INDRAMAYU — PERTANYAAN
Jika ada orang mabuk di jalan dan mengganggu ketertiban umum, bisakah ia dipidana? Dia beralasan bahwa yang dia minum itu air putih. Padahal, walaupun dia memegang botol air minum, tapi di dalamnya jelas-jelas itu minuman keras. Kami warga merasa terganggu sekali dengan fenomena itu. Adakah pasal mengganggu ketertiban umum yang dapat dikenakan kepada orang mabuk tersebut? Atas pencerahannya diucapkan terimakasih, untuk ubklawyers dan paralegalnya semoga semakin sukses dan berjaya. Aamiin..
JUHROO – Jambak City
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
“INTISARI JAWABAN”
【ℌ𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔓𝔦𝔡𝔞𝔫𝔞】
𝔄𝔫𝔡𝔞 𝔪𝔢𝔪𝔦𝔩𝔦𝔨𝔦 𝔥𝔞𝔨 𝔲𝔫𝔱𝔲𝔨 𝔪𝔢𝔩𝔞𝔭𝔬𝔯𝔨𝔞𝔫 𝔨𝔢 𝔭𝔦𝔥𝔞𝔨 𝔨𝔢𝔭𝔬𝔩𝔦𝔰𝔦𝔞𝔫 𝔞𝔭𝔞𝔟𝔦𝔩𝔞 𝔞𝔡𝔞 𝔬𝔯𝔞𝔫𝔤 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔪𝔢𝔫𝔤𝔤𝔞𝔫𝔤𝔤𝔲 𝔨𝔢𝔱𝔢𝔯𝔱𝔦𝔟𝔞𝔫 𝔲𝔪𝔲𝔪. 𝔎𝔞𝔯𝔢𝔫𝔞 𝔪𝔢𝔫𝔲𝔯𝔲𝔱 𝔥𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔭𝔦𝔡𝔞𝔫𝔞, 𝔬𝔯𝔞𝔫𝔤 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔪𝔞𝔟𝔲𝔨 𝔡𝔞𝔫 𝔪𝔢𝔫𝔤𝔤𝔞𝔫𝔤𝔤𝔲 𝔨𝔢𝔱𝔢𝔯𝔱𝔦𝔟𝔞𝔫 𝔲𝔪𝔲𝔪 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔡𝔦𝔨𝔢𝔫𝔞𝔨𝔞𝔫 𝔰𝔞𝔫𝔨𝔰𝔦 𝔭𝔦𝔡𝔞𝔫𝔞 𝔰𝔢𝔟𝔞𝔤𝔞𝔦𝔪𝔞𝔫𝔞 𝔡𝔦𝔞𝔱𝔲𝔯 𝔡𝔞𝔩𝔞𝔪 𝔓𝔞𝔰𝔞𝔩 316 𝔞𝔶𝔞𝔱 (1) 𝔘𝔘 1/2023 𝔱𝔢𝔫𝔱𝔞𝔫𝔤 𝔎𝔘ℌ𝔓 𝔟𝔞𝔯𝔲.
𝔅𝔞𝔤𝔞𝔦𝔪𝔞𝔫𝔞 𝔟𝔲𝔫𝔶𝔦 𝔡𝔞𝔰𝔞𝔯 𝔥𝔲𝔨𝔲𝔪𝔫𝔶𝔞?
𝔓𝔢𝔫𝔧𝔢𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔩𝔢𝔟𝔦𝔥 𝔩𝔞𝔫𝔧𝔲𝔱 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔄𝔫𝔡𝔞 𝔟𝔞𝔠𝔞 𝔲𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔡𝔦 𝔟𝔞𝔴𝔞𝔥 𝔦𝔫𝔦.
ULASAN SELENGKAPNYA;
Terimakasih atas pertanyaan Anda.
Artikel ini dibuat berdasarkan KUHP lama dan UU 1/2023 tentang KUHP yang diundangkan pada tanggal 2 Januari 2023.
Artikel ini dibuat berdasarkan KUHAP lama dan UU 20/2025 tentang KUHAP yang diundangkan pada tanggal 17 Desember 2025.
Dapatkah Minum Miras Dipidana?
Sebelum mengetahui apakah orang mabuk minuman keras menggunakan botol air minum bisa dipidana atau tidak, pada dasarnya, kita perlu mengetahui bahwa perbuatan mabuk yang dapat dipidana adalah sebagaimana diatur dalam Pasal 492 ayat (1) KUHP lama y͟a͟n͟g͟ s͟u͟d͟a͟h͟ t͟i͟d͟a͟k͟ b͟͟e͟͟r͟͟l͟͟a͟͟k͟͟u͟͟, dan Pasal 316 ayat (1) UU 1/2023 tentang KUHP baru yang sudah berlaku pada 2 Januari 2026,[¹] yaitu tahun 2026 sebagai berikut:
Pasal 492 ayat (1) KUHP
- Barang siapa dalam keadaan mabuk di muka umum merintangi lalu lintas, atau mengganggu ketertiban, atau mengancam keamanan orang lain, atau melakukan sesuatu yang harus dilakukan dengan hati-hati atau dengan mengadakan tindakan penjagaan tertentu lebih dahulu agar jangan membahayakan nyawa atau kesehatan orang lain, diancam dengan pidana kurungan paling lama 6 hari, atau pidana denda paling banyak Rp375 ribu.[²]
Pasal 316 ayat (1) UU 1/2023
- Setiap Orang yang mabuk di tempat umum mengganggu ketertiban atau mengancam keselamatan orang lain, dipidana dengan pidana denda paling banyak kategori II, yaitu Rp 10 juta.[³]
Adapun dalam Penjelasan Pasal 316 UU 1/2023, dinyatakan bahwa d͟a͟l͟a͟m͟ k͟e͟a͟d͟a͟a͟n͟ m͟a͟b͟u͟k͟ s͟e͟s͟e͟o͟r͟a͟n͟g͟ t͟i͟d͟a͟k͟ d͟a͟p͟a͟t͟ s͟e͟p͟e͟n͟u͟h͟n͟y͟a͟ d͟a͟p͟a͟t͟ m͟e͟n͟g͟u͟a͟s͟a͟i͟ a͟t͟a͟u͟ m͟e͟n͟g͟o͟n͟t͟r͟o͟l͟ d͟͟i͟͟r͟͟i͟͟n͟͟y͟͟a͟͟. Oleh karena itu, dalam keadaan yang sedemikian seseorang dilarang melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam pasal ini.
Sehingga menurut hemat kami, b͟u͟k͟a͟n͟ c͟a͟r͟a͟ m͟a͟b͟u͟k͟n͟y͟a͟ (c͟a͟r͟a͟ m͟͟i͟͟n͟͟u͟͟m͟͟) y͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟j͟a͟d͟i͟ u͟n͟s͟u͟r͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟͟i͟͟d͟͟a͟͟n͟͟a͟͟, y͟a͟n͟g͟ p͟e͟n͟t͟i͟n͟g͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ m͟e͟m͟b͟u͟k͟t͟i͟k͟a͟n͟ b͟a͟h͟w͟a͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ o͟r͟a͟n͟g͟ i͟t͟u͟ s͟a͟m͟p͟a͟i͟ t͟i͟d͟a͟k͟ d͟a͟p͟a͟t͟ s͟e͟p͟e͟n͟u͟h͟n͟y͟a͟ m͟e͟n͟g͟u͟a͟s͟a͟i͟ a͟t͟a͟u͟ m͟e͟n͟g͟o͟n͟t͟r͟o͟l͟ d͟i͟r͟i͟n͟y͟a͟ s͟e͟r͟t͟a͟ m͟e͟n͟g͟a͟k͟i͟b͟a͟t͟k͟a͟n͟ m͟e͟n͟g͟g͟a͟n͟g͟g͟u͟ k͟e͟t͟e͟r͟t͟i͟b͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ m͟e͟n͟g͟a͟n͟c͟a͟m͟ k͟e͟s͟e͟l͟a͟m͟a͟t͟a͟n͟ o͟r͟a͟n͟g͟ l͟͟a͟͟i͟͟n͟͟.
Hak Melapor Jika Terganggu
Karena Anda merasa terganggu, A͟n͟d͟a͟ d͟a͟n͟ w͟a͟r͟g͟a͟ m͟e͟m͟i͟l͟i͟k͟i͟ h͟a͟k͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟l͟a͟p͟o͟r͟k͟a͟n͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟a͟n͟ o͟r͟a͟n͟g͟ y͟a͟n͟g͟ m͟a͟b͟u͟k͟ t͟e͟r͟s͟e͟b͟u͟t͟ k͟e͟p͟a͟d͟a͟ p͟i͟h͟a͟k͟ k͟͟e͟͟p͟͟o͟͟l͟͟i͟͟s͟͟i͟͟a͟͟n͟͟.
Pengertian laporan secara historis dapat ditemukan pada Pasal 1 angka 24 KUHAP lama yang sudah tidak berlaku, dan Pasal 1 angka 45 UU 20/2025 tentang KUHAP baru yang sudah berlaku pada 2 Januari 2026,[⁴] yang berbunyi:
Pasal 1 angka 24 KUHAP
- Laporan adalah pemberitahuan yang disampaikan oleh seorang karena hak atau kewajiban berdasarkan undang-undang kepada pejabat yang berwenang tentang telah atau sedang atau diduga akan terjadinya peristiwa pidana.
Pasal 1 angka 45 UU 20/2025
- Laporan adalah pemberitahuan yang disampaikan oleh seseorang kepada penyelidik, penyidik Polri, PPNS, atau penyidik tertentu mengenai telah terjadinya peristiwa pidana, sedang terjadinya peristiwa pidana, atau diduga akan terjadinya peristiwa pidana.
Kemudian, dalam KUHAP lama, hak melapor bagi seseorang dapat ditemukan dalam Pasal 108 ayat (1):
- Setiap orang yang mengalami, melihat, menyaksikan dan atau menjadi korban peristiwa yang merupakan tindak pidana berhak untuk mengajukan laporan atau pengaduan kepada penyelidik dan atau penyidik baik lisan maupun tertulis.
Walau demikian, sepanjang penelusuran kami, UU 20/2025 tentang KUHAP baru t͟i͟d͟a͟k͟ m͟e͟n͟g͟a͟t͟u͟r͟ l͟e͟b͟i͟h͟ l͟a͟n͟j͟u͟t͟ m͟e͟n͟g͟e͟n͟a͟i͟ h͟a͟k͟ m͟e͟l͟a͟p͟o͟r͟ b͟a͟g͟i͟ s͟͟e͟͟s͟͟e͟͟o͟͟r͟͟a͟͟n͟͟g͟͟.
Lebih lanjut, meskipun nantinya pihak kepolisian yang menentukan apakah tindakan tersebut adalah tindak pidana atau bukan, namun, Anda sebagai warga memiliki hak untuk melapor atas perbuatan orang mabuk yang telah mengganggu Anda.
Setelah dilakukan pelaporan atas dugaan tindak pidana, maka dilakukan penyelidikan yang wajib dilakukan oleh penyelidik setelah menerima laporan.[⁵] T͟e͟r͟h͟a͟d͟a͟p͟ h͟a͟s͟i͟l͟ p͟e͟n͟y͟e͟l͟i͟d͟i͟k͟a͟n͟ i͟͟n͟͟i͟͟, p͟e͟n͟y͟i͟d͟i͟k͟ m͟e͟l͟a͟k͟s͟a͟n͟a͟k͟a͟n͟ g͟e͟l͟a͟r͟ p͟e͟r͟k͟a͟r͟a͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟m͟u͟t͟u͟s͟k͟a͟n͟ s͟t͟a͟t͟u͟s͟ p͟e͟r͟i͟s͟t͟i͟w͟a͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟m͟u͟a͟t͟ d͟a͟l͟a͟m͟ h͟a͟s͟i͟l͟ p͟e͟n͟y͟e͟l͟i͟d͟i͟k͟a͟n͟ m͟e͟r͟u͟p͟a͟k͟a͟n͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ a͟t͟a͟u͟ b͟u͟k͟a͟n͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟͟i͟͟d͟͟a͟͟n͟͟a͟͟.[⁶]
Sebagai informasi, perihal gelar perkara dapat mengacu juga pada ketentuan Perkapolri 6/2019.
Dalam hal penyidik memutuskan status peristiwa orang mabuk tersebut sebagai tindak pidana, maka penyidik menindaklanjuti peristiwa tersebut ke tahap penyidikan.[⁷] Kemudian, s͟e͟t͟e͟l͟a͟h͟ p͟e͟n͟y͟i͟d͟i͟k͟ s͟e͟l͟e͟s͟a͟i͟ m͟e͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ p͟͟e͟͟n͟͟y͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, p͟e͟n͟y͟i͟d͟i͟k͟ m͟e͟n͟y͟a͟m͟p͟a͟i͟k͟a͟n͟ h͟a͟s͟i͟l͟ p͟e͟n͟y͟i͟d͟i͟k͟a͟n͟ s͟e͟r͟t͟a͟ b͟e͟r͟k͟a͟s͟ p͟e͟r͟k͟a͟r͟a͟ k͟e͟p͟a͟d͟a͟ p͟e͟n͟u͟n͟t͟u͟t͟ u͟m͟u͟m͟ u͟n͟t͟u͟k͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟n͟e͟l͟i͟t͟i͟a͟n͟ b͟e͟r͟k͟a͟s͟ p͟e͟r͟k͟a͟r͟a͟ d͟a͟l͟a͟m͟ j͟a͟n͟g͟k͟a͟ w͟a͟k͟t͟u͟ p͟a͟l͟i͟n͟g͟ l͟a͟m͟a͟ 7 h͟a͟r͟i͟ t͟e͟r͟h͟i͟t͟u͟n͟g͟ s͟e͟j͟a͟k͟ t͟a͟n͟g͟g͟a͟l͟ d͟i͟t͟e͟r͟i͟m͟a͟n͟y͟a͟ b͟e͟r͟k͟a͟s͟ p͟e͟r͟k͟a͟r͟a͟ d͟a͟r͟i͟ p͟͟e͟͟n͟͟y͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟.[⁸]
Dalam hal b͟e͟r͟k͟a͟s͟ p͟e͟r͟k͟a͟r͟a͟ d͟i͟n͟y͟a͟t͟a͟k͟a͟n͟ l͟e͟n͟g͟k͟a͟p͟ o͟l͟e͟h͟ p͟e͟n͟u͟n͟t͟u͟t͟ u͟͟m͟͟u͟͟m͟͟, p͟e͟n͟y͟i͟d͟i͟k͟ m͟e͟n͟y͟e͟r͟a͟h͟k͟a͟n͟ t͟e͟r͟s͟a͟n͟g͟k͟a͟ d͟a͟n͟ b͟a͟r͟a͟n͟g͟ b͟u͟k͟t͟i͟ k͟e͟p͟a͟d͟a͟ p͟e͟n͟u͟n͟t͟u͟t͟ u͟m͟u͟m͟ u͟n͟t͟u͟k͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ p͟͟͟e͟͟͟n͟͟͟u͟͟͟n͟͟͟t͟͟͟u͟͟͟t͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟.[⁹] Nantinya, hakim yang memutuskan seseorang itu melakukan tindak pidana atau tidak.
Contoh Kasus
Untuk mempermudah pemahaman Anda, kami akan berikan contoh kasus yang mengganggu ketertiban umum dalam Putusan Pengadilan Negeri Blitar Nomor 78/Pid.C/2018/PN Blt. Di dalam perkara ini, terdakwa terbukti secara sah dan menyakinkan telah melakukan tindak pidana tanpa izin minum minuman keras di tempat umum yang dilakukan dengan cara mabuk karena meminum 1/2 botol air minum oplosan MJ.
Lalu, yang menjadi perhatian Majelis Hakim dalam memutus terdakwa bersalah berdasarkan Pasal 492 ayat (1) KUHP lama, b͟u͟k͟a͟n͟ k͟a͟r͟e͟n͟a͟ b͟o͟t͟o͟l͟ m͟i͟n͟u͟m͟ o͟p͟l͟o͟s͟a͟n͟ t͟e͟t͟a͟p͟i͟ t͟e͟r͟d͟a͟k͟w͟a͟ y͟a͟n͟g͟ b͟e͟r͟s͟a͟l͟a͟h͟ m͟e͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ m͟a͟b͟u͟k͟-m͟a͟b͟u͟k͟a͟n͟ d͟͟i͟͟ t͟e͟m͟p͟a͟t͟ u͟m͟u͟m͟ d͟a͟n͟ m͟e͟n͟g͟g͟a͟n͟g͟g͟u͟ k͟e͟t͟e͟r͟t͟i͟b͟a͟n͟ u͟͟m͟͟u͟͟m͟͟. Akibat perbuatannya, hakim menghukum terdakwa dengan hukuman denda sebesar Rp50 ribu dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar maka diganti dengan pidana kurungan selama 3 hari.
Maka sejalan dengan pendapat kami di atas, bahwa tindak pidana yang ditujukan kepada keadaan mabuknya seseorang di tempat umum dan mengganggu ketertiban umum b͟u͟k͟a͟n͟ b͟a͟g͟a͟i͟m͟a͟n͟a͟ c͟a͟r͟a͟ m͟e͟m͟i͟n͟u͟m͟ m͟i͟n͟u͟m͟a͟n͟ t͟͟e͟͟r͟͟s͟͟e͟͟b͟͟u͟͟t͟͟. Meskipun demikian, cara mabuk dengan menggunakan botol air minum tersebut penting untuk membuktikan tindak pidana dalam pembuktian di persidangan.
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat dan dapat dijadikan pembelajaran untuk kita semua terlebih untuk penanya dan Paralegal ubklawyers pada khususnya.
D͟a͟s͟a͟r͟ H͟u͟k͟u͟m͟:
- Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana;
- Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2025 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana;
- Peraturan Kepala Kepolisian Negara Nomor 6 Tahun 2019 tentang Penyidikan Tindak Pidana.
Artikel ini adalah pemutakhiran kedua dari artikel dengan judul Bolehkah Melaporkan Orang Mabuk yang Mengganggu di Jalan? Yang ditulis oleh Dimas Hutomo, S.H. dan dipublikasikan pada 1 Juli 2019, lalu dimutakhirkan pertama kali oleh Renata Christha Auli, S.H. pada 06 Februari 2024. Dipublikasikan kedua oleh “..Hukumonline.com..” dengan judul Orang Mabuk Mengganggu Ketertiban Umum, Bisakah Dilaporkan? Pada tanggal 12 Januari 2026. Dan diteruskan oleh ubklawyers pada tanggal 19 Januari 2026M/29 Rajab 1447H.
Seluruh Informasi Hukum yang ada di LBH-UMAR BIN KHATTAB disiapkan semata-mata untuk t͟͟͟u͟͟͟j͟͟͟u͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟ p͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, p͟e͟m͟b͟e͟l͟a͟j͟a͟r͟a͟n͟ dan b͟e͟r͟s͟i͟f͟a͟t͟ u͟m͟u͟m͟. Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan Pengacara, Konsultan Hukum dan/atau Paralegal UBK LAWYERS.
Sedang menghadapi permasalahan hukum? A͟j͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟t͟a͟n͟y͟a͟a͟n͟ melalui email, telepon atau chat.👇🏼
Email:
ubklawyer@gmail.com
Telepon/Chat:
089666552118
Berkenan G͟a͟b͟u͟n͟g͟ G͟r͟o͟u͟p͟, untuk jadi bagian Keluarga Besar UBK LAWYERS. Klik link dibawah.👇🏼
I͟K͟U͟T͟I͟ W͟h͟a͟t͟s͟A͟p͟p͟ C͟h͟a͟n͟n͟e͟l͟ LBH-UMAR BIN KHATTAB. Untuk memperkaya Riset Hukum Anda, klik link dibawah.👇🏼
🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸
#cerdashukum
#studylawtogether
#ubklawyers

