INDRAMAYU (lintaspanturaindonesia.com)– PERTANYAAN:
Bagaimana keabsahan surat kuasa lisan? Bagaimana jika saya punya kasus begini:
- Pada tahun 2020, ibu dan ayah menjadikan sertifikat rumah sebagai jaminan ke bank;
- Tahun 2023, saat keduanya telah bercerai, rumah tersebut akan disita oleh bank. Agar tidak disita, ibu saya menjual rumah tersebut;
- Dalam jual beli tersebut, bank meminta anak dan mantan suami sebagai saksi;
Secara lisan ayah menyetujui penjualan rumah tersebut dan menyerahkan kewenangan kepada anaknya (saya dan dua saudara saya). Dikarenakan saat penandatangan jual beli tersebut ayah tidak hadir (namun ayah mengetahui hari itu akan dilakukan penandatanganan), ketika dihubungi via telepon, beliau mengatakan menyerahkan kuasa secara lisan untuk menandatangani sepenuhnya kepada saya dan dua saudara saya. Oleh karena itu kami memberanikan diri untuk menandatanganinya.
Sekarang, ayah menuntut kami atas pemalsuan tanda tangan. Mohon arahan apa yang harus saya lakukan terkait hal ini. Sebagai informasi tambahan, sebelum jual beli rumah tersebut, telah dilakukan persidangan di kantor urusan agama terkait harta gono gini. Pengadilan menyatakan harta tersebut sepenuhnya milik ibu.
Atas penjelasan dari keluhan kami tersebut, kami ucapkan banyak terimakasih. Semoga kebaikan ubklawyers dan paralegalnya, dibalas Allah SWT dengan segala kebaikan. Aamiin..
Wassalam..
Tamir – UBK Senior, Lajer
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
“INTISARI JAWABAN”
【ℌ𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔓𝔢𝔯𝔡𝔞𝔱𝔞】
𝔓𝔢𝔯𝔟𝔲𝔞𝔱𝔞𝔫 𝔄𝔫𝔡𝔞 𝔞𝔱𝔞𝔲 𝔰𝔞𝔲𝔡𝔞𝔯𝔞 𝔄𝔫𝔡𝔞 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔪𝔢𝔫𝔞𝔫𝔡𝔞𝔱𝔞𝔫𝔤𝔞𝔫𝔦 𝔡𝔬𝔨𝔲𝔪𝔢𝔫 𝔡𝔢𝔫𝔤𝔞𝔫 𝔱𝔞𝔫𝔡𝔞 𝔱𝔞𝔫𝔤𝔞𝔫 𝔰𝔢𝔫𝔡𝔦𝔯𝔦 𝔞𝔱𝔞𝔰 𝔫𝔞𝔪𝔞 𝔞𝔶𝔞𝔥 𝔄𝔫𝔡𝔞, 𝔪𝔢𝔫𝔲𝔯𝔲𝔱 𝔥𝔢𝔪𝔞𝔱 𝔨𝔞𝔪𝔦, 𝔱𝔦𝔡𝔞𝔨 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔡𝔦𝔨𝔞𝔱𝔢𝔤𝔬𝔯𝔦𝔨𝔞𝔫 𝔰𝔢𝔟𝔞𝔤𝔞𝔦 𝔭𝔢𝔪𝔞𝔩𝔰𝔲𝔞𝔫 𝔱𝔞𝔫𝔡𝔞 𝔱𝔞𝔫𝔤𝔞𝔫 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔡𝔦𝔞𝔱𝔲𝔯 𝔡𝔞𝔩𝔞𝔪 𝔓𝔞𝔰𝔞𝔩 391 𝔘𝔘 1/2023 𝔱𝔢𝔫𝔱𝔞𝔫𝔤 𝔎𝔘ℌ𝔓 𝔟𝔞𝔯𝔲.
𝔄𝔡𝔞𝔭𝔲𝔫 𝔡𝔞𝔩𝔞𝔪 𝔥𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔭𝔢𝔯𝔡𝔞𝔱𝔞, 𝔭𝔢𝔯𝔟𝔲𝔞𝔱𝔞𝔫 𝔞𝔶𝔞𝔥 𝔄𝔫𝔡𝔞 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔪𝔢𝔫𝔶𝔢𝔯𝔞𝔥𝔨𝔞𝔫 𝔭𝔢𝔪𝔟𝔲𝔟𝔲𝔥𝔞𝔫 𝔱𝔞𝔫𝔡𝔞 𝔱𝔞𝔫𝔤𝔞𝔫 𝔰𝔢𝔟𝔞𝔤𝔞𝔦 𝔰𝔞𝔨𝔰𝔦 𝔡𝔞𝔩𝔞𝔪 𝔧𝔲𝔞𝔩 𝔟𝔢𝔩𝔦 𝔱𝔞𝔫𝔞𝔥 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔡𝔦𝔞𝔫𝔤𝔤𝔞𝔭 𝔰𝔢𝔟𝔞𝔤𝔞𝔦 𝔭𝔢𝔯𝔧𝔞𝔫𝔧𝔦𝔞𝔫 𝔭𝔢𝔪𝔟𝔢𝔯𝔦𝔞𝔫 𝔨𝔲𝔞𝔰𝔞. 𝔐𝔢𝔰𝔨𝔦 𝔨𝔲𝔞𝔰𝔞 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔡𝔦𝔟𝔢𝔯𝔦𝔨𝔞𝔫 𝔞𝔡𝔞𝔩𝔞𝔥 𝔨𝔲𝔞𝔰𝔞 𝔩𝔦𝔰𝔞𝔫, 𝔭𝔢𝔪𝔟𝔢𝔯𝔦𝔞𝔫 𝔨𝔲𝔞𝔰𝔞 𝔦𝔱𝔲 𝔰𝔞𝔥 𝔰𝔢𝔭𝔞𝔫𝔧𝔞𝔫𝔤 𝔪𝔢𝔪𝔢𝔫𝔲𝔥𝔦 𝔰𝔶𝔞𝔯𝔞𝔱 𝔰𝔞𝔥𝔫𝔶𝔞 𝔭𝔢𝔯𝔧𝔞𝔫𝔧𝔦𝔞𝔫. 𝔑𝔞𝔪𝔲𝔫, 𝔨𝔞𝔯𝔢𝔫𝔞 𝔨𝔲𝔞𝔰𝔞 𝔡𝔦𝔟𝔢𝔯𝔦𝔨𝔞𝔫 𝔰𝔢𝔠𝔞𝔯𝔞 𝔩𝔦𝔰𝔞𝔫, 𝔟𝔞𝔤𝔞𝔦𝔪𝔞𝔫𝔞 𝔭𝔢𝔪𝔟𝔲𝔨𝔱𝔦𝔞𝔫 𝔨𝔲𝔞𝔰𝔞 𝔩𝔦𝔰𝔞𝔫?
𝔓𝔢𝔫𝔧𝔢𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔩𝔢𝔟𝔦𝔥 𝔩𝔞𝔫𝔧𝔲𝔱 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔄𝔫𝔡𝔞 𝔟𝔞𝔠𝔞 𝔲𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔡𝔦 𝔟𝔞𝔴𝔞𝔥 𝔦𝔫𝔦.
ULASAN SELENGKAPNYA;
Terimakasih atas pertanyaan Anda.
Artikel ini dibuat berdasarkan KUHP lama dan UU 1/2023 tentang KUHP yang diundangkan pada tanggal 2 Januari 2023.
Artikel ini dibuat berdasarkan KUHAP lama dan UU 20/2025 tentang KUHAP yang diundangkan pada tanggal 17 Desember 2025.
Dalam menjawab pertanyaan Anda, kami akan berfokus pada masalah keabsahan perbuatan Anda dan saudara dalam menandatangani dokumen mewakili ayah serta kuasa lisan yang diberikan.
Perbuatan Pemalsuan Surat
Pertama, penting untuk mengetahui tentang tindak pidana pemalsuan surat secara historis diatur dalam ~Pasal 263 KUHP lama yang sudah tidak berlaku,~ dan Pasal 391 UU 1/2023 tentang KUHP baru yang berlaku 3 tahun sejak tanggal diundangkan,[¹] yaitu tahun 2026. Berikut bunyi pasalnya:
~Pasal 263 KUHP lama~
- Barang siapa membuat surat palsu atau memalsukan surat yang dapat menimbulkan sesuatu hak, perikatan atau pembebasan hutang, atau yang diperuntukkan sebagai bukti daripada sesuatu hal dengan maksud untuk memakai atau menyuruh orang lain memakai surat tersebut seolah-olah isinya benar dan tidak dipalsu, diancam jika pemakaian tersebut dapat menimbulkan kerugian, karena pemalsuan surat, dengan pidana penjara paling lama 6 tahun.
- Diancam dengan pidana yang sama, barang siapa dengan sengaja memakai surat palsu atau yang dipalsukan seolah-olah sejati, jika pemakaian surat itu dapat menimbulkan kerugian.
Pasal 391 UU 1/2023
- Setiap Orang yang membuat secara tidak benar atau memalsu Surat yang dapat menimbulkan suatu hak, perikatan atau pembebasan utang, atau yang diperuntukkan sebagai bukti dari suatu hal, dengan maksud untuk menggunakan atau meminta orang lain menggunakan seolah-olah isinya benar dan tidak palsu, jika penggunaan Surat tersebut dapat menimbulkan kerugian, dipidana karena pemalsuan Surat, dengan pidana penjara paling lama 6 tahun atau pidana denda paling banyak kategori VI, yaitu Rp2 miliar.[²]
- Setiap Orang yang menggunakan Surat yang isinya tidak benar atau yang dipalsu, seolah-olah benar atau tidak dipalsu, jika penggunaan Surat tersebut dapat menimbulkan kerugian dipidana dengan pidana yang sama dengan ayat (1).
Berdasarkan Penjelasan Pasal 391 UU 1/2023, yang dimaksud dengan “surat” adalah s͟e͟m͟u͟a͟ g͟a͟m͟b͟a͟r͟a͟n͟ d͟a͟l͟a͟m͟ p͟i͟k͟i͟r͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟w͟u͟j͟u͟d͟k͟a͟n͟ d͟a͟l͟a͟m͟ p͟e͟r͟k͟a͟t͟a͟a͟n͟ y͟a͟i͟t͟u͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟t͟u͟a͟n͟g͟k͟a͟n͟ d͟a͟l͟a͟m͟ t͟u͟l͟i͟s͟a͟n͟ b͟a͟i͟k͟ t͟u͟l͟i͟s͟a͟n͟ t͟a͟n͟g͟a͟n͟ m͟a͟u͟p͟u͟n͟ m͟e͟l͟a͟l͟u͟i͟ m͟͟e͟͟s͟͟i͟͟n͟͟, t͟e͟r͟m͟a͟s͟u͟k͟ j͟u͟g͟a͟ a͟n͟t͟a͟r͟a͟ l͟a͟i͟n͟ s͟͟a͟͟l͟͟i͟͟n͟͟a͟͟n͟͟, h͟a͟s͟i͟l͟ f͟͟o͟͟t͟͟o͟͟k͟͟o͟͟p͟͟i͟͟, f͟a͟k͟s͟i͟m͟i͟l͟e͟ a͟t͟a͟s͟ s͟u͟r͟a͟t͟ t͟͟͟e͟͟͟r͟͟͟s͟͟͟e͟͟͟b͟͟͟u͟͟͟t͟͟͟. Surat yang dipalsu harus dapat:
a. menimbulkan suatu
hak, misalnya karcis
atau tanda masuk;
b. menimbulkan suatu
perikatan, misalnya
perjanjian kredit,
jual beli, sewa
menyewa;
c. menerbitkan suatu
pembebasan utang;
atau
d. dipergunakan
sebagai bukti bagi
suatu perbuatan
atau peristiwa,
misalnya buku
tabungan, surat
tanda kelahiran,
surat angkutan,
buku kas, dan
lain-lain.
Pemalsuan Tanda Tangan
Kedua, perihal pemalsuan tanda tangan, dalam Putusan MA No. 1619K/PID/2006, terdapat preseden di mana p͟e͟m͟a͟l͟s͟u͟a͟n͟ t͟a͟n͟d͟a͟ t͟a͟n͟g͟a͟n͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ m͟e͟n͟i͟r͟u͟ a͟t͟a͟u͟ m͟e͟n͟c͟o͟n͟t͟o͟h͟ d͟a͟n͟ m͟e͟m͟b͟u͟b͟u͟h͟k͟a͟n͟ t͟a͟n͟d͟a͟ t͟a͟n͟g͟a͟n͟ s͟e͟j͟u͟m͟l͟a͟h͟ p͟e͟j͟a͟b͟a͟t͟ a͟g͟a͟r͟ s͟e͟b͟u͟a͟h͟ d͟o͟k͟u͟m͟e͟n͟ s͟e͟o͟l͟a͟h͟-o͟l͟a͟h͟ a͟s͟l͟i͟ (hal. 8 – 9).
Berdasarkan keterangan Anda, Anda atau saudara kandung Andalah yang menandatangani akta jual beli tersebut atas nama ayah Anda yang berperan sebagai salah satu saksi dalam akta. Dengan demikian, kami asumsikan berarti t͟a͟n͟d͟a͟ t͟a͟n͟g͟a͟n͟ i͟t͟u͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ t͟a͟n͟d͟a͟ t͟a͟n͟g͟a͟n͟ A͟n͟d͟a͟ a͟t͟a͟u͟ s͟a͟u͟d͟a͟r͟a͟ k͟a͟n͟d͟u͟n͟g͟ A͟n͟d͟a͟ s͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟r͟͟i͟͟, namun m͟e͟n͟g͟a͟t͟a͟s͟n͟a͟m͟a͟k͟a͟n͟ a͟y͟a͟h͟ A͟͟n͟͟d͟͟a͟͟.
Berdasarkan uraian di atas, sepanjang Anda atau saudara kandung Anda menandatangani dokumen tersebut dengan tanda tangan sendiri, namun atas nama ayah Anda, menurut hemat kami, p͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ A͟n͟d͟a͟ t͟i͟d͟a͟k͟ m͟e͟m͟e͟n͟u͟h͟i͟ u͟n͟s͟u͟r͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ p͟e͟m͟a͟l͟s͟u͟a͟n͟ s͟͟u͟͟r͟͟a͟͟t͟͟.
Pemberian Kuasa Lisan
Ketiga, terkait pemberian kuasa secara perdata, Pasal 1792 KUH Perdata mengatur ketentuan bahwa p͟e͟m͟b͟e͟r͟i͟a͟n͟ k͟u͟a͟s͟a͟ i͟a͟l͟a͟h͟ s͟u͟a͟t͟u͟ p͟e͟r͟s͟e͟t͟u͟j͟u͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ b͟e͟r͟i͟s͟i͟k͟a͟n͟ p͟e͟m͟b͟e͟r͟i͟a͟n͟ k͟e͟k͟u͟a͟s͟a͟a͟n͟ k͟e͟p͟a͟d͟a͟ o͟r͟a͟n͟g͟ l͟a͟i͟n͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟e͟r͟i͟m͟a͟n͟y͟a͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟l͟a͟k͟s͟a͟n͟a͟k͟a͟n͟ s͟u͟a͟t͟u͟ a͟t͟a͟s͟ n͟a͟m͟a͟ o͟r͟a͟n͟g͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟m͟b͟e͟r͟i͟k͟a͟n͟ k͟͟u͟͟a͟͟s͟͟a͟͟.
Kemudian, patut diperhatikan bahwa pemberian kuasa adalah salah satu jenis persetujuan/perjanjian.
Terkait hal ini, untuk sahnya pemberian kuasa itu juga harus memenuhi syarat sah perjanjian dalam Pasal 1320 KUH Perdata, yaitu:
- kesepakatan mereka yang mengikatkan dirinya;
- kecakapan untuk membuat suatu perikatan;
- suatu pokok persoalan tertentu;
- suatu sebab yang tidak terlarang.
Selanjutnya, Pasal 1793 KUH Perdata menerangkan ketentuan bahwa kuasa dapat diberikan dan diterima dengan suatu akta umum, dengan suatu surat di bawah tangan bahkan dengan sepucuk surat ataupun dengan lisan. Penerimaan suatu kuasa dapat pula terjadi secara diam-diam dan disimpulkan dari pelaksanaan kuasa itu oleh yang diberi kuasa.
Dikarenakan tidak ada ketentuan yang mewajibkan pemberian kuasa untuk dilakukan secara tertulis, maka sekalipun ayah Anda memberikan kuasa lisan, pemberian kuasa tersebut tetap sah.
Tentu dalam hal ini tetap perlu diperhatikan pemenuhan syarat sahnya perjanjian dalam pemberian kuasa. Berdasarkan uraian yang disampaikan, p͟e͟n͟a͟n͟d͟a͟t͟a͟n͟g͟a͟n͟a͟n͟ i͟t͟u͟ t͟e͟l͟a͟h͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ o͟l͟e͟h͟ p͟i͟h͟a͟k͟ y͟a͟n͟g͟ b͟͟e͟͟r͟͟w͟͟e͟͟n͟͟a͟͟n͟͟g͟͟, s͟e͟p͟a͟n͟j͟a͟n͟g͟ a͟y͟a͟h͟ A͟n͟d͟a͟ m͟e͟m͟a͟n͟g͟ m͟e͟m͟b͟e͟r͟i͟k͟a͟n͟ k͟u͟a͟s͟a͟ s͟e͟c͟a͟r͟a͟ l͟i͟s͟a͟n͟ k͟e͟p͟a͟d͟a͟ A͟n͟d͟a͟ a͟t͟a͟u͟ s͟a͟u͟d͟a͟r͟a͟ k͟a͟n͟d͟u͟n͟g͟ A͟n͟d͟a͟ u͟n͟t͟u͟k͟ i͟͟t͟͟u͟͟.
Pembuktian Pemberian Kuasa Lisan
Keempat, tentunya yang menjadi perhatian adalah bagaimana pembuktian pemberian kuasa lisan yang disampaikan ayah Anda? Dalam perkara perdata, pemberian kuasa lisan masih dapat dibuktikan melalui alat bukti lain.
Adapun alat bukti (selain bukti tertulis) sebagaimana diterangkan dalam ketentuan Pasal 1866 KUH Perdata adalah m͟e͟l͟a͟l͟u͟i͟ b͟u͟k͟t͟i͟ s͟͟a͟͟k͟͟s͟͟i͟͟, p͟͟e͟͟r͟͟s͟͟a͟͟n͟͟g͟͟k͟͟a͟͟a͟͟n͟͟, p͟͟e͟͟n͟͟g͟͟a͟͟k͟͟u͟͟a͟͟n͟͟, d͟a͟n͟ s͟͟u͟͟m͟͟p͟͟a͟͟h͟͟.
Selain itu, alat bukti yang sah dalam perkara pidana, secara historis dapat merujuk pada ~Pasal 184 ayat (1) KUHAP lama yang sudah tidak berlaku,~ dan Pasal 235 UU 20/2025 tentang KUHAP baru, yang mulai berlaku pada 2 Januari 2026,[³] sebagai berikut:
~Pasal 184 ayat (1) KUHAP lama~
Alat bukti yang sah ialah:
a. keterangan saksi;
b. keterangan ahli;
c. surat;
d. petunjuk;
e. keterangan
terdakwa.
Pasal 235 ayat (1) UU 20/2025
Alat bukti terdiri atas:
a. keterangan saksi;
b. keterangan ahli;
c. surat;
d. keterangan
terdakwa;
e. barang bukti;
f. bukti elektronik;
g. pengamatan hakim;
dan
h. segala sesuatu
yang dapat
digunakan untuk
kepentingan
pembuktian pada
pemeriksaan di
sidang pengadilan
sepanjang secara
tidak melawan
hukum.
Berkaitan dengan keterangan saksi, dalam ~Pasal 1 angka 26 KUHAP lama,~ perlu diperhatikan bahwa k͟e͟t͟e͟r͟a͟n͟g͟a͟n͟ s͟a͟k͟s͟i͟ h͟a͟n͟y͟a͟ t͟e͟r͟b͟a͟t͟a͟s͟ p͟a͟d͟a͟ o͟r͟a͟n͟g͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟d͟e͟n͟g͟a͟r͟ s͟͟͟e͟͟͟n͟͟͟d͟͟͟i͟͟͟r͟͟͟i͟͟͟, m͟e͟l͟i͟h͟a͟t͟ s͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟r͟͟i͟͟, d͟a͟n͟ m͟e͟n͟g͟a͟l͟a͟m͟i͟ s͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟r͟͟i͟͟, s͟e͟h͟i͟n͟g͟g͟a͟ d͟a͟p͟a͟t͟ m͟e͟m͟b͟e͟r͟i͟k͟a͟n͟ k͟e͟t͟e͟r͟a͟n͟g͟a͟n͟ g͟u͟n͟a͟ k͟e͟p͟e͟n͟t͟i͟n͟g͟a͟n͟ p͟͟e͟͟n͟͟y͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, p͟e͟n͟u͟n͟t͟u͟t͟a͟n͟ d͟a͟n͟ p͟e͟r͟a͟d͟i͟l͟a͟n͟ t͟e͟n͟t͟a͟n͟g͟ s͟u͟a͟t͟u͟ p͟e͟r͟k͟a͟r͟a͟ p͟͟i͟͟d͟͟a͟͟n͟͟a͟͟.
Akan tetapi, setelah dikeluarkannya Putusan MK No. 65/PUU-VIII/2010 (hal. 92), p͟e͟n͟g͟e͟r͟t͟i͟a͟n͟ s͟a͟k͟s͟i͟ t͟e͟l͟a͟h͟ d͟i͟p͟e͟r͟l͟u͟a͟s͟ m͟e͟n͟j͟a͟d͟i͟ o͟r͟a͟n͟g͟ y͟a͟n͟g͟ d͟a͟p͟a͟t͟ m͟e͟m͟b͟e͟r͟i͟k͟a͟n͟ k͟e͟t͟e͟r͟a͟n͟g͟a͟n͟ d͟a͟l͟a͟m͟ r͟a͟n͟g͟k͟a͟ p͟͟e͟͟n͟͟y͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, p͟͟e͟͟n͟͟u͟͟n͟͟t͟͟u͟͟t͟͟a͟͟n͟͟, d͟a͟n͟ p͟e͟r͟a͟d͟i͟l͟a͟n͟ s͟u͟a͟t͟u͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ y͟a͟n͟g͟ t͟i͟d͟a͟k͟ s͟e͟l͟a͟l͟u͟ i͟a͟ d͟e͟n͟g͟a͟r͟ s͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟r͟͟i͟͟, i͟a͟ l͟i͟h͟a͟t͟ s͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟r͟͟i͟͟, d͟a͟n͟ i͟a͟ a͟l͟a͟m͟i͟ s͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟r͟͟i͟͟.
Menurut hemat kami, ketentuan dari putusan tersebut diadopsi dalam pendefinisian saksi dalam UU 20/2025 tentang KUHAP baru. Hal ini karena dalam UU 20/2025, saksi tidak limitatif pada orang yang mendengar, melihat, dan mengalami saja, sebagaimana diatur Pasal 1 angka 47 UU 20/2025:
- Saksi adalah seseorang yang memberikan keterangan mengenai peristiwa pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri, dan ia alami sendiri, a͟t͟a͟u͟ o͟r͟a͟n͟g͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟m͟i͟l͟i͟k͟i͟ d͟͟a͟͟n͟͟/a͟t͟a͟u͟ m͟e͟n͟g͟u͟a͟s͟a͟i͟ d͟a͟t͟a͟ d͟͟a͟͟n͟͟/a͟t͟a͟u͟ i͟n͟f͟o͟r͟m͟a͟s͟i͟ y͟a͟n͟g͟ b͟e͟r͟k͟a͟i͟t͟a͟n͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ p͟e͟r͟k͟a͟r͟a͟ y͟a͟n͟g͟ s͟e͟d͟a͟n͟g͟ d͟i͟p͟e͟r͟i͟k͟s͟a͟ guna kepentingan penyelidikan, penyidikan, penuntutan dan/atau pemeriksaan di sidang pengadilan.
Untuk membuktikan keabsahan pemberian kuasa dan/atau membuktikan tidak terpenuhinya unsur perbuatan tindak pidana pemalsuan tanda tangan, Anda dapat menggunakan alat bukti lain selain alat bukti tertulis, seperti keterangan saksi atau alat bukti lain yang sah bergantung pada perkara yang sedang Anda hadapi (perdata/pidana).
Patut dipahami juga bahwa Pasal 1905 KUH Perdata menegaskan bahwa keterangan seorang saksi saja tanpa alat pembuktian lain, dalam pengadilan tidak boleh dipercaya.
Selain itu, terdapat asas unus testis nullus testis dalam hukum acara pidana:
~Pasal 185 ayat (2) KUHAP lama~
- Keterangan seorang saksi saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa terdakwa bersalah terhadap perbuatan yang didakwakan kepadanya;
Pasal 237 ayat (1) UU 20/2025
- Keterangan 1 (satu) orang Saksi tidak cukup untuk membuktikan bahwa Terdakwa bersalah terhadap perbuatan yang didakwakan kepadanya.
Dengan kata lain, k͟e͟t͟e͟r͟a͟n͟g͟a͟n͟ s͟e͟o͟r͟a͟n͟g͟ s͟a͟k͟s͟i͟ s͟a͟j͟a͟ t͟i͟d͟a͟k͟ c͟u͟k͟u͟p͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ p͟͟e͟͟m͟͟b͟͟u͟͟k͟͟t͟͟i͟͟a͟͟n͟͟, h͟a͟r͟u͟s͟ a͟d͟a͟ k͟e͟t͟e͟r͟a͟n͟g͟a͟n͟ d͟a͟r͟i͟ b͟e͟b͟e͟r͟a͟p͟a͟ o͟r͟a͟n͟g͟ s͟a͟k͟s͟i͟ d͟͟a͟͟n͟͟/a͟t͟a͟u͟ a͟l͟a͟t͟ b͟u͟k͟t͟i͟ l͟a͟i͟n͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟n͟j͟a͟d͟i͟ a͟l͟a͟t͟ b͟u͟k͟t͟i͟ y͟a͟n͟g͟ s͟a͟h͟.
Demikian jawaban dari kami terkait permasalahan kuasa lisan dan pembuktiannya sebagaimana ditanyakan, semoga bermanfaat dan dapat dijadikan pembelajaran untuk kita semua terlebih untuk penanya dan Paralegal ubklawyers pada khususnya.
D͟a͟s͟a͟r͟ H͟u͟k͟u͟m͟:
- Kitab Undang-Undang Hukum Perdata;
- Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana;
- Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2025 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana.
Artikel ini adalah pemutakhiran ketiga dari artikel dengan judul Pembuktian Pemberian Kuasa Secara Lisan yang dibuat oleh Sigar Aji Poerana, S.H dan pertama kali dipublikasikan pada 12 Mei 2020, kemudian dimutakhirkan oleh Bernadetha Aurelia Oktavira, S.H., pada 26 Agustus 2022, dan dimutakhirkan kedua kali Renata Christha Auli, S.H. oleh 29 Agustus 2025. Dipublikasikan kedua oleh “..Hukumonline.com..” pada tanggal 12 Januari 2026. Dan diteruskan oleh ubklawyers pada tanggal 03 Maret 2026M/13 Ramadhan 1447H.
Seluruh Informasi Hukum yang ada di LBH-UMAR BIN KHATTAB disiapkan semata-mata untuk t͟͟͟u͟͟͟j͟͟͟u͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟ p͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, p͟e͟m͟b͟e͟l͟a͟j͟a͟r͟a͟n͟ dan b͟e͟r͟s͟i͟f͟a͟t͟ u͟m͟u͟m͟. Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan Pengacara, Konsultan Hukum dan/atau Paralegal UBK LAWYERS.
Sedang menghadapi permasalahan hukum? A͟j͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟t͟a͟n͟y͟a͟a͟n͟ melalui email, telepon atau chat.👇🏼
Email:
ubklawyer@gmail.com
Telepon/Chat:
089666552118
Berkenan G͟a͟b͟u͟n͟g͟ G͟r͟o͟u͟p͟, untuk jadi bagian Keluarga Besar UBK LAWYERS. Klik link dibawah.👇🏼
I͟K͟U͟T͟I͟ W͟h͟a͟t͟s͟A͟p͟p͟ C͟h͟a͟n͟n͟e͟l͟ LBH-UMAR BIN KHATTAB. Untuk memperkaya Riset Hukum Anda, klik link dibawah.👇🏼
🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸
#cerdashukum
#studylawtogether
#ubklawyers

