INDRAMAYU — PERTANYAAN
Belakangan ini, Indonesia tengah digemparkan dengan tragedi pondok pesantren atau ponpes ambruk di Sidoarjo. Menurut berita yang beredar, terdapat 61 jenazah yang ditemukan pada bangunan ambruk di pesantren tersebut. Diduga bangunan ambruk ini tidak mengantongi PBG. Lantas, siapa yang bertanggung jawab atas bangunan ambruk? Apa sanksi bangunan ambruk?
Atas penjelasannya diucapkan terimakasih, untuk ubklawyers dan paralegalnya semoga diberikan kecerdasan dan ilmu bermanfaat. Aamiin..
Suwarna – Karang Song
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
“INTISARI JAWABAN”
【Hukum Pidana】
𝔓𝔞𝔡𝔞 𝔡𝔞𝔰𝔞𝔯𝔫𝔶𝔞, 𝔭𝔢𝔩𝔞𝔨𝔰𝔞𝔫𝔞𝔞𝔫 𝔭𝔢𝔪𝔟𝔞𝔫𝔤𝔲𝔫𝔞𝔫 𝔟𝔞𝔫𝔤𝔲𝔫𝔞𝔫 𝔤𝔢𝔡𝔲𝔫𝔤 𝔡𝔦𝔩𝔞𝔨𝔲𝔨𝔞𝔫 𝔰𝔢𝔱𝔢𝔩𝔞𝔥 𝔪𝔢𝔫𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱𝔨𝔞𝔫 𝔓𝔢𝔯𝔰𝔢𝔱𝔲𝔧𝔲𝔞𝔫 𝔅𝔞𝔫𝔤𝔲𝔫𝔞𝔫 𝔊𝔢𝔡𝔲𝔫𝔤 𝔞𝔱𝔞𝔲 𝔓𝔅𝔊. 𝔗𝔢𝔯𝔥𝔞𝔡𝔞𝔭 𝔟𝔞𝔫𝔤𝔲𝔫𝔞𝔫 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔱𝔦𝔡𝔞𝔨 𝔪𝔢𝔪𝔦𝔩𝔦𝔨𝔦 𝔓𝔅𝔊 𝔡𝔦𝔴𝔞𝔧𝔦𝔟𝔨𝔞𝔫 𝔲𝔫𝔱𝔲𝔨 𝔡𝔦𝔩𝔞𝔨𝔲𝔨𝔞𝔫 𝔭𝔢𝔪𝔟𝔬𝔫𝔤𝔨𝔞𝔯𝔞𝔫 𝔬𝔩𝔢𝔥 𝔭𝔢𝔪𝔦𝔩𝔦𝔨 𝔟𝔞𝔫𝔤𝔲𝔫𝔞𝔫 𝔤𝔢𝔡𝔲𝔫𝔤 𝔡𝔞𝔫/𝔞𝔱𝔞𝔲 𝔭𝔢𝔫𝔤𝔤𝔲𝔫𝔞 𝔟𝔞𝔫𝔤𝔲𝔫𝔞𝔫 𝔤𝔢𝔡𝔲𝔫𝔤.
𝔎𝔢𝔪𝔲𝔡𝔦𝔞𝔫, 𝔭𝔢𝔪𝔦𝔩𝔦𝔨 𝔟𝔞𝔫𝔤𝔲𝔫𝔞𝔫 𝔤𝔢𝔡𝔲𝔫𝔤 𝔡𝔞𝔫/𝔞𝔱𝔞𝔲 𝔭𝔢𝔫𝔤𝔤𝔲𝔫𝔞 𝔟𝔞𝔫𝔤𝔲𝔫𝔞𝔫 𝔤𝔢𝔡𝔲𝔫𝔤 𝔧𝔲𝔤𝔞 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔡𝔦𝔪𝔦𝔫𝔱𝔞𝔦 𝔭𝔢𝔯𝔱𝔞𝔫𝔤𝔤𝔲𝔫𝔤𝔧𝔞𝔴𝔞𝔟𝔞𝔫 𝔰𝔢𝔠𝔞𝔯𝔞 𝔞𝔡𝔪𝔦𝔫𝔦𝔰𝔱𝔯𝔞𝔱𝔦𝔣, 𝔧𝔦𝔨𝔞 𝔤𝔢𝔡𝔲𝔫𝔤 𝔱𝔦𝔡𝔞𝔨 𝔪𝔢𝔪𝔦𝔩𝔦𝔨𝔦 𝔓𝔅𝔊. 𝔄𝔡𝔞𝔭𝔲𝔫 𝔭𝔢𝔯𝔱𝔞𝔫𝔤𝔤𝔲𝔫𝔤𝔧𝔞𝔴𝔞𝔟𝔞𝔫 𝔭𝔦𝔡𝔞𝔫𝔞 𝔪𝔲𝔫𝔠𝔲𝔩 𝔧𝔦𝔨𝔞 𝔟𝔞𝔫𝔤𝔲𝔫𝔞𝔫 𝔤𝔢𝔡𝔲𝔫𝔤 𝔱𝔞𝔫𝔭𝔞 𝔓𝔅𝔊 𝔪𝔢𝔫𝔤𝔞𝔨𝔦𝔟𝔞𝔱𝔨𝔞𝔫 𝔨𝔢𝔯𝔲𝔤𝔦𝔞𝔫 𝔥𝔞𝔯𝔱𝔞 𝔟𝔢𝔫𝔡𝔞 𝔬𝔯𝔞𝔫𝔤 𝔩𝔞𝔦𝔫, 𝔪𝔢𝔫𝔤𝔞𝔨𝔦𝔟𝔞𝔱𝔨𝔞𝔫 𝔨𝔢𝔠𝔢𝔩𝔞𝔨𝔞𝔞𝔫 𝔟𝔞𝔤𝔦 𝔬𝔯𝔞𝔫𝔤 𝔩𝔞𝔦𝔫 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔪𝔢𝔫𝔤𝔞𝔨𝔦𝔟𝔞𝔱𝔨𝔞𝔫 𝔠𝔞𝔠𝔞𝔱 𝔰𝔢𝔲𝔪𝔲𝔯 𝔥𝔦𝔡𝔲𝔭, 𝔡𝔞𝔫 𝔪𝔢𝔫𝔤𝔞𝔨𝔦𝔟𝔞𝔱𝔨𝔞𝔫 𝔥𝔦𝔩𝔞𝔫𝔤𝔫𝔶𝔞 𝔫𝔶𝔞𝔴𝔞 𝔬𝔯𝔞𝔫𝔤 𝔩𝔞𝔦𝔫. 𝔄𝔭𝔞 𝔡𝔞𝔰𝔞𝔯 𝔥𝔲𝔨𝔲𝔪𝔫𝔶𝔞?
𝔓𝔢𝔫𝔧𝔢𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔩𝔢𝔟𝔦𝔥 𝔩𝔞𝔫𝔧𝔲𝔱 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔄𝔫𝔡𝔞 𝔟𝔞𝔠𝔞 𝔲𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔡𝔦 𝔟𝔞𝔴𝔞𝔥 𝔦𝔫𝔦.
ULASAN SELENGKAPNYA;
Terimakasih atas pertanyaan Anda.
“Sebelumnya, kami ubklawyers beserta Paralegalnya mengucapkan turut berduka cita atas tragedi ponpes ambruk di Sidoarjo, hingga mengakibatkan puluhan korban meninggal dunia. Kami berdoa semoga korban luka-luka dapat segera pulih dan bagi korban jiwa mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan. Adapun bagi keluarga korban semoga diberi ketabahan dan kekuatan”.
Penyelenggaraan Bangunan Gedung
Selanjutnya, dalam menjawab pertanyaan Anda, kami akan merujuk pada ketentuan yang terdapat dalam UU Bangunan Gedung sebagaimana telah diubah oleh Perppu Cipta Kerja.
Apa yang dimaksud dengan bangunan? Menurut Pasal 24 angka 1 Perppu Cipta Kerja yang mengubah Pasal 1 angka 1 UU Bangunan Gedung, b͟a͟n͟g͟u͟n͟a͟n͟ g͟e͟d͟u͟n͟g͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ w͟u͟j͟u͟d͟ f͟i͟s͟i͟k͟ h͟a͟s͟i͟l͟ p͟e͟k͟e͟r͟j͟a͟a͟n͟ k͟o͟n͟s͟t͟r͟u͟k͟s͟i͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟g͟a͟t͟u͟r͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ t͟e͟m͟p͟a͟t͟ k͟͟e͟͟d͟͟u͟͟d͟͟u͟͟k͟͟a͟͟n͟͟n͟͟y͟͟a͟͟, s͟e͟b͟a͟g͟i͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ s͟e͟l͟u͟r͟u͟h͟n͟y͟a͟ b͟e͟r͟a͟d͟a͟ d͟i͟ a͟t͟a͟s͟ d͟͟a͟͟n͟͟/a͟t͟a͟u͟ d͟i͟ d͟a͟l͟a͟m͟ t͟a͟n͟a͟h͟ d͟͟a͟͟n͟͟/a͟t͟a͟u͟ a͟͟i͟͟r͟͟, y͟a͟n͟g͟ b͟e͟r͟f͟u͟n͟g͟s͟i͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ t͟e͟m͟p͟a͟t͟ m͟a͟n͟u͟s͟i͟a͟ m͟e͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ k͟e͟g͟i͟a͟t͟a͟n͟n͟y͟a͟ b͟a͟i͟k͟ u͟n͟t͟u͟k͟ h͟u͟n͟i͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ t͟e͟m͟p͟a͟t͟ t͟͟i͟͟n͟͟g͟͟g͟͟a͟͟l͟͟, k͟e͟g͟i͟a͟t͟a͟n͟ k͟͟e͟͟a͟͟g͟͟a͟͟m͟͟a͟͟a͟͟n͟͟, k͟e͟g͟i͟a͟t͟a͟n͟ u͟͟s͟͟a͟͟h͟͟a͟͟, k͟e͟g͟i͟a͟t͟a͟n͟ s͟͟o͟͟s͟͟i͟͟a͟͟l͟͟, b͟͟u͟͟d͟͟a͟͟y͟͟a͟͟, m͟a͟u͟p͟u͟n͟ k͟e͟g͟i͟a͟t͟a͟n͟ k͟͟h͟͟u͟͟s͟͟u͟͟s͟͟.
Kemudian, berkaitan dengan penyelenggaraan bangunan gedung adalah k͟e͟g͟i͟a͟t͟a͟n͟ p͟e͟m͟b͟a͟n͟g͟u͟n͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟l͟i͟p͟u͟t͟i͟ p͟e͟r͟e͟n͟c͟a͟n͟a͟a͟n͟ t͟e͟k͟n͟i͟s͟ d͟a͟n͟ p͟e͟l͟a͟k͟s͟a͟n͟a͟a͟n͟ k͟͟o͟͟n͟͟s͟͟t͟͟r͟͟u͟͟k͟͟s͟͟i͟͟, s͟e͟r͟t͟a͟ k͟e͟g͟i͟a͟t͟a͟n͟ p͟͟e͟͟m͟͟a͟͟n͟͟f͟͟a͟͟a͟͟t͟͟a͟͟n͟͟, p͟͟e͟͟l͟͟e͟͟s͟͟t͟͟a͟͟r͟͟i͟͟a͟͟n͟͟, d͟a͟n͟ p͟͟͟e͟͟͟m͟͟͟b͟͟͟o͟͟͟n͟͟͟g͟͟͟k͟͟͟a͟͟͟r͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟.[¹] Bagi p͟e͟n͟y͟e͟l͟e͟n͟g͟g͟a͟r͟a͟ b͟a͟n͟g͟u͟n͟a͟n͟ g͟e͟d͟u͟n͟g͟ y͟a͟n͟g͟ t͟e͟r͟d͟i͟r͟i͟ a͟t͟a͟s͟ p͟e͟m͟i͟l͟i͟k͟ b͟a͟n͟g͟u͟n͟a͟n͟ g͟͟e͟͟d͟͟u͟͟n͟͟g͟͟, p͟e͟n͟y͟e͟d͟i͟a͟ j͟a͟s͟a͟ k͟͟o͟͟n͟͟s͟͟t͟͟r͟͟u͟͟k͟͟s͟͟i͟͟, p͟r͟o͟f͟e͟s͟i͟ a͟͟h͟͟l͟͟i͟͟, p͟͟e͟͟n͟͟i͟͟l͟͟i͟͟k͟͟, p͟e͟n͟g͟k͟a͟j͟i͟ t͟͟e͟͟k͟͟n͟͟i͟͟s͟͟, d͟a͟n͟ p͟e͟n͟g͟g͟u͟n͟a͟ b͟a͟n͟g͟u͟n͟a͟n͟ g͟͟e͟͟d͟͟u͟͟n͟͟g͟͟, w͟a͟j͟i͟b͟ m͟e͟m͟e͟n͟u͟h͟i͟ k͟e͟t͟e͟n͟t͟u͟a͟n͟ s͟t͟a͟n͟d͟a͟r͟ t͟e͟k͟n͟i͟s͟ b͟a͟n͟g͟u͟n͟a͟n͟ g͟e͟d͟u͟n͟g͟ s͟e͟c͟a͟r͟a͟ b͟͟e͟͟r͟͟t͟͟a͟͟h͟͟a͟͟p͟͟.[²]
Persetujuan Bangunan Gedung/PBG
Berkaitan dengan pertanyaan Anda mengenai persetujuan bangunan gedung atau PBG, pada dasarnya, p͟e͟l͟a͟k͟s͟a͟n͟a͟a͟n͟ p͟e͟m͟b͟a͟n͟g͟u͟n͟a͟n͟ b͟a͟n͟g͟u͟n͟a͟n͟ g͟e͟d͟u͟n͟g͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ s͟e͟t͟e͟l͟a͟h͟ m͟e͟n͟d͟a͟p͟a͟t͟k͟a͟n͟ P͟͟B͟͟G͟͟, sebagaimana diatur dalam Pasal 24 angka 34 Perppu Cipta Kerja yang menambah baru Pasal 36A ayat (1) UU Bangunan Gedung.
Lalu, apa yang dimaksud dengan PBG? P͟B͟G͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ p͟e͟r͟i͟z͟i͟n͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟b͟e͟r͟i͟k͟a͟n͟ k͟e͟p͟a͟d͟a͟ p͟e͟m͟i͟l͟i͟k͟ b͟a͟n͟g͟u͟n͟a͟n͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟m͟b͟a͟n͟g͟u͟n͟ b͟͟a͟͟r͟͟u͟͟, m͟͟e͟͟n͟͟g͟͟u͟͟b͟͟a͟͟h͟͟, m͟͟e͟͟m͟͟p͟͟e͟͟r͟͟l͟͟u͟͟a͟͟s͟͟, m͟͟e͟͟n͟͟g͟͟u͟͟r͟͟a͟͟n͟͟g͟͟i͟͟, d͟͟a͟͟n͟͟/a͟t͟a͟u͟ m͟e͟r͟a͟w͟a͟t͟ b͟a͟n͟g͟u͟n͟a͟n͟ g͟e͟d͟u͟n͟g͟ s͟e͟s͟u͟a͟i͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ s͟t͟a͟n͟d͟a͟r͟ t͟e͟k͟n͟i͟s͟ b͟a͟n͟g͟u͟n͟a͟n͟ g͟͟e͟͟d͟͟u͟͟n͟͟g͟͟.[³]
Kemudian, PBG dimohonkan kepada pemerintah pusat atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya berdasarkan norma, standar, prosedur, dan kriteria yang ditetapkan oleh pemerintah pusat melalui sistem elektronik yang diselenggarakan oleh pemerintah pusat.[⁴]
PBG baru diperoleh setelah mendapatkan pernyataan pemenuhan standar teknis bangunan gedung dari pemerintah pusat atau pemerintah daerah dengan kewenangannya berdasarkan norma, standar, prosedur dan kriteria yang ditetapkan oleh pemerintah pusat.[⁵]
Ketentuan wajib memiliki PBG juga dapat ditemukan pada Pasal 24 angka 38 Perppu Cipta Kerja yang mengubah Pasal 40 ayat (2) UU Bangunan Gedung:
Dalam Penyelenggaraan Bangunan Gedung, Pemilik Bangunan gedung mempunyai kewajiban:
a. menyediakan
rencana teknis
Bangunan Gedung
yang memenuhi
standar teknis
Bangunan Gedung
yang ditetapkan
sesuai dengan
fungsinya;
b. memiliki
Persetujuan
Bangunan Gedung;
c. melaksanakan
pembangunan
Bangunan Gedung
sesuai dengan
rencana teknis;
d. mendapat
pengesahan dari
Pemerintah Pusat
atas perubahan
rencana teknis
Bangunan Gedung
yang terjadi pada
tahap pelaksanaan
bangunan; dan
e. menggunakan
penyedia jasa
perencana,
pelaksana,
pengawas, dan
Pengkaji Teknis yang
memenuhi syarat
sesuai dengan
ketentuan peraturan
perundang-
undangan untuk
melaksanakan
pekerjaan terkait
Bangunan Gedung.
Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa memiliki PBG merupakan kewajiban yang harus dimiliki oleh pemilik bangunan sebelum dimulainya pelaksanaan pembangunan bangunan gedung. Jadi, dalam hal suatu bangunan dibangun tanpa didahului dengan adanya PBG, maka bangunan tersebut telah melanggar ketentuan yang diuraikan di atas.
Sanksi Bangunan Ambruk
Adapun bangunan yang tidak memiliki PBG wajib dibongkar. Hal ini berdasar pada ketentuan Pasal 24 angka 37 Perppu Cipta Kerja yang mengubah Pasal 39 ayat (1) UU Bangunan Gedung:
Bangunan gedung dapat dibongkar apabila:
a. tidak laik fungsi dan
tidak dapat
diperbaiki;
b. berpotensi
menimbulkan
bahaya dalam
Pemanfaatan
Bangunan Gedung
dan/atau
lingkungannya;
c. tidak memiliki
Persetujuan
Bangunan Gedung;
atau
d. ditemukan
ketidaksesuaian
antara pelaksanaan
dan rencana teknis
Bangunan Gedung
yang tercantum
dalam persetujuan
saat dilakukan
inspeksi Bangunan
Gedung.
Membongkar bangunan gedung yang tidak memiliki PBG merupakan k͟e͟w͟a͟j͟i͟b͟a͟n͟ p͟e͟m͟i͟l͟i͟k͟ b͟a͟n͟g͟u͟n͟a͟n͟ g͟e͟d͟u͟n͟g͟ d͟͟͟͟a͟͟͟͟n͟͟͟͟/a͟t͟a͟u͟ p͟e͟n͟g͟g͟u͟n͟a͟ b͟a͟n͟g͟u͟n͟a͟n͟ g͟e͟d͟u͟n͟g͟ yang diatur dalam Pasal 24 angka 39 Perppu Cipta Kerja yang mengubah Pasal 41 ayat (2) huruf f UU Bangunan Gedung:
Dalam Penyelenggaraan Bangunan Gedung, Pemilik Bangunan Gedung dan/atau Pengguna Bangunan Gedung mempunyai kewajiban membongkar Bangunan Gedung dalam hal:
- telah ditetapkan tidak laik fungsi dan tidak dapat diperbaiki;
- berpotensi menimbulkan bahaya dalam pemanfaatannya;
- tidak memiliki Persetujuan Bangunan Gedung; atau
- ditemukan ketidaksesuaian antara pelaksanaan dengan rencana teknis Bangunan Gedung yang tercantum dalam Persetujuan Bangunan Gedung saat dilakukan inspeksi Bangunan Gedung.
Selain itu, sanksi administratif juga d͟i͟b͟e͟r͟i͟k͟a͟n͟ k͟e͟p͟a͟d͟a͟ s͟e͟t͟i͟a͟p͟ p͟e͟m͟i͟l͟i͟k͟ b͟a͟n͟g͟u͟n͟a͟n͟ g͟e͟d͟u͟n͟g͟, p͟͟e͟͟n͟͟g͟͟g͟͟u͟͟n͟͟a͟͟ b͟a͟n͟g͟u͟n͟a͟n͟ g͟e͟d͟u͟n͟g͟, p͟e͟n͟y͟e͟d͟i͟a͟ j͟a͟s͟a͟ k͟͟o͟͟n͟͟s͟͟t͟͟r͟͟u͟͟k͟͟s͟͟i͟͟, p͟r͟o͟f͟e͟s͟i͟ a͟͟h͟͟l͟͟i͟͟, p͟͟e͟͟n͟͟i͟͟l͟͟i͟͟k͟͟, d͟͟a͟͟n͟͟/a͟t͟a͟u͟ p͟e͟n͟g͟k͟a͟j͟i͟ t͟e͟k͟n͟i͟s͟ y͟a͟n͟g͟ t͟i͟d͟a͟k͟ m͟e͟m͟e͟n͟u͟h͟i͟ k͟e͟w͟a͟j͟i͟b͟a͟n͟ p͟e͟m͟e͟n͟u͟h͟a͟n͟ f͟͟u͟͟n͟͟g͟͟s͟͟i͟͟, p͟͟e͟͟r͟͟s͟͟y͟͟a͟͟r͟͟a͟͟t͟͟a͟͟n͟͟, d͟͟a͟͟n͟͟/a͟t͟a͟u͟ p͟e͟n͟y͟e͟l͟e͟n͟g͟g͟a͟r͟a͟a͟n͟ b͟a͟n͟g͟u͟n͟a͟n͟ g͟e͟d͟u͟n͟g͟ (termasuk tidak memiliki PBG).[⁶]
Sanksi administratif ini terdiri dari:[⁷]
a. peringatan tertulis;
b. pembatasan
kegiatan
pembangunan;
c. penghentian
sementara atau
tetap pada pekerjaan
pelaksanaan
pembangunan;
d. penghentian
sementara atau
tetap pada
pemanfaatan
bangunan gedung;
e. pembekuan PBG;
f. pencabutan PBG;
g. pembekuan
sertifikat laik fungsi
bangunan gedung;
h. pencabutan
sertifikat laik fungsi
bangunan gedung;
atau
i. perintah
pembongkaran.
Kemudian, jika bangunan tanpa PBG tersebut ambruk, maka dapat dikenai sanksi pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 24 angka 43 Perppu Cipta Kerja yang mengubah Pasal 46 ayat (1), (2), dan (3) UU Bangunan Gedung, sebagai berikut:
- Setiap Pemilik Bangunan Gedung dan/atau Pengguna Bangunan Gedung yang tidak memenuhi ketentuan dalam Undang-Undang ini dipidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau pidana denda paling banyak 10% (sepuluh persen) dari nilai Bangunan Gedung jika karenanya mengakibatkan kerugian harta benda orang lain.
- Setiap Pemilik Bangunan Gedung dan/atau Pengguna Bangunan Gedung yang tidak memenuhi ketentuan dalam Undang-Undang ini dipidana penjara paling lama 4 (empat) tahun atau pidana denda paling banyak 15% (lima belas persen) dari nilai Bangunan Gedung jika karenanya mengakibatkan kecelakaan bagi orang lain yang mengakibatkan cacat seumur hidup.
- Setiap Pemilik Bangunan Gedung dan/atau Pengguna Bangunan Gedung yang tidak memenuhi ketentuan dalam Undang-Undang ini dipidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan pidana denda paling banyak 20% (dua puluh persen) dari nilai Bangunan Gedung jika karenanya mengakibatkan hilangnya nyawa orang lain.
Dalam proses peradilan atas tindakan di atas, hakim memperhatikan pertimbangan dari profesi ahli.[⁸]
Menjawab pertanyaan Anda, terhadap bangunan yang tidak memiliki PBG, maka pemilik bangunan gedung dan/atau pengguna bangunan gedung dapat dikenai sanksi administratif. Selain itu, terdapat juga kewajiban untuk membongkar gedung. Lalu, karena sudah terdapat korban jiwa karena bangunan yang tidak memiliki PBG tersebut ambruk, maka pemilik bangunan gedung dan/atau pengguna bangunan gedung dapat dikenai sanksi pidana penjara maksimal 5 tahun dan pidana denda maksimal 20% dari nilai bangunan gedung.
Sebagai informasi, pemilik bangunan gedung adalah o͟͟r͟͟a͟͟n͟͟g͟͟, b͟a͟d͟a͟n͟ h͟͟u͟͟k͟͟u͟͟m͟͟, k͟e͟l͟o͟m͟p͟o͟k͟ o͟͟r͟͟a͟͟n͟͟g͟͟, y͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟u͟r͟u͟t͟ h͟u͟k͟u͟m͟ s͟a͟h͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ p͟e͟m͟i͟l͟i͟k͟ b͟a͟n͟g͟u͟n͟a͟n͟ g͟͟͟e͟͟͟d͟͟͟u͟͟͟n͟͟͟g͟͟͟.[⁹] Sedangkan pengguna bangunan gedung adalah p͟e͟m͟i͟l͟i͟k͟ b͟a͟n͟g͟u͟n͟a͟n͟ g͟e͟d͟u͟n͟g͟ d͟͟a͟͟n͟͟/a͟t͟a͟u͟ b͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟m͟i͟l͟i͟k͟ b͟a͟n͟g͟u͟n͟a͟n͟ g͟e͟d͟u͟n͟g͟ b͟e͟r͟d͟a͟s͟a͟r͟k͟a͟n͟ k͟e͟s͟e͟p͟a͟k͟a͟t͟a͟n͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ p͟e͟m͟i͟l͟i͟k͟ b͟a͟n͟g͟u͟n͟a͟n͟ g͟͟e͟͟d͟͟u͟͟n͟͟g͟͟, y͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟g͟g͟u͟n͟a͟k͟a͟n͟ d͟͟a͟͟n͟͟/a͟t͟a͟u͟ m͟e͟n͟g͟e͟l͟o͟l͟a͟ b͟a͟n͟g͟u͟n͟a͟n͟ g͟e͟d͟u͟n͟g͟ a͟͟͟͟t͟͟͟͟a͟͟͟͟u͟͟͟͟ b͟a͟g͟i͟a͟n͟ b͟a͟n͟g͟u͟n͟a͟n͟ s͟e͟s͟u͟a͟i͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ f͟u͟n͟g͟s͟i͟ y͟a͟n͟g͟ d͟͟i͟͟t͟͟e͟͟t͟͟a͟͟p͟͟k͟͟a͟͟n͟͟.[¹⁰]
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat dan dapat dijadikan pembelajaran untuk kita semua terlebih untuk penanya dan Paralegal ubklawyers pada khususnya.
D͟a͟s͟a͟r͟ H͟u͟k͟u͟m͟:
- Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung;
- Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja;
- Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja Menjadi Undang-Undang.
Artikel ini dibuat oleh Muhammad Raihan Nuhraha. SH, dipublikasikan “..Hukumonline.com..” dengan judul Bangunan Ambruk, Siapa yang Bertanggung Jawab? pada tanggal 09 Oktober 2025. Dan diteruskan oleh ubklawyers pada tanggal 20 Oktober 2025.
Seluruh Informasi Hukum yang ada di LBH-UMAR BIN KHATTAB disiapkan semata-mata untuk t͟͟͟u͟͟͟j͟͟͟u͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟ p͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, p͟e͟m͟b͟e͟l͟a͟j͟a͟r͟a͟n͟ dan b͟e͟r͟s͟i͟f͟a͟t͟ u͟m͟u͟m͟. Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan Pengacara, Konsultan Hukum dan/atau Paralegal UBK LAWYERS.
Sedang menghadapi permasalahan hukum? A͟j͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟t͟a͟n͟y͟a͟a͟n͟ melalui email, telepon atau chat.👇🏼
Email:
ubklawyer@gmail.com
Telepon/Chat:
089666552118
Berkenan G͟a͟b͟u͟n͟g͟ G͟r͟o͟u͟p͟, untuk jadi bagian Keluarga Besar UBK LAWYERS. Klik link dibawah.👇🏼
I͟K͟U͟T͟I͟ W͟h͟a͟t͟s͟A͟p͟p͟ C͟h͟a͟n͟n͟e͟l͟ LBH-UMAR BIN KHATTAB. Untuk memperkaya Riset Hukum Anda, klik link dibawah.👇🏼
🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸
#cerdashukum
#studylawtogether
#ubklawyers

