INDRAMAYU — PERTANYAAN
Saya mantan narapidana pencurian yang sudah disidang dan dihukum selama 7 bulan. Setelah keluar penjara, saya sering dicemooh dan disapa dengan kata “maling”. Apakah saya bisa menuntut orang-orang yang menghina saya tersebut? Mohon penjelasannya berdasarkan KUHP lama dan UU 1/2023. Atas penjelasannya diucapkan terimakasih, untuk ubklawyers dan paralegalnya semoga diberikan kecerdasan dan ilmu bermanfaat untuk kami yang awam hukum. Aamiin..
Didi (Edross) – Cikedung City
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
“INTISARI JAWABAN”
【Hukum Pidana】
𝔓𝔦𝔡𝔞𝔫𝔞 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔡𝔦𝔧𝔞𝔱𝔲𝔥𝔨𝔞𝔫 𝔱𝔢𝔯𝔥𝔞𝔡𝔞𝔭 𝔰𝔢𝔬𝔯𝔞𝔫𝔤 𝔫𝔞𝔯𝔞𝔭𝔦𝔡𝔞𝔫𝔞 𝔱𝔦𝔡𝔞𝔨 𝔡𝔦𝔪𝔞𝔨𝔰𝔲𝔡𝔨𝔞𝔫 𝔲𝔫𝔱𝔲𝔨 𝔪𝔢𝔯𝔢𝔫𝔡𝔞𝔥𝔨𝔞𝔫 𝔞𝔱𝔞𝔲 𝔪𝔢𝔫𝔤𝔥𝔞𝔭𝔲𝔰 𝔪𝔞𝔯𝔱𝔞𝔟𝔞𝔱 𝔪𝔞𝔫𝔲𝔰𝔦𝔞, 𝔪𝔢𝔩𝔞𝔦𝔫𝔨𝔞𝔫 𝔲𝔫𝔱𝔲𝔨 𝔪𝔢𝔫𝔤𝔲𝔱𝔲𝔨 𝔭𝔢𝔯𝔟𝔲𝔞𝔱𝔞𝔫 𝔪𝔢𝔩𝔞𝔴𝔞𝔫 𝔥𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔱𝔢𝔩𝔞𝔥 𝔡𝔦𝔩𝔞𝔨𝔲𝔨𝔞𝔫. 𝔄𝔯𝔱𝔦𝔫𝔶𝔞, 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔪𝔢𝔫𝔧𝔞𝔡𝔦 𝔰𝔞𝔰𝔞𝔯𝔞𝔫 𝔭𝔢𝔫𝔤𝔥𝔲𝔨𝔲𝔪𝔞𝔫 𝔞𝔡𝔞𝔩𝔞𝔥 𝔱𝔦𝔫𝔡𝔞𝔨 𝔭𝔦𝔡𝔞𝔫𝔞 𝔰𝔢𝔟𝔞𝔤𝔞𝔦 𝔴𝔲𝔧𝔲𝔡 𝔭𝔢𝔫𝔶𝔦𝔪𝔭𝔞𝔫𝔤𝔞𝔫 𝔡𝔞𝔯𝔦 𝔫𝔬𝔯𝔪𝔞 𝔥𝔲𝔨𝔲𝔪, 𝔟𝔲𝔨𝔞𝔫 𝔢𝔨𝔰𝔦𝔰𝔱𝔢𝔫𝔰𝔦 𝔭𝔯𝔦𝔟𝔞𝔡𝔦 𝔭𝔢𝔩𝔞𝔨𝔲 𝔦𝔱𝔲 𝔰𝔢𝔫𝔡𝔦𝔯𝔦. 𝔒𝔩𝔢𝔥 𝔰𝔢𝔟𝔞𝔟 𝔦𝔱𝔲, 𝔪𝔢𝔰𝔨𝔦𝔭𝔲𝔫 𝔰𝔢𝔰𝔢𝔬𝔯𝔞𝔫𝔤 𝔪𝔢𝔫𝔶𝔞𝔫𝔡𝔞𝔫𝔤 𝔰𝔱𝔞𝔱𝔲𝔰 𝔰𝔢𝔟𝔞𝔤𝔞𝔦 𝔫𝔞𝔯𝔞𝔭𝔦𝔡𝔞𝔫𝔞 𝔞𝔱𝔞𝔲 𝔪𝔞𝔫𝔱𝔞𝔫 𝔫𝔞𝔯𝔞𝔭𝔦𝔡𝔞𝔫𝔞, 𝔥𝔞𝔯𝔨𝔞𝔱 𝔡𝔞𝔫 𝔪𝔞𝔯𝔱𝔞𝔟𝔞𝔱 𝔨𝔢𝔪𝔞𝔫𝔲𝔰𝔦𝔞𝔞𝔫𝔫𝔶𝔞 𝔱𝔢𝔱𝔞𝔭 𝔱𝔦𝔡𝔞𝔨 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔡𝔦𝔠𝔞𝔟𝔲𝔱 𝔞𝔱𝔞𝔲 𝔡𝔦𝔞𝔟𝔞𝔦𝔨𝔞𝔫, 𝔨𝔞𝔯𝔢𝔫𝔞 𝔰𝔦𝔣𝔞𝔱 𝔨𝔢𝔪𝔞𝔫𝔲𝔰𝔦𝔞𝔞𝔫 𝔱𝔢𝔯𝔰𝔢𝔟𝔲𝔱 𝔪𝔢𝔩𝔢𝔨𝔞𝔱 𝔰𝔢𝔧𝔞𝔨 𝔩𝔞𝔥𝔦𝔯 𝔰𝔢𝔟𝔞𝔤𝔞𝔦 𝔞𝔫𝔲𝔤𝔢𝔯𝔞𝔥 𝔗𝔲𝔥𝔞𝔫 𝔡𝔞𝔫 𝔡𝔦𝔧𝔞𝔪𝔦𝔫 𝔬𝔩𝔢𝔥 𝔭𝔯𝔦𝔫𝔰𝔦𝔭-𝔭𝔯𝔦𝔫𝔰𝔦𝔭 𝔥𝔞𝔨 𝔞𝔰𝔞𝔰𝔦 𝔪𝔞𝔫𝔲𝔰𝔦𝔞.
𝔓𝔢𝔯𝔟𝔲𝔞𝔱𝔞𝔫 𝔪𝔢𝔫𝔠𝔢𝔪𝔬𝔬𝔥 𝔪𝔞𝔫𝔱𝔞𝔫 𝔫𝔞𝔯𝔞𝔭𝔦𝔡𝔞𝔫𝔞 𝔡𝔢𝔫𝔤𝔞𝔫 𝔰𝔢𝔟𝔲𝔱𝔞𝔫 “𝔪𝔞𝔩𝔦𝔫𝔤” 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔡𝔦𝔨𝔞𝔱𝔢𝔤𝔬𝔯𝔦𝔨𝔞𝔫 𝔰𝔢𝔟𝔞𝔤𝔞𝔦 𝔭𝔢𝔫𝔤𝔥𝔦𝔫𝔞𝔞𝔫 𝔯𝔦𝔫𝔤𝔞𝔫. 𝔅𝔞𝔤𝔞𝔦𝔪𝔞𝔫𝔞 𝔧𝔢𝔯𝔞𝔱 𝔥𝔲𝔨𝔲𝔪𝔫𝔶𝔞?
𝔓𝔢𝔫𝔧𝔢𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔩𝔢𝔟𝔦𝔥 𝔩𝔞𝔫𝔧𝔲𝔱 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔄𝔫𝔡𝔞 𝔟𝔞𝔠𝔞 𝔲𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔡𝔦 𝔟𝔞𝔴𝔞𝔥 𝔦𝔫𝔦.
ULASAN SELENGKAPNYA;
Terimakasih atas pertanyaan Anda.
Narapidana
Menurut hemat kami, pertanyaan mengenai apakah mantan narapidana dapat menuntut orang yang mencemooh dengan sebutan “maling” bukan hanya persoalan pribadi, melainkan menyentuh isu penting dalam hukum pidana dan hak asasi manusia. Dalam praktiknya, tak jarang stigma sosial terhadap mantan narapidana sering kali berlanjut meskipun yang bersangkutan telah menjalani pidana dan secara hukum dianggap telah menebus kesalahannya.
Berdasarkan Pasal 1 angka 6 UU Pemasyarakatan, istilah n͟a͟r͟a͟p͟i͟d͟a͟n͟a͟ d͟i͟g͟u͟n͟a͟k͟a͟n͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟n͟y͟e͟b͟u͟t͟ s͟e͟o͟r͟a͟n͟g͟ t͟e͟r͟p͟i͟d͟a͟n͟a͟ y͟a͟n͟g͟ s͟e͟d͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟j͟a͟l͟a͟n͟i͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ p͟e͟n͟j͟a͟r͟a͟ u͟n͟t͟u͟k͟ w͟a͟k͟t͟u͟ t͟e͟r͟t͟e͟n͟t͟u͟ d͟a͟n͟ s͟e͟u͟m͟u͟r͟ h͟i͟d͟u͟p͟ a͟t͟a͟u͟ t͟e͟r͟p͟i͟d͟a͟n͟a͟ m͟a͟t͟i͟ y͟a͟n͟g͟ s͟e͟d͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟u͟n͟g͟g͟u͟ p͟e͟l͟a͟k͟s͟a͟n͟a͟a͟n͟ p͟͟u͟͟t͟͟u͟͟s͟͟a͟͟n͟͟, y͟a͟n͟g͟ s͟e͟d͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟j͟a͟l͟a͟n͟i͟ p͟e͟m͟b͟i͟n͟a͟a͟n͟ d͟i͟ l͟e͟m͟b͟a͟g͟a͟ P͟͟e͟͟m͟͟a͟͟s͟͟y͟͟a͟͟r͟͟a͟͟k͟͟a͟͟t͟͟a͟͟n͟͟. Adapun tujuan dilakukannya pembinaan terhadap seorang narapidana di dalam lembaga pemasyarakatan adalah untuk meningkatkan kualitas kepribadian dan kemandirian narapidana agar menyadari kesalahan, memperbaiki diri, dan tidak mengulangi tindak pidana, sehingga dapat diterima kembali oleh lingkungan masyarakat, dapat hidup secara wajar sebagai warga yang baik, taat hukum, dan bertanggujng jawab, dan dapat aktif berperan dalam pembangunan.[¹]
Dengan kata lain, n͟a͟r͟a͟p͟i͟d͟a͟n͟a͟ h͟a͟n͟y͟a͟l͟a͟h͟ s͟t͟a͟t͟u͟s͟ h͟u͟k͟u͟m͟ s͟e͟m͟e͟n͟t͟a͟r͟a͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟l͟e͟k͟a͟t͟ p͟a͟d͟a͟ s͟e͟s͟e͟o͟r͟a͟n͟g͟ y͟a͟n͟g͟ s͟e͟d͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟j͟a͟l͟a͟n͟i͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ p͟͟e͟͟n͟͟j͟͟a͟͟r͟͟a͟͟. Selain itu, p͟i͟d͟a͟n͟a͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟j͟a͟t͟u͟h͟k͟a͟n͟ t͟e͟r͟h͟a͟d͟a͟p͟ s͟e͟o͟r͟a͟n͟g͟ n͟a͟r͟a͟p͟i͟d͟a͟n͟a͟ t͟i͟d͟a͟k͟ d͟i͟m͟a͟k͟s͟u͟d͟k͟a͟n͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟r͟e͟n͟d͟a͟h͟k͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ m͟e͟n͟g͟h͟a͟p͟u͟s͟ m͟a͟r͟t͟a͟b͟a͟t͟ m͟͟a͟͟n͟͟u͟͟s͟͟i͟͟a͟͟, melainkan untuk mengutuk perbuatan melawan hukum yang telah dilakukan. Artinya, y͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟j͟a͟d͟i͟ s͟͟a͟͟s͟͟a͟͟r͟͟a͟͟n͟͟ p͟e͟n͟g͟h͟u͟k͟u͟m͟a͟n͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ w͟u͟j͟u͟d͟ p͟e͟n͟y͟i͟m͟p͟a͟n͟g͟a͟n͟ d͟a͟r͟i͟ n͟o͟r͟m͟a͟ h͟͟u͟͟k͟͟u͟͟m͟͟, b͟u͟k͟a͟n͟ e͟k͟s͟i͟s͟t͟e͟n͟s͟i͟ p͟r͟i͟b͟a͟d͟i͟ p͟e͟l͟a͟k͟u͟ i͟t͟u͟ s͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟r͟͟i͟͟. Oleh sebab itu, meskipun s͟e͟s͟e͟o͟r͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟y͟a͟n͟d͟a͟n͟g͟ s͟t͟a͟t͟u͟s͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ n͟a͟r͟a͟p͟i͟d͟a͟n͟a͟ a͟t͟a͟u͟ m͟a͟n͟t͟a͟n͟ n͟͟a͟͟r͟͟a͟͟p͟͟i͟͟d͟͟a͟͟n͟͟a͟͟, h͟a͟r͟k͟a͟t͟ d͟a͟n͟ m͟a͟r͟t͟a͟b͟a͟t͟ k͟e͟m͟a͟n͟u͟s͟i͟a͟a͟n͟n͟y͟a͟ t͟e͟t͟a͟p͟ t͟i͟d͟a͟k͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟c͟a͟b͟u͟t͟ a͟t͟a͟u͟ d͟͟i͟͟a͟͟b͟͟a͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, karena s͟i͟f͟a͟t͟ k͟e͟m͟a͟n͟u͟s͟i͟a͟a͟n͟ t͟e͟r͟s͟e͟b͟u͟t͟ m͟e͟l͟e͟k͟a͟t͟ s͟e͟j͟a͟k͟ l͟a͟h͟i͟r͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ a͟n͟u͟g͟e͟r͟a͟h͟ T͟u͟h͟a͟n͟ d͟a͟n͟ d͟i͟j͟a͟m͟i͟n͟ o͟l͟e͟h͟ p͟r͟i͟n͟s͟i͟p͟-p͟r͟i͟n͟s͟i͟p͟ h͟a͟k͟ a͟s͟a͟s͟i͟ m͟͟a͟͟n͟͟u͟͟s͟͟i͟͟a͟͟.
Hal tersebut sejalan dengan pengertian hak asasi manusia pada Pasal 1 angka 1 UU HAM, yakni
- Hak Asasi Manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai mahkluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum, Pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia.
Dengan kata lain, e͟k͟s͟i͟s͟t͟e͟n͟s͟i͟ h͟a͟k͟ a͟s͟a͟s͟i͟ m͟a͟n͟u͟s͟i͟a͟ t͟i͟d͟a͟k͟ t͟e͟r͟i͟k͟a͟t͟ p͟a͟d͟a͟ k͟e͟b͟e͟r͟a͟d͟a͟a͟n͟ h͟u͟k͟u͟m͟ a͟t͟a͟u͟p͟u͟n͟ n͟͟e͟͟g͟͟a͟͟r͟͟a͟͟, melainkan secara secara kodrati melekat pada setiap individu sejak lahir sebagai anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa, yang karena itu tidak dapat dicabut atau dihilangkan oleh siapa pun. N͟e͟g͟a͟r͟a͟ j͟u͟s͟t͟r͟u͟ b͟e͟r͟k͟e͟w͟a͟j͟i͟b͟a͟n͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟͟e͟͟n͟͟g͟͟h͟͟o͟͟r͟͟m͟͟a͟͟t͟͟i͟͟, d͟a͟n͟ m͟e͟m͟e͟n͟u͟h͟i͟ h͟a͟k͟ s͟e͟t͟i͟a͟p͟ w͟a͟r͟g͟a͟ n͟e͟g͟a͟r͟a͟n͟y͟a͟ s͟e͟s͟u͟a͟i͟ k͟e͟t͟e͟n͟t͟u͟a͟n͟ U͟͟U͟͟ H͟͟A͟͟M͟͟.
Hukum Mencemooh Mantan Narapidana
Dari kajian tersebut, secara terang dapat disimpulkan bahwa perilaku mencemooh dengan sebutan “maling” merupakan pelanggaran terhadap hak dari pihak yang bersangkutan. Hal ini kemudian memperoleh perlindungan secara konkret dalam hukum pidana, yang mengatur l͟a͟r͟a͟n͟g͟a͟n͟ m͟e͟n͟y͟e͟r͟a͟n͟g͟ k͟e͟h͟o͟r͟m͟a͟t͟a͟n͟ d͟a͟n͟ n͟a͟m͟a͟ b͟a͟i͟k͟ s͟e͟s͟e͟o͟r͟a͟n͟g͟ m͟e͟l͟a͟l͟u͟i͟ k͟e͟t͟e͟n͟t͟u͟a͟n͟ m͟e͟n͟g͟e͟n͟a͟i͟ p͟͟͟͟e͟͟͟͟n͟͟͟͟g͟͟͟͟h͟͟͟͟i͟͟͟͟n͟͟͟͟a͟͟͟͟a͟͟͟͟n͟͟͟͟,[²] tepatnya p͟e͟n͟g͟h͟i͟n͟a͟a͟n͟ r͟i͟n͟g͟a͟n͟ sebagaimana diatur pada Pasal 315 KUHP lama yang pada saat artikel ini diterbitkan masih berlaku dan Pasal 436 UU 1/2023 tentang KUHP baru yang berlaku 3 tahun sejak tanggal diundangkan,[³] yaitu tahun 2026.
Pasal 315 KUHP lama
- Tiap-tiap penghinaan dengan sengaja yang tidak bersifat pencemaran atau pencemaran tertulis yang dilakukan terhadap seseorang, baik di muka umum dengan lisan atau tulisan, maupun di muka orang itu sendiri dengan lisan atau perbuatan, atau dengan surat yang dikirimkan atau diterimakan kepadanya, diancam karena penghinaan ringan dengan pidana penjara paling lama 4 bulan 2 minggu atau pidana denda paling banyak Rp4,5 juta.[4]
Pasal 436 UU 1/ 2023
- Penghinaan yang tidak bersifat pencemaran atau pencemaran tertulis yang dilakukan terhadap orang lain baik di muka umum dengan lisan atau tulisan, maupun di muka orang yang dihina tersebut secara lisan atau dengan perbuatan atau dengan tulisan yang dikirimkan atau diterimakan kepadanya, dipidana karena penghinaan ringan dengan pidana penjara paling lama 6 bulan atau pidana denda paling banyak kategori II, yaitu Rp10 juta.[⁵]
Menurut Penjelasan Pasal 436 UU 1/2023, ketentuan ini mengatur mengenai penghinaan yang dilakukan dengan mengeluarkan perkataan yang tidak senonoh terhadap orang lain. P͟e͟n͟g͟h͟i͟n͟a͟a͟n͟ t͟e͟r͟s͟e͟b͟u͟t͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ d͟i͟ m͟u͟k͟a͟ u͟m͟u͟m͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ l͟i͟s͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ t͟͟u͟͟l͟͟i͟͟s͟͟a͟͟n͟͟, a͟t͟a͟u͟ d͟i͟ m͟u͟k͟a͟ o͟r͟a͟n͟g͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟h͟i͟n͟a͟ i͟t͟u͟ s͟e͟n͟d͟i͟r͟i͟ b͟a͟i͟k͟ s͟e͟c͟a͟r͟a͟ l͟͟i͟͟s͟͟a͟͟n͟͟, t͟͟u͟͟l͟͟i͟͟s͟͟a͟͟n͟͟, m͟a͟u͟p͟u͟n͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ p͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ t͟u͟l͟i͟s͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟k͟i͟r͟i͟m͟k͟a͟n͟ k͟͟e͟͟p͟͟a͟͟d͟͟a͟͟n͟͟y͟͟a͟͟.
Selanjutnya, dari ketentuan di atas dapat diketahui bahwa Pasal 315 KUHP lama dan Pasal 436 UU 1/ 2023, memiliki unsur-unsur sebagai berikut:
- penghinaan yang tidak bersifat pencemaran atau pencemaran tertulis;
- dilakukan terhadap seseorang/ orang lain;
- dilakukan baik di muka umum dengan lisan atau tulisan maupun di muka orang yang dihina tersebut secara lisan atau dengan perbuatan atau dengan tulisan yang dikirimkan atau diterimakan kepadanya.
Perlu dicatat, terkait dengan unsur “penghinaan yang tidak bersifat pencemaran atau pencemaran tertulis”, artinya sifat dari perbuatan tidak memenuhi sifat perbuatan pencemaran yang diatur di dalam Pasal 433 UU 1/2023, yakni perbuatan penghinaan yang dilakukan dengan cara menuduh, baik secara lisan, tulisan, maupun dengan gambar. Menurut S.R. Sianturi dalam bukunya Tindak Pidana di KUHP Berikut Uraiannya (hal. 560), perbuatan yang dituduhkan dapat berupa berita yang benar-benar terjadi dan dapat juga “isapan jempol” belaka.
Hal ini kemudian dipertegas oleh R. Soesilo dalam bukunya Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal (hal. 315) yang menjelaskan bahwa jika penghinaan dilakukan dengan cara “menuduh suatu perbuatan” terhadap seseorang maka perbuatan tersebut dikategorikan ke dalam Pasal 310 atau Pasal 311 KUHP lama dan *Pasal 433 atau *Pasal 434 UU 1/ 2023.* Namun, jika penghinaan dilakukan dengan cara selain “menuduh suatu perbuatan” seperti mengatakan anjing, asu, bajingan, dan lain sebagainya, maka penghinaan tesebut dikategorikan sebagai penghinaan ringan sebagaimana pada Pasal 315 KUHP lama dan Pasal 436 UU 1/ 2023.
Sedangkan, disarikan dari artikel Bunyi Pasal 315 KUHP tentang Penghinaan Ringan, terhadap unsur “dilakukan baik di muka umum dengan lisan atau tulisan maupun di muka orang yang dihina tersebut secara lisan atau dengan perbuatan atau dengan tulisan yang dikirimkan atau diterimakan kepadanya”, artinya agar pelaku dapat dihukum maka penghinaan harus dilakukan di muka umum, baik secara lisan atau tertulis. Jika tidak dilakukan di muka umum, maka perbuatan harus memenuhi unsur, berikut:
- orang yang dihina hadir langsung di tempat kejadian dan mendengar atau melihat sendiri ucapan maupun perbuatan yang ditujukan kepadanya;
- jika penghinaan dilakukan melalui surat atau tulisan, maka penyampaiannya harus ditujukan langsung kepada orang yang dihina;
- bentuk kata atau ungkapan yang dianggap menghina sangat bergantung pada konteks tempat dan waktu, misalnya mencemooh dengan kata “maling” terhadap orang yang pernah menjadi narapidana;
- dapat diwujudkan melalui tindakan fisik, seperti meludahi wajah, mendorong, menepuk dengan kasar, atau melakukan kontak fisik ringan lainnya.
Sebagai informasi tambahan, menurut Pasal 319 KUHP lama dan Pasal 440 UU 1/2023, d͟e͟l͟i͟k͟ p͟e͟n͟g͟h͟i͟n͟a͟a͟n͟ m͟e͟r͟u͟p͟a͟k͟a͟n͟ d͟e͟l͟i͟k͟ a͟͟d͟͟u͟͟a͟͟n͟͟, y͟a͟k͟n͟i͟ d͟e͟l͟i͟k͟ y͟a͟n͟g͟ h͟a͟n͟y͟a͟ d͟i͟p͟r͟o͟s͟e͟s͟ a͟p͟a͟b͟i͟l͟a͟ a͟d͟a͟ p͟e͟n͟g͟a͟d͟u͟a͟n͟ d͟a͟r͟i͟ o͟r͟a͟n͟g͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟j͟a͟d͟i͟ k͟o͟r͟b͟a͟n͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟͟i͟͟d͟͟a͟͟n͟͟a͟͟.
Disarikan dari artikel Beda Delik Aduan dengan Delik Biasa dan Contohnya, E. Utrecht dalam bukunya Hukum Pidana II mengungkapkan bahwa dalam delik aduan, p͟e͟n͟u͟n͟t͟u͟t͟a͟n͟ t͟e͟r͟h͟a͟d͟a͟p͟ d͟e͟l͟i͟k͟ t͟e͟r͟s͟e͟b͟u͟t͟ d͟i͟g͟a͟n͟t͟u͟n͟g͟k͟a͟n͟ p͟a͟d͟a͟ p͟e͟r͟s͟e͟t͟u͟j͟u͟a͟n͟ d͟a͟r͟i͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟r͟u͟g͟i͟k͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ k͟͟o͟͟r͟͟b͟͟a͟͟n͟͟.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa p͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ m͟e͟n͟c͟e͟m͟o͟o͟h͟ a͟t͟a͟u͟ m͟e͟n͟y͟a͟p͟a͟ s͟e͟o͟r͟a͟n͟g͟ m͟a͟n͟t͟a͟n͟ n͟a͟r͟a͟p͟i͟d͟a͟n͟a͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ s͟e͟b͟u͟t͟a͟n͟ “m͟͟a͟͟l͟͟i͟͟n͟͟g͟͟” d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟k͟a͟t͟e͟g͟o͟r͟i͟k͟a͟n͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ p͟e͟n͟g͟h͟i͟n͟a͟a͟n͟ r͟i͟n͟g͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ h͟a͟n͟y͟a͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟p͟r͟o͟s͟e͟s͟ a͟p͟a͟b͟i͟l͟a͟ k͟o͟r͟b͟a͟n͟ s͟e͟c͟a͟r͟a͟ l͟a͟n͟g͟s͟u͟n͟g͟ m͟e͟n͟g͟a͟j͟u͟k͟a͟n͟ p͟͟e͟͟n͟͟g͟͟a͟͟d͟͟u͟͟a͟͟n͟͟.
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat dan dapat dijadikan pembelajaran untuk kita semua terlebih untuk penanya dan Paralegal ubklawyers pada khususnya.
D͟a͟s͟a͟r͟ H͟u͟k͟u͟m͟:
- Kitab Undang-Undang Hukum Pidana;
- Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia;
- Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana;
- Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2022 tentang Pemasyarakatan;
- Peraturan Mahkamah Agung Nomor 2 Tahun 2012 tentang Penyesuaian Batasan Tindak Pidana Ringan dan Jumlah Denda dalam KUHP.
Artikel ini adalah pemutakhiran dari artikel dengan judul Penghinaan Terhadap Mantan Narapidana yang dibuat oleh Tri Jata Ayu Pramesti, S.H. dan pertama kali dipublikasikan pada 2 Maret 2015, dipublikasikan kedua oleh “..Hukumonline.com..” dengan judul Mengata-ngatai Mantan Napi Termasuk Penghinaan? Pada tanggal 23 Oktober 2025. Dan diteruskan oleh ubklawyers pada tanggal 28 Oktober 2025.
Seluruh Informasi Hukum yang ada di LBH-UMAR BIN KHATTAB disiapkan semata-mata untuk t͟͟͟u͟͟͟j͟͟͟u͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟ p͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, p͟e͟m͟b͟e͟l͟a͟j͟a͟r͟a͟n͟ dan b͟e͟r͟s͟i͟f͟a͟t͟ u͟m͟u͟m͟. Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan Pengacara, Konsultan Hukum dan/atau Paralegal UBK LAWYERS.
Sedang menghadapi permasalahan hukum? A͟j͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟t͟a͟n͟y͟a͟a͟n͟ melalui email, telepon atau chat.👇🏼
Email:
ubklawyer@gmail.com
Telepon/Chat:
089666552118
Berkenan G͟a͟b͟u͟n͟g͟ G͟r͟o͟u͟p͟, untuk jadi bagian Keluarga Besar UBK LAWYERS. Klik link dibawah.👇🏼
I͟K͟U͟T͟I͟ W͟h͟a͟t͟s͟A͟p͟p͟ C͟h͟a͟n͟n͟e͟l͟ LBH-UMAR BIN KHATTAB. Untuk memperkaya Riset Hukum Anda, klik link dibawah.👇🏼
🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸
#cerdashukum
#studylawtogether
#ubklawyers
