Bagian Keempat
Oleh: Suhaeli Nawawi, Pembina YWI
***Rekayasa Genetik Buah Tanpa Biji: Batasan Ilmuwan dan Isyarat Al-Qur’an***
Pendahuluan
INDRAMAYU — Fenomena buah tanpa biji (seedless fruit) semakin populer, baik untuk kenyamanan konsumen maupun nilai komersial. Contohnya anggur tanpa biji, semangka tanpa biji, dan jeruk seedless. Ilmu pengetahuan modern menunjukkan bahwa kondisi ini dapat diciptakan melalui berbagai teknik rekayasa genetik dan pemuliaan tanaman. Namun, pertanyaan penting muncul: sejauh mana kemampuan ilmuwan dalam memanipulasi mekanisme ini, dan di mana letak batas kekuasaan Sang Pencipta?
Mekanisme Ilmiah Buah Tanpa Biji
Secara biologis, buah terbentuk melalui proses pembuahan (fertilisasi) yang menghasilkan biji sebagai alat reproduksi. Dalam kasus buah tanpa biji, beberapa mekanisme yang dapat dilakukan ilmuwan adalah:
1.Manipulasi hormon tanaman.
Hormon auksin dan giberelin dapat direkayasa atau ditambahkan untuk merangsang pertumbuhan buah tanpa pembuahan. M ekanisme ini disebut partenokarpi.[^1]
2.Persilangan konvensional.
Misalnya, semangka tanpa biji dihasilkan dari persilangan tetraploid (4n) dengan diploid (2n), sehingga menghasilkan tanaman triploid (3n) yang tidak mampu menghasilkan biji yang subur, tetapi tetap menghasilkan buah.[^2]
3.Rekayasa genetik modern.
Dengan teknologi CRISPR atau transgenik, gen pengatur pembentukan biji dapat dinonaktifkan, sehingga buah tetap terbentuk tetapi tidak memiliki embrio yang berkembang.[^3]
Batasan Rekayasa Genetik
Meskipun teknologi mampu menghasilkan buah tanpa biji, ada beberapa hal yang tetap tidak bisa dicapai manusia:
Tidak dapat menciptakan mekanisme reproduksi baru dari nol. Tanaman sudah memiliki rancangan genetik untuk menghasilkan biji, manusia hanya bisa mengintervensi sebagian jalur itu.[^4]
Tidak dapat menghapus potensi genetik biji sepenuhnya. Secara DNA, blueprint untuk pembentukan biji tetap ada.[^5]
Tidak dapat menjadikan semua tanaman otomatis tanpa biji. Kompleksitas fisiologi pada tiap spesies membuatnya tidak bisa direkayasa dengan metode seragam.[^6]
Tidak dapat meniadakan hukum dasar keturunan. Tanaman tanpa biji umumnya tidak bisa berkembang biak secara generatif, sehingga membutuhkan campur tangan manusia untuk perbanyakan vegetatif (stek, kultur jaringan).[^7]
Perspektif Al-Qur’an
Al-Qur’an menyinggung keajaiban variasi buah, baik yang memiliki biji maupun tidak, sebagai tanda kekuasaan Allah:
“Dan di bumi terdapat bagian-bagian yang berdampingan, kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman, dan pohon kurma yang bercabang dan tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebagian buah-buahan atas sebagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berakal.”
(QS. Ar-Ra‘d [13]:4)[^8]
Ayat ini menunjukkan bahwa keragaman sifat buah, termasuk keberadaan atau ketiadaan biji, adalah bagian dari sistem ciptaan Allah. Ilmuwan dapat memodifikasi sebagian jalur biologis, tetapi hakikat rancangan genetik tetap berada dalam lingkup ciptaan-Nya.
Kesimpulan
Buah tanpa biji adalah contoh nyata bagaimana manusia memanfaatkan pengetahuan tentang genetika dan fisiologi tanaman untuk kepentingan hidupnya. Namun, kemampuan ini tetaplah terbatas: manusia hanya bisa memodifikasi sistem yang sudah ada, bukan menciptakan sistem kehidupan baru. Dengan demikian, rekayasa genetik menjadi sarana untuk semakin menyadari kebesaran Allah yang telah menetapkan hukum-hukum dasar kehidupan.
BERSAMBUNG
