Oleh: Suhaeli Nawawi, Pembina YWI
Pendahuluan: Dari Imposibilitas Biologis ke Hipotesis Kosmologis
INDRAMAYU — Artikel ilmiah oleh Prabowo Subianto dan Alma’arif menegaskan bahwa secara biokimia dan epigenetik, kebangkitan individu melalui rekayasa DNA adalah impossible under current laws of biology: DNA akan mengalami degradasi dan epigenom tidak dapat direplikasi sepenuhnya.[^1] Kesadaran pun tidak mungkin dikloning karena terkait jaringan kompleks neuron dan memori non-linear otak manusia.
Namun, jika konsep “kebangkitan” tidak dibatasi oleh kerangka bioteknologi murni, tetapi dibuka pada horizon kosmologis dan metafisik, kita dapat mengajukan hipotesis alternatif: bahwa kebangkitan mungkin tidak terjadi di Bumi ini, melainkan pada alam baru (cosmic domain) dengan hukum fisika dan biologi berbeda — tempat di mana informasi genetik terakhir umat manusia dapat “diterima” dan “direkonstruksi” oleh sistem biologis baru.
Asumsi Dasar Hipotetik
a. Continuity of Genetic Information
Setiap individu manusia membawa jejak genetika yang dapat ditelusuri ke satu nenek moyang bersama, yang dalam biologi disebut Most Recent Common Ancestor (MRCA).[^2] Dalam konteks teologis, hal ini sejalan dengan pernyataan Al-Qur’an bahwa seluruh manusia berasal dari satu jiwa (QS al-Nisā’ [4]:1) dan dari satu nenek moyang, yaitu Adam.
Satu sel manusia terakhir dari generasi akhir umat manusia mengandung rekam informasi genetik evolusi seluruh spesies manusia, mulai dari Adam hingga keturunannya.
b. Preservation through Dormant Cell State
Bukti empiris menunjukkan bahwa mikroorganisme dapat tetap hidup dalam kondisi ekstrem selama jutaan tahun. Contohnya, bakteri Deinococcus radiodurans memiliki kemampuan memperbaiki DNA setelah paparan radiasi tinggi,[^3] dan mikroba purba telah ditemukan hidup kembali dari es berusia jutaan tahun.[^4]
Dengan demikian, dapat diasumsikan bahwa informasi genetik manusia terakhir yang membeku, terperangkap mineral, atau terbawa partikel kosmik mungkin tetap tersimpan sebagian.
c. Transference via Cosmic Panspermia
Teori panspermia yang dikembangkan oleh Fred Hoyle dan Chandra Wickramasinghe menyatakan bahwa kehidupan atau benih kehidupan dapat berpindah antarplanet melalui debu kosmik, komet, atau meteorit.[^5]
Jika Bumi hancur atau mengalami transisi kosmik (misalnya karena supernova atau perubahan struktur ruang-waktu), maka materi biologis terakhir dapat berpindah ke alam atau planet lain dengan hukum fisika baru.
Dalam terminologi teologis, fenomena ini dapat dipahami sebagai transisi menuju ʿālam baʿd al-dunyā — alam pasca-dunia, sebagaimana tersirat dalam QS Ibrāhīm [14]:48: “Pada hari bumi diganti dengan bumi yang lain dan begitu pula langit…”
Model Hipotetik: “Reverse Genesis” atau Kebangkitan Balik
Model ini menggabungkan dua arah waktu eksistensial:
Arah Waktu | Domain Fisik | Deskripsi Ilmiah | Analogi Teologis
▪︎ Maju (Forward Evolution) | Dunia sekarang | Evolusi biologis dari sel ke manusia | Penciptaan manusia dari tanah (سلالة من طين)
▪︎ Mundur (Reverse Genesis) | Alam baru (post-dunia) | Re-evolusi sel terakhir menjadi bentuk awal | Kebangkitan kembali (بعث)
Dalam model ini, sel terakhir manusia yang terbawa ke alam baru menjalani reversi biologis, di mana hukum bioenergi dan konstanta fisika yang berbeda memungkinkan replikasi informasi genetik terbalik — semacam biogenesis reversal, yang mengembalikan pola genetika manusia ke “prototipe” awalnya, Adam.
Hubungan dengan Konsep Rahim Abiotik
Dalam artikel saya sebelumnya tentang Rahim Abiotik, lingkungan non-biologis (tanah, air, cahaya) dipandang sebagai wadah awal bagi kehidupan.[^6] Jika konsep itu diperluas secara kosmologis, maka alam baru pasca-kematian kosmik dapat berfungsi sebagai rahim abiotik eskatologis — tempat unsur anorganik diaktivasi kembali oleh energi kosmik.
Al-Qur’an menyebut, “Yang menghidupkan mereka adalah Dzat yang menciptakan mereka pertama kali.” (QS Yāsīn [36]:79)
Secara ilmiah, ayat ini dapat dipahami bahwa mekanisme penciptaan pertama (abiogenesis) dan kebangkitan kedua (rebiogenesis) mengikuti pola hukum yang sama, hanya dalam domain fisika yang berbeda.
Perspektif Integratif: Sains dan Teologi
Dimensi | Ilmiah | Teologis
▪︎ Entitas Awal | DNA purba / sel dorman | Ruh dan fitrah awal
Baca: Dimensi berupa Entitas Awal, yang secara ilmiah berupa DNA purba /sel dorman, sedangkan secara teologis berupa fitrah awal
▪︎ Proses Transisi | Panspermia / perubahan kosmik | Perintah ilahi (Kun fayakūn)
▪︎ Domain | Alam baru (multiverse, ruang-waktu baru) | Alam akhirat / barzakh
▪︎ Mekanisme | Reaktivasi informasi genetik | Kebangkitan (ba‘th)
▪︎ Tujuan | Rekonstruksi biologis universal | Pemulihan kesadaran fitrah
Spekulasi Fisika Tambahan: Informasi sebagai Entitas Kekal
Dalam fisika modern, informasi dipandang tidak pernah hilang, bahkan di dalam lubang hitam.[^7] John Archibald Wheeler mengajukan gagasan “It from bit”, bahwa segala sesuatu pada akhirnya berasal dari informasi.[^8]
Jika DNA menyimpan bit-bit informasi tentang seluruh sejarah biologis manusia, maka secara metafisik, DNA adalah bentuk “memori kosmik” yang dapat diaktifkan kembali dalam sistem semesta baru.
“Reality is not made of matter or energy, but of information.” — John A. Wheeler
Dengan demikian, kebangkitan dapat dipahami bukan sebagai rekonstruksi jasad lama, melainkan aktualisasi ulang informasi kehidupan dalam domain fisik baru, sejalan dengan konsep teologis yaum al-ba‘th.
Kesimpulan
Secara biologis, kebangkitan tubuh manusia di dunia tidak mungkin dilakukan karena degradasi DNA dan hilangnya struktur epigenetik. Namun, jika dibaca dalam konteks kosmologis dan teologis, kebangkitan dapat dimaknai sebagai transmisi informasi genetik dan spiritual menuju alam baru, melalui mekanisme panspermia eksistensial dan rahim abiotik kosmik.
Dengan demikian, kebangkitan bukanlah proses biologis mundur, melainkan peralihan domain realitas, dari bentuk material menuju eksistensi informasi murni — dari sel terakhir menuju fitrah awal.
Catatan Kaki
[^1]: Prabowo Subianto & Alma’arif Arif, “Keterbatasan Rekonstruksi Biologis pada Rekayasa DNA,” Jurnal Bioteknologi dan Filsafat Sains 12, no. 2 (2024): 56–68.
[^2]: Rebecca L. Cann, Mark Stoneking, and Allan C. Wilson, “Mitochondrial DNA and Human Evolution,” Nature 325 (1987): 31–36.
[^3]: Battista, J. R. “Against All Odds: The Survival Strategies of Deinococcus radiodurans.” Annual Review of Microbiology 51 (1997): 203–224.
[^4]: Christner, B. C. et al., “Resurrected Microbes from Antarctic Ice,” Science 310 (2005): 575–577.
[^5]: Fred Hoyle and Chandra Wickramasinghe, Evolution from Space (London: Dent, 1981).
[^6]: Suhaeli, “Rahim Abiotik: Penciptaan dari Unsur Non-Biologis sebagai Basis Kehidupan,” Jurnal Integrasi Islam dan Sains 15, no. 1 (2025): 22–45.
[^7]: Susskind, L. & Preskill, J., “The Black Hole Information Paradox,” Journal of High Energy Physics 2008, no. 9 (2008): 1–31.
[^8]: John A. Wheeler, “Information, Physics, Quantum: The Search for Links,” dalam Complexity, Entropy, and the Physics of Information, ed. W. H. Zurek (Addison-Wesley, 1990), 3–28.
Akhir kalam, والله اعلم بالصواب

