INDRAMAYU — PERTANYAAN:
Salah seorang komedian belakangan ini tengah diberitakan karena diperiksa terkait dugaan penghinaan suku atau adat Toraja dari show stand up comedy yang ia lakukan beberapa tahun lalu. Pasal apa yang dapat menjerat Pandji? Kemudian, mengingat video yang beredar sudah lama, apakah sudah terlewat masa daluarsanya? Atas pencerahannya diucapkan terimakasih, untuk ubklawyers beserta Paralegalnya semoga semakin cerdas, bijak, dan profesional. Aamiin
Indah Wati – My Second Heart
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
“INTISARI JAWABAN”
【ℌ𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔓𝔦𝔡𝔞𝔫𝔞】
𝔓𝔢𝔯𝔟𝔲𝔞𝔱𝔞𝔫 𝔪𝔢𝔫𝔤𝔥𝔦𝔫𝔞 𝔰𝔲𝔨𝔲 𝔱𝔢𝔯𝔱𝔢𝔫𝔱𝔲 𝔧𝔦𝔨𝔞 𝔡𝔦𝔴𝔲𝔧𝔲𝔡𝔨𝔞𝔫 𝔡𝔢𝔫𝔤𝔞𝔫 𝔨𝔞𝔱𝔞-𝔨𝔞𝔱𝔞 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔪𝔢𝔫𝔲𝔫𝔧𝔲𝔨𝔨𝔞𝔫 𝔨𝔢𝔟𝔢𝔫𝔠𝔦𝔞𝔫, 𝔪𝔞𝔨𝔞 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔡𝔦𝔤𝔬𝔩𝔬𝔫𝔤𝔨𝔞𝔫 𝔰𝔢𝔟𝔞𝔤𝔞𝔦 𝔯𝔞𝔰 𝔡𝔞𝔫 𝔢𝔱𝔫𝔦𝔰 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔡𝔦𝔞𝔱𝔲𝔯 𝔡𝔞𝔩𝔞𝔪 𝔘𝔘 40/2008. 𝔓𝔢𝔯𝔟𝔲𝔞𝔱𝔞𝔫 𝔦𝔫𝔦 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔡𝔦𝔞𝔫𝔠𝔞𝔪 𝔭𝔦𝔡𝔞𝔫𝔞 𝔭𝔢𝔫𝔧𝔞𝔯𝔞 𝔭𝔞𝔩𝔦𝔫𝔤 𝔩𝔞𝔪𝔞 5 𝔱𝔞𝔥𝔲𝔫 𝔡𝔞𝔫/𝔞𝔱𝔞𝔲 𝔡𝔢𝔫𝔡𝔞 𝔭𝔞𝔩𝔦𝔫𝔤 𝔟𝔞𝔫𝔶𝔞𝔨 𝔨𝔞𝔱𝔢𝔤𝔬𝔯𝔦 ℑℭ, 𝔶𝔞𝔦𝔱𝔲 𝔰𝔢𝔟𝔢𝔰𝔞𝔯 ℜ𝔭200 𝔧𝔲𝔱𝔞.
𝔍𝔦𝔨𝔞 𝔱𝔦𝔫𝔡𝔞𝔨𝔞𝔫 𝔱𝔢𝔯𝔰𝔢𝔟𝔲𝔱 𝔡𝔦𝔩𝔞𝔨𝔲𝔨𝔞𝔫 𝔡𝔦 𝔯𝔞𝔫𝔞𝔥 𝔡𝔦𝔤𝔦𝔱𝔞𝔩, 𝔪𝔞𝔨𝔞 𝔡𝔦𝔧𝔢𝔯𝔞𝔱 𝔡𝔢𝔫𝔤𝔞𝔫 𝔘𝔘 ℑ𝔗𝔈 𝔡𝔞𝔫 𝔭𝔢𝔯𝔲𝔟𝔞𝔥𝔞𝔫𝔫𝔶𝔞.
𝔏𝔞𝔫𝔱𝔞𝔰, 𝔟𝔢𝔯𝔞𝔭𝔞 𝔩𝔞𝔪𝔞 𝔡𝔞𝔩𝔲𝔴𝔞𝔯𝔰𝔞 𝔭𝔦𝔡𝔞𝔫𝔞 𝔪𝔢𝔫𝔤𝔥𝔦𝔫𝔞 𝔰𝔲𝔨𝔲?
𝔓𝔢𝔫𝔧𝔢𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔩𝔢𝔟𝔦𝔥 𝔩𝔞𝔫𝔧𝔲𝔱 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔄𝔫𝔡𝔞 𝔟𝔞𝔠𝔞 𝔲𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔡𝔦 𝔟𝔞𝔴𝔞𝔥 𝔦𝔫𝔦.
ULASAN SELENGKAPNYA;
Terimakasih atas pertanyaan Anda.
Artikel ini dibuat berdasarkan KUHP lama dan UU 1/2023 tentang KUHP yang diundangkan pada tanggal 2 Januari 2023.
Pasal Penghinaan terhadap Suku
Menghina suku tertentu dapat menjadi salah satu bentuk tindakan diskriminasi. Adapun yang dimaksud dengan diskriminasi menurut Pasal 1 angka 3 UU 39/1999 adalah s͟e͟t͟i͟a͟p͟ p͟͟e͟͟m͟͟b͟͟a͟͟t͟͟a͟͟s͟͟a͟͟n͟͟, p͟͟e͟͟l͟͟e͟͟c͟͟e͟͟h͟͟a͟͟n͟͟, a͟t͟a͟u͟ p͟e͟n͟g͟u͟c͟i͟l͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ l͟͟a͟͟n͟͟g͟͟s͟͟u͟͟n͟͟g͟͟ a͟t͟a͟u͟p͟u͟n͟ t͟i͟d͟a͟k͟ l͟a͟n͟g͟s͟u͟n͟g͟ d͟i͟d͟a͟s͟a͟r͟k͟a͟n͟ p͟a͟d͟a͟ p͟e͟m͟b͟e͟d͟a͟a͟n͟ m͟a͟n͟u͟s͟i͟a͟ a͟t͟a͟s͟ d͟a͟s͟a͟r͟ a͟͟g͟͟a͟͟m͟͟a͟͟, s͟͟u͟͟k͟͟u͟͟, r͟͟a͟͟s͟͟, e͟͟t͟͟n͟͟i͟͟k͟͟, k͟͟e͟͟l͟͟o͟͟m͟͟p͟͟o͟͟k͟͟, g͟͟o͟͟l͟͟o͟͟n͟͟g͟͟a͟͟n͟͟, s͟t͟a͟t͟u͟s͟ s͟͟o͟͟s͟͟i͟͟a͟͟l͟͟, s͟t͟a͟t͟u͟s͟ e͟͟k͟͟o͟͟n͟͟o͟͟m͟͟i͟͟, j͟e͟n͟i͟s͟ k͟͟e͟͟l͟͟a͟͟m͟͟i͟͟n͟͟, b͟͟a͟͟h͟͟a͟͟s͟͟a͟͟, k͟e͟y͟a͟k͟i͟n͟a͟n͟ p͟͟o͟͟l͟͟i͟͟t͟͟i͟͟k͟͟. D͟i͟s͟k͟r͟i͟m͟i͟n͟a͟s͟i͟ d͟a͟p͟a͟t͟ b͟e͟r͟a͟k͟i͟b͟a͟t͟ p͟a͟d͟a͟ p͟͟e͟͟n͟͟g͟͟u͟͟r͟͟a͟͟n͟͟g͟͟a͟͟n͟͟, p͟e͟n͟y͟i͟m͟p͟a͟n͟g͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ p͟e͟n͟g͟h͟a͟p͟u͟s͟a͟n͟ p͟͟͟e͟͟͟n͟͟͟g͟͟͟a͟͟͟k͟͟͟u͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟, p͟e͟l͟a͟k͟s͟a͟n͟a͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ p͟e͟n͟g͟g͟u͟n͟a͟a͟n͟ h͟a͟k͟ a͟s͟a͟s͟i͟ m͟a͟n͟u͟s͟i͟a͟ d͟a͟n͟ k͟e͟b͟e͟b͟a͟s͟a͟n͟ d͟͟a͟͟s͟͟a͟͟r͟͟ d͟a͟l͟a͟m͟ k͟e͟h͟i͟d͟u͟p͟a͟n͟ b͟a͟i͟k͟ i͟n͟d͟i͟v͟i͟d͟u͟a͟l͟ m͟a͟u͟p͟u͟n͟ k͟o͟l͟e͟k͟t͟i͟f͟ d͟a͟l͟a͟m͟ b͟i͟d͟a͟n͟g͟ p͟͟o͟͟l͟͟i͟͟t͟͟i͟͟k͟͟, e͟͟k͟͟o͟͟n͟͟o͟͟m͟͟i͟͟, h͟͟u͟͟k͟͟u͟͟m͟͟, s͟͟o͟͟s͟͟i͟͟a͟͟l͟͟, b͟u͟d͟a͟y͟a͟ d͟a͟n͟ a͟s͟p͟e͟k͟ k͟e͟h͟i͟d͟u͟p͟a͟n͟ l͟͟a͟͟i͟͟n͟͟n͟͟y͟͟a͟͟.
Selain itu, Pasal 1 angka 1 UU 40/2008 mengatur lebih spesifik mengenai diskriminasi ras dan etnis, yaitu s͟e͟g͟a͟l͟a͟ b͟e͟n͟t͟u͟k͟ p͟͟e͟͟m͟͟b͟͟e͟͟d͟͟a͟͟a͟͟n͟͟, p͟͟e͟͟n͟͟g͟͟e͟͟c͟͟u͟͟a͟͟l͟͟i͟͟a͟͟n͟͟, p͟e͟m͟b͟a͟t͟a͟s͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ p͟e͟m͟i͟l͟i͟h͟a͟n͟ b͟e͟r͟d͟a͟s͟a͟r͟k͟a͟n͟ p͟a͟d͟a͟ r͟a͟s͟ d͟a͟n͟ e͟͟t͟͟n͟͟i͟͟s͟͟, y͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟g͟a͟k͟i͟b͟a͟t͟k͟a͟n͟ p͟e͟n͟c͟a͟b͟u͟t͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ p͟e͟n͟g͟u͟r͟a͟n͟g͟a͟n͟ p͟͟e͟͟n͟͟g͟͟a͟͟k͟͟u͟͟a͟͟n͟͟, p͟͟e͟͟r͟͟o͟͟l͟͟e͟͟h͟͟a͟͟n͟͟, a͟t͟a͟u͟ p͟e͟l͟a͟k͟s͟a͟n͟a͟a͟n͟ h͟a͟k͟ a͟s͟a͟s͟i͟ m͟a͟n͟u͟s͟i͟a͟ d͟a͟n͟ k͟e͟b͟e͟b͟a͟s͟a͟n͟ d͟a͟s͟a͟r͟ d͟a͟l͟a͟m͟ s͟u͟a͟t͟u͟ k͟e͟s͟e͟t͟a͟r͟a͟a͟n͟ d͟i͟ b͟i͟d͟a͟n͟g͟ s͟͟i͟͟p͟͟i͟͟l͟͟, p͟͟o͟͟l͟͟i͟͟t͟͟i͟͟k͟͟, e͟͟k͟͟o͟͟n͟͟o͟͟m͟͟i͟͟, s͟o͟s͟i͟a͟l͟, d͟a͟n͟ b͟͟͟u͟͟͟d͟͟͟a͟͟͟y͟͟͟a͟͟͟.
Adapun ras adalah g͟o͟l͟o͟n͟g͟a͟n͟ b͟a͟n͟g͟s͟a͟ b͟e͟r͟d͟a͟s͟a͟r͟k͟a͟n͟ c͟i͟r͟i͟-c͟i͟r͟i͟ f͟i͟s͟i͟k͟ d͟a͟n͟ g͟a͟r͟i͟s͟ k͟͟͟e͟͟͟t͟͟͟u͟͟͟r͟͟͟u͟͟͟n͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟.[¹] Sedangkan etnis adalah p͟e͟n͟g͟g͟o͟l͟o͟n͟g͟a͟n͟ m͟a͟n͟u͟s͟i͟a͟ b͟e͟r͟d͟a͟s͟a͟r͟k͟a͟n͟ k͟͟e͟͟p͟͟e͟͟r͟͟c͟͟a͟͟y͟͟a͟͟a͟͟n͟͟, n͟͟i͟͟l͟͟a͟͟i͟͟, k͟͟e͟͟b͟͟i͟͟a͟͟s͟͟a͟͟a͟͟n͟͟, a͟͟͟͟d͟͟͟͟a͟͟͟͟t͟͟͟͟ i͟͟s͟͟t͟͟i͟͟a͟͟d͟͟a͟͟t͟͟, n͟͟͟o͟͟͟r͟͟͟m͟͟͟a͟͟͟ b͟͟a͟͟h͟͟a͟͟s͟͟a͟͟, s͟͟e͟͟j͟͟a͟͟r͟͟a͟͟h͟͟, g͟͟e͟͟o͟͟g͟͟r͟͟a͟͟f͟͟i͟͟s͟͟, d͟a͟n͟ h͟u͟b͟u͟n͟g͟a͟n͟ k͟͟͟e͟͟͟k͟͟͟e͟͟͟r͟͟͟a͟͟͟b͟͟͟a͟͟͟t͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟.[²]
Perlu diperhatikan bahwa berdasarkan Pasal 4 huruf b UU 40/2008, tindakan diskriminatif ras dan etnis salah satunya dapat berupa menunjukkan kebencian atau rasa benci kepada orang karena perbedaan ras dan etnis yang berupa perbuatan:
- membuat tulisan atau gambar untuk ditempatkan, ditempelkan, atau disebarluaskan di tempat umum atau tempat lainnya yang dapat dilihat atau dibaca oleh orang lain;
- berpidato, mengungkapkan atau melontarkan kata-kata tertentu di tempat umum atau tempat lainnya yang dapat didengar orang lain;
- mengenakan sesuatu pada dirinya berupa benda, kata-kata, atau gambar di tempat umum atau tempat lainnya yang dapat dibaca oleh orang lain; atau
- melakukan perampasan nyawa orang, penganiayaan, pemerkosaan, perbuatan cabul, pencurian dengan kekerasan, atau perampasan kemerdekaan berdasarkan ras dan etnis.
Selanjutnya, setiap orang yang d͟e͟n͟g͟a͟n͟ s͟e͟n͟g͟a͟j͟a͟ m͟e͟n͟u͟n͟j͟u͟k͟k͟a͟n͟ k͟e͟b͟e͟n͟c͟i͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ r͟a͟s͟a͟ b͟e͟n͟c͟i͟ k͟e͟p͟a͟d͟a͟ o͟r͟a͟n͟g͟ l͟a͟i͟n͟ b͟e͟r͟d͟a͟s͟a͟r͟k͟a͟n͟ d͟i͟s͟k͟r͟i͟m͟i͟n͟a͟s͟i͟ r͟a͟s͟ d͟a͟n͟ e͟t͟n͟i͟s͟ sebagaimana dimaksud di atas, dapat dipidana penjara maksimal 5 tahun dan/atau denda maksimal kategori IV,[³] yaitu sebesar Rp200 juta.[⁴]
Mengingat dugaan penghinaan yang dilakukan pada kasus Anda disebarkan melalui medium digital, maka berlaku ketentuan dalam UU ITE dan perubahannya, yaitu Pasal 28 ayat (2) UU 1/2024, yang berbunyi:
- Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang sifatnya menghasut, mengajak, atau memengaruhi orang lain sehingga menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan terhadap individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan ras, kebangsaan, etnis, warna kulit, agama, kepercayaan, jenis kelamin, disabilitas mental, atau disabilitas fisik.
Namun, dalam membaca pasal di atas perlu diperhatikan Putusan MK No. 105/PUU-XXII/2024 (hal. 459-460), yang menyatakan bahwa frasa “mendistribusikan dan/atau mentransmisikan informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang sifatnya menghasut, mengajak, atau memengaruhi orang lain sehingga menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan terhadap individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu” dalam pasal di atas bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat secara bersyarat sepanjang tidak dimaknai “h͟͟a͟͟n͟͟y͟͟a͟͟ i͟n͟f͟o͟r͟m͟a͟s͟i͟ e͟l͟e͟k͟t͟r͟o͟n͟i͟k͟ d͟͟a͟͟n͟͟/a͟t͟a͟u͟ d͟o͟k͟u͟m͟e͟n͟ e͟l͟e͟k͟t͟r͟o͟n͟i͟k͟ y͟a͟n͟g͟ s͟e͟c͟a͟r͟a͟ s͟u͟b͟s͟t͟a͟n͟t͟i͟f͟ m͟e͟m͟u͟a͟t͟ t͟͟i͟͟n͟͟d͟͟a͟͟k͟͟a͟͟n͟͟/p͟e͟n͟y͟e͟b͟a͟r͟a͟n͟ k͟e͟b͟e͟n͟c͟i͟a͟n͟ b͟͟e͟͟r͟͟d͟͟a͟͟s͟͟a͟͟r͟͟ i͟d͟e͟n͟t͟i͟t͟a͟s͟ t͟e͟r͟t͟e͟n͟t͟u͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ s͟e͟c͟a͟r͟a͟ s͟e͟n͟g͟a͟j͟a͟ d͟a͟n͟ d͟͟i͟͟ d͟e͟p͟a͟n͟ u͟͟m͟͟u͟͟m͟͟, y͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟i͟m͟b͟u͟l͟k͟a͟n͟ r͟i͟s͟i͟k͟o͟ n͟y͟a͟t͟a͟ t͟e͟r͟h͟a͟d͟a͟p͟ d͟͟i͟͟s͟͟k͟͟r͟͟i͟͟m͟͟i͟͟n͟͟a͟͟s͟͟i͟͟, p͟͟e͟͟r͟͟m͟͟u͟͟s͟͟u͟͟h͟͟a͟͟n͟͟, a͟t͟a͟u͟ k͟e͟k͟e͟r͟a͟s͟a͟n͟ “.
Adapun sanksi pidana terhadap tindak pidana di atas bisa berupa pidana penjara paling lama 6 tahun dan/atau denda paling banyak kategori V,[⁵] yaitu sebesar Rp500 juta.[⁶]
Jadi, dalam kasus penghinaan terhadap suku tertentu, pada dasarnya berpotensi dikenai sanksi pidana yang sudah dipaparkan di atas. Namun, dalam pemidanaannya menurut hemat kami, perlu dibuktikan apakah video yang Anda maksud secara substantif memuat tindakan/penyebaran kebencian berdasar identitas tertentu yang dilakukan secara sengaja dan di depan umum, y͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟i͟m͟b͟u͟l͟k͟a͟n͟ r͟i͟s͟i͟k͟o͟ n͟y͟a͟t͟a͟ t͟e͟r͟h͟a͟d͟a͟p͟ d͟͟i͟͟s͟͟k͟͟r͟͟i͟͟m͟͟i͟͟n͟͟a͟͟s͟͟i͟͟, p͟͟e͟͟r͟͟m͟͟u͟͟s͟͟u͟͟h͟͟a͟͟n͟͟, a͟t͟a͟u͟ k͟e͟k͟e͟r͟a͟s͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ t͟͟i͟͟d͟͟a͟͟k͟͟.
Kedaluwarsa Penghinaan Suku
Selanjutnya, perihal masa daluwarsa perbuatan penghinaan suku, kami asumsikan yang Anda maksud daluwarsa di sini adalah daluwarsa kewenangan penuntutan. Jika demikian, maka dapat dilihat pada ketentuan Pasal VII angka 23 UU 1/2026 yang mengubah Pasal 136 UU 1/2023 tentang KUHP baru yang sudah berlaku sejak 2 Januari 2026. Sebagai perbandingan, kami juga akan menyajikan ketentuan dalam ~Pasal 78 ayat (1) KUHP lama yang sudah dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.~
Pasal VII angka 23 UU 1/2026 jo. Pasal 136 UU 1/2023
Kewenangan penuntutan dinyatakan gugur karena kedaluwarsa apabila:
a. setelah melampaui
waktu 3 tahun
untuk tindak
pidana yang
diancam dengan
pidana penjara
paling lama 1
tahun dan/atau
hanya denda paling
banyak kategori III,
yaitu sebesar Rp50
juta;[⁷]
b. setelah melampaui
waktu 6 tahun
untuk tindak
pidana yang
diancam dengan
pidana penjara di
atas 1 tahun dan
paling lama 3 tahun;
c. setelah melampaui
waktu 12 tahun
untuk tindak
pidana yang
diancam dengan
pidana penjara di
atas 3 tahun dan
paling lama 7 tahun;
d. setelah melampaui
waktu 18 tahun
untuk tindak
pidana yang
diancam dengan
pidana penjara di
atas 7 tahun dan
paling lama 15
tahun; dan
e. setelah melampaui
waktu 20 tahun
untuk tindak
pidana yang
diancam dengan
pidana penjara
paling lama 20
tahun, pidana
penjara seumur
hidup, atau pidana
mati.
Pasal 78 ayat (1) KUHP lama
Kewenangan menuntut pidana hapus karena daluwarsa:
- mengenai semua pelanggaran dan kejahatan yang dilakukan dengan percetakan sesudah 1 tahun;
- mengenai kejahatan yang diancam dengan pidana denda, pidana kurungan, atau pidana penjara paling lama 3 tahun, sesudah 6 tahun;
- mengenai kejahatan yang diancam dengan pidana penjara lebih dari 3 tahun, sesudah 12 tahun; mengenai kejahatan yang diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup, sesudah 18 tahun.
Melihat sanksi pidana yang berpotensi menjerat terduga pelaku sebagaimana diterangkan di atas yang mencakup pidana penjara 5 atau 6 tahun, maka dapat disimpulkan bahwa masa daluwarsa menuntut adalah 12 tahun. S͟e͟l͟a͟m͟a͟ m͟a͟s͟i͟h͟ b͟e͟l͟u͟m͟ m͟e͟l͟e͟w͟a͟t͟i͟ m͟a͟s͟a͟ d͟͟a͟͟l͟͟u͟͟w͟͟a͟͟r͟͟s͟͟a͟͟, K͟e͟w͟e͟n͟a͟n͟g͟a͟n͟ p͟e͟n͟u͟n͟t͟u͟t͟a͟n͟ t͟e͟r͟h͟a͟d͟a͟p͟ k͟a͟s͟u͟s͟ t͟e͟r͟s͟e͟b͟u͟t͟ m͟a͟s͟i͟h͟ b͟͟e͟͟r͟͟l͟͟a͟͟k͟͟u͟͟.
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat dan dapat dijadikan pembelajaran untuk kita semua terlebih untuk penanya dan Paralegal ubklawyers pada khususnya.
D͟a͟s͟a͟r͟ H͟u͟k͟u͟m͟:
- Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
- Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia
- Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik;
- Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis;
- Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik;
- Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana;
- Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2024 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik;
- Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana.
Artikel ini adalah pemutakhiran kedua dari artikel dengan judul Jerat Hukum Bagi Tetangga yang Suka Menghina Suku, yang dibuat oleh Tri Jata Ayu Pramesti, S.H. dan pertama kali dipublikasikan pada 23 Agustus 2016, lalu pertama kali dimutakhirkan pada 04 September 2024. Dipublikasikan kedua oleh “..Hukumonline.com..” dengan judul Delik Penghinaan Suku dan Masa Daluwarsanya, pada tanggal 20 Februari 2026. Dan diteruskan oleh ubklawyers pada tanggal 22 Februari 2026M/04 Ramadhan 1447H.
Seluruh Informasi Hukum yang ada di LBH-UMAR BIN KHATTAB disiapkan semata-mata untuk t͟͟͟u͟͟͟j͟͟͟u͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟ p͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, p͟e͟m͟b͟e͟l͟a͟j͟a͟r͟a͟n͟ dan b͟e͟r͟s͟i͟f͟a͟t͟ u͟m͟u͟m͟. Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan Pengacara, Konsultan Hukum dan/atau Paralegal UBK LAWYERS.
Sedang menghadapi permasalahan hukum? A͟j͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟t͟a͟n͟y͟a͟a͟n͟ melalui email, telepon atau chat.👇🏼
Email:
ubklawyer@gmail.com
Telepon/Chat:
089666552118
Berkenan G͟a͟b͟u͟n͟g͟ G͟r͟o͟u͟p͟, untuk jadi bagian Keluarga Besar UBK LAWYERS. Klik link dibawah.👇🏼
I͟K͟U͟T͟I͟ W͟h͟a͟t͟s͟A͟p͟p͟ C͟h͟a͟n͟n͟e͟l͟ LBH-UMAR BIN KHATTAB. Untuk memperkaya Riset Hukum Anda, klik link dibawah.👇🏼
🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸
#cerdashukum
#studylawtogether
#ubklawyers

