INDRAMAYU — PERTANYAAN:
Bagaimana prosedur/mekanisme/tahapan penghentian pemberian perlindungan terhadap korban dan/atau saksi pelanggaran hak asasi manusia yang berat? Mohon sertakan dasar hukum alasan penghentian perlindungan saksi. Atas penjelasannya diucapkan terimakasih, untuk ubklawyers beserta Paralegalnya semoga dimudahkan segala urusan dan bisnisnya. Aamiin..
bye:
Ali. M – Gunung Jati, Cirebon
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
“INTISARI JAWABAN”
【ℌ𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔓𝔦𝔡𝔞𝔫𝔞】
𝔖𝔞𝔨𝔰𝔦 𝔡𝔞𝔫/𝔞𝔱𝔞𝔲 𝔨𝔬𝔯𝔟𝔞𝔫 𝔪𝔢𝔪𝔦𝔩𝔦𝔨𝔦 𝔥𝔞𝔨 𝔲𝔫𝔱𝔲𝔨 𝔪𝔢𝔪𝔭𝔢𝔯𝔬𝔩𝔢𝔥 𝔭𝔢𝔯𝔩𝔦𝔫𝔡𝔲𝔫𝔤𝔞𝔫 𝔞𝔱𝔞𝔰 𝔨𝔢𝔞𝔪𝔞𝔫𝔞𝔫 𝔭𝔯𝔦𝔟𝔞𝔡𝔦, 𝔨𝔢𝔩𝔲𝔞𝔯𝔤𝔞, 𝔡𝔞𝔫 𝔥𝔞𝔯𝔱𝔞 𝔟𝔢𝔫𝔡𝔞𝔫𝔶𝔞, 𝔰𝔢𝔯𝔱𝔞 𝔟𝔢𝔟𝔞𝔰 𝔡𝔞𝔯𝔦 𝔞𝔫𝔠𝔞𝔪𝔞𝔫 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔟𝔢𝔯𝔨𝔢𝔫𝔞𝔞𝔫 𝔡𝔢𝔫𝔤𝔞𝔫 𝔨𝔢𝔰𝔞𝔨𝔰𝔦𝔞𝔫 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔞𝔨𝔞𝔫, 𝔰𝔢𝔡𝔞𝔫𝔤, 𝔞𝔱𝔞𝔲 𝔱𝔢𝔩𝔞𝔥 𝔡𝔦𝔟𝔢𝔯𝔦𝔨𝔞𝔫𝔫𝔶𝔞.
𝔑𝔞𝔪𝔲𝔫, 𝔥𝔞𝔨 𝔦𝔫𝔦 𝔟𝔦𝔰𝔞 𝔡𝔦𝔥𝔢𝔫𝔱𝔦𝔨𝔞𝔫 𝔨𝔞𝔯𝔢𝔫𝔞 𝔞𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔱𝔢𝔯𝔱𝔢𝔫𝔱𝔲. 𝔄𝔭𝔞 𝔰𝔞𝔧𝔞 𝔞𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫𝔫𝔶𝔞?
𝔓𝔢𝔫𝔧𝔢𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔩𝔢𝔟𝔦𝔥 𝔩𝔞𝔫𝔧𝔲𝔱 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔄𝔫𝔡𝔞 𝔟𝔞𝔠𝔞 𝔲𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔡𝔦 𝔟𝔞𝔴𝔞𝔥 𝔦𝔫𝔦.
ULASAN SELENGKAPNYA;
Terimakasih atas pertanyaan Anda.
Pelanggaran HAM Berat
Sebelum membahas mengenai penghentian perlindungan saksi dan korban, kami akan menerangkan terlebih dahulu mengenai pelanggaran hak asasi manusia (“HAM”) berat.
Merujuk pada Pasal 1 angka 1 UU HAM, H͟A͟M͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ s͟e͟p͟e͟r͟a͟n͟g͟k͟a͟t͟ h͟a͟k͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟l͟e͟k͟a͟t͟ p͟a͟d͟a͟ h͟a͟k͟i͟k͟a͟t͟ d͟a͟n͟ k͟e͟b͟e͟r͟a͟d͟a͟a͟n͟ m͟a͟n͟u͟s͟i͟a͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ m͟a͟k͟h͟l͟u͟k͟ T͟u͟h͟a͟n͟ Y͟a͟n͟g͟ M͟a͟h͟a͟ E͟s͟a͟ d͟a͟n͟ m͟e͟r͟u͟p͟a͟k͟a͟n͟ a͟n͟u͟g͟e͟r͟a͟h͟-N͟y͟a͟ y͟a͟n͟g͟ w͟a͟j͟i͟b͟ d͟͟i͟͟h͟͟o͟͟r͟͟m͟͟a͟͟t͟͟i͟͟, d͟i͟j͟u͟n͟j͟u͟n͟g͟ t͟i͟n͟g͟g͟i͟ d͟a͟n͟ d͟i͟l͟i͟n͟d͟u͟n͟g͟i͟ o͟l͟e͟h͟ n͟͟e͟͟g͟͟a͟͟r͟͟a͟͟, h͟͟u͟͟k͟͟u͟͟m͟͟, p͟͟e͟͟m͟͟e͟͟r͟͟i͟͟n͟͟t͟͟a͟͟h͟͟, d͟a͟n͟ s͟e͟t͟i͟a͟p͟ o͟r͟a͟n͟g͟ d͟e͟m͟i͟ k͟e͟h͟o͟r͟m͟a͟t͟a͟n͟ s͟e͟r͟t͟a͟ p͟e͟r͟l͟i͟n͟d͟u͟n͟g͟a͟n͟ h͟a͟r͟k͟a͟t͟ d͟a͟n͟ m͟a͟r͟t͟a͟b͟a͟t͟ m͟͟a͟͟n͟͟u͟͟s͟͟i͟͟a͟͟.
Kemudian, UU HAM mendefinisikan pelanggaran HAM berat s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ p͟e͟m͟b͟u͟n͟u͟h͟a͟n͟ m͟a͟s͟s͟a͟l͟ (g͟͟e͟͟n͟͟o͟͟c͟͟i͟͟d͟͟e͟͟), p͟e͟m͟b͟u͟n͟u͟h͟a͟n͟ s͟e͟w͟e͟n͟a͟n͟g͟-w͟e͟n͟a͟n͟g͟ a͟t͟a͟u͟ di l͟u͟a͟r͟ p͟u͟t͟u͟s͟a͟n͟ p͟e͟n͟g͟a͟d͟i͟l͟a͟n͟ (a͟͟r͟͟b͟͟i͟͟t͟͟r͟͟a͟͟r͟͟y͟͟/e͟x͟t͟r͟a͟ j͟͟u͟͟d͟͟i͟͟c͟͟i͟͟a͟͟l͟͟ k͟͟i͟͟l͟͟l͟͟i͟͟n͟͟g͟͟), p͟͟e͟͟n͟͟y͟͟i͟͟k͟͟s͟͟a͟͟a͟͟n͟͟, p͟e͟n͟g͟h͟i͟l͟a͟n͟g͟a͟n͟ o͟r͟a͟n͟g͟ s͟e͟c͟a͟r͟a͟ p͟͟a͟͟k͟͟s͟͟a͟͟, p͟͟e͟͟r͟͟b͟͟u͟͟d͟͟a͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, a͟t͟a͟u͟ d͟i͟s͟k͟r͟i͟m͟i͟n͟a͟s͟i͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ s͟e͟c͟a͟r͟a͟ s͟i͟s͟t͟e͟m͟a͟t͟i͟s͟ (s͟y͟s͟t͟e͟m͟a͟t͟i͟c͟ d͟i͟s͟c͟r͟i͟m͟i͟n͟a͟t͟i͟o͟n͟).[¹]
Selanjutnya, menurut Romli Atmasasmita yang dikutip pada artikel Mengenal Pelanggaran HAM Berat dan Contoh Kasusnya di Indonesia, p͟e͟l͟a͟n͟g͟g͟a͟r͟a͟n͟ H͟A͟M͟ b͟e͟r͟a͟t͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ b͟e͟r͟s͟i͟f͟a͟t͟ s͟i͟s͟t͟e͟m͟a͟t͟i͟s͟ d͟a͟n͟ m͟͟e͟͟l͟͟u͟͟a͟͟s͟͟. Kedua kata tersebut merupakan kata kunci yang bersifat melekat dan mutlak dan harus ada pada setiap tindakan pelanggaran HAM berat, khusus kaitannya dengan kejahatan terhadap kemanusiaan. Unsur sistematis dan meluas tersebut merupakan faktor penting dan signifikan yang membedakan antara pelanggaran HAM berat dengan tindak pidana biasa.[²]
Hak Saksi dan Korban
Pada dasarnya, perlindungan terhadap saksi dan korban secara khusus diatur dalam UU 31/2006 dan perubahannya. Saksi adalah o͟r͟a͟n͟g͟ y͟a͟n͟g͟ d͟a͟p͟a͟t͟ m͟e͟m͟b͟e͟r͟i͟k͟a͟n͟ k͟e͟t͟e͟r͟a͟n͟g͟a͟n͟ g͟u͟n͟a͟ k͟e͟p͟e͟n͟t͟i͟n͟g͟a͟n͟ p͟͟͟e͟͟͟n͟͟͟y͟͟͟e͟͟͟l͟͟͟i͟͟͟d͟͟͟i͟͟͟k͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟, p͟͟e͟͟n͟͟y͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, p͟͟e͟͟n͟͟u͟͟n͟͟t͟͟u͟͟t͟͟a͟͟n͟͟, d͟a͟n͟ p͟e͟m͟e͟r͟i͟k͟s͟a͟a͟n͟ d͟i͟ s͟i͟d͟a͟n͟g͟ p͟e͟n͟g͟a͟d͟i͟l͟a͟n͟ t͟e͟n͟t͟a͟n͟g͟ s͟u͟a͟t͟u͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟͟͟͟i͟͟͟͟d͟͟͟͟a͟͟͟͟n͟͟͟͟a͟͟͟͟ y͟a͟n͟g͟ i͟a͟ d͟e͟n͟g͟a͟r͟ s͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟r͟͟i͟͟, i͟a͟ l͟i͟h͟a͟t͟ s͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟r͟͟i͟͟, d͟͟a͟͟n͟͟/a͟t͟a͟u͟ i͟a͟ a͟l͟a͟m͟i͟ s͟͟͟e͟͟͟n͟͟͟d͟͟͟i͟͟͟r͟͟͟i͟͟͟.[³] Sedangkan, korban adalah o͟r͟a͟n͟g͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟g͟a͟l͟a͟m͟i͟ p͟e͟n͟d͟e͟r͟i͟t͟a͟a͟n͟ f͟͟͟͟͟i͟͟͟͟͟s͟͟͟͟͟i͟͟͟͟͟k͟͟͟͟͟, m͟͟e͟͟n͟͟t͟͟a͟͟l͟͟, d͟͟a͟͟n͟͟/a͟t͟a͟u͟ k͟e͟r͟u͟g͟i͟a͟n͟ e͟k͟o͟n͟o͟m͟i͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟a͟k͟i͟b͟a͟t͟k͟a͟n͟ o͟l͟e͟h͟ s͟u͟a͟t͟u͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟͟i͟͟d͟͟a͟͟n͟͟a͟͟.[⁴]
Adapun hak saksi dan korban dapat ditemukan pada Pasal 5 ayat (1) UU 31/2014, yang meliputi:
a. memperoleh
perlindungan atas
keamanan pribadi,
keluarga, dan
harta bendanya,
serta bebas dari
ancaman yang
berkenaan
dengan kesaksian
yang akan,
sedang, atau telah
diberikannya;
b. ikut serta dalam
proses memilih dan
menentukan bentuk
perlindungan dan
dukungan
keamanan;
c. memberikan
keterangan tanpa
tekanan;
d. mendapat
penerjemah;
e. bebas dari
pertanyaan yang
menjerat;
f. mendapat informasi
mengenai
perkembangan
kasus;
g. mendapat informasi
mengenai putusan
pengadilan;
h. mendapat informasi
dalam hal terpidana
dibebaskan;
i. dirahasiakan
identitasnya;
j. mendapat identitas
baru;
k. mendapat tempat
kediaman
sementara;
l. mendapat tempat
kediaman baru;
m. memperoleh
penggantian biaya
transportasi sesuai
dengan kebutuhan;
n. mendapat nasihat
hukum;
o. memperoleh
bantuan biaya hidup
sementara sampai
batas waktu
perlindungan
berakhir; dan/atau
p. mendapat
pendampingan.
Perlindungan Saksi dan Korban
Sebagaimana disebutkan di atas, s͟a͟l͟a͟h͟ s͟a͟t͟u͟ h͟͟a͟͟k͟͟ d͟a͟r͟i͟ s͟a͟k͟s͟i͟ d͟a͟n͟ k͟o͟r͟b͟a͟n͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ m͟e͟m͟p͟e͟r͟o͟l͟e͟h͟ p͟͟e͟͟r͟͟l͟͟i͟͟n͟͟d͟͟u͟͟n͟͟g͟͟a͟͟n͟͟, yaitu segala upaya pemenuhan hak dan pemberian bantuan untuk memberikan rasa aman kepada saksi dan/atau korban wajib dilaksanakan oleh Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (“LPSK”) atau lembaga lainnya.[⁵] LPSK adalah l͟e͟m͟b͟a͟g͟a͟ y͟a͟n͟g͟ b͟e͟r͟t͟u͟g͟a͟s͟ d͟a͟n͟ b͟e͟r͟w͟e͟n͟a͟n͟g͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟m͟b͟e͟r͟i͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟l͟i͟n͟d͟u͟n͟g͟a͟n͟ d͟a͟n͟ h͟a͟k͟-h͟a͟k͟ l͟a͟i͟n͟ k͟e͟p͟a͟d͟a͟ s͟a͟k͟s͟i͟ d͟͟a͟͟n͟͟/a͟t͟a͟u͟ k͟o͟r͟b͟a͟n͟ sebagaimana diatur dalam UU 31/2006 dan perubahannya.[⁶]
Hak sebagaimana dimaksud di atas (misalnya perlindungan) diberikan kepada saksi dan/atau korban tindak pidana dalam kasus tertentu sesuai dengan keputusan LPSK.[⁷]
Adapun yang dimaksud dengan tindak pidana dalam kasus tertentu antara lain, tindak pidana pelanggaran hak asasi manusia yang berat, tindak pidana korupsi, tindak pidana pencucian uang, tindak pidana terorisme, tindak pidana perdagangan orang, tindak pidana narkotika, tindak pidana psikotropika, tindak pidana seksual terhadap anak, dan tindak pidana lain yang mengakibatkan posisi saksi dan/atau korban dihadapkan pada situasi yang sangat membahayakan jiwanya.[⁸]
Namun, perlindungan saksi dan korban ini dapat dihentikan. Pasal 32 ayat (1) UU 13/2006, mengatur bahwa perlindungan atas keamanan saksi dan/atau korban hanya dapat dihentikan berdasarkan alasan:
a. saksi dan/atau
korban meminta
agar perlindungan
terhadapnya
dihentikan dalam
hal permohonan
diajukan atas
inisiatif sendiri;
b. atas permintaan
pejabat yang
berwenang dalam
hal permintaan
perlindungan
terhadap saksi dan/
atau korban
berdasarkan
permintaan pejabat
yang bersangkutan;
c. saksi dan/atau
korban melanggar
ketentuan
sebagaimana
tertulis dalam
perjanjian; atau
d. LPSK berpendapat
bahwa saksi dan
atau korban tidak
lagi memerlukan
perlindungan
berdasarkan
bukti-bukti yang
meyakinkan.
Perlu diketahui bahwa penghentian perlindungan keamanan seorang saksi dan/atau korban ini h͟a͟r͟u͟s͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ s͟e͟c͟a͟r͟a͟ t͟͟e͟͟r͟͟t͟͟u͟͟l͟͟i͟͟s͟͟.[⁹]
Selain itu, hak yang diberikan seperti perlindungan dihentikan jika diketahui bahwa kesaksian, laporan, atau informasi lain d͟i͟b͟e͟r͟i͟k͟a͟n͟ t͟i͟d͟a͟k͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ i͟t͟i͟k͟a͟d͟ b͟͟͟a͟͟͟i͟͟͟k͟͟͟.[¹⁰] Adapun yang dimaksud tidak dengan iktikad baik antara lain m͟e͟m͟b͟e͟r͟i͟k͟a͟n͟ k͟e͟t͟e͟r͟a͟n͟g͟a͟n͟ p͟͟a͟͟l͟͟s͟͟u͟͟, s͟u͟m͟p͟a͟h͟ p͟͟a͟͟l͟͟s͟͟u͟͟, d͟a͟n͟ p͟e͟r͟m͟u͟f͟a͟k͟a͟t͟a͟n͟ j͟͟a͟͟h͟͟a͟͟t͟͟.[¹¹]
Demikian jawaban kami, semoga bermanfaat dan dapat dijadikan pembelajaran untuk kita semua terlebih untuk penanya dan Paralegal ubklawyers pada khususnya.
D͟a͟s͟a͟r͟ H͟u͟k͟u͟m͟:
- Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia;
- Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban;
- Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban.
Artikel ini adalah pemutakhiran dari artikel dengan judul Alasan-alasan Penghentian Perlindungan Saksi, yang dibuat oleh Maharani Siti Shopia, S.H. dan pertama kali dipublikasikan pada 27 Juni 2012. Dipublikasikan kedua oleh “..Hukumonline.com..” dengan judul Alasan Penghentian Perlindungan Saksi dan Korban, pada tanggal 25 Februari 2026. Dan diteruskan oleh ubklawyers pada tanggal 02 Maret 2026M/12 Ramadhan 1447H.
Seluruh Informasi Hukum yang ada di LBH-UMAR BIN KHATTAB disiapkan semata-mata untuk t͟͟͟u͟͟͟j͟͟͟u͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟ p͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, p͟e͟m͟b͟e͟l͟a͟j͟a͟r͟a͟n͟ dan b͟e͟r͟s͟i͟f͟a͟t͟ u͟m͟u͟m͟. Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan Pengacara, Konsultan Hukum dan/atau Paralegal UBK LAWYERS.
Sedang menghadapi permasalahan hukum? A͟j͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟t͟a͟n͟y͟a͟a͟n͟ melalui email, telepon atau chat.👇🏼
Email:
ubklawyer@gmail.com
Telepon/Chat:
089666552118
Berkenan G͟a͟b͟u͟n͟g͟ G͟r͟o͟u͟p͟, untuk jadi bagian Keluarga Besar UBK LAWYERS. Klik link dibawah.👇🏼
I͟K͟U͟T͟I͟ W͟h͟a͟t͟s͟A͟p͟p͟ C͟h͟a͟n͟n͟e͟l͟ LBH-UMAR BIN KHATTAB. Untuk memperkaya Riset Hukum Anda, klik link dibawah.👇🏼
🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸
#cerdashukum
#studylawtogether
#ubklawyers

