O
INDRAMAYU, (lintaspanturaindonesia.com) — PERTANYAAN:
Belakangan ini sedang ramai soal kasus pelecehan seksual verbal di FH pada salah satu kampus di Indonesia yang dilakukan melalui grup chat. Saya mau bertanya, kalau misalnya gibahin orang lewat grup chat tanpa ada unsur pelecehan seksual atau objektifikasi seksual, apakah dapat dipidana menurut UU ITE? Mengingat perbuatan gibah ini dilakukan di ruang privat berupa grup chat, bukan di muka umum. Atas penjelasannya diucapkan terimakasih, untuk ubklawyers beserta Paralegalnya semoga diberikan kekuatan dalam menjalankan profesinya. Aamiin..
Wassalam,
Yeyen Yenie – Sambimaya City
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
“INTISARI JAWABAN;
【ℌ𝔲𝔨𝔲𝔪 & 𝔗𝔢𝔨𝔫𝔬𝔩𝔬𝔤𝔦】
𝔇𝔞𝔩𝔞𝔪 𝔘𝔘 ℑ𝔗𝔈 𝔡𝔞𝔫 𝔭𝔢𝔯𝔲𝔟𝔞𝔥𝔞𝔫𝔫𝔶𝔞, 𝔨𝔢𝔱𝔢𝔫𝔱𝔲𝔞𝔫 𝔪𝔢𝔫𝔤𝔢𝔫𝔞𝔦 𝔭𝔢𝔫𝔠𝔢𝔪𝔞𝔯𝔞𝔫 𝔫𝔞𝔪𝔞 𝔟𝔞𝔦𝔨 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔡𝔦𝔱𝔢𝔪𝔲𝔨𝔞𝔫 𝔭𝔞𝔡𝔞 𝔓𝔞𝔰𝔞𝔩 27𝔄 𝔘𝔘 1/2024. 𝔓𝔞𝔰𝔞𝔩 𝔱𝔢𝔯𝔰𝔢𝔟𝔲𝔱 𝔰𝔢𝔠𝔞𝔯𝔞 𝔢𝔨𝔰𝔭𝔩𝔦𝔰𝔦𝔱 𝔪𝔢𝔫𝔶𝔢𝔟𝔲𝔱𝔨𝔞𝔫 𝔟𝔞𝔥𝔴𝔞 𝔱𝔲𝔧𝔲𝔞𝔫 𝔡𝔦𝔨𝔢𝔱𝔞𝔥𝔲𝔦 𝔲𝔪𝔲𝔪 𝔶𝔞𝔦𝔱𝔲 𝔲𝔫𝔱𝔲𝔨 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔞𝔱𝔞𝔲 𝔰𝔢𝔥𝔦𝔫𝔤𝔤𝔞 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔡𝔦𝔞𝔨𝔰𝔢𝔰 𝔬𝔩𝔢𝔥 𝔨𝔲𝔪𝔭𝔲𝔩𝔞𝔫 𝔬𝔯𝔞𝔫𝔤 𝔟𝔞𝔫𝔶𝔞𝔨 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔰𝔢𝔟𝔞𝔤𝔦𝔞𝔫 𝔟𝔢𝔰𝔞𝔯 𝔱𝔦𝔡𝔞𝔨 𝔰𝔞𝔩𝔦𝔫𝔤 𝔪𝔢𝔫𝔤𝔢𝔫𝔞𝔩. 𝔐𝔞𝔨𝔞 𝔡𝔞𝔯𝔦 𝔦𝔱𝔲, 𝔭𝔢𝔯𝔟𝔲𝔞𝔱𝔞𝔫 𝔤𝔦𝔟𝔞𝔥 𝔡𝔦 𝔤𝔯𝔲𝔭 𝔠𝔥𝔞𝔱 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔟𝔢𝔯𝔰𝔦𝔣𝔞𝔱 𝔭𝔯𝔦𝔳𝔞𝔱 𝔱𝔦𝔡𝔞𝔨 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔡𝔦𝔧𝔢𝔯𝔞𝔱 𝔡𝔢𝔫𝔤𝔞𝔫 𝔭𝔞𝔰𝔞𝔩 𝔭𝔢𝔫𝔠𝔢𝔪𝔞𝔯𝔞𝔫 𝔫𝔞𝔪𝔞 𝔟𝔞𝔦𝔨 𝔟𝔢𝔯𝔡𝔞𝔰𝔞𝔯𝔨𝔞𝔫 𝔘𝔘 ℑ𝔗𝔈.
𝔑𝔞𝔪𝔲𝔫, 𝔰𝔞𝔞𝔱 𝔦𝔫𝔦 𝔟𝔢𝔯𝔩𝔞𝔨𝔲 𝔘𝔘 1/2023 𝔱𝔢𝔫𝔱𝔞𝔫𝔤 𝔎𝔘ℌ𝔓 𝔟𝔞𝔯𝔲. 𝔓𝔞𝔡𝔞 𝔓𝔞𝔰𝔞𝔩 433 𝔘𝔘 1/2023, 𝔡𝔦𝔞𝔱𝔲𝔯 𝔪𝔢𝔫𝔤𝔢𝔫𝔞𝔦 𝔭𝔢𝔫𝔠𝔢𝔪𝔞𝔯𝔞𝔫 𝔫𝔞𝔪𝔞 𝔟𝔞𝔦𝔨 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔪𝔢𝔫𝔤𝔞𝔫𝔡𝔲𝔫𝔤 𝔫𝔬𝔯𝔪𝔞 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔰𝔢𝔯𝔲𝔭𝔞 𝔡𝔢𝔫𝔤𝔞𝔫 𝔓𝔞𝔰𝔞𝔩 27𝔄 𝔘𝔘 1/2024. 𝔄𝔱𝔞𝔰 𝔡𝔞𝔰𝔞𝔯 𝔞𝔰𝔞𝔰 𝔩𝔢𝔵 𝔭𝔬𝔰𝔱𝔢𝔯𝔦𝔬𝔯 𝔡𝔢𝔯𝔬𝔤𝔞𝔱 𝔩𝔢𝔤𝔦 𝔭𝔯𝔦𝔬𝔯𝔦, 𝔨𝔢𝔱𝔢𝔫𝔱𝔲𝔞𝔫 𝔓𝔞𝔰𝔞𝔩 433 𝔘𝔘 1/2023 𝔪𝔢𝔫𝔤𝔢𝔰𝔞𝔪𝔭𝔦𝔫𝔤𝔨𝔞𝔫 𝔨𝔢𝔱𝔢𝔫𝔱𝔲𝔞𝔫 𝔓𝔞𝔰𝔞𝔩 27𝔄 𝔘𝔘 1/2024.
𝔓𝔢𝔫𝔧𝔢𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔩𝔢𝔟𝔦𝔥 𝔩𝔞𝔫𝔧𝔲𝔱 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔄𝔫𝔡𝔞 𝔟𝔞𝔠𝔞 𝔲𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔡𝔦 𝔟𝔞𝔴𝔞𝔥 𝔦𝔫𝔦.
ULASAN SELENGKAPNYA;
Terimakasih atas pertanyaan Anda.
Apa itu Pencemaran Nama Baik?
Sebelum menjawab inti pertanyaan Anda, perlu diketahui bahwa pencemaran nama baik adalah t͟i͟n͟d͟a͟k͟a͟n͟ m͟͟e͟͟n͟͟c͟͟e͟͟m͟͟a͟͟r͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, d͟a͟n͟ o͟b͟j͟e͟k͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟c͟e͟m͟a͟r͟k͟a͟n͟ b͟e͟r͟u͟p͟a͟ n͟a͟m͟a͟ b͟a͟i͟k͟ s͟͟͟e͟͟͟s͟͟͟e͟͟͟o͟͟͟r͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟g͟͟͟.[¹] Adapun menurut KBBI, g͟i͟b͟a͟h͟ adalah m͟e͟m͟b͟i͟c͟a͟r͟a͟k͟a͟n͟ k͟e͟b͟u͟r͟u͟k͟a͟n͟ (k͟͟e͟͟a͟͟i͟͟b͟͟a͟͟n͟͟) o͟r͟a͟n͟g͟ l͟͟a͟͟i͟͟n͟͟.
Dalam kasus Anda, perbuatan gibah dilakukan dalam grup chat yang anggotanya terbatas (privat) dan tidak untuk umum.
Pencemaran Nama Baik dalam UU ITE
Pencemaran nama baik pada dasarnya diatur dalam UU ITE. Namun, seiring berjalannya waktu, terdapat perubahan terhadap ketentuan pencemaran nama baik tersebut.
Secara historis, awalnya pengaturan mengenai larangan pencemaran nama baik dalam UU ITE dapat ditemukan pada Pasal 27 ayat (3) UU ITE, yang berbunyi:
- Setiap orang yang dengan sengaja, dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.
Namun, UU ITE telah mengalami dua kali perubahan, yaitu UU 19/2016 dan UU 1/2024. Larangan pencemaran nama baik kemudian diatur pada Pasal 27A UU 1/2024:
- Setiap orang dengan sengaja menyerang kehormatan atau nama baik orang lain dengan cara menuduhkan suatu hal, dengan maksud supaya hal tersebut diketahui umum dalam bentuk informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang dilakukan melalui sistem elektronik.
Perlu diketahui bahwa terhadap pasal di atas pernah dilakukan pengujian materiil, yang mana Mahkamah Konstitusi (“MK”) melalui Putusan MK No. 105/PUU-XXII/2024 menyatakan bahwa frasa “orang lain” bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat secara bersyarat sepanjang tidak dimaknai “kecuali lembaga pemerintah, sekelompok orang dengan identitas spesifik atau tertentu, institusi, korporasi, profesi atau jabatan” (hal. 459).
Menurut Penjelasan Pasal 27A UU 1/2024, yang dimaksud dengan “menyerang kehormatan atau nama baik” adalah p͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟r͟e͟n͟d͟a͟h͟k͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ m͟e͟r͟u͟s͟a͟k͟ n͟a͟m͟a͟ b͟a͟i͟k͟ a͟t͟a͟u͟ h͟a͟r͟g͟a͟ d͟i͟r͟i͟ o͟r͟a͟n͟g͟ l͟a͟i͟n͟ sehingga merugikan orang tersebut, termasuk menista dan/atau memfitnah.
Kemudian, untuk frasa “diketahui umum”, Penjelasan Pasal 27 ayat (1) UU 1/2024 mendefinisikannya sebagai u͟n͟t͟u͟k͟ d͟a͟p͟a͟t͟ a͟t͟a͟u͟ s͟e͟h͟i͟n͟g͟g͟a͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟a͟k͟s͟e͟s͟ o͟l͟e͟h͟ k͟u͟m͟p͟u͟l͟a͟n͟ o͟r͟a͟n͟g͟ b͟a͟n͟y͟a͟k͟ y͟a͟n͟g͟ s͟e͟b͟a͟g͟i͟a͟n͟ b͟e͟s͟a͟r͟ t͟i͟d͟a͟k͟ s͟a͟l͟i͟n͟g͟ m͟͟e͟͟n͟͟g͟͟e͟͟n͟͟a͟͟l͟͟.
Melihat ketentuan di atas, menurut hemat kami, p͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ g͟i͟b͟a͟h͟ d͟i͟ d͟a͟l͟a͟m͟ g͟r͟u͟p͟ c͟h͟a͟t͟ y͟a͟n͟g͟ s͟i͟f͟a͟t͟n͟y͟a͟ t͟e͟r͟b͟a͟t͟a͟s͟ (hanya dapat diakses oleh anggota tertentu) b͟u͟k͟a͟n͟ m͟e͟r͟u͟p͟a͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ p͟e͟n͟c͟e͟m͟a͟r͟a͟n͟ n͟a͟m͟a͟ b͟a͟i͟k͟ sebagaimana diatur dalam Pasal 27A UU 1/2024. Mengingat dalam formulasi pasal tersebut terdapat unsur diketahui umum. D͟e͟n͟g͟a͟n͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟n͟y͟a͟ g͟i͟b͟a͟h͟ d͟͟i͟͟ d͟a͟l͟a͟m͟ g͟r͟u͟p͟ c͟h͟a͟t͟ y͟a͟n͟g͟ t͟͟e͟͟r͟͟b͟͟a͟͟t͟͟a͟͟s͟͟, u͟n͟s͟u͟r͟ d͟i͟k͟e͟t͟a͟h͟u͟i͟ u͟m͟u͟m͟ s͟u͟d͟a͟h͟ t͟e͟n͟t͟u͟ t͟i͟d͟a͟k͟ t͟͟e͟͟r͟͟p͟͟e͟͟n͟͟u͟͟h͟͟i͟͟.
Walaupun demikian, dalam perkembangannya terdapat perluasan arti unsur diketahui umum, seperti yang terdapat dalam pertimbangan Putusan PN Bandung No. 848/Pid.Sus/2025/Pn Bdg. Dalam kasus tertentu, meskipun bukan publikasi massal seperti di media sosial terbuka, niat pelaku adalah untuk mempermalukan dan mengintimidasi korban secara maksimal seperti dilakukan penyebaran di lingkungan sosial dan keluarga terdekatnya. L͟i͟n͟g͟k͟a͟r͟a͟n͟ k͟e͟l͟u͟a͟r͟g͟a͟ d͟a͟n͟ k͟e͟r͟a͟b͟a͟t͟ d͟e͟k͟a͟t͟ i͟n͟i͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟a͟n͟g͟g͟a͟p͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ “u͟͟m͟͟u͟͟m͟͟” d͟a͟l͟a͟m͟ k͟o͟n͟t͟e͟k͟s͟ t͟e͟r͟b͟a͟t͟a͟s͟ n͟a͟m͟u͟n͟ s͟a͟n͟g͟a͟t͟ s͟i͟g͟n͟i͟f͟i͟k͟a͟n͟ b͟a͟g͟i͟ k͟e͟h͟i͟d͟u͟p͟a͟n͟ s͟o͟s͟i͟a͟l͟ k͟͟o͟͟r͟͟b͟͟a͟͟n͟͟. Penyebaran kepada anggota keluarga inti ini memiliki dampak yang setara, bahkan mungkin lebih merusak secara personal dibandingkan dengan penyebaran ke khalayak yang tidak dikenal. Oleh karena itu, dapat diperdebatkan bahwa tindakan ini memenuhi maksud “untuk diketahui umum” dalam lingkaran sosial korban yang paling relevan dan berdampak (hal. 19-20).
Adapun sanksi pidana dari pelanggaran atas Pasal 27A UU 1/2024 adalah pidana penjara paling lama 2 tahun dan/atau denda paling banyak kategori III,[²] yaitu sebesar Rp50 juta.[³]
Sebagai informasi, ketentuan pencemaran nama baik merupakan delik aduan, sehingga h͟a͟n͟y͟a͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟t͟u͟n͟t͟u͟t͟ a͟t͟a͟s͟ p͟e͟n͟g͟a͟d͟u͟a͟n͟ k͟o͟r͟b͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ o͟r͟a͟n͟g͟ y͟a͟n͟g͟ t͟e͟r͟k͟e͟n͟a͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ d͟a͟n͟ b͟u͟k͟a͟n͟ o͟l͟e͟h͟ b͟a͟d͟a͟n͟ h͟͟u͟͟k͟͟u͟͟m͟͟.[⁴]
Pencemaran Nama Baik dalam KUHP Baru
Namun, penting untuk diperhatikan bahwa UU 1/2023 tentang KUHP baru yang berlaku sejak 2 Januari 2026[⁵] mencabut ketentuan dan menyatakan tidak berlaku Pasal 27 ayat (3) UU ITE yang saat ini sudah diganti dengan Pasal 27A UU 1/2024 tentang pencemaran nama baik.[⁶]
Berdasarkan ketentuan tersebut, dapat kami simpulkan bahwa ketentuan mengenai larangan pencemaran nama baik dalam UU ITE dan perubahannya t͟i͟d͟a͟k͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟j͟a͟d͟i͟k͟a͟n͟ p͟e͟d͟o͟m͟a͟n͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟m͟i͟d͟a͟n͟a͟a͟n͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ p͟e͟n͟c͟e͟m͟a͟r͟a͟n͟ n͟a͟m͟a͟ b͟͟a͟͟i͟͟k͟͟.
Selain itu, melihat ketentuan Pasal 433 ayat (1) UU 1/2023 yang memiliki norma yang serupa dengan Pasal 27A UU 1/2024, berlaku asas lex posterior derogat legi priori, yang artinya p͟e͟r͟a͟t͟u͟r͟a͟n͟ l͟e͟b͟i͟h͟ b͟a͟r͟u͟ m͟e͟n͟g͟e͟s͟a͟m͟p͟i͟n͟g͟k͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ m͟e͟n͟i͟a͟d͟a͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟a͟t͟u͟r͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ l͟͟a͟͟m͟͟a͟͟. Maka, saat ini pemidanaan pencemaran nama baik seharusnya dilakukan berdasarkan Pasal 433 ayat (1) UU 1/2023 karena mengesampingkan Pasal 27A UU 1/2024.
Adapun bunyi Pasal 433 ayat (1) UU 1/2023 adalah sebagai berikut:
- Setiap orang yang dengan lisan menyerang kehormatan atau nama baik orang lain dengan cara menuduhkan suatu hal, dengan maksud supaya hal tersebut diketahui umum, dipidana karena pencemaran, dengan pidana penjara paling lama 9 bulan atau pidana denda paling banyak kategori II, yaitu sebesar Rp10 juta.[⁷]
Kemudian, bagi pencemaran nama baik yang dilakukan dengan sarana teknologi informasi, sanksi pidana dapat ditambah 1/3.[⁸]
Menurut Pasal VII angka 39 UU 1/2026 yang mengubah Penjelasan Pasal 433 ayat (1) UU 1/2023, s͟i͟f͟a͟t͟ p͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ p͟e͟n͟c͟e͟m͟a͟r͟a͟n͟ d͟a͟l͟a͟m͟ k͟e͟t͟e͟n͟t͟u͟a͟n͟ i͟n͟i͟ m͟e͟r͟u͟p͟a͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ p͟e͟n͟g͟h͟i͟n͟a͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ c͟a͟r͟a͟ m͟͟e͟͟n͟͟u͟͟d͟͟u͟͟h͟͟, b͟a͟i͟k͟ s͟e͟c͟a͟r͟a͟ l͟͟i͟͟s͟͟a͟͟n͟͟, t͟͟u͟͟l͟͟i͟͟s͟͟a͟͟n͟͟, m͟a͟u͟p͟u͟n͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ g͟͟a͟͟m͟͟b͟͟a͟͟r͟͟, y͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟y͟e͟r͟a͟n͟g͟ k͟e͟h͟o͟r͟m͟a͟t͟a͟n͟ d͟a͟n͟ n͟a͟m͟a͟ b͟a͟i͟k͟ s͟͟e͟͟s͟͟e͟͟o͟͟r͟͟a͟͟n͟͟g͟͟, s͟e͟h͟i͟n͟g͟g͟a͟ m͟e͟r͟u͟g͟i͟k͟a͟n͟ o͟r͟a͟n͟g͟ t͟͟e͟͟r͟͟s͟͟e͟͟b͟͟u͟͟t͟͟. Perbuatan yang dituduhkan tidak perlu harus suatu tindak pidana. Tindak pidana menurut ketentuan pasal ini objeknya adalah orang perseorangan. Penistaan terhadap lembaga pemerintah atau sekelompok orang tidak termasuk ketentuan pasal ini.
Adapun tindak pidana dalam Pasal 433 UU 1/2023 h͟a͟n͟y͟a͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟t͟u͟n͟t͟u͟t͟ j͟i͟k͟a͟ t͟e͟r͟d͟a͟p͟a͟t͟ p͟e͟n͟g͟a͟d͟u͟a͟n͟ k͟o͟r͟b͟a͟n͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟͟i͟͟d͟͟a͟͟n͟͟a͟͟, k͟a͟r͟e͟n͟a͟ m͟e͟r͟u͟p͟a͟k͟a͟n͟ d͟e͟l͟i͟k͟ a͟d͟u͟a͟n͟.[⁹]
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat dan dapat dijadikan pembelajaran untuk kita semua terlebih untuk penanya dan Paralegal ubklawyers pada khususnya.
D͟a͟s͟a͟r͟ H͟u͟k͟u͟m͟:
- Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
- Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik;
- Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik;
- Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana;
- Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2024 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik;
- Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana.
P͟u͟t͟u͟s͟a͟n͟:
- Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 105/PUU-XXII/2024;
- Putusan Pengadilan Negeri Bandung Nomor 848/Pid.Sus/2025/Pn Bdg.
R͟e͟f͟e͟r͟e͟n͟s͟i͟:
- Ika Shinta Utami Nur Agustin dan Tomy Michael. Pencemaran Nama Baik oleh Warganet dalam Pasal 27 Ayat (3) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Jurnal Penelitian Hukum, Vol. 2, No. 4, 2022;
- Kamus Besar Bahasa Indonesia, gibah, yang diakses pada 27 April 2026, pukul 16.00 WIB.
Artikel ini adalah pemutakhiran ketiga dari artikel dengan judul Gibahin Orang Lewat Grup Chat, Bisa Dijerat UU ITE? yang dibuat oleh Anggara dan pertama kali dipublikasikan pada 23 Mei 2013, dimutakhirkan pertama kali pada 19 Juli 2021, lalu dimutakhirkan kedua kali oleh Erizka Permatasari, S.H. pada 20 Desember 2023. Dipublikasikan kedua oleh “..Hukumonline.com..” dengan judul Gibahin Orang Lewat Grup Chat Bisa Dipidana? Pada tanggal 20 April 2026M. Dan diteruskan oleh ubklawyers pada tanggal 25 Mei 2026M/08 Zulhijjah 1447H.
Seluruh Informasi Hukum yang ada di LBH-UMAR BIN KHATTAB disiapkan semata-mata untuk t͟͟͟u͟͟͟j͟͟͟u͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟ p͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, p͟e͟m͟b͟e͟l͟a͟j͟a͟r͟a͟n͟ dan b͟e͟r͟s͟i͟f͟a͟t͟ u͟m͟u͟m͟. Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan Pengacara, Konsultan Hukum dan/atau Paralegal UBK LAWYERS.
Sedang menghadapi permasalahan hukum? A͟j͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟t͟a͟n͟y͟a͟a͟n͟ melalui email, telepon atau chat.👇🏼
Email:
ubklawyer@gmail.com
Telepon/Chat:
089666552118
Berkenan G͟a͟b͟u͟n͟g͟ G͟r͟o͟u͟p͟, untuk jadi bagian Keluarga Besar UBK LAWYERS. Klik link dibawah.👇🏼
I͟K͟U͟T͟I͟ W͟h͟a͟t͟s͟A͟p͟p͟ C͟h͟a͟n͟n͟e͟l͟ LBH-UMAR BIN KHATTAB. Untuk memperkaya Riset Hukum Anda, klik link dibawah.👇🏼
🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸
#cerdashukum
#studylawtogether
#ubklawyers

