INDRAMAYU (lintaspanturaindonesia.com)– Kondisi memprihatinkan dialami para pengguna Jalan Raya Pantura, di ruas jalan Cirebon Indramayu, tepatnya di perbatasan kabupaten Indramayu-Cirebon sampai depan RSUD Mursyid Ibnu Syafiudin Krangkeng.
Terutama dititik titik yang padat pengguna jalan seperti depan pabrik sepatu PT Sun Bright Lestari (SBL) yang menjadi keluhan masyarakat dan pengguna jalan lainnya, karena minimnya PJU yang mati dan jalan yang memiliki lubang atau kerusakan yang tidak terlihat oleh pengendara sepeda motor. Hal itu beresiko tingginya kecelakaan lalu-lintas.
Penerangan Jalan Umum (PJU) di sepanjang jalur vital ini dilaporkan mati total selama berbulan-bulan, menciptakan kegelapan malam yang membahayakan pengguna jalan di malam hari.
Ironisnya, tiang-tiang PJU berdiri kokoh di sisi jalan, seolah menjadi saksi bisu atas kelalaian yang terjadi.
Kekecewaan mendalam dirasakan oleh Rokman warga Srengseng dan para pengguna jalan lainnya yang melintasi jalur tersebut dan beberapa warga lainnya dengan nada geram
mempertanyakan kejelasan tanggung jawab siapa ? atas kondisi PJU yang tak kunjung diperbaiki, Selasa (17/2/2026).
“Sebenarnya ini kewenangan siapa? Didirikannya tiang-tiang lampu itu untuk apa? Apakah hanya untuk menghabiskan anggaran atau sekadar formalitas pembangunan?,” ujarnya dengan nada penuh tanya.
Ia juga prihatin dengan kondisi lampu PJU yang mati berbulan-bulan dan juga jalan yang banyak lubang yang sering terjadi kecelakaan yang banyak menelan korban.
Lebih lanjut, masalah penerangan jalan tidak hanya terbatas pada lampu yang mati. Di sepanjang ruas jalan banyak lubang kondisi ini alih-alih justru semakin membahayakan dan mengganggu konsentrasi para pengendara yang melintas.
“Kalau memang bermanfaat bagi masyarakat dan pengguna jalan yang melintas, kenapa pemeliharaannya diabaikan, apalagi menjelang ramadhan, banyak aktivitas warga di malam hari dan di ekitar pabrik sepatu sering terjadi kecelakaan,” keluh warga dengan kesal
Ia juga mengungkapkan harapan agar infrastruktur yang telah dibangun dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas.
Menanggapi kondisi ini, Ketua LSM GIBAS Resor Krangkeng, Aqil turut angkat bicara. Ia mendesak para pemangku kebijakan untuk segera memperhatikan keluhan yang telah disuarakan oleh para pengguna jalan di area tersebut.
“Sebaiknya pemerintah tidak buta dan tuli terhadap masalah ini, karena jelas ini wilayah kepentingan umum, apalagi yang bersuara adalah para pengguna jalan yang juga membayar pajak kendaraan,” tegas Aqil dengan lantang.
Aqil juga secara khusus berharap agar Gubenur Jawa Barat, Dedy Mulyadi, dapat turun tangan untuk mengatasi permasalahan ini.
“Saya berharap Kang Dedy Mulyadi turun tangan untuk mengatasi hal ini, sesuai komitmen pembicaraannya di beberapa media massa mengenai anggaran pajak kendaraan yang seharusnya kembali kepada pembangunan infrastruktur jalan,” ungkapnya.
Fenomena jalan gelap di Pantura ini bukanlah keluhan baru. Beberapa waktu lalu, isu serupa bahkan sempat viral di media sosial, namun sayangnya hingga kini belum ada tindakan perbaikan yang signifikan dari pihak berwenang. Minimnya penerangan di jalur Pantura yang notabene selalu padat dengan kendaraan berat dan memiliki sejumlah titik jalan berlubang, tentu saja meningkatkan risiko terjadinya kecelakaan lalu lintas.
Masyarakat berharap pemerintah, baik di tingkat daerah maupun pusat, dapat segera memperjelas pembagian kewenangan terkait pemeliharaan PJU di jalur nasional ini.
Tindakan nyata berupa perbaikan dan pengaktifan kembali lampu-lampu PJU sangat mendesak dilakukan demi menjamin keselamatan dan kenyamanan seluruh pengguna jalan.
Jangan sampai keberadaan tiang-tiang lampu hanya menjadi monumen bisu di tengah kegelapan malam Pantura. (Taryam).
Editor: Abdul Gani

