INDRAMAYU — PERTANYAAN
Dapatkah rentenir dipidana karena alasan memberikan bunga tinggi kepada peminjamnya? Bila iya, apa dasar hukumnya? Atas penjelasannya diucapkan terimakasih, untuk ubklawyers dan paralegalnya semoga diberikan keselamatan dari hukum dunia terlebih hukum akhirat kelak. Aamiin..
Bajo Rawedeng-Mekargading
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
“INTISARI JAWABAN”
【ℌ𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔓𝔢𝔯𝔡𝔞𝔱𝔞】
𝔇𝔞𝔩𝔞𝔪 𝔰𝔦𝔰𝔱𝔢𝔪 𝔥𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔭𝔬𝔰𝔦𝔱𝔦𝔣 ℑ𝔫𝔡𝔬𝔫𝔢𝔰𝔦𝔞, 𝔭𝔢𝔯𝔧𝔞𝔫𝔧𝔦𝔞𝔫 𝔭𝔦𝔫𝔧𝔞𝔪-𝔪𝔢𝔪𝔦𝔫𝔧𝔞𝔪 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔡𝔦𝔰𝔢𝔯𝔱𝔞𝔦 𝔟𝔲𝔫𝔤𝔞 𝔪𝔢𝔯𝔲𝔭𝔞𝔨𝔞𝔫 𝔰𝔲𝔞𝔱𝔲 𝔟𝔢𝔫𝔱𝔲𝔨 𝔭𝔢𝔯𝔧𝔞𝔫𝔧𝔦𝔞𝔫 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔩𝔞𝔥𝔦𝔯 𝔟𝔢𝔯𝔡𝔞𝔰𝔞𝔯𝔨𝔞𝔫 𝔞𝔱𝔞𝔰 𝔨𝔢𝔰𝔢𝔭𝔞𝔨𝔞𝔱𝔞𝔫 𝔞𝔫𝔱𝔞𝔯𝔞 𝔭𝔢𝔪𝔦𝔩𝔦𝔨 𝔲𝔞𝔫𝔤 𝔡𝔞𝔫 𝔭𝔦𝔥𝔞𝔨 𝔭𝔢𝔪𝔦𝔫𝔧𝔞𝔪.
𝔓𝔢𝔯𝔧𝔞𝔫𝔧𝔦𝔞𝔫 𝔰𝔢𝔪𝔞𝔠𝔞𝔪 𝔦𝔱𝔲, 𝔡𝔦 𝔰𝔞𝔱𝔲 𝔭𝔦𝔥𝔞𝔨 𝔡𝔦𝔨𝔢𝔫𝔞𝔩 𝔞𝔱𝔞𝔲 𝔡𝔦𝔭𝔢𝔯𝔟𝔬𝔩𝔢𝔥𝔨𝔞𝔫 𝔟𝔞𝔦𝔨 𝔡𝔞𝔩𝔞𝔪 𝔰𝔦𝔰𝔱𝔢𝔪 𝔥𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔞𝔡𝔞𝔱 𝔪𝔞𝔲𝔭𝔲𝔫 𝔡𝔞𝔩𝔞𝔪 𝔰𝔦𝔰𝔱𝔢𝔪 𝔥𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔭𝔢𝔯𝔡𝔞𝔱𝔞. 𝔑𝔞𝔪𝔲𝔫 𝔡𝔦𝔩𝔞𝔯𝔞𝔫𝔤 𝔬𝔩𝔢𝔥 𝔥𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔞𝔤𝔞𝔪𝔞, 𝔨𝔥𝔲𝔰𝔲𝔰𝔫𝔶𝔞 ℑ𝔰𝔩𝔞𝔪. 𝔎𝔢𝔪𝔲𝔡𝔦𝔞𝔫, 𝔡𝔦𝔩𝔞𝔦𝔫 𝔭𝔦𝔥𝔞𝔨, 𝔡𝔞𝔩𝔞𝔪 𝔥𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔭𝔦𝔡𝔞𝔫𝔞 𝔭𝔲𝔫 𝔱𝔦𝔡𝔞𝔨 𝔞𝔡𝔞 𝔩𝔞𝔯𝔞𝔫𝔤𝔞𝔫 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔪𝔢𝔫𝔤𝔞𝔱𝔲𝔯𝔫𝔶𝔞 (𝔨𝔥𝔲𝔰𝔲𝔰𝔫𝔶𝔞 𝔱𝔦𝔫𝔡𝔞𝔨 𝔭𝔦𝔡𝔞𝔫𝔞 𝔭𝔢𝔯𝔟𝔞𝔫𝔨𝔞𝔫). 𝔑𝔞𝔪𝔲𝔫, 𝔞𝔱𝔲𝔯𝔞𝔫 𝔦𝔫𝔦 𝔰𝔞𝔫𝔤𝔞𝔱 𝔟𝔢𝔯𝔱𝔢𝔫𝔱𝔞𝔫𝔤𝔞𝔫 𝔧𝔦𝔨𝔞 𝔪𝔢𝔫𝔤𝔞𝔠𝔲 𝔥𝔲𝔨𝔲𝔪 ℑ𝔰𝔩𝔞𝔪, 𝔭𝔢𝔪𝔟𝔢𝔯𝔦 𝔭𝔦𝔫𝔧𝔞𝔪𝔞𝔫 𝔡𝔞𝔫 𝔰𝔦 𝔭𝔢𝔪𝔦𝔫𝔧𝔞𝔪 𝔞𝔨𝔞𝔫 𝔪𝔢𝔫𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱𝔨𝔞𝔫 𝔡𝔬𝔰𝔞 𝔟𝔢𝔰𝔞𝔯.
𝔓𝔢𝔫𝔧𝔢𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔩𝔢𝔟𝔦𝔥 𝔩𝔞𝔫𝔧𝔲𝔱 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔄𝔫𝔡𝔞 𝔟𝔞𝔠𝔞 𝔲𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔡𝔦 𝔟𝔞𝔴𝔞𝔥 𝔦𝔫𝔦.
ULASAN SELENGKAPNYA;
Terimakasih atas pertanyaan Anda.
Mengenal Kedudukan Rentenir
Apa itu rentenir? K͟B͟B͟I͟ m͟e͟n͟g͟a͟r͟t͟i͟k͟a͟n͟ r͟e͟n͟t͟e͟n͟i͟r͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ o͟r͟a͟n͟g͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟c͟a͟r͟i͟ n͟a͟f͟k͟a͟h͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ m͟e͟m͟b͟u͟n͟g͟a͟k͟a͟n͟ u͟͟a͟͟n͟͟g͟͟. R͟e͟n͟t͟e͟n͟i͟r͟ d͟i͟k͟e͟n͟a͟l͟ p͟u͟l͟a͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ s͟e͟b͟u͟t͟a͟n͟ t͟u͟k͟a͟n͟g͟ r͟͟͟i͟͟͟b͟͟͟a͟͟͟, p͟e͟l͟e͟p͟a͟s͟ u͟͟a͟͟n͟͟g͟͟, d͟a͟n͟ l͟i͟n͟t͟a͟h͟ d͟a͟r͟a͟t͟.
Dalam sistem hukum positif Indonesia, perjanjian pinjam-meminjam yang disertai bunga merupakan suatu bentuk perjanjian yang lahir b͟e͟r͟d͟a͟s͟a͟r͟k͟a͟n͟ a͟t͟a͟s͟ k͟e͟s͟e͟p͟a͟k͟a͟t͟a͟n͟ a͟n͟t͟a͟r͟a͟ p͟e͟m͟i͟l͟i͟k͟ u͟a͟n͟g͟ d͟a͟n͟ p͟i͟h͟a͟k͟ p͟͟e͟͟m͟͟i͟͟n͟͟j͟͟a͟͟m͟͟.
P͟e͟r͟j͟a͟n͟j͟i͟a͟n͟ s͟e͟m͟a͟c͟a͟m͟ i͟͟t͟͟u͟͟, d͟i͟ s͟a͟t͟u͟ p͟i͟h͟a͟k͟ d͟i͟k͟e͟n͟a͟l͟ a͟t͟a͟u͟ d͟i͟p͟e͟r͟b͟o͟l͟e͟h͟k͟a͟n͟ b͟a͟i͟k͟ d͟a͟l͟a͟m͟ s͟i͟s͟t͟e͟m͟ h͟u͟k͟u͟m͟ a͟d͟a͟t͟ m͟a͟u͟p͟u͟n͟ d͟a͟l͟a͟m͟ s͟i͟s͟t͟e͟m͟ h͟u͟k͟u͟m͟ p͟͟e͟͟r͟͟d͟͟a͟͟t͟͟a͟͟. Kemudian, di lain pihak, d͟a͟l͟a͟m͟ h͟u͟k͟u͟m͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ p͟u͟n͟ t͟i͟d͟a͟k͟ a͟d͟a͟ l͟a͟r͟a͟n͟g͟a͟n͟ yang mengaturnya (khususnya tindak pidana perbankan).
Dalam ketentuan Pasal 14 angka 50 UU P2SK yang mengubah Pasal 46 ayat (1) UU 10/1998 dikatakan bahwa s͟e͟t͟i͟a͟p͟ o͟r͟a͟n͟g͟ d͟i͟l͟a͟r͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟g͟h͟i͟m͟p͟u͟n͟ d͟a͟n͟a͟ d͟a͟r͟i͟ m͟a͟s͟y͟a͟r͟a͟k͟a͟t͟ d͟a͟l͟a͟m͟ b͟e͟n͟t͟u͟k͟ s͟i͟m͟p͟a͟n͟a͟n͟ t͟a͟n͟p͟a͟ i͟z͟i͟n͟ d͟a͟r͟i͟ O͟͟J͟͟K͟͟. Jika dilanggar, pelakunya diancam dengan pidana penjara sekurang-kurangnya 5 tahun dan paling lama 15 tahun serta denda sekurang-kurangnya Rp50 miliar dan paling banyak Rp600 miliar.
B͟e͟r͟d͟a͟s͟a͟r͟k͟a͟n͟ k͟e͟t͟e͟n͟t͟u͟a͟n͟ t͟͟e͟͟r͟͟s͟͟e͟͟b͟͟u͟͟t͟͟, d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟s͟i͟m͟p͟u͟l͟k͟a͟n͟ b͟a͟h͟w͟a͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟l͟a͟r͟a͟n͟g͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ p͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ m͟e͟n͟g͟h͟i͟m͟p͟u͟n͟ d͟a͟n͟a͟ d͟a͟r͟i͟ m͟͟a͟͟s͟͟y͟͟a͟͟r͟͟a͟͟k͟͟a͟͟t͟͟. Sedangkan, perbuatan yang dilakukan pihak yang menyalurkan atau meminjamkan uang dengan bunga (rentenir) tidak dilarang dalam UU Perbankan. Dengan demikian, rentenir tidak dapat dikualifikasikan sebagai suatu tindak pidana perbankan atau tidak menjalankan usaha bank gelap.
Menjawab pertanyaan Anda, p͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ p͟i͟n͟j͟a͟m͟ m͟e͟m͟i͟n͟j͟a͟m͟ u͟a͟n͟g͟ d͟i͟s͟e͟r͟t͟a͟i͟ b͟u͟n͟g͟a͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ s͟u͟a͟t͟u͟ p͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ l͟e͟g͟a͟l͟ a͟t͟a͟u͟ p͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ t͟i͟d͟a͟k͟ t͟e͟r͟l͟a͟r͟a͟n͟g͟ y͟a͟n͟g͟ t͟i͟d͟a͟k͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟͟i͟͟p͟͟i͟͟d͟͟a͟͟n͟͟a͟͟.
Argumentasi ini didukung oleh dasar hukum perjanjian pinjam-meminjam uang sebagaimana tertuang dalam Pasal 1754 KUH Perdata, yang merumuskan bahwa pinjam-meminjam adalah suatu perjanjian dengan mana pihak yang satu memberikan kepada pihak yang lain suatu jumlah tertentu barang-barang yang habis karena pemakaian, dengan syarat bahwa pihak yang terakhir ini akan mengembalikan sejumlah yang sama dari jenis dan mutu yang sama pula.
Terkait pinjam-meminjam uang yang disertai dengan bunga, ketentuan Pasal 1765 KUH Perdata menerangkan bahwa diperbolehkan memperjanjikan bunga atas pinjaman uang atau barang lain yang habis karena pemakaian.
Besaran Bunga Pinjaman yang Diperbolehkan
Tidak ada aturan pasti mengenai besaran bunga yang diperbolehkan dalam peraturan perundang-undangan. Pembatasan bunga yang terlampau tinggi dikenal dalam bentuk “Woeker-ordonantie 1938”, yang dimuat dalam Staatsblad (Lembaran Negara) tahun 1938 No. 524.
Dalam Staatsblad tersebut, R. Subekti ditetapkan bahwa apabila antara kewajiban-kewajiban bertimbal-balik dari kedua belah pihak dari semula terdapat suatu ketidak-seimbangan yang luar biasa, maka s͟͟͟͟i͟͟͟͟ b͟e͟r͟u͟t͟a͟n͟g͟ d͟a͟p͟a͟t͟ m͟e͟m͟i͟n͟t͟a͟ k͟e͟p͟a͟d͟a͟ h͟a͟k͟i͟m͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟n͟u͟r͟u͟n͟k͟a͟n͟ b͟u͟n͟g͟a͟ y͟a͟n͟g͟ t͟e͟l͟a͟h͟ d͟i͟p͟e͟r͟j͟a͟n͟j͟i͟k͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟p͟u͟n͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟m͟b͟a͟t͟a͟l͟k͟a͟n͟ p͟͟e͟͟r͟͟j͟͟a͟͟n͟͟j͟͟i͟͟a͟͟n͟͟n͟͟y͟͟a͟͟.[¹]
Bertolak ke sistem hukum adat, berdasarkan Yurisprudensi MA tanggal 22 Juli 1972, No. 289 K/Sip/1972, penetapan besarnya bunga cenderung lebih liberal, artinya besarnya suku bunga pinjaman adalah sesuai dengan apa yang telah diperjanjikan.
Terkait pertanyaan Anda, kami simpulkan bahwa penetapan bunga yang dinilai tinggi bukanlah suatu tindak pidana, m͟e͟l͟a͟i͟n͟k͟a͟n͟ s͟u͟a͟t͟u͟ p͟e͟n͟y͟a͟l͟a͟h͟g͟u͟n͟a͟a͟n͟ k͟e͟a͟d͟a͟a͟n͟ (undue influence atau misbruik van omstandigheden) yang dikenal dalam hukum perdata.
Menurut Gr. Van der Burght, p͟e͟n͟y͟a͟l͟a͟h͟g͟u͟n͟a͟a͟n͟ k͟e͟a͟d͟a͟a͟n͟ d͟a͟p͟a͟t͟ t͟͟e͟͟r͟͟j͟͟a͟͟d͟͟i͟͟, b͟i͟l͟a͟ s͟e͟s͟e͟o͟r͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟g͟g͟e͟r͟a͟k͟k͟a͟n͟ h͟a͟t͟i͟ o͟r͟a͟n͟g͟ l͟a͟i͟n͟ m͟e͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ s͟u͟a͟t͟u͟ p͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ h͟u͟k͟u͟m͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ m͟e͟n͟y͟a͟l͟a͟h͟g͟u͟n͟a͟k͟a͟n͟ k͟e͟a͟d͟a͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ s͟e͟d͟a͟n͟g͟ d͟i͟h͟a͟d͟a͟p͟ o͟r͟a͟n͟g͟ t͟͟e͟͟r͟͟s͟͟e͟͟b͟͟u͟͟t͟͟.[²]
P͟i͟h͟a͟k͟ k͟r͟e͟d͟i͟t͟u͟r͟ (r͟͟e͟͟n͟͟t͟͟e͟͟n͟͟i͟͟r͟͟) d͟a͟l͟a͟m͟ s͟u͟a͟t͟u͟ p͟͟e͟͟r͟͟j͟͟a͟͟n͟͟j͟͟i͟͟a͟͟n͟͟ p͟i͟n͟j͟a͟m͟ u͟a͟n͟g͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ b͟u͟n͟g͟a͟ y͟a͟n͟g͟ t͟i͟n͟g͟g͟i͟ t͟e͟l͟a͟h͟ m͟e͟m͟a͟n͟f͟a͟a͟t͟k͟a͟n͟ k͟e͟a͟d͟a͟a͟n͟ d͟e͟b͟i͟t͟u͟r͟ (p͟͟e͟͟m͟͟i͟͟n͟͟j͟͟a͟͟m͟͟) y͟a͟n͟g͟ b͟e͟r͟a͟d͟a͟ p͟o͟s͟i͟s͟i͟ l͟͟e͟͟m͟͟a͟͟h͟͟, d͟i͟ m͟a͟n͟a͟ i͟a͟ s͟a͟n͟g͟a͟t͟ m͟e͟m͟b͟u͟t͟u͟h͟k͟a͟n͟ u͟a͟n͟g͟ u͟n͟t͟u͟k͟ s͟u͟a͟t͟u͟ k͟e͟p͟e͟r͟l͟u͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ s͟a͟n͟g͟a͟t͟ m͟e͟n͟d͟e͟s͟a͟k͟ s͟e͟h͟i͟n͟g͟g͟a͟ t͟e͟r͟p͟a͟k͟s͟a͟ m͟e͟n͟y͟e͟t͟u͟j͟u͟i͟ b͟u͟n͟g͟a͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟t͟e͟t͟a͟p͟k͟a͟n͟ o͟l͟e͟h͟ k͟͟r͟͟e͟͟d͟͟i͟͟t͟͟u͟͟r͟͟.
Menjawab pertanyaan dapatkah rentenir dipidana? Kami terangkan sekali lagi bahwa d͟a͟l͟a͟m͟ p͟e͟r͟j͟a͟n͟j͟i͟a͟n͟ p͟i͟n͟j͟a͟m͟-m͟e͟m͟i͟n͟j͟a͟m͟ u͟a͟n͟g͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ d͟i͟s͟e͟r͟t͟a͟i͟ b͟u͟n͟g͟a͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ p͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ l͟e͟g͟a͟l͟ a͟t͟a͟u͟ d͟i͟b͟e͟n͟a͟r͟k͟a͟n͟ o͟l͟e͟h͟ h͟͟u͟͟k͟͟u͟͟m͟͟. Dengan demikian, rentenir tidak dapat dipidana dengan alasan pemberian bunga.
Riba Menurut Aturan Islam
Menurut hukum Islam, meminjam atau meminjamkan uang kepada rentenir (seseorang yang meminjamkan uang dengan bunga tinggi atau riba) adalah dilarang (haram). Larangan ini didasarkan pada konsep riba yang secara tegas dilarang dalam Al-Qur’an dan Hadis [³].
Beberapa poin penting terkait hal ini:
- Riba: Praktik rentenir melibatkan pengambilan keuntungan atau bunga atas pinjaman pokok, yang dalam Islam disebut riba. Riba secara mutlak dilarang karena dianggap sebagai bentuk eksploitasi dan ketidakadilan ekonomi[⁴].
- Dosa Besar: Transaksi yang melibatkan riba dianggap sebagai dosa besar dalam Islam. N͟a͟b͟i͟ M͟u͟h͟a͟m͟m͟a͟d͟ S͟A͟W͟ m͟e͟n͟g͟u͟t͟u͟k͟ p͟i͟h͟a͟k͟ y͟a͟n͟g͟ m͟͟e͟͟m͟͟b͟͟e͟͟r͟͟i͟͟, m͟͟e͟͟n͟͟e͟͟r͟͟i͟͟m͟͟a͟͟, m͟͟e͟͟n͟͟c͟͟a͟͟t͟͟a͟͟t͟͟, d͟a͟n͟ m͟e͟n͟j͟a͟d͟i͟ s͟͟a͟͟k͟͟s͟͟i͟͟ d͟a͟l͟a͟m͟ t͟r͟a͟n͟s͟a͟k͟s͟i͟ r͟i͟b͟a͟.[⁵]
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat dan dapat dijadikan pembelajaran untuk kita semua terlebih untuk penanya dan Paralegal ubklawyers pada khususnya.
D͟a͟s͟a͟r͟ H͟u͟k͟u͟m͟:
- Kitab Undang-Undang Hukum Perdata;
- Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan;
- Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan;
- Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan.
Artikel ini adalah pemutakhiran kedua dari artikel dengan judul Dapatkah Rentenir Dipidana? yang dibuat oleh Dr. Flora Dianti, S.H., M.H. dan pertama kali dipublikasikan pada Rabu, 9 November 2011, kemudian pertama kali dimutakhirkan pada 2 September 2022. Dipublikasikan kedua oleh Hukumonline.com dengan judul Dapatkah Rentenir Dipidana karena Memberikan Bunga Tinggi? Pada tanggal 02 Desember 2024. Dan diteruskan oleh ubklawyers pada tanggal 03 Januari 2026M/14 Rajab 1447H.
Seluruh Informasi Hukum yang ada di LBH-UMAR BIN KHATTAB disiapkan semata-mata untuk t͟͟͟u͟͟͟j͟͟͟u͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟ p͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, p͟e͟m͟b͟e͟l͟a͟j͟a͟r͟a͟n͟ dan b͟e͟r͟s͟i͟f͟a͟t͟ u͟m͟u͟m͟. Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan Pengacara, Konsultan Hukum dan/atau Paralegal UBK LAWYERS.
Sedang menghadapi permasalahan hukum? A͟j͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟t͟a͟n͟y͟a͟a͟n͟ melalui email, telepon atau chat.👇🏼
Email:
ubklawyer@gmail.com
Telepon/Chat:
089666552118
Berkenan G͟a͟b͟u͟n͟g͟ G͟r͟o͟u͟p͟, untuk jadi bagian Keluarga Besar UBK LAWYERS. Klik link dibawah.👇🏼
I͟K͟U͟T͟I͟ W͟h͟a͟t͟s͟A͟p͟p͟ C͟h͟a͟n͟n͟e͟l͟ LBH-UMAR BIN KHATTAB. Untuk memperkaya Riset Hukum Anda, klik link dibawah.👇🏼
🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸
#cerdashukum
#studylawtogether
#ubklawyers
