Bagian Kelima
Oleh: Suhaeli Nawawi, Pembina YWI
Dari Saripati Tanah hingga Jejak Nutfah dalam Perspektif Sains Modern
I DRAMAYU — Pertanyaan klasik sering muncul dalam diskusi lintas iman dan sains: apakah mungkin suatu hari ilmu pengetahuan mampu menciptakan “sistem reproduksi sintesis” yang mengubah bahan dasar dari tanah—makanan dari tumbuhan maupun hewan—menjadi sperma dan ovum (nutfah) layaknya dalam tubuh manusia?
Mengurai Jejak Kehidupan dari Tanah
Al-Qur’an menyebut manusia berasal dari sulālah min ṭīn (saripati tanah). Sains modern membenarkan: unsur utama kehidupan—CHNOPS (Carbon, Hydrogen, Nitrogen, Oxygen, Phosphorus, Sulfur)—serta mineral mikro (Zn, Fe, Se, Mg) benar-benar berasal dari tanah dan masuk ke tubuh melalui makanan.
Prosesnya sederhana tapi menakjubkan: makanan dicerna → diubah jadi molekul dasar → diedarkan darah → dirakit menjadi sel-sel baru, termasuk sperma dan ovum. Dengan kata lain, tanah memang menjadi “awal kisah” manusia.
Apa yang Sudah Bisa Dilakukan Sains
Kemajuan bioteknologi memberi harapan bahwa mekanisme ini suatu hari dapat direkayasa:
Proto-gamet buatan: Dari sel punca (stem cell), ilmuwan berhasil membuat primordial germ cell-like cells (PGCLC), cikal bakal sperma/ovum.
Keberhasilan pada hewan: Di Jepang, sperma dan sel telur tikus berhasil diproduksi di laboratorium, bahkan melahirkan keturunan sehat.
Organoid testis/ovarium: Miniatur organ yang meniru sebagian fungsi “pabrik gamet” sudah berhasil dikembangkan.
Sistem pendukung kehamilan: Teknologi seperti biobag mampu menopang janin prematur hewan hingga matang.
Semua ini menunjukkan: arah menuju sistem reproduksi sintesis sudah dimulai.
Mengapa Masih Jauh untuk Manusia
Namun, perjalanan masih panjang. Ada banyak “tembok tebal” yang menghalangi:
1.Meiosis presisi: Pembelahan kromosom dalam pembuatan sperma/ovum harus sempurna; di laboratorium sering kacau.
2.Jejak epigenetik: Sperma/ovum harus “menghapus” dan “menulis ulang” tanda genetik sesuai asal ayah/ibu. Salah sedikit bisa fatal.
3.Lingkungan gonad alami: Testis dan ovarium bukan sekadar kumpulan sel, melainkan “orkestra” hormon, enzim, dan sel pendukung. Ini belum bisa ditiru penuh.
4.Ovum superkompleks: Sel telur manusia sangat besar, penuh cadangan energi dan organel; menciptakan kualitas setara masih mustahil.
5.Etika & regulasi: Banyak negara membatasi riset embrio manusia. Sains sering terhambat bukan oleh teknologi, melainkan oleh hukum dan moral.
Prospek: 10–20 Tahun Mendatang
Dalam dua dekade ke depan, in vitro gametogenesis (IVG) pada manusia kemungkinan besar akan berhasil dalam tahap penelitian—untuk mempelajari penyakit genetik atau mencari solusi infertilitas. Tetapi penggunaannya untuk melahirkan bayi manusia dari gamet buatan masih akan menunggu waktu lama, mungkin seabad, karena isu keselamatan dan etika.
Kembali pada Sulb dan Tara’ib
Istilah Qur’ani ṣulb (tulang belakang) dan tarā’ib (tulang dada) sering ditafsirkan sebagai simbol asal kejadian sperma dan ovum. Tafsir klasik dan kontemporer mencoba menghubungkan dengan pabrik gamet, yakni testis dan ovarium, yang letaknya memang dalam poros tubuh (antara tulang belakang dan dada). Dengan begitu, bahasa wahyu menyampaikan esensi biologis dengan cara yang puitis dan abadi.
Kesimpulan
Mengetahui bahan dasar sperma dan ovum belum otomatis berarti kita bisa menciptakannya. Yang jauh lebih sulit adalah mengatur panggung besar tempat molekul, hormon, dan sel bekerja dalam harmoni.
Tubuh manusia adalah “bioreaktor paling sempurna” yang pernah ada. Ilmu pengetahuan mungkin akan terus mendekati, tetapi apakah ia bisa menyalin sepenuhnya sistem reproduksi ciptaan Tuhan? Itulah misteri sekaligus tantangan sains masa depan.
BERSAMBUNG

