INDRAMAYU — PERTANYAAN
Baru-baru ini ramai diberitakan mengenai Kepala Dinsos Kabupaten Samosir yang dijadikan tersangka atas dugaan kasus korupsi bantuan untuk korban bencana banjir bandang di Kabupaten Samosir tahun 2024. Benarkan pelaku korupsi dana bantuan bencana alam bisa dipidana mati?
Atas penjelasannya diucapkan terimakasih, untuk ubklawyers dan paralegalnya semoga bisnisnya diberikan kemudahan, sehingga hidupnya bisa di kayakan dan menemukan jalan kesuksesan. Aamiin..
Fadillah/Walet – Balongan City
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
“INTISARI JAWABAN”
【ℌ𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔓𝔦𝔡𝔞𝔫𝔞】
𝔅𝔢𝔫𝔠𝔞𝔫𝔞 𝔞𝔡𝔞𝔩𝔞𝔥 𝔭𝔢𝔯𝔦𝔰𝔱𝔦𝔴𝔞 𝔞𝔱𝔞𝔲 𝔯𝔞𝔫𝔤𝔨𝔞𝔦𝔞𝔫 𝔭𝔢𝔯𝔦𝔰𝔱𝔦𝔴𝔞 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔪𝔢𝔫𝔤𝔞𝔫𝔠𝔞𝔪 𝔡𝔞𝔫 𝔪𝔢𝔫𝔤𝔤𝔞𝔫𝔤𝔤𝔲 𝔨𝔢𝔥𝔦𝔡𝔲𝔭𝔞𝔫 𝔡𝔞𝔫 𝔭𝔢𝔫𝔤𝔥𝔦𝔡𝔲𝔭𝔞𝔫 𝔪𝔞𝔰𝔶𝔞𝔯𝔞𝔨𝔞𝔱 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔡𝔦𝔰𝔢𝔟𝔞𝔟𝔨𝔞𝔫 𝔟𝔞𝔦𝔨 𝔬𝔩𝔢𝔥 𝔣𝔞𝔨𝔱𝔬𝔯 𝔞𝔩𝔞𝔪 𝔡𝔞𝔫/𝔞𝔱𝔞𝔲 𝔣𝔞𝔨𝔱𝔬𝔯 𝔫𝔬𝔫-𝔞𝔩𝔞𝔪, 𝔪𝔞𝔲𝔭𝔲𝔫 𝔣𝔞𝔨𝔱𝔬𝔯 𝔪𝔞𝔫𝔲𝔰𝔦𝔞 𝔰𝔢𝔥𝔦𝔫𝔤𝔤𝔞 𝔪𝔢𝔫𝔤𝔞𝔨𝔦𝔟𝔞𝔱𝔨𝔞𝔫 𝔱𝔦𝔪𝔟𝔲𝔩𝔫𝔶𝔞 𝔨𝔬𝔯𝔟𝔞𝔫 𝔧𝔦𝔴𝔞 𝔪𝔞𝔫𝔲𝔰𝔦𝔞, 𝔨𝔢𝔯𝔲𝔰𝔞𝔨𝔞𝔫 𝔩𝔦𝔫𝔤𝔨𝔲𝔫𝔤𝔞𝔫, 𝔨𝔢𝔯𝔲𝔤𝔦𝔞𝔫 𝔥𝔞𝔯𝔱𝔞 𝔟𝔢𝔫𝔡𝔞, 𝔡𝔞𝔫 𝔡𝔞𝔪𝔭𝔞𝔨 𝔭𝔰𝔦𝔨𝔬𝔩𝔬𝔤𝔦𝔰.
𝔅𝔢𝔫𝔠𝔞𝔫𝔞 𝔫𝔞𝔰𝔦𝔬𝔫𝔞𝔩 𝔪𝔞𝔰𝔲𝔨 𝔭𝔞𝔡𝔞 𝔨𝔢𝔞𝔡𝔞𝔞𝔫 𝔱𝔢𝔯𝔱𝔢𝔫𝔱𝔲 𝔰𝔢𝔰𝔲𝔞𝔦 𝔓𝔢𝔫𝔧𝔢𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔓𝔞𝔰𝔞𝔩 2 𝔞𝔶𝔞𝔱 (2) 𝔘𝔘 20/2001, 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔪𝔢𝔫𝔧𝔞𝔡𝔦 𝔞𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔱𝔦𝔫𝔡𝔞𝔨 𝔭𝔦𝔡𝔞𝔫𝔞 𝔨𝔬𝔯𝔲𝔭𝔰𝔦 𝔡𝔞𝔩𝔞𝔪 𝔨𝔢𝔞𝔡𝔞𝔞𝔫 𝔱𝔢𝔯𝔰𝔢𝔟𝔲𝔱 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔡𝔦𝔧𝔞𝔱𝔲𝔥𝔦 𝔥𝔲𝔨𝔲𝔪𝔞𝔫 𝔭𝔦𝔡𝔞𝔫𝔞 𝔪𝔞𝔱𝔦.
𝔑𝔞𝔪𝔲𝔫, 𝔧𝔦𝔨𝔞 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔱𝔢𝔯𝔧𝔞𝔡𝔦 𝔟𝔲𝔨𝔞𝔫 𝔟𝔢𝔫𝔠𝔞𝔫𝔞 𝔫𝔞𝔰𝔦𝔬𝔫𝔞𝔩, 𝔞𝔭𝔞𝔨𝔞𝔥 𝔨𝔢𝔱𝔢𝔫𝔱𝔲𝔞𝔫 𝔭𝔦𝔡𝔞𝔫𝔞 𝔪𝔞𝔱𝔦 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔡𝔦𝔱𝔢𝔯𝔞𝔭𝔨𝔞𝔫?
𝔓𝔢𝔫𝔧𝔢𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔩𝔢𝔟𝔦𝔥 𝔩𝔞𝔫𝔧𝔲𝔱 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔄𝔫𝔡𝔞 𝔟𝔞𝔠𝔞 𝔲𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔡𝔦 𝔟𝔞𝔴𝔞𝔥 𝔦𝔫𝔦.
ULASAN SELENGKAPNYA;
Terimakasih atas pertanyaan Anda.
Dana Penanggulangan Bencana
Berkenaan dengan bencana pada dasarnya diatur dalam UU 24/2007 tentang penanggulangan bencana.
Menurut Pasal 1 angka 1 UU 24/2007, definisi dari b͟e͟n͟c͟a͟n͟a͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ p͟e͟r͟i͟s͟t͟i͟w͟a͟ a͟t͟a͟u͟ r͟a͟n͟g͟k͟a͟i͟a͟n͟ p͟e͟r͟i͟s͟t͟i͟w͟a͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟g͟a͟n͟c͟a͟m͟ d͟a͟n͟ m͟e͟n͟g͟g͟a͟n͟g͟g͟u͟ k͟e͟h͟i͟d͟u͟p͟a͟n͟ d͟a͟n͟ p͟e͟n͟g͟h͟i͟d͟u͟p͟a͟n͟ m͟a͟s͟y͟a͟r͟a͟k͟a͟t͟ y͟a͟n͟g͟ d͟͟i͟͟s͟͟e͟͟b͟͟a͟͟b͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, b͟a͟i͟k͟ o͟l͟e͟h͟ f͟a͟k͟t͟o͟r͟ a͟l͟a͟m͟ d͟͟a͟͟n͟͟/a͟t͟a͟u͟ f͟a͟k͟t͟o͟r͟ n͟o͟n͟-a͟l͟a͟m͟ m͟a͟u͟p͟u͟n͟ f͟a͟k͟t͟o͟r͟ m͟a͟n͟u͟s͟i͟a͟ s͟e͟h͟i͟n͟g͟g͟a͟ m͟e͟n͟g͟a͟k͟i͟b͟a͟t͟k͟a͟n͟ t͟i͟m͟b͟u͟l͟n͟y͟a͟ k͟o͟r͟b͟a͟n͟ j͟i͟w͟a͟ m͟͟a͟͟n͟͟u͟͟s͟͟i͟͟a͟͟, k͟e͟r͟u͟s͟a͟k͟a͟n͟ l͟͟i͟͟n͟͟g͟͟k͟͟u͟͟n͟͟g͟͟a͟͟n͟͟, k͟e͟r͟u͟g͟i͟a͟n͟ h͟a͟r͟t͟a͟ b͟͟e͟͟n͟͟d͟͟a͟͟, d͟a͟n͟ d͟a͟m͟p͟a͟k͟ p͟͟s͟͟i͟͟k͟͟o͟͟l͟͟o͟͟g͟͟i͟͟s͟͟.
Bencana dalam UU 24/2007 dibagi menjadi beberapa jenis, antara lain:
- b͟e͟n͟c͟a͟n͟a͟ a͟͟l͟͟a͟͟m͟͟, yaitu bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor;[¹]
- bencana non-alam, yaitu bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa non-alam yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit;[²]
- bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antarkelompok atau antar komunitas masyarakat, dan teror.[³]
Pada dasarnya, p͟e͟m͟e͟r͟i͟n͟t͟a͟h͟ d͟a͟n͟ p͟e͟m͟e͟r͟i͟n͟t͟a͟h͟ d͟a͟e͟r͟a͟h͟ m͟e͟n͟j͟a͟d͟i͟ p͟e͟n͟a͟n͟g͟g͟u͟n͟g͟ j͟͟a͟͟w͟͟a͟͟b͟͟ d͟a͟l͟a͟m͟ p͟e͟n͟y͟e͟l͟e͟n͟g͟g͟a͟r͟a͟a͟n͟ p͟e͟n͟a͟n͟g͟g͟u͟l͟a͟n͟g͟a͟n͟ b͟͟͟e͟͟͟n͟͟͟c͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟a͟͟͟.[⁴] Berhubungan dengan dana penanggulangan bencana juga menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah dan pemerintah daerah.[⁵]
Kemudian dalam Pasal 65 UU 25/2007, diatur perihal pengelolaan sumber daya bantuan bencana, yang berbunyi:
- Pengelolaan sumber daya bantuan bencana meliputi perencanaan, penggunaan, pemeliharaan, pemantauan, dan pengevaluasian terhadap barang, jasa, dan/atau uang bantuan nasional maupun internasional.
Terhadap setiap orang yang dengan sengaja menyalahgunakan pengelolaan sumber daya bantuan bencana, seperti uang bantuan nasional maupun internasional, maka dapat dipidana dengan pidana penjara dengan penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 tahun atau paling lama 20 tahun dan denda paling singkat sedikit Rp6 miliar atau *denda paling banyak Rp12 miliar.[⁶]
Korupsi Saat Bencana
Selanjutnya, kami akan menjawab pertanyaan Anda soal korupsi saat bencana alam. Anda tidak menerangkan jenis korupsi apa yang dilakukan oleh pelaku pada kasus yang Anda tanyakan. Kami asumsikan bahwa korupsi yang dilakukan adalah jenis korupsi merugikan keuangan negara yang diatur dalam Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 UU 31/1999 jo. Putusan MK No. 25/PUU-XIV/2016, yang berbunyi:
Pasal 2 ayat (1) UU 20/2001 jo. Putusan MK No. 25/PUU-XIV/2016
- Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang merugikan negara atau perekonomian negara, dipidana penjara dengan penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 tahun dan paling lama 20 tahun dan denda paling sedikit Rp200 juta dan paling banyak Rp1 miliar.
Pasal 3 UU 31/1999 jo. Putusan MK No. 25/PUU-XIV/2016
- Setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 1 tahun dan paling lama 20 tahun dan/atau denda paling sedikit Rp50 juta dan paling banyak Rp1 miliar.
Kemudian, perihal sanksi pidana mati korupsi bisa ditemukan pada ketentuan Pasal 2 ayat (2) UU 31/1999, sebagai berikut:
Dalam hal tindak pidana korupsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan dalam keadaan tertentu, pidana mati dapat dijatuhkan.
Melihat pada bunyi pasal di atas, sanksi pidana mati berhubungan atau melekat pada pelanggaran terhadap Pasal 2 ayat (1) UU 31/1999 jo. Putusan MK No. 25/PUU-XIV/2016 ditambah unsur keadaan tertentu.
Akan tetapi, terdapat pendapat lain seperti Ahli Hukum Pidana Universitas Trisakti, Abdul Fickar Hadjar, yang dikutip dalam artikel Melihat Potensi Hukuman Mati Pelaku Korupsi Bencana Alam, menyatakan bahwa b͟e͟r͟d͟a͟s͟a͟r͟k͟a͟n͟ t͟a͟f͟s͟i͟r͟ y͟u͟r͟i͟d͟i͟s͟ d͟a͟n͟ l͟o͟g͟i͟k͟a͟ a͟͟k͟͟a͟͟l͟͟ s͟e͟h͟a͟t͟ s͟͟a͟͟j͟͟a͟͟, k͟e͟t͟e͟n͟t͟u͟a͟n͟ h͟u͟k͟u͟m͟a͟n͟ m͟a͟t͟i͟ p͟a͟d͟a͟ P͟a͟s͟a͟l͟ 2 a͟y͟a͟t͟ (2) U͟U͟ 31/1999 h͟a͟r͟u͟s͟ d͟i͟l͟e͟t͟a͟k͟k͟a͟n͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ k͟e͟t͟e͟n͟t͟u͟a͟n͟ u͟m͟u͟m͟ U͟U͟ 31/1999 d͟a͟n͟ p͟͟e͟͟r͟͟u͟͟b͟͟a͟͟h͟͟a͟͟n͟͟n͟͟y͟͟a͟͟, s͟e͟h͟i͟n͟g͟g͟a͟ b͟i͟s͟a͟ b͟e͟r͟l͟a͟k͟u͟ p͟a͟d͟a͟ k͟o͟r͟u͟p͟s͟i͟ j͟e͟n͟i͟s͟ a͟͟p͟͟a͟͟p͟͟u͟͟n͟͟. T͟͟e͟͟k͟͟n͟͟i͟͟s͟͟n͟͟y͟͟a͟͟, d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ j͟u͟n͟c͟t͟o͟.
Lalu, apa yang dimaksud dengan keadaan tertentu? Penjelasan Pasal 2 ayat (2) UU 20/2001, menerangkan bahwa k͟e͟a͟d͟a͟a͟n͟ t͟e͟r͟t͟e͟n͟t͟u͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ k͟e͟a͟d͟a͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟j͟a͟d͟i͟k͟a͟n͟ a͟l͟a͟s͟a͟n͟ p͟e͟m͟b͟e͟r͟a͟t͟a͟n͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ b͟a͟g͟i͟ p͟e͟l͟a͟k͟u͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ k͟o͟r͟u͟p͟s͟i͟ y͟a͟i͟t͟u͟ a͟p͟a͟b͟i͟l͟a͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ t͟e͟r͟s͟e͟b͟u͟t͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ t͟e͟r͟h͟a͟d͟a͟p͟ d͟a͟n͟a͟-d͟a͟n͟a͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟p͟e͟r͟u͟n͟t͟u͟k͟k͟a͟n͟ b͟a͟g͟i͟ p͟e͟n͟a͟n͟g͟g͟u͟l͟a͟n͟g͟a͟n͟ k͟e͟a͟d͟a͟a͟n͟ b͟a͟h͟a͟y͟a͟, b͟e͟n͟c͟a͟n͟a͟ n͟͟a͟͟s͟͟i͟͟o͟͟n͟͟a͟͟l͟͟, p͟e͟n͟a͟n͟g͟g͟u͟l͟a͟n͟g͟a͟n͟ a͟k͟i͟b͟a͟t͟ k͟e͟r͟u͟s͟u͟h͟a͟n͟ s͟o͟s͟i͟a͟l͟ y͟a͟n͟g͟ m͟͟e͟͟l͟͟u͟͟a͟͟s͟͟, p͟e͟n͟a͟n͟g͟g͟u͟l͟a͟n͟g͟a͟n͟ k͟r͟i͟s͟i͟s͟ e͟͟͟͟k͟͟͟͟o͟͟͟͟n͟͟͟͟o͟͟͟͟m͟͟͟͟i͟͟͟͟ d͟a͟n͟ m͟͟o͟͟n͟͟e͟͟t͟͟e͟͟r͟͟, d͟a͟n͟ p͟e͟n͟g͟u͟l͟a͟n͟g͟a͟n͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ k͟͟o͟͟r͟͟u͟͟p͟͟s͟͟i͟͟.
Lebih lanjut, perihal keadaan tertentu, Adami Chazawi dalam bukunya Hukum Pidana Materiil dan Formil Korupsi di Indonesia (hal. 62), menerangkan bahwa k͟͟e͟͟a͟͟d͟͟a͟͟a͟͟n͟͟-k͟e͟a͟d͟a͟a͟n͟ t͟e͟r͟t͟e͟n͟t͟u͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟j͟a͟d͟i͟k͟a͟n͟ a͟l͟a͟s͟a͟n͟ p͟e͟m͟b͟e͟r͟a͟t͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ i͟n͟i͟ t͟e͟l͟a͟h͟ d͟i͟s͟e͟b͟u͟t͟k͟a͟n͟ s͟e͟c͟a͟r͟a͟ l͟i͟m͟i͟t͟a͟t͟i͟f͟, oleh karena itu hakim tidak diperkenankan untuk menjatuhkan pidana yang diperberat dengan alasan selain yang sudah disebutkan dalam Penjelasan Pasal 2 ayat (2) UU 20/2001.
Masih dari buku yang sama, Adami Chazawi menerangkan bahwa untuk k͟e͟a͟d͟a͟a͟n͟ t͟e͟r͟t͟e͟n͟t͟u͟ b͟e͟n͟c͟a͟n͟a͟ n͟a͟s͟i͟o͟n͟a͟l͟ d͟i͟u͟k͟u͟r͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ k͟e͟p͟u͟t͟u͟s͟a͟n͟ p͟͟e͟͟m͟͟e͟͟r͟͟i͟͟n͟͟t͟͟a͟͟h͟͟. Jadi untuk memenuhi unsur pada Pasal 2 ayat (2) UU 31/1999, b͟e͟n͟c͟a͟n͟a͟ y͟a͟n͟g͟ t͟e͟r͟j͟a͟d͟i͟ h͟a͟r͟u͟s͟l͟a͟h͟ b͟e͟r͟u͟p͟a͟ b͟e͟n͟c͟a͟n͟a͟ n͟a͟s͟i͟o͟n͟a͟l͟ t͟e͟r͟l͟e͟b͟i͟h͟ d͟a͟h͟u͟l͟u͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟t͟e͟t͟a͟p͟k͟a͟n͟ m͟e͟l͟a͟l͟u͟i͟ k͟e͟p͟u͟t͟u͟s͟a͟n͟ p͟͟e͟͟m͟͟e͟͟r͟͟i͟͟n͟͟t͟͟a͟͟h͟͟. Sebagai contoh seperti penetapan bencana alam gempa bumi dan gelombang tsunami di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan provinsi Sumatera Utara sebagai bencana nasional pada tahun 2004 melalui Keppres 112/2004.
Walaupun sanksi pidana mati diakomodasikan dalam UU 31/1999 dan perubahannya, Mahrus Ali dan Deni Setya Bagus Yuherawan pada bukunya Delik-Delik Korupsi (hal. 71-72) m͟e͟n͟e͟r͟a͟n͟g͟k͟a͟n͟ b͟͟͟a͟͟͟h͟͟͟w͟͟͟a͟͟͟ d͟a͟l͟a͟m͟ p͟r͟a͟k͟t͟i͟k͟, b͟e͟l͟u͟m͟ p͟e͟r͟n͟a͟h͟ a͟d͟a͟ p͟e͟l͟a͟k͟u͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ k͟o͟r͟u͟p͟s͟i͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟j͟a͟t͟u͟h͟i͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ m͟a͟t͟i͟ b͟e͟r͟d͟a͟s͟a͟r͟k͟a͟n͟ p͟u͟t͟u͟s͟a͟n͟ p͟͟e͟͟n͟͟g͟͟a͟͟d͟͟i͟͟l͟͟a͟͟n͟͟. Mahrus Ali dan Deni Setya Bagus Yuherawan, berpendapat bahwa hal ini terjadi karena 3 alasan, yaitu:
- keadaan tertentu yang menjadi alasan penjatuhan pidana mati jarang terjadi;
- keadaan-keadaan tertentu yang menjadi syarat penjatuhan pidana mati ditempatkan di dalam penjelasan pasal dan bukan di batang tubuh;
- pidana mati hanya mungkin dijatuhkan kepada pelaku tindak pidana korupsi yang terbukti melanggar Pasal 2 ayat (1) UU 31/1999.
Meskipun dalam praktiknya belum pernah terjadi pelaku tindak pidana dijatuhi pidana mati karena melakukan korupsi saat bencana, akan tetapi, tindak pidana korupsi yang dilakukan saat bencana bisa menjadi hal-hal yang memberatkan pada pertimbangan hakim. Sebagai contoh dalam Putusan MA No. 259 K/Pid.Sus/2011, pada pertimbangannya hakim menyatakan bahwa hal-hal yang memberatkan terdakwa adalah perbuatan terdakwa mengakibatkan korban bencana alam Sumatera Barat mengalami penderitaan karena sangat membutuhkan bantuan dari pemerintah. (hal. 56)
Oleh karena itu, hakim membatalkan putusan banding sebelumnya dan menyatakan terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi Pasal 3 UU 31/1999 dengan dipidana penjara selama 3 tahun dan denda sebesar Rp100 juta dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar akan diganti dengan pidana kurungan selama 3 bulan. (hal. 57)
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat dan dapat dijadikan pembelajaran untuk kita semua terlebih untuk penanya dan Paralegal ubklawyers pada khususnya.
D͟a͟s͟a͟r͟ H͟u͟k͟u͟m͟:
- Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi;
- Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi;
- Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.
Artikel ini dibuat oleh Muhammad Raihan Nugraha. SH, dipublikasikan “..Hukumonline.com..” dengan judul Korupsi Dana Bencana, Bisa Dipidana Mati? Pada tanggal 30 Desember 2025. Dan diteruskan oleh ubklawyers pada tanggal 05 Januari 2026M/16 Rajab1447H.
Seluruh Informasi Hukum yang ada di LBH-UMAR BIN KHATTAB disiapkan semata-mata untuk t͟͟͟u͟͟͟j͟͟͟u͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟ p͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, p͟e͟m͟b͟e͟l͟a͟j͟a͟r͟a͟n͟ dan b͟e͟r͟s͟i͟f͟a͟t͟ u͟m͟u͟m͟. Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan Pengacara, Konsultan Hukum dan/atau Paralegal UBK LAWYERS.
Sedang menghadapi permasalahan hukum? A͟j͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟t͟a͟n͟y͟a͟a͟n͟ melalui email, telepon atau chat.👇🏼
Email:
ubklawyer@gmail.com
Telepon/Chat:
089666552118
Berkenan G͟a͟b͟u͟n͟g͟ G͟r͟o͟u͟p͟, untuk jadi bagian Keluarga Besar UBK LAWYERS. Klik link dibawah.👇🏼
I͟K͟U͟T͟I͟ W͟h͟a͟t͟s͟A͟p͟p͟ C͟h͟a͟n͟n͟e͟l͟ LBH-UMAR BIN KHATTAB. Untuk memperkaya Riset Hukum Anda, klik link dibawah.👇🏼
🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸
#cerdashukum
#studylawtogether
#ubklawyers
