OLeh: SuhaelI Nawawi, Pembina Yayasan Wiralodra Indramayu (YWI)
INDRAMAYU — Bayangkan seorang anak SMP duduk di bangku kelas IX. Di wajahnya tergambar raut malu ketika diminta membaca sebaris kalimat di papan tulis. Teman-temannya tertawa kecil. Guru terdiam. Bagaimana mungkin anak ini sudah dua kali naik kelas, tetapi masih kesulitan membaca?
Pertanyaan yang lebih menohok: di mana kita selama ini?
Mastery Learning yang Tersia-siakan
Sejak lama, kurikulum kita sebenarnya sudah menyiapkan jalan keluar. Ada Kompetensi Dasar (KD) yang merinci keterampilan inti yang wajib dikuasai siswa. Dari KD, lahirlah tujuan pembelajaran yang harus diterjemahkan guru ke dalam kegiatan di kelas. Dan untuk memastikan semua tercapai, tersedia instrumen evaluasi. Semua ini lalu dirangkum dalam satuan pembelajaran (satpem).
Artinya, jika setiap komponen dijalankan dengan benar—dari perencanaan hingga evaluasi—seharusnya tidak mungkin ada lulusan SD yang masih buta baca-tulis.
Benjamin Bloom, pencetus konsep mastery learning, menegaskan:
“Almost all students can learn all important school content, if given enough time and appropriate instruction.”
(Hampir semua siswa dapat mempelajari materi penting di sekolah, jika diberi waktu dan instruksi yang sesuai.)
Mengapa Tetap Gagal?
Namun realitas di lapangan berbeda. Ada guru yang mengejar target administrasi, bukan pemahaman siswa. Ada kelas yang penuh sesak sehingga atensi personal mustahil dilakukan. Ada pula budaya “naik kelas otomatis” yang membuat kompetensi dasar terabaikan.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Anwar Makarim, pernah mengingatkan:
“Fokus kita bukan hanya pada administrasi, tapi memastikan setiap anak menguasai kompetensi dasar literasi dan numerasi. Kalau tidak, mereka akan kesulitan belajar di jenjang berikutnya.”
Sistem kita seolah lebih mementingkan kecepatan dibandingkan ketuntasan. Anak-anak dipaksa naik kelas demi “mengikuti irama kalender”, bukan demi memastikan fondasi mereka kuat. Inilah yang kemudian meledak jadi masalah besar di jenjang SMP: murid-murid kita ada yang sudah “dewasa kelas”, tetapi masih bayi literasi.
Mastery Learning: Bukan Pilihan, tapi Keharusan
Mastery learning adalah filosofi bahwa semua anak bisa belajar, asal diberi waktu dan kesempatan cukup. Bukan berarti semua anak harus pintar sekaligus, melainkan bahwa setiap anak punya hak untuk tuntas di levelnya masing-masing sebelum melangkah ke materi selanjutnya.
Ki Hadjar Dewantara sudah lama mengingatkan:
“Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat menuntun tumbuhnya kodrat itu.”
Jika konsep ini benar-benar dijalankan:
Guru memastikan KD tercapai sebelum memberi nilai.
Tujuan pembelajaran diukur secara realistis, bukan sekadar formalitas.
Evaluasi menjadi cermin pembelajaran, bukan sekadar angka di rapor.
Satpem jadi panduan nyata, bukan hanya dokumen administrasi untuk memenuhi inspeksi.
Maka, kasus siswa SMP yang tidak bisa baca-tulis tidak akan terjadi.
Mengembalikan Martabat Pendidikan
Naik kelas seharusnya bukan sekadar seremoni tahunan. Itu adalah pengakuan bahwa anak sudah menguasai ilmu di tahap sebelumnya.
Pakar pendidikan Darmaningtyas menulis:
“Banyaknya anak yang naik kelas tanpa menguasai kompetensi dasar hanyalah menunjukkan bahwa kita sedang mempertahankan sistem yang rapuh. Kita lebih takut dianggap gagal ketimbang jujur pada realitas mutu.”
Ketika kita meluluskan anak yang belum bisa membaca, kita bukan hanya menipu mereka—kita juga menipu diri sendiri sebagai bangsa.
Penutup
Jika setiap guru menjalankan kurikulum sebagaimana mestinya—dengan kesungguhan, kepekaan, dan keberanian menuntaskan pembelajaran—maka tak perlu ada lagi headline miris tentang murid SMP yang masih buta huruf.
Karena pada akhirnya, naik kelas bukan soal usia, bukan soal waktu, melainkan soal penguasaan. Dan ketika kita berani menegakkan prinsip itu, kita sedang mengembalikan makna sejati pendidikan.
