Bagian Keenam
Oleh: Suhaeli Nawawi, Pembina YWI
Dari “Sulālah min Ṭīn” hingga Reproduksi Buatan: Menyimak Jejak Penciptaan dalam Sains Modern
INDRAMAYU — Konsep penciptaan manusia dalam Al-Qur’an sering digambarkan dengan ungkapan سلالة من طين (sulālah min ṭīn), yang bermakna “ekstrak dari tanah liat”. Kalimat ini tidak hanya menyiratkan asal-usul biologis manusia yang berakar dari unsur-unsur bumi, tetapi juga membuka ruang refleksi tentang hubungan antara tradisi keagamaan dan temuan ilmiah. Dalam perspektif kontemporer, sains modern seakan menyingkap lapisan-lapisan baru dari makna tersebut, terutama ketika berbicara tentang genetika, sel punca, dan teknologi reproduksi.
Jika dahulu manusia hanya memahami “tanah” sebagai simbol asal penciptaan, kini sains menunjukkan bahwa unsur-unsur kimia yang membentuk tubuh manusia—karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, fosfor, dan sulfur (CHNOPS)—juga berasal dari materi kosmik yang pada mulanya merupakan “tanah” jagat raya. Dengan perkembangan bioteknologi, konsep “sulālah” sebagai ekstrak esensial itu seakan menemukan padanannya dalam bentuk sel-sel dasar kehidupan: sel punca.
Salah satu terobosan besar yang menunjukkan betapa jauh manusia melangkah dalam memahami asal-usul reproduksi adalah penelitian di Jepang tentang reproduksi buatan tikus.
Keberhasilan pada Hewan: Jepang dan Reproduksi Buatan Tikus
Para ilmuwan di Jepang telah mencapai lompatan besar dalam biologi reproduksi dan teknologi sel punca. Mereka berhasil memproduksi sperma dan sel telur tikus secara in vitro (di laboratorium) dengan menggunakan sel punca pluripoten yang diprogram ulang (induced pluripotent stem cells/iPS cells), *bukan dari saripati tanah *سلالة من طين*
1.Tahap Awal: Sel Punca
Peneliti mengambil sel tubuh biasa (misalnya sel kulit) dari tikus. Sel ini kemudian diprogram ulang menjadi iPSCs, yaitu sel yang memiliki kemampuan berkembang menjadi berbagai jenis sel tubuh.
2.Diferensiasi Menjadi Sel Germinal
iPSCs diarahkan untuk menjadi primordial germ cells (PGCs), yaitu cikal bakal sperma dan ovum. Dengan teknik kultur khusus, PGC ini kemudian dimatangkan hingga menjadi sperma dan sel telur fungsional.
3.Pembuahan dan Kelahiran
Sperma dan sel telur buatan tersebut dipertemukan melalui proses pembuahan. Hasil pembuahan ditanamkan ke rahim tikus betina. Tikus betina ini akhirnya melahirkan anak-anak tikus yang sehat dan subur, yang dapat berkembang biak secara alami.
4.Signifikansi Ilmiah
Inilah bukti pertama bahwa sel kelamin dapat sepenuhnya dibuat di laboratorium dari sel tubuh biasa. Pencapaian ini membuka peluang riset tentang penyebab infertilitas, terapi untuk pasangan yang tidak subur, dan bahkan kemungkinan menciptakan gamet tanpa donor tradisional.
5.Catatan Etis dan Tantangan
Namun, eksperimen baru berhasil pada hewan, belum pada manusia. Pertanyaan etis segera muncul: apakah boleh “menciptakan” kehidupan dari sel tubuh biasa? Bagaimana jika teknologi ini disalahgunakan? Karena itu, meski menjanjikan, penerapan pada manusia masih jauh dan memerlukan regulasi ketat.
Sel Punca: “Sulālah” Biologi Modern
Sel punca (stem cell) dapat dianggap sebagai “sulālah” versi biologi modern: ia merupakan inti, asal, dan potensi dari berbagai bentuk kehidupan seluler. Keunikannya terletak pada dua sifat mendasar:
1.Self-renewal
▸ Sel punca dapat membelah diri berkali-kali tanpa kehilangan identitas sebagai sel induk.
2.Potensi diferensiasi
▸ Sel punca dapat berubah menjadi berbagai jenis sel khusus, seperti otot, saraf, darah, atau kulit.
Jenis-jenis Sel Punca
Totipotent: dapat menjadi semua jenis sel tubuh dan jaringan ekstraembrionik (contoh: zigot).
Pluripotent: dapat menjadi hampir semua jenis sel tubuh, tetapi tidak jaringan ekstraembrionik (contoh: embryonic stem cell).
Multipotent: dapat menjadi beberapa jenis sel dalam satu garis keturunan (contoh: hematopoietic stem cell → sel darah).
Unipotent: hanya dapat menjadi satu jenis sel, tetapi tetap dapat memperbarui diri (contoh: sel punca otot).
Aplikasi Sel Punca
Kedokteran regeneratif: terapi pengganti jaringan rusak (jantung, hati, sumsum tulang).
Penelitian penyakit: memahami mekanisme kanker, diabetes, atau kelainan genetik.
Uji obat: model sel manusia untuk mengetes keamanan obat baru.
Refleksi: Dari Tanah ke Teknologi
Jika teks suci menyebut manusia berasal dari “ekstrak tanah”, maka biologi modern menyingkap bentuk ekstrak itu dalam bahasa sel, DNA, dan potensi regeneratif. Sains tidak membantah wahyu, tetapi justru memperkaya cara manusia memahami makna “asal mula”.
Keberhasilan Jepang dalam membuat gamet buatan dari sel tubuh biasa, bukan dari سلالة من طين menunjukkan kemampuan manusia mengolah “sulālah” dengan teknologi. Namun, sebagaimana diingatkan oleh teks keagamaan, kekuasaan sejati tetap milik Sang Pencipta. Teknologi menghadirkan peluang sekaligus tanggung jawab moral yang besar.
BERSAMBUNG

