Bagian Kelima
Oleh: Suhaeli Nawawi, Pembina YWI
***Rekayasa Genetik Tanaman Anti Hama: Batasan Ilmuwan dan Kekuasaan Sang Pencipta***
Pendahuluan
INDRAMAYU — Rekayasa genetik merupakan salah satu inovasi besar dalam bioteknologi modern. Melalui pendekatan ini, sifat-sifat tertentu pada tanaman dapat dimodifikasi agar lebih produktif, tahan penyakit, maupun tahan terhadap serangan hama. Salah satu bentuk yang paling populer adalah tanaman tahan hama (insect-resistant crops) yang dikembangkan untuk mengurangi kerugian pertanian sekaligus mengurangi penggunaan pestisida kimia.^1
Upaya Ilmiah dalam Meningkatkan Tanaman Anti Hama
Contoh yang paling menonjol adalah pengembangan jagung Bt dan kapas Bt. Pada tanaman ini, gen dari bakteri Bacillus thuringiensis (Bt) dimasukkan ke dalam DNA tanaman. Gen tersebut memungkinkan tanaman menghasilkan protein Cry yang beracun bagi serangga tertentu, sehingga hama yang memakan tanaman tersebut akan mati.^2
Selain metode transgenik, pendekatan modern seperti CRISPR-Cas9 juga mulai digunakan untuk mengedit gen pertahanan tanaman secara lebih presisi.^3 Upaya ini memperlihatkan bahwa sains mampu memanfaatkan mekanisme biologis yang sudah ada di alam untuk kepentingan pertanian.
Batasan Rekayasa Ilmiah
Meskipun menjanjikan, rekayasa genetik tidak berarti manusia menciptakan sistem pertahanan baru dari nol. Ilmuwan hanya dapat memindahkan, mengatur ulang, atau memodifikasi gen yang sudah ada. Sistem kompleks metabolisme, jaringan, dan regulasi kehidupan tetap merupakan ciptaan yang tidak dapat dijangkau oleh manusia untuk diciptakan secara mandiri.^4 Dengan kata lain, manusia berperan sebagai pengolah ciptaan, bukan pencipta hakikat kehidupan.
Perspektif Al-Qur’an
Al-Qur’an mengingatkan manusia agar menyadari keterbatasan dirinya. Firman Allah:
“Wahai manusia, ingatlah nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Tidak ada Tuhan selain Dia; maka bagaimana bisa kamu berpaling (dari kebenaran)?”
(QS. Fāṭir [35]:3)^5
Ayat ini menegaskan bahwa segala potensi genetik, sistem pertahanan alami, dan sumber daya hayati yang dimanfaatkan dalam bioteknologi pada hakikatnya merupakan bagian dari ciptaan Allah. Rekayasa genetik hanyalah bentuk pemanfaatan dari sumber daya yang telah tersedia, bukan bentuk penciptaan kehidupan yang baru.
Kesimpulan
Rekayasa genetik pada tanaman anti hama merupakan upaya manusia dalam memanfaatkan potensi yang telah Allah sediakan di alam. Teknologi ini membantu mengurangi kerugian pertanian dan penggunaan pestisida, namun tidak mengubah kenyataan bahwa hukum dasar kehidupan tetap berada dalam genggaman Sang Pencipta. Dengan demikian, titik temu antara sains dan teologi terlihat jelas: manusia ditugaskan untuk mengelola ciptaan Allah dengan bijak, bukan untuk menandingi atau menggantikan-Nya.
Catatan Kaki
1.Charles J. Arntzen, “Plant-made Pharmaceuticals: From ‘Edible Vaccines’ to Ebola Therapeutics,” Plant Biotechnology Journal 13, no. 8 (2015): 1013–16.
2.Bruce E. Tabashnik et al., “Bt Resistance in Lepidoptera: Lessons from the First Billion Acres,” Nature Biotechnology 31, no. 6 (2013): 510–21.
3.Henry T. Greely, “CRISPR’d Plants: Some Legal and Ethical Questions,” Physiology & Behavior 176, no. 1 (2017): 139–48.
4.John Bryant, Linda Baggott la Velle, and John Searle, Bioethics for Scientists (Chichester: John Wiley & Sons, 2005), 45–48.
5.Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, 2019), QS. Fāṭir [35]:3.
BERSAMBUNG
