INDRAMAYU- (lintaspanturaindonesia.com) — PERTANYAAN:
Kami sedang menghadapi sengketa tanah dengan orang lain. Kami bingung tanah kami dinyatakan diblokir, bukan disita. Apakah pemblokiran itu berbeda dengan disita? Apakah memang ada aturan tentang pemblokiran tanah? Atas penjelasannya diucapkan terimakasih, untuk ubklawyers beserta Paralegalnya salam Bravo..!
Adi Caswadi – Bugel City
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
“INTISARI JAWABAN”
【ℌ𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔓𝔢𝔯𝔱𝔞𝔫𝔞𝔥𝔞𝔫 & 𝔓𝔯𝔬𝔭𝔢𝔯𝔱𝔶】
𝔓𝔢𝔪𝔟𝔩𝔬𝔨𝔦𝔯𝔞𝔫 𝔱𝔞𝔫𝔞𝔥 𝔟𝔢𝔯𝔟𝔢𝔡𝔞 𝔡𝔢𝔫𝔤𝔞𝔫 𝔭𝔢𝔫𝔶𝔦𝔱𝔞𝔞𝔫 𝔱𝔞𝔫𝔞𝔥. 𝔓𝔢𝔪𝔟𝔩𝔬𝔨𝔦𝔯𝔞𝔫 𝔱𝔞𝔫𝔞𝔥 𝔟𝔢𝔯𝔣𝔲𝔫𝔤𝔰𝔦 𝔰𝔢𝔟𝔞𝔤𝔞𝔦 𝔞𝔩𝔞𝔱 𝔭𝔢𝔫𝔱𝔦𝔫𝔤 𝔡𝔞𝔩𝔞𝔪 𝔰𝔦𝔰𝔱𝔢𝔪 𝔞𝔡𝔪𝔦𝔫𝔦𝔰𝔱𝔯𝔞𝔰𝔦 𝔭𝔢𝔯𝔱𝔞𝔫𝔞𝔥𝔞𝔫 𝔲𝔫𝔱𝔲𝔨 𝔪𝔢𝔪𝔞𝔰𝔱𝔦𝔨𝔞𝔫 𝔟𝔞𝔥𝔴𝔞 𝔥𝔞𝔨 𝔞𝔱𝔞𝔰 𝔱𝔞𝔫𝔞𝔥 𝔱𝔦𝔡𝔞𝔨 𝔡𝔦𝔰𝔞𝔩𝔞𝔥𝔤𝔲𝔫𝔞𝔨𝔞𝔫 𝔡𝔞𝔫 𝔞𝔡𝔪𝔦𝔫𝔦𝔰𝔱𝔯𝔞𝔰𝔦 𝔭𝔢𝔯𝔱𝔞𝔫𝔞𝔥𝔞𝔫 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔡𝔦𝔩𝔞𝔨𝔲𝔨𝔞𝔫 𝔡𝔢𝔫𝔤𝔞𝔫 𝔱𝔢𝔯𝔱𝔦𝔟 𝔡𝔞𝔫 𝔞𝔨𝔲𝔯𝔞𝔱.
𝔖𝔢𝔟𝔞𝔩𝔦𝔨𝔫𝔶𝔞, 𝔭𝔢𝔫𝔶𝔦𝔱𝔞𝔞𝔫 𝔱𝔞𝔫𝔞𝔥 𝔟𝔢𝔯𝔣𝔲𝔫𝔤𝔰𝔦 𝔲𝔫𝔱𝔲𝔨 𝔨𝔢𝔭𝔢𝔫𝔱𝔦𝔫𝔤𝔞𝔫 𝔭𝔢𝔪𝔟𝔲𝔨𝔱𝔦𝔞𝔫, 𝔭𝔢𝔫𝔲𝔫𝔱𝔲𝔱𝔞𝔫 𝔡𝔞𝔫 𝔭𝔯𝔞𝔭𝔢𝔯𝔞𝔡𝔦𝔩𝔞𝔫.
𝔓𝔢𝔫𝔧𝔢𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔩𝔢𝔟𝔦𝔥 𝔩𝔞𝔫𝔧𝔲𝔱 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔄𝔫𝔡𝔞 𝔟𝔞𝔠𝔞 𝔲𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔡𝔦 𝔟𝔞𝔴𝔞𝔥 𝔦𝔫𝔦.
ULASAN SELENGKAPNYA;
Terimakasih atas pertanyaan Anda.
Artikel ini dibuat berdasarkan ~KUHAP lama~ dan UU 20/2025 tentang KUHAP yang diundangkan pada tanggal 17 Desember 2025.
Pemblokiran Tanah
Tanah m͟e͟m͟i͟l͟i͟k͟i͟ p͟͟e͟͟r͟͟a͟͟n͟͟a͟͟n͟͟ y͟a͟n͟g͟ s͟a͟n͟g͟a͟t͟ p͟͟e͟͟n͟͟t͟͟i͟͟n͟͟g͟͟, k͟a͟r͟e͟n͟a͟ a͟n͟t͟a͟r͟a͟ m͟a͟n͟u͟s͟i͟a͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ t͟a͟n͟a͟h͟ t͟e͟r͟d͟a͟p͟a͟t͟ k͟͟e͟͟t͟͟e͟͟r͟͟k͟͟a͟͟i͟͟t͟͟a͟͟n͟͟. Dalam hal ini, d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟g͟a͟m͟b͟a͟r͟k͟a͟n͟ b͟a͟h͟w͟a͟ h͟u͟b͟u͟n͟g͟a͟n͟ m͟a͟n͟u͟s͟i͟a͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ t͟a͟n͟a͟h͟ s͟a͟n͟g͟a͟t͟l͟a͟h͟ e͟r͟a͟t͟ k͟a͟r͟e͟n͟a͟ t͟a͟n͟a͟h͟ m͟e͟r͟u͟p͟a͟k͟a͟n͟ m͟o͟d͟a͟l͟ h͟i͟d͟u͟p͟ d͟a͟r͟i͟ m͟͟a͟͟n͟͟u͟͟s͟͟i͟͟a͟͟ sebagaimana diamanatkan dalam UU PA.
Sebelum menjawab inti pertanyaan Anda, sebaiknya kita pahami terlebih dahulu apa itu pencatatan blokir. Menurut Putu Diva Sukmawati (et.al) dalam jurnal Hukum Agraria dalam Penyelesaian Sengketa Tanah di Indonesia (hal. 90) menjelaskan bahwa pemblokiran tanah atau pencatatan blokir adalah t͟i͟n͟d͟a͟k͟a͟n͟ a͟d͟m͟i͟n͟i͟s͟t͟r͟a͟s͟i͟ K͟e͟p͟a͟l͟a͟ K͟a͟n͟t͟o͟r͟ P͟e͟r͟t͟a͟n͟a͟h͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ p͟e͟j͟a͟b͟a͟t͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟t͟u͟n͟j͟u͟k͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟n͟e͟t͟a͟p͟k͟a͟n͟ k͟e͟a͟d͟a͟a͟n͟ s͟t͟a͟t͟u͟s͟ q͟u͟o͟ (p͟͟e͟͟m͟͟b͟͟e͟͟k͟͟u͟͟a͟͟n͟͟),[¹] p͟a͟d͟a͟ h͟a͟k͟ a͟t͟a͟s͟ t͟a͟n͟a͟h͟ y͟a͟n͟g͟ b͟e͟r͟s͟i͟f͟a͟t͟ s͟e͟m͟e͟n͟t͟a͟r͟a͟ t͟e͟r͟h͟a͟d͟a͟p͟ p͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ h͟u͟k͟u͟m͟ d͟a͟n͟ p͟e͟r͟i͟s͟t͟i͟w͟a͟ h͟u͟k͟u͟m͟ a͟t͟a͟s͟ t͟a͟n͟a͟h͟ t͟͟e͟͟r͟͟s͟͟e͟͟b͟͟u͟͟t͟͟. Hal ini sebagaimana diatur dalam Pasal 1 angka 1 Permen ATR/BPN 13/2017.
Selanjutnya, berdasarkan pengalaman praktik pribadi Alif Abdurrahman (penulis sebelumnya), p͟e͟m͟b͟l͟o͟k͟i͟r͟a͟n͟ i͟n͟i͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ a͟p͟a͟b͟i͟l͟a͟ t͟e͟r͟j͟a͟d͟i͟ d͟͟u͟͟g͟͟a͟͟a͟͟n͟͟ a͟t͟a͟u͟ s͟e͟n͟g͟k͟e͟t͟a͟ s͟t͟a͟t͟u͟s͟ k͟e͟p͟e͟m͟i͟l͟i͟k͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ h͟a͟k͟ a͟t͟a͟s͟ t͟͟a͟͟n͟͟a͟͟h͟͟. Alasan pemblokiran tanah tersebut sebagaimana diatur dalam Pasal 3 ayat (1) Permen ATR/BPN 13/2017, yaitu k͟a͟r͟e͟n͟a͟ t͟e͟r͟d͟a͟p͟a͟t͟ p͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ h͟u͟k͟u͟m͟ a͟t͟a͟u͟ p͟e͟r͟i͟s͟t͟i͟w͟a͟ h͟͟u͟͟k͟͟u͟͟m͟͟, a͟t͟a͟u͟ k͟a͟r͟e͟n͟a͟ a͟d͟a͟n͟y͟a͟ s͟e͟n͟g͟k͟e͟t͟a͟ a͟t͟a͟u͟ k͟o͟n͟f͟l͟i͟k͟ p͟e͟r͟t͟a͟n͟a͟h͟a͟n͟.
Tujuan pemblokiran tanah adalah untuk mencegah perubahan status hukum atau kepemilikan tanah sampai dengan sengketa tersebut diselesaikan. Adapun t͟u͟j͟u͟a͟n͟ p͟e͟m͟b͟l͟o͟k͟i͟r͟a͟n͟ t͟a͟n͟a͟h͟ d͟a͟l͟a͟m͟ k͟o͟n͟t͟e͟k͟s͟ a͟d͟m͟i͟n͟i͟s͟t͟r͟a͟s͟i͟ p͟e͟r͟t͟a͟n͟a͟h͟a͟n͟ d͟i͟ I͟n͟d͟o͟n͟e͟s͟i͟a͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟l͟i͟n͟d͟u͟n͟g͟i͟ h͟a͟k͟ a͟t͟a͟s͟ t͟a͟n͟a͟h͟ d͟a͟r͟i͟ s͟e͟g͟a͟l͟a͟ b͟e͟n͟t͟u͟k͟ p͟e͟r͟u͟b͟a͟h͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ t͟i͟d͟a͟k͟ s͟a͟h͟, sehingga ada keputusan hukum yang final atau mengikat dari pengadilan. Pemblokiran ini mencegah pihak lain melakukan pemindahan hak atau penyalahgunaan kepemilikan atas tanah tersebut.
Dalam praktiknya, secara lebih rinci, tujuan pemblokiran tanah meliputi:
- Pencegahan Perubahan Sertifikat
Pemblokiran bertujuan untuk menghentikan sementara segala bentuk perubahan pada sertifikat hak atas tanah. Hal ini dilakukan untuk mencegah pihak-pihak tertentu melakukan pemindahan hak atau peralihan kepemilikan tanpa otorisasi yang sah. - Pengamanan Hak Atas Tanah
Dengan adanya pemblokiran, hak atas tanah yang bersangkutan tetap terlindungi dari kemungkinan disalahgunakan oleh pihak lain. Ini juga memastikan bahwa tidak ada transaksi yang dilakukan tanpa keputusan hukum yang jelas. - Pencatatan Administrasi Pertanahan
Pemblokiran tanah harus dicatat dengan rapi dalam buku tanah dan surat ukur. Ini adalah bagian dari kegiatan pemeliharaan data pendaftaran tanah untuk memastikan semua informasi terkait hak atas tanah tercatat dengan benar dan akurat. - Penanganan Sengketa
Pemblokiran juga berlaku dalam kasus sengketa atau perkara hukum mengenai hak atas tanah. Dengan mencatat blokir dalam administrasi pertanahan, pihak-pihak yang bersengketa bisa mengetahui bahwa ada tindakan hukum yang sedang berlangsung dan keputusan mengenai hak atas tanah tersebut belum final. - Kepastian Hukum
Dengan adanya sistem pemblokiran yang jelas dan tercatat, diharapkan dapat memberikan kepastian hukum bagi semua pihak terkait mengenai status hak atas tanah yang bersangkutan.
Dalam Permen ATR/BPN 13/2017, permohonan pencatatan blokir dapat diajukan oleh perorangan, badan hukum, atau penegak hukum.[²] Perorangan ataupun badan hukum tersebut wajib mempunyai hubungan hukum dengan tanah yang dimohonkan pemblokiran tersebut serta mencantumkan alasan yang jelas dan bersedia dilakukan pemeriksaan atas permohonan tersebut.[³]
Pemohon yang mempunyai hubungan hukum yang dimaksud terdiri atas:[⁴]
a. pemilik tanah, baik
perorangan maupun
badan hukum;
b. para pihak dalam
perjanjian baik
notariil maupun di
bawah tangan atau
kepemilikan harta
bersama bukan
dalam perkawinan;
c. ahli waris atau
kepemilikan harta
bersama dalam
perkawinan;
d. pembuat perjanjian
baik notariil maupun
di bawah tangan,
berdasarkan kuasa;
atau
e. bank, dalam hal
dimuat dalam akta
notariil para pihak.
Kemudian, p͟e͟r͟l͟u͟ d͟i͟k͟e͟t͟a͟h͟u͟i͟ b͟a͟h͟w͟a͟ p͟e͟m͟b͟l͟o͟k͟i͟r͟a͟n͟ t͟a͟n͟a͟h͟ t͟i͟d͟a͟k͟ b͟e͟r͟a͟r͟t͟i͟ t͟a͟n͟a͟h͟ t͟e͟r͟s͟e͟b͟u͟t͟ d͟i͟s͟i͟t͟a͟ a͟t͟a͟u͟ d͟i͟a͟m͟b͟i͟l͟ a͟l͟i͟h͟ o͟l͟e͟h͟ n͟͟e͟͟g͟͟a͟͟r͟͟a͟͟. P͟e͟m͟i͟l͟i͟k͟ t͟a͟n͟a͟h͟ t͟e͟t͟a͟p͟ m͟e͟m͟i͟l͟i͟k͟i͟ h͟a͟k͟ a͟t͟a͟s͟ t͟a͟n͟a͟h͟ t͟͟e͟͟r͟͟s͟͟e͟͟b͟͟u͟͟t͟͟, t͟e͟t͟a͟p͟i͟ h͟a͟k͟-h͟a͟k͟n͟y͟a͟ d͟i͟b͟a͟t͟a͟s͟i͟ s͟e͟m͟e͟n͟t͟a͟r͟a͟ w͟͟a͟͟k͟͟t͟͟u͟͟. Pemblokiran dapat dilakukan atas permintaan pihak yang berkepentingan atau oleh lembaga pemerintah berdasarkan alasan hukum tertentu. Seseorang dapat meminta pemblokiran dalam buku tanah sertifikat yang dimaksud dengan hanya menyampaikan alasan serta dokumen pendukung yang menguatkan alasan dan hubungan hukumnya dengan sertifikat tersebut. Umumnya, pemblokiran dilakukan untuk memastikan tidak ada tindakan yang merugikan pihak-pihak yang terlibat selama penyelesaian sengketa berlangsung.[⁵]
Sebagai informasi, c͟a͟t͟a͟t͟a͟n͟ b͟l͟o͟k͟i͟r͟ o͟l͟e͟h͟ p͟e͟r͟o͟r͟a͟n͟g͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ b͟a͟d͟a͟n͟ h͟u͟k͟u͟m͟ b͟e͟r͟l͟a͟k͟u͟ u͟n͟t͟u͟k͟ j͟a͟n͟g͟k͟a͟ w͟a͟k͟t͟u͟ 30 h͟a͟r͟i͟ k͟a͟l͟e͟n͟d͟e͟r͟ t͟e͟r͟h͟i͟t͟u͟n͟g͟ s͟e͟j͟a͟k͟ t͟a͟n͟g͟g͟a͟l͟ p͟͟e͟͟n͟͟c͟͟a͟͟t͟͟a͟͟t͟͟a͟͟n͟͟ b͟͟l͟͟o͟͟k͟͟i͟͟r͟͟. Lalu, j͟a͟n͟g͟k͟a͟ w͟a͟k͟t͟u͟ t͟e͟r͟s͟e͟b͟u͟t͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟͟͟i͟͟͟p͟͟͟e͟͟͟r͟͟͟p͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟j͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟g͟͟͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ a͟d͟a͟n͟y͟a͟ p͟e͟r͟i͟n͟t͟a͟h͟ p͟e͟n͟g͟a͟d͟i͟l͟a͟n͟ b͟e͟r͟u͟p͟a͟ p͟e͟n͟e͟t͟a͟p͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ p͟͟u͟͟t͟͟u͟͟s͟͟a͟͟n͟͟.[⁶]
Berkaitan dengan ketentuan pemblokiran tanah, dapat Anda temukan selengkapnya dalam Pasal 3 s.d. Pasal 24 Permen ATR/BPN 13/2017 jo. Putusan MA No. 37 P/HUM/2018.
Penyitaan Tanah
Mengutip pendapat Alif Abdurrahman, p͟e͟n͟y͟i͟t͟a͟a͟n͟ t͟a͟n͟a͟h͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟a͟n͟ h͟u͟k͟u͟m͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ o͟l͟e͟h͟ o͟t͟o͟r͟i͟t͟a͟s͟ b͟͟e͟͟r͟͟w͟͟e͟͟n͟͟a͟͟n͟͟g͟͟, s͟e͟p͟e͟r͟t͟i͟ k͟͟e͟͟p͟͟o͟͟l͟͟i͟͟s͟͟i͟͟a͟͟n͟͟, p͟e͟n͟g͟a͟d͟i͟l͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ k͟͟e͟͟j͟͟a͟͟k͟͟s͟͟a͟͟a͟͟n͟͟, u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟n͟g͟a͟m͟b͟i͟l͟ a͟l͟i͟h͟ t͟a͟n͟a͟h͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ b͟a͟g͟i͟a͟n͟ d͟a͟r͟i͟ p͟r͟o͟s͟e͟s͟ h͟͟u͟͟k͟͟u͟͟m͟͟. P͟e͟n͟y͟i͟t͟a͟a͟n͟ i͟n͟i͟ t͟e͟r͟j͟a͟d͟i͟ p͟a͟d͟a͟ s͟e͟t͟i͟a͟p͟ k͟a͟s͟u͟s͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ d͟i͟ m͟a͟n͟a͟ t͟a͟n͟a͟h͟ d͟i͟d͟u͟g͟a͟ m͟e͟r͟u͟p͟a͟k͟a͟n͟ b͟u͟k͟t͟i͟ d͟a͟r͟i͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟͟i͟͟d͟͟a͟͟n͟͟a͟͟, a͟t͟a͟u͟ j͟u͟g͟a͟ d͟a͟l͟a͟m͟ k͟a͟s͟u͟s͟ p͟e͟r͟d͟a͟t͟a͟ d͟i͟ m͟a͟n͟a͟ t͟a͟n͟a͟h͟ t͟e͟r͟s͟e͟b͟u͟t͟ d͟i͟g͟u͟n͟a͟k͟a͟n͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ j͟a͟m͟i͟n͟a͟n͟ u͟t͟a͟n͟g͟ y͟a͟n͟g͟ t͟i͟d͟a͟k͟ d͟͟i͟͟l͟͟u͟͟n͟͟a͟͟s͟͟i͟͟.
Dalam penelusuran kami, penyitaan tanah dalam ketentuan peraturan perundang-undangan berkenaan dengan pencatatan sita, yaitu tindakan administrasi Kepala Kantor Pertanahan atau pejabat yang ditunjuk untuk mencatat adanya sita dari lembaga peradilan, penyidik atau instansi yang berwenang lainnya.[⁷]
Pencatatan sita ini lebih lanjut diatur dalam Pasal 25 Permen ATR/BPN 13/2017 sebagai berikut:
- Pencatatan Sita dilakukan terhadap hak atas tanah dalam rangka kepentingan penyelesaian perkara di pengadilan atau penyidikan.
- Pencatatan Sita sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan paling banyak 1 (satu) kali oleh 1 (satu) pemohon pada 1 (satu) objek tanah yang sama.
- Hak atas tanah yang berada dalam keadaan disita tidak dapat dialihkan dan/atau dibebani hak tanggungan.
- Hak atas tanah yang berada dalam keadaan disita dapat di roya, diperpanjang dan/atau diperbaharui dengan memberitahukan kepada Ketua Pengadilan, para pihak yang berperkara dan/atau penyidik.
- Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan perbuatan administrasi pemerintahan dan tidak dapat dikategorikan sebagai tindak pidana.
Adapun, dalam ranah hukum pidana, secara historis, penyitaan tanah perlu memperhatikan ketentuan dalam UU 20/2025 tentang KUHAP baru yang telah berlaku sejak 2 Januari 2026.[⁸] Namun, untuk memperkaya pengetahuan Anda, kami juga akan membandingkannya dengan ketentuan dalam ~KUHAP lama~ yang sudah tidak berlaku.
Pasal 118 UU 20/2025
- Untuk kepentingan Penyidikan, Penyidik dapat melakukan Penyitaan.
Pasal 119 ayat (1) dan (2) UU 20/2025
- Sebelum melakukan Penyitaan, Penyidik mengajukan permohonan izin kepada ketua pengadilan negeri tempat keberadaan benda tersebut.
- Permohonan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memuat informasi lengkap mengenai benda yang akan disita minimal meliputi:
a. jenis;
b. jumlah dan nilai
barang;
c. lokasi; dan
d. alasan Penyitaan.
Pasal 120 ayat (1) dan (2) UU 20/2025
- Dalam keadaan mendesak, Penyidik dapat melakukan Penyitaan lanpa izin ketua pengadilan negeri hanya atas benda bergerak dan untuk itu dalam jangka waktu paling lama 5 (lima) hari kerja wajib meminta persetujuan kepada ketua pengadilan negeri.
- Keadaan mendesak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. letak geografis yang
susah dijangkau;
b. Tertangkap Tangan;
c. Tersangka
berpotensi
berupaya merusak
dan menghilangkan
barang bukti secara
nyata;
d. benda atau aset
tersebut mudah
dipindahkan;
e. adanya ancaman
serius terhadap
keamanan nasional
atau nyawa
seseorang yang
memerlukan
tindakan segera;
dan/atau
f. situasi berdasarkan
penilaian Penyidik.
~Pasal 38 KUHAP~
- Penyitaan hanya dapat dilakukan oleh penyidik dengan surat izin ketua pengadilan negeri setempat;
- Dalam keadaan yang sangat perlu dan mendesak bilamana penyidik harus segera bertindak dan tidak mungkin untuk mendapatkan surat izin terlebih dahulu, tanpa mengurangi ketentuan ayat (1) penyidik dapat melakukan penyitaan hanya atas benda bergerak dan untuk itu wajib segera melaporkan kepada ketua pengadilan negeri setempat guna memperoleh persetujuannya.
Kemudian, sita pidana pada umumnya dilakukan sebagai kepentingan pembuktian, penuntutan, dan praperadilan. Saat tanah disita, pemilik tanah kehilangan hak untuk menggunakan atau mengelola tanah tersebut selama proses hukum berlangsung. P͟e͟n͟y͟i͟t͟a͟a͟n͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ l͟a͟n͟g͟k͟a͟h͟ y͟a͟n͟g͟ t͟e͟r͟a͟k͟h͟i͟r͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟a͟m͟b͟i͟l͟ a͟p͟a͟b͟i͟l͟a͟ p͟e͟m͟b͟l͟o͟k͟i͟r͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ t͟i͟d͟a͟k͟ t͟͟e͟͟r͟͟l͟͟a͟͟k͟͟s͟͟a͟͟n͟͟a͟͟, karena secara langsung mempengaruhi hak kepemilikan dan penggunaan tanah oleh pemiliknya. Umumnya, proses penyitaan berakhir dengan keputusan pengadilan yang menentukan apakah tanah tersebut akan dikembalikan kepada pemiliknya atau diambil alih oleh negara.
Berkaitan dengan ketentuan penyitaan tanah, dapat Anda temukan selengkapnya dalam Pasal 25 s.d. Pasal 43 Permen ATR/BPN 13/2017.
Perbedaan Pemblokiran Tanah dan Penyitaan Tanah
Kesimpulannya, pemblokiran tanah b͟e͟r͟f͟u͟n͟g͟s͟i͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ a͟l͟a͟t͟ p͟e͟n͟t͟i͟n͟g͟ d͟a͟l͟a͟m͟ s͟i͟s͟t͟e͟m͟ a͟d͟m͟i͟n͟i͟s͟t͟r͟a͟s͟i͟ p͟e͟r͟t͟a͟n͟a͟h͟a͟n͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟m͟a͟s͟t͟i͟k͟a͟n͟ b͟a͟h͟w͟a͟ h͟a͟k͟ a͟t͟a͟s͟ t͟a͟n͟a͟h͟ t͟i͟d͟a͟k͟ d͟͟͟i͟͟͟s͟͟͟a͟͟͟l͟͟͟a͟͟͟h͟͟͟g͟͟͟u͟͟͟n͟͟͟a͟͟͟k͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟ d͟a͟n͟ a͟d͟m͟i͟n͟i͟s͟t͟r͟a͟s͟i͟ p͟e͟r͟t͟a͟n͟a͟h͟a͟n͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ t͟e͟r͟t͟i͟b͟ d͟a͟n͟ a͟͟k͟͟u͟͟r͟͟a͟͟t͟͟. S͟e͟l͟a͟i͟n͟ i͟͟t͟͟u͟͟, p͟e͟m͟b͟l͟o͟k͟i͟r͟a͟n͟ t͟a͟n͟a͟h͟ t͟i͟d͟a͟k͟ b͟e͟r͟a͟r͟t͟i͟ t͟a͟n͟a͟h͟ t͟e͟r͟s͟e͟b͟u͟t͟ d͟i͟s͟i͟t͟a͟ a͟t͟a͟u͟ d͟i͟a͟m͟b͟i͟l͟ a͟l͟i͟h͟ o͟l͟e͟h͟ n͟͟e͟͟g͟͟a͟͟r͟͟a͟͟. P͟e͟m͟i͟l͟i͟k͟ t͟a͟n͟a͟h͟ t͟e͟t͟e͟p͟ m͟e͟m͟i͟l͟i͟k͟i͟ h͟a͟k͟ a͟t͟a͟s͟ t͟a͟n͟a͟h͟ t͟͟e͟͟r͟͟s͟͟e͟͟b͟͟u͟͟t͟͟, t͟e͟t͟a͟p͟i͟ h͟a͟k͟-h͟a͟k͟n͟y͟a͟ d͟͟͟i͟͟͟b͟͟͟a͟͟͟t͟͟͟a͟͟͟s͟͟͟i͟͟͟ s͟e͟m͟e͟n͟t͟a͟r͟a͟ w͟͟a͟͟k͟͟t͟͟u͟͟. A͟d͟a͟p͟u͟n͟ p͟e͟m͟b͟l͟o͟k͟i͟r͟a͟n͟ t͟a͟n͟a͟h͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ a͟p͟a͟l͟a͟g͟i͟ t͟e͟r͟j͟a͟d͟i͟ d͟u͟g͟a͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ s͟e͟n͟g͟k͟e͟t͟a͟ s͟t͟a͟t͟u͟s͟ k͟e͟p͟e͟m͟i͟l͟i͟k͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ h͟a͟k͟ a͟t͟a͟s͟ t͟͟a͟͟n͟͟a͟͟h͟͟.
Sebaliknya, penyitaan tanah b͟e͟r͟f͟u͟n͟g͟s͟i͟ u͟n͟t͟u͟k͟ k͟e͟p͟e͟n͟t͟i͟n͟g͟a͟n͟ p͟͟e͟͟m͟͟b͟͟u͟͟k͟͟t͟͟i͟͟a͟͟n͟͟, p͟e͟n͟u͟n͟t͟u͟t͟a͟n͟ d͟a͟n͟ p͟͟r͟͟a͟͟p͟͟e͟͟r͟͟a͟͟d͟͟i͟͟l͟͟a͟͟n͟͟. S͟a͟a͟t͟ t͟a͟n͟a͟h͟ d͟͟i͟͟s͟͟i͟͟t͟͟a͟͟, p͟e͟m͟i͟l͟i͟k͟ t͟a͟n͟a͟h͟ k͟e͟h͟i͟l͟a͟n͟g͟a͟n͟ h͟a͟k͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟n͟g͟g͟u͟n͟a͟k͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ m͟e͟n͟g͟e͟l͟o͟l͟a͟ t͟a͟n͟a͟h͟ t͟͟͟e͟͟͟r͟͟͟s͟͟͟e͟͟͟b͟͟͟u͟͟͟t͟͟͟ s͟e͟l͟a͟m͟a͟ p͟r͟o͟s͟e͟s͟ h͟u͟k͟u͟m͟ b͟͟e͟͟r͟͟l͟͟a͟͟n͟͟g͟͟s͟͟u͟͟n͟͟g͟͟, d͟a͟n͟ p͟r͟o͟s͟e͟s͟ p͟e͟n͟y͟i͟t͟a͟a͟n͟ b͟e͟r͟a͟k͟h͟i͟r͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ k͟e͟p͟u͟t͟u͟s͟a͟n͟ p͟e͟n͟g͟a͟d͟i͟l͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟e͟n͟t͟u͟k͟a͟n͟ a͟p͟a͟k͟a͟h͟ t͟a͟n͟a͟h͟ t͟e͟r͟s͟e͟b͟u͟t͟ a͟k͟a͟n͟ d͟i͟k͟e͟m͟b͟a͟l͟i͟k͟a͟n͟ p͟a͟d͟a͟ p͟e͟m͟i͟l͟i͟k͟n͟y͟a͟ a͟t͟a͟u͟ d͟i͟a͟m͟b͟i͟l͟ a͟l͟i͟h͟ o͟l͟e͟h͟ n͟͟e͟͟g͟͟a͟͟r͟͟a͟͟. A͟d͟a͟p͟u͟n͟ p͟e͟n͟y͟i͟t͟a͟a͟n͟ t͟a͟n͟a͟h͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ a͟p͟a͟b͟i͟l͟a͟ t͟e͟r͟j͟a͟d͟i͟ k͟a͟s͟u͟s͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ d͟i͟ m͟a͟n͟a͟ t͟a͟n͟a͟h͟ d͟i͟d͟u͟g͟a͟ m͟e͟r͟u͟p͟a͟k͟a͟n͟ b͟u͟k͟t͟i͟ d͟a͟r͟i͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ k͟͟e͟͟j͟͟a͟͟h͟͟a͟͟t͟͟a͟͟n͟͟, a͟t͟a͟u͟ d͟a͟l͟a͟m͟ p͟r͟a͟k͟t͟i͟k͟n͟y͟a͟ k͟a͟s͟u͟s͟ p͟e͟r͟d͟a͟t͟a͟ d͟i͟m͟a͟n͟a͟ t͟a͟n͟a͟h͟ t͟e͟r͟s͟e͟b͟u͟t͟ d͟i͟g͟u͟n͟a͟k͟a͟n͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ j͟a͟m͟i͟n͟a͟n͟ u͟t͟a͟n͟g͟ y͟a͟n͟g͟ t͟i͟d͟a͟k͟ d͟͟i͟͟l͟͟u͟͟n͟͟a͟͟s͟͟i͟͟.
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat dan dapat dijadikan pembelajaran untuk kita semua terlebih untuk penanya dan Paralegal ubklawyers pada khususnya.
D͟a͟s͟a͟r͟ H͟u͟k͟u͟m͟:
- Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria;
- Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2025 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana;
- Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 13 Tahun 2017 tentang Tata Cara Blokir dan Sita.
Artikel ini adalah pemutakhiran kedua dari artikel dengan judul Perbedaan Pemblokiran Tanah dengan Penyitaan Tanah yang dibuat oleh Sovia Hasanah, S.H. dan pertama kali dipublikasikan pada 30 Januari 2018, kemudian dimutakhirkan pertama kali oleh Alif Abdurrahman, S.H., M.Kn., C.L.A. pada 17 Maret 2025. Dipublikasikan kedua oleh “..Hukumonline.com..” pada tanggal 14 Januari 2026. Dan diteruskan oleh ubklawyers pada tanggal 09 April 2026M/21 Syawal 1447H.
Seluruh Informasi Hukum yang ada di LBH-UMAR BIN KHATTAB disiapkan semata-mata untuk t͟͟͟u͟͟͟j͟͟͟u͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟ p͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, p͟e͟m͟b͟e͟l͟a͟j͟a͟r͟a͟n͟ dan b͟e͟r͟s͟i͟f͟a͟t͟ u͟m͟u͟m͟. Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan Pengacara, Konsultan Hukum dan/atau Paralegal UBK LAWYERS.
Sedang menghadapi permasalahan hukum? A͟j͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟t͟a͟n͟y͟a͟a͟n͟ melalui email, telepon atau chat.👇🏼
Email:
ubklawyer@gmail.com
Telepon/Chat:
089666552118
Berkenan G͟a͟b͟u͟n͟g͟ G͟r͟o͟u͟p͟, untuk jadi bagian Keluarga Besar UBK LAWYERS. Klik link dibawah.👇🏼
I͟K͟U͟T͟I͟ W͟h͟a͟t͟s͟A͟p͟p͟ C͟h͟a͟n͟n͟e͟l͟ LBH-UMAR BIN KHATTAB. Untuk memperkaya Riset Hukum Anda, klik link dibawah.👇🏼
🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸
#cerdashukum
#studylawtogether
#ubklawyers

