INDRAMAYU — Pertanyaan:
Apa perbedaan hak cipta dan desain industri? Penggunaan lambang Garuda Pancasila pada produk yang diperdagangkan lebih cocok dikaitkan dengan pelanggaran hak cipta atau desain industri? Apakah hal tersebut tak boleh dilakukan? Terimakasih.
Maman – Majalengka
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
“Intisari Jawaban”
ᴬʷᵃˡⁿʸᵃ, ˡᵃᵐᵇᵃⁿᵍ ᴳᵃʳᵘᵈᵃ ᴾᵃⁿᶜᵃˢⁱˡᵃ ᵈⁱˡᵃʳᵃⁿᵍ ᵘⁿᵗᵘᵏ ᵈⁱᵍᵘⁿᵃᵏᵃⁿ ᵘⁿᵗᵘᵏ ᵏᵉᵖᵉʳˡᵘᵃⁿ ˢᵉˡᵃⁱⁿ ʸᵃⁿᵍ ᵈⁱᵃᵗᵘʳ ᵈᵃˡᵃᵐ ᵁⁿᵈᵃⁿᵍ-ᵁⁿᵈᵃⁿᵍ ᴺᵒᵐᵒʳ ²⁴ ᵀᵃʰᵘⁿ ²⁰⁰⁹ ᵗᵉⁿᵗᵃⁿᵍ ᴮᵉⁿᵈᵉʳᵃ, ᴮᵃʰᵃˢᵃ ᵈᵃⁿ ᴸᵃᵐᵇᵃⁿᵍ ᴷᵉᵇᵃⁿᵍˢᵃᵃⁿ. ᴾᵉˡᵃᵏᵘ ʸᵃⁿᵍ ᵐᵉˡᵃⁿᵍᵍᵃʳ ᵏᵉᵗᵉⁿᵗᵘᵃⁿ ˡᵃʳᵃⁿᵍᵃⁿ ⁱⁿⁱ ᵈᵃᵖᵃᵗ ᵈⁱᵖⁱᵈᵃⁿᵃ ᵈᵉⁿᵍᵃⁿ ᵖⁱᵈᵃⁿᵃ ᵖᵉⁿʲᵃʳᵃ ᵖᵃˡⁱⁿᵍ ˡᵃᵐᵃ ˢᵃᵗᵘ ᵗᵃʰᵘⁿ ᵃᵗᵃᵘ ᵈᵉⁿᵈᵃ ᵖᵃˡⁱⁿᵍ ᵇᵃⁿʸᵃᵏ ᴿᵖ¹⁰⁰ ʲᵘᵗᵃ.
ᴺᵃᵐᵘⁿ, ᴹᵃʰᵏᵃᵐᵃʰ ᴷᵒⁿˢᵗⁱᵗᵘˢⁱ ᵗᵉˡᵃʰ ᵐᵉⁿʸᵃᵗᵃᵏᵃⁿ ᵇᵃʰʷᵃ ᵏᵉᵗᵉⁿᵗᵘᵃⁿ ᵗᵉʳˢᵉᵇᵘᵗ ⁱⁿᵏᵒⁿˢᵗⁱᵗᵘˢⁱᵒⁿᵃˡ ᵈᵃⁿ ᵗⁱᵈᵃᵏ ᵇᵉʳᵏᵉᵏᵘᵃᵗᵃⁿ ʰᵘᵏᵘᵐ ᵐᵉⁿᵍⁱᵏᵃᵗ, ˢᵉʰⁱⁿᵍᵍᵃ ˢⁱᵃᵖᵃ ˢᵃʲᵃ ᵏⁱⁿⁱ ᵈᵃᵖᵃᵗ ᵐᵉⁿᵍᵍᵘⁿᵃᵏᵃⁿ ˡᵃᵐᵇᵃⁿᵍ ᴳᵃʳᵘᵈᵃ ᴾᵃⁿᶜᵃˢⁱˡᵃ, ᵗᵉʳᵐᵃˢᵘᵏ ᵘⁿᵗᵘᵏ ᵖʳᵒᵈᵘᵏ ʸᵃⁿᵍ ᵈⁱᵖᵉʳᵈᵃᵍᵃⁿᵍᵏᵃⁿ.
ᴾᵉⁿʲᵉˡᵃˢᵃⁿ ˢᵉˡᵉⁿᵍᵏᵃᵖⁿʸᵃ ᵈᵃᵖᵃᵗ ᴬⁿᵈᵃ ᵇᵃᶜᵃ ᵘˡᵃˢᵃⁿ ᵈⁱ ᵇᵃʷᵃʰ ⁱⁿⁱ.
Ulasan selengkapnya;
Terimakasih atas pertanyaan Anda.
Hak Cipta dan Hak Desain Industri
Antara hak cipta dan desain industri memiliki banyak sekali perbedaan. Akan tetapi, di sini kami akan memberikan beberapa perbedaan saja antara hak cipta dengan desain industri.
Hak cipta diatur dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta (“UUHC”), sedangkan desain industri diatur dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2000 tentang Desain Industri (“UU 31/2000”).
Perbedaan lainnya, lebih lanjut diterangkan dalam tabel ini:
Perbedaan Hak Cipta dan Hak Desain Industri:
1. P͟e͟r͟b͟e͟d͟a͟a͟n͟ H͟a͟k͟ C͟͟i͟͟p͟͟t͟͟a͟͟:
Definisi:
- Hak Cipta adalah hak eksklusif pencipta yang timbul secara otomatis berdasarkan prinsip deklaratif, setelah suatu ciptaan diwujudkan dalam bentuk nyata tanpa mengurangi pembatasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (Pasal 1 angka 1 UUHC).
D͟e͟f͟i͟n͟i͟s͟i͟:
- Ciptaan setiap hasil karya di bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra yang dihasilkan atas inspirasi, kemampuan, pikiran, imajinasi, kecekatan, keterampilan atau keahlian yang diekspresikan dalam bentuk nyata. (Pasal 1 angka 3 UUHC). Timbulnya:
- ᴴᵃᵏ ᶜⁱᵖᵗᵃ ᵗⁱᵐᵇᵘˡ ˢᵉᶜᵃʳᵃ ᵒᵗᵒᵐᵃᵗⁱˢ ᵇᵉʳᵈᵃˢᵃʳᵏᵃⁿ ᵖʳⁱⁿˢⁱᵖ ᵈᵉᵏˡᵃʳᵃᵗⁱᶠ ˢᵉᵗᵉˡᵃʰ ˢᵘᵃᵗᵘ ᶜⁱᵖᵗᵃᵃⁿ ᵈⁱʷᵘʲᵘᵈᵏᵃⁿ ᵗᵃⁿᵖᵃ ᵖᵉʳˡᵘ ᵖᵉⁿᵈᵃᶠᵗᵃʳᵃⁿ.
2. P͟e͟r͟b͟e͟d͟a͟a͟n͟ H͟a͟k͟ D͟e͟s͟a͟i͟n͟ I͟͟͟n͟͟͟d͟͟͟u͟͟͟s͟͟͟t͟͟͟r͟͟͟i͟͟͟.
Definisi:
- Hak desain industri adalah hak eksklusif yang diberikan oleh negara Indonesia kepada pendesain atas hasil kreasinya untuk selama waktu tertentu melaksanakan sendiri, atau memberikan persetujuanya kepada pihak lain untuk melaksanakan hak tersebut. (Pasal 1 angka 5 UU 31/2000).
D͟e͟f͟i͟n͟i͟s͟i͟:
- Desain industri adalah suatu kreasi tentang bentuk, konfigurasi, atau komposisi garis atau warna, atau garis dan warna, atau gabungan dari padanya yang berbentuk tiga dimensi atau dua dimensi yang memberikan kesan estetis dan dapat diwujudkan dalam pola tiga dimensi atau dua dimensi serta dapat dipakai untuk menghasilkan suatu produk, barang, komoditas industri, atau kerajinan tangan. (Pasal 1 angka 1 UU 31/2000).
Timbulnya:
- ᴴᵃᵏ ᴰᵉˢᵃⁱⁿ ⁱⁿᵈᵘˢᵗʳⁱ ᵈⁱᵇᵉʳⁱᵏᵃⁿ ᵃᵗᵃˢ ᵈᵃˢᵃʳ ᵖᵉʳᵐᵒʰᵒⁿᵃⁿ (ᴾᵃˢᵃˡ ¹⁰ ᵁᵁ ³¹/²⁰⁰⁰)
Penggunaan Lambang Negara pada Produk Dagang
Namun harus diingat, sesuai ketentuan Pasal 1 angka 2 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan (“UU 24/2009”), Garuda Pancasila dengan semboyan ‘Bhinneka Tunggal Ika’ merupakan lambang negara Indonesia.
Karena itu, kita sebaiknya lebih melihat pada ketentuan dalam UU 24/2009. Khususnya, terkait penggunaan lambang Garuda Pancasila.
Dalam Pasal 46 UU 24/2009, dijelaskan bahwa lambang negara Indonesia berbentuk Garuda Pancasila yang kepalanya menoleh lurus ke sebelah kanan, perisai berupa jantung yang digantung dengan rantai pada leher Garuda, dan semboyan ‘Bhinneka Tunggal Ika’ ditulis di atas pita yang dicengkeram oleh Garuda.
Lebih lanjut, dalam Pasal 52 UU 24/2009 diatur bahwa lambang negara dapat digunakan:
a. sebagai cap atau
kop surat jabatan;
b. sebagai cap dinas
untuk kantor;
c. pada kertas
bermeterai;
d. pada surat dan
lencana gelar
pahlawan, tanda
jasa, dan tanda
kehormatan;
e. sebagai lencana
atau atribut pejabat
negara, pejabat
pemerintah atau
warga negara
Indonesia yang
sedang mengemban
tugas negara di luar
negeri;
f. dalam
penyelenggaraan
peristiwa resmi;
g. dalam buku dan
majalah yang
diterbitkan oleh
pemerintah;
h. dalam buku
kumpulan
undang-undang;
dan/atau
i. di rumah warga
negara Indonesia.
Kemudian, a͟w͟a͟l͟n͟y͟a͟ dalam Pasal 57 UU 24/2009 disebutkan sejumlah larangan terkait dengan lambang negara, yang mencakup:
a. mencoret, menulisi,
menggambari, atau
membuat rusak
lambang negara
dengan maksud
menodai, menghina,
atau merendahkan
kehormatan
lambang negara;
b. menggunakan
lambang negara
yang rusak dan tidak
sesuai dengan
bentuk, warna, dan
perbandingan
ukuran;
c. membuat lambang
untuk perseorangan,
partai politik,
perkumpulan,
organisasi dan/atau
perusahaan yang
sama atau
menyerupai lambang
negara; dan
d. menggunakan
lambang negara
untuk keperluan
selain yang
diatur dalam
UU 24/2009 ini.
Atas pelanggaran terhadap larangan tersebut, seseorang dapat dipidana dengan pidana penjara paling lama satu tahun atau denda paling banyak Rp100 juta.[¹]
Namun, Mahkamah Konstitusi melalui Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 4/PUU-X/2012 telah menyatakan bahwa ketentuan Pasal 57 huruf d jo. Pasal 69 huruf c UU 24/2009 terkait larangan penggunaan lambang negara untuk keperluan lain dan sanksi pidananya bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat (hal. 55).
Mahkamah Konstitusi beralasan bahwa secara faktual, lambang negara telah lazim dipergunakan dalam berbagai aktivitas masyarakat (hal. 52).
Semuanya tidak termasuk penggunaan yang wajib maupun yang diizinkan sebagaimana dimaksud oleh Pasal 57 huruf d UU 24/2009 (hal. 52 – 53).
Pancasila, yang dilambangkan dalam bentuk Garuda Pancasila, adalah seperangkat sistem nilai (budaya) yang menjadi milik bersama atau kebudayaan bersama seluruh warga negara Indonesia maka m͟e͟n͟j͟a͟d͟i͟ h͟a͟k͟ w͟a͟r͟g͟a͟ n͟e͟g͟a͟r͟a͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟l͟a͟k͟s͟a͟n͟a͟k͟a͟n͟ n͟͟i͟͟l͟͟a͟͟i͟͟-n͟͟i͟͟l͟͟a͟͟i͟͟n͟y͟a͟ t͟e͟r͟m͟a͟s͟u͟k͟ d͟͟͟i͟͟͟d͟͟͟a͟͟͟l͟͟͟a͟͟͟m͟͟͟n͟y͟a͟ m͟e͟n͟g͟g͟u͟n͟a͟k͟a͟n͟ l͟a͟m͟b͟a͟n͟g͟ n͟͟e͟͟g͟͟a͟͟r͟͟a͟͟. Apalagi jika mengingat bahwa Pancasila sebagai sistem nilai adalah terlahir atau merupakan kristalisasi dari nilai-nilai budaya bangsa Indonesia (hal. 53).
Pembatasan penggunaan lambang negara merupakan bentuk pengekangan ekspresi dan apresiasi warga negara akan identitasnya sebagai warga negara. P͟e͟n͟g͟e͟k͟a͟n͟g͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ d͟e͟m͟i͟k͟i͟a͟n͟ d͟a͟p͟a͟t͟ m͟e͟n͟g͟u͟r͟a͟n͟g͟i͟ r͟a͟s͟a͟ m͟e͟m͟i͟l͟i͟k͟i͟ y͟a͟n͟g͟ a͟d͟a͟ p͟a͟d͟a͟ w͟a͟r͟g͟a͟ n͟e͟g͟a͟r͟a͟ t͟e͟r͟h͟a͟d͟a͟p͟ l͟a͟m͟b͟a͟n͟g͟ n͟e͟g͟a͟r͟a͟n͟y͟a͟ (hal. 53).
Bukan tidak mungkin dalam derajat tertentu mengurangi kadar nasionalisme, yang tentunya justru berlawanan dengan maksud dibentuknya UU 24/2009 (hal. 53).
D͟e͟n͟g͟a͟n͟ d͟͟e͟͟m͟͟i͟͟k͟͟i͟͟a͟͟n͟͟, menurut hemat kami, p͟e͟n͟g͟g͟u͟n͟a͟a͟n͟ l͟a͟m͟b͟a͟n͟g͟ G͟a͟r͟u͟d͟a͟ P͟͟͟͟a͟͟͟͟n͟͟͟͟c͟͟͟͟a͟͟͟͟s͟͟͟͟i͟͟͟͟l͟͟͟͟a͟͟͟ p͟a͟d͟a͟ p͟r͟o͟d͟u͟k͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟p͟e͟r͟d͟a͟g͟a͟n͟g͟k͟a͟n͟ b͟u͟k͟a͟n͟l͟a͟h͟ s͟u͟a͟t͟u͟ m͟͟a͟͟s͟͟a͟͟l͟͟a͟͟h͟͟.
Mahkamah Konstitusi Bebaskan Penggunaan Lambang Negara
B͟e͟r͟d͟a͟s͟a͟r͟k͟a͟n͟ U͟U͟ N͟o͟m͟o͟r͟ 24 T͟a͟h͟u͟n͟ 2009 t͟͟e͟͟n͟͟t͟͟a͟͟n͟͟g͟͟ B͟͟e͟͟n͟͟d͟͟e͟͟r͟͟a͟͟, B͟͟͟a͟͟͟h͟͟͟a͟͟͟s͟͟͟a͟͟͟, d͟a͟n͟ L͟a͟m͟b͟a͟n͟g͟ N͟e͟g͟a͟r͟a͟ s͟e͟r͟t͟a͟ L͟a͟g͟u͟ K͟e͟b͟a͟n͟g͟s͟a͟a͟n͟ (U͟U͟ L͟a͟m͟b͟a͟n͟g͟ N͟͟e͟͟g͟͟a͟͟r͟͟a͟͟). Mahkamah Konstitusi membuat putusan yang menyatakan k͟r͟i͟m͟i͟n͟a͟l͟i͟s͟a͟s͟i͟ a͟t͟a͟s͟ p͟e͟n͟g͟g͟u͟n͟a͟a͟n͟ l͟a͟m͟b͟a͟n͟g͟ n͟͟e͟͟g͟͟a͟͟r͟͟a͟͟ b͟e͟r͟t͟e͟n͟t͟a͟n͟g͟a͟n͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ U͟U͟D͟ 1945.
Putusan ini terkait pengujian Pasal 57 huruf c dan huruf d yang mengatur larangan penggunaan lambang negara.
“Mahkamah Konstitusi membatalkan Pasal 57 huruf d dan Pasal 69 huruf c UU No. 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak memiliki kekuatan hukum mengikat.”
Dalam putusannya, MK menyatakan Pasal 57 huruf c bukan merupakan persoalan kontitusionalitas.
Mahkamah menyatakan secara faktual lambang negara lazim dipergunakan dalam berbagai aktivitas kemasyarakatan. Seperti, d͟i͟s͟e͟m͟a͟t͟k͟a͟n͟ d͟i͟ p͟e͟n͟u͟t͟u͟p͟ k͟͟͟͟e͟͟͟͟p͟͟͟͟a͟͟͟l͟͟͟a͟͟͟, b͟e͟n͟t͟u͟k͟ m͟o͟n͟u͟m͟e͟n͟ a͟t͟a͟u͟ t͟͟u͟͟g͟͟u͟͟, d͟i͟g͟a͟m͟b͟a͟r͟k͟a͟n͟ d͟i͟ b͟͟͟͟a͟͟͟͟j͟͟͟͟u͟͟͟͟ s͟e͟r͟a͟g͟a͟m͟ s͟i͟s͟w͟a͟ s͟͟e͟͟k͟͟o͟͟l͟͟a͟͟h͟͟. Penggunaan lambang negara seperti ini tidak termasuk penggunaan yang wajib maupun yang diizinkan seperti dimaksud Pasal 57 huruf d.
MK berpendapat larangan penggunaan lambang negara dalam Pasal 57 huruf d tidak tepat karena tidak memuat rumusan yang jelas. A͟͟p͟͟a͟͟l͟͟a͟͟g͟͟i͟͟, l͟a͟r͟a͟n͟g͟a͟n͟ i͟t͟u͟ d͟i͟i͟k͟u͟t͟i͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ a͟n͟c͟a͟m͟a͟n͟ p͟͟i͟͟d͟͟a͟͟n͟͟a͟͟. M͟e͟n͟u͟r͟u͟t͟ M͟͟a͟͟h͟͟k͟͟a͟͟m͟͟a͟͟h͟͟, a͟n͟c͟a͟m͟a͟n͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ s͟e͟h͟a͟r͟u͟s͟n͟y͟a͟ m͟e͟m͟e͟n͟u͟h͟i͟ r͟u͟m͟u͟s͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ b͟e͟r͟s͟i͟f͟a͟t͟ j͟e͟l͟a͟s͟ d͟a͟n͟ t͟e͟g͟a͟s͟ (l͟͟e͟͟x͟͟ c͟e͟r͟t͟a͟) t͟͟e͟͟r͟͟t͟͟u͟͟l͟͟i͟͟s͟͟ (l͟e͟x͟ s͟͟͟c͟͟͟r͟͟͟i͟͟͟p͟͟͟t͟͟͟a͟͟͟), d͟a͟n͟ k͟e͟t͟a͟t͟ (l͟e͟x͟ s͟͟t͟͟r͟͟i͟͟c͟͟t͟͟a͟͟).
Mahkamah menyatakan p͟e͟m͟b͟a͟t͟a͟s͟a͟n͟ p͟e͟n͟g͟g͟u͟n͟a͟a͟n͟ l͟a͟m͟b͟a͟n͟g͟ n͟e͟g͟a͟r͟a͟ o͟l͟e͟h͟ m͟a͟s͟y͟a͟r͟a͟k͟a͟t͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ b͟e͟n͟t͟u͟k͟ p͟e͟n͟g͟e͟k͟a͟n͟g͟a͟n͟ e͟͟k͟͟s͟͟p͟͟r͟͟e͟͟s͟͟i͟͟. Pengekangan itu dapat mengurangi rasa memiliki dan mengurangi kadar nasionalisme. Terlebih, l͟͟a͟͟m͟͟b͟͟a͟͟n͟͟g͟͟ G͟a͟r͟u͟d͟a͟ P͟͟a͟͟n͟͟c͟͟a͟͟s͟͟i͟͟l͟͟a͟͟, m͟u͟t͟l͟a͟k͟ m͟e͟n͟j͟a͟d͟i͟ m͟i͟l͟i͟k͟ k͟e͟b͟u͟d͟a͟y͟a͟a͟n͟ b͟e͟r͟s͟a͟m͟a͟ s͟e͟l͟u͟r͟u͟h͟ m͟͟a͟͟s͟͟y͟͟a͟͟r͟͟a͟͟k͟͟a͟͟t͟͟.
“P͟a͟n͟c͟a͟s͟i͟l͟a͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ s͟i͟s͟t͟e͟m͟ n͟͟i͟͟l͟͟a͟͟i͟͟, t͟͟͟͟e͟͟͟͟r͟͟͟͟l͟͟͟͟a͟͟͟͟h͟͟͟͟i͟͟͟͟r͟͟͟͟ m͟e͟r͟u͟p͟a͟k͟a͟n͟ k͟r͟i͟s͟t͟a͟l͟i͟s͟a͟s͟i͟ d͟a͟r͟i͟ n͟i͟l͟a͟i͟-n͟i͟l͟a͟i͟ b͟u͟d͟a͟y͟a͟ b͟a͟n͟g͟s͟a͟ I͟͟n͟͟d͟͟o͟͟n͟͟e͟͟s͟͟i͟͟a͟͟.”
D͟e͟n͟g͟a͟n͟ d͟i͟h͟a͟p͟u͟s͟k͟a͟n͟n͟y͟a͟ P͟a͟s͟a͟l͟ 57 h͟u͟r͟u͟f͟ d͟, m͟a͟k͟a͟ s͟e͟c͟a͟r͟a͟ o͟t͟o͟m͟a͟t͟i͟s͟ b͟e͟r͟l͟a͟k͟u͟n͟y͟a͟ P͟a͟s͟a͟l͟ 69 h͟u͟r͟u͟f͟ c͟. Terdapat hubungan yang erat antara kedua pasal itu sebagai suatu ketentuan hukum yang berlaku, maka pertimbangan hukum Mahkamah terhadap Pasal 57 huruf d tersebut berlaku secara mutatis mutandis (otomatis, red) terhadap Pasal 69 huruf c.
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.
D͟a͟s͟a͟r͟ H͟u͟k͟u͟m͟:
- Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
- Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2000 tentang Desain Industri;
- Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan;
- Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.
Artikel ini merupakan pemutakhiran dari artikel berjudul Penggunaan Lambang Negara di Kaos Armani dari Kacamata Hukum oleh Diana Kusumasari, S.H., M.H., yang terbit pertama kali pada Kamis, 20 Oktober 2011. Dipublikasikan kedua oleh “..Hukumonline.com..” dengan judul Hukumnya Penggunaan Lambang Garuda Pancasila pada Produk Komersial, pada tanggal 22 Juni 2020. Dan diteruskan oleh ubklawyers pada tanggal 15 Maret 2025.
Seluruh Informasi Hukum yang ada di LBH-UMAR BIN KHATTAB disiapkan semata-mata untuk t͟͟͟u͟͟͟j͟͟͟u͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟ p͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, p͟e͟m͟b͟e͟l͟a͟j͟a͟r͟a͟n͟ dan b͟e͟r͟s͟i͟f͟a͟t͟ u͟m͟u͟m͟. Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan Pengacara, Konsultan Hukum dan/atau Paralegal UBK LAWYERS.
Sedang menghadapi permasalahan hukum? A͟j͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟t͟a͟n͟y͟a͟a͟n͟ melalui email, telepon atau chat.
👇🏼
Email:
ubklawyer@gmail.com
Telepon/Chat:
089666552118
Berkenan G͟a͟b͟u͟n͟g͟ G͟r͟o͟u͟p͟, untuk jadi bagian Keluarga Besar UBK LAWYERS. Klik link dibawah.
👇🏼
I͟K͟U͟T͟I͟ W͟h͟a͟t͟s͟A͟p͟p͟ C͟h͟a͟n͟n͟e͟l͟ LBH-UMAR BIN KHATTAB. Untuk memperkaya Riset Hukum Anda, klik link dibawah.
👇🏼
🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸
#cerdashukum
#studylawtogether
#ubklawyers

