INDRAMAYU — PERTANYAAN:
Apakah saat ini hukum Indonesia memungkinkan agar hakim-hakim diganti dari orang dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence)? Atas pencerahannya diucapkan terimakasih, untuk ubklawyers beserta Paralegalnya semoga semakin cerdas, jeli dalam setiap menerima pengaduan dari kliennya. Aamiin..
Raffie Bombom – Jambak City
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
“INTISARI JAWABAN”
【𝔓𝔯𝔬𝔣𝔢𝔰𝔦 ℌ𝔲𝔨𝔲𝔪】
𝔉𝔲𝔫𝔤𝔰𝔦 𝔨𝔢𝔠𝔢𝔯𝔡𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔟𝔲𝔞𝔱𝔞𝔫 𝔞𝔱𝔞𝔲 𝔄𝔯𝔱𝔦𝔣𝔦𝔠𝔦𝔞𝔩 ℑ𝔫𝔱𝔢𝔩𝔩𝔦𝔤𝔢𝔫𝔠𝔢 (“𝔄ℑ”) 𝔪𝔞𝔰𝔦𝔥 𝔰𝔢𝔟𝔞𝔱𝔞𝔰 𝔪𝔢𝔪𝔟𝔞𝔫𝔱𝔲 𝔥𝔞𝔨𝔦𝔪. 𝔓𝔞𝔡𝔞 𝔡𝔞𝔰𝔞𝔯𝔫𝔶𝔞, 𝔱𝔦𝔡𝔞𝔨 𝔭𝔢𝔯𝔫𝔞𝔥 𝔞𝔡𝔞 𝔡𝔲𝔞 𝔞𝔱𝔞𝔲 𝔩𝔢𝔟𝔦𝔥 𝔨𝔞𝔰𝔲𝔰 𝔥𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔟𝔢𝔫𝔞𝔯-𝔟𝔢𝔫𝔞𝔯 𝔦𝔡𝔢𝔫𝔱𝔦𝔨. 𝔎𝔢𝔭𝔲𝔱𝔲𝔰𝔞𝔫 𝔥𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔞𝔡𝔞𝔩𝔞𝔥 𝔭𝔦𝔩𝔦𝔥𝔞𝔫 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔥𝔲𝔪𝔞𝔫𝔦𝔰𝔱𝔦𝔰 𝔲𝔫𝔱𝔲𝔨 𝔪𝔢𝔫𝔠𝔞𝔭𝔞𝔦 𝔨𝔢𝔰𝔢𝔦𝔪𝔟𝔞𝔫𝔤𝔞𝔫 𝔞𝔫𝔱𝔞𝔯𝔞 𝔭𝔢𝔯𝔨𝔞𝔯𝔞 𝔰𝔲𝔩𝔦𝔱 𝔡𝔢𝔫𝔤𝔞𝔫 𝔣𝔞𝔨𝔱𝔞-𝔣𝔞𝔨𝔱𝔞 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔱𝔦𝔡𝔞𝔨 𝔧𝔢𝔩𝔞𝔰 𝔞𝔱𝔞𝔲 𝔞𝔱𝔲𝔯𝔞𝔫 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔨𝔞𝔟𝔲𝔯. 𝔐𝔢𝔪𝔦𝔩𝔦𝔥 𝔞𝔱𝔲𝔯𝔞𝔫 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔰𝔢𝔰𝔲𝔞𝔦, 𝔡𝔞𝔫 𝔪𝔢𝔪𝔭𝔢𝔯𝔱𝔦𝔪𝔟𝔞𝔫𝔤𝔨𝔞𝔫 𝔨𝔬𝔫𝔰𝔢𝔨𝔲𝔢𝔫𝔰𝔦 𝔰𝔬𝔰𝔦𝔞𝔩 𝔡𝔞𝔫 𝔢𝔣𝔢𝔨 𝔧𝔞𝔫𝔤𝔨𝔞 𝔭𝔞𝔫𝔧𝔞𝔫𝔤 𝔪𝔢𝔯𝔲𝔭𝔞𝔨𝔞𝔫 𝔰𝔢𝔰𝔲𝔞𝔱𝔲 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔰𝔲𝔩𝔦𝔱 𝔡𝔦𝔩𝔞𝔨𝔲𝔨𝔞𝔫 𝔬𝔩𝔢𝔥 𝔞𝔩𝔤𝔬𝔯𝔦𝔱𝔪𝔞 𝔄ℑ.
𝔖𝔢𝔩𝔞𝔦𝔫 𝔦𝔱𝔲, 𝔰𝔢𝔠𝔞𝔯𝔞 𝔫𝔬𝔯𝔪𝔞𝔱𝔦𝔣, 𝔰𝔶𝔞𝔯𝔞𝔱 𝔲𝔫𝔱𝔲𝔨 𝔪𝔢𝔫𝔧𝔞𝔡𝔦 𝔥𝔞𝔨𝔦𝔪 𝔭𝔢𝔯𝔞𝔡𝔦𝔩𝔞𝔫 𝔲𝔪𝔲𝔪 𝔟𝔢𝔯𝔡𝔞𝔰𝔞𝔯𝔨𝔞𝔫 𝔘𝔘 49/2009 𝔪𝔲𝔰𝔱𝔞𝔥𝔦𝔩 𝔡𝔦𝔭𝔢𝔫𝔲𝔥𝔦 𝔄ℑ. 𝔖𝔢𝔥𝔦𝔫𝔤𝔤𝔞, 𝔪𝔢𝔫𝔤𝔤𝔞𝔫𝔱𝔦𝔨𝔞𝔫 𝔪𝔞𝔫𝔲𝔰𝔦𝔞 𝔡𝔢𝔫𝔤𝔞𝔫 𝔄ℑ 𝔱𝔦𝔡𝔞𝔨 𝔡𝔦𝔪𝔲𝔫𝔤𝔨𝔦𝔫𝔨𝔞𝔫.
𝔓𝔢𝔫𝔧𝔢𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔩𝔢𝔟𝔦𝔥 𝔩𝔞𝔫𝔧𝔲𝔱 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔄𝔫𝔡𝔞 𝔟𝔞𝔠𝔞 𝔲𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔡𝔦 𝔟𝔞𝔴𝔞𝔥 𝔦𝔫𝔦.
ULASAN SELENGKAPNYA;
Terimakasih atas pertanyaan Anda.
Artikel ini dibuat berdasarkan KUHAP lama dan UU 20/2025 tentang KUHAP yang diundangkan pada tanggal 17 Desember 2025.
Pengertian Artificial Intelligence
Pengertian kecerdasan buatan atau artificial intelligence (“AI”) menurut John McCarthy sebagaimana dikutip oleh Singgih Subiyantoro dalam buku Buku Ajar Artificial Intelligence adalah s͟u͟a͟t͟u͟ d͟i͟s͟i͟p͟l͟i͟n͟ i͟l͟m͟u͟ y͟a͟n͟g͟ b͟e͟r͟u͟s͟a͟h͟a͟ m͟e͟n͟c͟i͟p͟t͟a͟k͟a͟n͟ m͟e͟s͟i͟n͟ y͟a͟n͟g͟ d͟a͟p͟a͟t͟ b͟e͟r͟p͟e͟r͟i͟l͟a͟k͟u͟ s͟e͟c͟a͟r͟a͟ c͟e͟r͟d͟a͟s͟ s͟e͟p͟e͟r͟t͟i͟ m͟͟a͟͟n͟͟u͟͟s͟͟i͟͟a͟͟, m͟e͟s͟k͟i͟p͟u͟n͟ t͟i͟d͟a͟k͟ h͟a͟r͟u͟s͟ m͟e͟n͟i͟r͟u͟ p͟r͟o͟s͟e͟s͟ b͟e͟r͟p͟i͟k͟i͟r͟ m͟a͟n͟u͟s͟i͟a͟ s͟e͟c͟a͟r͟a͟ b͟͟i͟͟o͟͟l͟͟o͟͟g͟͟i͟͟s͟͟. Definisi McCarthy menekankan dua hal penting: pertama, bahwa A͟I͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ g͟a͟b͟u͟n͟g͟a͟n͟ a͟n͟t͟a͟r͟a͟ i͟l͟m͟u͟ p͟e͟n͟g͟e͟t͟a͟h͟u͟a͟n͟ (s͟͟c͟͟i͟͟e͟͟n͟͟c͟͟e͟͟) d͟a͟n͟ r͟e͟k͟a͟y͟a͟s͟a͟ (e͟͟n͟͟g͟͟i͟͟n͟͟e͟͟e͟͟r͟͟i͟͟n͟͟g͟͟), dan kedua, bahwa A͟I͟ l͟e͟b͟i͟h͟ b͟e͟r͟f͟o͟k͟u͟s͟ p͟a͟d͟a͟ h͟a͟s͟i͟l͟ d͟a͟r͟i͟ p͟e͟r͟i͟l͟a͟k͟u͟ c͟͟e͟͟r͟͟d͟͟a͟͟s͟͟, b͟u͟k͟a͟n͟ p͟a͟d͟a͟ p͟r͟o͟s͟e͟s͟ m͟e͟n͟t͟a͟l͟ i͟͟n͟͟t͟͟e͟͟r͟͟n͟͟a͟͟l͟͟.[¹]
Sepanjang penelusuran kami, pengaturan mengenai AI di Indonesia terdapat dalam SE Menkominfo 9/2023 yang mengatur tentang etika penyelenggaraan AI. Definisi AI menurut Bagian Kelima huruf a SE Menkominfo 9/2023 adalah bentuk pemrograman pada suatu perangkat komputer dalam melakukan pemrosesan dan/atau pengolahan data secara cermat. Adapun yang dimaksud dengan penyelenggaraan AI adalah a͟k͟t͟i͟v͟i͟t͟a͟s͟ y͟a͟n͟g͟ b͟e͟r͟h͟u͟b͟u͟n͟g͟a͟n͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ r͟͟i͟͟s͟͟e͟͟t͟͟, p͟e͟n͟g͟e͟m͟b͟a͟n͟g͟a͟n͟ p͟͟r͟͟o͟͟d͟͟u͟͟k͟͟, p͟͟e͟͟m͟͟a͟͟s͟͟a͟͟r͟͟a͟͟n͟͟, h͟i͟n͟g͟g͟a͟ p͟e͟n͟g͟g͟u͟n͟a͟a͟n͟ A͟͟I͟͟.[²]
Selain itu, karena AI dapat dikategorikan sebagai sistem elektronik, maka kita juga harus mengacu pada UU ITE dan perubahannya. Menurut Pasal 1 angka 5 UU 19/2016, sistem elektronik adalah s͟e͟r͟a͟n͟g͟k͟a͟i͟a͟n͟ p͟e͟r͟a͟n͟g͟k͟a͟t͟ d͟a͟n͟ p͟r͟o͟s͟e͟d͟u͟r͟ e͟l͟e͟k͟t͟r͟o͟n͟i͟k͟ y͟a͟n͟g͟ b͟e͟r͟f͟u͟n͟g͟s͟i͟ m͟͟e͟͟m͟͟p͟͟e͟͟r͟͟s͟͟i͟͟a͟͟p͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, m͟͟e͟͟n͟͟g͟͟u͟͟m͟͟p͟͟u͟͟l͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, m͟͟e͟͟n͟͟g͟͟o͟͟l͟͟a͟͟h͟͟, m͟͟e͟͟n͟͟g͟͟a͟͟n͟͟a͟͟l͟͟i͟͟s͟͟i͟͟s͟͟, m͟͟e͟͟n͟͟y͟͟i͟͟m͟͟p͟͟a͟͟n͟͟, m͟͟e͟͟n͟͟a͟͟m͟͟p͟͟i͟͟l͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, m͟͟e͟͟n͟͟g͟͟u͟͟m͟͟u͟͟m͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, m͟͟e͟͟n͟͟g͟͟i͟͟r͟͟i͟͟m͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, d͟͟a͟͟n͟͟/a͟t͟a͟u͟ m͟e͟n͟y͟e͟b͟a͟r͟k͟a͟n͟ i͟n͟f͟o͟r͟m͟a͟s͟i͟ e͟͟l͟͟e͟͟k͟͟t͟͟r͟͟o͟͟n͟͟i͟͟k͟͟.
Sedangkan penyelenggara sistem elektronik adalah s͟e͟t͟i͟a͟p͟ o͟͟r͟͟a͟͟n͟͟g͟͟, p͟e͟n͟y͟e͟l͟e͟n͟g͟g͟a͟r͟a͟ n͟͟e͟͟g͟͟a͟͟r͟͟a͟͟, b͟a͟d͟a͟n͟ u͟͟s͟͟a͟͟h͟͟a͟͟, d͟a͟n͟ m͟a͟s͟y͟a͟r͟a͟k͟a͟t͟ y͟a͟n͟g͟ m͟͟e͟͟n͟͟y͟͟e͟͟d͟͟i͟͟a͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, m͟͟e͟͟n͟͟g͟͟e͟͟l͟͟o͟͟l͟͟a͟͟, d͟͟a͟͟n͟͟/a͟t͟a͟u͟ m͟e͟n͟g͟o͟p͟e͟r͟a͟s͟i͟k͟a͟n͟ s͟i͟s͟t͟e͟m͟ e͟͟l͟͟e͟͟k͟͟t͟͟r͟͟o͟͟n͟͟i͟͟k͟͟, b͟a͟i͟k͟ s͟e͟c͟a͟r͟a͟ s͟e͟n͟d͟i͟r͟i͟-s͟e͟n͟d͟i͟r͟i͟ m͟a͟u͟p͟u͟n͟ b͟e͟r͟s͟a͟m͟a͟-s͟a͟m͟a͟ k͟e͟p͟a͟d͟a͟ p͟e͟n͟g͟g͟u͟n͟a͟ s͟i͟s͟t͟e͟m͟ e͟l͟e͟k͟t͟r͟o͟n͟i͟k͟ u͟n͟t͟u͟k͟ k͟e͟p͟e͟r͟l͟u͟a͟n͟ d͟i͟r͟i͟n͟y͟a͟ d͟͟a͟͟n͟͟/a͟t͟a͟u͟ k͟e͟p͟e͟r͟l͟u͟a͟n͟ p͟i͟h͟a͟k͟ l͟͟a͟͟i͟͟n͟͟, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 angka 6a UU 19/2016.
Penggunaan Teknologi dalam Kekuasaan Kehakiman
Adapun pengertian hakim secara historis terdapat pada ~Pasal 1 angka 8 KUHAP lama yang sudah tidak berlaku,~ dan Pasal 1 angka 12 UU 20/2025 tentang KUHAP baru yang berlaku sejak 2 Januari 2026,[³] sebagai berikut:
~Pasal 1 angka 8 KUHAP~
- Hakim adalah pejabat peradilan negara yang diberi wewenang oleh undang-undang untuk mengadili.
Pasal 1 angka 12 UU 20/2025
- Hakim adalah pejabat peradilan negara yang diberi kewenangan untuk menerima, memeriksa, mengadili, dan memutus perkara pidana.
Kekuasaan untuk menyelenggarakan peradilan sendiri ditegaskan dalam Pasal 24 ayat (1) UUD 1945 yang berbunyi:
- Kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan.
Selanjutnya, pelaku kekuasaan kehakiman diuraikan dalam Pasal 18 UU Kekuasaan Kehakiman, yaitu:
- Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara, dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi.
Menurut Agung Pramono (penulis sebelumnya), Mahkamah Agung (“MA”) dan Mahkamah Konstitusi (“MK”) sendiri sejatinya telah menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi informasi.
Khusus MA, beragam aplikasi menggunakan perangkat teknologi digunakan, seperti aplikasi Sistem Informasi Pengawasan (SIWAS) untuk pengawasan hakim dan Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) untuk penelusuran perkara.
Selain itu, berdasarkan Pasal 1 angka 6 Perma 7/2022, administrasi sistem perkara (serangkaian proses penerimaan gugatan/permohonan/keberatan/bantahan, dan lain-lain) d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ s͟e͟c͟a͟r͟a͟ e͟l͟e͟k͟t͟r͟o͟n͟i͟k͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ m͟e͟n͟g͟g͟u͟n͟a͟k͟a͟n͟ s͟i͟s͟t͟e͟m͟ e͟͟l͟͟e͟͟k͟͟t͟͟r͟͟o͟͟n͟͟i͟͟k͟͟.
Kemudian, pasca berlakunya UU 20/2025 tentang KUHAP baru, terdapat ketentuan-ketentuan yang memuat p͟e͟n͟g͟g͟u͟n͟a͟a͟n͟ t͟e͟k͟n͟o͟l͟o͟g͟i͟ p͟a͟d͟a͟ p͟r͟o͟s͟e͟s͟ p͟e͟r͟a͟d͟i͟l͟a͟n͟ p͟͟i͟͟d͟͟a͟͟n͟͟a͟͟. Seperti Pasal 204 ayat (2) UU 20/2025, yang berbunyi:
Dalam keadaan tertentu, baik sejak awal persidangan perkara maupun pada saat persidangan perkara sedang berlangsung, hakim/majelis hakim karena jabatannya atau atas permintaan dari penuntut umum dan/atau terdakwa atau advokat d͟a͟p͟a͟t͟ m͟e͟n͟e͟t͟a͟p͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟s͟i͟d͟a͟n͟g͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟m͟a͟n͟a͟ d͟i͟m͟a͟k͟s͟u͟d͟ p͟a͟d͟a͟ a͟y͟a͟t͟ (1) s͟e͟c͟a͟r͟a͟ e͟͟͟l͟͟͟e͟͟͟k͟͟͟t͟͟͟r͟͟͟o͟͟͟n͟͟͟i͟͟͟k͟͟͟.
Penggunaan medium elektronik pada proses peradilan pidana juga dapat dilakukan pada tahap sidang pembacaan putusan. Ini merujuk pada ketentuan Pasal 298 ayat (5) UU 20/2025, sebagai berikut:
Sidang pembacaan putusan dapat dihadiri oleh terdakwa dan/atau penuntut umum, b͟a͟i͟k͟ s͟e͟c͟a͟r͟a͟ l͟a͟n͟g͟s͟u͟n͟g͟ m͟a͟u͟p͟u͟n͟ s͟e͟c͟a͟r͟a͟ e͟͟l͟͟e͟͟k͟͟t͟͟r͟͟o͟͟n͟͟i͟͟k͟͟.
Lantas, mungkinkah hakim manusia digantikan oleh kecerdasan buatan?
Hakim Manusia Digantikan AI, Mungkinkah?
S͟e͟k͟e͟r͟a͟s͟ a͟p͟a͟p͟u͟n͟ k͟i͟t͟a͟ m͟e͟n͟o͟l͟a͟k͟ t͟͟e͟͟k͟͟n͟͟o͟͟l͟͟o͟͟g͟͟i͟͟, t͟a͟p͟i͟ t͟e͟k͟n͟o͟l͟o͟g͟i͟ t͟e͟t͟a͟p͟ a͟k͟a͟n͟ t͟e͟r͟u͟s͟ m͟e͟n͟g͟a͟l͟i͟r͟ d͟a͟n͟ b͟͟e͟͟r͟͟k͟͟e͟͟m͟͟b͟͟a͟͟n͟͟g͟͟. Para ahli hukum di abad 21 mempunyai pertanyaan penting, yaitu apa artinya menjadi manusia di era AI?
Menurut pendapat Agung Pramono, AI dan model algoritma canggih sudah digunakan di banyak sistem peradilan pada banyak negara, seperti algoritma prediksi dan algoritma penilaian risiko. Meskipun terdengar seperti pendekatan yang relatif logis, ini sangat bergantung pada jenis dan kualitas data yang diberikan.
Namun demikian, fungsinya masih sebatas membantu hakim. P͟a͟d͟a͟ d͟͟͟a͟͟͟s͟͟͟a͟͟͟r͟͟͟n͟͟͟y͟͟͟a͟͟͟, t͟i͟d͟a͟k͟ p͟e͟r͟n͟a͟h͟ a͟d͟a͟ d͟u͟a͟ a͟t͟a͟u͟ l͟e͟b͟i͟h͟ k͟a͟s͟u͟s͟ h͟u͟k͟u͟m͟ y͟a͟n͟g͟ b͟e͟n͟a͟r͟-b͟e͟n͟a͟r͟ i͟d͟e͟n͟t͟i͟k͟.
Kemudian, penting untuk dicatat bahwa k͟e͟p͟u͟t͟u͟s͟a͟n͟ h͟u͟k͟u͟m͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ p͟i͟l͟i͟h͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ h͟u͟m͟a͟n͟i͟s͟t͟i͟s͟ untuk mencapai keseimbangan antara perkara sulit dengan fakta-fakta yang tidak jelas atau aturan yang kabur. M͟e͟m͟i͟l͟i͟h͟ a͟t͟u͟r͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ s͟͟e͟͟s͟͟u͟͟a͟͟i͟͟, dan m͟e͟m͟p͟e͟r͟t͟i͟m͟b͟a͟n͟g͟k͟a͟n͟ k͟o͟n͟s͟e͟k͟u͟e͟n͟s͟i͟ s͟o͟s͟i͟a͟l͟ d͟a͟n͟ e͟f͟e͟k͟ j͟a͟n͟g͟k͟a͟ p͟a͟n͟j͟a͟n͟g͟ m͟e͟r͟u͟p͟a͟k͟a͟n͟ s͟e͟s͟u͟a͟t͟u͟ y͟a͟n͟g͟ s͟u͟l͟i͟t͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ o͟l͟e͟h͟ a͟͟l͟͟g͟͟o͟͟r͟͟i͟͟t͟͟m͟͟a͟͟.
Selain itu, secara normatif menggantikan manusia dengan AI pada dasarnya tidak dimungkinkan. Sebagai contoh, syarat untuk menjadi hakim peradilan umum dalam Pasal 14 ayat (1) UU 49/2009 diatur sebagai berikut:
Untuk dapat diangkat sebagai hakim pengadilan, seseorang harus memenuhi syarat sebagai berikut:
a. Warga Negara
Indonesia;
b. bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha
Esa;
c. setia kepada
Pancasila dan
Undang-Undang
Dasar Negara
Republik Indonesia
Tahun 1945;
d. sarjana hukum;
e. lulus pendidikan
hakim;
f. mampu secara
rohani dan jasmani
untuk menjalankan
tugas dan
kewajiban;
g. berwibawa, jujur,
adil, dan
berkelakuan tidak
tercela;
h. berusia paling
rendah 25 (dua
puluh lima) tahun
dan paling tinggi 40
(empat puluh)
tahun; dan
i. tidak pernah dijatuhi
pidana penjara
karena melakukan
kejahatan
berdasarkan
putusan pengadilan
yang telah
memperoleh
kekuatan hukum
tetap.
Syarat-syarat normatif inilah yang tentu t͟i͟d͟a͟k͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟p͟e͟n͟u͟h͟i͟ o͟͟͟l͟͟͟e͟͟͟h͟͟͟ A͟͟I͟͟.
Selain itu, merujuk pada Bagian Keenam huruf c angka 2 huruf b SE Menkominfo 9/2023, AI dipastikan tidak diselenggarakan sebagai penentu kebijakan dan/atau pengambil keputusan yang menyangkut kemanusiaan.
Sebagai informasi tambahan, berdasarkan artikel Apakah Hakim Bisa Digantikan oleh AI? yang dilansir dari laman resmi Mahkamah Agung Republik Indonesia, Riki Perdana Waruwu (pada saat artikel tersebut diterbitkan menjabat sebagai Hakim Yustisial Biro Hukum dan Humas) menyampaikan bahwa di antara banyaknya profesi yang bisa digantikan oleh AI, h͟a͟k͟i͟m͟ m͟e͟r͟u͟p͟a͟k͟a͟n͟ p͟r͟o͟f͟e͟s͟i͟ y͟a͟n͟g͟ t͟i͟d͟a͟k͟ b͟i͟s͟a͟ d͟i͟g͟a͟n͟t͟i͟k͟a͟n͟ o͟l͟e͟h͟ r͟͟o͟͟b͟͟o͟͟t͟͟. Ia menjelaskan bahwa a͟d͟a͟ t͟i͟g͟a͟ j͟e͟n͟i͟s͟ k͟e͟a͟d͟i͟l͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟l͟e͟k͟a͟t͟ p͟a͟d͟a͟ h͟a͟k͟i͟m͟ s͟a͟a͟t͟ m͟e͟n͟a͟n͟g͟a͟n͟i͟ p͟͟e͟͟r͟͟k͟͟a͟͟r͟͟a͟͟, yaitu k͟e͟a͟d͟i͟l͟a͟n͟ h͟u͟k͟u͟m͟ (l͟e͟g͟a͟l͟ j͟͟u͟͟s͟͟t͟͟i͟͟c͟͟e͟͟), k͟e͟a͟d͟i͟l͟a͟n͟ m͟o͟r͟a͟l͟ (m͟o͟r͟a͟l͟ j͟͟͟͟͟u͟͟͟͟͟s͟͟͟͟͟t͟͟͟͟͟i͟͟͟͟͟c͟͟͟͟͟e͟͟͟͟͟), d͟a͟n͟ k͟e͟t͟i͟g͟a͟ k͟e͟a͟d͟i͟l͟a͟n͟ s͟o͟s͟i͟a͟l͟ (s͟o͟c͟i͟a͟l͟ j͟u͟s͟t͟i͟c͟e͟).
Kemudian, bahwa ada tiga hal yang tidak bisa dilakukan oleh AI. Pertama, m͟e͟m͟b͟e͟r͟i͟k͟a͟n͟ k͟e͟m͟a͟n͟f͟a͟a͟t͟a͟n͟ k͟a͟r͟e͟n͟a͟ A͟I͟ t͟i͟d͟a͟k͟ b͟i͟s͟a͟ m͟͟e͟͟m͟͟p͟͟e͟͟r͟͟t͟͟i͟͟m͟͟b͟͟a͟͟n͟͟g͟͟k͟͟a͟͟n͟͟. Kedua, A͟I͟ t͟i͟d͟a͟k͟ b͟i͟s͟a͟ m͟͟e͟͟m͟͟b͟͟e͟͟r͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟ k͟e͟a͟d͟i͟l͟a͟n͟ m͟e͟s͟k͟i͟p͟u͟n͟ t͟e͟l͟a͟h͟ m͟e͟n͟g͟g͟u͟n͟a͟k͟a͟n͟ a͟l͟g͟o͟r͟i͟t͟m͟a͟, dan ketiga, A͟I͟ t͟i͟d͟a͟k͟ b͟i͟s͟a͟ m͟e͟m͟p͟e͟r͟t͟i͟m͟b͟a͟n͟g͟k͟a͟n͟ b͟a͟g͟a͟i͟m͟a͟n͟a͟ k͟e͟m͟a͟n͟f͟a͟a͟t͟a͟n͟ d͟a͟l͟a͟m͟ s͟u͟a͟t͟u͟ m͟͟a͟͟s͟͟a͟͟l͟͟a͟͟h͟͟.
Masih bersumber dari artikel yang sama, AI dalam proses berperkara hanya bisa melaksanakan teknik administrasi berperkara, seperti m͟e͟m͟b͟u͟a͟t͟ p͟u͟t͟u͟s͟a͟n͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ r͟͟a͟͟p͟͟i͟͟h͟͟, l͟͟a͟͟n͟͟c͟͟a͟͟r͟͟, d͟a͟n͟ b͟i͟s͟a͟ t͟e͟r͟b͟a͟c͟a͟. T͟͟e͟͟t͟͟a͟͟p͟͟i͟͟, d͟a͟l͟a͟m͟ m͟e͟m͟b͟e͟r͟i͟k͟a͟n͟ k͟e͟p͟u͟t͟u͟s͟a͟n͟ A͟I͟ t͟i͟d͟a͟k͟ b͟͟i͟͟s͟͟a͟͟, k͟͟a͟͟r͟͟e͟͟n͟͟a͟͟ h͟a͟k͟i͟m͟ d͟a͟l͟a͟m͟ m͟e͟m͟u͟t͟u͟s͟ p͟e͟r͟k͟a͟r͟a͟ m͟e͟n͟g͟g͟u͟n͟a͟k͟a͟n͟ h͟a͟t͟i͟ n͟u͟r͟a͟n͟i͟ s͟e͟d͟a͟n͟g͟k͟a͟n͟ A͟I͟ t͟i͟d͟a͟k͟ m͟e͟m͟i͟l͟i͟k͟i͟ h͟a͟t͟i͟ n͟͟͟u͟͟͟r͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟i͟͟͟.
Demikian jawaban kami, semoga bermanfaat dan dapat dijadikan pembelajaran untuk kita semua terlebih untuk penanya dan Paralegal ubklawyers pada khususnya.
D͟a͟s͟a͟r͟ H͟u͟k͟u͟m͟:
- Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
- Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum;
- Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum;
- Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik;
- Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman;
- Undang-Undang Nomor 49 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum;
- Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik;
- Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2024 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik;
- Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2025 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana;
- Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2019 tentang Administrasi Perkara dan Persidangan di Pengadilan secara Elektronik;
- Peraturan Mahkamah Agung Nomor 7 Tahun 2022 tentang Perubahan atas Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2019 tentang Administrasi Perkara dan Persidangan di Pengadilan Secara Elektronik;
- Surat Edaran Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 9 Tahun 2023 tentang Etika Kecerdasan Artifisial.
Artikel di bawah ini adalah pemutakhiran dari artikel dengan judul Mungkinkah Hakim Manusia Digantikan oleh Kecerdasan Buatan? yang dibuat oleh Adv. Agung Pramono, S.H., CIL dan pertama kali dipublikasikan pada 30 Maret 2020, kemudian dimutakhirkan pertama kali pada 31 Oktober 2024. Dipublikasikan kedua oleh “..Hukumonline.com..” pada tanggal 19 Januari 2026. Dan diteruskan oleh ubklawyers pada tanggal 14 Februari 2026M/26 Syaban 1447H.
Seluruh Informasi Hukum yang ada di LBH-UMAR BIN KHATTAB disiapkan semata-mata untuk t͟͟͟u͟͟͟j͟͟͟u͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟ p͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, p͟e͟m͟b͟e͟l͟a͟j͟a͟r͟a͟n͟ dan b͟e͟r͟s͟i͟f͟a͟t͟ u͟m͟u͟m͟. Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan Pengacara, Konsultan Hukum dan/atau Paralegal UBK LAWYERS.
Sedang menghadapi permasalahan hukum? A͟j͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟t͟a͟n͟y͟a͟a͟n͟ melalui email, telepon atau chat.👇🏼
Email:
ubklawyer@gmail.com
Telepon/Chat:
089666552118
Berkenan G͟a͟b͟u͟n͟g͟ G͟r͟o͟u͟p͟, untuk jadi bagian Keluarga Besar UBK LAWYERS. Klik link dibawah.👇🏼
I͟K͟U͟T͟I͟ W͟h͟a͟t͟s͟A͟p͟p͟ C͟h͟a͟n͟n͟e͟l͟ LBH-UMAR BIN KHATTAB. Untuk memperkaya Riset Hukum Anda, klik link dibawah.👇🏼
🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸
#cerdashukum
#studylawtogether
#ubklawyers

