INDRAMAYU, (lintaspanturain donesia.com) — PERTANYAAN:
Almarhum kakek saya melakukan perjanjian dengan pihak ketiga ketika usianya menginjak 71 tahun tanpa didampingi oleh keluarga. Perjanjian tersebut mengakibatkan peralihan hak atas aset berupa tanah dan berlaku turun temurun. Pertanyaan saya, jika aset yang disebutkan dalam akta tersebut tidak mutlak milik kakek saya (ada ahli waris lain) apakah akta tersebut bisa dibatalkan? Prosedurnya seperti apa? Atas penjelasannya diucapkan terimakasih, untuk ubklawyers beserta Paralegalnya semoga dilancarkan rezekinya dan dimudahkan urusannya. Aamiin..
Wassalam,
Amin Fathurohman – Jambak
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
“INTISARI JAWABAN”
【ℌ𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔓𝔢𝔯𝔡𝔞𝔱𝔞】
𝔘𝔫𝔱𝔲𝔨 𝔪𝔢𝔪𝔟𝔲𝔞𝔱 𝔭𝔢𝔯𝔧𝔞𝔫𝔧𝔦𝔞𝔫 𝔥𝔞𝔯𝔲𝔰 𝔪𝔢𝔪𝔢𝔫𝔲𝔥𝔦 𝔰𝔶𝔞𝔯𝔞𝔱 𝔰𝔞𝔥 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔞𝔡𝔞𝔩𝔞𝔥 𝔡𝔞𝔩𝔞𝔪 𝔓𝔞𝔰𝔞𝔩 1320 𝔎𝔘ℌ 𝔓𝔢𝔯𝔡𝔞𝔱𝔞, 𝔶𝔞𝔦𝔱𝔲 𝔨𝔢𝔰𝔢𝔭𝔞𝔨𝔞𝔱𝔞𝔫 𝔪𝔢𝔯𝔢𝔨𝔞 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔪𝔢𝔫𝔤𝔦𝔨𝔞𝔱𝔨𝔞𝔫 𝔡𝔦𝔯𝔦𝔫𝔶𝔞, 𝔨𝔢𝔠𝔞𝔨𝔞𝔭𝔞𝔫 𝔲𝔫𝔱𝔲𝔨 𝔪𝔢𝔪𝔟𝔲𝔞𝔱 𝔰𝔲𝔞𝔱𝔲 𝔭𝔢𝔯𝔦𝔨𝔞𝔱𝔞𝔫, 𝔰𝔲𝔞𝔱𝔲 𝔭𝔬𝔨𝔬𝔨 𝔭𝔢𝔯𝔰𝔬𝔞𝔩𝔞𝔫 𝔱𝔢𝔯𝔱𝔢𝔫𝔱𝔲, 𝔡𝔞𝔫 𝔰𝔲𝔞𝔱𝔲 𝔰𝔢𝔟𝔞𝔟 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔱𝔦𝔡𝔞𝔨 𝔡𝔦𝔩𝔞𝔯𝔞𝔫𝔤.
𝔏𝔞𝔫𝔱𝔞𝔰, 𝔧𝔦𝔨𝔞 𝔭𝔢𝔯𝔧𝔞𝔫𝔧𝔦𝔞𝔫 𝔡𝔦𝔩𝔞𝔨𝔲𝔨𝔞𝔫 𝔬𝔩𝔢𝔥 𝔬𝔞𝔯𝔫𝔤 𝔩𝔞𝔫𝔧𝔲𝔱 𝔲𝔰𝔦𝔞 (𝔩𝔞𝔫𝔰𝔦𝔞), 𝔞𝔭𝔞𝔨𝔞𝔥 𝔦𝔞 𝔥𝔞𝔯𝔲𝔰 𝔡𝔦𝔡𝔞𝔪𝔭𝔦𝔫𝔤𝔦?
𝔓𝔢𝔫𝔧𝔢𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔩𝔢𝔟𝔦𝔥 𝔩𝔞𝔫𝔧𝔲𝔱 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔄𝔫𝔡𝔞 𝔟𝔞𝔠𝔞 𝔲𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔡𝔦 𝔟𝔞𝔴𝔞𝔥 𝔦𝔫𝔦.
ULASAN SELENGKAPNYA;
Terimakasih atas pertanyaan Anda.
Kecakapan untuk Membuat Suatu Perikatan
Kakek Anda yang sudah berumur 71 tahun termasuk pada kategori lanjut usia (“lansia”). L͟a͟n͟s͟i͟a͟ adalah s͟e͟o͟r͟a͟n͟g͟ l͟a͟k͟i͟-l͟a͟k͟i͟ a͟t͟a͟u͟p͟u͟n͟ p͟e͟r͟e͟m͟p͟u͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟l͟e͟b͟i͟h͟i͟ u͟s͟i͟a͟ 60 t͟͟a͟͟h͟͟u͟͟n͟͟.
Terkait dengan perjanjian mengenai pengalihan hak atas tanah yang dilakukan oleh kakek Anda dengan pihak ketiga, pada dasarnya hal tersebut sah selama memenuhi ketentuan syarat sah perjanjian berdasarkan Pasal 1320 KUH Perdata yaitu:
- kesepakatan mereka yang mengikatkan dirinya;
- kecakapan untuk membuat suatu perikatan;
- suatu pokok persoalan tertentu;
- suatu sebab yang tidak terlarang.
Merujuk artikel 4 Syarat Sah Perjanjian dan Akibatnya Jika Tak Terpenuhi, s͟y͟a͟r͟a͟t͟ s͟a͟h͟ p͟e͟r͟t͟a͟m͟a͟ d͟a͟n͟ k͟e͟d͟u͟a͟ m͟e͟r͟u͟p͟a͟k͟a͟n͟ s͟y͟a͟r͟a͟t͟ s͟͟u͟͟b͟͟j͟͟e͟͟k͟͟t͟͟i͟͟f͟͟, sedangkan s͟y͟a͟r͟a͟t͟ s͟a͟h͟ k͟e͟t͟i͟g͟a͟ d͟a͟n͟ k͟e͟e͟m͟p͟a͟t͟ m͟e͟r͟u͟p͟a͟k͟a͟n͟ s͟y͟a͟r͟a͟t͟ o͟͟b͟͟j͟͟e͟͟k͟͟t͟͟i͟͟f͟͟. T͟i͟n͟d͟a͟k͟ d͟i͟p͟e͟n͟u͟h͟i͟n͟y͟a͟ s͟y͟a͟r͟a͟t͟ s͟u͟b͟j͟e͟k͟t͟i͟f͟ m͟e͟n͟g͟a͟k͟i͟b͟a͟t͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟j͟a͟n͟j͟i͟a͟n͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟͟i͟͟b͟͟a͟͟t͟͟a͟͟l͟͟k͟͟a͟͟n͟͟. Sedangkan, t͟i͟d͟a͟k͟ d͟i͟p͟e͟n͟u͟h͟i͟n͟y͟a͟ s͟y͟a͟r͟a͟t͟ o͟b͟j͟e͟k͟t͟i͟f͟ a͟k͟a͟n͟ b͟e͟r͟a͟k͟i͟b͟a͟t͟ p͟a͟d͟a͟ p͟e͟r͟j͟a͟n͟j͟i͟a͟n͟ b͟a͟t͟a͟l͟ d͟e͟m͟i͟ h͟͟u͟͟k͟͟u͟͟m͟͟.
Kami asumsikan bahwa pertanyaan Anda mengenai pembatalan perjanjian pengalihan hak atas tanah antara kakek Anda dengan pihak ketiga disebabkan oleh tidak terpenuhinya syarat kecakapan. Mengenai syarat kecakapan, hal ini ditegaskan kembali dalam Pasal 1329 KUH Perdata, yang berbunyi:
- Tiap orang berwenang untuk membuat perikatan, kecuali jika ia dinyatakan tidak cakap untuk hal itu.
Jadi, dalam undang-undang ditentukan bahwa setiap orang pada dasarnya cakap mengadakan perjanjian, k͟e͟c͟u͟a͟l͟i͟ u͟n͟d͟a͟n͟g͟-u͟n͟d͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟e͟n͟t͟u͟k͟a͟n͟ m͟e͟r͟e͟k͟a͟ y͟a͟n͟g͟ t͟i͟d͟a͟k͟ c͟a͟k͟a͟p͟ m͟e͟n͟g͟a͟d͟a͟k͟a͟n͟ p͟͟͟e͟͟͟r͟͟͟j͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟j͟͟͟i͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟.[¹] Dalam hal ini, Pasal 1330 KUH Perdata mengatur mengenai siapa saja yang dianggap tidak cakap untuk membuat perjanjian, yaitu:
- anak yang belum dewasa;
- orang yang ditaruh di bawah pengampuan;
- perempuan yang telah kawin dalam hal-hal yang ditentukan undang-undang dan pada umumnya semua orang yang oleh undang-undang dilarang untuk mempuat persetujuan.
Berdasarkan penjelasan di atas, kakek Anda d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟n͟y͟a͟t͟a͟k͟a͟n͟ t͟i͟d͟a͟k͟ c͟a͟k͟a͟p͟ h͟u͟k͟u͟m͟ j͟i͟k͟a͟ b͟e͟r͟a͟d͟a͟ d͟i͟ b͟a͟w͟a͟h͟ p͟͟e͟͟n͟͟g͟͟a͟͟m͟͟p͟͟u͟͟a͟͟n͟͟.
Pengampuan dalam Hukum Perdata
Menurut P. N. H Simanjuntak p͟e͟n͟g͟a͟m͟p͟u͟a͟n͟ a͟r͟t͟i͟n͟y͟a͟ k͟e͟a͟d͟a͟a͟a͟n͟ s͟u͟a͟t͟u͟ d͟a͟y͟a͟ u͟p͟a͟y͟a͟ h͟u͟k͟u͟m͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟n͟e͟m͟p͟a͟t͟k͟a͟n͟ o͟r͟a͟n͟g͟ y͟a͟n͟g͟ t͟e͟l͟a͟h͟ d͟e͟w͟a͟s͟a͟ m͟e͟n͟j͟a͟d͟i͟ s͟a͟m͟a͟ s͟e͟p͟e͟r͟t͟i͟ o͟r͟a͟n͟g͟ y͟a͟n͟g͟ b͟e͟l͟u͟m͟ d͟͟e͟͟w͟͟a͟͟s͟͟a͟͟. Orang yang ditaruh di bawah pengampuan disebut curandus, pengampuannya disebut curator dan pengampuannya disebut curatale.[²]
Selain itu, Subekti pada bukunya Pokok-Pokok dari Hukum Perdata (hal. 40) menjelaskan bahwa o͟r͟a͟n͟g͟ y͟a͟n͟g͟ s͟u͟d͟a͟h͟ d͟e͟w͟a͟s͟a͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟d͟e͟r͟i͟t͟a͟ s͟a͟k͟i͟t͟ i͟n͟g͟a͟t͟k͟a͟n͟ m͟e͟n͟u͟r͟u͟t͟ u͟n͟d͟a͟n͟g͟-u͟n͟d͟a͟n͟g͟ h͟a͟r͟u͟s͟ d͟i͟t͟a͟r͟u͟h͟ d͟i͟ b͟a͟w͟a͟h͟ p͟e͟n͟g͟a͟w͟a͟s͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ p͟e͟n͟g͟a͟m͟p͟u͟a͟n͟ (c͟͟͟͟u͟͟͟͟r͟͟͟͟a͟͟͟͟t͟͟͟͟a͟͟͟͟l͟͟͟͟e͟͟͟͟). Selanjutnya, orang dewasa juga dapat ditaruh di bawah pengawasan atau pengampuan berdasarkan alasan mengobralkan kekayaan atau boros.
Bagi seseorang yang sudah ditaruh di bawah pengampuan, maka kedudukannya seperti orang yang belum dewasa. Jadi, b͟a͟g͟i͟ o͟r͟a͟n͟g͟ y͟a͟n͟g͟ s͟u͟d͟a͟h͟ d͟i͟t͟a͟r͟u͟h͟ d͟i͟ b͟a͟w͟a͟h͟ p͟e͟n͟g͟a͟m͟p͟u͟a͟n͟ t͟i͟d͟a͟k͟ d͟a͟p͟a͟t͟ l͟a͟g͟i͟ m͟e͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟-p͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ h͟u͟k͟u͟m͟ y͟a͟n͟g͟ s͟a͟h͟. (hal. 41)
- Setiap orang dewasa, yang selalu berada dalam keadaan dungu, gila atau mata gelap, harus ditempatkan di bawah pengampuan, sekalipun ia kadang cakap menggunakan pikirannya. Seorang dewasa boleh juga ditempatkan di bawah pengampuan karena keborosan.
Merujuk artikel Kriteria Orang di Bawah Pengampuan Menurut KUH Perdata yang mengutip R. Soetojo Prawirohamidjojo dan Marthalena Pohan, menjelaskan bahwa terdapat 3 alasan pengampuan menurut Pasal 433 KUH Perdata, yaitu:
- keborosan (verkwisting);
- lemah akal budinya (zwakheid van vermogen);
- kekurangan daya pikir: sakit ingatan, dungu (onnozelheid), dan dungu disertai sering mengamuk (razemi).
Akan tetapi, pasca Putusan MK No. 93/PUU-XX/2022, terdapat perubahan bunyi Pasal 433 KUH Perdata. Hal ini karena kata “dungu, sakit otak atau mata gelap” dan kata “harus” dalam Pasal 433 KUH Perdata bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang kata “dungu, sakit otak atau mata gelap” tidak dimaknai “adalah bagian dari penyandang disabilitas mental dan/atau disabilitas intelektual,” dan kata “harus” tidak dimaknai “dapat” (hal. 478).
Dengan demikian, bunyi dari Pasal 433 KUH Perdata menjadi (hal. 478):
- Setiap orang dewasa yang selalu berada dalam keadaan dungu, sakit otak atau mata gelap, adalah bagian dari penyandang disabilitas mental dan/atau disabilitas intelektual, dapat ditaruh di bawah pengampuan, pun jika ia kadang-kadang cakap mempergunakan pikirannya. Seorang dewasa boleh juga ditaruh di bawah pengampuan karena keborosannya.
Adapun, orang yang dapat memintakan pengampuan adalah setiap keluarga sedarah terhadap keluarga sedarahnya berdasarkan keadaan dungu, gila, atau mata gelap. Lalu, jika pengampuan disebabkan oleh pemborosan, maka hanya dapat dimintakan oleh para keluarga sedarah dalam garis lurus, dan oleh mereka dalam garis samping sampai derajat keempat. Selain itu, bagi yang lemah pikirannya, merasa tidak cakap mengurus kepentingan sendiri dengan baik, dapat meminta pengampuan bagi dirinya sendiri.[³]
Semua p͟e͟r͟m͟i͟n͟t͟a͟a͟n͟ u͟n͟t͟u͟k͟ p͟e͟n͟g͟a͟m͟p͟u͟a͟n͟ t͟e͟r͟s͟e͟b͟u͟t͟ h͟a͟r͟u͟s͟ d͟i͟a͟j͟u͟k͟a͟n͟ k͟e͟ p͟e͟n͟g͟a͟d͟i͟l͟a͟n͟ n͟e͟g͟e͟r͟i͟ y͟a͟n͟g͟ d͟a͟l͟a͟m͟ d͟a͟e͟r͟a͟h͟ h͟u͟k͟u͟m͟n͟y͟a͟ t͟e͟m͟p͟a͟t͟ b͟e͟r͟d͟i͟a͟m͟ o͟r͟a͟n͟g͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟m͟i͟n͟t͟a͟k͟a͟n͟ p͟͟e͟͟n͟͟g͟͟a͟͟m͟͟p͟͟u͟͟a͟͟n͟͟.[⁴]
Mulai berjalannya pengampuan, terhitung sejak putusan atau penetapan diucapkan. S͟e͟m͟u͟a͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟e͟r͟d͟a͟t͟a͟ s͟e͟t͟e͟l͟a͟h͟ i͟t͟u͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ o͟l͟e͟h͟ o͟r͟a͟n͟g͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟t͟e͟m͟p͟a͟t͟k͟a͟n͟ d͟͟i͟͟ b͟a͟w͟a͟h͟ p͟e͟n͟g͟a͟m͟p͟u͟a͟n͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ b͟a͟t͟a͟l͟ d͟e͟m͟i͟ h͟͟u͟͟k͟͟u͟͟m͟͟. Namun, seseorang yang ditempatkan di bawah pengampuan karena keborosan, tetap berhak membuat surat-surat wasiat.[⁵]
Walaupun demikian, Pasal 447 KUH Perdata memungkinkan untuk semua perbuatan perdata yang terjadi sebelum perintah pengampuan diucapkan untuk dibatalkan. Akan tetapi, harus berdasarkan pada alasan keadaan dungu, gila, dan mata gelap serta dasar pengampuan ini telah ada pada saat tindakan-tindakan itu dilakukan.
Menjawab pertanyaan Anda, perlu diketahui terlebih dahulu mengenai fakta apakah kakek Anda sebelum meninggal berada di bawah pengampuan atau tidak. Jika sudah berada di bawah pengampuan, harus diketahui juga apakah pengampuan itu dimulai sebelum atau sesudah perjanjian itu dilaksanakan.
Dalam hal kakek Anda di bawah pengampuan sebelum terjadinya perjanjian, maka perjanjian yang dilakukan adalah batal demi hukum. Sedangkan, jika pengampuan dimulai sesuai perjanjian itu dilaksanakan, maka perjanjian itu dapat dibatalkan, dengan syarat dasar alasan pengampuannya karena keadaan dungu, gila, dan mata gelap serta dasar pengampuan ini sudah ada pada saat perjanjian itu dilakukan.
Namun, jika sebelum meninggal kakek Anda tidak pernah berada di bawah pengampuan, maka kakek Anda memiliki h͟a͟k͟ p͟e͟n͟u͟h͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟j͟a͟n͟j͟i͟a͟n͟ p͟e͟r͟a͟l͟i͟h͟a͟n͟ h͟͟a͟͟k͟͟ a͟t͟a͟s͟ t͟a͟n͟a͟h͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ p͟i͟h͟a͟k͟ k͟e͟t͟i͟g͟a͟ t͟a͟n͟p͟a͟ p͟e͟r͟l͟u͟ p͟͟e͟͟n͟͟d͟͟a͟͟m͟͟p͟͟i͟͟n͟͟g͟͟a͟͟n͟͟. Hal ini karena kakek Anda merupakan subjek hukum yang cakap untuk melakukan suatu perikatan. Oleh karena itu, Anda tidak mempunyai hak untuk melakukan pembatalan atas perjanjian tersebut.
Objek Perjanjian yang Belum Diwariskan
Di dalam pertanyaan, Anda juga menyinggung soal ahli waris. Kami kurang memahami maksud Anda, tetapi kami mengasumsikan bahwa ketika kakek Anda membuat perjanjian, aset yang menjadi objek perjanjian belum dibagi waris sehingga Anda berpendapat masih ada hak ahli waris atas aset tersebut.
Dalam hal ini, perlu diketahui bahwa proses pewarisan hanya terjadi ketika telah terjadi kematian sebagaimana diatur di dalam Pasal 830 KUH Perdata.
Oleh karena itu, p͟e͟w͟a͟r͟i͟s͟a͟n͟ b͟a͟r͟u͟ t͟e͟r͟j͟a͟d͟i͟ k͟e͟t͟i͟k͟a͟ p͟e͟w͟a͟r͟i͟s͟ m͟e͟n͟i͟n͟g͟g͟a͟l͟ d͟͟u͟͟n͟͟i͟͟a͟͟. J͟i͟k͟a͟ p͟e͟w͟a͟r͟i͟s͟ m͟a͟s͟i͟h͟ h͟͟i͟͟d͟͟u͟͟p͟͟, m͟a͟k͟a͟ p͟e͟w͟a͟r͟i͟s͟a͟n͟ b͟e͟l͟u͟m͟ t͟e͟r͟j͟a͟d͟i͟ d͟a͟n͟ a͟h͟l͟i͟ w͟a͟r͟i͟s͟ t͟i͟d͟a͟k͟ m͟e͟m͟i͟l͟i͟k͟i͟ h͟a͟k͟ a͟t͟a͟s͟ h͟a͟r͟t͟a͟ w͟a͟r͟i͟s͟a͟n͟ m͟i͟l͟i͟k͟ p͟͟e͟͟w͟͟a͟͟r͟͟i͟͟s͟͟.
Pada kasus ini, kakek Anda masih hidup saat membuat perjanjian dengan pihak ketiga. Jadi, dapat dikatakan bahwa t͟a͟n͟a͟h͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟j͟a͟d͟i͟ o͟b͟j͟e͟k͟ p͟e͟r͟j͟a͟n͟j͟i͟a͟n͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ m͟u͟t͟l͟a͟k͟ m͟i͟l͟i͟k͟ k͟a͟k͟e͟k͟ A͟͟n͟͟d͟͟a͟͟. P͟i͟h͟a͟k͟ y͟a͟n͟g͟ n͟a͟n͟t͟i͟n͟y͟a͟ a͟k͟a͟n͟ m͟e͟n͟j͟a͟d͟i͟ a͟h͟l͟i͟ w͟a͟r͟i͟s͟ a͟t͟a͟s͟ h͟a͟r͟t͟a͟ w͟a͟r͟i͟s͟a͟n͟ k͟a͟k͟e͟k͟ A͟n͟d͟a͟ b͟e͟l͟u͟m͟ m͟e͟m͟i͟l͟i͟k͟i͟ h͟a͟k͟ a͟t͟a͟s͟ t͟a͟n͟a͟h͟ t͟e͟r͟s͟e͟b͟u͟t͟ k͟a͟r͟e͟n͟a͟ b͟e͟l͟u͟m͟ t͟e͟r͟j͟a͟d͟i͟ p͟͟͟͟e͟͟͟͟w͟͟͟͟a͟͟͟͟r͟͟͟͟i͟͟͟͟s͟͟͟͟a͟͟͟͟n͟͟͟͟.
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat dan dapat dijadikan pembelajaran untuk kita semua terlebih untuk penanya dan Paralegal ubklawyers pada khususnya.
D͟a͟s͟a͟r͟ H͟u͟k͟u͟m͟:
- Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
- Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.
Artikel ini dibuat oleh Muhammad Raihan Nugraha. SH, dipublikasikan “..Hukumonline.com..” dengan judul Lansia Membuat Perjanjian, Haruskah Didampingi? pada tanggal 13 Juli 2026. Dan diteruskan oleh ubklawyers pada tanggal 07 Mei 2026M/20 Dzulqa’idah 1447H.
Seluruh Informasi Hukum yang ada di LBH-UMAR BIN KHATTAB disiapkan semata-mata untuk t͟͟͟u͟͟͟j͟͟͟u͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟ p͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, p͟e͟m͟b͟e͟l͟a͟j͟a͟r͟a͟n͟ dan b͟e͟r͟s͟i͟f͟a͟t͟ u͟m͟u͟m͟. Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan Pengacara, Konsultan Hukum dan/atau Paralegal UBK LAWYERS.
Sedang menghadapi permasalahan hukum? A͟j͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟t͟a͟n͟y͟a͟a͟n͟ melalui email, telepon atau chat.👇🏼
Email:
ubklawyer@gmail.com
Telepon/Chat:
089666552118
Berkenan G͟a͟b͟u͟n͟g͟ G͟r͟o͟u͟p͟, untuk jadi bagian Keluarga Besar UBK LAWYERS. Klik link dibawah.👇🏼
I͟K͟U͟T͟I͟ W͟h͟a͟t͟s͟A͟p͟p͟ C͟h͟a͟n͟n͟e͟l͟ LBH-UMAR BIN KHATTAB. Untuk memperkaya Riset Hukum Anda, klik link dibawah.👇🏼
🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸
#cerdashukum
#studylawtogether
#ubklawyers

