INDRAMAYU, (lintaspa turaindonesia.com) — PERTANYAAN:
Apakah tindakan orang tua yang menolak perawatan medis terhadap pasien anak dapat dikategorikan sebagai tindak pidana? Atas pencerahannya diucapkan terimakasih, untuk ubklawyers dan paralegalnya semoga dimudahkan segala permasalahannya. Aamiin..
Wassalam,
Kaswara – Penjalin Citty
•••••••••••••••••••••••••••••
“INTISARI JAWABAN”
【ℌ𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔓𝔦𝔡𝔞𝔫𝔞】
𝔗𝔦𝔫𝔡𝔞𝔨𝔞𝔫 𝔭𝔢𝔫𝔬𝔩𝔞𝔨𝔞𝔫 𝔭𝔢𝔯𝔞𝔴𝔞𝔱𝔞𝔫 𝔪𝔢𝔡𝔦𝔰 𝔩𝔞𝔷𝔦𝔪 𝔡𝔦𝔰𝔢𝔟𝔲𝔱 𝔰𝔢𝔟𝔞𝔤𝔞𝔦 𝔭𝔢𝔫𝔬𝔩𝔞𝔨𝔞𝔫 𝔱𝔦𝔫𝔡𝔞𝔨𝔞𝔫 𝔨𝔢𝔡𝔬𝔨𝔱𝔢𝔯𝔞𝔫 𝔞𝔱𝔞𝔲 𝔦𝔫𝔣𝔬𝔯𝔪𝔢𝔡 𝔯𝔢𝔣𝔲𝔰𝔞𝔩. 𝔗𝔢𝔯𝔨𝔞𝔦𝔱 𝔥𝔞𝔩 𝔦𝔫𝔦, 𝔭𝔞𝔰𝔦𝔢𝔫 𝔭𝔞𝔡𝔞 𝔡𝔞𝔰𝔞𝔯𝔫𝔶𝔞 𝔟𝔢𝔯𝔥𝔞𝔨 𝔲𝔫𝔱𝔲𝔨 𝔪𝔢𝔩𝔞𝔨𝔲𝔨𝔞𝔫 𝔭𝔢𝔫𝔬𝔩𝔞𝔨𝔞𝔫 𝔱𝔢𝔯𝔥𝔞𝔡𝔞𝔭 𝔰𝔢𝔱𝔦𝔞𝔭 𝔱𝔦𝔫𝔡𝔞𝔨𝔞𝔫 𝔨𝔢𝔡𝔬𝔨𝔱𝔢𝔯𝔞𝔫 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔞𝔨𝔞𝔫 𝔡𝔦𝔟𝔢𝔯𝔦𝔨𝔞𝔫. 𝔰𝔢𝔱𝔢𝔩𝔞𝔥 𝔦𝔞 𝔪𝔢𝔫𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔭𝔢𝔫𝔧𝔢𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔠𝔲𝔨𝔲𝔭 𝔪𝔢𝔫𝔤𝔢𝔫𝔞𝔦 𝔱𝔦𝔫𝔡𝔞𝔨𝔞𝔫 𝔱𝔢𝔯𝔰𝔢𝔟𝔲𝔱.
𝔏𝔞𝔫𝔱𝔞𝔰, 𝔞𝔭𝔞𝔨𝔞𝔥 𝔭𝔢𝔯𝔟𝔲𝔞𝔱𝔞𝔫 𝔬𝔯𝔞𝔫𝔤 𝔱𝔲𝔞 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔪𝔢𝔫𝔬𝔩𝔞𝔨 𝔭𝔢𝔯𝔞𝔴𝔞𝔱𝔞𝔫 𝔪𝔢𝔡𝔦𝔰 𝔱𝔢𝔯𝔥𝔞𝔡𝔞𝔭 𝔞𝔫𝔞𝔨𝔫𝔶𝔞 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔡𝔦𝔭𝔦𝔡𝔞𝔫𝔞?
𝔓𝔢𝔫𝔧𝔢𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔩𝔢𝔟𝔦𝔥 𝔩𝔞𝔫𝔧𝔲𝔱 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔄𝔫𝔡𝔞 𝔟𝔞𝔠𝔞 𝔲𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔡𝔦 𝔟𝔞𝔴𝔞𝔥 𝔦𝔫𝔦.
ULASAN SELENGKAPNYA;
Terima kasih atas pertanyaan Anda.
Tindakan Kedokteran
Sebelumnya, kami perlu menegaskan kembali bahwa yang Anda tanyakan adalah “tindakan orang tua” yang menolak perawatan medis terhadap pasien anak, bukan tindakan rumah sakit ataupun tenaga kesehatan yang menolak untuk memberikan perawatan medis” seperti yang sering terjadi.
Pada dasarnya, sebelum mendapat perawatan medis (tindakan kedokteran), tenaga medis harus terlebih dahulu mendapatkan persetujuan dari pasien. Hal ini sebagaimana diatur dalam Permenkes 290/2008. Persetujuan tersebut sering disebut sebagai persetujuan tindakan kedokteran atau informed consent, yaitu p͟e͟r͟s͟e͟t͟u͟j͟u͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟b͟e͟r͟i͟k͟a͟n͟ o͟l͟e͟h͟ p͟͟a͟͟s͟͟i͟͟e͟͟n͟͟ a͟t͟a͟u͟ k͟e͟l͟u͟a͟r͟g͟a͟ t͟e͟r͟d͟e͟k͟a͟t͟ s͟e͟t͟e͟l͟a͟h͟ m͟e͟n͟d͟a͟p͟a͟t͟k͟a͟n͟ p͟e͟n͟j͟e͟l͟a͟s͟a͟n͟ s͟e͟c͟a͟r͟a͟ l͟e͟n͟g͟k͟a͟p͟ m͟e͟n͟g͟e͟n͟a͟i͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟a͟n͟ k͟e͟d͟o͟k͟t͟e͟r͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ k͟e͟d͟o͟k͟t͟e͟r͟a͟n͟ g͟i͟g͟i͟ y͟a͟n͟g͟ a͟k͟a͟n͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ t͟e͟r͟h͟a͟d͟a͟p͟ p͟͟a͟͟s͟͟i͟͟e͟͟n͟͟.[¹]
Sedangkan yang dimaksud dengan tindakan kedokteran atau kedokteran gigi (“tindakan kedokteran”) adalah s͟u͟a͟t͟u͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟a͟n͟ m͟e͟d͟i͟s͟ b͟e͟r͟u͟p͟a͟ p͟͟r͟͟e͟͟v͟͟e͟͟n͟͟t͟͟i͟͟f͟͟, d͟͟i͟͟a͟͟g͟͟n͟͟o͟͟s͟͟t͟͟i͟͟k͟͟, t͟͟e͟͟r͟͟a͟͟p͟͟e͟͟u͟͟t͟͟i͟͟k͟͟, a͟t͟a͟u͟ r͟e͟h͟a͟b͟i͟l͟i͟t͟a͟t͟i͟f͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ o͟l͟e͟h͟ d͟o͟k͟t͟e͟r͟ a͟t͟a͟u͟ d͟o͟k͟t͟e͟r͟ g͟i͟g͟i͟ t͟e͟r͟h͟a͟d͟a͟p͟ p͟͟a͟͟s͟͟i͟͟e͟͟n͟͟.[²]
Dari definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa perawatan medis yang Anda sebutkan merupakan tindakan kedokteran.
Persetujuan dan Penolakan Tindakan Kedokteran
Persetujuan dapat diberikan oleh pasien yang kompeten atau keluarga terdekat.[³] Adapun penilaian terhadap k͟o͟m͟p͟e͟t͟e͟n͟s͟i͟ p͟a͟s͟i͟e͟n͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ o͟l͟e͟h͟ d͟o͟k͟t͟e͟r͟ a͟t͟a͟u͟ d͟o͟k͟t͟e͟r͟ g͟i͟g͟i͟ s͟e͟b͟e͟l͟u͟m͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟a͟n͟ k͟e͟d͟o͟k͟t͟e͟r͟a͟n͟ d͟͟i͟͟l͟͟a͟͟k͟͟u͟͟k͟͟a͟͟n͟͟.[⁴]
Sebagai informasi, pasien yang kompeten menurut Pasal 1 angka 7 Permenkes 290/2008 adalah:
- Pasien dewasa atau bukan anak menurut peraturan perundang-undangan atau telah/pernah menikah, tidak terganggu kesadaran fisiknya, mampu berkomunikasi secara wajar, tidak mengalami kemunduran perkembangan (retardasi) mental dan tidak mengalami penyakit mental sehingga mampu membuat keputusan secara bebas.
Untuk pasien yang tidak termasuk pasien yang kompeten, misalnya a͟͟n͟͟a͟͟k͟͟-a͟͟n͟͟a͟͟k͟͟, p͟e͟r͟s͟e͟t͟u͟j͟u͟a͟n͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟b͟e͟r͟i͟k͟a͟n͟ o͟l͟e͟h͟ k͟e͟l͟u͟a͟r͟g͟a͟ t͟͟e͟͟r͟͟d͟͟e͟͟k͟͟a͟͟t͟͟. Yang termasuk dalam keluarga terdekat di sini adalah suami atau istri, ayah atau ibu kandung, anak-anak kandung, saudara-saudara kandung atau pengampunya.[⁵]
Hal yang sama juga berlaku dalam hal penolakan terhadap tindakan kedokteran (informed refusal). Pasien dan/atau keluarga terdekatnya dapat menolak setiap tindakan kedokteran yang akan dilakukan setelah pasien dan/atau keluarga terdekatnya menerima penjelasan mengenai tindakan kedokteran yang akan dilakukan.[⁶] P͟e͟n͟o͟l͟a͟k͟a͟n͟ t͟e͟r͟h͟a͟d͟a͟p͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟a͟n͟ k͟e͟d͟o͟k͟t͟e͟r͟a͟n͟ h͟a͟r͟u͟s͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ s͟e͟c͟a͟r͟a͟ t͟͟͟e͟͟͟r͟͟͟t͟͟͟u͟͟͟l͟͟͟i͟͟͟s͟͟͟.[⁷] Namun, perlu diperhatikan juga akibat dari penolakan terhadap tindakan kedokteran ini, yaitu segala akibat yang terjadi akan menjadi tanggung jawab pasien atau menjadi tanggung jawab keluarga pasien bagi pasien yang tidak kompeten.[⁸]
Oleh karena itu, p͟e͟n͟o͟l͟a͟k͟a͟n͟ t͟e͟r͟h͟a͟d͟a͟p͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟a͟n͟ k͟e͟d͟o͟k͟t͟e͟r͟a͟n͟ p͟a͟d͟a͟ d͟a͟s͟a͟r͟n͟y͟a͟ b͟u͟k͟a͟n͟ m͟e͟r͟u͟p͟a͟k͟a͟n͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ d͟͟i͟͟l͟͟a͟͟r͟͟a͟͟n͟͟g͟͟, n͟a͟m͟u͟n͟ t͟a͟n͟g͟g͟u͟n͟g͟ j͟a͟w͟a͟b͟ a͟t͟a͟s͟ s͟e͟g͟a͟l͟a͟ a͟k͟i͟b͟a͟t͟ y͟a͟n͟g͟ t͟e͟r͟j͟a͟d͟i͟ a͟k͟a͟n͟ m͟e͟n͟j͟a͟d͟i͟ t͟a͟n͟g͟g͟u͟n͟g͟ j͟a͟w͟a͟b͟ p͟a͟s͟i͟e͟n͟ a͟t͟a͟u͟ m͟͟͟e͟͟͟n͟j͟a͟d͟i͟ t͟a͟n͟g͟g͟u͟n͟g͟ j͟a͟w͟a͟b͟ k͟e͟l͟u͟a͟r͟g͟a͟ t͟e͟r͟d͟e͟k͟a͟t͟ p͟͟a͟͟s͟͟i͟͟e͟͟n͟͟ a͟p͟a͟b͟i͟l͟a͟ p͟a͟s͟i͟e͟n͟ b͟u͟k͟a͟n͟ p͟a͟s͟i͟e͟n͟ y͟a͟n͟g͟ k͟͟o͟͟m͟͟p͟͟e͟͟t͟͟e͟͟n͟͟. Berdasarkan kasus Anda, tanggung jawab mengenai kesehatan anak akibat penolakan terhadap tindakan kedokteran akan menjadi tanggung jawab dari orang tuanya.
Menjawab pertanyaan Anda, jika mengacu pada Permenkes 290/2008, maka t͟i͟d͟a͟k͟ a͟d͟a͟ k͟e͟t͟e͟n͟t͟u͟a͟n͟ s͟a͟n͟k͟s͟i͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ b͟a͟g͟i͟ o͟r͟a͟n͟g͟ t͟u͟a͟ y͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟g͟͟͟ m͟e͟n͟o͟l͟a͟k͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟n͟y͟a͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟a͟n͟ k͟e͟d͟o͟k͟t͟e͟r͟a͟n͟ t͟e͟r͟h͟a͟d͟a͟p͟ a͟n͟a͟k͟n͟y͟a͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ p͟͟a͟͟s͟͟i͟͟e͟͟n͟͟. Lalu bagaimana ketentuan di peraturan perundang-undangan lain?
Kewajiban dan Tanggung Jawab Orang Tua atas Kesehatan Anak
Pasal 8 UU Perlindungan Anak menyatakan secara jelas mengenai h͟a͟k͟ a͟n͟a͟k͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟m͟p͟e͟r͟o͟l͟e͟h͟ p͟e͟l͟a͟y͟a͟n͟a͟n͟ k͟e͟s͟e͟h͟a͟t͟a͟n͟:
- S͟e͟t͟i͟a͟p͟ a͟n͟a͟k͟ b͟e͟r͟h͟a͟k͟ m͟e͟m͟p͟e͟r͟o͟l͟e͟h͟ p͟e͟l͟a͟y͟a͟n͟a͟n͟ k͟e͟s͟e͟h͟a͟t͟a͟n͟ dan jaminan sosial sesuai dengan kebutuhan fisik, mental, spiritual, dan sosial.
Di samping hak anak untuk memperoleh pelayanan kesehatan, o͟r͟a͟n͟g͟ t͟u͟a͟ j͟u͟g͟a͟ m͟e͟m͟i͟l͟i͟k͟i͟ k͟e͟w͟a͟j͟i͟b͟a͟n͟ d͟a͟n͟ t͟a͟n͟g͟g͟u͟n͟g͟ j͟a͟w͟a͟b͟ t͟e͟r͟h͟a͟d͟a͟p͟ a͟n͟a͟k͟n͟y͟a͟ sebagaimana termuat dalam Pasal 26 ayat (1) UU 35/2014, di mana orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk:
a. mengasuh,
memelihara,
mendidik, dan
melindungi anak;
b. menumbuh
kembangkan anak
sesuai dengan
kemampuan, bakat,
dan minatnya;
c. mencegah
terjadinya
perkawinan pada
usia anak; dan
d. memberikan
pendidikan karakter
dan penanaman
nilai budi pekerti
pada anak.
K͟e͟w͟a͟j͟i͟b͟a͟n͟ o͟r͟a͟n͟g͟ t͟u͟a͟ t͟e͟r͟h͟a͟d͟a͟p͟ a͟n͟a͟k͟n͟y͟a͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟n͟j͟a͟g͟a͟ k͟e͟s͟e͟h͟a͟t͟a͟n͟ dan merawat anak juga diatur lebih lanjut dalam Pasal 45 UU 35/2014 yang berbunyi sebagai berikut:
- Orang Tua dan Keluarga bertanggung jawab menjaga kesehatan Anak dan merawat Anak sejak dalam kandungan.
- Dalam hal Orang Tua dan Keluarga yang tidak mampu melaksanakan tanggung jawab sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib memenuhinya.
- Kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (2), pelaksanaannya dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Sebagai informasi, pemerintah dan pemerintah daerah wajib menyediakan fasilitas dan menyelenggarakan upaya kesehatan yang komprehensif bagi anak agar setiap anak memperoleh derajat kesehatan yang optimal sejak dalam kandungan. Upaya kesehatan yang komprehensif meliputi upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif, baik untuk pelayanan kesehatan dasar maupun rujukan.[9]
Sanksi Pidana
Meskipun penolakan terhadap tindakan kedokteran bukan merupakan tindakan yang dilarang, perlu diingat bahwa orang tua memiliki tanggung jawab atas kesehatan anaknya. Mengenai sanksi pidana, sepanjang penelusuran kami tidak ada ketentuan yang spesifik mengatur sanksi pidana untuk orang tua yang menolak perawatan medis untuk anaknya.
Walau demikian, terdapat berbagai sanksi pidana yang diatur terkait kekerasan pada anak atau penelantaran anak sebagaimana disebutkan di bawah ini.
Pertama, dalam ketentuan UU Perlindungan Anak dan perubahannya, diatur mengenai sanksi pidana jika melakukan kekerasan terhadap anak yang berakibat pada timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik.
Pada dasarnya, setiap orang dilarang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan kekerasan terhadap anak.[¹⁰] Sementara, yang dimaksud dengan kekerasan adalah s͟e͟t͟i͟a͟p͟ p͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ t͟e͟r͟h͟a͟d͟a͟p͟ a͟n͟a͟k͟ y͟a͟n͟g͟ b͟e͟r͟a͟k͟i͟b͟a͟t͟ t͟i͟m͟b͟u͟l͟n͟y͟a͟ k͟e͟s͟e͟n͟g͟s͟a͟r͟a͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ p͟e͟n͟d͟e͟r͟i͟t͟a͟a͟n͟ s͟e͟c͟a͟r͟a͟ f͟͟i͟͟s͟͟i͟͟k͟͟, p͟͟s͟͟i͟͟k͟͟i͟͟s͟͟, s͟͟e͟͟k͟͟s͟͟u͟͟a͟͟l͟͟, d͟͟a͟͟n͟͟/a͟t͟a͟u͟ p͟͟e͟͟n͟͟e͟͟l͟͟a͟͟n͟͟t͟͟a͟͟r͟͟a͟͟n͟͟, t͟e͟r͟m͟a͟s͟u͟k͟ a͟n͟c͟a͟m͟a͟n͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ p͟͟e͟͟r͟͟b͟͟u͟͟a͟͟t͟͟a͟͟n͟͟, p͟͟e͟͟m͟͟a͟͟k͟͟s͟͟a͟͟a͟͟n͟͟, a͟t͟a͟u͟ p͟e͟r͟a͟m͟p͟a͟s͟a͟n͟ k͟e͟m͟e͟r͟d͟e͟k͟a͟a͟n͟ s͟e͟c͟a͟r͟a͟ m͟e͟l͟a͟w͟a͟n͟ h͟͟u͟͟k͟͟u͟͟m͟͟.[¹¹]
- Setiap orang yang melanggar ketentuan tersebut dipidana penjara paling lama 3 tahun 6 bulan dan/atau denda paling banyak kategori IV,[¹²] yaitu Rp200 juta.[¹³] Dalam hal anak luka berat, maka pelaku juga dipidana penjara paling lama 5 tahun dan/atau denda paling banyak kategori IV,[¹⁴] yaitu Rp200 juta.[¹⁵] Lalu, jika anak mati, maka pelaku dipidana penjara paling lama 15 tahun dan/atau denda paling banyak kategori VII,[¹⁶] yaitu Rp5 miliar.[¹⁷]
Namun, pidana ditambah sepertiga dari ketentuan di atas jika dilakukan oleh orang tuanya.[¹⁸]
Kedua, menurut UU PKDRT. Dalam konteks hubungan dalam lingkup rumah tangga antara orang tua dengan anak, undang-undang yang mengatur sanksi atas perbuatan kekerasan dalam rumah tangga berupa kekerasan fisik dan penelantaran terhadap anak adalah UU PKDRT.
Perbuatan terhadap seseorang yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik termasuk kekerasan dalam rumah tangga.[¹⁹] Setiap orang dilarang melakukan KDRT, salah satunya dengan cara kekerasan fisik (perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau luka berat).[²⁰]
- Sanksi pidananya adalah pidana penjara paling lama 5 tahun atau denda paling banyak kategori IV, [²¹] yaitu Rp200 juta.[²²] Dalam hal perbuatan mengakibatkan korban jatuh sakit atau luka berat, pelaku dipidana penjara paling lama 10 tahun atau denda paling banyak kategori VI, [²³] yaitu Rp2 miliar.[²⁴] Sedangkan jika perbuatan mengakibatkan matinya korban, pelaku penjara paling lama 15 tahun atau denda paling banyak kategori VII, [²⁵] yaitu Rp5 miliar.[²⁶]
Lalu, setiap orang dilarang menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangganya, padahal m͟e͟n͟u͟r͟u͟t͟ h͟u͟k͟u͟m͟ y͟a͟n͟g͟ b͟e͟r͟l͟a͟k͟u͟ b͟a͟g͟i͟n͟y͟a͟ a͟t͟a͟u͟ k͟a͟r͟e͟n͟a͟ p͟e͟r͟s͟e͟t͟u͟j͟u͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ p͟e͟r͟j͟a͟n͟j͟i͟a͟n͟ i͟a͟ w͟a͟j͟i͟b͟ m͟e͟m͟b͟e͟r͟i͟k͟a͟n͟ k͟͟e͟͟h͟͟i͟͟d͟͟u͟͟p͟͟a͟͟n͟͟, p͟͟e͟͟r͟͟a͟͟w͟͟a͟͟t͟͟a͟͟n͟͟, a͟t͟a͟u͟ p͟e͟m͟e͟l͟i͟h͟a͟r͟a͟a͟n͟ k͟e͟p͟a͟d͟a͟ o͟r͟a͟n͟g͟ t͟͟e͟͟r͟͟s͟͟e͟͟b͟͟u͟͟t͟͟.[²⁷]
- Sanksi pidananya adalah penjara paling lama 3 tahun atau denda paling banyak kategori III,[²⁸] yaitu Rp50 juta.[²⁹]
Namun, p͟e͟n͟o͟l͟a͟k͟a͟n͟ o͟r͟a͟n͟g͟ t͟u͟a͟ t͟e͟r͟h͟a͟d͟a͟p͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟a͟n͟ k͟e͟d͟o͟k͟t͟e͟r͟a͟n͟ p͟a͟d͟a͟ a͟n͟a͟k͟ t͟i͟d͟a͟k͟ s͟͟͟e͟͟͟r͟͟͟t͟͟͟a͟͟͟-m͟͟͟e͟͟͟r͟͟͟t͟͟͟a͟͟͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟k͟u͟a͟l͟i͟f͟i͟k͟a͟s͟i͟k͟a͟n͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ k͟e͟k͟e͟r͟a͟s͟a͟n͟ t͟e͟r͟h͟a͟d͟a͟p͟ a͟͟n͟͟a͟͟k͟͟, b͟a͟i͟k͟ d͟a͟l͟a͟m͟ b͟e͟n͟t͟u͟k͟ p͟e͟n͟d͟e͟r͟i͟t͟a͟a͟n͟ f͟i͟s͟i͟k͟ m͟e͟n͟u͟r͟u͟t͟ U͟U͟ P͟͟e͟͟r͟͟l͟͟i͟͟n͟͟d͟͟u͟͟n͟͟g͟͟a͟͟n͟͟ A͟n͟a͟k͟ b͟e͟s͟e͟r͟t͟a͟ p͟͟e͟͟r͟͟u͟͟b͟͟a͟͟h͟͟a͟͟n͟͟n͟͟y͟͟a͟͟, m͟a͟u͟p͟u͟n͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ k͟e͟k͟e͟r͟a͟s͟a͟n͟ f͟i͟s͟i͟k͟ a͟t͟a͟u͟ p͟e͟n͟e͟l͟a͟n͟t͟a͟r͟a͟n͟ d͟a͟l͟a͟m͟ l͟i͟n͟g͟k͟u͟p͟ r͟u͟m͟a͟h͟ t͟a͟n͟g͟g͟a͟ b͟͟e͟͟r͟͟d͟͟a͟͟s͟͟a͟͟r͟͟k͟͟a͟͟n͟͟ U͟U͟ P͟͟K͟͟D͟͟R͟͟T͟͟. Penilaian tersebut tetap harus dibuktikan melalui proses hukum.
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat dan dapat dijadikan pembelajaran untuk kita semua terlebih untuk penanya dan Paralegal ubklawyers pada khususnya.
D͟a͟s͟a͟r͟ H͟u͟k͟u͟m͟:
- Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak;
- Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga;
- Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak;
- Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak;
- Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2016 Tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak Menjadi Undang-Undang;
- Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana;
- Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana;
- Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 290/MENKES/PER/III/2008 tentang Persetujuan Tindakan Kedokteran.
Artikel ini adalah pemutakhiran dari artikel dengan judul Orang Tua Menolak Perawatan Medis Anak, Bisakah Dipidana? yang dibuat oleh Made Wahyu Arthaluhur, S.H. dan pertama kali dipublikasikan pada 16 Mei 2018. Dipublikasikan kedua oleh “..Hukumonline.com..” dengan judul Orang Tua Menolak Perawatan Medis Anak, Bisakah Dipidana? Pada tanggal 05 Mei 2026. Dan diteruskan oleh ubklawyers pada tanggal 18 Mei 2026M/01 Zulhijjah 1447H.
Seluruh Informasi Hukum yang ada di LBH-UMAR BIN KHATTAB disiapkan semata-mata untuk t͟͟͟u͟͟͟j͟͟͟u͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟ p͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, p͟e͟m͟b͟e͟l͟a͟j͟a͟r͟a͟n͟ dan b͟e͟r͟s͟i͟f͟a͟t͟ u͟m͟u͟m͟. Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan Pengacara, Konsultan Hukum dan/atau Paralegal UBK LAWYERS.
Sedang menghadapi permasalahan hukum? A͟j͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟t͟a͟n͟y͟a͟a͟n͟ melalui email, telepon atau chat.👇🏼
Email:
ubklawyer@gmail.com
Telepon/Chat:
089666552118
Berkenan G͟a͟b͟u͟n͟g͟ G͟r͟o͟u͟p͟, untuk jadi bagian Keluarga Besar UBK LAWYERS. Klik link dibawah.👇🏼
I͟K͟U͟T͟I͟ W͟h͟a͟t͟s͟A͟p͟p͟ C͟h͟a͟n͟n͟e͟l͟ LBH-UMAR BIN KHATTAB. Untuk memperkaya Riset Hukum Anda, klik link dibawah.👇🏼
🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸
#cerdashukum
#studylawtogether
#ubklawyers

