INDRAMAYU — PERTANYAAN
Bagaimana hukumnya scan-edit. Misal mengubah/menambah/mengurangi isi Kartu Keluarga, KTP, slip gaji, STNK, SKCK, surat keterangan dokter, dll. Misalnya data tersebut discan-edit terus di fotokopi. Fotokopinya ini digunakan untuk mengurus suatu keperluan. Pertanyaannya, adakah hukuman pemalsuan dokumen? Berapa lama hukuman pemalsuan dokumen?
Atas pencerahannya diucapkan terimakasih, untuk ubklawyers dan paralegalnya semoga semakin bertambah ilmunya. Aamiin..
Lurah Andri – Tinumpuk City
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
“INTISARI JAWABAN”
【Hukum Pidana】
ᴷᵃᵐⁱ ᵐᵉⁿᵍᵃˢᵘᵐˢⁱᵏᵃⁿ ʸᵃⁿᵍ ᴬⁿᵈᵃ ᵐᵃᵏˢᵘᵈ ᵃᵈᵃˡᵃʰ ᵐᵉⁿʸᵘⁿᵗⁱⁿᵍ ᵈᵉⁿᵍᵃⁿ ᶜᵃʳᵃ ᵐᵉⁿᵃᵐᵇᵃʰ ᵃᵗᵃᵘ ᵐᵉⁿᵍᵘʳᵃⁿᵍⁱ ⁱˢⁱ ᵈᵒᵏᵘᵐᵉⁿ ʸᵃⁿᵍ ᵗᵉˡᵃʰ ᵈⁱᵖⁱⁿᵈᵃⁱ ᵏᵉ ᵏᵒᵐᵖᵘᵗᵉʳ, ˡᵃˡᵘ ˢᵉᵗᵉˡᵃʰ ⁱᵗᵘ ᵈⁱᶠᵒᵗᵒᵏᵒᵖⁱ (ᵈⁱᵍᵃⁿᵈᵃᵏᵃⁿ).
ᴵˢⁱ ᵈᵒᵏᵘᵐᵉⁿ ʸᵃⁿᵍ ᵈⁱᵘᵇᵃʰ ᵗᵉʳˢᵉᵇᵘᵗ ᵃᵈᵃˡᵃʰ ᵇᵉʳᵘᵖᵃ ᴷᵀᴾ, ᴷᵃʳᵗᵘ ᴷᵉˡᵘᵃʳᵍᵃ, ˢˡⁱᵖ ᵍᵃʲⁱ, ˢᵀᴺᴷ, ˢᴷᶜᴷ, ˢᵘʳᵃᵗ ᵏᵉᵗᵉʳᵃⁿᵍᵃⁿ ᵈᵒᵏᵗᵉʳ ʸᵃⁿᵍ ᵏᵉᵐᵘᵈⁱᵃⁿ ᵈⁱᵍᵘⁿᵃᵏᵃⁿ ᵘⁿᵗᵘᵏ ᵐᵉⁿᵍᵘʳᵘˢ ᵏᵉᵖᵉʳˡᵘᵃⁿ. ᴾᵉʳᵇᵘᵃᵗᵃⁿ ⁱⁿⁱ ʲᵉˡᵃˢ ᵐᵉˡᵃⁿᵍᵍᵃʳ ʰᵘᵏᵘᵐ ᵈᵃⁿ ᵈⁱᵏᵃᵗᵉᵍᵒʳⁱᵏᵃⁿ ˢᵉᵇᵃᵍᵃⁱ ᵗⁱⁿᵈᵃᵏ ᵖⁱᵈᵃⁿᵃ ᵖᵉᵐᵃˡˢᵘᵃⁿ ˢᵘʳᵃᵗ ʸᵃⁿᵍ ᵈⁱᵃᵗᵘʳ ᵈᵃˡᵃᵐ ᴷᵁᴴᴾ ᵈᵃⁿ ᵁᵁ ¹/²⁰²³. ˢᵉˡᵃⁱⁿ ⁱᵗᵘ, ᵈᵃᵖᵃᵗ ᵖᵘˡᵃ ᵈⁱᵏᵉⁿᵃᵏᵃⁿ ᵗⁱⁿᵈᵃᵏ ᵖⁱᵈᵃⁿᵃ ᵖᵉᵐᵃˡˢᵘᵃⁿ ᵈᵃᵗᵃ ᵖʳⁱᵇᵃᵈⁱ ʸᵃⁿᵍ ᵈⁱᵃᵗᵘʳ ᵈᵃˡᵃᵐ ᵁᵁ ᴾᴰᴾ.
ᴬᵖᵃ ᵃⁿᶜᵃᵐᵃⁿ ʰᵘᵏᵘᵐⁿʸᵃ?
ᴾᵉⁿʲᵉˡᵃˢᵃⁿ ˡᵉᵇⁱʰ ˡᵃⁿʲᵘᵗ ᵈᵃᵖᵃᵗ ᴬⁿᵈᵃ ᵇᵃᶜᵃ ᵘˡᵃˢᵃⁿ ᵈⁱ ᵇᵃʷᵃʰ ⁱⁿⁱ.
ULASAN SELENGKAPNYA;
Terimakasih atas pertanyaan Anda.
Artikel ini dibuat berdasarkan KUHP lama dan UU 1/2023 tentang KUHP yang diundangkan pada tanggal 2 Januari 2023.
Pertama-tama, perlu dipahami terlebih dahulu definisi-definisi berikut menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (“KBBI”):
- Fotokopi adalah hasil reproduksi (penggandaan) fotografis terhadap barang cetakan (tulisan).
- Scan atau pindai (memindai) yaitu mengopi gambar atau teks ke dalam komputer dalam bentuk digital.
- Edit atau sunting (menyunting) yaitu:
a. menyiapkan naskah
siap cetak atau siap
terbit dengan
memperhatikan segi
sistematika
penyajian, isi, dan
bahasa (menyangkut
ejaan, diksi, dan
struktur kalimat);
mengedit
b. merencanakan dan
mengarahkan
penerbitan (surat
kabar, majalah);
c. menyusun atau
merakit (film, pita
rekaman) dengan
cara
memotong-motong
dan memasang
kembali.
Kami asumsikan tindakan yang dilakukan dalam kasus Anda adalah m͟e͟n͟y͟u͟n͟t͟i͟n͟g͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ c͟a͟r͟a͟ m͟e͟n͟a͟m͟b͟a͟h͟ a͟t͟a͟u͟ m͟e͟n͟g͟u͟r͟a͟n͟g͟i͟ i͟s͟i͟ d͟o͟k͟u͟m͟e͟n͟ y͟a͟n͟g͟ t͟e͟l͟a͟h͟ d͟͟i͟͟p͟͟i͟͟n͟͟d͟͟a͟͟i͟͟ k͟e͟ k͟͟o͟͟m͟͟p͟͟u͟͟t͟͟e͟͟r͟͟, l͟a͟l͟u͟ s͟e͟t͟e͟l͟a͟h͟ i͟t͟u͟ d͟i͟f͟o͟t͟o͟k͟o͟p͟i͟ (d͟i͟g͟a͟n͟d͟a͟k͟a͟n͟).
Tindak Pidana Pemalsuan Surat
Pada dasarnya, perbuatan mengubah/menambah/mengurangi isi dokumen dalam Kartu Keluarga (“KK”), slip gaji, Surat Tanda Nomor Kendaraan (“STNK”), Surat Keterangan Catatan Kepolisian (“SKCK”), dan surat keterangan dokter dapat dikategorikan sebagai t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ p͟e͟m͟a͟l͟s͟u͟a͟n͟ s͟͟u͟͟r͟͟a͟͟t͟͟.
Kemudian, tindak pidana pemalsuan surat diatur dalam KUHP lama yang masih berlaku pada saat artikel ini diterbitkan serta KUHP baru yaitu UU 1/2023 yang mulai berlaku 3 tahun terhitung sejak tanggal diundangkan,[¹] pada tahun 2026.
Pasal 263 KUHP
- Barang siapa membuat surat palsu atau memalsukan surat yang dapat menimbulkan sesuatu hak, perikatan atau pembebasan hutang, atau yang diperuntukkan sebagai bukti daripada sesuatu hal dengan maksud untuk memakai atau menyuruh orang lain memakai surat tersebut seolah-olah isinya benar dan tidak dipalsu, diancam jika pemakaian tersebut dapat menimbulkan kerugian, karena pemalsuan surat, dengan pidana penjara paling lama 6 tahun.
- Diancam dengan pidana yang sama, barang siapa dengan sengaja memakai surat palsu atau yang dipalsukan seolah-olah sejati, jika pemakaian surat itu dapat menimbulkan kerugian.
Pasal 264 KUHP
- Pemalsuan surat diancam dengan pidana penjara paling lama 8 tahun, jika dilakukan terhadap:
- akta-akta otentik;
- surat hutang atau sertifikat hutang dari sesuatu negara atau bagiannya ataupun dari suatu lembaga umum;
- surat sero atau hutang atau sertifikat sero atau hutang dan suatu perkumpulan, yayasan, perseroan atau maskapai;
- talon, tanda bukti dividen atau bunga dari salah satu surat yang diterangkan dalam 2 dan 3, atau tanda bukti yang dikeluarkan sebagai pengganti surat-surat itu;
- surat kredit atau surat dagang yang diperuntukkan untuk diedarkan.
- Diancam dengan pidana yang sama barang siapa dengan sengaja memakai surat tersebut dalam ayat pertama, yang isinya tidak sejati atau yang dipalsukan seolah-olah benar dan tidak dipalsu, jika pemalsuan surat itu dapat menimbulkan kerugian.
Pasal 391 UU 1/2023
- Setiap orang yang membuat secara tidak benar atau memalsu surat yang dapat menimbulkan suatu hak, perikatan atau pembebasan utang, atau yang diperuntukkan sebagai bukti dari suatu hal, dengan maksud untuk menggunakan atau meminta orang lain menggunakan seolah-olah isinya benar dan tidak palsu, jika penggunaan surat tersebut dapat menimbulkan kerugian, dipidana karena pemalsuan surat, dengan pidana penjara paling lama 6 tahun atau pidana denda paling banyak kategori VI, yaitu Rp2 miliar.[²]
- Setiap orang yang menggunakan Surat yang isinya tidak benar atau yang dipalsu, seolah-olah benar atau tidak dipalsu, jika penggunaan surat tersebut dapat menimbulkan kerugian dipidana dengan pidana yang sama dengan ayat (1).
Pasal 392 UU 1/2023
- Dipidana dengan pidana penjara paling lama 8 tahun, setiap orang yang melakukan pemalsuan surat terhadap:
a. akta autentik;
b. surat utang atau
sertifikat utang dari
suatu negara atau
bagiannya atau dari
suatu lembaga
umum;
c. saham, surat utang,
sertifikat saham,
sertifikat utang dari
suatu perkumpulan,
yayasan, perseroan
atau persekutuan;
d. talon, tanda bukti
dividen atau tanda
bukti bunga salah
satu Surat
sebagaimana
dimaksud dalam
huruf b dan huruf c
atau tanda bukti
yang dikeluarkan
sebagai pengganti
surat tersebut;
e. surat kredit atau
Surat dagang yang
diperuntukkan guna
diedarkan;
f. surat keterangan
mengenai hak atas
tanah; atau
g. surat berharga
lainnya yang
ditentukan dalam
peraturan
perundang-
undangan.
- Setiap orang yang menggunakan surat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang isinya tidak benar atau dipalsu, seolah-olah benar atau tidak dipalsu, jika penggunaan surat tersebut dapat menimbulkan kerugian, dipidana dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
Menurut R Soesilo dalam bukunya Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal (hal. 195-196), bentuk-bentuk pemalsuan surat itu dilakukan dengan cara:
- Membuat surat palsu yaitu membuat isinya bukan semestinya (tidak benar).
- Memalsu surat yaitu mengubah surat sedemikian rupa sehingga isinya menjadi lain dari isi yang asli. Caranya bermacam-macam, tidak senantiasa surat itu diganti dengan yang lain, dapat pula dengan cara mengurangkan, menambah atau merubah sesuatu dari surat itu.
- Memalsu tanda tangan juga termasuk pengertian memalsu surat.
- Penempelan foto orang lain dari pemegang yang berhak. Misalnya foto dalam ijazah sekolah.
Kemudian, R. Soesilo juga menjelaskan y͟a͟n͟g͟ d͟i͟a͟r͟t͟i͟k͟a͟n͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ s͟u͟r͟a͟t͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ s͟e͟g͟a͟l͟a͟ s͟͟u͟͟r͟͟a͟͟t͟͟, b͟a͟i͟k͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟t͟u͟l͟i͟s͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ t͟͟a͟͟n͟͟g͟͟a͟͟n͟͟, d͟͟i͟͟c͟͟e͟͟t͟͟a͟͟k͟͟, m͟a͟u͟p͟u͟n͟ d͟i͟t͟u͟l͟i͟s͟ m͟e͟m͟a͟k͟a͟i͟ m͟e͟s͟i͟n͟ t͟i͟k͟, d͟a͟n͟ l͟a͟i͟n͟-l͟a͟i͟n͟n͟y͟a͟ (hal. 195). Surat yang dipalsukan di antaranya harus surat yang:
- dapat menimbulkan sesuatu hak (misalnya: ijazah, karcis tanda masuk, surat andil, dan lain-lain);
- surat yang digunakan sebagai keterangan bagi suatu perbuatan atau peristiwa (misalnya surat tanda kelahiran, buku tabungan pos, buku kas, buku harian kapal, surat angkutan, obligasi, dan lain-lain).
Untuk dapat dihukum dengan Pasal 263 KUHP, menurut R. Soesilo p͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ t͟e͟r͟s͟e͟b͟u͟t͟ h͟a͟r͟u͟s͟ m͟e͟m͟e͟n͟u͟h͟i͟ u͟n͟s͟u͟r͟-u͟n͟s͟u͟r͟ b͟e͟r͟i͟k͟u͟t͟ (hal. 196):
- P͟a͟d͟a͟ w͟a͟k͟t͟u͟ m͟e͟m͟a͟l͟s͟u͟k͟a͟n͟ s͟u͟r͟a͟t͟ i͟t͟u͟ h͟a͟r͟u͟s͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ m͟a͟k͟s͟u͟d͟ a͟k͟a͟n͟ m͟e͟n͟g͟g͟u͟n͟a͟k͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ m͟e͟n͟y͟u͟r͟u͟h͟ o͟r͟a͟n͟g͟ l͟a͟i͟n͟ m͟e͟n͟g͟g͟u͟n͟a͟k͟a͟n͟ s͟u͟r͟a͟t͟ i͟t͟u͟ s͟e͟o͟l͟a͟h͟-o͟l͟a͟h͟ a͟s͟l͟i͟ d͟a͟n͟ t͟i͟d͟a͟k͟ d͟͟i͟͟p͟͟a͟͟l͟͟s͟͟u͟͟k͟͟a͟͟n͟͟.
- P͟e͟n͟g͟g͟u͟n͟a͟a͟n͟n͟y͟a͟ h͟a͟r͟u͟s͟ d͟a͟p͟a͟t͟ m͟e͟n͟d͟a͟t͟a͟n͟g͟k͟a͟n͟ k͟͟e͟͟r͟͟u͟͟g͟͟i͟͟a͟͟n͟͟. Kata “dapat” m͟a͟k͟s͟u͟d͟n͟y͟a͟ t͟i͟d͟a͟k͟ p͟e͟r͟l͟u͟ k͟e͟r͟u͟g͟i͟a͟n͟ i͟͟t͟͟u͟͟ b͟e͟t͟u͟l͟-b͟e͟t͟u͟l͟ a͟͟d͟͟a͟͟, b͟a͟r͟u͟ k͟e͟m͟u͟n͟g͟k͟i͟n͟a͟n͟ s͟a͟j͟a͟ a͟k͟a͟n͟ a͟d͟a͟n͟y͟a͟ k͟e͟r͟u͟g͟i͟a͟n͟ i͟t͟u͟ s͟u͟d͟a͟h͟ c͟͟u͟͟k͟͟u͟͟p͟͟. Lalu, k͟e͟r͟u͟g͟i͟a͟n͟ t͟i͟d͟a͟k͟ h͟a͟n͟y͟a͟ k͟e͟r͟u͟g͟i͟a͟n͟ m͟͟a͟͟t͟͟e͟͟r͟͟i͟͟i͟͟l͟͟, a͟k͟a͟n͟ t͟e͟t͟a͟p͟i͟ j͟u͟g͟a͟ k͟e͟r͟u͟g͟i͟a͟n͟ d͟i͟ l͟a͟p͟a͟n͟g͟a͟n͟ m͟͟a͟͟s͟͟y͟͟a͟͟r͟͟a͟͟k͟͟a͟͟t͟͟, k͟͟e͟͟s͟͟u͟͟s͟͟i͟͟l͟͟a͟͟a͟͟n͟͟, k͟͟e͟͟h͟͟o͟͟r͟͟m͟͟a͟͟t͟͟a͟͟n͟͟, d͟a͟n͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟n͟y͟a͟ (i͟m͟a͟t͟e͟r͟i͟i͟l͟).
- Y͟a͟n͟g͟ d͟i͟h͟u͟k͟u͟m͟ m͟e͟n͟u͟r͟u͟t͟ p͟a͟s͟a͟l͟ i͟n͟i͟ t͟i͟d͟a͟k͟ s͟a͟j͟a͟ y͟a͟n͟g͟ m͟͟e͟͟m͟͟a͟͟l͟͟s͟͟u͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, t͟e͟t͟a͟p͟i͟ j͟u͟g͟a͟ s͟e͟n͟g͟a͟j͟a͟ m͟e͟n͟g͟g͟u͟n͟a͟k͟a͟n͟ s͟u͟r͟a͟t͟ p͟͟a͟͟l͟͟s͟͟u͟͟. “S͟͟͟e͟͟͟n͟͟͟g͟͟͟a͟͟͟j͟͟͟a͟͟͟” m͟a͟k͟s͟u͟d͟n͟y͟a͟ o͟r͟a͟n͟g͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟g͟g͟u͟n͟a͟k͟a͟n͟ i͟t͟u͟ h͟a͟r͟u͟s͟ m͟e͟n͟g͟e͟t͟a͟h͟u͟i͟ b͟e͟n͟a͟r͟-b͟e͟n͟a͟r͟ b͟a͟h͟w͟a͟ s͟u͟r͟a͟t͟ y͟a͟n͟g͟ i͟a͟ g͟u͟n͟a͟k͟a͟n͟ i͟t͟u͟ p͟͟a͟͟l͟͟s͟͟u͟͟. J͟i͟k͟a͟ i͟a͟ t͟i͟d͟a͟k͟ t͟͟a͟͟h͟͟u͟͟, i͟a͟ t͟i͟d͟a͟k͟ d͟͟i͟͟h͟͟u͟͟k͟͟u͟͟m͟͟.
Penjelasan di atas sejalan dengan penjelasan Pasal 391 UU 1/2023 yang berbunyi sebagai berikut:
Yang dimaksud dengan “surat” adalah semua gambaran dalam pikiran yang diwujudkan dalam perkataan yaitu yang dituangkan dalam tulisan baik tulisan tangan maupun melalui mesin, termasuk juga antara lain salinan, hasil fotokopi, faksimile atas surat tersebut. Lalu, surat yang dipalsu harus dapat:
- menimbulkan suatu hak, misalnya karcis atau tanda masuk;
- menimbulkan suatu perikatan, misalnya perjanjian kredit, jual beli, sewa menyewa;
- menerbitkan suatu pembebasan utang; atau
- dipergunakan sebagai bukti bagi suatu perbuatan atau peristiwa, misalnya buku tabungan, surat tanda kelahiran, surat angkutan, buku kas, dan lain-lain.
Maka menurut hemat kami, jika m͟͟͟e͟͟͟n͟͟͟g͟͟͟u͟͟͟b͟͟͟a͟͟͟h͟͟͟/m͟͟e͟͟n͟͟a͟͟m͟͟b͟͟a͟͟h͟͟/m͟e͟n͟g͟u͟r͟a͟n͟g͟i͟ s͟u͟a͟t͟u͟ d͟o͟k͟u͟m͟e͟n͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ p͟e͟n͟g͟g͟a͟n͟d͟a͟a͟n͟ b͟e͟r͟t͟u͟j͟u͟a͟n͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟m͟b͟u͟a͟t͟ s͟u͟r͟a͟t͟ p͟͟a͟͟l͟͟s͟͟u͟͟, m͟e͟m͟a͟l͟s͟u͟ s͟͟u͟͟r͟͟a͟͟t͟͟, m͟e͟m͟a͟l͟s͟u͟ t͟a͟n͟d͟a͟ t͟͟a͟͟n͟͟g͟͟a͟͟n͟͟, m͟e͟n͟e͟m͟p͟e͟l͟ f͟o͟t͟o͟ o͟r͟a͟n͟g͟ l͟a͟i͟n͟ d͟a͟r͟i͟ p͟e͟m͟e͟g͟a͟n͟g͟ y͟a͟n͟g͟ b͟͟e͟͟r͟͟h͟͟a͟͟k͟͟, d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟k͟a͟t͟e͟g͟o͟r͟i͟k͟a͟n͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ p͟e͟m͟a͟l͟s͟u͟a͟n͟ d͟͟o͟͟k͟͟u͟͟m͟͟e͟͟n͟͟.
Tindak Pidana Pemalsuan Data Pribadi
Dalam pertanyaan, Anda menyebutkan beberapa surat yang dipalsukan. Berkaitan dengan hal ini, kami memberikan contoh tindakan pemalsuan Kartu Keluarga atau t͟i͟n͟d͟a͟k͟a͟n͟ m͟͟͟e͟͟͟n͟͟͟g͟͟͟u͟͟͟b͟͟͟a͟͟͟h͟͟͟/m͟͟e͟͟n͟͟a͟͟m͟͟b͟͟a͟͟h͟͟/m͟e͟n͟g͟u͟r͟a͟n͟g͟i͟ i͟͟s͟͟i͟͟ K͟K͟ y͟a͟n͟g͟ m͟a͟n͟a͟ d͟i͟ d͟a͟l͟a͟m͟n͟y͟a͟ m͟e͟m͟u͟a͟t͟ d͟a͟t͟a͟ t͟e͟n͟t͟a͟n͟g͟ n͟͟a͟͟m͟͟a͟͟, s͟u͟s͟u͟n͟a͟n͟ d͟a͟n͟ h͟u͟b͟u͟n͟g͟a͟n͟ d͟a͟l͟a͟m͟ k͟͟e͟͟l͟͟u͟͟a͟͟r͟͟g͟͟a͟͟, s͟e͟r͟t͟a͟ i͟d͟e͟n͟t͟i͟t͟a͟s͟ a͟n͟g͟g͟o͟t͟a͟ k͟͟e͟͟l͟͟u͟͟a͟͟r͟͟g͟͟a͟͟.[³]
Perlu diketahui bahwa d͟a͟t͟a͟ d͟͟a͟͟l͟͟a͟͟m͟͟ K͟K͟ t͟e͟r͟m͟a͟s͟u͟k͟ d͟a͟t͟a͟ k͟e͟p͟e͟n͟d͟u͟d͟u͟k͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ t͟e͟r͟d͟i͟r͟i͟ a͟t͟a͟s͟ d͟a͟t͟a͟ p͟e͟r͟s͟e͟o͟r͟a͟n͟g͟a͟n͟ m͟e͟n͟c͟a͟k͟u͟p͟ a͟n͟t͟a͟r͟a͟ l͟a͟i͟n͟ n͟o͟m͟e͟r͟ K͟K͟, n͟a͟m͟a͟ l͟͟e͟͟n͟͟g͟͟k͟͟a͟͟p͟͟, N͟o͟m͟o͟r͟ I͟n͟d͟u͟k͟ K͟e͟p͟e͟n͟d͟u͟d͟u͟k͟a͟n͟ (“N͟I͟K͟”), j͟e͟n͟i͟s͟ k͟͟e͟͟l͟͟a͟͟m͟͟i͟͟n͟͟, t͟e͟m͟p͟a͟t͟ l͟͟a͟͟h͟͟i͟͟r͟͟, t͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟g͟͟͟g͟͟͟a͟͟͟l͟͟͟/b͟͟u͟͟l͟͟a͟͟n͟͟/t͟a͟h͟u͟n͟ l͟͟a͟͟h͟͟i͟͟r͟͟, g͟o͟l͟o͟n͟g͟a͟n͟ d͟͟͟a͟͟͟r͟͟͟a͟͟͟h͟͟͟, s͟t͟a͟t͟u͟s͟ p͟͟e͟͟r͟͟k͟͟a͟͟w͟͟i͟͟n͟͟a͟͟n͟͟, d͟a͟n͟ l͟͟a͟͟i͟͟n͟͟-l͟͟a͟͟i͟͟n͟͟.[⁴] Kemudian dalam aspek pelindungan data pribadi, d͟a͟t͟a͟-d͟a͟t͟a͟ t͟e͟r͟s͟e͟b͟u͟t͟ t͟e͟r͟m͟a͟s͟u͟k͟ k͟e͟ d͟a͟l͟a͟m͟ d͟a͟t͟a͟ p͟r͟i͟b͟a͟d͟i͟ y͟a͟n͟g͟ b͟e͟r͟s͟i͟f͟a͟t͟ u͟͟m͟͟u͟͟m͟͟.[⁵]
Menurut Pasal 66 UU PDP, s͟e͟t͟i͟a͟p͟ o͟r͟a͟n͟g͟ d͟i͟l͟a͟r͟a͟n͟g͟ m͟e͟m͟b͟u͟a͟t͟ d͟a͟t͟a͟ p͟r͟i͟b͟a͟d͟i͟ p͟a͟l͟s͟u͟ a͟t͟a͟u͟ m͟e͟m͟a͟l͟s͟u͟k͟a͟n͟ d͟a͟t͟a͟ p͟r͟i͟b͟a͟d͟i͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ m͟a͟k͟s͟u͟d͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟n͟g͟u͟n͟t͟u͟n͟g͟k͟a͟n͟ d͟i͟r͟i͟ s͟e͟n͟d͟i͟r͟i͟ a͟t͟a͟u͟ o͟r͟a͟n͟g͟ l͟a͟i͟n͟ y͟a͟n͟g͟ d͟a͟p͟a͟t͟ m͟e͟n͟g͟a͟k͟i͟b͟a͟t͟k͟a͟n͟ k͟e͟r͟u͟g͟i͟a͟n͟ b͟a͟g͟i͟ o͟r͟a͟n͟g͟ l͟͟a͟͟i͟͟n͟͟.
Pelaku yang melanggar ketentuan larangan pemalsuan data pribadi berpotensi dijerat Pasal 68 UU PDP yaitu pidana penjara paling lama 6 tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp6 miliar. Bahkan selain pidana, pelaku bisa dijatuhi pidana tambahan perampasan keuntungan dan/atau harta kekayaan yang diperoleh atau hasil tindak pidana dan pembayaran ganti kerugian.[⁶]
Dengan demikian, a͟n͟c͟a͟m͟a͟n͟ h͟u͟k͟u͟m͟a͟n͟ p͟e͟m͟a͟l͟s͟u͟a͟n͟ d͟o͟k͟u͟m͟e͟n͟ b͟a͟g͟i͟ p͟͟e͟͟l͟͟a͟͟k͟͟u͟͟, s͟e͟l͟a͟i͟n͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟j͟e͟r͟a͟t͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ p͟a͟s͟a͟l͟ p͟e͟m͟a͟l͟s͟u͟a͟n͟ s͟u͟r͟a͟t͟ d͟a͟l͟a͟m͟ K͟U͟H͟P͟ d͟a͟n͟ U͟U͟ 1/2023 j͟u͟g͟a͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟j͟e͟r͟a͟t͟ P͟a͟s͟a͟l͟ 66 j͟o͟. P͟a͟s͟a͟l͟ 68 U͟U͟ P͟D͟P͟ dengan ancaman pidana penjara paling lama 6 tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp6 miliar.
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat dan dapat dijadikan pembelajaran untuk kita semua terlebih untuk penanya dan Paralegal ubklawyers pada khususnya.
D͟a͟s͟a͟r͟ H͟u͟k͟u͟m͟:
- Kitab Undang Undang Hukum Pidana;
- Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan;
- Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi;
- Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.
Artikel ini adalah pemutakhiran kedua dengan judul Nekat Buat KK Palsu, Ini Jerat Hukumnya. Yang dibuat oleh Dimas Hutomo, S.H. dan dipublikasikan pertama kali pada Rabu, 14 November 2018, dan dimutakhirkan pada Rabu, 2 November 2022. Dipublikasikan kedua oleh “..Hukumonline.com..” pada tanggal 29 September 2023. Dan diteruskan oleh ubklawyers pada tanggal 31 Agustus 2025.
Seluruh Informasi Hukum yang ada di LBH-UMAR BIN KHATTAB disiapkan semata-mata untuk t͟͟͟u͟͟͟j͟͟͟u͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟ p͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, p͟e͟m͟b͟e͟l͟a͟j͟a͟r͟a͟n͟ dan b͟e͟r͟s͟i͟f͟a͟t͟ u͟m͟u͟m͟. Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan Pengacara, Konsultan Hukum dan/atau Paralegal UBK LAWYERS.
Sedang menghadapi permasalahan hukum? A͟j͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟t͟a͟n͟y͟a͟a͟n͟ melalui email, telepon atau chat.👇🏼
Email:
ubklawyer@gmail.com
Telepon/Chat:
089666552118
Berkenan G͟a͟b͟u͟n͟g͟ G͟r͟o͟u͟p͟, untuk jadi bagian Keluarga Besar UBK LAWYERS. Klik link dibawah.👇🏼
I͟K͟U͟T͟I͟ W͟h͟a͟t͟s͟A͟p͟p͟ C͟h͟a͟n͟n͟e͟l͟ LBH-UMAR BIN KHATTAB. Untuk memperkaya Riset Hukum Anda, klik link dibawah.👇🏼
🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸
#cerdashukum
#studylawtogether
#ubklawyers
