͟u͟k͟ d͟a͟p͟a͟t͟ m͟e͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ g͟͟e͟͟l͟͟a͟͟r͟ p͟e͟r͟k͟a͟r͟a͟ d͟a͟l͟a͟m͟ r͟a͟n͟g͟k͟a͟ p͟e͟n͟g͟h͟e͟n͟t͟i͟a͟n͟ p͟e͟n͟y͟e͟l͟i͟d͟i͟k͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟p͟u͟n͟ p͟e͟n͟y͟i͟d͟i͟k͟a͟n͟ a͟t͟a͟s͟ d͟a͟s͟a͟r͟ s͟u͟r͟a͟t͟ p͟e͟r͟d͟a͟m͟a͟i͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ t͟e͟l͟a͟h͟ d͟i͟t͟a͟n͟d͟a͟t͟a͟n͟g͟a͟n͟i͟ b͟e͟r͟s͟a͟m͟a͟ a͟n͟t͟a͟r͟a͟ A͟͟ d͟a͟n͟ B͟, di mana surat perdamaian tersebut masih mengikat dan tidak pernah dibatalkan sebelumnya di antara A dan B.
Apabila pihak Polsek tidak bersedia menghentikan penyelidikan dan meningkatkan status penyelidikan menjadi penyidikan, bahkan menetapkan B sebagai tersangka, maka B dapat:
- M͟e͟n͟g͟a͟j͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟n͟g͟a͟d͟u͟a͟n͟ d͟a͟n͟ p͟e͟r͟m͟o͟h͟o͟n͟a͟n͟ g͟e͟l͟a͟r͟ p͟e͟r͟k͟a͟r͟a͟ k͟h͟u͟s͟u͟s͟ k͟e͟ l͟e͟m͟b͟a͟g͟a͟ a͟t͟a͟s͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟m͟b͟a͟w͟a͟h͟i͟ P͟͟o͟͟l͟͟s͟͟e͟͟k͟͟, yaitu Polres Kota yang sebelumnya memutuskan tidak terbukti adanya tindak pidana di pihak B, untuk merespons dengan memeriksa kembali proses penyidikan yang sedang ditangani pihak Polsek dan untuk menghentikan penyelidikan ataupun penyidikan sesuai dengan hasil pemeriksaan sebelumnya (tidak terbukti adanya tindak pidana penipuan/penggelapan dan telah terjadi perdamaian); atau
- M͟e͟n͟g͟a͟j͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟m͟o͟h͟o͟n͟a͟n͟ p͟r͟a͟p͟e͟r͟a͟d͟i͟l͟a͟n͟ terhadap penetapan tersangka oleh pihak polsek terkait.
- M͟e͟n͟g͟a͟j͟u͟k͟a͟n͟ g͟u͟g͟a͟t͟a͟n͟ w͟a͟n͟p͟r͟e͟s͟t͟a͟s͟i͟ terhadap A di pengadilan yang dipilih dalam perjanjian sebagai tempat penyelesaian perselisihan hukum atau jika tidak ada pemilihan tersebut, di pengadilan tempat A berdomisili.[¹⁷]
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat dan dapat dijadikan pembelajaran untuk kita semua terlebih untuk penanya dan Paralegal ubklawyers pada khususnya.
D͟a͟s͟a͟r͟ H͟u͟k͟u͟m͟:
- Kitab Undang-Undang Hukum Perdata;
- Herzien Inlandsch Reglement;
- Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman;
- Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana;
- Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2025 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana;
- Peraturan Kejaksaan Nomor 15 Tahun 2020 tentang Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif;
- Peraturan Kepolisian Negara Nomor 8 Tahun 2021 tentang Penanganan Tindak Pidana Berdasarkan Keadilan Restoratif;
- Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2024 tentang Pedoman Mengadili Perkara Pidana Berdasarkan Keadilan Restoratif.
Artikel ini adalah pemutakhiran kedua dari artikel dengan judul Kasus yang Sama Dilaporkan pada Dua Kantor Polisi Berbeda, yang dibuat oleh Shanti Rachmadsyah, S.H., dan pertama kali dipublikasikan pada 04 Oktober 2010, lalu dimutakhirkan pertama kali oleh Doddy Wiraatmadja Kosasih, S.H. M.Kn. pada 21 Juli 2025. Dipublikasikan kedua oleh “..Hukumonline.com..” dengan judul Bisakah Kasus yang Sama Dilaporkan pada Dua Kantor Polisi Berbeda? Pada tanggal 19 Februari 2026. Dan diteruskan oleh ubklawyers pada tanggal 19 Maret 2026M/29 Ramadhan 1447H.
Seluruh Informasi Hukum yang ada di LBH-UMAR BIN KHATTAB disiapkan semata-mata untuk t͟͟͟u͟͟͟j͟͟͟u͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟ p͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, p͟e͟m͟b͟e͟l͟a͟j͟a͟r͟a͟n͟ dan b͟e͟r͟s͟i͟f͟a͟t͟ u͟m͟u͟m͟. Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan Pengacara, Konsultan Hukum dan/atau Paralegal UBK LAWYERS.
Sedang menghadapi permasalahan hukum? A͟j͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟t͟a͟n͟y͟a͟a͟n͟ melalui email, telepon atau chat.👇🏼
Email:
ubklawyer@gmail.com
Telepon/Chat:
089666552118
Berkenan G͟a͟b͟u͟n͟g͟ G͟r͟o͟u͟p͟, untuk jadi bagian Keluarga Besar UBK LAWYERS. Klik link dibawah.👇🏼
I͟K͟U͟T͟I͟ W͟h͟a͟t͟s͟A͟p͟p͟ C͟h͟a͟n͟n͟e͟l͟ LBH-UMAR BIN KHATTAB. Untuk memperkaya Riset Hukum Anda, klik link dibawah.👇🏼
🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸
#cerdashukum
#studylawtogether
#ubklawyers

