INDRAMAYU — PERTANYAAN
Dalam penegakan perkara kasus korupsi CPO beberapa waktu lalu, kejaksaan mengadakan press conference dengan menampilkan uang sitaan yang jumlahnya sampai Rp1,3 triliun. Terhadap hal itu saya memiliki beberapa pertanyaan. Dari mana uang tersebut berasal? Ada yang bilang itu merupakan uang sitaan, ada juga yang bilang itu merupakan uang jaminan. Selain itu, apa dasar hukum dilakukannya penampilan terhadap uang tersebut oleh kejaksaan?
Atas pencerahannya diucapkan terimakasih dan untuk ubklawyers beserta Paralegalnya semoga bertambah wawasannya. Aamiin..
Prasetyo – Mahasiswa Unpam
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
“INTISARI JAWABAN”
【Hukum Pidana】
ᴾᵉⁿʸⁱᵗᵃᵃⁿ ᵗᵉʳʰᵃᵈᵃᵖ ᵘᵃⁿᵍ ʰᵃˢⁱˡ ᵏᵒʳᵘᵖˢⁱ ᵈᵃᵖᵃᵗ ᵈⁱˡᵃᵏᵘᵏᵃⁿ ᵘⁿᵗᵘᵏ ᵏᵉᵖᵉⁿᵗⁱⁿᵍᵃⁿ ᵖᵉᵐᵇᵘᵏᵗⁱᵃⁿ ᵈᵃˡᵃᵐ ᵖᵉⁿʸⁱᵈⁱᵏᵃⁿ, ᵖᵉⁿᵘⁿᵗᵘᵗᵃⁿ ᵈᵃⁿ ᵖᵉʳᵃᵈⁱˡᵃⁿ. ᴰᵃˡᵃᵐ ᵖʳᵃᵏᵗⁱᵏⁿʸᵃ, ʰᵃˢⁱˡ ᵘᵃⁿᵍ ᵏᵒʳᵘᵖˢⁱ ⁱⁿⁱ ᵏᵉʳᵃᵖ ᵏᵃˡⁱ ᵈⁱᵖᵃᵐᵉʳᵏᵃⁿ ᵃᵗᵃᵘ ᵈⁱᵖᵘᵇˡⁱᵏᵃˢⁱᵏᵃⁿ. ᵂᵃˡᵃᵘᵖᵘⁿ ᵗⁱᵈᵃᵏ ᵃᵈᵃ ᵈᵃˢᵃʳ ʰᵘᵏᵘᵐⁿʸᵃ, ʰᵃˡ ⁱⁿⁱ ᵐᵉⁿᵘʳᵘᵗ ʰᵉᵐᵃᵗ ᵏᵃᵐⁱ ᵈⁱˡᵃᵏᵘᵏᵃⁿ ᵘⁿᵗᵘᵏ ᵐᵉᵐᵇᵉʳⁱᵏᵃⁿ ᵗʳᵃⁿˢᵖᵃʳᵃⁿˢⁱ ᵈᵃⁿ ᵏᵉᵗᵉʳᵇᵘᵏᵃᵃⁿ ᵗᵉʳʰᵃᵈᵃᵖ ᵖᵘᵇˡⁱᵏ, ᵐᵉⁿᵍᵉⁿᵃⁱ ᵏᵃˢᵘˢ ᵏᵒʳᵘᵖˢⁱ ʸᵃⁿᵍ ˢᵉᵈᵃⁿᵍ ᵈⁱᵗᵃⁿᵍᵃⁿⁱ.
ᴬᵈᵃᵖᵘⁿ ᵘᵃⁿᵍ ʸᵃⁿᵍ ᵈⁱᵖᵃᵐᵉʳᵏᵃⁿ ⁱⁿⁱ ᵇᵉʳˢᵘᵐᵇᵉʳ ᵈᵃʳⁱ ᵘᵃⁿᵍ ʰᵃˢⁱˡ ˢⁱᵗᵃᵃⁿ ᵖᵉʳᵏᵃʳᵃ ᵏᵒʳᵘᵖˢⁱ ʸᵃⁿᵍ ᵇᵉʳˢᵃⁿᵍᵏᵘᵗᵃⁿ ᵈᵃⁿ ᵘᵃⁿᵍ ᵗⁱᵗⁱᵖᵃⁿ ᵘⁿᵗᵘᵏ ᵐᵉᵐᵇᵃʸᵃʳ ᵍᵃⁿᵗⁱ ʳᵘᵍⁱ ᵗᵉʳʰᵃᵈᵃᵖ ᵏᵉᵘᵃⁿᵍᵃⁿ ⁿᵉᵍᵃʳᵃ ʸᵃⁿᵍ ᵈⁱᵗⁱᵐᵇᵘˡᵏᵃⁿ ᵈᵃˡᵃᵐ ᵖᵉʳᵏᵃʳᵃ ᵗᵉʳˢᵉᵇᵘᵗ ʸᵃⁿᵍ ᵒˡᵉʰ ᵏᵉʲᵃᵏˢᵃᵃⁿ ᵈⁱᵖᵘᵗᵘˢᵏᵃⁿ ᵘⁿᵗᵘᵏ ᵈⁱˢⁱᵗᵃ.
ᴾᵉⁿʲᵉˡᵃˢᵃⁿ ˡᵉᵇⁱʰ ˡᵃⁿʲᵘᵗ ᵈᵃᵖᵃᵗ ᴬⁿᵈᵃ ᵇᵃᶜᵃ ᵘˡᵃˢᵃⁿ ᵈⁱ ᵇᵃʷᵃʰ ⁱⁿⁱ.
ULASAN SELENGKAPNYA;
Terimakasih atas pertanyaan Anda.
Sita Pidana dalam KUHAP
Pada dasarnya, pengaturan perihal penyitaan pidana dapat ditemukan pada KUHAP. Menurut Pasal 1 angka 16 KUHAP, p͟e͟n͟y͟i͟t͟a͟a͟n͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ s͟e͟r͟a͟n͟g͟k͟a͟i͟a͟n͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟a͟n͟ p͟e͟n͟y͟i͟d͟i͟k͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟n͟g͟a͟m͟b͟i͟l͟ a͟l͟i͟h͟ d͟͟a͟͟n͟͟/a͟t͟a͟u͟ m͟e͟n͟y͟i͟m͟p͟a͟n͟ d͟i͟ b͟a͟w͟a͟h͟ k͟͟e͟͟k͟͟u͟͟a͟͟s͟͟a͟͟a͟͟n͟͟n͟͟y͟͟a͟͟, b͟e͟n͟d͟a͟ b͟e͟r͟g͟e͟r͟a͟k͟ a͟t͟a͟u͟ t͟i͟d͟a͟k͟ b͟͟e͟͟r͟͟g͟͟e͟͟r͟͟a͟͟k͟͟, b͟e͟r͟w͟u͟j͟u͟d͟ a͟t͟a͟u͟ t͟i͟d͟a͟k͟ b͟e͟r͟w͟u͟j͟u͟d͟ u͟n͟t͟u͟k͟ k͟e͟p͟e͟n͟t͟i͟n͟g͟a͟n͟ p͟e͟m͟b͟u͟k͟t͟i͟a͟n͟ d͟a͟l͟a͟m͟ p͟͟e͟͟n͟͟y͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, p͟e͟n͟u͟n͟t͟u͟t͟a͟n͟ d͟a͟n͟ p͟͟e͟͟r͟͟a͟͟d͟͟i͟͟l͟͟a͟͟n͟͟.
Lebih lanjut, dalam KUHAP diterangkan bahwa yang dapat dikenakan penyitaan adalah:[¹]
- benda atau tagihan tersangka atau terdakwa yang seluruh atau sebagian diduga diperoleh dari tindakan pidana atau sebagai hasil dari tindak pidana;
- benda yang telah dipergunakan secara langsung untuk melakukan tindak pidana atau untuk mempersiapkannya;
- benda yang dipergunakan untuk menghalang-halangi penyidikan tindak pidana;
- benda yang khusus dibuat atau diperuntukkan melakukan tindak pidana;
- benda lain yang mempunyai hubungan langsung dengan tindak pidana yang dilakukan.
Berdasarkan ketentuan di atas, u͟a͟n͟g͟ d͟a͟r͟i͟ h͟a͟s͟i͟l͟ k͟o͟r͟u͟p͟s͟i͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟m͟a͟n͟a͟ A͟n͟d͟a͟ s͟e͟b͟u͟t͟k͟a͟n͟ d͟a͟l͟a͟m͟ p͟e͟r͟t͟a͟n͟y͟a͟a͟n͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟͟i͟͟k͟͟e͟͟n͟͟a͟͟k͟͟a͟͟n͟͟ p͟e͟n͟y͟i͟t͟a͟a͟n͟ k͟a͟r͟e͟n͟a͟ t͟e͟r͟m͟a͟s͟u͟k͟ b͟e͟n͟d͟a͟ t͟e͟r͟s͟a͟n͟g͟k͟a͟ a͟t͟a͟u͟ t͟e͟r͟d͟a͟k͟w͟a͟ y͟a͟n͟g͟ s͟e͟l͟u͟r͟u͟h͟ a͟t͟a͟u͟ s͟e͟b͟a͟g͟i͟a͟n͟ d͟i͟d͟u͟g͟a͟ d͟i͟p͟e͟r͟o͟l͟e͟h͟ a͟t͟a͟u͟ h͟a͟s͟i͟l͟ d͟a͟r͟i͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟a͟n͟ p͟͟i͟͟d͟͟a͟͟n͟͟a͟͟.
Benda sitaan ini nantinya disimpan dalam rumah penyimpanan benda sitaan negara, yang dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dan bertanggung jawab atasnya ada pada pejabat yang berwenang sesuai dengan tingkat pemeriksaan dalam proses peradilan. D͟e͟n͟g͟a͟n͟ c͟͟a͟͟t͟͟a͟͟t͟͟a͟͟n͟͟, b͟e͟n͟d͟a͟ t͟e͟r͟s͟e͟b͟u͟t͟ d͟i͟l͟a͟r͟a͟n͟g͟ u͟n͟t͟u͟k͟ d͟i͟p͟e͟r͟g͟u͟n͟a͟k͟a͟n͟ o͟l͟e͟h͟ s͟i͟a͟p͟a͟p͟u͟n͟ j͟͟u͟͟g͟͟a͟͟.[²]
Kemudian, b͟e͟n͟d͟a͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟k͟e͟n͟a͟k͟a͟n͟ p͟e͟n͟y͟i͟t͟a͟a͟n͟ d͟i͟k͟e͟m͟b͟a͟l͟i͟k͟a͟n͟ k͟e͟p͟a͟d͟a͟ m͟e͟r͟e͟k͟a͟ d͟a͟r͟i͟ s͟i͟a͟p͟a͟ b͟e͟n͟d͟a͟ i͟t͟u͟ d͟͟i͟͟s͟͟i͟͟t͟͟a͟͟, atau kepada orang atau kepada mereka yang paling berhak apabila:[³]
- kepentingan penyidikan dan penuntutan tidak memerlukan lagi;
- perkara tersebut tidak jadi dituntut karena tidak cukup bukti atau ternyata tidak merupakan tindak pidana;
- perkara tersebut dikesampingkan untuk kepentingan umum atau perkara tersebut ditutup demi hukum, kecuali apabila benda itu diperoleh dari suatu tindak pidana atau yang dipergunakan untuk melakukan tindak pidana.
Dalam hal perkara sudah diputus, maka benda yang dikenakan penyitaan juga dikembalikan kepada orang atau kepada mereka yang disebut dalam putusan tersebut. Hal ini kecuali jika menurut p͟u͟t͟u͟s͟a͟n͟ h͟a͟k͟i͟m͟ b͟e͟n͟d͟a͟ i͟t͟u͟ d͟i͟r͟a͟m͟p͟a͟s͟ u͟n͟t͟u͟k͟ n͟͟e͟͟g͟͟a͟͟r͟͟a͟͟, u͟n͟t͟u͟k͟ d͟i͟m͟u͟s͟n͟a͟h͟k͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ u͟n͟t͟u͟k͟ d͟i͟r͟u͟s͟a͟k͟k͟a͟n͟ s͟a͟m͟p͟a͟i͟ t͟i͟d͟a͟k͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟p͟e͟r͟g͟u͟n͟a͟k͟a͟n͟ l͟͟a͟͟g͟͟i͟͟, a͟t͟a͟u͟ j͟i͟k͟a͟ b͟e͟n͟d͟a͟ t͟e͟r͟s͟e͟b͟u͟t͟ m͟a͟s͟i͟h͟ d͟i͟p͟e͟r͟l͟u͟k͟a͟n͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ b͟a͟r͟a͟n͟g͟ b͟u͟k͟t͟i͟ d͟a͟l͟a͟m͟ p͟e͟r͟k͟a͟r͟a͟ l͟͟a͟͟i͟͟n͟͟.[⁴]
Lantas, apa dasar hukum penampilan barang sitaan kasus korupsi?
Penampilan Barang Sitaan
Sepanjang penelusuran kami, tidak terdapat aturan yang secara khusus mengatur perihal memamerkan atau menampilkan barang sitaan korupsi. Akan tetapi dalam hal lain seperti pemusnahan barang rampasan tertentu yang menarik perhatian masyarakat seperti narkotika, psikotropika atau alat tangkap ikan, menurut Pedoman Jaksa Agung Nomor 24 Tahun 2021 (hal. 79) dapat dilakukan dengan mengundang Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan/atau tokoh masyarakat setempat serta dipublikasikan.
Hal yang sama juga dilakukan pada pelaksanaan pemusnahan barang rampasan berupa senjata api dan/atau bahan peledak berbahaya lainnya, sedapat mungkin dilakukan dengan koordinasi Polres dan/atau Kodim setempat dan dipublikasikan. (hal. 79)
Walaupun tidak terdapat ketentuan yang mengatur hal tersebut, menurut hemat kami, t͟i͟n͟d͟a͟k͟a͟n͟ m͟e͟m͟a͟m͟e͟r͟k͟a͟n͟ u͟a͟n͟g͟ s͟i͟t͟a͟a͟n͟ i͟n͟i͟ b͟e͟r͟t͟u͟j͟u͟a͟n͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟n͟a͟m͟p͟i͟l͟k͟a͟n͟ t͟r͟a͟n͟s͟p͟a͟r͟a͟n͟s͟i͟ d͟a͟n͟ k͟e͟t͟e͟r͟b͟u͟k͟a͟a͟n͟ t͟e͟r͟h͟a͟d͟a͟p͟ p͟͟u͟͟b͟͟l͟͟i͟͟k͟͟, m͟e͟n͟g͟e͟n͟a͟i͟ k͟a͟s͟u͟s͟ k͟o͟r͟u͟p͟s͟i͟ y͟a͟n͟g͟ s͟e͟d͟a͟n͟g͟ d͟͟i͟͟t͟͟a͟͟n͟͟g͟͟a͟͟n͟͟i͟͟.
Hal ini juga berkaitan dengan peran media massa dalam pemberantasan korupsi. Dengan mempublikasikan uang sitaan yang dapat diliput oleh media, masyarakat luas dan media dapat berfungsi sebagai pengawas yang dapat mengiringi kasus korupsi yang diusut sampai tuntas.[⁵] Dalam hal ini, khususnya media berperan memantau dan memastikan penyampaian informasi yang dapat mendorong akuntabilitas publik dan transparansi dalam pemerintahan.[⁶]
Perihal pertanyaan Anda, apakah yang dipamerkan tersebut merupakan uang sita atau uang jaminan? Kami tidak menemukan istilah uang jaminan dalam suatu penanganan perkara tindak pidana korupsi (“Tipikor”). Jika dilihat dalam artikel Kejagung Bakal Masukkan Uang Sitaan Rp1,3 Triliun dari Perkara CPO Sebagai Bagian Memori Kasasi pada laman Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Republik Indonesia, d͟i͟j͟e͟l͟a͟s͟k͟a͟n͟ b͟a͟h͟w͟a͟ t͟i͟d͟a͟k͟ a͟d͟a͟ i͟s͟t͟i͟l͟a͟h͟ u͟a͟n͟g͟ j͟͟a͟͟m͟͟i͟͟n͟͟a͟͟n͟͟. Uang yang ditampilkan tersebut merupakan u͟a͟n͟g͟ t͟i͟t͟i͟p͟a͟n͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟m͟b͟a͟y͟a͟r͟ g͟a͟n͟t͟i͟ r͟u͟g͟i͟ t͟e͟r͟h͟a͟d͟a͟p͟ k͟e͟u͟a͟n͟g͟a͟n͟ n͟e͟g͟a͟r͟a͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟t͟i͟m͟b͟u͟l͟k͟a͟n͟ d͟a͟l͟a͟m͟ p͟e͟r͟k͟a͟r͟a͟ t͟͟e͟͟r͟͟s͟͟e͟͟b͟͟u͟͟t͟͟. Uang titipan ini diputuskan oleh Kejaksaan untuk disita.
Ganti rugi terhadap keuangan negara sendiri merupakan pidana tambahan yang secara khusus diatur dalam UU Tipikor. Hal ini sebagaimana diterangkan dalam Pasal 18 ayat (1) UU Tipikor, yang berbunyi:
Selain pidana tambahan sebagaimana dimaksud dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, sebagai pidana tambahan adalah:
a. perampasan barang
bergerak yang
berwujud atau yang
tidak berwujud atau
barang tidak
bergerak yang
digunakan untuk
atau yang diperoleh
dari tindak pidana
korupsi, termasuk
perusahaan milik
terpidana di mana
tindak pidana
korupsi dilakukan,
begitu pula dari
barang yang
menggantikan
barang-barang
tersebut;
b. pembayaran uang
pengganti yang
jumlahnya
sebanyak-
banyaknya sama
dengan harta
benda yang
diperoleh dari
tindak pidana
korupsi;
c. penutupan seluruh
atau sebagian
perusahan untuk
waktu paling lama 1
tahun;
d. pencabutan seluruh
atau sebagian
hak-hak tertentu
atau penghapusan
seluruh atau
sebagian
keuntungan tertentu,
yang telah atau
dapat diberikan oleh
pemerintah kepada
terpidana.
Perihal jumlahnya, Pasal 1 Perma 5/2014, m͟e͟n͟e͟r͟a͟n͟g͟k͟a͟n͟ b͟a͟h͟w͟a͟ d͟a͟l͟a͟m͟ m͟e͟n͟e͟n͟t͟u͟k͟a͟n͟ j͟u͟m͟l͟a͟h͟ p͟e͟m͟b͟a͟y͟a͟r͟a͟n͟ u͟a͟n͟g͟ p͟e͟n͟g͟g͟a͟n͟t͟i͟ d͟͟a͟͟l͟͟a͟͟m͟͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ k͟o͟r͟u͟p͟s͟i͟ a͟͟d͟͟a͟͟l͟͟a͟͟h͟͟ s͟e͟b͟a͟n͟y͟a͟k͟-b͟a͟n͟y͟a͟k͟n͟y͟a͟ s͟a͟m͟a͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ h͟a͟r͟t͟a͟ b͟e͟n͟d͟a͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟p͟e͟r͟o͟l͟e͟h͟ d͟a͟r͟i͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ k͟o͟r͟u͟p͟s͟i͟ d͟a͟n͟ b͟u͟k͟a͟n͟ s͟e͟m͟a͟t͟a͟-m͟a͟t͟a͟ s͟e͟j͟u͟m͟l͟a͟h͟ k͟e͟r͟u͟g͟i͟a͟n͟ n͟e͟g͟a͟r͟a͟ y͟a͟n͟g͟ d͟͟i͟͟a͟͟k͟͟i͟͟b͟͟a͟͟t͟͟k͟͟a͟͟n͟͟. Perlu diperhatikan bahwa hasil korupsi yang telah disita terlebih dahulu oleh penyidik harus diperhitungkan dalam menentukan jumlah uang pengganti yang harus dibayarkan terpidana.[⁷]
Jangka waktu pembayaran uang pengganti oleh terpidana adalah 1 bulan sesudah putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. Jika terpidana tidak membayar selama tenggat waktu tersebut, m͟a͟k͟a͟ h͟a͟r͟t͟a͟ b͟e͟d͟a͟n͟y͟a͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟s͟i͟t͟a͟ o͟l͟e͟h͟ j͟a͟k͟s͟a͟ d͟a͟n͟ d͟i͟l͟e͟l͟a͟n͟g͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟n͟u͟t͟u͟p͟i͟ u͟a͟n͟g͟ p͟e͟n͟g͟g͟a͟n͟t͟i͟ t͟͟͟e͟͟͟r͟͟͟s͟͟͟e͟͟͟b͟͟͟u͟͟͟t͟͟͟.[⁸] Penyitaan ini dimaksudkan sebagai alat pemaksa terhadap terpidana untuk segera melunaskan kewajibannya tersebut, sekaligus jaminan apabila setelah dikenakan penyitaan terpidana masih tetap tidak melunasi kewajibannya maka harta benda tersebut akan dilelang untuk melunasinya.[⁹]
Jika setelah dilakukan penyitaan terpidana tetap tidak melunasi pembayaran uang pengganti, jaksa wajib melelang harta benda tersebut dengan berpedoman pada Pasal 273 ayat (3) KUHAP y͟a͟n͟g͟ p͟͟͟e͟͟͟l͟͟͟a͟͟͟k͟͟͟s͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟y͟͟͟a͟͟͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ s͟e͟l͟a͟m͟b͟a͟t͟-l͟a͟m͟b͟a͟t͟n͟y͟a͟ 3 b͟u͟l͟a͟n͟ s͟e͟t͟e͟l͟a͟h͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ p͟͟e͟͟n͟͟y͟͟i͟͟t͟͟a͟͟a͟͟n͟͟.[¹⁰]
T͟e͟r͟h͟a͟d͟a͟p͟ t͟e͟r͟p͟i͟d͟a͟n͟a͟ y͟a͟n͟g͟ t͟i͟d͟a͟k͟ m͟e͟m͟p͟u͟n͟y͟a͟i͟ h͟a͟r͟t͟a͟ b͟e͟n͟d͟a͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟c͟u͟k͟u͟p͟i͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟m͟b͟a͟y͟a͟r͟ u͟a͟n͟g͟ p͟͟e͟͟n͟͟g͟͟g͟͟a͟͟n͟͟t͟͟i͟͟, m͟a͟k͟a͟ d͟i͟p͟i͟d͟a͟n͟a͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ p͟e͟n͟j͟a͟r͟a͟ y͟a͟n͟g͟ l͟a͟m͟a͟n͟y͟a͟ t͟i͟d͟a͟k͟ m͟e͟l͟e͟b͟i͟h͟i͟ a͟n͟c͟a͟m͟a͟n͟ m͟a͟k͟s͟i͟m͟u͟m͟ d͟a͟r͟i͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ p͟o͟k͟o͟k͟n͟y͟a͟ sesuai dengan ketentuan dalam UU Tipikor dan perubahannya serta lamanya pidana tersebut sudah ditentukan dalam putusan pengadilan.[¹¹]
Berdasarkan penjelasan di atas, p͟a͟d͟a͟ d͟a͟s͟a͟r͟n͟y͟a͟ u͟n͟t͟u͟k͟ k͟e͟p͟e͟n͟t͟i͟n͟g͟a͟n͟ p͟e͟m͟b͟u͟k͟t͟i͟a͟n͟ d͟a͟l͟a͟m͟ p͟͟e͟͟n͟͟y͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, p͟e͟n͟u͟n͟t͟u͟t͟a͟n͟ d͟a͟n͟ p͟e͟r͟a͟d͟i͟l͟a͟n͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟n͟y͟i͟t͟a͟a͟n͟ t͟e͟r͟h͟a͟d͟a͟p͟ u͟a͟n͟g͟ h͟a͟s͟i͟l͟ k͟͟o͟͟r͟͟u͟͟p͟͟s͟͟i͟͟. Perihal memamerkan atau mempublikasikan uang sitaan kasus korupsi ini tidak terdapat ketentuan yang secara khusus mengaturnya. Namun dalam prakteknya, kami berpendapat h͟a͟l͟ i͟n͟i͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ b͟e͟n͟t͟u͟k͟ t͟r͟a͟n͟s͟p͟a͟r͟a͟n͟s͟i͟ d͟a͟n͟ k͟e͟t͟e͟r͟b͟u͟k͟a͟a͟n͟ t͟e͟r͟h͟a͟d͟a͟p͟ p͟u͟b͟l͟i͟k͟ m͟e͟n͟g͟e͟n͟a͟i͟ k͟a͟s͟u͟s͟ k͟o͟r͟u͟p͟s͟i͟ y͟a͟n͟g͟ s͟e͟d͟a͟n͟g͟ d͟͟i͟͟t͟͟a͟͟n͟͟g͟͟a͟͟n͟͟i͟͟. Adapun uang yang dipamerkan ini dari keterangan di atas bersumber dari uang hasil sitaan perkara korupsi yang bersangkutan dan uang titipan untuk membayar ganti rugi terhadap keuangan negara yang ditimbulkan dalam perkara tersebut yang oleh Kejaksaan diputuskan untuk disita.
Terhadap uang titipan ini, j͟i͟k͟a͟ d͟a͟l͟a͟m͟ p͟u͟t͟u͟s͟a͟n͟ h͟a͟k͟i͟m͟ t͟i͟d͟a͟k͟ t͟e͟r͟b͟u͟k͟t͟i͟ b͟͟e͟͟r͟͟s͟͟a͟͟l͟͟a͟͟h͟͟, menurut hemat kami u͟a͟n͟g͟ t͟i͟t͟i͟p͟a͟n͟ i͟n͟i͟ d͟i͟k͟e͟m͟b͟a͟l͟i͟k͟a͟n͟ k͟e͟p͟a͟d͟a͟ p͟i͟h͟a͟k͟ y͟a͟n͟g͟ b͟e͟r͟h͟a͟k͟ k͟a͟r͟e͟n͟a͟ p͟a͟d͟a͟ d͟a͟s͟a͟r͟n͟y͟a͟ t͟i͟d͟a͟k͟ a͟d͟a͟ k͟e͟w͟a͟j͟i͟b͟a͟n͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟m͟b͟a͟y͟a͟r͟ u͟a͟n͟g͟ p͟e͟n͟g͟g͟a͟n͟t͟i͟ karena putusan tersebut tidak mengakibatkan terdakwa menjadi terpidana.
Namun, karena uang titipan ini disita oleh Kejaksaan, m͟a͟k͟a͟ p͟e͟n͟g͟e͟m͟b͟a͟l͟i͟a͟n͟ u͟a͟n͟g͟ t͟e͟r͟s͟e͟b͟u͟t͟ b͟e͟r͟a͟d͟a͟ p͟a͟d͟a͟ w͟e͟w͟e͟n͟a͟n͟g͟ h͟a͟k͟i͟m͟ u͟n͟t͟u͟k͟ d͟i͟k͟e͟m͟b͟a͟l͟i͟k͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ t͟͟i͟͟d͟͟a͟͟k͟͟. Hal ini k͟a͟r͟e͟n͟a͟ h͟a͟k͟i͟m͟ d͟a͟p͟a͟t͟ m͟e͟m͟u͟t͟u͟s͟k͟a͟n͟ a͟p͟a͟k͟a͟h͟ u͟a͟n͟g͟ t͟e͟r͟s͟e͟b͟u͟t͟ d͟i͟r͟a͟m͟p͟a͟s͟ u͟n͟t͟u͟k͟ n͟͟e͟͟g͟͟a͟͟r͟͟a͟͟, u͟n͟t͟u͟k͟ d͟i͟m͟u͟s͟n͟a͟h͟k͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ u͟n͟t͟u͟k͟ d͟i͟r͟u͟s͟a͟k͟k͟a͟n͟ s͟a͟m͟p͟a͟i͟ t͟i͟d͟a͟k͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟p͟e͟r͟g͟u͟n͟a͟k͟a͟n͟ l͟͟a͟͟g͟͟i͟͟, a͟t͟a͟u͟ b͟e͟n͟d͟a͟ t͟e͟r͟s͟e͟b͟u͟t͟ m͟a͟s͟i͟h͟ d͟i͟p͟e͟r͟l͟u͟k͟a͟n͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ b͟a͟r͟a͟n͟g͟ b͟u͟k͟t͟i͟ d͟a͟l͟a͟m͟ p͟e͟r͟k͟a͟r͟a͟ l͟͟a͟͟i͟͟n͟͟.
Sebagai informasi, pengembalian/penyelamatan kerugian keuangan negara menjadi unsur penting dalam pedoman tuntutan pidana perkara tindak pidana korupsi. Hal ini sebagaimana diatur dalam SE Jaksa Agung 003/2010.
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat dan dapat dijadikan pembelajaran untuk kita semua terlebih untuk penanya dan Paralegal ubklawyers pada khususnya.
D͟a͟s͟a͟r͟ H͟u͟k͟u͟m͟:
- Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana;
- Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi;
- Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi;
- Peraturan Mahkamah Agung Nomor 5 Tahun 2014 tentang Pidana Tambahan Uang Pengganti dalam Tindak Pidana Korupsi;
- Pedoman Jaksa Agung Nomor 24 Tahun 2021 tentang Penanganan Perkara Tindak Pidana Umum;
- Surat Edaran Jaksa Agung Nomor SE-003/A/JA/02/2010 Tahun 2010 tentang Pedoman Tuntutan Pidana Perkara Tindak Pidana Korupsi.
Artikel ini dibuat oleh Muhammad Raihan Nugraha. SH, dipublikasikan “..Hukumonline.com..” dengan judul Adakah Dasar Hukum Publikasi Uang Sitaan Korupsi? pada tanggal 30 Juli 2025. Dan diteruskan oleh ubklawyers pada tanggal 27 Agustus 2025.
Seluruh Informasi Hukum yang ada di LBH-UMAR BIN KHATTAB disiapkan semata-mata untuk t͟͟͟u͟͟͟j͟͟͟u͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟ p͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, p͟e͟m͟b͟e͟l͟a͟j͟a͟r͟a͟n͟ dan b͟e͟r͟s͟i͟f͟a͟t͟ u͟m͟u͟m͟. Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan Pengacara, Konsultan Hukum dan/atau Paralegal UBK LAWYERS.
Sedang menghadapi permasalahan hukum? A͟j͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟t͟a͟n͟y͟a͟a͟n͟ melalui email, telepon atau chat.👇🏼
Email:
ubklawyer@gmail.com
Telepon/Chat:
089666552118
Berkenan G͟a͟b͟u͟n͟g͟ G͟r͟o͟u͟p͟, untuk jadi bagian Keluarga Besar UBK LAWYERS. Klik link dibawah.👇🏼
I͟K͟U͟T͟I͟ W͟h͟a͟t͟s͟A͟p͟p͟ C͟h͟a͟n͟n͟e͟l͟ LBH-UMAR BIN KHATTAB. Untuk memperkaya Riset Hukum Anda, klik link dibawah.👇🏼
🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸
#cerdashukum
#studylawtogether
#ubklawyers

