INDRAMAYU, (lintaspanturaindonesia.com) — PERTANYAAN:
Bagaimana cara menentukan kualifikasi Tergugat I, Tergugat II, dan seterusnya? Dan apa beda tergugat dan turut tergugat menurut hukum? Atas pencerahannya diucapkan terimakasih, untuk ubklawyers beserta Paralegalnya semoga dimudahkan urusan dan dilancarkan rezekinya. Aamiin..
Daenk Sukara – Jambak City
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
“INTISARI JAWABAN”
【ℌ𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔓𝔢𝔯𝔡𝔞𝔱𝔞】
𝔓𝔞𝔯𝔞 𝔭𝔯𝔞𝔨𝔱𝔦𝔰𝔦 𝔥𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔡𝔞𝔩𝔞𝔪 𝔭𝔯𝔞𝔨𝔱𝔦𝔨 𝔪𝔢𝔫𝔢𝔫𝔱𝔲𝔨𝔞𝔫 𝔭𝔞𝔯𝔞 𝔱𝔢𝔯𝔤𝔲𝔤𝔞𝔱, 𝔶𝔞𝔦𝔱𝔲 𝔱𝔢𝔯𝔤𝔲𝔤𝔞𝔱 ℑ, 𝔱𝔢𝔯𝔤𝔲𝔤𝔞𝔱 ℑℑ, 𝔡𝔞𝔫 𝔰𝔢𝔱𝔢𝔯𝔲𝔰𝔫𝔶𝔞 𝔡𝔦𝔩𝔞𝔨𝔲𝔨𝔞𝔫 𝔰𝔢𝔠𝔞𝔯𝔞 𝔰𝔲𝔟𝔧𝔢𝔨𝔱𝔦𝔣. 𝔑𝔞𝔪𝔲𝔫 𝔡𝔞𝔩𝔞𝔪 𝔨𝔢𝔟𝔦𝔞𝔰𝔞𝔞𝔫𝔫𝔶𝔞, 𝔭𝔢𝔫𝔢𝔫𝔱𝔲𝔞𝔫 𝔦𝔫𝔦 𝔡𝔦𝔰𝔢𝔰𝔲𝔞𝔦𝔨𝔞𝔫 𝔡𝔢𝔫𝔤𝔞𝔫 𝔡𝔢𝔯𝔞𝔧𝔞𝔱 𝔭𝔢𝔯𝔟𝔲𝔞𝔱𝔞𝔫 𝔪𝔞𝔰𝔦𝔫𝔤-𝔪𝔞𝔰𝔦𝔫𝔤 𝔱𝔢𝔯𝔤𝔲𝔤𝔞𝔱 𝔡𝔞𝔫 𝔟𝔢𝔫𝔱𝔲𝔨 𝔭𝔢𝔯𝔱𝔞𝔫𝔤𝔤𝔲𝔫𝔤𝔧𝔞𝔴𝔞𝔟𝔞𝔫 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔡𝔦𝔪𝔦𝔫𝔱𝔞𝔨𝔞𝔫 𝔬𝔩𝔢𝔥 𝔭𝔢𝔫𝔤𝔤𝔲𝔤𝔞𝔱 𝔨𝔢𝔭𝔞𝔡𝔞 𝔪𝔞𝔰𝔦𝔫𝔤-𝔪𝔞𝔰𝔦𝔫𝔤 𝔱𝔢𝔯𝔤𝔲𝔤𝔞𝔱.
𝔏𝔞𝔩𝔲, 𝔞𝔭𝔞 𝔨𝔯𝔦𝔱𝔢𝔯𝔦𝔞 𝔱𝔲𝔯𝔲𝔱 𝔱𝔢𝔯𝔤𝔲𝔤𝔞𝔱 𝔡𝔞𝔫 𝔞𝔭𝔞 𝔟𝔢𝔡𝔞𝔫𝔶𝔞 𝔡𝔢𝔫𝔤𝔞𝔫 𝔱𝔢𝔯𝔤𝔲𝔤𝔞𝔱 𝔟𝔦𝔞𝔰𝔞?
𝔓𝔢𝔫𝔧𝔢𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔩𝔢𝔟𝔦𝔥 𝔩𝔞𝔫𝔧𝔲𝔱 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔄𝔫𝔡𝔞 𝔟𝔞𝔠𝔞 𝔲𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔡𝔦 𝔟𝔞𝔴𝔞𝔥 𝔦𝔫𝔦.
ULASAN SELENGKAPNYA;
Terimakasih atas pertanyaan Anda.
Pengertian dan Dasar Hukum Tergugat
Dalam suatu gugatan contentiosa dikenal adanya pihak penggugat dan tergugat. D͟e͟f͟i͟n͟i͟s͟i͟ t͟e͟r͟g͟u͟g͟a͟t͟ t͟i͟d͟a͟k͟ d͟i͟a͟t͟u͟r͟ s͟e͟c͟a͟r͟a͟ k͟h͟u͟s͟u͟s͟ d͟a͟l͟a͟m͟ h͟u͟k͟u͟m͟ a͟c͟a͟r͟a͟ p͟e͟r͟d͟a͟t͟a͟ d͟i͟ I͟͟n͟͟d͟͟o͟͟n͟͟e͟͟s͟͟i͟͟a͟͟, n͟a͟m͟u͟n͟ k͟i͟t͟a͟ d͟a͟p͟a͟t͟ m͟e͟r͟u͟j͟u͟k͟ p͟e͟n͟g͟g͟u͟n͟a͟a͟n͟ i͟s͟t͟i͟l͟a͟h͟ t͟e͟r͟g͟u͟g͟a͟t͟ d͟a͟l͟a͟m͟ H͟I͟R͟ m͟a͟u͟p͟u͟n͟ R͟B͟g͟ a͟n͟t͟a͟r͟a͟ l͟a͟i͟n͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ b͟e͟r͟i͟k͟u͟t͟:
Pasal 121 ayat (2) HIR
- Ketika memanggil tergugat, maka beserta itu diserahkan juga sehelai salinan surat gugat dengan memberitahukan bahwa ia, kalau mau, dapat menjawab surat gugat itu dengan surat.
Pasal 145 ayat (2) RBg
- Pada waktu dilakukan panggilan kepada tergugat, maka kepadanya juga disampaikan turunan surat gugatnya dengan diberitahukan pula kepadanya bahwa ia, bila menghendakinya, dapat mengajukan jawaban tertulis.
Untuk mempertegas kedudukan tergugat, M. Yahya Harahap dalam buku Hukum Acara Perdata tentang Gugatan, Persidangan, Penyitaan, Pembuktian, dan Putusan Pengadilan, (hal. 50), menyebutkan sebagai berikut:
- …sedangkan yang ditarik sebagai pihak lawan dalam penyelesaian, disebut dan berkedudukan sebagai tergugat (defendant, the party against whom a civil action is brought)…
Sehingga, berdasarkan ketentuan hukum dan pendapat ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa t͟e͟r͟g͟u͟g͟a͟t͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ p͟i͟h͟a͟k͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟j͟a͟d͟i͟ l͟a͟w͟a͟n͟ d͟a͟r͟i͟ p͟e͟n͟g͟g͟u͟g͟a͟t͟ d͟a͟l͟a͟m͟ s͟u͟a͟t͟u͟ g͟u͟g͟a͟t͟a͟n͟ k͟e͟p͟e͟r͟d͟a͟t͟a͟a͟n͟.
Cara Menentukan Urutan Para Tergugat
Ketentuan dalam Pasal 118 ayat (2) HIR dan Pasal 142 ayat (2) RBg memang mengenal adanya tergugat lebih dari seorang. Namun, HIR dan RBg tidak mengatur lebih lanjut bagaimana formula untuk menentukan urutan tergugat I, tergugat II, dan seterusnya dalam surat gugatan. Sehingga, secara normatif, terdapat kekosongan hukum dalam penentuan urutan para tergugat.
Dalam praktik, untuk menentukan tergugat I, tergugat II, dan seterusnya, dilakukan secara subjektif. Biasanya penentuan ini disesuaikan d͟e͟n͟g͟a͟n͟ d͟e͟r͟a͟j͟a͟t͟ p͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ m͟a͟s͟i͟n͟g͟-m͟a͟s͟i͟n͟g͟ t͟e͟r͟g͟u͟g͟a͟t͟ d͟a͟n͟ p͟e͟r͟t͟a͟n͟g͟g͟u͟n͟g͟j͟a͟w͟a͟b͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟m͟i͟n͟t͟a͟k͟a͟n͟ o͟l͟e͟h͟ p͟e͟n͟g͟g͟u͟g͟a͟t͟ k͟e͟p͟a͟d͟a͟ m͟a͟s͟i͟n͟g͟-m͟a͟s͟i͟n͟g͟ t͟͟e͟͟r͟͟g͟͟u͟͟g͟͟a͟͟t͟͟.
Penentuan urutan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan relevansi masing-masing tergugat dengan perkara yang bersangkutan. Hal ini menurut kami dapat merujuk pada kaidah hukum yurisprudensi Mahkamah Agung (”MA”) dalam Putusan No. 294 K/SIP/1971, bahwa s͟u͟a͟t͟u͟ g͟u͟g͟a͟t͟a͟n͟ h͟a͟r͟u͟s͟ d͟i͟a͟j͟u͟k͟a͟n͟ o͟l͟e͟h͟ o͟͟r͟͟a͟͟n͟͟g͟͟/s͟u͟b͟j͟e͟k͟ h͟u͟k͟u͟m͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟m͟p͟u͟n͟y͟a͟i͟ h͟u͟b͟u͟n͟g͟a͟n͟ h͟u͟k͟u͟m͟ a͟t͟a͟u͟ m͟e͟m͟p͟u͟n͟y͟a͟i͟ k͟e͟p͟e͟n͟t͟i͟n͟g͟a͟n͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ m͟a͟s͟a͟l͟a͟h͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟s͟e͟n͟g͟k͟e͟t͟a͟k͟a͟n͟ d͟a͟n͟ b͟u͟k͟a͟n͟ o͟r͟a͟n͟g͟ l͟͟a͟͟i͟͟n͟͟. Asas legitima persona standi in judicio dan gugatan yang secara salah diajukan oleh orang lain, harus dinyatakan sebagai gugatan tidak dapat diterima.
Perbedaan Tergugat dan Turut Tergugat
Dalam HIR maupun RBg tidak terdapat definisi pasti mengenai definisi turut tergugat. Merujuk yurisprudensi MA dalam Putusan No. 1642 K/Pdt/2005 memuat kaidah hukum bahwa:
- Dimasukkan seseorang sebagai pihak yang digugat atau minimal didudukkan sebagai Turut Tergugat dikarenakan adanya keharusan para pihak dalam gugatan harus lengkap sehingga tanpa menggugat yang lain-lain maka subjek gugatan menjadi tidak lengkap.
Lebih lanjut, menurut Retnowulan Sutantio dan Iskandar Oeripkartawinata t͟u͟r͟u͟t͟ t͟e͟r͟g͟u͟g͟a͟t͟ m͟e͟r͟u͟p͟a͟k͟a͟n͟ o͟r͟a͟n͟g͟-o͟r͟a͟n͟g͟ y͟a͟n͟g͟ t͟i͟d͟a͟k͟ m͟e͟n͟g͟u͟a͟s͟a͟i͟ b͟a͟r͟a͟n͟g͟ s͟e͟n͟g͟k͟e͟t͟a͟ a͟t͟a͟u͟ t͟i͟d͟a͟k͟ b͟e͟r͟k͟e͟w͟a͟j͟i͟b͟a͟n͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ s͟͟e͟͟s͟͟u͟͟a͟͟t͟͟u͟͟. N͟͟a͟͟m͟͟u͟͟n͟͟, d͟e͟m͟i͟ l͟e͟n͟g͟k͟a͟p͟n͟y͟a͟ s͟u͟a͟t͟u͟ g͟u͟g͟a͟t͟a͟n͟ h͟a͟r͟u͟s͟ d͟͟i͟͟i͟͟k͟͟u͟͟t͟͟s͟͟e͟͟r͟͟t͟͟a͟͟k͟͟a͟͟n͟͟. D͟a͟l͟a͟m͟ p͟͟e͟͟t͟͟i͟͟t͟͟u͟͟m͟͟, t͟u͟r͟u͟t͟ t͟e͟r͟g͟u͟g͟a͟t͟ h͟a͟n͟y͟a͟ d͟i͟m͟o͟h͟o͟n͟k͟a͟n͟ a͟g͟a͟r͟ t͟u͟n͟d͟u͟k͟ d͟a͟n͟ t͟a͟a͟t͟ p͟a͟d͟a͟ p͟u͟t͟y͟l͟u͟s͟a͟n͟ h͟͟a͟͟k͟͟i͟͟m͟͟.[¹]
Tujuan dari ditariknya pihak sebagai turut tergugat agar terhindar dari cacat plurium litis consortium sebagaimana dijelaskan oleh M. Yahya Harahap bahwa a͟p͟a͟b͟i͟l͟a͟ a͟d͟a͟ p͟i͟h͟a͟k͟ k͟e͟t͟i͟g͟a͟ y͟a͟n͟g͟ t͟e͟r͟l͟i͟b͟a͟t͟ t͟e͟t͟a͟p͟i͟ t͟i͟d͟a͟k͟ i͟k͟u͟t͟ d͟i͟t͟a͟r͟i͟k͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ t͟͟e͟͟r͟͟g͟͟u͟͟g͟͟a͟͟t͟͟, secara spesifik dapat diajukan eksepsi yang disebut exceptio ex juri terti.[²] Akibat hukumnya adalah gugatan tidak diterima (niet ontvankelijke verklaar/N.O.).
Berbeda dengan tergugat yang wajib melaksanakan isi putusan pengadilan, t͟u͟r͟u͟t͟ t͟e͟r͟g͟u͟g͟a͟t͟ s͟e͟k͟e͟d͟a͟r͟ d͟i͟m͟o͟h͟o͟n͟k͟a͟n͟ a͟g͟a͟r͟ t͟a͟a͟t͟ p͟a͟d͟a͟ p͟u͟t͟u͟s͟a͟n͟ h͟͟a͟͟k͟͟i͟͟m͟͟.
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat dan dapat dijadikan pembelajaran untuk kita semua terlebih untuk penanya dan Paralegal ubklawyers pada khususnya.
D͟a͟s͟a͟r͟ H͟u͟k͟u͟m͟:
- Herzien Inlandsch Reglement (H.I.R) (S. 1941-44);
- Reglement Tot Regeling Van Het Rechtswezen In De Gewesten Buiten Java En Madura (RBG) (S. 1927-227).
P͟u͟t͟u͟s͟a͟n͟:
- Putusan Mahkamah Agung Nomor 294 K/SIP/1971;
- Putusan Mahkamah Agung Nomor 1642 K/Pdt/2005.
R͟e͟f͟e͟r͟e͟n͟s͟i͟:
- Yahya Harahap. Hukum Acara Perdata tentang Gugatan, Persidangan, Penyitaan, Pembuktian, dan Putusan Pengadilan. Cetakan Kedua. Jakarta: Sinar Grafika, 2019;
- Retnowulan Sutantio dan Iskandar Oeripkartawinata. Hukum Acara Perdata dalam Teori dan Praktek. Edisi Revisi. Bandung: CV Mandar Maju, 2019.
Artikel ini adalah pemutakhiran dari artikel dengan judul Menentukan Tergugat dan Turut Tergugat yang dibuat oleh Dr. Luhut M.P. Pangaribuan, S.H., LL.M. dan pertama kali dipublikasikan pada 10 Maret 2011. Dipublikasikan kedua oleh “..Hukumonline.com..” dengan judul Cara Menentukan Para Tergugat dan Turut Tergugat, pada tanggal 05 Maret 2026. Dan diteruskan oleh ubklawyers pada tanggal 11 April 2026M/23 Syawal 1447H.
Seluruh Informasi Hukum yang ada di LBH-UMAR BIN KHATTAB disiapkan semata-mata untuk t͟͟͟u͟͟͟j͟͟͟u͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟ p͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, p͟e͟m͟b͟e͟l͟a͟j͟a͟r͟a͟n͟ dan b͟e͟r͟s͟i͟f͟a͟t͟ u͟m͟u͟m͟. Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan Pengacara, Konsultan Hukum dan/atau Paralegal UBK LAWYERS.
Sedang menghadapi permasalahan hukum? A͟j͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟t͟a͟n͟y͟a͟a͟n͟ melalui email, telepon atau chat.👇🏼
Email:
ubklawyer@gmail.com
Telepon/Chat:
089666552118
Berkenan G͟a͟b͟u͟n͟g͟ G͟r͟o͟u͟p͟, untuk jadi bagian Keluarga Besar UBK LAWYERS. Klik link dibawah.👇🏼
I͟K͟U͟T͟I͟ W͟h͟a͟t͟s͟A͟p͟p͟ C͟h͟a͟n͟n͟e͟l͟ LBH-UMAR BIN KHATTAB. Untuk memperkaya Riset Hukum Anda, klik link dibawah.👇🏼
🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸
#cerdashukum
#studylawtogether
#ubklawyers

