INDRAMAYU — PERTANYAAN
Rekan kantor saya mendapatkan pelecehan seksual dari atasannya (maaf, yaitu diraba payudaranya). Ketika HRD memanggil atasannya tersebut untuk dimintai keterangan, namun yang bersangkutan menyatakan tidak melakukannya. Beberapa karyawan di bagian tersebut yang dimintai keterangan juga, tetapi tidak ada satupun yang melihat kejadian itu. Lantas bagaimana cara melaporkan pelecehan seksual tanpa bukti? Mungkinkah hal tersebut diproses hukum?
Atas penjelasannya diucapkan terimakasih, untuk ubklawyers beserta Paralegalnya semoga selalu berjalan diatas kebenaran dalam menjalankan profesinya. Aamiin..
Fitriyani – Dukuh Jeruk
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
“INTISARI JAWABAN”
【ℌ𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔓𝔦𝔡𝔞𝔫𝔞】
𝔓𝔢𝔩𝔢𝔠𝔢𝔥𝔞𝔫 𝔰𝔢𝔨𝔰𝔲𝔞𝔩 𝔞𝔡𝔞𝔩𝔞𝔥 𝔱𝔦𝔫𝔡𝔞𝔨𝔞𝔫 𝔰𝔢𝔨𝔰𝔲𝔞𝔩 𝔣𝔦𝔰𝔦𝔨 𝔪𝔞𝔲𝔭𝔲𝔫 𝔫𝔬𝔫-𝔣𝔦𝔰𝔦𝔨 𝔡𝔢𝔫𝔤𝔞𝔫 𝔰𝔞𝔰𝔞𝔯𝔞𝔫 𝔬𝔯𝔤𝔞𝔫 𝔰𝔢𝔨𝔰𝔲𝔞𝔩 𝔞𝔱𝔞𝔲 𝔰𝔢𝔨𝔰𝔲𝔞𝔩𝔦𝔱𝔞𝔰 𝔨𝔬𝔯𝔟𝔞𝔫. ℑ𝔫𝔦 𝔱𝔢𝔯𝔪𝔞𝔰𝔲𝔨 𝔥𝔞𝔩𝔫𝔶𝔞 𝔰𝔦𝔲𝔩𝔞𝔫, 𝔪𝔞𝔦𝔫 𝔪𝔞𝔱𝔞, 𝔲𝔠𝔞𝔭𝔞𝔫 𝔟𝔢𝔯𝔫𝔲𝔞𝔫𝔰𝔞 𝔰𝔢𝔨𝔰𝔲𝔞𝔩, 𝔪𝔢𝔪𝔭𝔢𝔯𝔱𝔲𝔫𝔧𝔲𝔨𝔨𝔞𝔫 𝔪𝔞𝔱𝔢𝔯𝔦 𝔭𝔬𝔯𝔫𝔬𝔤𝔯𝔞𝔣𝔦 𝔡𝔞𝔫 𝔨𝔢𝔦𝔫𝔤𝔦𝔫𝔞𝔫 𝔰𝔢𝔨𝔰𝔲𝔞𝔩, 𝔠𝔬𝔩𝔢𝔨𝔞𝔫 𝔞𝔱𝔞𝔲 𝔰𝔢𝔫𝔱𝔲𝔥𝔞𝔫 𝔡𝔦 𝔟𝔞𝔤𝔦𝔞𝔫 𝔱𝔲𝔟𝔲𝔥, 𝔤𝔢𝔯𝔞𝔨𝔞𝔫 𝔞𝔱𝔞𝔲 𝔦𝔰𝔶𝔞𝔯𝔞𝔱 𝔟𝔢𝔯𝔰𝔦𝔣𝔞𝔱 𝔰𝔢𝔨𝔰𝔲𝔞𝔩 𝔰𝔢𝔥𝔦𝔫𝔤𝔤𝔞 𝔪𝔢𝔫𝔤𝔞𝔨𝔦𝔟𝔞𝔱𝔨𝔞𝔫 𝔯𝔞𝔰𝔞 𝔱𝔦𝔡𝔞𝔨 𝔫𝔶𝔞𝔪𝔞𝔫, 𝔱𝔢𝔯𝔰𝔦𝔫𝔤𝔤𝔲𝔫𝔤, 𝔪𝔢𝔯𝔞𝔰𝔞 𝔡𝔦𝔯𝔢𝔫𝔡𝔞𝔥𝔨𝔞𝔫, 𝔡𝔞𝔫 𝔪𝔲𝔫𝔤𝔨𝔦𝔫 𝔪𝔢𝔫𝔶𝔢𝔟𝔞𝔟𝔨𝔞𝔫 𝔪𝔞𝔰𝔞𝔩𝔞𝔥 𝔨𝔢𝔰𝔢𝔥𝔞𝔱𝔞𝔫 𝔡𝔞𝔫 𝔨𝔢𝔰𝔢𝔩𝔞𝔪𝔞𝔱𝔞𝔫.
𝔇𝔞𝔩𝔞𝔪 𝔭𝔯𝔞𝔨𝔱𝔦𝔨𝔫𝔶𝔞, 𝔨𝔞𝔰𝔲𝔰 𝔨𝔢𝔨𝔢𝔯𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔰𝔢𝔨𝔰𝔲𝔞𝔩 𝔰𝔢𝔯𝔦𝔫𝔤 𝔨𝔞𝔩𝔦 𝔰𝔲𝔩𝔦𝔱 𝔡𝔦𝔟𝔲𝔨𝔱𝔦𝔨𝔞𝔫 𝔡𝔞𝔩𝔞𝔪 𝔰𝔦𝔰𝔱𝔢𝔪 𝔭𝔢𝔯𝔞𝔡𝔦𝔩𝔞𝔫 𝔭𝔦𝔡𝔞𝔫𝔞 𝔨𝔞𝔯𝔢𝔫𝔞 𝔱𝔞𝔨 𝔧𝔞𝔯𝔞𝔫𝔤 𝔡𝔦𝔩𝔞𝔨𝔲𝔨𝔞𝔫 𝔰𝔢𝔠𝔞𝔯𝔞 𝔱𝔢𝔯𝔱𝔲𝔱𝔲𝔭 𝔡𝔞𝔫 𝔥𝔞𝔫𝔶𝔞 𝔡𝔦𝔨𝔢𝔱𝔞𝔥𝔲𝔦 𝔬𝔩𝔢𝔥 𝔨𝔬𝔯𝔟𝔞𝔫 𝔡𝔞𝔫 𝔭𝔢𝔩𝔞𝔨𝔲. 𝔏𝔞𝔩𝔲, 𝔟𝔞𝔤𝔞𝔦𝔪𝔞𝔫𝔞 𝔠𝔞𝔯𝔞 𝔪𝔢𝔩𝔞𝔭𝔬𝔯𝔨𝔞𝔫 𝔭𝔢𝔩𝔢𝔠𝔢𝔥𝔞𝔫 𝔰𝔢𝔨𝔰𝔲𝔞𝔩 𝔱𝔞𝔫𝔭𝔞 𝔟𝔲𝔨𝔱𝔦?
𝔓𝔢𝔫𝔧𝔢𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔩𝔢𝔟𝔦𝔥 𝔩𝔞𝔫𝔧𝔲𝔱 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔄𝔫𝔡𝔞 𝔟𝔞𝔠𝔞 𝔲𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔡𝔦 𝔟𝔞𝔴𝔞𝔥 𝔦𝔫𝔦.
ULASAN SELENGKAPNYA;
Terimakasih atas pertanyaan Anda.
Artikel ini dibuat berdasarkan KUHP lama dan UU 1/2023 tentang KUHP yang diundangkan pada tanggal 2 Januari 2023.
Artikel ini dibuat berdasarkan KUHAP lama dan UU 20/2025 tentang KUHAP yang diundangkan pada tanggal 17 Desember 2025.
Pasal tentang Pelecehan Seksual
Sebelum menjawab pertanyaan Anda, perlu kami sampaikan terlebih dahulu mengenai apa itu pelecehan seksual? Menurut Komnas Perempuan p͟͟e͟͟l͟͟e͟͟c͟e͟h͟a͟n͟ s͟e͟k͟s͟u͟a͟l͟ m͟e͟r͟u͟p͟a͟k͟a͟n͟ s͟a͟l͟a͟h͟ s͟a͟t͟u͟ d͟a͟r͟i͟ b͟e͟n͟t͟u͟k͟ k͟e͟k͟e͟r͟a͟s͟a͟n͟ s͟͟e͟͟k͟͟s͟͟u͟͟a͟͟l͟͟.[¹]
Lebih lanjut, menurut Komnas Perempuan, p͟e͟l͟e͟c͟e͟h͟a͟n͟ s͟e͟k͟s͟u͟a͟l͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟a͟n͟ s͟e͟k͟s͟u͟a͟l͟ f͟i͟s͟i͟k͟ m͟a͟u͟p͟u͟n͟ n͟o͟n͟-f͟i͟s͟i͟k͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ s͟a͟s͟a͟r͟a͟n͟ o͟r͟g͟a͟n͟ s͟e͟k͟s͟u͟a͟l͟ a͟t͟a͟u͟ s͟e͟k͟s͟u͟a͟l͟i͟t͟a͟s͟ k͟͟o͟͟r͟͟b͟͟a͟͟n͟͟. I͟n͟i͟ t͟e͟r͟m͟a͟s͟u͟k͟ h͟a͟l͟n͟y͟a͟ s͟͟i͟͟u͟͟l͟͟a͟͟n͟͟, m͟a͟i͟n͟ m͟͟a͟͟t͟͟a͟͟, u͟c͟a͟p͟a͟n͟ b͟e͟r͟n͟u͟a͟n͟s͟a͟ s͟͟e͟͟k͟͟s͟͟u͟͟a͟͟l͟͟, m͟e͟m͟p͟e͟r͟t͟u͟n͟j͟u͟k͟k͟a͟n͟ m͟a͟t͟e͟r͟i͟ p͟o͟r͟n͟o͟g͟r͟a͟f͟i͟ d͟a͟n͟ k͟e͟i͟n͟g͟i͟n͟a͟n͟ s͟͟e͟͟k͟͟s͟͟u͟͟a͟͟l͟͟, c͟o͟l͟e͟k͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ s͟e͟n͟t͟u͟h͟a͟n͟ d͟i͟ b͟a͟g͟i͟a͟n͟ t͟͟u͟͟b͟͟u͟͟h͟͟, g͟e͟r͟a͟k͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ i͟s͟y͟a͟r͟a͟t͟ b͟e͟r͟s͟i͟f͟a͟t͟ s͟e͟k͟s͟u͟a͟l͟ s͟e͟h͟i͟n͟g͟g͟a͟ m͟e͟n͟g͟a͟k͟i͟b͟a͟t͟k͟a͟n͟ r͟a͟s͟a͟ t͟i͟d͟a͟k͟ n͟͟y͟͟a͟͟m͟͟a͟͟n͟͟, t͟͟e͟͟r͟͟s͟͟i͟͟n͟͟g͟͟g͟͟u͟͟n͟͟g͟͟, m͟e͟r͟a͟s͟a͟ d͟͟i͟͟r͟͟e͟͟n͟͟d͟͟a͟͟h͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, d͟a͟n͟ m͟u͟n͟g͟k͟i͟n͟ m͟e͟n͟y͟e͟b͟a͟b͟k͟a͟n͟ m͟a͟s͟a͟l͟a͟h͟ k͟e͟s͟e͟h͟a͟t͟a͟n͟ d͟a͟n͟ k͟͟e͟͟s͟͟e͟͟l͟͟a͟͟m͟͟a͟͟t͟͟a͟͟n͟͟.[²]
Dalam UU TPKS sebagai lex specialis yang mengatur tentang tindak pidana kekerasan seksual, membagi pelecehan seksual menjadi pelecehan seksual fisik dan nonfisik.[³] Pelecehan seksual nonfisik merupakan perbuatan seksual secara nonfisik y͟a͟i͟t͟u͟ p͟͟e͟͟r͟͟n͟͟y͟͟a͟͟t͟͟a͟͟a͟͟n͟͟, g͟e͟r͟a͟k͟ t͟͟u͟͟b͟͟u͟͟h͟͟, a͟t͟a͟u͟ a͟k͟t͟i͟v͟i͟t͟a͟s͟ y͟a͟n͟g͟ t͟i͟d͟a͟k͟ p͟a͟t͟u͟t͟ d͟a͟n͟ m͟e͟n͟g͟a͟r͟a͟h͟ p͟a͟d͟a͟ s͟e͟k͟s͟u͟a͟l͟i͟t͟a͟s͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ t͟u͟j͟u͟a͟n͟ m͟e͟r͟e͟n͟d͟a͟h͟k͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ m͟͟e͟͟m͟͟p͟͟e͟͟r͟͟m͟͟a͟͟l͟͟u͟͟k͟͟a͟͟n͟͟. Perbuatan tersebut ditujukan terhadap tubuh, keinginan seksual, dan/atau organ reproduksi dengan maksud merendahkan harkat dan martabat seseorang berdasarkan seksualitas dan/atau kesusilaannya.[⁴]
Adapun, pelecehan seksual fisik terbagi menjadi tiga bentuk, yaitu:[⁵]
- perbuatan seksual secara fisik yang ditujukan terhadap tubuh, keinginan seksual, dan/atau organ reproduksi dengan maksud merendahkan harkat dan martabat seseorang berdasarkan seksualitas dan/atau kesusilaannya y͟a͟n͟g͟ t͟i͟d͟a͟k͟ t͟e͟r͟m͟a͟s͟u͟k͟ d͟a͟l͟a͟m͟ k͟e͟t͟e͟n͟t͟u͟a͟n͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ l͟a͟i͟n͟ y͟a͟n͟g͟ l͟e͟b͟i͟h͟ b͟e͟r͟a͟t͟;
- perbuatan seksual secara fisik yang ditujukan terhadap tubuh, keinginan seksual, dan/atau organ reproduksi dengan maksud m͟e͟n͟e͟m͟p͟a͟t͟k͟a͟n͟ s͟e͟s͟e͟o͟r͟a͟n͟g͟ d͟i͟ b͟a͟w͟a͟h͟ k͟e͟k͟u͟a͟s͟a͟a͟n͟n͟y͟a͟ s͟e͟c͟a͟r͟a͟ m͟e͟l͟a͟w͟a͟n͟ h͟͟u͟͟k͟͟u͟͟m͟͟, b͟a͟i͟k͟ d͟i͟ d͟a͟l͟a͟m͟ m͟a͟u͟p͟u͟n͟ d͟i͟ l͟͟u͟͟a͟͟r͟͟ p͟e͟r͟k͟a͟w͟i͟n͟a͟n͟;
- m͟e͟n͟y͟a͟l͟a͟h͟g͟u͟n͟a͟k͟a͟n͟ k͟͟e͟͟d͟͟u͟͟d͟͟u͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, w͟͟e͟͟w͟͟e͟͟n͟͟a͟͟n͟͟g͟͟, k͟͟e͟͟p͟͟e͟͟r͟͟c͟͟a͟͟y͟͟a͟͟a͟͟n͟͟, a͟t͟a͟u͟ p͟e͟r͟b͟a͟w͟a͟ yang timbul dari tipu muslihat atau hubungan keadaan atau memanfaatkan kerentanan, ketidaksetaraan atau ketergantungan seseorang, memaksa atau dengan penyesatan menggerakkan orang itu untuk m͟e͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ m͟e͟m͟b͟i͟a͟r͟k͟a͟n͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟s͟e͟t͟u͟b͟u͟h͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ p͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ c͟a͟b͟u͟l͟ dengannya atau dengan orang lain.
Pelecehan seksual fisik dan nonfisik di atas merupakan delik aduan, n͟a͟m͟u͟n͟ t͟i͟d͟a͟k͟ b͟e͟r͟l͟a͟k͟u͟ j͟i͟k͟a͟ k͟o͟r͟b͟a͟n͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ p͟e͟n͟y͟a͟n͟d͟a͟n͟g͟ d͟i͟s͟a͟b͟i͟l͟i͟t͟a͟s͟ a͟t͟a͟u͟ a͟͟n͟͟a͟͟k͟͟.[⁶]
Tindakan atasan rekan Anda yang diduga melakukan pelecehan seksual tersebut dapat dikategorikan sebagai pelecehan fisik dengan menyalahgunakan kedudukan, kewenangan, kepercayaan, atau perbawa, yang timbul dari tipu muslihat atau hubungan keadaan atau memanfaatkan kerentanan, ketidaksetaraan, atau ketergantungan rekan Anda kepada atasannya, untuk melakukan perbuatan cabul dengannya, sebagaimana dimaksud Pasal 6 huruf c UU TPKS. Perbuatan tersebut dapat dijerat dengan pidana penjara paling lama 12 tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp200 juta.
Adapun, ketentuan mengenai pelecehan seksual, dalam KUHP sebagai lex generalis saat ini adalah Pasal 406, Pasal 414 s.d. Pasal 422 UU 1/2023 tentang KUHP baru yang telah berlaku sejak 2 Januari 2026.[⁷] Secara historis, aturan tersebut dulu diatur di dalam KUHP lama yang sudah dicabut dan tidak berlaku yaitu Pasal 281 s.d. Pasal 296 KUHP. Khusus p͟e͟l͟e͟c͟e͟h͟a͟n͟ s͟e͟k͟s͟u͟a͟l͟ a͟t͟a͟u͟ p͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ c͟a͟b͟u͟l͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ d͟i͟ l͟i͟n͟g͟k͟u͟n͟g͟a͟n͟ k͟͟e͟͟r͟͟j͟͟a͟͟, diatur di Pasal 418 UU 1/2023 (dulunya diatur di dalam dalam Pasal 294 KUHP lama).
Alat Bukti dalam Tindak Pidana Kekerasan Seksual
Dalam hukum acara pidana, alat bukti yang sah diatur dalam UU 20/2025 tentang KUHAP baru yang telah berlaku sejak tanggal 2 Januari 2026.[⁸] Untuk memperkaya wawasan Anda, kami juga akan menyajikan ketentuan dalam KUHAP lama yang saat ini s͟u͟d͟a͟h͟ d͟i͟c͟a͟b͟u͟t͟ d͟a͟n͟ d͟i͟n͟y͟a͟t͟a͟k͟a͟n͟ t͟i͟d͟a͟k͟ b͟͟͟e͟͟͟r͟͟͟l͟͟͟a͟͟͟k͟͟͟u͟͟͟.[⁹] Berikut bunyi pasalnya.
Pasal 235 ayat (1) UU 20/2025
Alat bukti terdiri atas:
a. keterangan saksi;
b. keterangan ahli;
c. surat;
d. keterangan
terdakwa;
e. barang bukti;
f. bukti elektronik;
g. pengamatan hakim;
dan
h. segala sesuatu yang
dapat digunakan
untuk kepentingan
pembuktian pada
pemeriksaan di
sidang pengadilan
sepanjang diperoleh
secara tidak
melawan hukum.
Pasal 184 ayat (1) KUHAP lama
Alat bukti yang sah ialah:
a. keterangan saksi;
b. keterangan ahli;
c. surat;
d. petunjuk;
e. keterangan
terdakwa.
Mengenai alat bukti, secara historis dalam Pasal 183 KUHAP ditentukan bahwa hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang kecuali jika terdapat minimal dua alat bukti yang sah serta hakim memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan terdakwalah yang bersalah melakukannya.
Namun, dalam UU 20/2025 sepanjang penelusuran kami t͟i͟d͟a͟k͟ d͟i͟a͟t͟u͟r͟ s͟p͟e͟s͟i͟f͟i͟k͟ m͟e͟n͟g͟e͟n͟a͟i͟ m͟i͟n͟i͟m͟a͟l͟ a͟͟l͟͟a͟͟t͟͟ b͟u͟k͟t͟i͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟j͟a͟d͟i͟ i͟n͟d͟i͟k͟a͟t͟o͟r͟ s͟e͟o͟r͟a͟n͟g͟ h͟a͟k͟i͟m͟ d͟a͟l͟a͟m͟ m͟e͟n͟j͟a͟t͟u͟h͟k͟a͟n͟ p͟͟i͟͟d͟͟a͟͟n͟͟a͟͟. Akan tetapi, dalam beberapa ketentuan, misalnya dalam penetapan tersangka, harus didasarkan pada minimal 2 alat bukti.[¹⁰]
D͟a͟l͟a͟m͟ k͟a͟s͟u͟s͟ k͟e͟k͟e͟r͟a͟s͟a͟n͟ s͟͟e͟͟k͟͟s͟͟u͟͟a͟͟l͟͟, k͟a͟d͟a͟n͟g͟ k͟a͟l͟a͟ k͟o͟r͟b͟a͟n͟ k͟e͟s͟u͟l͟i͟t͟a͟n͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟l͟a͟p͟o͟r͟k͟a͟n͟ h͟a͟l͟ t͟e͟r͟s͟e͟b͟u͟t͟ k͟a͟r͟e͟n͟a͟ m͟i͟n͟i͟m͟n͟y͟a͟ a͟l͟a͟t͟ b͟͟u͟͟k͟͟t͟͟i͟͟. Sebab, dalam kasus kekerasan seksual sering kali sulit dibuktikan dalam sistem peradilan pidana karena tak jarang dilakukan secara tertutup dan hanya diketahui oleh korban dan pelaku.[¹¹]
Lalu, bagaimana cara melaporkan pelecehan seksual tanpa bukti? P͟a͟d͟a͟ d͟͟a͟͟s͟͟a͟͟r͟͟n͟͟y͟͟a͟͟, k͟e͟s͟a͟k͟s͟i͟a͟n͟ k͟o͟r͟b͟a͟n͟ k͟e͟k͟e͟r͟a͟s͟a͟n͟ s͟e͟k͟s͟u͟a͟l͟ m͟e͟r͟u͟p͟a͟k͟a͟n͟ s͟a͟l͟a͟h͟ s͟a͟t͟u͟ j͟e͟n͟i͟s͟ a͟l͟a͟t͟ b͟u͟k͟t͟i͟ y͟a͟i͟t͟u͟ k͟e͟t͟e͟r͟a͟n͟g͟a͟n͟ s͟a͟k͟s͟i͟ k͟͟o͟͟r͟͟b͟͟a͟͟n͟͟. Menurut KUHAP, keterangan 1 orang saksi tidak cukup untuk membuktikan bahwa terdakwa bersalah, sehingga harus diperkuat dengan alat bukti lain. Hal ini diatur di dalam Pasal 237 ayat (1) dan (2) UU 20/2025. Sebelumnya, ketentuan ini diatur di dalam Pasal 185 ayat (2) dan (3) KUHAP lama.
Akan tetapi, sebagai lex specialis, dalam UU TPKS diatur mengenai alat bukti yang sah dalam pembuktian tindak pidana kekerasan seksual terdiri atas:[¹²]
- alat bukti sebagaimana dimaksud dalam hukum acara pidana;
- alat bukti lain seperti informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik sebagaimana diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
- barang bukti yang digunakan untuk melakukan tindak pidana atau sebagai hasil tindak pidana kekerasan seksual dan/atau benda atau barang yang berhubungan dengan tindak pidana tersebut.
Perlu diperhatikan bahwa dalam a͟l͟a͟t͟ b͟u͟k͟t͟i͟ k͟e͟t͟e͟r͟a͟n͟g͟a͟n͟ s͟a͟k͟s͟i͟ t͟e͟r͟m͟a͟s͟u͟k͟ h͟a͟s͟i͟l͟ p͟e͟m͟e͟r͟i͟k͟s͟a͟a͟n͟ t͟e͟r͟h͟a͟d͟a͟p͟ s͟a͟k͟s͟i͟ dan/atau k͟o͟r͟b͟a͟n͟ p͟a͟d͟a͟ t͟a͟h͟a͟p͟ p͟e͟n͟y͟i͟d͟i͟k͟a͟n͟ melalui perekaman elektronik.[¹³] Selain itu, alat bukti surat termasuk:[¹⁴]
a. surat keterangan
psikolog klinis dan/
atau psikiater/dokter
spesialis kedokteran
jiwa;
b. rekam medis, antara
lain hasil
laboratorium
mikrobiologi, urologi,
toksikologi, atau
DNA;
c. hasil pemeriksaan
forensik; dan/atau
d. hasil pemeriksaan
rekening bank.
Lebih lanjut, dalam pembuktian tindak pidana kekerasan seksual, k͟e͟t͟e͟r͟a͟n͟g͟a͟n͟ s͟a͟k͟s͟i͟ d͟͟a͟͟n͟͟/a͟t͟a͟u͟ k͟o͟r͟b͟a͟n͟ c͟u͟k͟u͟p͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟m͟b͟u͟k͟t͟i͟k͟a͟n͟ b͟a͟h͟w͟a͟ t͟e͟r͟d͟a͟k͟w͟a͟ b͟e͟r͟s͟a͟l͟a͟h͟ j͟i͟k͟a͟ d͟i͟s͟e͟r͟t͟a͟i͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ s͟a͟t͟u͟ a͟l͟a͟t͟ b͟u͟k͟t͟i͟ s͟a͟h͟ l͟a͟i͟n͟n͟y͟a͟ dan hakim memperoleh keyakinan bahwa benar telah terjadi tindak pidana dan terdakwalah yang bersalah melakukannya.[¹⁵]
Namun, j͟i͟k͟a͟ k͟e͟t͟e͟r͟a͟n͟g͟a͟n͟ s͟a͟k͟s͟i͟ h͟a͟n͟y͟a͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟p͟e͟r͟o͟l͟e͟h͟ d͟a͟r͟i͟ k͟͟o͟͟r͟͟b͟͟a͟͟n͟͟, keterangan saksi yang tidak dilakukan di bawah sumpah/janji, atau keterangan saksi yang diperoleh dari orang lain, k͟e͟k͟u͟a͟t͟a͟n͟ p͟e͟m͟b͟u͟k͟t͟i͟a͟n͟n͟y͟a͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟d͟u͟k͟u͟n͟g͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ k͟e͟t͟e͟r͟a͟n͟g͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟p͟e͟r͟o͟l͟e͟h͟ d͟͟a͟͟r͟͟i͟͟: [¹⁶]
a. orang yang dapat
memberikan
keterangan yang
berhubungan
dengan perkara
tindak pidana
kekerasan seksual,
meskipun tidak ia
dengar sendiri, tidak
ia lihat sendiri, dan
tidak ia alami sendiri,
sepanjang
keterangan orang itu
berhubungan
dengan tindak
pidana tersebut;
b. saksi yang
keterangannya
berdiri sendiri tetapi
ada hubungannya
satu dengan yang
lain sedemikian rupa
sehingga dapat
membenarkan
adanya suatu
kejadian atau
keadaan tertentu
dan keterangannya
dapat digunakan
sebagai alat bukti
yang sah baik dalam
kualifikasi sebagai
keterangan saksi
maupun petunjuk;
dan/atau
c. ahli yang membuat
alat bukti surat dan
atau ahli yang
mendukung
pembuktian tindak
pidana.
Dengan demikian, menjawab pertanyaan Anda, dalam suatu tindak pidana kekerasan seksual harus tetap dilaporkan dengan adanya alat bukti. Akan tetapi, k͟h͟u͟s͟u͟s͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ k͟e͟k͟e͟r͟a͟s͟a͟n͟ s͟͟e͟͟k͟͟s͟͟u͟͟a͟͟l͟͟, k͟e͟t͟e͟r͟a͟n͟g͟a͟n͟ k͟o͟r͟b͟a͟n͟ c͟u͟k͟u͟p͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟m͟b͟u͟k͟t͟i͟k͟a͟n͟ b͟a͟h͟w͟a͟ t͟e͟r͟d͟a͟k͟w͟a͟ b͟e͟r͟s͟a͟l͟a͟h͟ j͟i͟k͟a͟ d͟i͟s͟e͟r͟t͟a͟i͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ s͟a͟t͟u͟ a͟l͟a͟t͟ b͟u͟k͟t͟i͟ s͟͟a͟͟h͟͟ l͟͟a͟͟i͟͟n͟͟n͟͟y͟͟a͟͟. M͟i͟s͟a͟l͟n͟y͟a͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ a͟l͟a͟t͟ b͟u͟k͟t͟i͟ s͟͟u͟͟r͟a͟t͟ d͟a͟r͟i͟ s͟u͟r͟a͟t͟ k͟e͟t͟e͟r͟a͟n͟g͟a͟n͟ p͟s͟i͟k͟o͟l͟o͟g͟ k͟͟l͟͟i͟͟n͟͟i͟͟s͟͟. Apabila alat bukti hanya dari keterangan korban saja, maka dapat didukung misalnya dengan keterangan orang lain yang berhubungan dengan pelecehan seksual meski ia tidak mendengar atau menyaksikan sendiri, atau ahli yang membuat bukti surat.
Artinya, meskipun tidak ada bukti seperti saksi lain yang menyaksikan kejadian pelecehan seksual, namun keterangan korban merupakan salah satu alat bukti dalam tindak pidana kekerasan seksual. Keterangan korban tersebut dapat didukung dengan pemeriksaan psikologis atau saksi lain yang berhubungan dengan pelecehan seksual.
Cara Melaporkan Pelecehan Seksual Tanpa Bukti
K͟o͟r͟b͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟g͟a͟l͟a͟m͟i͟ p͟e͟l͟e͟c͟e͟h͟a͟n͟ s͟e͟k͟s͟u͟a͟l͟ t͟a͟n͟p͟a͟ b͟u͟k͟t͟i͟ l͟͟a͟͟i͟͟n͟͟ s͟e͟l͟a͟i͟n͟ d͟͟i͟͟r͟͟i͟͟n͟͟y͟͟a͟͟, t͟e͟t͟a͟p͟ d͟a͟p͟a͟t͟ m͟e͟m͟p͟r͟o͟s͟e͟s͟ h͟͟a͟͟l͟͟ t͟e͟r͟s͟e͟b͟u͟t͟ s͟e͟c͟a͟r͟a͟ p͟͟i͟͟d͟͟a͟͟n͟͟a͟͟. Hal ini karena ketentuan alat bukti dalam UU TPKS telah disesuaikan dengan karakter tindak pidana kekerasan seksual yang minim alat bukti.
Untuk memberikan gambaran langkah-langkah yang dapat ditempuh korban ketika terjadi pelecehan seksual meskipun minim bukti, dapat disimak penjelasan di bawah ini.
Melaporkan ke Pimpinan yang Tepat Jika Terjadi di Tempat Kerja
Berdasarkan Lampiran SE Menaker 03/2011 tentang pedoman pencegahan pelecehan seksual di tempat kerja, memberikan panduan mengenai pencegahan dan penyelesaian pelecehan seksual di tempat kerja.
Setiap langkah dalam penyelesaian pelecehan seksual di tempat kerja h͟a͟r͟u͟s͟ m͟e͟m͟e͟n͟u͟h͟i͟ p͟r͟i͟n͟s͟i͟p͟-p͟r͟i͟n͟s͟i͟p͟ k͟͟e͟͟a͟͟d͟͟i͟͟l͟͟a͟͟n͟͟. Di samping itu, harus ada k͟e͟s͟e͟i͟m͟b͟a͟n͟g͟a͟n͟ i͟n͟f͟o͟r͟m͟a͟s͟i͟ d͟a͟r͟i͟ k͟e͟d͟u͟a͟ b͟e͟l͟a͟h͟ p͟i͟h͟a͟k͟ b͟a͟i͟k͟ k͟o͟r͟b͟a͟n͟ m͟a͟u͟p͟u͟n͟ t͟e͟r͟d͟u͟g͟a͟ p͟e͟l͟a͟k͟u͟ p͟e͟l͟e͟c͟e͟h͟a͟n͟ s͟e͟k͟s͟u͟a͟l͟ (hal. 15)
Korban dapat mengadukan pelecehan seksual kepada penyelia (pengawas/supervisor, red), manajer lain atau pejabat penanganan keluhan yang ditentukan (hal. 16). Dalam hal ini menurut hemat kami, korban dapat pula melapor kepada pimpinan perusahaan, serikat pekerja, atau kantor dinas tenaga kerja setempat.
J͟i͟k͟a͟ d͟u͟g͟a͟a͟n͟ p͟e͟l͟e͟c͟e͟h͟a͟n͟ s͟e͟k͟s͟u͟a͟l͟ t͟͟i͟͟d͟͟a͟͟k͟͟ a͟d͟a͟ b͟u͟k͟t͟i͟ y͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟g͟͟͟ k͟͟u͟͟a͟͟t͟͟, p͟͟e͟͟m͟͟b͟͟e͟͟r͟͟i͟͟ k͟e͟r͟j͟a͟ h͟a͟r͟u͟s͟ m͟͟e͟͟n͟͟g͟͟u͟͟s͟͟a͟͟h͟͟a͟͟k͟͟a͟͟n͟͟ a͟g͟a͟r͟ k͟o͟r͟b͟a͟n͟ t͟i͟d͟a͟k͟ d͟i͟k͟e͟n͟a͟i͟ s͟a͟n͟k͟s͟i͟ a͟͟p͟͟a͟͟p͟͟u͟͟n͟͟. Tetapi jika ada bukti yang cukup maka pemberi kerja harus menyebarluaskan kemungkinan sanksi, melaksanakan pelatihan untuk meningkatkan kesadaran para staf, dan memantau keadaan dengan cermat (hal. 18).
Hasil penyelesaian pelecehan seksual ini dapat dipergunakan sebagai dasar dari pekerja yang menginginkan untuk dilakukan pemutusan hubungan kerja kepada lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial (hal. 19).
Meminta Pendampingan Korban
Korban pelecehan seksual dapat mencari pendampingan pada semua tingkat pemeriksaan dalam proses peradilan, antara lain Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (“LPSK”), Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (“UPTD PPA”), tenaga kesehatan, psikolog, pekerja sosial, tenaga kesejahteraan sosial, psikiater, pendamping hukum meliputi advokat dan paralegal, lembaga penyedia layanan berbasis masyarakat, dan pendamping lain.[¹⁷]
Korban dapat melaporkan tindakan kekerasan terhadap perempuan dan anak melalui layanan call center Sahabat Perempuan dan Anak (SAPA) dengan nomor telepon 129 atau Whatsapp 08111-129-129 atau mengisi Form Pengaduan Online SAPA 129 dengan menyertakan informasi singkat tentang insiden kekerasan yang dialami atau diketahui.
Korban atau orang yang mengetahui, melihat, dan/atau menyaksikan peristiwa kekerasan seksual dapat melaporkan kepada UPTD PPA, unit pelaksana teknis dan unit pelaksana teknis daerah di bidang sosial, atau lembaga penyedia layanan berbasis masyarakat yang akan:[¹⁸]
a. menerima laporan di
ruang khusus yang
menjamin keamanan
dan kerahasiaan
korban;
b. menyelenggarakan
penguatan
psikologis bagi
korban;
c. membuatkan
laporan kepada
kepolisian paling
lambat 3 x 24 jam
sejak korban
melapor.
Melaporkan ke Kepolisian
Korban dapat pula melaporkan kejadian pelecehan seksual tersebut langsung ke pihak kepolisian. Dalam UU TPKS, ketika kepolisian telah menerima laporan tindak pidana kekerasan seksual, k͟e͟p͟o͟l͟i͟s͟i͟a͟n͟ d͟a͟p͟a͟t͟ m͟e͟m͟b͟e͟r͟i͟k͟a͟n͟ p͟͟͟e͟͟͟r͟͟͟l͟͟͟i͟͟͟n͟͟͟d͟͟͟u͟͟͟n͟͟͟g͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟ s͟e͟m͟e͟n͟t͟a͟r͟a͟ k͟e͟p͟a͟d͟a͟ k͟o͟r͟b͟a͟n͟ u͟n͟t͟u͟k͟ w͟a͟k͟t͟u͟ m͟͟a͟͟k͟͟s͟͟i͟͟m͟͟a͟͟l͟͟ 14 h͟͟a͟͟r͟͟i͟͟, seperti membatasi gerak pelaku baik yang bertujuan untuk menjauhkan pelaku dari korban dalam jarak dan waktu tertentu maupun pembatasan hak tertentu dari pelaku.[¹⁹]
K͟o͟r͟b͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟l͟a͟p͟o͟r͟k͟a͟n͟ s͟e͟n͟d͟i͟r͟i͟ k͟e͟p͟a͟d͟a͟ k͟e͟p͟o͟l͟i͟s͟i͟a͟n͟ m͟a͟k͟a͟ k͟e͟p͟o͟l͟i͟s͟i͟a͟n͟ w͟a͟j͟i͟b͟ m͟e͟n͟e͟r͟i͟m͟a͟ l͟a͟p͟o͟r͟a͟n͟ d͟i͟ r͟u͟a͟n͟g͟ p͟e͟l͟a͟y͟a͟n͟a͟n͟ k͟h͟u͟s͟u͟s͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟j͟a͟m͟i͟n͟ k͟e͟a͟m͟a͟n͟a͟n͟ d͟a͟n͟ k͟e͟r͟a͟h͟a͟s͟i͟a͟a͟n͟ k͟o͟r͟b͟a͟n͟. Selain itu, pelaporan diterima oleh petugas atau penyidik yang melaksanakan pelayanan khusus bagi korban.[²⁰]
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat dan dapat dijadikan pembelajaran untuk kita semua terlebih untuk penanya dan Paralegal ubklawyers pada khususnya.
D͟a͟s͟a͟r͟ H͟u͟k͟u͟m͟:
- Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual;
- Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana;
- Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2025 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana;
- Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor SE.03/MEN/IV/2011 Tahun 2011 tentang Pedoman Pencegahan Pelecehan Seksual di Tempat Kerja.
Artikel ini adalah pemutakhiran kedua dari artikel dengan judul Pelecehan Seksual di Tempat Kerja Tanpa Saksi yang dibuat oleh Ilman Hadi, S.H., dan pertama kali dipublikasikan pada Senin, 11 Juni 2012, yang pertama kali dimutakhirkan oleh Nafiatul Munawaroh, S.H., M.H pada 22 November 2023. Dipublikasikan kedua oleh “..Hukumonline.com..” dengan judul Cara Melaporkan Pelecehan Seksual Tanpa Bukti, pada tanggal 13 Desember 2026. Dan diteruskan oleh ubklawyers pada tanggal 15 Januari 2026M/25 Rajab 1447H.
Seluruh Informasi Hukum yang ada di LBH-UMAR BIN KHATTAB disiapkan semata-mata untuk t͟͟͟u͟͟͟j͟͟͟u͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟ p͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, p͟e͟m͟b͟e͟l͟a͟j͟a͟r͟a͟n͟ dan b͟e͟r͟s͟i͟f͟a͟t͟ u͟m͟u͟m͟. Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan Pengacara, Konsultan Hukum dan/atau Paralegal UBK LAWYERS.
Sedang menghadapi permasalahan hukum? A͟j͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟t͟a͟n͟y͟a͟a͟n͟ melalui email, telepon atau chat.👇🏼
Email:
ubklawyer@gmail.com
Telepon/Chat:
089666552118
Berkenan G͟a͟b͟u͟n͟g͟ G͟r͟o͟u͟p͟, untuk jadi bagian Keluarga Besar UBK LAWYERS. Klik link dibawah.👇🏼
I͟K͟U͟T͟I͟ W͟h͟a͟t͟s͟A͟p͟p͟ C͟h͟a͟n͟n͟e͟l͟ LBH-UMAR BIN KHATTAB. Untuk memperkaya Riset Hukum Anda, klik link dibawah.👇🏼
🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸
#cerdashukum
#studylawtogether
#ubklawyers
