INDRAMAYU, (lintaspanturaindonesia.com) — PERTANYAAN:
Keluarga saya mempunyai kasus sengketa tanah. Awalnya, kasus sengketa tanah ini telah dimenangkan oleh keluarga saya sampai tingkat kasasi MA dan telah dilakukan eksekusi atas tanah tersebut. Setelah 8 tahun, pihak lawan menggugat kembali sengketa tanah tersebut dan gugatan mereka dikabulkan atau menang, tetapi tidak melakukan eksekusi karena dalam putusan pengadilan tidak menyebutkan untuk eksekusi seperti putusan pengadilan kami waktu itu (putusan pengadilan kami waktu itu menyebutkan perintah eksekusi atas tanah itu). Langkah hukum terbaik apa yang bisa kami lakukan untuk mempertahankan tanah keluarga kami?
Atas penjelasannya diucapkan terimakasih, untuk ubklawyers beserta Paralegalnya salam sukses selalu. Aamiin..
Wassalam,
Masaji – Adira Finance
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
“INTISARI JAWABAN”
【ℌ𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔓𝔢𝔯𝔱𝔞𝔫𝔞𝔥𝔞𝔫 & 𝔓𝔯𝔬𝔭𝔢𝔯𝔱𝔶】
𝔓𝔢𝔯𝔪𝔞𝔰𝔞𝔩𝔞𝔥𝔞𝔫 𝔲𝔱𝔞𝔪𝔞 𝔡𝔞𝔩𝔞𝔪 𝔨𝔞𝔰𝔲𝔰 𝔄𝔫𝔡𝔞 𝔞𝔡𝔞𝔩𝔞𝔥 𝔪𝔲𝔫𝔠𝔲𝔩𝔫𝔶𝔞 𝔭𝔲𝔱𝔲𝔰𝔞𝔫 𝔟𝔞𝔯𝔲 𝔞𝔱𝔞𝔰 𝔰𝔢𝔫𝔤𝔨𝔢𝔱𝔞 𝔱𝔞𝔫𝔞𝔥 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔰𝔞𝔪𝔞, 𝔭𝔞𝔡𝔞𝔥𝔞𝔩 𝔰𝔲𝔡𝔞𝔥 𝔞𝔡𝔞 𝔭𝔲𝔱𝔲𝔰𝔞𝔫 𝔰𝔢𝔟𝔢𝔩𝔲𝔪𝔫𝔶𝔞 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔟𝔢𝔯𝔨𝔢𝔨𝔲𝔞𝔱𝔞𝔫 𝔥𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔱𝔢𝔱𝔞𝔭 (𝔦𝔫𝔨𝔯𝔞𝔠𝔥𝔱) 𝔡𝔞𝔫 𝔱𝔢𝔩𝔞𝔥 𝔡𝔦𝔢𝔨𝔰𝔢𝔨𝔲𝔰𝔦.
ℌ𝔞𝔩 𝔦𝔫𝔦 𝔪𝔢𝔫𝔦𝔪𝔟𝔲𝔩𝔨𝔞𝔫 𝔨𝔬𝔫𝔣𝔩𝔦𝔨 𝔥𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔞𝔱𝔞𝔲 𝔨𝔬𝔫𝔱𝔯𝔞𝔡𝔦𝔨𝔰𝔦 𝔭𝔲𝔱𝔲𝔰𝔞𝔫 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔰𝔢𝔥𝔞𝔯𝔲𝔰𝔫𝔶𝔞 𝔱𝔦𝔡𝔞𝔨 𝔱𝔢𝔯𝔧𝔞𝔡𝔦 𝔨𝔞𝔯𝔢𝔫𝔞 𝔪𝔢𝔩𝔞𝔫𝔤𝔤𝔞𝔯 𝔞𝔰𝔞𝔰 𝔫𝔢 𝔟𝔦𝔰 ℑ𝔡𝔢𝔪. 𝔇𝔞𝔩𝔞𝔪 𝔨𝔬𝔫𝔡𝔦𝔰𝔦 𝔱𝔢𝔯𝔰𝔢𝔟𝔲𝔱, 𝔩𝔞𝔫𝔤𝔨𝔞𝔥 𝔥𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔡𝔦𝔱𝔢𝔪𝔭𝔲𝔥 𝔡𝔦𝔟𝔢𝔡𝔞𝔨𝔞𝔫 𝔪𝔢𝔫𝔧𝔞𝔡𝔦 𝔱𝔦𝔤𝔞 𝔲𝔭𝔞𝔶𝔞 𝔰𝔢𝔰𝔲𝔞𝔦 𝔡𝔢𝔫𝔤𝔞𝔫 𝔱𝔦𝔫𝔤𝔨𝔞𝔱𝔞𝔫 𝔡𝔞𝔯𝔦 𝔭𝔲𝔱𝔲𝔰𝔞𝔫 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔨𝔢𝔡𝔲𝔞 𝔱𝔢𝔯𝔰𝔢𝔟𝔲𝔱.
𝔓𝔢𝔫𝔧𝔢𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔩𝔢𝔟𝔦𝔥 𝔩𝔞𝔫𝔧𝔲𝔱 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔄𝔫𝔡𝔞 𝔟𝔞𝔠𝔞 𝔲𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔡𝔦 𝔟𝔞𝔴𝔞𝔥 𝔦𝔫𝔦.
ULASAN SELENGKAPNYA;
Terimakasih atas pertanyaan Anda.
Ne Bis In Idem dalam Perkara Perdata
Singkatnya, permasalahan yang Anda hadapi adalah tanah yang dulu sengketa telah dieksekusi berdasarkan putusan Mahkamah Agung yang sudah berkekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde). Namun, delapan tahun kemudian, pihak lawan mengajukan gugatan baru (dengan objek yang sama) dan terdapat putusan baru yang mengabulkan gugatan tersebut. Namun, dalam putusan baru tersebut tidak ada perintah eksekusi terhadap tanah yang bersangkutan.
K͟o͟n͟d͟i͟s͟i͟ i͟n͟i͟ m͟e͟n͟i͟m͟b͟u͟l͟k͟a͟n͟ k͟o͟n͟f͟l͟i͟k͟ h͟u͟k͟u͟m͟ b͟e͟r͟u͟p͟a͟ k͟o͟n͟t͟r͟a͟d͟i͟k͟s͟i͟ p͟u͟t͟u͟s͟a͟n͟ a͟n͟t͟a͟r͟a͟ p͟u͟t͟u͟s͟a͟n͟ l͟a͟m͟a͟ d͟a͟n͟ p͟u͟t͟u͟s͟a͟n͟ b͟a͟r͟u͟ y͟a͟n͟g͟ s͟e͟h͟a͟r͟u͟s͟n͟y͟a͟ t͟i͟d͟a͟k͟ t͟e͟r͟j͟a͟d͟i͟ d͟a͟l͟a͟m͟ s͟i͟s͟t͟e͟m͟ p͟e͟r͟a͟d͟i͟l͟a͟n͟ karena bertentangan dengan asas ne bis in idem, yaitu a͟s͟a͟s͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟l͟a͟r͟a͟n͟g͟ s͟u͟a͟t͟u͟ p͟e͟r͟k͟a͟r͟a͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ p͟i͟h͟a͟k͟ d͟a͟n͟ o͟b͟j͟e͟k͟ y͟a͟n͟g͟ s͟a͟m͟a͟ u͟n͟t͟u͟k͟ d͟i͟p͟u͟t͟u͟s͟ k͟͟e͟͟m͟͟b͟͟a͟͟l͟͟i͟͟.
Dalam kasus Anda, putusan Mahkamah Agung sebagai putusan pertama atas kasus sengketa tanah s͟e͟j͟a͟t͟i͟n͟y͟a͟ t͟i͟d͟a͟k͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟͟i͟͟b͟͟a͟͟t͟͟a͟͟l͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, kecuali p͟i͟h͟a͟k͟ l͟a͟w͟a͟n͟ m͟e͟n͟e͟m͟p͟u͟h͟ u͟p͟a͟y͟a͟ h͟u͟k͟u͟m͟ l͟u͟a͟r͟ b͟͟i͟͟a͟͟s͟͟a͟͟, b͟e͟r͟u͟p͟a͟ p͟e͟n͟i͟n͟j͟a͟u͟a͟n͟ k͟e͟m͟b͟a͟l͟i͟ (“P͟K͟”). Jika pihak lawan tidak melakukan PK, namun mengajukan gugatan baru atas objek dan subjek gugatan yang sama, m͟a͟k͟a͟ g͟u͟g͟a͟t͟a͟n͟ t͟e͟r͟s͟e͟b͟u͟t͟ c͟a͟c͟a͟t͟ h͟u͟k͟u͟m͟ d͟a͟n͟ p͟e͟n͟g͟a͟d͟i͟l͟a͟n͟ s͟e͟h͟a͟r͟u͟s͟n͟y͟a͟ m͟e͟n͟y͟a͟t͟a͟k͟a͟n͟ g͟u͟g͟a͟t͟a͟n͟ t͟i͟d͟a͟k͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟t͟e͟r͟i͟m͟a͟ (n͟i͟e͟t͟ o͟n͟t͟v͟a͟n͟k͟e͟l͟i͟j͟k͟e͟ v͟͟͟e͟͟͟r͟͟͟k͟͟͟l͟͟͟a͟͟͟a͟͟͟r͟͟͟d͟͟) karena m͟e͟l͟a͟n͟g͟g͟a͟r͟ a͟s͟a͟s͟ n͟e͟ b͟i͟s͟ i͟n͟ i͟͟d͟͟e͟͟m͟͟.
Hal tersebut diatur di dalam Pasal 1917 KUHPerdata yang berbunyi:
- Kekuatan suatu putusan Hakim yang telah memperoleh kekuatan hukum yang pasti hanya mengenai pokok perkara yang bersangkutan.
- Untuk dapat menggunakan kekuatan itu, soal yang dituntut harus sama; tuntutan harus didasarkan pada alasan yang sama; dan harus diajukan oleh pihak yang sama dan terhadap pihak-pihak yang sama dalam hubungan yang sama pula.
Unsur-unsur ne bis in idem dalam pasal tersebut kemudian dirinci dalam Lampiran SEMA 7/2012 tentang hasil rapat kamar perdata (hal. 9) bahwa menyimpangi ketentuan Pasal 1917 KUHPerdata majelis di tingkat kasasi dapat menganggap sebagai ne bis in idem meskipun pihaknya tidak sama persis dengan perkara terdahulu dengan catatan bahwa secara prinsip, pihaknya sama meskipun terdapat penambahan pihak serta status objek perkara telah ditentukan dalam putusan terdahulu.
Benar bahwa pada dasarnya, pengadilan dilarang menolak memeriksa dan mengadili suatu perkara dengan alasan dasar hukumnya tidak ada atau kurang jelas sebagaimana diatur di dalam Pasal 10 ayat (1) UU Kekuasaan Kehakiman. Namun, di sisi lain, majelis hakim juga harus menilai ada atau tidaknya pelanggaran asas ne bis in idem yang juga menjadi ranahnya untuk memeriksa suatu perkara. A͟p͟a͟b͟i͟l͟a͟ h͟a͟s͟i͟l͟ p͟e͟m͟e͟r͟i͟k͟s͟a͟a͟n͟ d͟i͟ p͟e͟r͟s͟i͟d͟a͟n͟g͟a͟n͟ m͟e͟n͟u͟n͟j͟u͟k͟k͟a͟n͟ b͟a͟h͟w͟a͟ s͟u͟a͟t͟u͟ p͟e͟r͟k͟a͟r͟a͟ m͟e͟m͟e͟n͟u͟h͟i͟ u͟n͟s͟u͟r͟-u͟n͟s͟u͟r͟ n͟e͟ b͟i͟s͟ i͟n͟ i͟͟d͟͟e͟͟m͟͟, h͟a͟k͟i͟m͟ b͟e͟r͟w͟e͟n͟a͟n͟g͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟n͟y͟a͟t͟a͟k͟a͟n͟ g͟u͟g͟a͟t͟a͟n͟ t͟i͟d͟a͟k͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟t͟e͟r͟i͟m͟a͟ a͟͟͟t͟͟͟a͟͟͟u͟͟͟ N͟O͟, dengan menilai apakah unsur kesamaan pihak, objek, dan dasar gugatan dengan perkara sebelumnya terpenuhi.
Untuk memperkaya referensi, kami akan menguraikan beberapa putusan atau yurisprudensi Mahkamah Agung berkenaan dengan pelanggaran asas ne bis in idem dalam perkara perdata, sebagai berikut:
1. Putusan MA No. 647 K/Sip/1973
- Mahkamah Agung menegaskan bahwa apabila suatu objek gugatan yang disengketakan telah diputus oleh pengadilan dan putusannya telah memperoleh kekuatan hukum tetap, objek sengketa tersebut telah mendapatkan status hukum yang sah. Sehingga, jika terdapat perkara yang sama dengan objek sengketa yang sudah diputuskan sebelumnya, prinsip ne bis in idem berlaku.
2. Putusan MA No. 1226 K/Pdt/2001
- Dalam perkara ini, objek tanah sudah pernah menjadi objek sengketa dalam perkara sebelumnya yang telah sampai pada tingkat PK. Mahkamah Agung menilai bahwa meskipun kedudukan para pihak (subjek) berbeda, tetapi selama objek sengketa sama dan telah diputus sebelumnya dalam putusan berkekuatan hukum tetap, maka gugatan baru atas objek yang sama harus dinyatakan ne bis in idem.
3. Putusan MA No. 1838 K/Pdt/2004
- Terhadap gugatan yang ne bis in idem, p͟e͟n͟g͟a͟d͟i͟l͟a͟n͟ h͟a͟r͟u͟s͟ m͟e͟n͟y͟a͟t͟a͟k͟a͟n͟ b͟a͟h͟w͟a͟ g͟u͟g͟a͟t͟a͟n͟ t͟e͟r͟s͟e͟b͟u͟t͟ t͟i͟d͟a͟k͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟͟i͟͟t͟͟e͟͟r͟͟i͟͟m͟͟a͟͟, b͟u͟k͟a͟n͟ d͟͟i͟͟t͟͟o͟͟l͟͟a͟͟k͟͟, karena putusan tersebut berkenaan dengan masalah formal gugatan bukan mengenai materi gugatan.
Berdasarkan yurisprudensi Mahkamah Agung di atas dan beberapa putusan pengadilan lainnya yang telah kami teliti, kami menyimpulkan bahwa s͟u͟a͟t͟u͟ p͟e͟r͟k͟a͟r͟a͟ d͟i͟k͟a͟t͟e͟g͟o͟r͟i͟k͟a͟n͟ n͟e͟ b͟i͟s͟ i͟n͟ i͟d͟e͟m͟ k͟e͟t͟i͟k͟a͟ p͟e͟r͟k͟a͟r͟a͟ y͟a͟n͟g͟ t͟e͟n͟g͟a͟h͟ d͟i͟a͟d͟i͟l͟i͟ s͟u͟d͟a͟h͟ d͟i͟p͟u͟t͟u͟s͟ s͟e͟b͟e͟l͟u͟m͟n͟y͟a͟ d͟a͟n͟ t͟͟͟e͟͟͟l͟͟͟a͟͟͟h͟͟͟ b͟e͟r͟k͟e͟k͟u͟a͟t͟a͟n͟ h͟u͟k͟u͟m͟ t͟͟e͟͟t͟͟a͟͟p͟͟, s͟e͟r͟t͟a͟ t͟e͟r͟d͟a͟p͟a͟t͟ p͟e͟r͟s͟a͟m͟a͟a͟n͟ m͟e͟n͟g͟e͟n͟a͟i͟ p͟a͟r͟a͟ p͟͟i͟͟h͟͟a͟͟k͟͟, o͟b͟j͟e͟k͟ s͟͟e͟͟n͟͟g͟͟k͟͟e͟͟t͟͟a͟͟, d͟a͟n͟ a͟l͟a͟s͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ d͟a͟s͟a͟r͟ g͟͟u͟͟g͟͟a͟͟t͟͟a͟͟n͟͟.
Artinya, p͟e͟n͟g͟a͟d͟i͟l͟a͟n͟ t͟i͟d͟a͟k͟ b͟o͟l͟e͟h͟ m͟e͟m͟e͟r͟i͟k͟s͟a͟ p͟o͟k͟o͟k͟ p͟e͟r͟k͟a͟r͟a͟ a͟t͟a͟s͟ s͟u͟a͟t͟u͟ g͟u͟g͟a͟t͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ t͟e͟l͟a͟h͟ d͟i͟p͟e͟r͟i͟k͟s͟a͟ p͟o͟k͟o͟k͟ p͟e͟r͟k͟a͟r͟a͟n͟y͟a͟ d͟a͟n͟ d͟i͟t͟e͟n͟t͟u͟k͟a͟n͟ s͟t͟a͟t͟u͟s͟ a͟t͟a͟s͟ o͟b͟j͟e͟k͟ p͟e͟r͟k͟a͟r͟a͟ t͟e͟r͟s͟e͟b͟u͟t͟ d͟a͟l͟a͟m͟ p͟u͟t͟u͟s͟a͟n͟ t͟͟e͟͟r͟͟d͟͟a͟͟h͟͟u͟͟l͟͟u͟͟. K͟e͟t͟i͟k͟a͟ p͟u͟t͟u͟s͟a͟n͟ i͟t͟u͟ t͟͟e͟͟r͟͟j͟͟a͟͟d͟͟i͟͟, b͟a͟h͟k͟a͟n͟ j͟i͟k͟a͟ k͟e͟d͟u͟a͟ p͟u͟t͟u͟s͟a͟n͟ s͟a͟l͟i͟n͟g͟ b͟͟e͟͟r͟͟t͟͟e͟͟n͟͟t͟͟a͟͟n͟͟g͟͟a͟͟n͟͟, m͟a͟k͟a͟ s͟u͟l͟i͟t͟ m͟e͟n͟c͟a͟p͟a͟i͟ k͟͟e͟͟a͟͟d͟͟i͟͟l͟͟a͟͟n͟͟, k͟e͟p͟a͟s͟t͟i͟a͟n͟ h͟͟u͟͟k͟͟u͟͟m͟͟, d͟a͟n͟ k͟e͟m͟a͟n͟f͟a͟a͟t͟a͟n͟ d͟a͟r͟i͟ p͟u͟t͟u͟s͟a͟n͟ p͟͟e͟͟n͟͟g͟͟a͟͟d͟͟i͟͟l͟͟a͟͟n͟͟.
Upaya Hukum Jika Dua Putusan Pengadilan Saling Bertentangan
Upaya hukum yang dapat Anda lakukan dalam kasus Anda yaitu:
- Jika putusan kedua merupakan putusan pengadilan negeri, Anda dapat mengajukan banding ke pengadilan tinggi.
Seharusnya pengadilan negeri menyatakan bahwa gugatan kedua yang diajukan oleh pihak lawan tidak dapat diterima (NO) karena melanggar asas ne bis in idem. Anda dapat mengajukan banding dalam jangka waktu 14 hari, terhitung mulai hari berikutnya hari pengumuman putusan kepada yang berkepentingan.[¹]
- Jika putusan kedua merupakan putusan pengadilan tinggi, Anda dapat mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung.
Hal ini dapat didasarkan pada tiga alasan untuk mengajukan kasasi yaitu: [²]
1.tidak berwenang atau melampaui batas wewenang;
2.salah menerapkan atau melanggar hukum yang berlaku;
3.lalai memenuhi syarat-syarat yang diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan yang mengancam kelalaian itu dengan batalnya putusan yang bersangkutan.
Dalam perkara perdata, Anda dapat mengajukan kasasi baik secara tertulis atau lisan melalui panitera pengadilan tingkat pertama (pengadilan negeri) yang telah memutus perkaranya, dalam tenggang waktu 14 hari sesudah putusan atau penetapan Pengadilan yang dimaksudkan diberitahukan kepada pemohon.[³]
- Jika putusan kedua merupakan putusan Mahkamah Agung di tingkat kasasi atau putusan yang telah berkekuatan hukum tetap, Anda dapat mengajukan peninjauan kembali ke Mahkamah Agung.
Kemudian, terkait putusan pengadilan kedua yang tidak memuat perintah eksekusi, menunjukkan bahwa putusan tersebut hanya bersifat declaratoir atau constitutief. Putusan declaratoir (bersifat menetapkan) a͟d͟a͟l͟a͟h͟ p͟u͟t͟u͟s͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ h͟a͟n͟y͟a͟ m͟e͟n͟y͟a͟t͟a͟k͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ m͟e͟n͟e͟g͟a͟s͟k͟a͟n͟ s͟u͟a͟t͟u͟ k͟e͟a͟d͟a͟a͟n͟ h͟u͟k͟u͟m͟ t͟a͟n͟p͟a͟ m͟e͟n͟i͟m͟b͟u͟l͟k͟a͟n͟ a͟k͟i͟b͟a͟t͟ h͟u͟k͟u͟m͟ b͟a͟r͟u͟. Sedangkan putusan constitutief (bersifat menciptakan atau menghapuskan) a͟d͟a͟l͟a͟h͟ p͟u͟t͟u͟s͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟i͟m͟b͟u͟l͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟u͟b͟a͟h͟a͟n͟ d͟a͟l͟a͟m͟ k͟e͟a͟d͟a͟a͟n͟ h͟͟u͟͟k͟͟u͟͟m͟͟, m͟i͟s͟a͟l͟n͟y͟a͟ m͟͟e͟͟n͟͟g͟͟h͟͟a͟͟p͟͟u͟͟s͟͟, m͟͟͟e͟͟͟n͟͟͟i͟͟͟a͟͟͟d͟͟͟a͟͟͟k͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟, a͟t͟a͟u͟ m͟e͟n͟c͟i͟p͟t͟a͟k͟a͟n͟ s͟u͟a͟t͟u͟ h͟u͟b͟u͟n͟g͟a͟n͟ h͟͟u͟͟k͟͟u͟͟m͟͟.[⁴]
Berbeda dengan putusan declaratoir atau constitutief, putusan condemnatoir (bersifat menghukum) m͟e͟r͟u͟p͟a͟k͟a͟n͟ s͟͟͟a͟͟͟t͟͟͟u͟͟͟-s͟͟͟a͟͟͟t͟͟͟u͟͟͟n͟͟͟y͟͟͟a͟͟͟ j͟e͟n͟i͟s͟ p͟u͟t͟u͟s͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟l͟a͟k͟s͟a͟n͟a͟k͟a͟n͟ m͟e͟l͟a͟l͟u͟i͟ e͟k͟s͟e͟k͟u͟s͟i͟ k͟a͟r͟e͟n͟a͟ b͟e͟r͟i͟s͟i͟ p͟e͟r͟i͟n͟t͟a͟h͟ a͟t͟a͟u͟ k͟e͟w͟a͟j͟i͟b͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ h͟a͟r͟u͟s͟ d͟i͟p͟e͟n͟u͟h͟i͟ o͟l͟e͟h͟ p͟i͟h͟a͟k͟ y͟a͟n͟g͟ k͟͟a͟͟l͟͟a͟͟h͟͟.[⁵]
Dengan demikian, p͟u͟t͟u͟s͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ t͟i͟d͟a͟k͟ m͟e͟m͟u͟a͟t͟ p͟e͟r͟i͟n͟t͟a͟h͟ e͟k͟s͟e͟k͟u͟s͟i͟ t͟i͟d͟a͟k͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟l͟a͟k͟s͟a͟n͟a͟k͟a͟n͟ s͟e͟c͟a͟r͟a͟ p͟a͟k͟s͟a͟ k͟a͟r͟e͟n͟a͟ t͟i͟d͟a͟k͟ m͟e͟m͟i͟l͟i͟k͟i͟ k͟e͟k͟u͟a͟t͟a͟n͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟m͟e͟r͟i͟n͟t͟a͟h͟k͟a͟n͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟a͟n͟ k͟͟o͟͟n͟͟k͟͟r͟͟e͟͟t͟͟. D͟e͟n͟g͟a͟n͟ k͟a͟t͟a͟ l͟͟a͟͟i͟͟n͟͟, t͟a͟n͟p͟a͟ a͟d͟a͟n͟y͟a͟ a͟m͟a͟r͟ y͟a͟n͟g͟ b͟e͟r͟s͟i͟f͟a͟t͟ c͟o͟n͟d͟e͟m͟n͟a͟t͟o͟i͟r͟ (m͟͟e͟͟n͟͟g͟͟h͟͟u͟͟k͟͟u͟͟m͟͟), p͟u͟t͟u͟s͟a͟n͟ t͟e͟r͟s͟e͟b͟u͟t͟ t͟i͟d͟a͟k͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟e͟k͟s͟e͟k͟u͟s͟i͟ (n͟o͟n͟-e͟x͟e͟c͟u͟t͟a͟b͟l͟e͟).
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat dan dapat dijadikan pembelajaran untuk kita semua terlebih untuk penanya dan Paralegal ubklawyers pada khususnya.
D͟a͟s͟a͟r͟ H͟u͟k͟u͟m͟:
- Kitab Undang-Undang Hukum Perdata;
- Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1947 tentang Pengadilan Peradilan Ulangan;
- Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung;
- Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung;
- Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung;
- Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman;
- Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 7 Tahun 2012 tentang Rumusan Hukum Hasil Rapat Pleno Kamar Mahkamah Agung sebagai Pedoman Pelaksanaan Tugas bagi Pengadilan.
P͟u͟t͟u͟s͟a͟n͟:
- Putusan Mahkamah Agung Nomor 647 K/Sip/1973;
- Putusan Mahkamah Agung Nomor 1226 K/Pdt/2001;
- Putusan Mahkamah Agung Nomor 1838 K/Pdt/2004.
Artikel ini adalah pemutakhiran dari artikel dengan judul Sengketa Tanah yang dibuat oleh Shanti Rachmadsyah, S.H. dan pertama kali dipublikasikan pada 22 Maret 2010. Dipublikasikan kedua oleh “..Hukumonline.com..” dengan judul Jika Putusan Sengketa Tanah Melanggar Asas Ne Bis In Idem, pada tanggal 24 Desember 2025. Dan diteruskan oleh ubklawyers pada tanggal 19 April 2026M/02 Zulkaidah 1447H.
Seluruh Informasi Hukum yang ada di LBH-UMAR BIN KHATTAB disiapkan semata-mata untuk t͟͟͟u͟͟͟j͟͟͟u͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟ p͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, p͟e͟m͟b͟e͟l͟a͟j͟a͟r͟a͟n͟ dan b͟e͟r͟s͟i͟f͟a͟t͟ u͟m͟u͟m͟. Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan Pengacara, Konsultan Hukum dan/atau Paralegal UBK LAWYERS.
Sedang menghadapi permasalahan hukum? A͟j͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟t͟a͟n͟y͟a͟a͟n͟ melalui email, telepon atau chat.👇🏼
Email:
ubklawyer@gmail.com
Telepon/Chat:
089666552118
Berkenan G͟a͟b͟u͟n͟g͟ G͟r͟o͟u͟p͟, untuk jadi bagian Keluarga Besar UBK LAWYERS. Klik link dibawah.👇🏼
I͟K͟U͟T͟I͟ W͟h͟a͟t͟s͟A͟p͟p͟ C͟h͟a͟n͟n͟e͟l͟ LBH-UMAR BIN KHATTAB. Untuk memperkaya Riset Hukum Anda, klik link dibawah.👇🏼
🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸
#cerdashukum
#studylawtogether
#ubklawyers

