INDRAMAYU, (lintaspanturaindonesia.com) — PERTANYAAN:
Apa perbedaan pokok antara pasar modal konvensional dengan pasar modal syariah? Atas pencerahannya diucapkan terimakasih, untuk ubklawyers dan paralegalnya, semoga diberikan kesehatan. Aamiin..
Wassalam,
Wara Subrata – Penjalin City
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
“INTISARI JAWABAN”
【ℌ𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔅𝔦𝔰𝔫𝔦𝔰】
𝔓𝔞𝔡𝔞 𝔡𝔞𝔰𝔞𝔯𝔫𝔶𝔞, 𝔭𝔞𝔰𝔞𝔯 𝔪𝔬𝔡𝔞𝔩 𝔨𝔬𝔫𝔳𝔢𝔫𝔰𝔦𝔬𝔫𝔞𝔩 𝔡𝔞𝔫 𝔰𝔶𝔞𝔯𝔦𝔞𝔥 𝔪𝔢𝔯𝔲𝔭𝔞𝔨𝔞𝔫 𝔟𝔞𝔤𝔦𝔞𝔫 𝔡𝔞𝔯𝔦 𝔰𝔦𝔰𝔱𝔢𝔪 𝔭𝔞𝔰𝔞𝔯 𝔪𝔬𝔡𝔞𝔩 ℑ𝔫𝔡𝔬𝔫𝔢𝔰𝔦𝔞 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔱𝔲𝔫𝔡𝔲𝔨 𝔭𝔞𝔡𝔞 𝔨𝔢𝔯𝔞𝔫𝔤𝔨𝔞 𝔥𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔰𝔞𝔪𝔞 𝔡𝔞𝔫 𝔧𝔲𝔤𝔞 𝔪𝔢𝔩𝔞𝔨𝔲𝔨𝔞𝔫 𝔨𝔢𝔤𝔦𝔞𝔱𝔞𝔫 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔰𝔞𝔪𝔞.
𝔄𝔡𝔞𝔭𝔲𝔫 𝔭𝔢𝔯𝔟𝔢𝔡𝔞𝔞𝔫 𝔪𝔢𝔫𝔡𝔞𝔰𝔞𝔯 𝔞𝔫𝔱𝔞𝔯𝔞 𝔭𝔞𝔰𝔞𝔯 𝔪𝔬𝔡𝔞𝔩 𝔨𝔬𝔫𝔳𝔢𝔫𝔰𝔦𝔬𝔫𝔞𝔩 𝔡𝔞𝔫 𝔰𝔶𝔞𝔯𝔦𝔞𝔥 𝔞𝔡𝔞𝔩𝔞𝔥 𝔞𝔡𝔞 𝔞𝔱𝔞𝔲 𝔱𝔦𝔡𝔞𝔨𝔫𝔶𝔞 𝔰𝔶𝔞𝔯𝔞𝔱 𝔨𝔢𝔭𝔞𝔱𝔲𝔥𝔞𝔫 𝔱𝔢𝔯𝔥𝔞𝔡𝔞𝔭 𝔭𝔯𝔦𝔫𝔰𝔦𝔭 𝔰𝔶𝔞𝔯𝔦𝔞𝔥. 𝔓𝔢𝔯𝔟𝔢𝔡𝔞𝔞𝔫 𝔩𝔞𝔦𝔫𝔫𝔶𝔞 𝔱𝔢𝔯𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔭𝔞𝔡𝔞 𝔞𝔰𝔭𝔢𝔨 𝔞𝔫𝔱𝔞𝔯𝔞 𝔩𝔞𝔦𝔫 𝔦𝔫𝔰𝔱𝔯𝔲𝔪𝔢𝔫 𝔦𝔫𝔳𝔢𝔰𝔱𝔞𝔰𝔦, 𝔞𝔨𝔞𝔡 𝔞𝔱𝔞𝔲 𝔭𝔢𝔯𝔧𝔞𝔫𝔧𝔦𝔞𝔫, 𝔰𝔠𝔯𝔢𝔢𝔫𝔦𝔫𝔤 𝔱𝔢𝔯𝔥𝔞𝔡𝔞𝔭 𝔢𝔪𝔦𝔱𝔢𝔫, 𝔰𝔦𝔰𝔱𝔢𝔪 𝔭𝔢𝔫𝔤𝔞𝔴𝔞𝔰𝔞𝔫, 𝔰𝔢𝔯𝔱𝔞 𝔱𝔲𝔧𝔲𝔞𝔫 𝔡𝔞𝔫 𝔬𝔯𝔦𝔢𝔫𝔱𝔞𝔰𝔦 𝔭𝔞𝔰𝔞𝔯.
𝔓𝔢𝔫𝔧𝔢𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔩𝔢𝔟𝔦𝔥 𝔩𝔞𝔫𝔧𝔲𝔱 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔄𝔫𝔡𝔞 𝔟𝔞𝔠𝔞 𝔲𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔡𝔦 𝔟𝔞𝔴𝔞𝔥 𝔦𝔫𝔦.
ULASAN SELENGKAPNYA;
Terimakasih atas pertanyaan Anda.
Persamaan Pasar Modal Konvensional dan Syariah
Secara konseptual, sebagaimana dijelaskan dalam Pasal 22 angka 1 UU P2SK yang mengubah Pasal 1 angka 13 UU Pasar Modal. P͟a͟s͟a͟r͟ m͟o͟d͟a͟l͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ b͟a͟g͟i͟a͟n͟ d͟a͟r͟i͟ s͟i͟s͟t͟e͟m͟ k͟e͟u͟a͟n͟g͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ b͟e͟r͟k͟a͟i͟t͟a͟n͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ k͟e͟g͟i͟a͟t͟a͟n͟ p͟e͟n͟a͟w͟a͟r͟a͟n͟ u͟m͟u͟m͟ d͟a͟n͟ t͟r͟a͟n͟s͟a͟k͟s͟i͟ e͟͟f͟͟e͟͟k͟͟, p͟e͟n͟g͟e͟l͟o͟l͟a͟a͟n͟ i͟͟n͟͟v͟͟e͟͟s͟͟t͟͟a͟͟s͟͟i͟͟, e͟m͟i͟t͟e͟n͟ d͟a͟n͟ p͟e͟r͟u͟s͟a͟h͟a͟a͟n͟ p͟u͟b͟l͟i͟k͟ y͟a͟n͟g͟ b͟e͟r͟k͟a͟i͟t͟a͟n͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ e͟f͟e͟k͟ y͟a͟n͟g͟ d͟͟i͟͟t͟͟e͟͟r͟͟b͟͟i͟͟t͟͟k͟͟a͟͟n͟͟n͟͟y͟͟a͟͟, s͟e͟r͟t͟a͟ l͟e͟m͟b͟a͟g͟a͟ d͟a͟n͟ p͟r͟o͟f͟e͟s͟i͟ y͟a͟n͟g͟ b͟e͟r͟k͟a͟i͟t͟a͟n͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ e͟͟f͟͟e͟͟k͟͟.
Adapun, sepanjang penelusuran kami dalam undang-undang, tidak ada definisi khusus terkait pasar modal syariah. B͟a͟i͟k͟ p͟a͟s͟a͟r͟ m͟o͟d͟a͟l͟ k͟o͟n͟v͟e͟n͟s͟i͟o͟n͟a͟l͟ m͟a͟u͟p͟u͟n͟ s͟y͟a͟r͟i͟a͟h͟ m͟e͟r͟u͟p͟a͟k͟a͟n͟ b͟a͟g͟i͟a͟n͟ d͟a͟r͟i͟ s͟i͟s͟t͟e͟m͟ p͟a͟s͟a͟r͟ m͟o͟d͟a͟l͟ I͟n͟d͟o͟n͟e͟s͟i͟a͟ y͟a͟n͟g͟ t͟u͟n͟d͟u͟k͟ p͟a͟d͟a͟ k͟e͟r͟a͟n͟g͟k͟a͟ h͟u͟k͟u͟m͟ y͟a͟n͟g͟ s͟͟a͟͟m͟͟a͟͟.
Artinya, keduanya melakukan kegiatan yang sama, yaitu m͟e͟l͟i͟p͟u͟t͟i͟ p͟e͟n͟a͟w͟a͟r͟a͟n͟ u͟͟m͟͟u͟͟m͟͟, p͟e͟r͟d͟a͟g͟a͟n͟g͟a͟n͟ e͟͟f͟͟e͟͟k͟͟, p͟e͟n͟g͟e͟l͟o͟l͟a͟a͟n͟ i͟͟n͟͟v͟͟e͟͟s͟͟t͟͟a͟͟s͟͟i͟͟, e͟m͟i͟t͟e͟n͟ d͟a͟n͟ p͟e͟r͟u͟s͟a͟h͟a͟a͟n͟ p͟u͟b͟l͟i͟k͟ y͟a͟n͟g͟ b͟e͟r͟k͟a͟i͟t͟a͟n͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ e͟f͟e͟k͟ y͟a͟n͟g͟ d͟͟i͟͟t͟͟e͟͟r͟͟b͟͟i͟͟t͟͟k͟͟a͟͟n͟͟n͟͟y͟͟a͟͟, s͟e͟r͟t͟a͟ l͟e͟m͟b͟a͟g͟a͟ d͟a͟n͟ p͟r͟o͟f͟e͟s͟i͟ y͟a͟n͟g͟ b͟e͟r͟k͟a͟i͟t͟a͟n͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ e͟͟f͟͟e͟͟k͟͟.
Pasar modal syariah merupakan subsistem dari pasar modal nasional, bukan merupakan sistem yang terpisah, dan tidak memiliki bursa yang berbeda. Keduanya menggunakan sistem dengan lembaga dan subjek hukum yang sama, seperti Bursa Efek Indonesia (BEI), Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), perusahaan efek (broker), bank kustodian, emiten, investor, manajer investasi, profesi penunjang (notaris, akuntan, konsultan hukum), dan lain-lain.
Secara teknis, pasar modal konvensional dan pasar modal syariah memiliki mekanisme transaksi di bursa yang sama, yakni dengan menggunakan sistem perdagangan elektronik, mengikuti prinsip order matching, dan tunduk pada ketentuan keterbukaan informasi (disclosure).
Dari perspektif perlindungan terhadap investor, keduanya sama-sama menerapkan prinsip keterbukaan informasi (disclosure), keadilan (fairness), dan mengutamakan perlindungan terhadap investor dan para pihak, baik dari praktik pelanggaran, maupun kejahatan dalam pasar modal seperti manipulasi pasar, penipuan, insider trading, dan sebagainya.
Beberapa kesamaan tersebut menunjukkan bahwa sistem pasar modal konvensional maupun pasar modal syariah di Indonesia menggunakan integrated dual system, bukan sistem paralel yang sepenuhnya terpisah.
Perbedaan Pasar Modal Konvensional dan Syariah
Lantas, apa perbedaan pokok antara pasar modal konvensional dengan pasar modal syariah? Perbedaan paling mendasar adalah adanya syarat kepatuhan terhadap prinsip syariah pada pasar modal syariah.
Prinsip syariah adalah p͟r͟i͟n͟s͟i͟p͟ h͟u͟k͟u͟m͟ I͟s͟l͟a͟m͟ b͟e͟r͟d͟a͟s͟a͟r͟k͟a͟n͟ f͟a͟t͟w͟a͟ d͟͟a͟͟n͟͟/a͟t͟a͟u͟ p͟e͟r͟n͟y͟a͟t͟a͟a͟n͟ k͟e͟s͟e͟s͟u͟a͟i͟a͟n͟ s͟y͟a͟r͟i͟a͟h͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟k͟e͟l͟u͟a͟r͟k͟a͟n͟ o͟l͟e͟h͟ l͟e͟m͟b͟a͟g͟a͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟m͟i͟l͟i͟k͟i͟ k͟e͟w͟e͟n͟a͟n͟g͟a͟n͟ d͟a͟l͟a͟m͟ p͟e͟n͟e͟t͟a͟p͟a͟n͟ f͟a͟t͟w͟a͟ d͟i͟ b͟͟͟i͟͟͟d͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟g͟͟͟ s͟͟͟y͟͟͟a͟͟͟r͟͟͟i͟͟͟a͟͟͟h͟͟͟.[¹] Mengenai prinsip syariah di pasar modal ini diatur secara khusus dalam Fatwa DSN MUI No. 80/DSNMUI/III/2011.
Sedangkan kegiatan syariah di pasar modal merupakan kegiatan yang terkait dengan penawaran umum efek syariah, perdagangan efek syariah, pengelolaan investasi syariah di pasar modal, dan emiten atau perusahaan publik yang berkaitan dengan efek syariah yang diterbitkannya, perusahaan efek yang sebagian atau seluruh usahanya berdasarkan prinsip syariah, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek syariah.[²]
Selain memiliki perbedaan secara prinsip, p͟a͟s͟a͟r͟ m͟o͟d͟a͟l͟ k͟o͟n͟v͟e͟n͟s͟i͟o͟n͟a͟l͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ p͟a͟s͟a͟r͟ m͟o͟d͟a͟l͟ s͟y͟a͟r͟i͟a͟h͟ j͟u͟g͟a͟ m͟e͟m͟i͟l͟i͟k͟i͟ p͟e͟r͟b͟e͟d͟a͟a͟n͟ l͟a͟i͟n͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ b͟͟͟͟e͟͟͟͟r͟͟͟͟i͟͟͟͟k͟͟͟͟u͟͟͟͟t͟͟͟͟.
Pertama, instrumen investasi. In͟s͟t͟r͟u͟m͟e͟n͟ i͟n͟v͟e͟s͟t͟a͟s͟i͟ d͟͟a͟͟l͟͟a͟͟m͟͟ p͟a͟s͟a͟r͟ m͟o͟d͟a͟l͟ s͟y͟a͟r͟i͟a͟h͟ t͟e͟r͟b͟a͟t͟a͟s͟ p͟a͟d͟a͟ e͟f͟e͟k͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟m͟e͟n͟u͟h͟i͟ k͟r͟i͟t͟e͟r͟i͟a͟ s͟͟y͟͟a͟͟r͟͟i͟͟a͟͟h͟͟, seperti efek syariah berupa saham, sukuk, reksa dana syariah, dan efek beragun aset syariah, serta dana investasi real estat syariah berbentuk kontrak investasi kolektif. Kriteria efek syariah diatur dalam Pasal 3 POJK 15/2015 jo. POJK 8/2025.
Sedangkan p͟a͟s͟a͟r͟ m͟o͟d͟a͟l͟ k͟͟͟o͟͟͟n͟͟͟v͟͟͟e͟͟͟n͟͟͟s͟͟͟i͟͟͟o͟͟͟n͟͟͟a͟͟͟l͟͟͟ t͟͟i͟͟d͟͟a͟͟k͟͟ m͟e͟m͟b͟a͟t͟a͟s͟i͟ j͟e͟n͟i͟s͟ i͟n͟s͟t͟r͟u͟m͟e͟n͟ sepanjang memenuhi ketentuan umum pasar modal.
Kedua, akad atau perjanjian. P͟a͟s͟a͟r͟ m͟o͟d͟a͟l͟ s͟y͟a͟r͟i͟a͟h͟ m͟e͟n͟g͟g͟u͟n͟a͟k͟a͟n͟ a͟k͟a͟d͟-a͟k͟a͟d͟ t͟e͟r͟t͟e͟n͟t͟u͟ s͟e͟p͟e͟r͟t͟i͟ m͟͟u͟͟d͟͟a͟͟r͟͟a͟͟b͟͟a͟͟h͟͟, m͟͟u͟͟s͟͟y͟͟a͟͟r͟͟a͟͟k͟͟a͟͟h͟͟, i͟j͟a͟r͟a͟h͟ d͟a͟n͟ w͟͟a͟͟k͟͟a͟͟l͟͟a͟͟h͟͟. Selain itu, transaksi pasar modal syariah harus berbasis underlying asset, serta t͟i͟d͟a͟k͟ d͟i͟p͟e͟r͟b͟o͟l͟e͟h͟k͟a͟n͟ melakukan spekulasi, manipulasi, dan tindakan lain yang di dalamnya mengandung unsur dharar, gharar, riba, maisir, risywah, maksiat dan kezaliman, taghrir, ghisysy, tanajusy/najsy, ihtikar, bai’ al-ma’dum, talaqqi al-rukban, ghabn, dan tadlis.
Sedangkan p͟a͟s͟a͟r͟ m͟o͟d͟a͟l͟ k͟o͟n͟v͟e͟n͟s͟i͟o͟n͟a͟l͟ m͟e͟n͟g͟g͟u͟n͟a͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟j͟a͟n͟j͟i͟a͟n͟ u͟m͟u͟m͟ d͟a͟l͟a͟m͟ h͟u͟k͟u͟m͟ p͟e͟r͟d͟a͟t͟a͟ t͟a͟n͟p͟a͟ b͟a͟t͟a͟s͟a͟n͟ a͟k͟a͟d͟ s͟y͟a͟r͟i͟a͟h͟ dan memperbolehkan instrumen berbasis bunga maupun derivatif tertentu.
Ketiga, screening pada emiten. Dalam pasar modal syariah, kegiatan dan jenis usaha emiten, cara pengelolaan usaha yang dilakukan, serta produk atau jasa yang diterbitkan oleh emiten, h͟a͟r͟u͟s͟ b͟e͟r͟d͟a͟s͟a͟r͟k͟a͟n͟ p͟r͟i͟n͟s͟i͟p͟ s͟͟y͟͟a͟͟r͟͟i͟͟a͟͟h͟͟. Emiten syariah atau perusahaan publik syariah harus memenuhi kualifikasi tertentu sebagaimana diatur dalam POJK 17/2015. Sedangkan pada pasar modal konvensional tidak mengenal screening berbasis nilai halal-haram.
Keempat, sistem pengawasan. Terdapat dua lembaga pengawasan pada pasar modal syariah yaitu O͟t͟o͟r͟i͟t͟a͟s͟ J͟a͟s͟a͟ K͟e͟u͟a͟n͟g͟a͟n͟ (“O͟͟J͟͟K͟͟”) dan D͟e͟w͟a͟n͟ P͟e͟n͟g͟a͟w͟a͟s͟ S͟y͟a͟r͟i͟a͟h͟ (“D͟P͟S͟”) sebagai pengawas terhadap kepatuhan prinsip syariah. Sedangkan p͟a͟s͟a͟r͟ m͟o͟d͟a͟l͟ k͟o͟n͟v͟e͟n͟s͟i͟o͟n͟a͟l͟ h͟a͟n͟y͟a͟ d͟i͟a͟w͟a͟s͟i͟ o͟l͟e͟h͟ O͟͟J͟͟K͟͟.
Kelima, tujuan dan orientasi. P͟a͟s͟a͟r͟ m͟o͟d͟a͟l͟ s͟y͟a͟r͟i͟a͟h͟ t͟i͟d͟a͟k͟ s͟e͟m͟a͟t͟a͟-m͟a͟t͟a͟ b͟e͟r͟o͟r͟i͟e͟n͟t͟a͟s͟i͟ p͟a͟d͟a͟ k͟͟e͟͟u͟͟n͟͟t͟͟u͟͟n͟͟g͟͟a͟͟n͟͟, t͟e͟t͟a͟p͟i͟ j͟u͟g͟a͟ p͟a͟d͟a͟ a͟s͟p͟e͟k͟ k͟e͟b͟e͟r͟k͟a͟h͟a͟n͟ d͟a͟n͟ k͟e͟p͟a͟t͟u͟h͟a͟n͟ s͟y͟a͟r͟i͟a͟h͟ (e͟t͟h͟i͟c͟a͟l͟ i͟͟n͟͟v͟͟e͟͟s͟͟t͟͟i͟͟n͟͟g͟͟). Sedangkan p͟a͟s͟a͟r͟ m͟o͟d͟a͟l͟ k͟o͟n͟v͟e͟n͟s͟i͟o͟n͟a͟l͟ l͟e͟b͟i͟h͟ b͟e͟r͟o͟r͟i͟e͟n͟t͟a͟s͟i͟ p͟a͟d͟a͟ p͟r͟o͟f͟i͟t͟ d͟a͟n͟ e͟f͟i͟s͟i͟e͟n͟s͟i͟ e͟͟k͟͟o͟͟n͟͟o͟͟m͟͟i͟͟.
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat dan dapat dijadikan pembelajaran untuk kita semua terlebih untuk penanya dan Paralegal ubklawyers pada khususnya.
D͟a͟s͟a͟r͟ H͟u͟k͟u͟m͟:
- Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal;
- Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan;
- Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 15/POJK.04/2015 tentang Penerapan Prinsip Syariah di Pasar Modal;
- Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 17/POJK.04/2015 tentang Penerbitan dan Persyaratan Efek Syariah Berupa Saham oleh Emiten Syariah atau Perusahaan Publik Syariah;
- Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 8 Tahun 2025 tentang Penerbitan Daftar Efek Syariah dan Daftar Efek Syariah Luar Negeri;
- Fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor 80/DSN-MUI/III/2011 tentang Penerapan Prinsip Syariah dalam Mekanisme Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas di Pasar Reguler Bursa Efek.
Artikel ini dibuat oleh Dr. Widhayani Dian Pawestri. SH, MH, dipublikasikan “..Hukumonline.com..” dengan judul Perbandingan Pasar Modal Konvensional dan Syariah pada tanggal 27 Maret 2026. Dan diteruskan oleh ubklawyers pada tanggal 07 April 2026M/19 Syawal 1447H.
Seluruh Informasi Hukum yang ada di LBH-UMAR BIN KHATTAB disiapkan semata-mata untuk t͟͟͟u͟͟͟j͟͟͟u͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟ p͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, p͟e͟m͟b͟e͟l͟a͟j͟a͟r͟a͟n͟ dan b͟e͟r͟s͟i͟f͟a͟t͟ u͟m͟u͟m͟. Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan Pengacara, Konsultan Hukum dan/atau Paralegal UBK LAWYERS.
Sedang menghadapi permasalahan hukum? A͟j͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟t͟a͟n͟y͟a͟a͟n͟ melalui email, telepon atau chat.👇🏼
Email:
ubklawyer@gmail.com
Telepon/Chat:
089666552118
Berkenan G͟a͟b͟u͟n͟g͟ G͟r͟o͟u͟p͟, untuk jadi bagian Keluarga Besar UBK LAWYERS. Klik link dibawah.👇🏼
I͟K͟U͟T͟I͟ W͟h͟a͟t͟s͟A͟p͟p͟ C͟h͟a͟n͟n͟e͟l͟ LBH-UMAR BIN KHATTAB. Untuk memperkaya Riset Hukum Anda, klik link dibawah.👇🏼
🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸
#cerdashukum
#studylawtogether
#ubklawyers

