INDRAMAYU — PERTANYAAN
Beberapa waktu lalu, sering diberitakan mengenai oknum ormas yang banyak melakukan tindakan pemerasan terhadap perusahaan untuk meminta THR. Pemaksaan meminta THR ini tidak jarang dibarengi dengan kekerasan. Lantas, bagaimana jerat hukum ormas yang memaksa meminta THR?
Atas penjelasannya diucapkan terimakasih dan untuk ubklawyers beserta Paralegalnya semoga diberikan kelancaran rejeki dan keselamatan dunia-akhirat. Aamiin.
H. Nori – Ormas GR.. JAYA
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
“INTISARI JAWABAN”
ᴼʳᵍᵃⁿⁱˢᵃˢⁱ ᴹᵃˢʸᵃʳᵃᵏᵃᵗ (“ᴼʳᵐᵃˢ”) ᵃᵈᵃˡᵃʰ ᵒʳᵍᵃⁿⁱˢᵃˢⁱ ʸᵃⁿᵍ ᵈⁱᵈⁱʳⁱᵏᵃⁿ ᵈᵃⁿ ᵈⁱᵇᵉⁿᵗᵘᵏ ᵒˡᵉʰ ᵐᵃˢʸᵃʳᵃᵏᵃᵗ ˢᵉᶜᵃʳᵃ ˢᵘᵏᵃʳᵉˡᵃ ᵇᵉʳᵈᵃˢᵃʳᵏᵃⁿ ᵏᵉˢᵃᵐᵃᵃⁿ ᵃˢᵖⁱʳᵃˢⁱ, ᵏᵉʰᵉⁿᵈᵃᵏ, ᵏᵉᵇᵘᵗᵘʰᵃⁿ, ᵏᵉᵖᵉⁿᵗⁱⁿᵍᵃⁿ, ᵏᵉᵍⁱᵃᵗᵃⁿ, ᵈᵃⁿ ᵗᵘʲᵘᵃⁿ ᵘⁿᵗᵘᵏ ᵇᵉʳᵖᵃʳᵗⁱˢⁱᵖᵃˢⁱ ᵈᵃˡᵃᵐ ᵖᵉᵐᵇᵃⁿᵍᵘⁿᵃⁿ ᵈᵉᵐⁱ ᵗᵉʳᶜᵃᵖᵃⁱⁿʸᵃ ᵗᵘʲᵘᵃⁿ ᴺᵉᵍᵃʳᵃ ᴷᵉˢᵃᵗᵘᵃⁿ ᴿᵉᵖᵘᵇˡⁱᵏ ᴵⁿᵈᵒⁿᵉˢⁱᵃ ʸᵃⁿᵍ ᵇᵉʳᵈᵃˢᵃʳᵏᵃⁿ ᴾᵃⁿᶜᵃˢⁱˡᵃ ᵈᵃⁿ ᵁᵁᴰ ¹⁹⁴⁵.
ᵀⁱⁿᵈᵃᵏᵃⁿ ᵃⁿᵍᵍᵒᵗᵃ ᵒʳᵐᵃˢ ʸᵃⁿᵍ ᵐᵉᵐᵃᵏˢᵃ ᵐⁱⁿᵗᵃ ᵗᵘⁿʲᵃⁿᵍᵃⁿ ʰᵃʳⁱ ʳᵃʸᵃ (“ᵀᴴᴿ”) ᵏᵉᵖᵃᵈᵃ ᵖᵉʳᵘˢᵃʰᵃᵃⁿ ᵈⁱˢᵉʳᵗᵃⁱ ᵈᵉⁿᵍᵃⁿ ᵏᵉᵏᵉʳᵃˢᵃⁿ ᵗᵉˡᵃʰ ᵐᵉˡᵃⁿᵍᵍᵃʳ ᵃᵗᵘʳᵃⁿ ˡᵃʳᵃⁿᵍᵃⁿ ᵒʳᵐᵃˢ, ʸᵃⁱᵗᵘ ˡᵃʳᵃⁿᵍᵃⁿ ᵘⁿᵗᵘᵏ ᵐᵉˡᵃᵏᵘᵏᵃⁿ ᵗⁱⁿᵈᵃᵏᵃⁿ ᵏᵉᵏᵉʳᵃˢᵃⁿ, ᵐᵉⁿᵍᵍᵃⁿᵍᵍᵘ ᵏᵉᵗᵉⁿᵗʳᵃᵐᵃⁿ ᵈᵃⁿ ᵏᵉᵗᵉʳᵗⁱᵇᵃⁿ ᵘᵐᵘᵐ, ᵃᵗᵃᵘ ᵐᵉʳᵘˢᵃᵏ ᶠᵃˢⁱˡⁱᵗᵃˢ ᵘᵐᵘᵐ ᵈᵃⁿ ᶠᵃˢⁱˡⁱᵗᵃˢ ˢᵒˢⁱᵃˡ.
ᴸᵃⁿᵗᵃˢ, ᵇᵃᵍᵃⁱᵐᵃⁿᵃ ˢᵃⁿᵏˢⁱ ᵖⁱᵈᵃⁿᵃⁿʸᵃ?
ᴾᵉⁿʲᵉˡᵃˢᵃⁿ ˡᵉᵇⁱʰ ˡᵃⁿʲᵘᵗ ᵈᵃᵖᵃᵗ ᴬⁿᵈᵃ ᵇᵃᶜᵃ ᵘˡᵃˢᵃⁿ ᵈⁱ ᵇᵃʷᵃʰ ⁱⁿⁱ.
ULASAN SELENGKAPNYA;
Terimakasih atas pertanyaan Anda.
Artikel ini dibuat berdasarkan KUHP lama dan UU 1/2023 tentang KUHP yang diundangkan pada tanggal 2 Januari 2023.
Siapa yang Berhak Mendapatkan THR?
Perlu diketahui sebelumnya, yang dimaksud dengan tunjangan hari raya (“THR”), adalah p͟e͟n͟d͟a͟p͟a͟t͟a͟n͟ n͟o͟n͟ u͟p͟a͟h͟ y͟a͟n͟g͟ w͟a͟j͟i͟b͟ d͟i͟b͟a͟y͟a͟r͟k͟a͟n͟ o͟l͟e͟h͟ p͟e͟n͟g͟u͟s͟a͟h͟a͟ k͟e͟p͟a͟d͟a͟ p͟͟e͟͟k͟͟e͟͟r͟͟j͟͟a͟͟/b͟u͟r͟u͟h͟ a͟t͟a͟u͟ k͟e͟l͟u͟a͟r͟g͟a͟n͟y͟a͟ m͟e͟n͟j͟e͟l͟a͟n͟g͟ h͟a͟r͟i͟ r͟a͟y͟a͟ k͟͟e͟͟a͟͟g͟͟a͟͟m͟͟a͟͟a͟͟n͟͟.[¹]
Siapa yang mendapatkan THR? Merujuk Pasal 2 angka 1 Permenaker 6/2016, p͟e͟n͟g͟u͟s͟a͟h͟a͟ w͟a͟j͟i͟b͟ m͟e͟m͟b͟e͟r͟i͟k͟a͟n͟ T͟H͟R͟ k͟e͟a͟g͟a͟m͟a͟a͟n͟ k͟e͟p͟a͟d͟a͟ p͟͟e͟͟k͟͟e͟͟r͟͟j͟͟a͟͟/b͟u͟r͟u͟h͟ y͟a͟n͟g͟ t͟e͟l͟a͟h͟ m͟e͟m͟p͟u͟n͟y͟a͟i͟ m͟a͟s͟a͟ k͟e͟r͟j͟a͟ 1 b͟u͟l͟a͟n͟ s͟e͟c͟a͟r͟a͟ t͟e͟r͟u͟s͟ m͟e͟n͟e͟r͟u͟s͟ a͟t͟a͟u͟ l͟͟e͟͟b͟͟i͟͟h͟͟.
Lebih lanjut, T͟H͟R͟ k͟e͟a͟g͟a͟m͟a͟a͟n͟ i͟n͟i͟ d͟i͟b͟e͟r͟i͟k͟a͟n͟ k͟e͟p͟a͟d͟a͟ p͟͟e͟͟k͟͟e͟͟r͟͟j͟͟a͟͟/b͟u͟r͟u͟h͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟m͟p͟u͟n͟y͟a͟i͟ h͟u͟b͟u͟n͟g͟a͟n͟ k͟e͟r͟j͟a͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ p͟e͟n͟g͟u͟s͟a͟h͟a͟ b͟e͟r͟d͟a͟s͟a͟r͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟j͟a͟n͟j͟i͟a͟n͟ k͟e͟r͟j͟a͟ w͟a͟k͟t͟u͟ t͟i͟d͟a͟k͟ t͟e͟r͟t͟e͟n͟t͟u͟ (“P͟͟K͟͟W͟͟T͟͟T͟͟”) a͟t͟a͟u͟ p͟e͟r͟j͟a͟n͟j͟i͟a͟n͟ k͟e͟r͟j͟a͟ w͟a͟k͟t͟u͟ t͟e͟r͟t͟e͟n͟t͟u͟ (“P͟K͟W͟T͟”).
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa yang berhak mendapatkan THR adalah pekerja/buruh dari pengusaha berdasarkan PKWTT atau PKWT. A͟r͟t͟i͟n͟y͟a͟ d͟a͟l͟a͟m͟ m͟e͟m͟b͟e͟r͟i͟k͟a͟n͟ T͟H͟R͟ h͟a͟r͟u͟s͟ t͟e͟r͟d͟a͟p͟a͟t͟ h͟u͟b͟u͟n͟g͟a͟n͟ k͟͟e͟͟r͟͟j͟͟a͟͟, yaitu hubungan antara pengusaha dengan pekerja/buruh berdasarkan perjanjian kerja, yang mempunyai unsur pekerjaan, upah, dan perintah.[²]
Oleh karena itu, bagi anggota organisasi masyarakat (“Ormas”), selama tidak memiliki hubungan kerja dengan pengusaha, maka “tidak memiliki hak” untuk meminta THR kepada pengusaha.
Hukumnya Memaksa Meminta THR
Untuk menjawab pertanyaan Anda mengenai oknum anggota ormas yang meminta THR diiringi kekerasan, kami akan merujuk terlebih dahulu pada UU Ormas dan perubahannya. Perlu diketahui yang dimaksud dengan O͟r͟m͟a͟s͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ o͟r͟g͟a͟n͟i͟s͟a͟s͟i͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟d͟i͟r͟i͟k͟a͟n͟ d͟a͟n͟ d͟i͟b͟e͟n͟t͟u͟k͟ o͟l͟e͟h͟ m͟a͟s͟y͟a͟r͟a͟k͟a͟t͟ s͟e͟c͟a͟r͟a͟ s͟u͟k͟a͟r͟e͟l͟a͟ b͟e͟r͟d͟a͟s͟a͟r͟k͟a͟n͟ k͟e͟s͟a͟m͟a͟a͟n͟ a͟͟s͟͟p͟͟i͟͟r͟͟a͟͟s͟͟i͟͟, k͟͟e͟͟h͟͟e͟͟n͟͟d͟͟a͟͟k͟͟, k͟͟e͟͟b͟͟u͟͟t͟͟u͟͟h͟͟a͟͟n͟͟, k͟͟e͟͟p͟͟e͟͟n͟͟t͟͟i͟͟n͟͟g͟͟a͟͟n͟͟, k͟e͟g͟i͟a͟t͟a͟n͟ d͟a͟n͟ t͟u͟j͟u͟a͟n͟ u͟n͟t͟u͟k͟ b͟e͟r͟p͟a͟r͟t͟i͟s͟i͟p͟a͟s͟i͟ d͟a͟l͟a͟m͟ p͟e͟m͟b͟a͟n͟g͟u͟n͟a͟n͟ d͟e͟m͟i͟ t͟e͟r͟c͟a͟p͟a͟i͟n͟y͟a͟ t͟u͟j͟u͟a͟n͟ N͟e͟g͟a͟r͟a͟ K͟e͟s͟a͟t͟u͟a͟n͟ R͟e͟p͟u͟b͟l͟i͟k͟ I͟n͟d͟o͟n͟e͟s͟i͟a͟ y͟a͟n͟g͟ b͟e͟r͟d͟a͟s͟a͟r͟k͟a͟n͟ P͟a͟n͟c͟a͟s͟i͟l͟a͟ d͟a͟n͟ UUD 1945.[³]
Dalam menjalankan kegiatannya, terdapat larangan bagi anggota Ormas sebagaimana diatur pada Pasal 59 Perppu Ormas. Salah satunya, yaitu melakukan tindakan kekerasan, mengganggu ketentraman dan ketertiban umum, atau merusak fasilitas umum dan fasilitas sosial.[4]
Menurut hemat kami, tindakan oknum ormas yang memaksa meminta THR kepada perusahaan diiringi dengan kekerasan telah melanggar larangan di atas. Terhadap pelanggaran tersebut ormas dapat dijatuhi sanksi administratif dan/atau sanksi pidana.[⁵]
Sanksi administratif ini terdiri atas:[⁶]
- peringatan tertulis;
- penghentian kegiatan; dan/atau
- pencabutan surat keterangan terdaftar atau pencabutan status badan hukum.
Sedangkan, sanksi pidana terhadap pelanggaran larangan tindakan kekerasan, mengganggu ketentraman dan ketertiban umum, atau merusak fasilitas umum dan fasilitas sosial dapat merujuk pada ketentuan Pasal 82A ayat (1) Perppu Ormas, yang berbunyi:
- Setiap orang yang menjadi anggota dan/atau pengurus ormas yang dengan sengaja dan secara langsung melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 ayat (3) huruf c dan huruf d dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 bulan dan paling lama 1 tahun.
Selain dapat dijerat berdasarkan UU Ormas dan perubahannya, oknum anggota ormas yang memaksa meminta THR juga dapat dijerat berdasarkan Pasal 368 KUHP lama yang masih berlaku pada saat artikel ini diterbitkan dan Pasal 482 UU 1/2023 tentang KUHP baru yang mulai berlaku 3 tahun terhitung sejak tanggal diundangkan,[⁷] yaitu tahun 2026, yang berbunyi:
Pasal 368 KUHP tentang Ancaman Pemerasan dan Kekerasan
- Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau
- orang lain secara melawan hukum, memaksa seorang dengan kekerasan
- atau ancaman kekerasan untuk memberikan barang sesuatu, yang seluruhnya atau sebagian adalah kepunyaan orang itu orang lain, atau supaya membuat hutang maupun menghapuskan piutang, diancam karena pemerasan, dengan pidana penjara paling lama 9 tahun.
- Ketentuan pasal 365 ayat kedua, ketiga, dan keempat berlaku bagi kejahatan ini
Pasal 482 UU 1/2023 tentang Ancaman Pemerasan dan Kekerasan
- Dipidana pemerasan dengan pidana penjara paling lama 9 tahun, setiap orang yang dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, memaksa orang dengan kekerasan atau ancaman kekerasan untuk:
- Memberikan suatu barang, yang sebagian atau seluruhnya milik orang tersebut atau milik orang lain; atau
- Memberi utang, membuat pengkuan utang, atau menghapuskan piutang.
- Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 479 ayat (2) sampai dengan ayat (4) berlaku juga bagi pemerasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
Terkait dengan Pasal 368 KUHP, R. Soesilo dalam bukunya Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal (hal. 256 – 257) menerangkan bahwa perbuatan dalam pasal ini dinamakan “pemerasan dengan kekerasan”. Pemerasan itu pekerjaannya:
- memaksa orang lain;
- untuk memberikan barang yang sama sekali atau sebagian termasuk kepunyaan orang itu sendiri atau kepunyaan orang lain, atau membuat utang atau menghapuskan piutang;
- dengan maksud hendak menguntungkan diri sendiri atau orang lain dengan melawan hak;
- memaksanya dengan memakai kekerasan atau ancaman kekerasan.
Perlu diingat bahwa kekerasan di sini adalah mempergunakan tenaga atau kekuatan jasmani tidak kecil secara yang tidak sah, misalnya memukul dengan tangan atau dengan segala macam senjata, menyepak menendang dan sebagainya.[⁸]
Selain itu, Penjelasan Pasal 482 UU 1/2023 menerangkan bahwa p͟a͟k͟s͟a͟a͟n͟ d͟a͟l͟a͟m͟ k͟e͟t͟e͟n͟t͟u͟a͟n͟ i͟n͟i͟ l͟e͟b͟i͟h͟ b͟e͟r͟s͟i͟f͟a͟t͟ p͟a͟k͟s͟a͟a͟n͟ f͟i͟s͟i͟k͟ a͟t͟a͟u͟ l͟͟a͟͟h͟͟i͟͟r͟͟i͟͟a͟͟h͟͟, antara lain, dengan todongan senjata tajam atau senjata api. Kekerasan atau ancaman kekerasan dalam pasal ini tidak harus ditujukan pada orang yang diminta untuk memberikan barang, membuat uang, atau menghapuskan piutang, tetapi d͟a͟p͟a͟t͟ j͟u͟g͟a͟ d͟i͟t͟u͟j͟u͟k͟a͟n͟ p͟a͟d͟a͟ o͟r͟a͟n͟g͟ l͟͟a͟͟i͟͟n͟͟, m͟i͟s͟a͟l͟n͟y͟a͟ t͟e͟r͟h͟a͟d͟a͟p͟ a͟͟n͟͟a͟͟k͟͟, a͟t͟a͟u͟ i͟s͟t͟r͟i͟ a͟t͟a͟u͟ s͟͟u͟͟a͟͟m͟͟i͟͟.
P͟e͟r͟l͟u͟ d͟͟i͟͟c͟͟a͟͟t͟͟a͟͟t͟͟, m͟e͟m͟a͟k͟s͟a͟ m͟e͟l͟i͟p͟u͟t͟i͟ p͟e͟m͟a͟k͟s͟a͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ b͟e͟r͟h͟a͟s͟i͟l͟ m͟a͟u͟p͟u͟n͟ g͟͟a͟͟g͟͟a͟͟l͟͟. O͟l͟e͟h͟ k͟a͟r͟e͟n͟a͟ i͟͟t͟͟u͟͟, j͟i͟k͟a͟ p͟e͟m͟e͟r͟a͟s͟a͟n͟ t͟i͟d͟a͟k͟ b͟e͟r͟h͟a͟s͟i͟l͟ a͟t͟a͟u͟ g͟͟a͟͟g͟͟a͟͟l͟͟, p͟e͟l͟a͟k͟u͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ t͟e͟t͟a͟p͟ d͟i͟t͟u͟n͟t͟u͟t͟ b͟e͟r͟d͟a͟s͟a͟r͟k͟a͟n͟ k͟e͟t͟e͟n͟t͟u͟a͟n͟ i͟͟n͟͟i͟͟, b͟u͟k͟a͟n͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ k͟e͟t͟e͟n͟t͟u͟a͟n͟ m͟e͟n͟g͟e͟n͟a͟i͟ p͟͟e͟͟r͟͟c͟͟o͟͟b͟͟a͟͟a͟͟n͟͟.
Oleh karena itu, berdasarkan penjelasan di atas, kami menyimpulkan bahwa a͟n͟g͟g͟o͟t͟a͟ o͟r͟m͟a͟s͟ t͟i͟d͟a͟k͟ b͟e͟r͟h͟a͟k͟ a͟t͟a͟s͟ T͟H͟R͟ s͟e͟l͟a͟m͟a͟ t͟i͟d͟a͟k͟ m͟e͟m͟i͟l͟i͟k͟i͟ h͟u͟b͟u͟n͟g͟a͟n͟ k͟e͟r͟j͟a͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ p͟e͟n͟g͟u͟s͟a͟h͟a͟ a͟t͟a͟u͟ p͟e͟r͟u͟s͟a͟h͟a͟a͟n͟ t͟͟e͟͟r͟͟t͟͟e͟͟n͟͟t͟͟u͟͟. Hal ini karena THR diberikan kepada pekerja/buruh yang mempunyai hubungan kerja dengan pengusaha berdasarkan PKWT dan PKWTT. Selanjutnya, d͟a͟l͟a͟m͟ h͟a͟l͟ m͟e͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ k͟e͟k͟e͟r͟a͟s͟a͟n͟ a͟k͟i͟b͟a͟t͟ m͟e͟m͟a͟k͟s͟a͟ m͟e͟n͟d͟a͟p͟a͟t͟k͟a͟n͟ T͟͟H͟͟R͟͟, m͟a͟k͟a͟ o͟r͟m͟a͟s͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟j͟e͟r͟a͟t͟ s͟a͟n͟k͟s͟i͟ a͟d͟m͟i͟n͟i͟s͟t͟r͟a͟t͟i͟f͟ m͟a͟u͟p͟u͟n͟ p͟e͟n͟j͟a͟t͟u͟h͟a͟n͟ s͟a͟n͟k͟s͟i͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ b͟͟a͟͟g͟͟i͟͟ o͟k͟n͟u͟m͟ a͟n͟g͟g͟o͟t͟a͟ o͟r͟m͟a͟s͟ y͟a͟n͟g͟ b͟e͟r͟t͟i͟n͟d͟a͟k͟ d͟e͟m͟i͟k͟i͟a͟n͟ b͟e͟r͟d͟a͟s͟a͟r͟k͟a͟n͟ U͟U͟ o͟r͟m͟a͟s͟ d͟a͟n͟ p͟͟e͟͟r͟͟u͟͟b͟͟a͟͟h͟͟a͟͟n͟͟n͟͟y͟͟a͟͟. Selain itu, o͟k͟n͟u͟m͟ a͟n͟g͟g͟o͟t͟a͟ o͟r͟m͟a͟s͟ j͟u͟g͟a͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟a͟n͟c͟a͟m͟ p͟͟i͟͟d͟͟a͟͟n͟͟a͟͟ sesuai ketentuan Pasal 368 KUHP lama dan Pasal 482 UU 1/2023.
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat dan dapat dijadikan pembelajaran untuk kita semua terkhusus untuk penanya dan Paralegal ubklawyers pada umumnya.
D͟a͟s͟a͟r͟ H͟u͟k͟u͟m͟:
- Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
- Kitab Undang-Undang Hukum Pidana;
- Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan;
- Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan;
- Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan;
- Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2017 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan Menjadi Undang-Undang;
- Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja;
- Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja Menjadi Undang-Undang;
- Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana;
- Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 6 Tahun 2016 tentang Tunjangan Hari Keagamaan Bagi Pekerja/Buruh di Perusahaan.
Artikel ini dibuat oleh Muhammad Raihan Nugraha. SH, dipublikasikan “..Hukumonline.com..” dengan judul Jerat Hukum Anggota Ormas yang Memaksa Minta THR pada tanggal 25 Maret 2025. Dan diteruskan oleh ubklawyers pada tanggal 20 Mei 2025.
Seluruh Informasi Hukum yang ada di LBH-UMAR BIN KHATTAB disiapkan semata-mata untuk t͟͟͟u͟͟͟j͟͟͟u͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟ p͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, p͟e͟m͟b͟e͟l͟a͟j͟a͟r͟a͟n͟ dan b͟e͟r͟s͟i͟f͟a͟t͟ u͟m͟u͟m͟. Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan Pengacara, Konsultan Hukum dan/atau Paralegal UBK LAWYERS.
Sedang menghadapi permasalahan hukum? A͟j͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟t͟a͟n͟y͟a͟a͟n͟ melalui email, telepon atau chat.👇🏼
Email:
ubklawyer@gmail.com
Telepon/Chat:
089666552118
Berkenan G͟a͟b͟u͟n͟g͟ G͟r͟o͟u͟p͟, untuk jadi bagian Keluarga Besar UBK LAWYERS. Klik link dibawah.👇🏼
I͟K͟U͟T͟I͟ W͟h͟a͟t͟s͟A͟p͟p͟ C͟h͟a͟n͟n͟e͟l͟ LBH-UMAR BIN KHATTAB. Untuk memperkaya Riset Hukum Anda, klik link dibawah.👇🏼
🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸
#cerdashukum
#studylawtogether
#ubklawyers

