INDRAMAYU — PERTANYAAN:
Apa bunyi Pasal 184 KUHAP? Apa saja alat bukti yang sah menurut Pasal 184 KUHAP? Bagaimana perbandingannya dengan alat bukti sah dalam KUHAP baru? Atas pencerahannya diucapkan terimakasih, untuk ubklawyers beserta Paralegalnya semoga rezekinya lancar dan berkah selalu. Aamiin..
Edi Ridwan – DPC ubklawyers
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
“INTISARI JAWABAN”
【ℌ𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔓𝔦𝔡𝔞𝔫𝔞】
𝔖𝔞𝔞𝔱 𝔦𝔫𝔦, 𝔨𝔢𝔱𝔢𝔫𝔱𝔲𝔞𝔫 𝔪𝔢𝔫𝔤𝔢𝔫𝔞𝔦 𝔧𝔢𝔫𝔦𝔰 𝔞𝔩𝔞𝔱 𝔟𝔲𝔨𝔱𝔦 𝔰𝔞𝔥 𝔡𝔦𝔞𝔱𝔲𝔯 𝔡𝔞𝔩𝔞𝔪 𝔓𝔞𝔰𝔞𝔩 235 𝔞𝔶𝔞𝔱 (1) 𝔘𝔘 20/2025 𝔱𝔢𝔫𝔱𝔞𝔫𝔤 𝔎𝔘ℌ𝔄𝔓 𝔟𝔞𝔯𝔲. 𝔗𝔢𝔯𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 8 𝔧𝔢𝔫𝔦𝔰 𝔞𝔩𝔞𝔱 𝔟𝔲𝔨𝔱𝔦 𝔡𝔞𝔩𝔞𝔪 𝔥𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔞𝔠𝔞𝔯𝔞 𝔭𝔦𝔡𝔞𝔫𝔞 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔡𝔦𝔞𝔱𝔲𝔯 𝔰𝔞𝔞𝔱 𝔦𝔫𝔦, 𝔞𝔫𝔱𝔞𝔯𝔞 𝔩𝔞𝔦𝔫 𝔨𝔢𝔱𝔢𝔯𝔞𝔫𝔤𝔞𝔫 𝔰𝔞𝔨𝔰𝔦, 𝔨𝔢𝔱𝔢𝔯𝔞𝔫𝔤𝔞𝔫 𝔞𝔥𝔩𝔦, 𝔰𝔲𝔯𝔞𝔱, 𝔨𝔢𝔱𝔢𝔯𝔞𝔫𝔤𝔞𝔫 𝔱𝔢𝔯𝔡𝔞𝔨𝔴𝔞, 𝔟𝔞𝔯𝔞𝔫𝔤 𝔟𝔲𝔨𝔱𝔦, 𝔟𝔲𝔨𝔱𝔦 𝔢𝔩𝔢𝔨𝔱𝔯𝔬𝔫𝔦𝔨, 𝔭𝔢𝔫𝔤𝔞𝔪𝔞𝔱𝔞𝔫 𝔥𝔞𝔨𝔦𝔪, 𝔡𝔞𝔫 𝔰𝔢𝔤𝔞𝔩𝔞 𝔰𝔢𝔰𝔲𝔞𝔱𝔲 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔡𝔦𝔤𝔲𝔫𝔞𝔨𝔞𝔫 𝔲𝔫𝔱𝔲𝔨 𝔨𝔢𝔭𝔢𝔫𝔱𝔦𝔫𝔤𝔞𝔫 𝔭𝔢𝔪𝔟𝔲𝔨𝔱𝔦𝔞𝔫 𝔭𝔞𝔡𝔞 𝔭𝔢𝔪𝔢𝔯𝔦𝔨𝔰𝔞𝔞𝔫 𝔡𝔦 𝔰𝔦𝔡𝔞𝔫𝔤 𝔭𝔢𝔫𝔤𝔞𝔡𝔦𝔩𝔞𝔫 𝔰𝔢𝔭𝔞𝔫𝔧𝔞𝔫𝔤 𝔡𝔦𝔭𝔢𝔯𝔬𝔩𝔢𝔥 𝔰𝔢𝔠𝔞𝔯𝔞 𝔱𝔦𝔡𝔞𝔨 𝔪𝔢𝔩𝔞𝔴𝔞𝔫 𝔥𝔲𝔨𝔲𝔪.
𝔏𝔞𝔩𝔲, 𝔟𝔞𝔤𝔞𝔦𝔪𝔞𝔫𝔞 𝔭𝔢𝔫𝔧𝔢𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔪𝔞𝔰𝔦𝔫𝔤-𝔪𝔞𝔰𝔦𝔫𝔤 𝔞𝔩𝔞𝔱 𝔟𝔲𝔨𝔱𝔦 𝔱𝔢𝔯𝔰𝔢𝔟𝔲𝔱?
𝔓𝔢𝔫𝔧𝔢𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔩𝔢𝔟𝔦𝔥 𝔩𝔞𝔫𝔧𝔲𝔱 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔄𝔫𝔡𝔞 𝔟𝔞𝔠𝔞 𝔲𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔡𝔦 𝔟𝔞𝔴𝔞𝔥 𝔦𝔫𝔦.
ULASAN SELENGKAPNYA;
Terimakasih atas pertanyaan Anda.
Artikel ini dibuat berdasarkan KUHAP lama dan UU 20/2025 tentang KUHAP yang diundangkan pada tanggal 17 Desember 2025.
Perbandingan Alat Bukti Sah dalam KUHAP Lama dan KUHAP Baru
Secara historis, ketentuan mengenai jenis alat bukti memang diatur dalam ~Pasal 184 ayat (1) KUHAP lama yang saat ini sudah tidak berlaku.~ Yang kemudian diganti oleh UU 20/2025 tentang KUHAP baru yang berlaku sejak 2 Januari 2026.[¹] Jenis alat bukti sah saat ini dapat ditemukan pada Pasal 235 ayat (1) UU 20/2025, sebagai berikut:
~Pasal 184 ayat (1) KUHAP~
Alat bukti yang sah ialah:
a. keterangan saksi;
b. keterangan ahli;
c. surat;
d. petunjuk;
f. keterangan
terdakwa.
Pasal 235 ayat (1) UU 20/2025
Alat bukti terdiri atas:
a. keterangan saksi;
b. keterangan ahli;
c. surat;
d. keterangan
terdakwa;
e. barang bukti;
f. bukti elektronik;
g. pengamatan hakim;
dan
h. segala sesuatu yang
dapat digunakan
untuk kepentingan
pembuktian pada
pemeriksaan di
sidang pengadilan
sepanjang diperoleh
secara tidak
melawan hukum.
Dilihat pada perbandingan di atas, terdapat perbedaan antara jenis-jenis alat bukti pada KUHAP lama dan UU 20/2025 tentang KUHAP baru. Dalam UU 20/2025, petunjuk tidak diatur sebagai salah satu jenis alat bukti. Kemudian terdapat 4 jenis alat bukti baru, antara lain barang bukti, bukti elektronik, pengamatan hakim, dan segala sesuatu yang dapat digunakan untuk kepentingan pembuktian pada pemeriksaan di sidang pengadilan sepanjang diperoleh secara tidak melawan hukum.
Berkaitan dengan alat bukti, kekuatan alat bukti dapat membuktikan putusan pengadilan bahwa putusan itu benar, sehingga si tersangka dinyatakan bersalah. Dalam penyelesaian perkara pidana, s͟e͟s͟e͟o͟r͟a͟n͟g͟ d͟i͟a͟n͟g͟g͟a͟p͟ b͟e͟r͟s͟a͟l͟a͟h͟ a͟p͟a͟b͟i͟l͟a͟ s͟u͟d͟a͟h͟ a͟d͟a͟ p͟u͟t͟u͟s͟a͟n͟ b͟e͟r͟k͟e͟k͟u͟a͟t͟a͟n͟ h͟u͟k͟u͟m͟ t͟e͟t͟a͟p͟ (i͟͟n͟͟k͟͟r͟͟a͟͟c͟͟h͟͟t͟͟). Kekuatan alat bukti inilah yang mendukung putusan hakim di pengadilan dalam memutuskan perkara.[²]
Kemudian, dalam ~Pasal 183 KUHAP~ lama mengatur bahwa seorang hakim t͟i͟d͟a͟k͟ b͟o͟l͟e͟h͟ m͟e͟n͟j͟a͟t͟u͟h͟k͟a͟n͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ k͟e͟p͟a͟d͟a͟ s͟e͟o͟r͟a͟n͟g͟ k͟e͟c͟u͟a͟l͟i͟ a͟p͟a͟b͟i͟l͟a͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ s͟e͟k͟u͟r͟a͟n͟g͟-k͟u͟r͟a͟n͟g͟n͟y͟a͟ d͟u͟a͟ a͟l͟a͟t͟ b͟u͟k͟t͟i͟ y͟a͟n͟g͟ s͟a͟h͟ ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya.
Adapun dalam UU 20/2025, sepanjang penelusuran kami t͟i͟d͟a͟k͟ a͟d͟a͟ k͟e͟t͟e͟n͟t͟u͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ s͟e͟c͟a͟r͟a͟ e͟k͟s͟p͟l͟i͟s͟i͟t͟ m͟e͟n͟g͟e͟n͟a͟i͟ k͟e͟h͟a͟r͟u͟s͟a͟n͟ m͟i͟n͟i͟m͟a͟l͟ a͟l͟a͟t͟ b͟u͟k͟t͟i͟ y͟a͟n͟g͟ s͟a͟h͟ sebagai parameter hakim untuk memutus suatu perkara pidana. Namun demikian, minimal dua alat bukti tersebut masih diberlakukan untuk menetapkan seseorang menjadi tersangka,[³] penangkapan,[⁴] ataupun syarat penahanan.[⁵] Sehingga menurut KUHAP baru, secara tidak langsung, minimal 2 alat bukti tersebut masih menjadi syarat dalam proses penegakan hukum pidana.
Perbedaan lain dapat dilihat pada pembuktian autentikasinya dan perolehannya. A͟l͟a͟t͟ b͟u͟k͟t͟i͟ p͟a͟d͟a͟ K͟U͟H͟A͟P͟ l͟a͟m͟a͟ t͟i͟d͟a͟k͟ h͟a͟r͟u͟s͟ d͟i͟b͟u͟k͟t͟i͟k͟a͟n͟ a͟u͟t͟e͟n͟t͟i͟k͟a͟s͟i͟n͟y͟a͟ d͟a͟n͟ p͟͟e͟͟r͟͟o͟͟l͟͟e͟͟h͟͟a͟͟n͟͟n͟͟y͟͟a͟͟. Hal ini berbeda dengan UU 20/2025 yang menyatakan bahwa a͟l͟a͟t͟ b͟u͟k͟t͟i͟ h͟a͟r͟u͟s͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟b͟u͟k͟t͟i͟k͟a͟n͟ a͟u͟t͟e͟n͟t͟i͟k͟a͟s͟i͟n͟y͟a͟ d͟a͟n͟ d͟i͟p͟e͟r͟o͟l͟e͟h͟ s͟e͟c͟a͟r͟a͟ t͟͟i͟͟d͟͟a͟͟k͟͟ m͟e͟l͟a͟w͟a͟n͟ h͟͟u͟͟k͟͟u͟͟m͟͟.[⁶]
Hakim berwenang menilai autentikasi dan sah atau tidaknya perolehan alat bukti yang diajukan.[⁷] Lalu, alat bukti yang oleh hakim dinyatakan tidak autentik dan/atau diperoleh secara melawan hukum tidak dapat digunakan sebagai alat bukti pada pemeriksaan di sidang pengadilan dan tidak memiliki kekuatan pembuktian.[⁸]
Selanjutnya, hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu dibuktikan, sebagaimana diatur dalam pasal berikut:
~Pasal 184 ayat (2) KUHAP~
- Hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu dibuktikan.
Pasal 235 ayat (2) UU 20/2025
- Hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu dibuktikan.
Jenis-jenis Alat Bukti dalam KUHAP Baru
1. Keterangan Saksi
Definisi keterangan saksi dapat ditemukan pada Pasal 1 angka 48 UU 20/2025 tentang KUHAP baru dan secara historis dapat ditemukan pada ~Pasal 1 angka 27 KUHAP lama~ jo. Putusan MK No. 65/PUU-VIII/2010 (hal. 92), sebagai berikut:
~Pasal 1 angka 27 KUHAP~ jo. Putusan MK No. 65/PUU-VIII/2010
- Keterangan saksi adalah salah satu alat bukti dalam perkara pidana yang berupa keterangan dari saksi mengenai suatu peristiwa pidana yang tidak selalu ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri dengan menyebut alasan dari pengetahuannya itu.
Pasal 1 angka 48 UU 20/2025
- Keterangan saksi adalah alat bukti dalam perkara pidana yang berupa keterangan dari saksi pada tahap penyelidikan penyidikan, penuntutan, dan/atau pemeriksaan di sidang pengadilan.
Keterangan saksi pada dasarnya disampaikan secara langsung di sidang pengadilan.[9] UU 20/2025 menerangkan bahwa dalam hal keterangan saksi tidak dapat disampaikan secara langsung di sidang pengadilan, keterangan saksi dapat disampaikan melalui alat komunikasi audio visual.[10] Kemudian, jika saksi dan/atau korban merupakan penyandang disabilitas, keterangan saksi dan/atau korban yang diberikan mempunyai kekuatan hukum yang sama dengan keterangan saksi dan/atau korban yang bukan penyandang disabilitas.[¹¹]
Pada umumnya, s͟e͟m͟u͟a͟ o͟r͟a͟n͟g͟ d͟a͟p͟a͟t͟ m͟e͟n͟j͟a͟d͟i͟ s͟͟a͟͟k͟͟s͟͟i͟͟. Namun, terdapat pengecualian menjadi saksi, misalnya m͟e͟m͟p͟u͟n͟y͟a͟i͟ h͟u͟b͟u͟n͟g͟a͟n͟ s͟a͟u͟d͟a͟r͟a͟ d͟a͟r͟i͟ t͟͟e͟͟r͟͟d͟͟a͟͟k͟͟w͟͟a͟͟ a͟t͟a͟u͟ s͟a͟u͟d͟a͟r͟a͟ i͟b͟u͟ a͟t͟a͟u͟ s͟a͟u͟d͟a͟r͟a͟ b͟͟a͟͟p͟͟a͟͟k͟͟, j͟u͟g͟a͟ m͟e͟r͟e͟k͟a͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟m͟p͟u͟n͟y͟a͟i͟ h͟u͟b͟u͟n͟g͟a͟n͟ k͟a͟r͟e͟n͟a͟ p͟e͟r͟k͟a͟w͟i͟n͟a͟n͟ d͟a͟n͟ a͟n͟a͟k͟-a͟n͟a͟k͟ s͟a͟u͟d͟a͟r͟a͟ t͟e͟r͟d͟a͟k͟w͟a͟ s͟a͟m͟p͟a͟i͟ d͟e͟r͟a͟j͟a͟t͟ k͟͟e͟͟t͟͟i͟͟g͟͟a͟͟. Selengkapnya dapat Anda simak dalam Pasal 218 UU 20/2025.
Kemudian, dalam Pasal 210 ayat (12) UU 20/2025, ditentukan bahwa sebelum saksi memberikan keterangan, hakim mengambil sumpah atau janji terhadap saksi atau ahli berdasarkan agama atau kepercayaannya bahwa akan memberikan keterangan yang sebenarnya dan sejujurnya.
Keterangan Ahli
Apakah yang disebut ahli? Baik KUHAP lama maupun UU 20/2025 m͟e͟n͟d͟e͟f͟i͟n͟i͟s͟i͟k͟a͟n͟ k͟e͟t͟e͟r͟a͟n͟g͟a͟n͟ a͟͟h͟͟l͟͟i͟͟ sebagai berikut:
~Pasal 1 angka 28 KUHAP~
- Keterangan ahli adalah keterangan yang diberikan oleh seorang yang memiliki keahlian khusus tentang hal yang diperlukan untuk membuat terang suatu perkara pidana guna kepentingan pemeriksaan.
Pasal 1 angka 52 UU 20/2025
- Keterangan ahli adalah alat bukti dalam perkara pidana yang berupa keterangan dari ahli pada tahap penyelidikan, penyidikan, penuntutan, dan/atau pemeriksaan di sidang pengadilan.
Lebih lanjut, keterangan ahli disampaikan secara langsung di sidang pengadilan di bawah sumpah atau janji mengenai apa yang diketahui sesuai dengan keahliannya.[¹²]
Dalam Pasal 238 ayat (2) dan (3) UU 20/2025, dalam memberikan keterangan di depan sidang pengadilan ahli tidak wajib menyampaikan surat tugas atau izin dari institusi atau lembaga dimana ahli bekerja. Namun, ketentuan ini dikecualikan terhadap ahli yang sebelum memberikan keterangan di depan sidang pengadilan perlu melakukan pemeriksaan, penelitian, atau pengamatan terlebih dahulu terkait perkara tersebut.
S͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ a͟͟h͟͟l͟͟i͟͟, s͟e͟s͟e͟o͟r͟a͟n͟g͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟͟i͟͟d͟͟e͟͟n͟͟g͟͟a͟͟r͟͟ k͟e͟t͟e͟r͟a͟n͟g͟a͟n͟n͟y͟a͟ m͟e͟n͟g͟e͟n͟a͟i͟ p͟e͟r͟s͟o͟a͟l͟a͟n͟ t͟e͟r͟t͟e͟n͟t͟u͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟u͟r͟u͟t͟ p͟e͟r͟t͟i͟m͟b͟a͟n͟g͟a͟n͟ h͟a͟k͟i͟m͟ o͟r͟a͟n͟g͟ i͟t͟u͟ m͟e͟n͟g͟e͟t͟a͟h͟u͟i͟ b͟i͟d͟a͟n͟g͟ t͟e͟r͟s͟e͟b͟u͟t͟ s͟e͟c͟a͟r͟a͟ k͟͟͟h͟͟͟u͟͟͟s͟͟͟u͟͟͟s͟͟͟.[¹³] Kemudian, keterangan ahli dapat diberikan oleh siapa saja di pengadilan dengan kualifikasi kepakaran tertentu yang berhubungan dengan perkara yang sedang diadili di pengadilan. Misalnya, seorang dokter spesialis di bidang ilmu kedokteran kehakiman mempunyai kepakaran sehingga dapat mengetahui penyebab korban terluka, diracuni ataupun korban mati disebabkan suatu tindakan pidana.[¹⁴]
2. Surat
KUHAP lama tidak mengatur mengenai definisi surat. Ini berbeda dengan UU 20/2025 yang mendefinisikan bahwa s͟u͟r͟a͟t͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ d͟o͟k͟u͟m͟e͟n͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟t͟u͟l͟i͟s͟ d͟i͟a͟t͟a͟s͟ k͟͟e͟͟r͟͟t͟͟a͟͟s͟͟, t͟e͟r͟m͟a͟s͟u͟k͟ j͟u͟g͟a͟ d͟o͟k͟u͟m͟e͟n͟ a͟t͟a͟u͟ d͟a͟t͟a͟ y͟a͟n͟g͟ t͟e͟r͟t͟u͟l͟i͟s͟ a͟t͟a͟u͟ t͟e͟r͟s͟i͟m͟p͟a͟n͟ d͟a͟l͟a͟m͟ d͟͟i͟͟s͟͟k͟͟e͟͟t͟͟, p͟i͟t͟a͟ m͟͟a͟͟g͟͟n͟͟e͟͟t͟͟i͟͟k͟͟, a͟t͟a͟u͟ m͟e͟d͟i͟a͟ p͟e͟n͟y͟i͟m͟p͟a͟n͟ k͟o͟m͟p͟u͟t͟e͟r͟ a͟t͟a͟u͟ m͟e͟d͟i͟a͟ p͟e͟n͟y͟i͟m͟p͟a͟n͟ d͟a͟t͟a͟ e͟l͟e͟k͟t͟r͟o͟n͟i͟k͟ l͟͟a͟͟i͟͟n͟͟.[¹⁵]
Surat sendiri dibuat berdasarkan sumpah jabatan atau dikuatkan dengan sumpah, yaitu:[¹⁶]
a. berita acara dan
surat lain dalam
bentuk resmi yang
dibuat oleh pejabat
umum yang
berwenang atau
yang dibuat di
hadapannya, yang
memuat keterangan
tentang kejadian
atau keadaan yang
didengar, dilihat atau
yang dialaminya
sendiri, disertai
dengan alasan yang
jelas dan tegas
tentang
keterangannya itu;
b. surat yang dibuat
menurut ketentuan
peraturan
perundang-
undangan atau surat
yang dibuat oleh
pejabat mengenai
hal yang termasuk
dalam tata laksana
yang menjadi
tanggung jawabnya
dan yang
diperuntukkan bagi
pembuktian sesuatu
hal atau sesuatu
keadaan;
c. surat keterangan
dari seorang ahli
yang memuat
pendapat
berdasarkan
keahliannya
mengenai sesuatu
hal atau sesuatu
keadaan yang
diminta secara resmi
dari padanya;
d. surat lain yang
hanya dapat berlaku
jika ada
hubungannya
dengan isi dari alat
pembuktian yang
lain.
4. Keterangan Terdakwa
Keterangan terdakwa diatur dalam ~Pasal 189 KUHAP lama~ dan Pasal 240 UU 20/2025 tentang KUHAP baru, sebagai berikut:
~Pasal 189 KUHAP~
- Keterangan terdakwa ialah apa yang terdakwa nyatakan di sidang tentang perbuatan yang ia lakukan atau yang ia ketahui sendiri atau alami sendiri;
- Keterangan terdakwa yang diberikan di luar sidang dapat digunakan untuk membantu menemukan bukti di sidang, asalkan keterangan itu didukung oleh suatu alat bukti yang sah sepanjang mengenai hal yang didakwakan kepadanya;
- Keterangan terdakwa hanya dapat digunakan terhadap dirinya sendiri;
- Keterangan terdakwa saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa ia bersalah melakukan perbuatan yang didakwakan kepadanya, melainkan harus disertai dengan alat bukti yang lain.
Pasal 240 UU 20/2025
- Keterangan terdakwa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 235 ayat (1) huruf d merupakan segala hal yang dinyatakan oleh terdakwa dalam pemeriksaan di sidang pengadilan mengenai perbuatan yang dilakukan atau diketahui sendiri atau dialami sendiri.
- Keterangan terdakwa yang diberikan di luar pemeriksaan di sidang pengadilan dapat digunakan untuk membantu menemukan bukti dalam pemeriksaan di sidang pengadilan, dengan ketentuan bahwa keterangan tersebut didukung oleh suatu alat bukti yang sah sepanjang mengenai hal yang didakwakan kepadanya.
- Keterangan hanya dapat digunakan terhadap dirinya sendiri.
- Keterangan terdakwa saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa terdakwa bersalah melakukan perbuatan yang didakwakan kepadanya, melainkan harus disertai dengan alat bukti yang sah lainnya.
5. Barang Bukti
Barang bukti adalah b͟a͟r͟a͟n͟g͟ a͟͟t͟͟a͟͟u͟͟ a͟l͟a͟t͟ y͟a͟n͟g͟ s͟e͟c͟a͟r͟a͟ l͟a͟n͟g͟s͟u͟n͟g͟ a͟t͟a͟u͟ t͟i͟d͟a͟k͟ l͟a͟n͟g͟s͟u͟n͟g͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ (r͟e͟a͟l͟ e͟v͟i͟d͟e͟n͟c͟e͟ a͟t͟a͟u͟ p͟h͟y͟s͟i͟c͟a͟l͟ e͟͟v͟͟i͟͟d͟͟e͟͟n͟͟c͟͟e͟͟) a͟t͟a͟u͟ h͟a͟s͟i͟l͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟͟͟i͟͟͟d͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟a͟͟͟.[¹⁷] Barang bukti sendiri mencakup:[¹⁸]
a. alat atau sarana
untuk melakukan
tindak pidana;
b. alat atau sarana
yang menjadi objek
tindak pidana;
dan/atau
c. aset yang
merupakan hasil
tindak pidana.
6. Bukti Elektronik
Menurut Penjelasan Pasal 235 ayat (1) huruf f UU 20/2025, b͟u͟k͟t͟i͟ e͟l͟e͟k͟t͟r͟o͟n͟i͟k͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ i͟n͟f͟o͟r͟m͟a͟s͟i͟ y͟a͟n͟g͟ d͟͟i͟͟u͟͟c͟͟a͟͟p͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, d͟͟i͟͟k͟͟i͟͟r͟͟i͟͟m͟͟, d͟͟i͟͟t͟͟e͟͟r͟͟i͟͟m͟͟a͟͟, a͟t͟a͟u͟ d͟i͟s͟i͟m͟p͟a͟n͟ s͟e͟c͟a͟r͟a͟ e͟l͟e͟k͟t͟r͟o͟n͟i͟k͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ a͟l͟a͟t͟ o͟p͟t͟i͟c͟ a͟t͟a͟u͟ y͟a͟n͟g͟ s͟e͟r͟u͟p͟a͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ i͟͟t͟͟u͟͟, t͟e͟r͟m͟a͟s͟u͟k͟ s͟e͟t͟i͟a͟p͟ r͟e͟k͟a͟m͟a͟n͟ d͟a͟t͟a͟ a͟t͟a͟u͟ i͟n͟f͟o͟r͟m͟a͟s͟i͟ y͟a͟n͟g͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟͟i͟͟l͟͟i͟͟h͟͟a͟͟t͟͟, d͟͟i͟͟b͟͟a͟͟c͟͟a͟͟, d͟͟a͟͟n͟͟/a͟t͟a͟u͟ d͟i͟d͟e͟n͟g͟a͟r͟ y͟a͟n͟g͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟k͟e͟l͟u͟a͟r͟k͟a͟n͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ t͟a͟n͟p͟a͟ b͟a͟n͟t͟u͟a͟n͟ s͟u͟a͟t͟u͟ s͟a͟r͟a͟n͟a͟ b͟a͟i͟k͟ y͟a͟n͟g͟ t͟e͟r͟t͟u͟a͟n͟g͟ d͟i͟a͟t͟a͟s͟ k͟͟e͟͟r͟͟t͟͟a͟͟s͟͟, b͟e͟n͟d͟a͟ f͟͟͟i͟͟͟s͟͟͟i͟͟͟k͟͟͟ a͟p͟a͟p͟u͟n͟ s͟e͟l͟a͟i͟n͟ k͟e͟r͟t͟a͟s͟ m͟a͟u͟p͟u͟n͟ y͟a͟n͟g͟ t͟e͟r͟e͟k͟a͟m͟ s͟e͟c͟a͟r͟a͟ e͟l͟e͟k͟t͟r͟o͟n͟i͟k͟ y͟a͟n͟g͟ b͟e͟r͟u͟p͟a͟ t͟͟u͟͟l͟͟i͟͟s͟͟a͟͟n͟͟, g͟͟͟a͟͟͟m͟͟͟b͟͟͟a͟͟͟r͟͟͟, p͟͟e͟͟t͟͟a͟͟, r͟͟a͟͟n͟͟c͟͟a͟͟n͟͟g͟͟a͟͟n͟͟, f͟͟o͟͟t͟͟o͟͟, h͟͟u͟͟r͟͟u͟͟f͟͟, t͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟d͟͟͟a͟͟͟, a͟͟͟͟͟n͟͟͟͟͟g͟͟͟͟͟k͟͟͟͟͟a͟͟͟͟͟, a͟t͟a͟u͟ p͟e͟r͟f͟o͟r͟a͟s͟i͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟m͟i͟l͟i͟k͟i͟ m͟͟a͟͟k͟͟n͟͟a͟͟.
B͟u͟k͟t͟i͟ e͟l͟e͟k͟t͟r͟o͟n͟i͟k͟ i͟n͟i͟ m͟e͟n͟c͟a͟k͟u͟p͟ s͟e͟g͟a͟l͟a͟ b͟e͟n͟t͟u͟k͟ i͟͟͟n͟͟͟f͟͟͟o͟͟͟r͟͟͟m͟͟͟a͟͟͟s͟͟͟i͟͟͟, d͟o͟k͟u͟m͟e͟n͟ e͟͟l͟͟e͟͟k͟͟t͟͟r͟͟o͟͟n͟͟i͟͟k͟͟, d͟͟a͟͟n͟͟/a͟t͟a͟u͟ s͟i͟s͟t͟e͟m͟ e͟l͟e͟k͟t͟r͟o͟n͟i͟k͟ y͟a͟n͟g͟ b͟e͟r͟k͟a͟i͟t͟a͟n͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟͟͟i͟͟͟d͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟a͟͟͟.[¹⁹]
Untuk jenis alat bukti pengamatan hakim dan segala sesuatu yang dapat digunakan untuk kepentingan pembuktian pada pemeriksaan di sidang pengadilan sepanjang diperoleh secara tidak melawan hukum, merupakan p͟͟e͟͟m͟͟b͟͟a͟͟h͟͟a͟͟r͟͟u͟͟a͟͟n͟͟ yang memberikan dampak positif bagi para pihak, baik aparat penegak hukum maupun pihak yang berperkara dalam menafsirkan alat bukti di persidangan.[²⁰]
Namun di samping itu, dalam UU 20/2025 tidak ada definisi yang menjelaskan secara eksplisit mengenai pengertian “pengamatan hakim” dan “segala sesuatu yang dapat digunakan untuk kepentingan pembuktian pada pemeriksaan di sidang pengadilan sepanjang diperoleh secara tidak melawan hukum”.
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat dan dapat dijadikan pembelajaran untuk kita semua terlebih untuk penanya dan Paralegal ubklawyers pada khususnya.
D͟a͟s͟a͟r͟ H͟u͟k͟u͟m͟:
- Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2025 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana.
Artikel ini adalah pemutakhiran dari artikel dengan judul Alat Bukti Sah Menurut Pasal 184 KUHAP yang dibuat oleh Renata Christha Auli, S.H. dan pertama kali dipublikasikan pada 14 Desember 2023. Dipublikasikan kedua oleh “..Hukumonline.com..” dengan judul Jenis Alat Bukti Sah Menurut KUHAP Baru, pada tanggal 27 Januari 2026. Dan diteruskan oleh ubklawyers pada tanggal 29 Januari 2026M/09 Syaban 1447H.
Seluruh Informasi Hukum yang ada di LBH-UMAR BIN KHATTAB disiapkan semata-mata untuk t͟͟͟u͟͟͟j͟͟͟u͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟ p͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, p͟e͟m͟b͟e͟l͟a͟j͟a͟r͟a͟n͟ dan b͟e͟r͟s͟i͟f͟a͟t͟ u͟m͟u͟m͟. Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan Pengacara, Konsultan Hukum dan/atau Paralegal UBK LAWYERS.
Sedang menghadapi permasalahan hukum? A͟j͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟t͟a͟n͟y͟a͟a͟n͟ melalui email, telepon atau chat.👇🏼
Email:
ubklawyer@gmail.com
Telepon/Chat:
089666552118
Berkenan G͟a͟b͟u͟n͟g͟ G͟r͟o͟u͟p͟, untuk jadi bagian Keluarga Besar UBK LAWYERS. Klik link dibawah.👇🏼
I͟K͟U͟T͟I͟ W͟h͟a͟t͟s͟A͟p͟p͟ C͟h͟a͟n͟n͟e͟l͟ LBH-UMAR BIN KHATTAB. Untuk memperkaya Riset Hukum Anda, klik link dibawah.👇🏼
🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸
#cerdashukum
#studylawtogether
#ubklawyers

