INDRAMAYU, (lintaspanturaindonesia.com) — PERTANYAAN:
Anak saya 13 tahun sedang main sama teman-temannya di komplek perumahan yang sepi. Tapi rupanya mereka diawasi via CCTV oleh tetangga. Lalu, tetangga tersebut menuduh anak saya mencuri buah mangga di rumahnya. Dan berdalih bahwa tetangga itu punya rekamannya. Parahnya, tetangga itu main hakim sendiri dan mencoba untuk memprovokasi warga lain untuk menghajar anak saya layaknya pelaku kriminal berat. Kemudian saya sebagai orang tua mendatangi tetangga itu untuk menanyakan kalau anak saya mencuri buktinya mana? Ia hanya menunjukan foto anak saya sedang berdiri depan rumahnya. Jelas saya tidak terima. Yang saya mau tanya, apakah tindakan main hakim sendiri terhadap anak yang dilakukan oleh tetangga saya dapat dijerat berdasarkan undang-undang kekerasan terhadap anak?
Atas penjelasannya diucapkan terimakasih, untuk ubklawyers beserta Paralegalnya semoga dimudahkan segala urusannya. Aamiin..
Abd. Jabaruddin – Tinumpuk
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
“INTISARI JAWABAN”
【ℌ𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔓𝔦𝔡𝔞𝔫𝔞】
𝔓𝔢𝔯𝔟𝔲𝔞𝔱𝔞𝔫 𝔪𝔞𝔦𝔫 𝔥𝔞𝔨𝔦𝔪 𝔰𝔢𝔫𝔡𝔦𝔯𝔦 𝔞𝔡𝔞𝔩𝔞𝔥 𝔠𝔞𝔯𝔞 𝔪𝔢𝔫𝔤𝔞𝔪𝔟𝔦𝔩 𝔥𝔞𝔨 𝔱𝔞𝔫𝔭𝔞 𝔪𝔢𝔫𝔤𝔦𝔫𝔡𝔞𝔥𝔨𝔞𝔫 𝔥𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔟𝔢𝔯𝔩𝔞𝔨𝔲, 𝔱𝔞𝔫𝔭𝔞 𝔰𝔢𝔭𝔢𝔫𝔤𝔢𝔱𝔞𝔥𝔲𝔞𝔫 𝔭𝔦𝔥𝔞𝔨 𝔭𝔢𝔪𝔢𝔯𝔦𝔫𝔱𝔞𝔥 𝔡𝔞𝔫 𝔱𝔞𝔫𝔭𝔞 𝔭𝔢𝔫𝔤𝔤𝔲𝔫𝔞𝔞𝔫 𝔞𝔩𝔞𝔱 𝔞𝔱𝔞𝔰 𝔨𝔢𝔨𝔲𝔞𝔰𝔞𝔞𝔫 𝔪𝔦𝔩𝔦𝔨 𝔭𝔢𝔪𝔢𝔯𝔦𝔫𝔱𝔞𝔥.
𝔓𝔢𝔯𝔩𝔲 𝔡𝔦𝔨𝔢𝔱𝔞𝔥𝔲𝔦 𝔟𝔞𝔥𝔴𝔞 𝔱𝔦𝔫𝔡𝔞𝔨𝔞𝔫 𝔪𝔞𝔦𝔫 𝔰𝔢𝔫𝔡𝔦𝔯𝔦 𝔱𝔦𝔡𝔞𝔨 𝔡𝔦𝔞𝔱𝔲𝔯 𝔰𝔢𝔠𝔞𝔯𝔞 𝔨𝔥𝔲𝔰𝔲𝔰 𝔡𝔞𝔩𝔞𝔪 𝔭𝔢𝔯𝔞𝔱𝔲𝔯𝔞𝔫 𝔭𝔢𝔯𝔲𝔫𝔡𝔞𝔫𝔤-𝔲𝔫𝔡𝔞𝔫𝔤𝔞𝔫. 𝔑𝔞𝔪𝔲𝔫, 𝔱𝔢𝔯𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔟𝔢𝔟𝔢𝔯𝔞𝔭𝔞 𝔭𝔞𝔰𝔞𝔩 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔪𝔢𝔫𝔧𝔢𝔯𝔞𝔱 𝔭𝔢𝔩𝔞𝔨𝔲 𝔟𝔢𝔯𝔡𝔞𝔰𝔞𝔯𝔨𝔞𝔫 𝔧𝔢𝔫𝔦𝔰 𝔭𝔢𝔯𝔟𝔲𝔞𝔱𝔞𝔫 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔡𝔦𝔩𝔞𝔨𝔲𝔨𝔞𝔫.
𝔏𝔞𝔫𝔱𝔞𝔰, 𝔧𝔦𝔨𝔞 𝔨𝔬𝔯𝔟𝔞𝔫 𝔱𝔦𝔫𝔡𝔞𝔨𝔞𝔫 𝔪𝔞𝔦𝔫 𝔥𝔞𝔨𝔦𝔪 𝔰𝔢𝔫𝔡𝔦𝔯𝔦 𝔞𝔡𝔞𝔩𝔞𝔥 𝔞𝔫𝔞𝔨 𝔡𝔦 𝔟𝔞𝔴𝔞𝔥 𝔲𝔪𝔲𝔯, 𝔭𝔞𝔰𝔞𝔩 𝔞𝔭𝔞 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔪𝔢𝔫𝔧𝔢𝔯𝔞𝔱 𝔭𝔢𝔩𝔞𝔨𝔲?
𝔓𝔢𝔫𝔧𝔢𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔩𝔢𝔟𝔦𝔥 𝔩𝔞𝔫𝔧𝔲𝔱 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔄𝔫𝔡𝔞 𝔟𝔞𝔠𝔞 𝔲𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔡𝔦 𝔟𝔞𝔴𝔞𝔥 𝔦𝔫𝔦.
ULASAN SELENGKAPNYA;
Terimakasih atas pertanyaan Anda.
Artikel ini dibuat berdasarkan KUHP lama dan UU 1/2023 tentang KUHP yang diundangkan pada tanggal 2 Januari 2023.
Jerat Hukum Main Hakim Sendiri Terhadap Anak di Bawah Umur
Eigenrichting yang diterjemahkan dari bahasa Belanda menjadi perbuatan main hakim sendiri adalah s͟e͟b͟u͟a͟h͟ c͟a͟r͟a͟ m͟a͟i͟n͟ h͟a͟k͟i͟m͟ s͟e͟n͟d͟i͟r͟i͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ c͟a͟r͟a͟ m͟e͟n͟g͟a͟m͟b͟i͟l͟ h͟a͟k͟ t͟a͟n͟p͟a͟ m͟e͟n͟g͟i͟n͟d͟a͟h͟k͟a͟n͟ h͟u͟k͟u͟m͟ y͟a͟n͟g͟ b͟͟e͟͟r͟͟l͟͟a͟͟k͟͟u͟͟, t͟a͟n͟p͟a͟ s͟e͟p͟e͟n͟g͟e͟t͟a͟h͟u͟a͟n͟ p͟i͟h͟a͟k͟ p͟e͟m͟e͟r͟i͟n͟t͟a͟h͟ d͟a͟n͟ t͟a͟n͟p͟a͟ p͟͟͟e͟͟͟n͟͟͟g͟͟͟g͟͟͟u͟͟͟n͟͟͟a͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟ a͟l͟a͟t͟ a͟t͟a͟s͟ k͟e͟k͟u͟a͟s͟a͟a͟n͟ m͟i͟l͟i͟k͟ p͟͟e͟͟m͟͟e͟͟r͟͟i͟͟n͟͟t͟͟a͟͟h͟͟.[¹]
T͟i͟n͟d͟a͟k͟a͟n͟ m͟a͟i͟n͟ h͟a͟k͟i͟m͟ s͟e͟n͟d͟i͟r͟i͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟͟i͟͟a͟͟r͟͟t͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟ j͟u͟g͟a͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ s͟e͟s͟e͟o͟r͟a͟n͟g͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟n͟e͟g͟a͟k͟a͟n͟ h͟͟u͟͟k͟͟u͟͟m͟͟, h͟͟u͟͟k͟͟u͟͟m͟͟a͟͟n͟͟, a͟t͟a͟u͟ k͟e͟a͟d͟i͟l͟a͟n͟ s͟e͟n͟d͟i͟r͟i͟ t͟a͟n͟p͟a͟ m͟e͟l͟i͟b͟a͟t͟k͟a͟n͟ l͟e͟m͟b͟a͟g͟a͟ h͟u͟k͟u͟m͟ y͟a͟n͟g͟ b͟͟e͟͟r͟͟w͟͟e͟͟n͟͟a͟͟n͟͟g͟͟. Perbuatan main hakim sendiri pada dasarnya melanggar prinsip negara hukum yang termaktub dalam Pasal 1 ayat (3) UUD 1945, yang menyatakan bahwa negara Indonesia adalah negara hukum. Hal ini menekankan pentingnya menjalani proses hukum yang adil dan menyediakan perlindungan hukum bagi semua individu.[²]
Perlu diketahui, bahwa tindakan main sendiri t͟i͟d͟a͟k͟ d͟͟i͟͟a͟͟t͟͟u͟͟r͟͟ s͟e͟c͟a͟r͟a͟ k͟h͟u͟s͟u͟s͟ d͟a͟l͟a͟m͟ p͟e͟r͟a͟t͟u͟r͟a͟n͟ p͟͟e͟͟r͟͟u͟͟n͟͟d͟͟a͟͟n͟͟g͟͟-u͟͟n͟͟d͟͟a͟͟n͟͟g͟͟a͟͟n͟͟. Akan tetapi, jika terjadi tindakan main hakim sendiri, terdapat beberapa pasal yang dapat menjerat pelaku.
Jika merujuk kembali pada kasus yang Anda terangkan, maka tindakan yang dilakukan oleh tetangga Anda berpotensi dijerat pasal dalam UU Perlindungan Anak yang diubah dengan UU 35/2014. H͟a͟l͟ i͟n͟i͟ d͟i͟s͟e͟b͟a͟b͟k͟a͟n͟ k͟a͟r͟e͟n͟a͟ k͟o͟r͟b͟a͟n͟ m͟e͟r͟u͟p͟a͟k͟a͟n͟ s͟e͟o͟r͟a͟n͟g͟ a͟͟͟͟͟n͟͟͟͟͟a͟͟͟͟͟k͟͟͟͟͟, y͟a͟i͟t͟u͟ s͟e͟s͟e͟o͟r͟a͟n͟g͟ y͟a͟n͟g͟ b͟e͟l͟u͟m͟ b͟e͟r͟u͟s͟i͟a͟ 18 t͟͟a͟͟h͟͟u͟͟n͟͟.[³]
Selanjutnya, menjawab pertanyaan Anda, pelaku yang melakukan perbuatan main hakim sendiri pada anak dapat dijerat berdasarkan pasal kekerasan anak dalam Pasal 76C UU 35/2014, yang berbunyi:
- Setiap Orang dilarang menempatkan membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan Kekerasan terhadap Anak.
Adapun yang dimaksud dengan kekerasan adalah s͟e͟t͟i͟a͟p͟ p͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ t͟e͟r͟h͟a͟d͟a͟p͟ a͟n͟a͟k͟ y͟a͟n͟g͟ b͟e͟r͟a͟k͟i͟b͟a͟t͟ t͟i͟m͟b͟u͟l͟n͟y͟a͟ k͟e͟s͟e͟n͟g͟s͟a͟r͟a͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ p͟e͟n͟d͟e͟r͟i͟t͟a͟a͟n͟ s͟e͟c͟a͟r͟a͟ f͟͟i͟͟s͟͟i͟͟k͟͟, p͟͟s͟͟i͟͟k͟͟i͟͟s͟͟, s͟͟e͟͟k͟͟s͟͟u͟͟a͟͟l͟͟, d͟͟a͟͟n͟͟/a͟t͟a͟u͟ p͟͟e͟͟n͟͟e͟͟l͟͟a͟͟n͟͟t͟͟a͟͟r͟͟a͟͟n͟͟, t͟e͟r͟m͟a͟s͟u͟k͟ a͟n͟c͟a͟m͟a͟n͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ p͟͟e͟͟r͟͟b͟͟u͟͟a͟͟t͟͟a͟͟n͟͟, p͟͟e͟͟m͟͟a͟͟k͟͟s͟͟a͟͟a͟͟n͟͟, a͟t͟a͟u͟ p͟͟͟e͟͟͟r͟͟͟a͟͟͟m͟͟͟p͟͟͟a͟͟͟s͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟ k͟e͟m͟e͟r͟d͟e͟k͟a͟a͟n͟ s͟e͟c͟a͟r͟a͟ m͟e͟l͟a͟w͟a͟n͟ h͟͟u͟͟k͟͟u͟͟m͟͟.[⁴]
Bagi setiap orang yang melanggar pasal tersebut, dapat dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 tahun 6 bulan dan/atau denda paling banyak kategori IV yaitu, Rp200 juta.[⁵]
Jika tindakan kekerasan mengakibatkan luka berat, maka pelaku dapat dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan/atau denda paling banyak kategori IV yaitu, Rp200 juta.[⁶]
Lalu, jika kekerasan yang dilakukan mengakibatkan anak mati, maka pelaku dapat dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 tahun dan/atau denda paling banyak kategori VII yaitu, Rp5 miliar.[⁷]
Menjawab pertanyaan Anda, pada dasarnya pasal mengenai kekerasan anak dapat menjerat pelaku tindakan main hakim sendiri terhadap anak sebagaimana yang terjadi pada kasus Anda. Akan tetapi, sayangnya Anda tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai apa akibat dari tindakan tersebut terhadap anak Anda. Jika diasumsikan kekerasan yang terjadi tidak menimbulkan luka berat, maka pelaku dapat dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 tahun 6 bulan dan/atau denda paling banyak Rp200 juta, seperti yang sudah dijelaskan di atas.
Menghasut Orang Lain untuk Melakukan Tindak Pidana
Selain dapat dijerat berdasarkan pasal kekerasan anak, t͟i͟n͟d͟a͟k͟a͟n͟ t͟e͟t͟a͟n͟g͟g͟a͟ A͟n͟d͟a͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟m͟p͟r͟o͟v͟o͟k͟a͟s͟i͟ w͟a͟r͟g͟a͟ l͟a͟i͟n͟ b͟e͟r͟p͟o͟t͟e͟n͟s͟i͟ u͟n͟t͟u͟k͟ d͟i͟j͟e͟r͟a͟t͟ p͟a͟s͟a͟l͟ m͟e͟n͟g͟h͟a͟s͟u͟t͟ o͟r͟a͟n͟g͟ l͟a͟i͟n͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟͟i͟͟d͟͟a͟͟n͟͟a͟͟.
Larangan menghasut orang lain untuk melakukan tindak pidana diatur dalam Pasal 246 UU 1/2023 tentang KUHP baru yang telah berlaku sejak 2 Januari 2026.[⁸] Secara historis, aturan ini pernah diatur di dalam ~Pasal 160 KUHP lama yang saat ini sudah dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.~[⁹] Berikut perbandingan aturannya:
Pasal 246 UU 1/2023
- Dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 tahun atau pidana denda paling banyak kategori V, yaitu sebesar Rp500 juta,[¹¹] s͟e͟t͟i͟a͟p͟ o͟r͟a͟n͟g͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟ m͟u͟k͟a͟ u͟m͟u͟m͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ l͟i͟s͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ t͟u͟l͟i͟s͟a͟n͟:
a. menghasut orang
untuk melakukan
tindak pidana; atau
b. menghasut orang
untuk melawan
penguasa umum
dengan kekerasan.
~Pasal 160 KUHP lama~
- Barang siapa di muka umum dengan lisan atau tulisan menghasut supaya melakukan perbuatan pidana, melakukan kekerasan terhadap penguasa umum atau tidak menuruti baik ketentuan undang-undang maupun perintah jabatan yang diberikan berdasar ketentuan undang-undang, diancam dengan pidana penjara paling lama 6 tahun atau pidana denda paling banyak Rp4,5 juta.[¹⁰]
Berdasarkan Penjelasan Pasal 246 UU 1/2023, yang dimaksud dengan “menghasut” adalah m͟͟e͟͟n͟͟d͟͟o͟͟r͟͟o͟͟n͟͟g͟͟, m͟͟e͟͟n͟͟g͟͟a͟͟j͟͟a͟͟k͟͟, m͟͟e͟͟m͟͟b͟͟a͟͟n͟͟g͟͟k͟͟i͟͟t͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, a͟t͟a͟u͟ m͟e͟m͟b͟a͟k͟a͟r͟ s͟e͟m͟a͟n͟g͟a͟t͟ o͟r͟a͟n͟g͟ s͟u͟p͟a͟y͟a͟ b͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟ s͟͟e͟͟s͟͟u͟͟a͟͟t͟͟u͟͟. Menghasut d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ l͟i͟s͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ t͟͟u͟͟l͟͟i͟͟s͟͟a͟͟n͟͟, d͟a͟n͟ h͟a͟r͟u͟s͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ d͟i͟ m͟u͟k͟a͟ u͟͟m͟͟u͟͟m͟͟, a͟r͟t͟i͟n͟y͟a͟ d͟i͟ t͟e͟m͟p͟a͟t͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟d͟a͟t͟a͟n͟g͟i͟ p͟u͟b͟l͟i͟k͟ a͟t͟a͟u͟ d͟i͟ t͟e͟m͟p͟a͟t͟ y͟a͟n͟g͟ k͟h͟a͟l͟a͟y͟a͟k͟ r͟a͟m͟a͟i͟ d͟a͟p͟a͟t͟ m͟͟e͟͟n͟͟g͟͟e͟͟t͟͟a͟͟h͟͟u͟͟i͟͟.
Dalam kasus Anda, tindakan provokasi yang dilakukan oleh tetangga Anda d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟k͟a͟t͟e͟g͟o͟r͟i͟k͟a͟n͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟a͟n͟ m͟e͟n͟g͟h͟a͟s͟u͟t͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟t͟u͟n͟j͟u͟k͟k͟a͟n͟ u͟n͟t͟u͟k͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟i͟s͟t͟i͟w͟a͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ y͟a͟i͟t͟u͟ k͟e͟k͟e͟r͟a͟s͟a͟n͟ t͟e͟r͟h͟a͟d͟a͟p͟ a͟͟n͟͟a͟͟k͟͟. Atas tindakan tersebut, tetangga Anda dapat dijerat sanksi pidana penjara paling lama 5 tahun atau pidana denda paling banyak Rp500 juta.
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat dan dapat dijadikan pembelajaran untuk kita semua terlebih untuk penanya dan Paralegal ubklawyers pada khususnya.
D͟a͟s͟a͟r͟ H͟u͟k͟u͟m͟:
- Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
- Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak;
- Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak;
- Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana;
- Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana.
Artikel ini dibuat oleh Muhammad Raihan Nugraha. SH, dipublikasikan “..Hukumonline.com..” dengan judul Jerat Pidana Main Hakim Sendiri Terhadap Anak pada tanggal 07 April 2026. Dan diteruskan oleh ubklawyers pada tanggal 21 April 2026M/04 Zulkaidah 1447H.
Seluruh Informasi Hukum yang ada di LBH-UMAR BIN KHATTAB disiapkan semata-mata untuk t͟͟͟u͟͟͟j͟͟͟u͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟ p͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, p͟e͟m͟b͟e͟l͟a͟j͟a͟r͟a͟n͟ dan b͟e͟r͟s͟i͟f͟a͟t͟ u͟m͟u͟m͟. Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan Pengacara, Konsultan Hukum dan/atau Paralegal UBK LAWYERS.
Sedang menghadapi permasalahan hukum? A͟j͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟t͟a͟n͟y͟a͟a͟n͟ melalui email, telepon atau chat.👇🏼
Email:
ubklawyer@gmail.com
Telepon/Chat:
089666552118
Berkenan G͟a͟b͟u͟n͟g͟ G͟r͟o͟u͟p͟, untuk jadi bagian Keluarga Besar UBK LAWYERS. Klik link dibawah.👇🏼
I͟K͟U͟T͟I͟ W͟h͟a͟t͟s͟A͟p͟p͟ C͟h͟a͟n͟n͟e͟l͟ LBH-UMAR BIN KHATTAB. Untuk memperkaya Riset Hukum Anda, klik link dibawah.👇🏼
🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸
#cerdashukum
#studylawtogether
#ubklawyers

