INDRAMAYU — Maulid bukan sekadar perayaan hari lahir Nabi, ia adalah cermin bagi hati yang ingin menelusuri cahaya asal-usulnya.
Lahirnya Muhammad di dunia, adalah lahirnya pengingat bahwa kita semua berasal dari cinta yang sama, Dalam ma’rifat, maulid tidak hanya dirayakan dengan doa dan shalawat, tetapi diresapi sebagai lahirnya kesadaran…Bahwa setiap hembusan nafas adalah maulid kecil, setiap detak hati adalah pengingat.
Dan setiap cahaya matahari yang terbit adalah tanda bahwa Muhammad masih hidup dalam diri kita. Nabi lahir di bumi, tapi hakikatnya ia adalah cermin langit. Ia adalah jalan sunyi menuju Sang Cahaya. Dia menuntun manusia dari lumpur menjadi mutiara. Maka maulid bukan sekadar mengenang, tetapi melahirkan kembali nur Muhammad di dada setiap insan.
Barangsiapa merayakan maulid hanya dengan pesta,
ia melahirkan ingatan yang cepat pudar, dan barangsiapa merayakan maulid dengan cinta, ia melahirkan kesadaran yang abadi.
Karena ma’rifat maulid Nabi bukan sekadar tahlil, syair, atau untaian puji-pujian, tetapi kelahiran kembali jiwa kita ke dalam rahmat.
Allah berbisik:
“Aku lahirkan Muhammad di dunia agar engkau mengenal-Ku. Maka lahirkanlah Muhammad dalam dirimu, agar engkau kembali kepada-Ku.” (Rahayu)

