
INDRAMAYU, (lintaspanturaindonesia.com) — Atlet bowling National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Kabupaten Indramayu tetsp semangat beratih, meski harus berlatih dengan lapangan seadanya. Mereka tetap gigih dan terus betlatih mempersiapkan diri jelang Peparda VII Jawa Barat (Jabar) 2026 di Kota Bandung.
Keterbatasan fasilitas tidak menyurutkan semangat para atlet disabilitas tetap rutin berlatih dengan memanfaatkan sarana yang ada, sambil terus mengasah akurasi dan fokus.
Mereka berlatih seadanya meski jalur bowling dibuat cukup dengan dengan memasang karpet di dalam GOR Singalodra terletak di Desa/Kecamatan Sindang Kabupaten Indramayu, pada Senin (16/10/2026). Adapun ukuran sesuai standar nasional, yakni dari garis foul hingga pusat headpin memiliki panjang 18,29 meter dan lebar 1,05 meter. Standar inilah yang terus dikejar oleh NPCI Indramayu agar atlet terbiasa dengan kondisi pertandingan sebenarnya.
Adapun resiko yang dihadapi atlet beragam, dari bola bowling yang gampang pecah/retak, imbas lintasan tidak sesuai standar, memasang sendiri pin bowling. Meskipun demikian semangat para atlit tidak patah arang. Mereka menerapkan peribahasa tak ada rotan akar pun jadi.

Dengan kreatifitas mereka membuat jalur bowling seadanya, dan tempat seadanya, mereka semangat mengejar mimpi untuk menjadi yang terbaik guna mengharumkan nama Bumi Wiralodra Indramayu.
Hal itu disampaikan pelatih Tenpin Bowling NPCI Indramayu, M. Ihwan Komara. Ia menjelaskan, pihaknya menyiapkan tiga atlet untuk turun di empat nomor pertandingan, yakni target yang dikejar adalah 3 medali terutama medali Emas dan 2 medali Perak, ucapnya.
Lebih jauh Ihwan Komara mengatakan, ketiga atlet itu, Egi turun di TPB 4 single putra, Sutarno, TPB 10 single putra, Eka TPB 10 single putra, nomor beregu, Eka dan Sutarno di TPB 10 double putra.
“Kelas yang diikuti tim bowling NPCI Indramayu ada empat nomor, dengan target 3 medali, 1 emas dan 2 perak,” ujar Dole sapaan akrabnya di sela-sela latihan para atlit.
Ia menambahkan, semangat atlet menjadi modal utama. Meski fasilitas belum ideal, mental juara terus dibangun. NPCI Indramayu berharap pemerintah dan pihak terkait bisa mendukung pengadaan sarana latihan yang lebih representatif, agar prestasi atlet disabilitas Indramayu bisa semakin maksimal di Peparda mendatang.
Sala satu atlet bernama Sutarno saat ditemui awak media membenarkan bahwa lintasan yang dipakai untuk latihan adalah hasil kreatifitas yang didesain sendiri dengan panjang dan lebar sesuai standar nasional. Keterbatasan lintasan alakadarnya itu, kata dia, selain karena efisiensi anggaran juga di Indramayu bahkan di daerah Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu dan Kuningan) belum ada lintasan bowling sesuai standar. Kalaupun ada ditempat timezone namun lintasannya panjang separo dari lintasan resmi.
“Kalau terpaksa ingin mencoba lintasan resmi kami harus pergi ke Bandung dengan biaya sewa Rp200 ribu per jam. Kalau main 2 sampai 3 jam, berapa yang harus dikeluarkan. Jumlah tersebut belum termasuk ongkos pergi pulang team dan biaya mamin,” tutupnya. (Taryam)
Editor: Abdul Gani

