INDRAMAYU, (luntaspanturaindonesia.com) — PERTANYAAN:
Saya masih bingung perbedaan talak 1, talak 2, dan talak 3 itu apa. Boleh tolong jelaskan perbedaan ketiganya? Atas pencerahannya diucapkan terimakasih, untuk ubklawyers beserta Paralegalnya semoga dimudahkan jodohnya. Aamiin..
Wassalam,
Daenk Nasrul – Gabus Kulon
•••••••••••••••••••••••••••••••••••
“INTISARI JAWABAN”
【ℌ𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔎𝔢𝔩𝔲𝔞𝔯𝔤𝔞】
𝔗𝔞𝔩𝔞𝔨 𝔰𝔞𝔱𝔲 𝔡𝔞𝔫 𝔱𝔞𝔩𝔞𝔨 𝔡𝔲𝔞 𝔞𝔡𝔞𝔩𝔞𝔥 𝔱𝔞𝔩𝔞𝔨 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔪𝔞𝔰𝔦𝔥 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔡𝔦𝔯𝔲𝔧𝔲𝔨 𝔞𝔱𝔞𝔲 𝔨𝔞𝔴𝔦𝔫 𝔨𝔢𝔪𝔟𝔞𝔩𝔦. 𝔖𝔢𝔡𝔞𝔫𝔤𝔨𝔞𝔫 𝔱𝔞𝔩𝔞𝔨 𝔱𝔦𝔤𝔞 𝔞𝔡𝔞𝔩𝔞𝔥 𝔱𝔞𝔩𝔞𝔨 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔪𝔢𝔪𝔦𝔩𝔦𝔨𝔦 𝔨𝔬𝔫𝔰𝔢𝔨𝔲𝔢𝔫𝔰𝔦 𝔥𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔟𝔢𝔯𝔲𝔭𝔞 𝔨𝔢𝔡𝔲𝔞 𝔪𝔞𝔫𝔱𝔞𝔫 𝔰𝔲𝔞𝔪𝔦-𝔦𝔰𝔱𝔯𝔦 𝔱𝔦𝔡𝔞𝔨 𝔟𝔬𝔩𝔢𝔥 𝔯𝔲𝔧𝔲𝔨 𝔡𝔞𝔫 𝔨𝔞𝔴𝔦𝔫 𝔩𝔞𝔤𝔦. 𝔖𝔢𝔱𝔢𝔩𝔞𝔥 𝔧𝔞𝔱𝔲𝔥𝔫𝔶𝔞 𝔱𝔞𝔩𝔞𝔨 𝔱𝔦𝔤𝔞, 𝔰𝔞𝔫𝔤 𝔦𝔰𝔱𝔯𝔦 𝔥𝔞𝔯𝔲𝔰 𝔪𝔢𝔫𝔦𝔨𝔞𝔥 𝔡𝔢𝔫𝔤𝔞𝔫 𝔬𝔯𝔞𝔫𝔤 𝔩𝔞𝔦𝔫 𝔱𝔢𝔯𝔩𝔢𝔟𝔦𝔥 𝔡𝔞𝔥𝔲𝔩𝔲 𝔡𝔞𝔫 𝔪𝔢𝔫𝔤𝔦𝔨𝔲𝔱𝔦 𝔞𝔱𝔲𝔯𝔞𝔫 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔟𝔢𝔯𝔩𝔞𝔨𝔲 𝔰𝔢𝔟𝔢𝔩𝔲𝔪 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔪𝔢𝔫𝔦𝔨𝔞𝔥 𝔨𝔢𝔪𝔟𝔞𝔩𝔦 𝔡𝔢𝔫𝔤𝔞𝔫 𝔪𝔞𝔫𝔱𝔞𝔫 𝔰𝔲𝔞𝔪𝔦𝔫𝔶𝔞.
𝔏𝔞𝔫𝔱𝔞𝔰, 𝔞𝔭𝔞 𝔰𝔞𝔧𝔞 𝔟𝔢𝔫𝔱𝔲𝔨 𝔱𝔞𝔩𝔞𝔨 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔱𝔢𝔯𝔪𝔞𝔰𝔲𝔨 𝔨𝔢 𝔡𝔞𝔩𝔞𝔪 𝔱𝔞𝔩𝔞𝔨 𝔰𝔞𝔱𝔲, 𝔡𝔲𝔞, 𝔡𝔞𝔫 𝔱𝔦𝔤𝔞?
𝔓𝔢𝔫𝔧𝔢𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔩𝔢𝔟𝔦𝔥 𝔩𝔞𝔫𝔧𝔲𝔱 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔄𝔫𝔡𝔞 𝔟𝔞𝔠𝔞 𝔲𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔡𝔦 𝔟𝔞𝔴𝔞𝔥 𝔦𝔫𝔦.
ULASAN SELENGKAPNYA;
Terimakasih atas pertanyaan Anda.
Arti Talak Secara Umum
Menurut Pasal 117 KHI, t͟a͟l͟a͟k͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ i͟k͟r͟a͟r͟ s͟u͟a͟m͟i͟ d͟i͟ h͟a͟d͟a͟p͟a͟n͟ s͟i͟d͟a͟n͟g͟ p͟e͟n͟g͟a͟d͟i͟l͟a͟n͟ a͟g͟a͟m͟a͟ (“P͟A͟”) y͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟j͟a͟d͟i͟ s͟a͟l͟a͟h͟ s͟a͟t͟u͟ s͟e͟b͟a͟b͟ p͟u͟t͟u͟s͟n͟y͟a͟ p͟͟e͟͟r͟͟k͟͟a͟͟w͟͟i͟͟n͟͟a͟͟n͟͟.
Kemudian, Sudarsono dalam buku Hukum Perkawinan Nasional (hal. 128) menjelaskan bahwa t͟a͟l͟a͟k͟ m͟e͟r͟u͟p͟a͟k͟a͟n͟ s͟a͟l͟a͟h͟ s͟a͟t͟u͟ b͟e͟n͟t͟u͟k͟ p͟e͟m͟u͟t͟u͟s͟a͟n͟ h͟u͟b͟u͟n͟g͟a͟n͟ i͟k͟a͟t͟a͟n͟ p͟e͟r͟k͟a͟w͟i͟n͟a͟n͟ k͟a͟r͟e͟n͟a͟ s͟e͟b͟a͟b͟-s͟e͟b͟a͟b͟ t͟e͟r͟t͟e͟n͟t͟u͟ y͟a͟n͟g͟ t͟i͟d͟a͟k͟ m͟e͟m͟u͟n͟g͟k͟i͟n͟k͟a͟n͟ l͟a͟g͟i͟ b͟a͟g͟i͟ s͟u͟a͟m͟i͟ i͟s͟t͟r͟i͟ m͟e͟n͟e͟r͟u͟s͟k͟a͟n͟ h͟i͟d͟u͟p͟ b͟e͟r͟u͟m͟a͟h͟ t͟a͟n͟g͟g͟a͟ d͟a͟l͟a͟m͟ I͟͟s͟͟l͟͟a͟͟m͟͟.
Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa t͟a͟l͟a͟k͟ y͟a͟n͟g͟ s͟a͟h͟ m͟e͟n͟u͟r͟u͟t͟ h͟u͟k͟u͟m͟ n͟e͟g͟a͟r͟a͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ t͟a͟l͟a͟k͟ y͟a͟n͟g͟ d͟͟͟͟i͟͟͟͟u͟͟͟͟c͟͟͟͟a͟͟͟͟p͟͟͟͟k͟͟͟͟a͟͟͟͟n͟͟͟͟ P͟͟A͟͟.
Untuk dapat mengucapkan talak, suami dapat mengajukan permohonan kepada PA yang mewilayahi tempat tinggal istri disertai alasan agar diadakan sidang untuk keperluan tersebut. Haln ini sebagaimana diatur dalam Pasal 129 KHI berikut.
- Seorang suami yang akan menjatuhkan talak kepada istrinya mengajukan permohonan baik lisan maupun tertulis kepada Pengadilan Agama yang mewilayahi tempat tinggal istri disertai dengan alasan serta meminta agar diadakan sidang untuk keperluan itu.
Lantas, bagaimana jika suami mengucapkan talak di luar pengadilan agama? J͟i͟k͟a͟ t͟a͟l͟a͟k͟ d͟͟i͟͟u͟͟c͟͟a͟͟p͟͟k͟͟a͟͟n͟͟/d͟i͟j͟a͟t͟u͟h͟k͟a͟n͟ d͟i͟ l͟u͟a͟r͟ P͟͟A͟͟, m͟a͟k͟a͟ p͟e͟r͟c͟e͟r͟a͟i͟a͟n͟ h͟a͟n͟y͟a͟ s͟a͟h͟ m͟e͟n͟u͟r͟u͟t͟ h͟u͟k͟u͟m͟ a͟͟g͟͟a͟͟m͟͟a͟͟, t͟e͟t͟a͟p͟i͟ b͟e͟l͟u͟m͟ d͟i͟a͟k͟u͟i͟ s͟e͟c͟a͟r͟a͟ h͟u͟k͟u͟m͟ p͟͟o͟͟s͟͟i͟͟t͟͟i͟͟f͟͟. Hal ini karena talak belum disahkan melalui sidang di PA. Akibatnya, ikatan perkawinan antara suami dan istri belum putus secara hukum. Dengan kata lain, baik suami maupun istri masih tercatat secara sah sebagai pasangan suami-istri menurut hukum yang berlaku.
Talak Satu dan Talak Dua
Pada dasarnya, ketika seorang suami menjatuhkan talak satu dan talak dua kepada istri, m͟a͟k͟a͟ k͟e͟d͟u͟a͟n͟y͟a͟ m͟a͟s͟i͟h͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟r͟u͟j͟u͟k͟ a͟t͟a͟u͟ k͟a͟w͟i͟n͟ k͟͟e͟͟m͟͟b͟͟a͟͟l͟͟i͟͟. Hal ini sebagaimana Allah Swt berfirman dalam Q.S Al-Baqarah (2) ayat 229 berikut.
- Talak (yang dapat dirujuk) itu dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik..
Sayuti Thalib dalam buku Hukum Kekeluargaan Indonesia (hal. 103-104) menerangkan, dilihat dari bentuk, cara terjadinya, dan akibat hukumnya, talak satu dan dua dibedakan sebagai berikut.
- Talak raj’i atau talak ruj’i adalah talak yang masih boleh dirujuk. Hal ini juga diatur dalam Pasal 118 KHI, yang mendefinisikan talak raj’i sebagai talak kesatu atau kedua, di mana suami berhak rujuk selama istri dalam masa iddah.
Lebih lanjut lagi, yang termasuk talak raj’i yaitu:
a. talak satu atau talak
dua tidak pakai
‘iwadh (sejumlah
uang pengganti
yang merupakan
syarat jatuhnya
talak) dan keduanya
telah bersetubuh
(ba’da al dukhul);
b. perceraian dalam
bentuk talak yang
dijatuhkan oleh
hakim agama
berdasarkan proses
ila’, yaitu sumpah
si suami tidak akan
mencampuri
istrinya;
c. perceraian dalam
bentuk talak yang
dijatuhkan oleh
hakim agama
berdasarkan
persamaan
pendapat dua
hakam karena
adanya syiqaq
(keretakan yang
sangat hebat antara
suami dan istri),
tidak pakai ‘iwadh.
- Talak ba’in shugra, yaitu talak yang tidak dapat dirujuk lagi, tetapi keduanya dapat kawin lagi sesudah masa iddah habis. Senada dengan hal tersebut, Pasal 119 KHI mendefinsikan talak ba`in shughra sebagai talak yang tidak boleh dirujuk tapi boleh akad nikah baru dengan bekas suaminya meskipun dalam iddah.
Perlu diperhatikan, terdapat sedikit perbedaan pendapat mengenai talak ba’in shugra menurut Sayuti Thalib dan KHI. Intinya, menurut Sayuti, talak ba’in sughra merupakan talak yang tidak dapat dirujuk, tetapi pasangan tersebut dapat menikah lagi setelah masa iddah berakhir. Sedangkan menurut Pasal 119 KHI, setelah jatuhnya talak ba’in sughra, pasangan suami-istri diperbolehkan menikah lagi dengan akad baru, bahkan saat masih dalam masa iddah.
Jadi, a͟p͟a͟b͟i͟l͟a͟ s͟u͟a͟m͟i͟ m͟e͟n͟j͟a͟t͟u͟h͟k͟a͟n͟ t͟a͟l͟a͟k͟ s͟a͟t͟u͟ a͟t͟a͟u͟ t͟a͟l͟a͟k͟ d͟u͟a͟ sebagaimana dimaksud di atas, m͟a͟k͟a͟ i͟a͟ d͟a͟n͟ m͟a͟n͟t͟a͟n͟ i͟s͟t͟r͟i͟n͟y͟a͟ m͟a͟s͟i͟h͟ m͟e͟m͟i͟l͟i͟k͟i͟ k͟e͟m͟u͟n͟g͟k͟i͟n͟a͟n͟ u͟n͟t͟u͟k͟ r͟u͟j͟u͟k͟ a͟t͟a͟u͟ k͟a͟w͟i͟n͟ k͟͟e͟͟m͟͟b͟͟a͟͟l͟͟i͟͟.
Lebih lanjut, Sayuti Thalib memaparkan bahwa r͟u͟j͟u͟k͟ k͟e͟m͟b͟a͟l͟i͟ b͟e͟r͟a͟r͟t͟i͟ s͟u͟a͟m͟i͟ y͟a͟n͟g͟ t͟e͟l͟a͟h͟ m͟e͟n͟j͟a͟t͟u͟h͟k͟a͟n͟ t͟a͟l͟a͟k͟ d͟a͟p͟a͟t͟ k͟e͟m͟b͟a͟l͟i͟ m͟e͟m͟b͟a͟n͟g͟u͟n͟ h͟u͟b͟u͟n͟g͟a͟n͟ p͟͟e͟͟r͟͟n͟͟i͟͟k͟͟a͟͟h͟͟a͟͟n͟͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ m͟a͟n͟t͟a͟n͟ i͟s͟t͟r͟i͟n͟y͟a͟ m͟e͟l͟a͟l͟u͟i͟ p͟r͟o͟s͟e͟s͟ y͟a͟n͟g͟ s͟͟e͟͟d͟͟e͟͟r͟͟h͟͟a͟͟n͟͟a͟͟. Caranya yakni suami mengucapkan “saya kembali kepadamu” di hadapan 2 orang saksi laki-laki yang adil (hal. 101).
Sedangkan yang dimaksud dengan k͟a͟w͟i͟n͟ k͟e͟m͟b͟a͟l͟i͟ i͟a͟l͟a͟h͟ k͟e͟d͟u͟a͟ m͟a͟n͟t͟a͟n͟ s͟u͟a͟m͟i͟-i͟s͟t͟r͟i͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟i͟k͟a͟h͟ k͟e͟m͟b͟a͟l͟i͟ s͟e͟s͟u͟a͟i͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ p͟r͟o͟s͟e͟d͟u͟r͟ d͟a͟n͟ s͟y͟a͟r͟a͟t͟ p͟e͟r͟k͟a͟w͟i͟n͟a͟n͟ m͟e͟n͟u͟r͟u͟t͟ h͟u͟k͟u͟m͟ i͟͟s͟͟l͟͟a͟͟m͟͟, yaitu a͟d͟a͟ a͟k͟a͟d͟ n͟͟i͟͟k͟͟a͟͟h͟͟, s͟͟a͟͟k͟͟s͟͟i͟͟, d͟a͟n͟ l͟a͟i͟n͟-l͟a͟i͟n͟n͟y͟a͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟n͟j͟a͟d͟i͟k͟a͟n͟ m͟e͟r͟e͟k͟a͟ m͟e͟n͟j͟a͟d͟i͟ s͟u͟a͟m͟i͟-i͟s͟t͟r͟i͟ k͟͟e͟͟m͟͟b͟͟a͟͟l͟͟i͟͟. Dalam praktiknya, masyarakat Indonesia kerap menyebut kawin kembali itu dengan sebutan rujuk (hal. 101).
Masa Iddah
Sebelum membahas tentang talak tiga, perlu Anda ketahui terlebih dahulu mengenai masa iddah yang sudah disinggung dalam penjelasan sebelumnya. Tri Jata Ayu Pramesti (penulis sebelumnya) menerangkan bahwa m͟a͟s͟a͟ i͟d͟d͟a͟h͟ adalah w͟a͟k͟t͟u͟ y͟a͟n͟g͟ b͟e͟r͟l͟a͟k͟u͟ b͟a͟g͟i͟ s͟e͟o͟r͟a͟n͟g͟ i͟s͟t͟r͟i͟ y͟a͟n͟g͟ p͟u͟t͟u͟s͟ p͟e͟r͟k͟a͟w͟i͟n͟a͟n͟n͟y͟a͟ d͟a͟r͟i͟ b͟͟͟e͟͟͟k͟͟͟a͟͟͟s͟͟͟/m͟a͟n͟t͟a͟n͟ s͟͟u͟͟a͟͟m͟͟i͟͟n͟͟y͟͟a͟͟. M͟a͟s͟a͟ i͟d͟d͟a͟h͟ d͟i͟k͟e͟n͟a͟l͟ p͟u͟l͟a͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ s͟e͟b͟u͟t͟a͟n͟ w͟a͟k͟t͟u͟ t͟͟͟u͟͟͟n͟͟͟g͟͟͟g͟͟͟u͟͟͟.[¹] Waktu tunggu bagi seorang janda ditentukan sebagai berikut:[²]
Penyebab putusnya perkawinan dan Masa iddah
- Suami meninggal, walaupun qabla al dukhul, 130 hari massa iddah;
- Perceraian, dalam kondisi perempuan sedang haid, 3 kali suci, minimal 90 hari massa iddah;
- Perceraian, dalam kondisi perempuan sedang tidak haid, 90 hari massa iddah;
- Perceraian atau suami meninggal, dalam kondisi perempuan sedang hamil, massa iddah sampai melahirkan.
Sebagai informasi, qabla al dukhul m͟͟e͟͟r͟͟u͟͟p͟͟a͟͟k͟͟a͟͟n͟͟ k͟o͟n͟d͟i͟s͟i͟ d͟i͟ m͟a͟n͟a͟ s͟u͟a͟m͟i͟ i͟s͟t͟r͟i͟ b͟e͟r͟c͟e͟r͟a͟i͟ s͟e͟t͟e͟l͟a͟h͟ a͟k͟a͟d͟ y͟a͟n͟g͟ s͟a͟h͟ n͟a͟m͟u͟n͟ b͟e͟l͟u͟m͟ m͟e͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟c͟a͟m͟p͟u͟r͟a͟n͟ i͟n͟t͟i͟m͟ s͟u͟a͟m͟i͟ i͟͟s͟͟t͟͟r͟͟i͟͟.
Talak Tiga
Talak tiga adalah salah satu bentuk dari talak ba’in besar, yakni talak yang tidak boleh rujuk lagi. Menurut Sayuti dalam buku yang sama (hal. 104), k͟o͟n͟s͟e͟k͟u͟e͟n͟s͟i͟ d͟a͟r͟i͟ t͟a͟l͟a͟k͟ t͟i͟g͟a͟ i͟n͟i͟ y͟a͟k͟n͟i͟ k͟e͟d͟u͟a͟n͟y͟a͟ t͟i͟d͟a͟k͟ b͟o͟l͟e͟h͟ r͟u͟j͟u͟k͟ l͟a͟g͟i͟ d͟a͟n͟ k͟a͟w͟i͟n͟ l͟a͟g͟i͟ s͟e͟b͟e͟l͟u͟m͟ m͟a͟n͟t͟a͟n͟ i͟s͟t͟r͟i͟ k͟a͟w͟i͟n͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ o͟r͟a͟n͟g͟ l͟͟a͟͟i͟͟n͟͟.
Mengenai talak tiga ini, Allah Swt berfirman dalam Q.S Al-Baqarah (2) ayat 230, yang artinya sebagai berikut.
- Kemudian jika dia menceraikannya (setelah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak halal lagi baginya sebelum dia menikah dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (suami pertama dan bekas istri) untuk menikah kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah ketentuan-ketentuan Allah yang diterangkan-Nya kepada orang-orang yang berpengetahuan.
Terkait ayat tersebut, Sayuti menerangkan, jika seorang suami menjatuhkan talak tiga, maka agar keduanya dapat menikah kembali, perlu adanya muhallil yaitu seseorang yang menghalalkan pernikahan kembali. Dalam hal ini, sang istri harus kawin terlebih dahulu dengan laki-laki lain, yang disebut muhallil, dan melakukan persetubuhan dengannya. Kalau keduanya kemudian bercerai, maka barulah mantan pasangan suami-istri yang berpisah akibat talak tiga tersebut dapat kawin kembali (hal. 101-102).
Pengaturan mengenai talak tiga atau talak ba’in kubraa juga dapat ditemukan dalam Pasal 120 KHI berikut.
- Talak ba’in kubraa adalah talak yang terjadi untuk ketiga kalinya. Talak jenis ini tidak dapat dirujuk dan tidak dapat dinikahkan kembali kecuali apabila pernikahan itu dilakukan setelah bekas istri menikah dengan orang lain dan kemudian terjadi perceraian ba’da al dukhul dan habis masa iddahnya.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa s͟e͟t͟e͟l͟a͟h͟ s͟e͟o͟r͟a͟n͟g͟ s͟u͟a͟m͟i͟ m͟͟e͟͟n͟͟j͟͟a͟͟t͟͟u͟͟h͟͟k͟͟a͟͟n͟͟ t͟a͟l͟a͟k͟ s͟a͟t͟u͟ a͟t͟a͟u͟ t͟a͟l͟a͟k͟ d͟͟u͟͟a͟͟, m͟a͟k͟a͟ i͟a͟ d͟a͟n͟ m͟a͟n͟t͟a͟n͟ i͟s͟t͟r͟i͟n͟y͟a͟ m͟a͟s͟i͟h͟ m͟e͟m͟i͟l͟i͟k͟i͟ k͟e͟m͟u͟n͟g͟k͟i͟n͟a͟n͟ u͟n͟t͟u͟k͟ r͟u͟j͟u͟k͟ a͟t͟a͟u͟ k͟a͟w͟i͟n͟ k͟͟e͟͟m͟͟b͟͟a͟͟l͟͟i͟͟. Sedangkan a͟p͟a͟b͟i͟l͟a͟ t͟e͟l͟a͟h͟ j͟a͟t͟u͟h͟n͟y͟a͟ t͟a͟l͟a͟k͟ t͟͟͟i͟͟͟g͟͟͟a͟͟͟, m͟a͟k͟a͟ s͟e͟j͟a͟t͟i͟n͟y͟a͟ p͟a͟s͟a͟n͟g͟a͟n͟ t͟e͟r͟s͟e͟b͟u͟t͟ t͟i͟d͟a͟k͟ d͟a͟p͟a͟t͟ r͟u͟j͟u͟k͟ l͟͟a͟͟g͟͟i͟͟. A͟g͟a͟r͟ k͟e͟d͟u͟a͟n͟y͟a͟ d͟a͟p͟a͟t͟ m͟e͟n͟i͟k͟a͟h͟ k͟͟e͟͟m͟͟b͟͟a͟͟l͟͟i͟͟, s͟a͟n͟g͟ i͟s͟t͟r͟i͟ h͟a͟r͟u͟s͟ m͟e͟n͟i͟k͟a͟h͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ o͟r͟a͟n͟g͟ l͟a͟i͟n͟ t͟e͟r͟l͟e͟b͟i͟h͟ d͟a͟h͟u͟l͟u͟ d͟a͟n͟ m͟e͟n͟g͟i͟k͟u͟t͟i͟ a͟t͟u͟r͟q͟n͟ y͟a͟n͟g͟ b͟e͟r͟l͟a͟k͟u͟ s͟e͟b͟e͟l͟u͟m͟ d͟a͟p͟a͟t͟ m͟e͟n͟i͟k͟a͟h͟ k͟e͟m͟b͟a͟l͟i͟ d͟͟e͟͟n͟͟g͟͟a͟͟n͟͟ m͟a͟n͟t͟a͟n͟ s͟͟u͟͟a͟͟m͟͟i͟͟n͟͟y͟͟a͟͟.
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat dan dapat dijadikan pembelajaran untuk kita semua terlebih untuk penanya dan Paralegal ubklawyers pada khususnya.
D͟a͟s͟a͟r͟ H͟u͟k͟u͟m͟:
- Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991 tentang Penyebarluasan Kompilasi Hukum Islam.
R͟e͟f͟e͟r͟e͟n͟s͟i͟:
- Sayuti Thalib. Hukum Kekeluargaan Indonesia. Jakarta: UI-Press, 1986;
- Sudarsono. Hukum Perkawinan Nasional. Jakarta: PT Rineka Cipta, 2005.
Artikel ini adalah pemutakhiran kedua dari artikel dengan judul Perbedaan Talak Satu, Dua, dan Tiga yang dibuat oleh Tri Jata Ayu Pramesti, S.H. dan pertama kali dipublikasikan pada 21 Agustus 2015, yang pertama kali dimutakhirkan pada 30 November 2021. Dimutakhirkan kedua oleh “..Hukumonline.com..” dengan judul Apa Bedanya Talak Satu, Dua, dan Tiga? Pada tanggal 13 Januari 2026M. Dan diteruskan oleh ubklawyers pada tanggal 01 Juni 2026M/15 Zulhijjah 1447H.
Seluruh Informasi Hukum yang ada di LBH-UMAR BIN KHATTAB disiapkan semata-mata untuk t͟͟͟u͟͟͟j͟͟͟u͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟ p͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, p͟e͟m͟b͟e͟l͟a͟j͟a͟r͟a͟n͟ dan b͟e͟r͟s͟i͟f͟a͟t͟ u͟m͟u͟m͟. Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan Pengacara, Konsultan Hukum dan/atau Paralegal UBK LAWYERS.
Sedang menghadapi permasalahan hukum? A͟j͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟t͟a͟n͟y͟a͟a͟n͟ melalui email, telepon atau chat.👇🏼
Email:
ubklawyer@gmail.com
Telepon/Chat:
089666552118
Berkenan G͟a͟b͟u͟n͟g͟ G͟r͟o͟u͟p͟, untuk jadi bagian Keluarga Besar UBK LAWYERS. Klik link dibawah.👇🏼
I͟K͟U͟T͟I͟ W͟h͟a͟t͟s͟A͟p͟p͟ C͟h͟a͟n͟n͟e͟l͟ LBH-UMAR BIN KHATTAB. Untuk memperkaya Riset Hukum Anda, klik link dibawah.👇🏼
🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸
#cerdashukum
#studylawtogether
#ubklawyers

