INDRAMAYU — PERTANYAAN
Belakangan ini viral sebuah video kasus rantis lindas ojol hingga tewas. Menurut berita yang beredar, seorang driver ojek online (ojol) tewas setelah ditabrak dan dilindas mobil kendaraan taktis (rantis) Brimob Polri yang bertugas membubarkan massa demonstrasi Dewan Perwakilan Rakyat. Saat itu, rantis Brimob datang dari arah berlawanan untuk memukul mundur massa agar bubar. Namun, driver ojol tak bisa menghindar dan terlindas mobil rantis.
Pertanyaan saya, melindas orang sampai meninggal, termasuk pembunuhan atau tindak pidana lalu lintas? Atas penjelasannya diucapkan terimakasih dan untuk ubklawyers beserta Paralegalnya semoga semakin banyak duitnya. Aamiin..
Edi Ridwan – Ketua DPC UBK
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
“INTISARI JAWABAN”
【Hukum Pidana】
𝔘𝔫𝔱𝔲𝔨 𝔪𝔢𝔫𝔢𝔫𝔱𝔲𝔨𝔞𝔫 𝔞𝔭𝔞𝔨𝔞𝔥 𝔭𝔢𝔯𝔟𝔲𝔞𝔱𝔞𝔫 𝔪𝔢𝔫𝔞𝔟𝔯𝔞𝔨 𝔬𝔯𝔞𝔫𝔤 𝔥𝔦𝔫𝔤𝔤𝔞 𝔱𝔢𝔴𝔞𝔰 𝔱𝔢𝔯𝔪𝔞𝔰𝔲𝔨 𝔭𝔢𝔪𝔟𝔲𝔫𝔲𝔥𝔞𝔫 𝔟𝔦𝔞𝔰𝔞 𝔞𝔱𝔞𝔲 𝔭𝔢𝔪𝔟𝔲𝔫𝔲𝔥𝔞𝔫 𝔟𝔢𝔯𝔢𝔫𝔠𝔞𝔫𝔞, 𝔥𝔞𝔯𝔲𝔰 𝔡𝔦𝔩𝔦𝔥𝔞𝔱 𝔨𝔢𝔪𝔟𝔞𝔩𝔦 𝔲𝔫𝔰𝔲𝔯-𝔲𝔫𝔰𝔲𝔯 𝔭𝔢𝔯𝔟𝔲𝔞𝔱𝔞𝔫𝔫𝔶𝔞. 𝔍𝔦𝔨𝔞 𝔭𝔢𝔯𝔟𝔲𝔞𝔱𝔞𝔫 𝔪𝔢𝔯𝔞𝔪𝔭𝔞𝔰 𝔫𝔶𝔞𝔴𝔞 𝔬𝔯𝔞𝔫𝔤 𝔩𝔞𝔦𝔫 𝔡𝔦𝔩𝔞𝔨𝔲𝔨𝔞𝔫 𝔡𝔢𝔫𝔤𝔞𝔫 𝔰𝔢𝔫𝔤𝔞𝔧𝔞 𝔡𝔞𝔫 𝔱𝔞𝔫𝔭𝔞 𝔯𝔢𝔫𝔠𝔞𝔫𝔞, 𝔪𝔞𝔨𝔞 𝔭𝔢𝔩𝔞𝔨𝔲 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔡𝔦𝔧𝔢𝔯𝔞𝔱 𝔓𝔞𝔰𝔞𝔩 338 𝔎𝔘ℌ𝔓 𝔞𝔱𝔞𝔲 𝔓𝔞𝔰𝔞𝔩 458 𝔞𝔶𝔞𝔱 (1) 𝔘𝔘 1/2023. 𝔑𝔞𝔪𝔲𝔫, 𝔧𝔦𝔨𝔞 𝔭𝔢𝔯𝔟𝔲𝔞𝔱𝔞𝔫 𝔪𝔢𝔯𝔞𝔪𝔭𝔞𝔰 𝔫𝔶𝔞𝔴𝔞 𝔬𝔯𝔞𝔫𝔤 𝔩𝔞𝔦𝔫 𝔡𝔦𝔩𝔞𝔨𝔲𝔨𝔞𝔫 𝔡𝔢𝔫𝔤𝔞𝔫 𝔯𝔢𝔫𝔠𝔞𝔫𝔞, 𝔪𝔞𝔨𝔞 𝔭𝔞𝔰𝔞𝔩 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔪𝔢𝔫𝔧𝔢𝔯𝔞𝔱 𝔭𝔢𝔩𝔞𝔨𝔲 𝔞𝔡𝔞𝔩𝔞𝔥 𝔓𝔞𝔰𝔞𝔩 340 𝔎𝔘ℌ𝔓 𝔞𝔱𝔞𝔲 𝔓𝔞𝔰𝔞𝔩 459 𝔘𝔘 1/2023.
𝔖𝔢𝔩𝔞𝔦𝔫 𝔦𝔱𝔲, 𝔭𝔢𝔯𝔟𝔲𝔞𝔱𝔞𝔫 𝔪𝔢𝔫𝔞𝔟𝔯𝔞𝔨 𝔡𝔞𝔫 𝔪𝔢𝔩𝔦𝔫𝔡𝔞𝔰 𝔬𝔯𝔞𝔫𝔤 𝔥𝔦𝔫𝔤𝔤𝔞 𝔱𝔢𝔴𝔞𝔰 𝔧𝔲𝔤𝔞 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔪𝔢𝔯𝔲𝔧𝔲𝔨 𝔭𝔞𝔡𝔞 𝔘𝔘 𝔏𝔏𝔄𝔍 𝔡𝔞𝔫 𝔭𝔢𝔯𝔲𝔟𝔞𝔥𝔞𝔫𝔫𝔶𝔞.
𝔑𝔞𝔪𝔲𝔫, 𝔨𝔞𝔯𝔢𝔫𝔞 𝔭𝔢𝔯𝔟𝔲𝔞𝔱𝔞𝔫 𝔡𝔦𝔩𝔞𝔨𝔲𝔨𝔞𝔫 𝔬𝔩𝔢𝔥 𝔞𝔫𝔤𝔤𝔬𝔱𝔞 𝔅𝔯𝔦𝔤𝔞𝔡𝔢 𝔐𝔬𝔟𝔦𝔩 (𝔅𝔯𝔦𝔪𝔬𝔟) 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔪𝔢𝔯𝔲𝔭𝔞𝔨𝔞𝔫 𝔟𝔞𝔤𝔦𝔞𝔫 𝔡𝔞𝔯𝔦 𝔰𝔱𝔯𝔲𝔨𝔱𝔲𝔯 𝔎𝔢𝔭𝔬𝔩𝔦𝔰𝔦𝔞𝔫 𝔑𝔢𝔤𝔞𝔯𝔞 ℜ𝔢𝔭𝔲𝔟𝔩𝔦𝔨 ℑ𝔫𝔡𝔬𝔫𝔢𝔰𝔦𝔞, 𝔪𝔞𝔨𝔞 𝔭𝔬𝔩𝔦𝔰𝔦 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔪𝔢𝔫𝔞𝔟𝔯𝔞𝔨 𝔡𝔞𝔫 𝔪𝔢𝔩𝔦𝔫𝔡𝔞𝔰 𝔬𝔯𝔞𝔫𝔤 𝔥𝔦𝔫𝔤𝔤𝔞 𝔱𝔢𝔴𝔞𝔰 𝔧𝔲𝔤𝔞 𝔥𝔞𝔯𝔲𝔰 𝔟𝔢𝔯𝔱𝔞𝔫𝔤𝔤𝔲𝔫𝔤 𝔧𝔞𝔴𝔞𝔟 𝔰𝔢𝔠𝔞𝔯𝔞 𝔢𝔱𝔦𝔨, 𝔰𝔢𝔟𝔞𝔤𝔞𝔦𝔪𝔞𝔫𝔞 𝔡𝔦𝔞𝔱𝔲𝔯 𝔡𝔞𝔩𝔞𝔪 𝔓𝔢𝔯𝔭𝔬𝔩 7/2022.
𝔓𝔢𝔫𝔧𝔢𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔩𝔢𝔟𝔦𝔥 𝔩𝔞𝔫𝔧𝔲𝔱 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔄𝔫𝔡𝔞 𝔟𝔞𝔠𝔞 𝔲𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔡𝔦 𝔟𝔞𝔴𝔞𝔥 𝔦𝔫𝔦.
ULASAN SELENGKAPNYA;
Terimakasih atas pertanyaan Anda.
Tindak Pidana Pembunuhan
Dalam menjawab pertanyaan Anda, perlu diketahui terlebih dahulu mengenai tindak pidana pembunuhan. Dalam kasus melindas orang sampai meninggal dunia, kami asumsikan bahwa perbuatan menabrak dan melindas orang d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ l͟͟a͟͟n͟͟g͟͟s͟͟u͟͟n͟͟g͟͟, artinya t͟i͟d͟a͟k͟ t͟e͟r͟d͟a͟p͟a͟t͟ r͟e͟n͟c͟a͟n͟a͟ t͟e͟r͟l͟e͟b͟i͟h͟ d͟͟a͟͟h͟͟u͟͟l͟͟u͟͟. Jika demikian, maka pasal yang dapat dijerat kepada pelaku adalah Pasal 338 KUHP lama yang saat artikel ini diterbitkan masih berlaku dan Pasal 458 ayat (1) UU 1/2023 tentang KUHP baru yang berlaku 3 tahun sejak tanggal diundangkan, yaitu tahun 2026,[¹] yang berbunyi:
Pasal 338 KUHP
- Barang siapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan dengan pidana penjara paling lama 15 tahun.
Pasal 458 ayat (1) UU 1/2023
- Setiap orang yang merampas nyawa orang lain, dipidana karena pembunuhan, dengan pidana penjara paling lama 15 tahun.
Terkait dengan Pasal 338 KUHP, R.Soesilo dalam bukunya Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal (hal. 240) menerangkan bahwa p͟e͟m͟b͟u͟n͟u͟h͟a͟n͟ p͟a͟d͟a͟ p͟a͟s͟a͟l͟ i͟n͟i͟ d͟i͟p͟e͟r͟l͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟g͟a͟k͟i͟b͟a͟t͟k͟a͟n͟ k͟e͟m͟a͟t͟i͟a͟n͟ o͟r͟a͟n͟g͟ l͟͟a͟͟i͟͟n͟͟, s͟e͟d͟a͟n͟g͟k͟a͟n͟ k͟e͟m͟a͟t͟i͟a͟n͟ i͟t͟u͟ d͟͟i͟͟s͟͟e͟͟n͟͟g͟͟a͟͟j͟͟a͟͟. Jadi, pembunuhan ini tidak dipikir-pikir terlebih dahulu.
Hal yang sama juga dijelaskan pada Penjelasan Pasal 458 ayat (1) UU 1/2023, yaitu p͟e͟m͟b͟u͟n͟u͟h͟a͟n͟ s͟e͟l͟a͟l͟u͟ d͟i͟a͟r͟t͟i͟k͟a͟n͟ b͟a͟h͟w͟a͟ k͟o͟r͟b͟a͟n͟ h͟a͟r͟u͟s͟ m͟a͟t͟i͟ d͟a͟n͟ k͟e͟m͟a͟t͟i͟a͟n͟ i͟n͟i͟ d͟i͟k͟e͟h͟e͟n͟d͟a͟k͟i͟ o͟l͟e͟h͟ p͟͟e͟͟l͟͟a͟͟k͟͟u͟͟. Dengan demikian pengertian pembunuhan secara implisit mengandung unsur kesengajaan. A͟p͟a͟b͟i͟l͟a͟ t͟i͟d͟a͟k͟ a͟d͟a͟ u͟n͟s͟u͟r͟ k͟e͟s͟e͟n͟g͟a͟j͟a͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ t͟i͟d͟a͟k͟ a͟d͟a͟ n͟i͟a͟t͟ a͟t͟a͟u͟ m͟a͟k͟s͟u͟d͟ u͟͟͟n͟͟͟t͟͟͟u͟͟͟k͟͟͟ m͟e͟m͟a͟t͟i͟k͟a͟n͟ o͟͟r͟͟a͟͟n͟͟g͟͟, t͟e͟t͟a͟p͟i͟ k͟e͟m͟u͟d͟i͟a͟n͟ t͟e͟r͟n͟y͟a͟t͟a͟ o͟r͟a͟n͟g͟ t͟e͟r͟s͟e͟b͟u͟t͟ m͟͟a͟͟t͟͟i͟͟, p͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ t͟e͟r͟s͟e͟b͟u͟t͟ t͟i͟d͟a͟k͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟k͟u͟a͟l͟i͟f͟i͟k͟a͟s͟i͟k͟a͟n͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ p͟e͟m͟b͟u͟n͟u͟h͟a͟n͟ m͟e͟n͟u͟r͟u͟t͟ a͟y͟a͟t͟ i͟͟n͟͟i͟͟.
Dalam Pasal 458 ayat (1) UU 1/2023 tidak dicantumkan unsur “dengan sengaja”, karena hal tersebut sudah diatur dalam Pasal 36 dan Pasal 54 huruf j UU 1/2023. Dengan demikian, h͟a͟k͟i͟m͟ a͟k͟a͟n͟ l͟e͟b͟i͟h͟ m͟e͟n͟g͟u͟t͟a͟m͟a͟k͟a͟n͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟m͟p͟e͟r͟t͟i͟m͟b͟a͟n͟g͟k͟a͟n͟ m͟͟o͟͟t͟͟i͟͟f͟͟, c͟͟a͟͟r͟͟a͟͟, s͟͟a͟͟r͟͟a͟͟n͟͟a͟͟, a͟t͟a͟u͟ u͟p͟a͟y͟a͟ m͟͟e͟͟m͟͟b͟͟u͟͟n͟͟u͟͟h͟͟, s͟e͟r͟t͟a͟ a͟k͟i͟b͟a͟t͟ d͟a͟n͟ d͟a͟m͟p͟a͟k͟n͟y͟a͟ s͟u͟a͟t͟u͟ p͟e͟m͟b͟u͟n͟u͟h͟a͟n͟ b͟a͟g͟i͟ m͟͟a͟͟s͟͟y͟͟a͟͟r͟͟a͟͟k͟͟a͟͟t͟͟.[²]
Lain halnya jika p͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ m͟e͟n͟a͟b͟r͟a͟k͟ d͟a͟n͟ m͟e͟l͟i͟n͟d͟a͟s͟ o͟r͟a͟n͟g͟ h͟i͟n͟g͟g͟a͟ t͟e͟w͟a͟s͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ r͟͟͟͟e͟͟͟͟n͟͟͟͟c͟͟͟͟a͟͟͟͟n͟͟͟͟a͟͟͟͟. Jika demikian, pelaku dapat dijerat Pasal 340 KUHP atau Pasal 459 UU 1/2023 tentang pembunuhan berencana, dengan ancaman pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama 20 tahun.
Jadi, untuk menentukan apakah p͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ m͟e͟n͟a͟b͟r͟a͟k͟ d͟a͟n͟ m͟e͟l͟i͟n͟d͟a͟s͟ o͟͟r͟͟a͟͟n͟͟g͟͟ h͟i͟n͟g͟g͟a͟ t͟e͟w͟a͟s͟ t͟e͟r͟m͟a͟s͟u͟k͟ p͟e͟m͟b͟u͟n͟u͟h͟a͟n͟ b͟i͟a͟s͟a͟ a͟t͟a͟u͟ p͟e͟m͟b͟u͟n͟u͟h͟a͟n͟ b͟͟e͟͟r͟͟e͟͟n͟͟c͟͟a͟͟n͟͟a͟͟, harus dilihat kembali unsur-unsur perbuatannya. J͟i͟k͟a͟ p͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ m͟e͟r͟a͟m͟p͟a͟s͟ n͟y͟a͟w͟a͟ o͟r͟a͟n͟g͟ l͟a͟i͟n͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ d͟͟e͟͟n͟͟g͟͟a͟͟n͟͟ s͟e͟n͟g͟a͟j͟a͟ d͟a͟n͟ t͟a͟n͟p͟a͟ r͟͟e͟͟n͟͟c͟͟a͟͟n͟͟a͟͟, m͟a͟k͟a͟ p͟e͟l͟a͟k͟u͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟j͟e͟r͟a͟t͟ P͟a͟s͟a͟l͟ 338 K͟U͟H͟P͟ a͟t͟a͟u͟ P͟a͟s͟a͟l͟ 458 a͟y͟a͟t͟ (1) U͟U͟ 1/2023. Namun, j͟i͟k͟a͟ p͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ m͟e͟r͟a͟m͟p͟a͟s͟ n͟y͟a͟w͟a͟ o͟r͟a͟n͟g͟ l͟a͟i͟n͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ r͟͟e͟͟n͟͟c͟͟a͟͟n͟͟a͟͟, m͟a͟k͟a͟ p͟a͟s͟a͟l͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟j͟e͟r͟a͟t͟ p͟e͟l͟a͟k͟u͟ a͟͟d͟͟a͟͟l͟͟a͟͟h͟͟ P͟a͟s͟a͟l͟ 340 K͟U͟H͟P͟ a͟t͟a͟u͟ P͟a͟s͟a͟l͟ 459 U͟U͟ 1/2023.
Tindak Pidana Lalu Lintas
Selain dapat dijerat berdasarkan KUHP lama atau UU 1/2023, perbuatan menabrak dan melindas orang hingga tewas juga dapat merujuk pada UU LLAJ dan perubahannya.
Sebelum membahas ketentuan pidananya, perlu diketahui bahwa setiap orang yang menggunakan jalan wajib:[³]
a. berperilaku tertib;
dan/atau
b. mencegah hal-hal
yang dapat
merintangi,
membahayakan
keamanan dan
keselamatan lalu
lintas dan angkutan
jalan (“LLAJ”), atau
yang dapat
menimbulkan
kerusakan jalan.
Selain itu, terdapat juga kewajiban-kewajiban bagi setiap orang yang mengendarai kendaraan bermotor, antara lain:[4]
- Mengemudikan kendaraannya dengan wajar dan penuh konsentrasi;
- mengutamakan keselamatan pejalan kaki dan pesepeda;
- mematuhi ketentuan tentang persyaratan teknis dan laik jalan;
- mematuhi ketentuan:
a. rambu perintah atau
rambu larangan;
b. marka jalan;
c. alat pemberi isyarat
lalu lintas;
d. gerakan lalu lintas;
e. berhenti dan parkir;
f. peringatan dengan
bunyi dan sinar;
g. kecepatan maksimal
atau minimal; dan
atau
h. tata cara
penggandengan dan
penempelan dengan
kendaraan lain; - mengenakan sabuk keselamatan untuk kendaraan bermotor roda empat atau lebih.
Berkaitan dengan sanksi pidananya dapat ditemukan pada Pasal 311 UU LLAJ, yang berbunyi:
- Setiap orang yang dengan sengaja mengemudikan kendaraan bermotor dengan cara atau keadaan yang membahayakan bagi nyawa atau barang dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 tahun atau denda paling banyak Rp3juta.
- Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan kecelakaan lalu lintas dengan kerusakan kendaraan dan/atau barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 ayat (2), pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 tahun atau denda paling banyak Rp4 juta.
- Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan kecelakaan lalu lintas dengan korban luka ringan dan kerusakan kendaraan dan/atau barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 ayat (3), pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 tahun atau denda paling banyak Rp8 juta.
- Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan kecelakaan lalu lintas dengan korban luka berat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 ayat (4) pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 tahun atau denda paling banyak Rp20 juta.
- Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) mengakibatkan orang lain meninggal dunia, pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 12 tahun atau denda paling banyak Rp24 juta.
Jadi, j͟i͟k͟a͟ p͟e͟l͟a͟k͟u͟ m͟e͟n͟g͟e͟m͟u͟d͟i͟k͟a͟n͟ k͟e͟n͟d͟a͟r͟a͟a͟n͟ b͟e͟r͟m͟o͟t͟o͟r͟ (dalam hal ini mobil kendaraan taktis atau “rantis”) d͟e͟n͟g͟a͟n͟ c͟a͟r͟a͟ a͟t͟a͟u͟ k͟e͟a͟d͟a͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟m͟b͟a͟h͟a͟y͟a͟k͟a͟n͟ b͟a͟g͟i͟ n͟y͟a͟w͟a͟ d͟a͟n͟ m͟e͟n͟g͟a͟k͟i͟b͟a͟t͟k͟a͟n͟ k͟o͟r͟b͟a͟n͟ m͟e͟n͟i͟n͟g͟g͟a͟l͟ d͟͟u͟͟n͟͟i͟͟a͟͟, pelaku dapat dijerat Pasal 311 ayat (5) UU LLAJ, dengan p͟i͟d͟a͟n͟a͟ p͟e͟n͟j͟a͟r͟a͟ p͟a͟l͟i͟n͟g͟ l͟a͟m͟a͟ 12 t͟a͟h͟u͟n͟ atau d͟e͟n͟d͟a͟ p͟a͟l͟i͟n͟g͟ b͟a͟n͟y͟a͟k͟ R͟͟͟p͟͟͟24 j͟͟u͟͟t͟͟a͟͟.
Lantas, menabrak dan melindas orang hingga tewas termasuk pembunuhan atau tindak pidana lalu lintas? Menurut hemat kami, terhadap keberadaan pasal pembunuhan dalam KUHP atau UU 1/2023, dan ketentuan pidana dalam UU LLAJ dapat diterapkan asas lex specialis derogat legi generali, yang artinya h͟u͟k͟u͟m͟ k͟h͟u͟s͟u͟s͟ m͟e͟n͟y͟a͟m͟p͟i͟ngk͟a͟n͟ h͟u͟k͟u͟m͟ u͟͟͟m͟͟͟u͟͟͟m͟͟͟.[⁵] Dalam kasus hukum pidana, t͟e͟r͟d͟a͟p͟a͟t͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ u͟m͟u͟m͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟a͟t͟u͟r͟ d͟a͟l͟a͟m͟ K͟͟U͟͟H͟͟P͟͟, dan t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ k͟h͟u͟s͟u͟s͟ y͟a͟n͟g͟ p͟e͟n͟g͟a͟t͟u͟r͟a͟n͟ h͟u͟k͟u͟m͟n͟y͟a͟ b͟e͟r͟a͟d͟a͟ d͟i͟ l͟u͟a͟r͟ K͟͟U͟͟H͟͟P͟͟. Menyambung kasus hukum yang Anda tanyakan, tindak pidana khusus contohnya “mengemudikan kendaraan bermotor dengan cara atau keadaan yang membahayakan bagi nyawa” diatur dalam UU LLAJ dan perubahannya.
Pada kasus tindak pidana tersebut, P͟a͟s͟a͟l͟ 311 a͟y͟a͟t͟ (5) U͟U͟ L͟L͟A͟J͟ m͟͟͟e͟͟͟m͟͟͟i͟͟͟l͟͟͟i͟͟͟k͟͟͟i͟͟͟ k͟a͟r͟a͟k͟t͟e͟r͟i͟s͟t͟i͟k͟ u͟n͟s͟u͟r͟ y͟a͟n͟g͟ l͟e͟b͟i͟h͟ s͟p͟e͟s͟i͟f͟i͟k͟ d͟i͟b͟a͟n͟d͟i͟n͟g͟k͟a͟n͟ p͟a͟s͟a͟l͟ t͟͟͟i͟͟͟n͟͟͟d͟͟͟a͟͟͟k͟͟͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ p͟e͟m͟b͟u͟n͟u͟h͟a͟n͟ d͟a͟l͟a͟m͟ K͟U͟H͟P͟ a͟t͟a͟u͟ U͟U͟ 1/2023. Walau demikian, d͟a͟l͟a͟m͟ p͟͟r͟͟a͟͟k͟͟t͟͟i͟͟k͟͟n͟͟y͟͟a͟͟, p͟e͟n͟y͟i͟d͟i͟k͟ d͟a͟p͟a͟t͟ m͟e͟n͟g͟e͟n͟a͟k͟a͟n͟ p͟a͟s͟a͟l͟ b͟e͟r͟l͟a͟p͟i͟s͟ terhadap suatu tindak pidana yang memenuhi unsur-unsur tindak pidana sebagaimana diatur dalam KUHP dan UU 1/2023 serta UU LLAJ dan perubahannya. Artinya, j͟i͟k͟a͟ u͟n͟s͟u͟r͟-u͟n͟s͟u͟r͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟n͟y͟a͟ t͟͟e͟͟r͟͟p͟͟e͟͟n͟͟u͟͟h͟͟i͟͟, p͟e͟n͟y͟i͟d͟i͟k͟ d͟a͟p͟a͟t͟ m͟e͟n͟g͟g͟u͟n͟a͟k͟a͟n͟ p͟a͟s͟a͟l͟-p͟a͟s͟a͟l͟ t͟͟e͟͟r͟͟s͟͟e͟͟b͟͟u͟͟t͟͟.
Kode Etik Profesi Polri
Karena perbuatan dilakukan oleh anggota Brigade Mobil (“Brimob”) yang merupakan bagian dari struktur Kepolisian Negara Republik Indonesia, maka polisi yang menabrak dan melindas orang hingga tewas juga harus bertanggung jawab secara etik.
Berkaitan dengan hal tersebut, pada dasarnya, pejabat Polri wajib menaati Kode Etik Profesi Polri (“KEPP”), y͟a͟i͟t͟u͟ n͟o͟r͟m͟a͟ a͟t͟a͟u͟ a͟t͟u͟r͟a͟n͟ m͟o͟r͟a͟l͟ b͟a͟i͟k͟ t͟͟e͟͟r͟͟t͟͟u͟͟l͟͟i͟͟s͟͟ m͟͟a͟͟u͟͟p͟͟u͟͟n͟͟ t͟i͟d͟a͟k͟ t͟e͟r͟t͟u͟l͟i͟s͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟j͟a͟d͟i͟ p͟e͟d͟o͟m͟a͟n͟ s͟i͟k͟a͟p͟, p͟e͟r͟i͟l͟a͟k͟u͟ d͟a͟n͟ p͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ p͟e͟j͟a͟b͟a͟t͟ P͟o͟l͟r͟i͟ d͟a͟l͟a͟m͟ m͟e͟l͟a͟k͟s͟a͟n͟a͟k͟a͟n͟ t͟͟u͟͟g͟͟a͟͟s͟͟, w͟͟e͟͟w͟͟e͟͟n͟͟a͟͟n͟͟g͟͟, t͟a͟n͟g͟g͟u͟n͟g͟ j͟a͟w͟a͟b͟ s͟͟e͟͟r͟͟t͟͟a͟͟ k͟e͟h͟i͟d͟u͟p͟a͟n͟ s͟͟͟e͟͟͟h͟͟͟a͟͟͟r͟͟͟i͟͟͟-h͟͟͟a͟͟͟r͟͟͟i͟͟͟.[⁶] P͟͟e͟͟j͟͟a͟͟b͟͟a͟͟t͟͟ P͟o͟l͟r͟i͟ w͟a͟j͟i͟b͟ m͟e͟m͟e͟d͟o͟m͟a͟n͟i͟ K͟E͟P͟P͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ m͟e͟n͟a͟a͟t͟i͟ s͟e͟t͟i͟a͟p͟ k͟e͟w͟a͟j͟i͟b͟a͟n͟ d͟a͟n͟ l͟a͟r͟a͟n͟g͟a͟n͟ dalam:[7]
a. Etika kenegaraan,
yaitu norma-norma
dalam KEPP yang
memuat pedoman
bersikap dan
berperilaku setiap
pejabat Polri
terhadap Negara
Kesatuan Republik
Indonesia (“NKRI”),
Pancasila, UUD
1945, dan
kebhineka
tunggalikaan;[⁸]
b. Etika
kelembagaan,
yaitu norma-norma
dalam KEPP yang
memuat pedoman
bersikap dan
berperilaku setiap
pejabat Polri dalam
hubungannya
dengan p͟e͟l͟a͟k͟s͟a͟n͟a͟a͟n͟
t͟͟u͟͟g͟͟a͟͟s͟͟, w͟͟e͟͟w͟͟e͟͟n͟͟a͟͟n͟͟g͟͟,
d͟a͟n͟ t͟a͟n͟g͟g͟u͟n͟g͟ j͟a͟w͟a͟b͟
k͟e͟w͟a͟j͟i͟b͟a͟n͟ h͟u͟k͟u͟m͟
d͟a͟n͟ p͟e͟n͟g͟g͟u͟n͟a͟a͟n͟
k͟e͟w͟e͟n͟a͟n͟g͟a͟n͟ P͟͟͟͟r͟͟͟͟o͟͟͟͟f͟͟͟͟e͟͟͟͟s͟͟͟͟i͟͟͟͟
P͟o͟l͟r͟i͟ s͟e͟s͟u͟a͟i͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟
b͟͟i͟͟d͟͟a͟͟n͟͟g͟͟ t͟͟u͟͟g͟͟a͟͟s͟͟,
w͟͟e͟͟w͟͟e͟͟n͟͟a͟͟n͟͟g͟͟, d͟a͟n͟
t͟a͟n͟g͟g͟u͟n͟g͟ j͟a͟w͟a͟b͟
p͟a͟d͟a͟ m͟a͟s͟i͟n͟g͟-m͟a͟s͟i͟n͟g͟
f͟u͟n͟g͟s͟i͟ k͟e͟p͟o͟l͟i͟s͟i͟a͟n͟;[⁹]
c. Etika
kemasyarakatan,
yaitu norma-norma
dalam KEPP yang
memuat pedoman
bersikap dan
berperilaku setiap
pejabat Polri dalam
hubungannya
dengan pelaksanaan
tugas, wewenang,
dan tanggung jawab
kewajiban hukum
dan penggunaan
kewenangan profesi
Polri, yang
berhubungan
dengan
masyarakat.[¹⁰]
d. Etika kepribadian,
yaitu norma-norma
dalam KEPP yang
memuat pedoman
bersikap dan
berperilaku setiap
pejabat Polri dalam
kapasitasnya
sebagai pribadi yang
terikat dengan
moralitas etika
pribadinya, baik di
dalam maupun di
luar pelaksanaan
tugas, wewenang,
dan tanggung jawab
dan penggunaan
kewenangan
profesinya dalam
kehidupan
sehari-hari.[¹¹]
Menurut hemat kami, polisi yang melakukan tindak pidana (dalam hal ini mengemudikan kendaraan bermotor dengan cara atau keadaan yang membahayakan bagi nyawa) termasuk pelanggaran terhadap etika kelembagaan. Adapun pelanggaran KEPP dibagi menjadi 3 kategori, antara lain:[¹²]
- ringan;
- sedang; dan
- berat.
Perbuatan anggota Brimob yang menabrak dan melindas orang lain hingga tewas termasuk pada kategori pelanggaran KEPP berat, karena berdampak terhadap keluarga, masyarakat, institusi dan/atau negara yang menimbulkan akibat hukum, serta menjadi perhatian publik.[¹³]
Bagi polisi yang melakukan pelanggaran dengan kategori berat, dikenakan sanksi administratif berupa:[¹⁴]
a. mutasi bersifat
demosi paling
singkat 1 tahun;c
b. penundaan kenaikan
pangkat paling
singkat 1 tahun dan
paling lama 3 tahun;
c. penundaan
pendidikan paling
singkat 1 tahun dan
paling lama 3 tahun;
d. penempatan pada
tempat khusus
paling lama 30 hari
kerja; dan
e. pemberhentian tidak
dengan hormat.
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat dan dapat dijadikan pembelajaran untuk kita semua terlebih untuk penanya dan Paralegal ubklawyers pada khususnya.
D͟a͟s͟a͟r͟ H͟u͟k͟u͟m͟:
- Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
- Kitab Undang-Undang Hukum Pidana;
- Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan;
- Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja;
- Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana;
- Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja Menjadi Undang-Undang;
- Peraturan Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2022 tentang Kode Etik Profesi dan Komisi Kode Etik Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Artikel ini dibuat oleh Muhammad Raihan Negara. SH, dipublikasikan “..Hukumonline.com..” dengan judul Melindas Orang Sampai Meninggal, Pembunuhan atau Tindak Pidana Lalu Lintas? Pada tanggal 01 September 2025. Dan diteruskan oleh ubklawyers pada tanggal 13 September 2025.
Seluruh Informasi Hukum yang ada di LBH-UMAR BIN KHATTAB disiapkan semata-mata untuk t͟͟͟u͟͟͟j͟͟͟u͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟ p͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, p͟e͟m͟b͟e͟l͟a͟j͟a͟r͟a͟n͟ dan b͟e͟r͟s͟i͟f͟a͟t͟ u͟m͟u͟m͟. Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan Pengacara, Konsultan Hukum dan/atau Paralegal UBK LAWYERS.
Sedang menghadapi permasalahan hukum? A͟j͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟t͟a͟n͟y͟a͟a͟n͟ melalui email, telepon atau chat.👇🏼
Email:
ubklawyer@gmail.com
Telepon/Chat:
089666552118
Berkenan G͟a͟b͟u͟n͟g͟ G͟r͟o͟u͟p͟, untuk jadi bagian Keluarga Besar UBK LAWYERS. Klik link dibawah.👇🏼
I͟K͟U͟T͟I͟ W͟h͟a͟t͟s͟A͟p͟p͟ C͟h͟a͟n͟n͟e͟l͟ LBH-UMAR BIN KHATTAB. Untuk memperkaya Riset Hukum Anda, klik link dibawah.👇🏼
🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸
#cerdashukum
#studylawtogether
#ubklawyers

