INDRAMAYU — PERTANYAAN
Berdasarkan berita yang beredar, Kompol Cosmas (Danyon Resimen IV Korbrimob Polri) baru saja mendapat sanksi pemberhentian tidak dengan hormat (PTDH) alias dipecat sebagai anggota polisi. Ia menjadi salah satu personel yang diduga terlibat melindas driver ojek online menggunakan kendaraan taktis/rantis Brimob saat demonstrasi di Jakarta.
Saya mau bertanya, apa dasar Kompol Cosmas tersebut diberhentikan secara tidak dengan hormat? Jika polisi melakukan tindak pidana, sidang etik atau peradilan umum dulu?
Atas penjelasannya diucapkan terimakasih, untuk ubklawyers dan paralegalnya semoga semakin banyak duitnya. Aamiin..
Indah Permatasari – Jakarta
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
“INTISARI JAWABAN”
【Hukum Pidana】
𝔓𝔬𝔩𝔦𝔰𝔦 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔪𝔢𝔩𝔞𝔨𝔲𝔨𝔞𝔫 𝔱𝔦𝔫𝔡𝔞𝔨 𝔭𝔦𝔡𝔞𝔫𝔞, 𝔰𝔢𝔩𝔞𝔦𝔫 𝔡𝔦𝔟𝔢𝔯𝔦𝔨𝔞𝔫 𝔰𝔞𝔫𝔨𝔰𝔦 𝔭𝔦𝔡𝔞𝔫𝔞 𝔟𝔢𝔯𝔡𝔞𝔰𝔞𝔯𝔨𝔞𝔫 𝔭𝔢𝔫𝔲𝔫𝔱𝔲𝔱𝔞𝔫 𝔡𝔞𝔫 𝔭𝔢𝔪𝔢𝔯𝔦𝔨𝔰𝔞𝔞𝔫 𝔡𝔦 𝔭𝔢𝔯𝔞𝔡𝔦𝔩𝔞𝔫 𝔲𝔪𝔲𝔪, 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔧𝔲𝔤𝔞 𝔡𝔦𝔟𝔢𝔯𝔦 𝔰𝔞𝔫𝔨𝔰𝔦 𝔦𝔫𝔰𝔱𝔦𝔱𝔲𝔰𝔦𝔬𝔫𝔞𝔩 𝔪𝔢𝔩𝔞𝔩𝔲𝔦 𝔰𝔦𝔡𝔞𝔫𝔤 𝔎𝔬𝔪𝔦𝔰𝔦 𝔎𝔬𝔡𝔢 𝔈𝔱𝔦𝔨 𝔓𝔬𝔩𝔯𝔦 (𝔎𝔎𝔈𝔓).
𝔄𝔡𝔞𝔭𝔲𝔫 𝔰𝔢𝔭𝔞𝔫𝔧𝔞𝔫𝔤 𝔭𝔢𝔫𝔢𝔩𝔲𝔰𝔲𝔯𝔞𝔫 𝔨𝔞𝔪𝔦, 𝔱𝔦𝔡𝔞𝔨 𝔱𝔢𝔯𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔨𝔢𝔱𝔢𝔫𝔱𝔲𝔞𝔫 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔪𝔢𝔫𝔤𝔞𝔱𝔲𝔯 𝔪𝔢𝔫𝔤𝔢𝔫𝔞𝔦 𝔭𝔯𝔬𝔰𝔢𝔰 𝔪𝔞𝔫𝔞 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔥𝔞𝔯𝔲𝔰 𝔡𝔦𝔡𝔞𝔥𝔲𝔩𝔲𝔨𝔞𝔫. 𝔐𝔞𝔨𝔞, 𝔰𝔦𝔡𝔞𝔫𝔤 𝔎𝔎𝔈𝔓 𝔡𝔞𝔫 𝔭𝔢𝔯𝔞𝔡𝔦𝔩𝔞𝔫 𝔲𝔪𝔲𝔪 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔰𝔞𝔧𝔞 𝔟𝔢𝔯𝔧𝔞𝔩𝔞𝔫 𝔰𝔢𝔠𝔞𝔯𝔞 𝔭𝔞𝔯𝔞𝔩𝔢𝔩.
𝔑𝔞𝔪𝔲𝔫, 𝔧𝔦𝔨𝔞 𝔰𝔦𝔡𝔞𝔫𝔤 𝔎𝔎𝔈𝔓 𝔡𝔦𝔩𝔞𝔨𝔲𝔨𝔞𝔫 𝔨𝔞𝔯𝔢𝔫𝔞 𝔭𝔬𝔩𝔦𝔰𝔦 𝔪𝔢𝔩𝔞𝔨𝔲𝔨𝔞𝔫 𝔱𝔦𝔫𝔡𝔞𝔨 𝔭𝔦𝔡𝔞𝔫𝔞 (𝔪𝔦𝔰𝔞𝔩𝔫𝔶𝔞 𝔨𝔞𝔱𝔢𝔤𝔬𝔯𝔦 𝔟𝔢𝔯𝔞𝔱), 𝔪𝔞𝔨𝔞 𝔪𝔢𝔯𝔲𝔧𝔲𝔨 𝔭𝔞𝔡𝔞 𝔓𝔞𝔰𝔞𝔩 ¹² 𝔞𝔶𝔞𝔱 (¹) 𝔥𝔲𝔯𝔲𝔣 𝔞 𝔓𝔓 ¹/²⁰⁰³ 𝔡𝔞𝔫 𝔓𝔞𝔰𝔞𝔩 ¹⁷ 𝔞𝔶𝔞𝔱 (³) 𝔥𝔲𝔯𝔲𝔣 𝔢 𝔓𝔢𝔯𝔭𝔬𝔩 ⁷/²⁰²², 𝔱𝔦𝔫𝔡𝔞𝔨 𝔭𝔦𝔡𝔞𝔫𝔞 𝔱𝔢𝔯𝔰𝔢𝔟𝔲𝔱 𝔥𝔞𝔯𝔲𝔰 𝔱𝔢𝔩𝔞𝔥 𝔪𝔢𝔫𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱𝔨𝔞𝔫 𝔭𝔲𝔱𝔲𝔰𝔞𝔫 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔟𝔢𝔯𝔨𝔢𝔨𝔲𝔞𝔱𝔞𝔫 𝔥𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔱𝔢𝔱𝔞𝔭. ℌ𝔞𝔩 𝔦𝔫𝔦 𝔟𝔢𝔯𝔞𝔯𝔱𝔦 𝔥𝔞𝔯𝔲𝔰 𝔱𝔢𝔯𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔰𝔦𝔡𝔞𝔫𝔤 𝔭𝔢𝔯𝔞𝔡𝔦𝔩𝔞𝔫 𝔲𝔪𝔲𝔪 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔭𝔲𝔱𝔲𝔰𝔞𝔫𝔫𝔶𝔞 𝔦𝔫𝔨𝔯𝔞𝔠𝔥𝔱 𝔱𝔢𝔯𝔩𝔢𝔟𝔦𝔥 𝔡𝔞𝔥𝔲𝔩𝔲 𝔰𝔢𝔟𝔢𝔩𝔲𝔪 𝔭𝔬𝔩𝔦𝔰𝔦 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔟𝔢𝔯𝔰𝔞𝔫𝔤𝔨𝔲𝔱𝔞𝔫 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔡𝔦𝔟𝔢𝔯𝔥𝔢𝔫𝔱𝔦𝔨𝔞𝔫 𝔱𝔦𝔡𝔞𝔨 𝔡𝔢𝔫𝔤𝔞𝔫 𝔥𝔬𝔯𝔪𝔞𝔱 𝔟𝔢𝔯𝔡𝔞𝔰𝔞𝔯𝔨𝔞𝔫 𝔰𝔦𝔡𝔞𝔫𝔤 𝔎𝔎𝔈𝔓.
𝔓𝔢𝔫𝔧𝔢𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔩𝔢𝔟𝔦𝔥 𝔩𝔞𝔫𝔧𝔲𝔱 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔄𝔫𝔡𝔞 𝔟𝔞𝔠𝔞 𝔲𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔡𝔦 𝔟𝔞𝔴𝔞𝔥 𝔦𝔫𝔦.
ULASAN SELENGKAPNYA;
Terimakasih atas pertanyaan Anda.
Peradilan Umum Bagi Anggota Polri
Sebelum membahas dasar hukum pemberhentian tidak dengan hormat (“PTDH”) dan mana yang didahulukan antara sidang etik dan sidang pidana, perlu diketahui bahwa terhadap a͟n͟g͟g͟o͟t͟a͟ K͟e͟p͟o͟l͟i͟s͟i͟a͟n͟ N͟e͟g͟a͟r͟a͟ R͟e͟p͟u͟b͟l͟i͟k͟ I͟n͟d͟o͟n͟e͟s͟i͟a͟ (“P͟͟o͟͟l͟͟r͟͟i͟͟”) y͟a͟n͟g͟ m͟e͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ tersebut, maka p͟r͟o͟s͟e͟s͟ p͟e͟r͟a͟d͟i͟l͟a͟n͟n͟y͟a͟ t͟u͟n͟d͟u͟k͟ p͟a͟d͟a͟ k͟e͟k͟u͟a͟s͟a͟a͟n͟ p͟e͟r͟a͟d͟i͟l͟a͟n͟ u͟m͟u͟m͟ s͟e͟p͟e͟r͟t͟i͟ w͟a͟r͟g͟a͟ s͟i͟p͟i͟l͟ p͟a͟d͟a͟ u͟͟m͟͟u͟͟m͟͟n͟͟y͟͟a͟͟. Hal ini sebagaimana diatur pada Pasal 29 ayat (1) UU Polri, yang berbunyi:
Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia t͟u͟n͟d͟u͟k͟ p͟a͟d͟a͟ k͟e͟k͟u͟a͟s͟a͟a͟n͟ p͟e͟r͟a͟d͟i͟l͟a͟n͟ u͟͟m͟͟u͟͟m͟͟.
Ketentuan di atas dipertegas dengan adanya PP 3/2003, khususnya Pasal 2 yang mengatur bahwa:
Proses peradilan pidana bagi anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia s͟e͟c͟a͟r͟a͟ u͟m͟u͟m͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ m͟e͟n͟u͟r͟u͟t͟ h͟u͟k͟u͟m͟ a͟c͟a͟r͟a͟ y͟a͟n͟g͟ b͟e͟r͟l͟a͟k͟u͟ d͟i͟ l͟i͟n͟g͟k͟u͟n͟g͟a͟n͟ p͟e͟r͟a͟d͟i͟l͟a͟n͟ u͟͟m͟͟u͟͟m͟͟.
Akan tetapi, p͟e͟m͟e͟r͟i͟k͟s͟a͟a͟n͟ t͟e͟r͟h͟a͟d͟a͟p͟ a͟n͟g͟g͟o͟t͟a͟ P͟o͟l͟r͟i͟ d͟a͟l͟a͟m͟ r͟a͟n͟g͟k͟a͟ p͟e͟n͟y͟i͟d͟i͟k͟a͟n͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ m͟e͟m͟p͟e͟r͟h͟a͟t͟i͟k͟a͟n͟ k͟e͟p͟a͟n͟g͟k͟a͟t͟a͟n͟ sebagai berikut:[¹]
a. Tamtama diperiksa
oleh anggota Polri
berpangkat
serendah-rendahnya
Bintara;
b. Bintara diperiksa
oleh anggota Polri
berpangkat
serendah-rendahnya
Bintara;
c. Perwira Pertama
diperiksa oleh
anggota Polri
berpangkat
serendah-rendahnya
Bintara;
d. Perwira Menengah
diperiksa oleh
anggota Polri
berpangkat
serendah-rendahnya
Perwira Pertama;
e. Perwira Tinggi
diperiksa oleh
anggota Polri
berpangkat
serendah-rendahnya
Perwira Menengah.
Terhadap a͟n͟g͟g͟o͟t͟a͟ P͟o͟l͟r͟i͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟j͟a͟d͟i͟k͟a͟n͟ t͟͟e͟͟r͟͟s͟͟a͟͟n͟͟g͟͟k͟͟a͟͟/t͟e͟r͟d͟a͟k͟w͟a͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟b͟e͟r͟h͟e͟n͟t͟i͟k͟a͟n͟ s͟e͟m͟e͟n͟t͟a͟r͟a͟ d͟a͟r͟i͟ j͟a͟b͟a͟t͟a͟n͟ d͟i͟n͟a͟s͟ P͟͟o͟͟l͟͟r͟͟i͟͟, sejak dilakukan proses penyidikan sampai adanya putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap.[²] P͟e͟m͟b͟e͟r͟h͟e͟n͟t͟i͟a͟n͟ s͟e͟m͟e͟n͟t͟a͟r͟a͟ d͟a͟r͟i͟ j͟a͟b͟a͟t͟a͟n͟ d͟i͟n͟a͟s͟ K͟e͟p͟o͟l͟i͟s͟i͟a͟n͟ R͟e͟p͟u͟b͟l͟i͟k͟ I͟n͟d͟o͟n͟e͟s͟i͟a͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ u͟n͟t͟u͟k͟ k͟e͟p͟e͟n͟t͟i͟n͟g͟a͟n͟ p͟e͟n͟y͟i͟d͟i͟k͟a͟n͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ s͟e͟c͟a͟r͟a͟ l͟͟a͟͟n͟͟g͟͟s͟͟u͟͟n͟͟g͟͟.[³]
Sidang KKEP
Jika anggota kepolisian melakukan tindak pidana dan/atau dijadikan tersangka/terdakwa, anggota kepolisian juga tunduk pada peraturan disiplin yang diatur dalam PP 2/2003 dan Kode Etik Profesi Polri (“KEPP”) dan Komisi Kode Etik Polri (“KKEP”) yang diatur dalam Perpol 7/2022.
Menurut Pasal 1 angka 4 PP 2/2003, p͟e͟l͟a͟n͟g͟g͟a͟r͟a͟n͟ p͟e͟r͟a͟t͟u͟r͟a͟n͟ d͟i͟s͟i͟p͟l͟i͟n͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ u͟͟c͟͟a͟͟p͟͟a͟͟n͟͟, t͟͟u͟͟l͟͟i͟͟s͟͟a͟͟n͟͟, a͟t͟a͟u͟ p͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ a͟n͟g͟g͟o͟t͟a͟ P͟o͟l͟r͟i͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟l͟a͟n͟g͟g͟a͟r͟ p͟e͟r͟a͟t͟u͟r͟a͟n͟ d͟͟i͟͟s͟͟i͟͟p͟͟l͟͟i͟͟n͟͟. Sedangkan p͟e͟r͟a͟t͟u͟r͟a͟n͟ d͟i͟s͟i͟p͟l͟i͟n͟ P͟o͟l͟r͟i͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ s͟e͟r͟a͟n͟g͟k͟a͟i͟a͟n͟ n͟o͟r͟m͟a͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟͟e͟͟m͟͟b͟͟i͟͟n͟͟a͟͟, m͟e͟n͟e͟g͟a͟k͟k͟a͟n͟ d͟i͟s͟i͟p͟l͟i͟n͟ d͟a͟n͟ m͟e͟m͟e͟l͟i͟h͟a͟r͟a͟ t͟a͟t͟a͟ t͟e͟r͟t͟i͟b͟ k͟e͟h͟i͟d͟u͟p͟a͟n͟ a͟n͟g͟g͟o͟t͟a͟ K͟e͟p͟o͟l͟i͟s͟i͟a͟n͟ N͟e͟g͟a͟r͟a͟ R͟e͟p͟u͟b͟l͟i͟k͟ I͟͟n͟͟d͟͟o͟͟n͟͟e͟͟s͟͟i͟͟a͟͟, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 angka 3 PP 2/2003.
Terhadap anggota Polri yang melakukan pelanggaran peraturan disiplin dijatuhi sanksi berupa tindakan disiplin dan/atau hukuman disiplin.[⁴]
Tindakan disiplin ini b͟e͟r͟u͟p͟a͟ t͟e͟g͟u͟r͟a͟n͟ l͟i͟s͟a͟n͟ d͟͟a͟͟n͟͟/a͟t͟a͟u͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟a͟n͟ f͟͟͟i͟͟͟s͟͟͟i͟͟͟k͟͟͟.[⁵] Sedangkan, hukuman disiplin berupa:[⁶]
a. teguran tertulis;
b. penundaan
mengikuti
pendidikan paling
lama 1 tahun;
c. penundaan kenaikan
gaji berkala;
d. penundaan kenaikan
pangkat untuk paling
lama 1 tahun;
e. mutasi yang bersifat
demosi;
f. pembebasan dari
jabatan;
g. penempatan dalam
tempat khusus
paling lama 21 hari.
Anggota Polri yang t͟e͟l͟a͟h͟ d͟i͟j͟a͟t͟u͟h͟i͟ l͟e͟b͟i͟h͟ d͟a͟r͟i͟ 3 k͟a͟l͟i͟ h͟u͟k͟u͟m͟a͟n͟ d͟i͟s͟i͟p͟l͟i͟n͟ d͟a͟n͟ d͟i͟a͟n͟g͟g͟a͟p͟ t͟i͟d͟a͟k͟ p͟a͟t͟u͟t͟ d͟i͟p͟e͟r͟t͟a͟h͟a͟n͟k͟a͟n͟ s͟t͟a͟t͟u͟s͟ a͟n͟g͟g͟o͟t͟a͟ P͟o͟l͟r͟i͟n͟y͟a͟ dapat diberikan sanksi pemberhentian baik dengan hormat atau tidak dengan hormat, melalui sidang Komisi Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia.[⁷]
Selanjutnya mengenai Kode Etik Profesi Polri, Pasal 1 angka 1 Perpol 7/2022 menerangkan bahwa yang dimaksud dengan KEPP adalah n͟o͟r͟m͟a͟ a͟t͟a͟u͟ a͟t͟u͟r͟a͟n͟ m͟o͟r͟a͟l͟ b͟a͟i͟k͟ t͟e͟r͟t͟u͟l͟i͟s͟ m͟a͟u͟p͟u͟n͟ t͟i͟d͟a͟k͟ t͟e͟r͟t͟u͟l͟i͟s͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟j͟a͟d͟i͟ p͟e͟d͟o͟m͟a͟n͟ s͟͟͟i͟͟͟k͟͟͟a͟͟͟p͟͟͟, p͟e͟r͟i͟l͟a͟k͟u͟ d͟a͟n͟ p͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ p͟e͟j͟a͟b͟a͟t͟ P͟o͟l͟r͟i͟ d͟a͟l͟a͟m͟ m͟e͟l͟a͟k͟s͟a͟n͟a͟k͟a͟n͟ t͟͟u͟͟g͟͟a͟͟s͟͟, w͟͟e͟͟w͟͟e͟͟n͟͟a͟͟n͟͟g͟͟, t͟a͟n͟g͟g͟u͟n͟g͟ j͟a͟w͟a͟b͟ s͟e͟r͟t͟a͟ k͟e͟h͟i͟d͟u͟p͟a͟n͟ s͟͟e͟͟h͟͟a͟͟r͟͟i͟͟-h͟͟a͟͟r͟͟i͟͟.
P͟e͟j͟a͟b͟a͟t͟ P͟o͟l͟r͟i͟ pada dasarnya wajib memedomani KEPP dengan menaati setiap kewajiban dan larangan d͟a͟l͟a͟m͟:[8]
w͟a͟j͟i͟b͟ m͟e͟m͟e͟d͟o͟m͟a͟n͟i͟ K͟E͟P͟P͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ m͟e͟n͟a͟a͟t͟i͟ s͟e͟t͟i͟a͟p͟ k͟e͟w͟a͟j͟i͟b͟a͟n͟ d͟a͟n͟ l͟a͟r͟a͟n͟g͟a͟n͟ dalam:[⁸]
e. etika kenegaraan;
b. etika kelembagaan;
c. etika
kemasyarakatan;
dan
d. etika kepribadian.
Adapun pelanggaran KEPP dibagi menjadi 3 kategori:[⁹]
- Ringan, dengan kriteria;[¹⁰]
a. dilakukan karena
kelalaian;
b. dilakukan tidak
untuk kepentingan
pribadi; dan/atau
c. tidak berdampak
terhadap keluarga,
masyarakat, institusi
dan/atau negara. - Sedang, dengan kriteria;[¹¹]
a. dilakukan dengan
sengaja; atau
b. terdapat
kepentingan pribadi
dan/atau pihak lain. - Berat, dengan kriteria;[¹²]
a. dilakukan dengan
sengaja dan terdapat
kepentingan pribadi
dan/atau pihak lain;
b. adanya
pemufakatan jahat;
c. berdampak terhadap
keluarga,
masyarakat, institusi
dan/atau negara
yang menimbulkan
akibat hukum;
d. menjadi perhatian
publik; dan/atau
e. melakukan tindak
pidana dan telah
mendapatkan
putusan yang
berkekuatan
hukum tetap.
Adapun sanksinya berbeda untuk masing-masing kategori pelanggaran KEPP. Untuk pelanggaran dengan kategori ringan, diberikan sanksi etika berupa:[¹³]
a. perilaku pelanggar
dinyatakan sebagai
perbuatan tercela;
b. kewajiban pelanggar
untuk meminta maaf
secara lisan
dihadapan sidang
KKEP dan secara
tertulis kepada
pimpinan Polri dan
pihak yang dirugikan;
dan
c. kewajiban pelanggar
untuk mengikuti
pembinaan rohani,
mental dan
pengetahuan profesi
selama 1 bulan.
Sedangkan untuk pelanggaran dengan kategori sedang dan berat, diberikan sanksi administratif yang meliputi:[¹⁴]
a. mutasi bersifat
demosi paling
singkat 1 tahun;
b. penundaan kenaikan
pangkat paling
singkat 1 tahun dan
paling lama 3 tahun;
c. penundaan
pendidikan paling
singkat 1 tahun dan
paling lama 3 tahun;
d. penempatan pada
tempat khusus
paling lama 30 hari
kerja; dan
e. pemberhentian
tidak dengan
hormat.
Menyambung pada kasus Anda, polisi diberhentikan tidak dengan hormat. Sebagaimana kami jelaskan, polisi yang bersangkutan dapat diberhentikan tidak dengan hormat karena alasan t͟e͟l͟a͟h͟ d͟i͟j͟a͟t͟u͟h͟i͟ l͟e͟b͟i͟h͟ d͟a͟r͟i͟ 3 k͟a͟l͟i͟ h͟u͟k͟u͟m͟a͟n͟ d͟i͟s͟i͟p͟l͟i͟n͟ d͟a͟n͟ d͟i͟a͟n͟g͟g͟a͟p͟ t͟i͟d͟a͟k͟ p͟a͟t͟u͟t͟ d͟i͟p͟e͟r͟t͟a͟h͟a͟n͟k͟a͟n͟ s͟t͟a͟t͟u͟s͟ a͟n͟g͟g͟o͟t͟a͟ P͟͟͟͟͟͟o͟͟͟͟͟͟l͟͟͟͟͟͟r͟͟͟͟͟͟i͟͟͟͟͟͟n͟͟͟͟͟͟y͟͟͟͟͟͟a͟͟͟͟͟͟, serta m͟e͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟l͟a͟n͟g͟g͟a͟r͟a͟n͟ K͟E͟P͟P͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ k͟a͟t͟e͟g͟o͟r͟i͟ b͟e͟r͟a͟t͟.
Selain alasan-alasan di atas, pemberhentian tidak dengan hormat dapat juga berdasar pada Pasal 11 PP 1/2003, yang menyatakan bahwa anggota Polri yang diberhentikan tidak dengan hormat apabila:
a. melakukan tindak
pidana;
b. melakukan
pelanggaran;
c. meninggalkan tugas
atau hal lain.
Penjatuhan sanksi pemberhentian tidak dengan hormat ini dapat dilakukan melalui sidang KKEP. Hal ini sebagaimana diatur dalam Pasal 53 Perpol 7/2022, yang berbunyi:
- Sidang KKEP dilaksanakan setelah selesai Pemeriksaan Pendahuluan.
- Sidang KKEP sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilaksanakan untuk memeriksa dan m͟e͟m͟u͟t͟u͟s͟ p͟e͟r͟k͟a͟r͟a͟ P͟͟͟͟͟͟e͟͟͟͟͟͟l͟͟͟͟͟͟a͟͟͟͟͟͟n͟͟͟͟͟͟g͟͟͟͟͟͟g͟͟͟͟͟͟a͟͟͟͟͟͟r͟͟͟͟͟͟a͟͟͟͟͟͟n͟͟͟͟͟͟:
a. K͟͟͟͟͟E͟͟͟͟͟P͟͟͟͟͟P͟͟͟͟͟ sebagaimana
dimaksud dalam
peraturan kepolisian
ini;
b. Pasal 12, Pasal 13,
dan Pasal 14
Peraturan
Pemerintah Nomor 1
Tahun 2003 tentang
P͟e͟m͟b͟e͟r͟h͟e͟n͟t͟i͟a͟n͟
A͟n͟g͟g͟o͟t͟a͟ P͟͟o͟͟l͟͟r͟͟i͟͟; dan
c. Pasal 13 Peraturan
Pemerintah Nomor 2
Tahun 2003 tentang
Peraturan Disiplin
Anggota Polri.
Polisi Melakukan Tindak Pidana, Sidang Etik atau Peradilan Umum Dulu?
Lalu, Anda juga bertanya mengenai mana yang didahulukan, apakah sidang KKEP atau peradilan umum jika polisi melakukan tindak pidana. Mengenai hal tersebut, sepanjang penelusuran kami, t͟i͟d͟a͟k͟ t͟e͟r͟d͟a͟p͟a͟t͟ k͟e͟t͟e͟n͟t͟u͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟g͟a͟t͟u͟r͟ m͟e͟n͟g͟e͟n͟a͟i͟ p͟r͟o͟s͟e͟s͟ m͟a͟n͟a͟ y͟a͟n͟g͟ h͟a͟r͟u͟s͟ d͟͟i͟͟d͟͟a͟͟h͟͟u͟͟l͟͟u͟͟k͟͟a͟͟n͟͟. Maka menurut hemat kami, s͟i͟d͟a͟n͟g͟ K͟K͟E͟P͟ d͟a͟n͟ p͟e͟r͟a͟d͟i͟l͟a͟n͟ u͟m͟u͟m͟ d͟a͟p͟a͟t͟ s͟a͟j͟a͟ b͟e͟r͟j͟a͟l͟a͟n͟ s͟e͟c͟a͟r͟a͟ p͟͟a͟͟r͟͟a͟͟l͟͟e͟͟l͟͟.
Namun, jika diasumsikan bahwa sidang KKEP dilakukan karena polisi melakukan tindak pidana (misalnya kategori berat), maka merujuk pada Pasal 12 ayat (1) huruf a PP 1/2003 dan Pasal 17 ayat (3) huruf e Perpol 7/2022, t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ t͟e͟r͟s͟e͟b͟u͟t͟ h͟a͟r͟u͟s͟ t͟e͟l͟a͟h͟ m͟e͟n͟d͟a͟p͟a͟t͟k͟a͟n͟ p͟u͟t͟u͟s͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ b͟e͟r͟k͟e͟k͟u͟a͟t͟a͟n͟ h͟u͟k͟u͟m͟ t͟͟e͟͟t͟͟a͟͟p͟͟. H͟a͟l͟ i͟n͟i͟ b͟e͟r͟a͟r͟t͟i͟ h͟a͟r͟u͟s͟ t͟e͟r͟d͟a͟p͟a͟t͟ s͟i͟d͟a͟n͟g͟ p͟e͟r͟a͟d͟i͟l͟a͟n͟ u͟m͟u͟m͟ y͟a͟n͟g͟ p͟u͟t͟u͟s͟a͟n͟n͟y͟a͟ i͟n͟k͟r͟a͟c͟h͟t͟ t͟e͟r͟l͟e͟b͟i͟h͟ d͟a͟h͟u͟l͟u͟ s͟e͟b͟e͟l͟u͟m͟ p͟o͟l͟i͟s͟i͟ y͟a͟n͟g͟ b͟e͟r͟s͟a͟n͟g͟k͟u͟t͟a͟n͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟b͟e͟r͟h͟e͟n͟t͟i͟k͟a͟n͟ t͟i͟d͟a͟k͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ h͟o͟r͟m͟a͟t͟ (“P͟͟T͟͟D͟͟H͟͟”) b͟e͟r͟d͟a͟s͟a͟r͟k͟a͟n͟ s͟i͟d͟a͟n͟g͟ K͟͟K͟͟E͟͟P͟͟.
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat dan dapat dijadikan pembelajaran untuk kita semua terlebih untuk penanya dan Paralegal ubklawyers pada khususnya.
D͟a͟s͟a͟r͟ H͟u͟k͟u͟m͟:
- Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia;
- Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja;
- Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja Menjadi Undang-Undang;
- Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2003 tentang Pemberhentian Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia;
- Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2003 tentang Peraturan Disiplin Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia;
- Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2003 tentang Pelaksanaan Teknis Institusional Peradilan Umum Bagi Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia;
- Peraturan Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2022 tentang Kode Etik Profesi dan komisi Kode Etik Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Artikel di bawah ini adalah pemutakhiran dari artikel dengan judul Polisi Melakukan Tindak Pidana, Sidang Etik atau Peradilan Umum Dulu? Yang dibuat oleh Tri Jata Ayu Pramesti, S.H. dan pertama kali dipublikasikan pada tanggal 22 April 2015. Dipublikasikan kedua oleh “..Hukumonline.com..” pada tanggal 08 September 2025. Dan diteruskan oleh ubklawyers pada tanggal 11 September 2025.
Seluruh Informasi Hukum yang ada di LBH-UMAR BIN KHATTAB disiapkan semata-mata untuk t͟͟͟u͟͟͟j͟͟͟u͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟ p͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, p͟e͟m͟b͟e͟l͟a͟j͟a͟r͟a͟n͟ dan b͟e͟r͟s͟i͟f͟a͟t͟ u͟m͟u͟m͟. Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan Pengacara, Konsultan Hukum dan/atau Paralegal UBK LAWYERS.
Sedang menghadapi permasalahan hukum? A͟j͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟t͟a͟n͟y͟a͟a͟n͟ melalui email, telepon atau chat.👇🏼
Email:
ubklawyer@gmail.com
Telepon/Chat:
089666552118
Berkenan G͟a͟b͟u͟n͟g͟ G͟r͟o͟u͟p͟, untuk jadi bagian Keluarga Besar UBK LAWYERS. Klik link dibawah.👇🏼
I͟K͟U͟T͟I͟ W͟h͟a͟t͟s͟A͟p͟p͟ C͟h͟a͟n͟n͟e͟l͟ LBH-UMAR BIN KHATTAB. Untuk memperkaya Riset Hukum Anda, klik link dibawah.👇🏼
🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸
#cerdashukum
#studylawtogether
#ubklawyers

