Oleh: Suhaeli Nawawi
Pendahuluan Ilmiah
INDRAMAYU — Dalam ranah fisika modern, realitas materi dipahami melalui interaksi partikel elementer. Dua proses fundamental yang menjadi dasar dinamika kosmik adalah perakitan (assembly), yakni penyusunan partikel elementer menjadi struktur atom dan molekul, serta pertukaran (exchange), yaitu interaksi antar-partikel melalui mediator gaya fundamental (misalnya foton sebagai pembawa gaya elektromagnetik).
Proses ini menunjukkan bahwa alam semesta bersandar pada dua pilar: keteraturan struktur dan dinamika interaksi. Dengan perakitan, terbentuklah stabilitas kosmos; dengan pertukaran, terjadi transformasi dan keberlanjutan.
Contoh Kasus Ilmiah
1.Perakitan Partikel dalam Atom
Elektron, proton, dan neutron membentuk atom hidrogen maupun atom kompleks lain melalui interaksi elektromagnetik dan gaya nuklir kuat. Inilah “bangunan dasar” dari seluruh materi.
Proton dan neutron sendiri terbentuk dari quark yang terikat oleh gluon.
Elektron “dirakit” dalam orbital atom berdasarkan prinsip mekanika kuantum.
2.Pertukara Partikel dalam Interaksi
Pertukaran foton virtual antara elektron dan proton menghasilkan gaya elektromagnetik yang menjaga stabilitas atom. Dalam gaya nuklir, pertukaran pion virtual menjaga kohesi inti atom.
Artinya, realitas materi bukan hanya “dirakit” tetapi juga “dipelihara” melalui pertukaran yang terus-menerus.
Eksternalisme dan Internalisme
Internalisme (imanen): realitas atom dan partikel dianggap cukup dijelaskan dengan hukum alam internal, seperti mekanika kuantum, relativitas, dan teori medan kuantum. Dari perspektif ini, keteraturan alam semesta bersifat emergen dari hukum-hukum fisika itu sendiri.
Pandangan Internalisme menyatakan bahwa suatu entitas atau peristiwa terbentuk semata-mata dari unsur-unsur internalnya. Segala perubahan atau kejadian dianggap sebagai hasil dari kinerja variabel-variabel yang sepenuhnya berada di dalam sistem itu sendiri, tanpa memerlukan pengaruh atau kontribusi eksternal.
Eksternalisme (transenden): realitas atom dipandang tidak sepenuhnya otonom. Ada unsur eksternal—yakni prinsip metafisik dan transenden—yang menopang keberadaan dan keteraturan. Ayat Al-Qur’an menekankan bahwa bahkan “dzarrah (atom) dan yang lebih kecil” berada dalam pengetahuan dan ketetapan Tuhan.
Pandangan Eksternalisme menyatakan bahwa suatu entitas atau peristiwa dapat terbentuk dari unsur-unsur yang ada di dalam dirinya sekaligus unsur-unsur yang berada di luar dirinya—baik yang dapat diamati maupun yang tidak dapat diamati. Dalam pandangan ini, realitas diakui memiliki interaksi antara faktor internal dan eksternal.
Perspektif Qur’ani
Al-Qur’an menyatakan:
“Dan tiada sesuatu pun yang tersembunyi dari Tuhanmu, walau seberat atom (dzarrah) di bumi dan di langit, dan tidak pula yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan semuanya (tertulis) dalam kitab yang nyata.”
(QS. Yunus: 61)
Ayat ini menegaskan bahwa keberadaan partikel terkecil sekalipun, dan bahkan yang lebih kecil dari atom (sesuai pemahaman partikel subatomik modern), berada dalam cakupan pengetahuan dan ketetapan ilahi.
Integrasi Sains dan Teologi
Sains: menjelaskan bagaimana atom terbentuk melalui perakitan partikel dan dijaga melalui pertukaran gaya fundamental.
Teologi: menjelaskan bahwa keteraturan dan eksistensi partikel bukanlah otonom, melainkan bergantung pada kehendak transenden (Allah).
Dengan demikian, relasi antara perakitan–pertukaran (dunia fisika) dan eksternalisme–internalisme (dunia filsafat dan teologi) menghasilkan gambaran integratif: realitas fisik adalah jejak keteraturan ilahi yang dapat ditangkap baik oleh mikroskop ilmiah maupun oleh kesadaran iman.
Akhir kalam, والله اعلم بالصواب
