Oleh: Suhaeli Nawawi, Pembina YWI
Pendahuluan
INDRAMAYU — Pertanyaan mendasar manusia sejak dahulu adalah apakah kehidupan setelah kematian itu mungkin. Sains materialis cenderung membatasi kehidupan pada aspek biologis yang dapat diobservasi, sementara agama menegaskan adanya kehidupan pasca-mati sebagai realitas metafisis. Namun, menariknya, Al-Qur’an tidak hanya berbicara secara teologis, melainkan juga menyajikan isyarat biologis yang dapat mengundang perenungan ilmiah. Salah satunya terdapat dalam Surat Yā Sīn ayat 78–79, ketika seorang manusia mengingkari kebangkitan kembali dengan menunjuk pada tulang yang telah hancur:
“Dan ia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: ‘Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang, yang telah hancur luluh?’ Katakanlah: ‘Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk.’” (QS Yā Sīn: 78–79).[^1]
Ayat ini, selain menegaskan kuasa Tuhan, juga membuka ruang tafsir ilmiah: mengapa yang ditunjuk justru tulang—bukan daging, darah, atau organ vital lainnya? Apakah ada makna biologis tersirat di dalamnya?
Tulang sebagai Arsip Biologis
Tulang bukan sekadar struktur keras penopang tubuh. Dalam perspektif biologi molekuler modern, tulang menyimpan sel-sel hidup seperti osteosit, osteoblas, dan sumsum tulang yang kaya sel induk hematopoietik.[^2] Bahkan setelah kematian, tulang sering menjadi salah satu bagian tubuh terakhir yang hancur. Hal ini menjadikan tulang sebagai “arsip biologis” yang sangat berharga.
Dari sisi forensik, DNA sering kali diisolasi dari tulang atau gigi mayat yang berusia puluhan hingga ribuan tahun. Penelitian paleogenetika, seperti yang dilakukan oleh Svante Pääbo, membuktikan bahwa DNA dapat bertahan lama di dalam jaringan keras tulang, memungkinkan rekonstruksi genom manusia purba seperti Homo neanderthalensis.[^3] Dengan teknologi rekayasa genetika, para ilmuwan bahkan dapat “menghidupkan kembali” informasi genetik dari masa lalu.
Isyarat Teistik: Kehidupan dari Tulang
Al-Qur’an dalam QS Yā Sīn:78–79 menegaskan bahwa Tuhan mampu menghidupkan kembali tulang yang telah hancur. Dari sudut teologis, ini adalah jawaban atas skeptisisme manusia: kebangkitan tidak mustahil bagi Sang Pencipta.[^4] Namun, dari perspektif ilmiah, ayat ini dapat dibaca sebagai isyarat bahwa tulang memiliki peran istimewa dalam menyimpan potensi kehidupan.
Bila DNA sebagai cetak biru kehidupan masih dapat ditemukan di dalam tulang, maka “menghidupkan kembali” melalui basis tulang menjadi sebuah gagasan yang tidak hanya metaforis, tetapi juga memiliki landasan biologis. Teknologi cloning, stem cell research, hingga proyek de-extinction (menghidupkan kembali spesies punah) memberi ilustrasi bagaimana “hidup baru” dapat dimulai dari fragmen informasi biologis yang tersimpan di sel.[^5]
Dimensi Filosofis dan Teologis
Pertanyaannya kemudian: apakah kebangkitan kembali manusia dalam perspektif teistik identik dengan rekonstruksi biologis ala sains? Jawabannya kemungkinan besar lebih kompleks. Teologi Islam menekankan kebangkitan jasmani-rohani sebagai realitas transenden, bukan sekadar bioregenerasi.[^6] Namun, isyarat biologis dari tulang dapat dipahami sebagai “jembatan konseptual” untuk meneguhkan kemungkinan kebangkitan.
Dalam filsafat ilmu, hal ini dapat disebut sebagai bentuk isyarat epistemologis: ayat Al-Qur’an menyentuh aspek fisik (tulang) yang kelak dibuktikan sains modern sebagai penyimpan informasi kehidupan.[^7] Dengan kata lain, wahyu tidak menjelaskan mekanisme teknis, tetapi memberi petunjuk simbolis sekaligus ontologis bahwa kehidupan dapat ditarik kembali dari sesuatu yang dianggap “mati”.
Implikasi bagi Diskursus Sains dan Agama
Kajian ini membawa beberapa implikasi penting:
1.Rekonsiliasi iman dan sains – Al-Qur’an tidak sekadar bicara metafisika, tetapi juga memberi isyarat material yang dapat diverifikasi sains.
2.Etika bioteknologi – jika tulang menyimpan potensi untuk “menghidupkan kembali”, maka riset cloning manusia, penggunaan DNA purba, atau rekayasa genetika memiliki dimensi etis dan spiritual.[^8]
3.Kebangkitan sebagai misteri terbuka – meski sains mampu menyalin DNA dan menghidupkan kembali organisme, kebangkitan eskatologis tetap berada di ranah kuasa Tuhan yang melampaui eksperimentasi manusia.
Perspektif Tafsir Klasik dan Modern
Tafsir Klasik
Para mufassir klasik menaruh perhatian besar pada ayat QS Yā Sīn 78–79 ini, terutama karena ayat tersebut diturunkan dalam konteks tantangan kaum musyrikin Makkah.
1.Al-Ṭabarī (w. 310 H) dalam Jāmiʿ al-Bayān menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “tulang-belulang yang hancur” adalah sesuatu yang secara kasatmata dianggap mustahil dihidupkan kembali. Namun Allah menegaskan bahwa yang menciptakan pertama kali tentu mampu menghidupkannya kembali. Ia menekankan aspek kuasa Allah sebagai argumen rasional atas kebangkitan.[^9]
2.Ibn Katsīr (w. 774 H) menafsirkan ayat ini dengan menyebut kisah Ubayy bin Khalaf, seorang Quraisy yang datang membawa tulang lapuk lalu meremukkannya seraya berkata: “Siapa yang dapat menghidupkan ini setelah hancur?” Maka turunlah ayat tersebut sebagai jawaban. Ibn Kathīr menegaskan, kebangkitan bukan sekadar pengumpulan tulang, melainkan penciptaan kembali seluruh jasad dengan ruhnya.[^10]
3.Al-Qurṭubī (w. 671 H) dalam al-Jāmiʿ li-Aḥkām al-Qurʾān menggarisbawahi bahwa tulang disebutkan karena ia adalah struktur keras yang bertahan lama. Ia menyatakan, jika yang hancur saja bisa dihidupkan kembali, maka organ lain yang lebih lunak tentu lebih mudah bagi Allah untuk dikembalikan.[^11]
Dari tafsir klasik ini, terlihat bahwa fokus mereka lebih pada aspek kuasa dan keadilan Allah, meski tetap menyinggung karakter tulang sebagai bagian tubuh yang khas.
Tafsir Modern
Tafsir kontemporer menambahkan perspektif ilmiah-filosofis pada ayat ini.
1.Sayyid Quṭb (w. 1966) dalam Fī Ẓilāl al-Qurʾān menekankan aspek retoris ayat ini: bahwa manusia sering lupa pada asal penciptaannya dari tanah, lalu meragukan kebangkitan. Baginya, penegasan tentang tulang adalah simbol dari bukti material yang paling jelas bagi orang-orang yang mengingkari.[^12]
2.Muḥammad al-Ṭāhir Ibn ʿĀshūr (w. 1973) dalam al-Taḥrīr wa al-Tanwīr menyebut bahwa pemilihan kata ʿiẓām (tulang) menunjukkan bagian tubuh yang mudah ditemukan walaupun setelah jasad hancur. Menurutnya, ini mengandung isyarat bahwa manusia dapat merenungkan kembali asal mula kehidupannya dari sesuatu yang kecil lalu berkembang menjadi kompleks.[^13]
3.Muthahhari (w. 1979), seorang filsuf Islam kontemporer, membaca ayat ini dalam kerangka epistemologi: bahwa wahyu memberi tanda-tanda (āyāt) yang menyentuh wilayah fisik (tulang) sekaligus metafisik (ruh). Menurutnya, ruh dan kehidupan harus dipandang sebagai fenomena ilmiah sekaligus spiritual.[^14]
Kesimpulan
Ayat tentang tulang dalam QS Yā Sīn bukan hanya sebuah perumpamaan retoris, tetapi juga mengandung makna interdisipliner yang menakjubkan. Secara biologis, tulang memang menyimpan informasi kehidupan yang dapat bertahan lama, sehingga memungkinkan upaya rekonstruksi biologis. Secara teologis, tulang menjadi simbol kebangkitan, menegaskan bahwa Tuhan yang menciptakan pertama kali juga mampu menghidupkan kembali.
Baik tafsir klasik maupun modern sepakat bahwa ayat ini menegaskan kuasa Allah atas kebangkitan. Namun, tafsir klasik menitikberatkan pada argumen keimanan dan jawaban terhadap kaum skeptis, sedangkan tafsir modern membuka peluang membaca ayat ini dalam konteks sains dan refleksi epistemologis.
Dengan demikian, tulang dapat dipandang sebagai “arsip keabadian biologis” sekaligus “simbol kebangkitan teologis”. Sains modern dan Al-Qur’an, dalam hal ini, bertemu pada satu titik: kehidupan yang telah padam tetap menyimpan kemungkinan untuk kembali, karena kehidupan berasal dari sumber yang tidak terbatas.
Dengan ungkapan lain, pendekatan interdisipliner—biologi molekuler, filsafat ketuhanan, dan tafsir klasik-modern—memberikan gambaran lebih utuh bahwa tulang memang mengandung makna ganda: simbol kuasa Allah, sekaligus arsip biologis kehidupan.
Catatan Kaki
[^1]: Al-Qur’an, QS Yā Sīn (36): 78–79.
[^2]: Robey, Pamela G. “Cell Sources for Bone Regeneration: The Good, the Bad, and the Ugly (But Promising).” Tissue Engineering Part B: Reviews 17, no. 6 (2011): 423–430.
[^3]: Pääbo, Svante. Neanderthal Man: In Search of Lost Genomes. New York: Basic Books, 2014.
[^4]: Al-Ṭabarī, Jāmiʿ al-Bayān fī Taʾwīl al-Qurʾān, tafsir QS Yā Sīn:78–79.
[^5]: Shapiro, Beth. How to Clone a Mammoth: The Science of De-Extinction. Princeton: Princeton University Press, 2015.
[^6]: Al-Ghazālī, Iḥyāʾ ʿUlūm al-Dīn, bab tentang al-Maʿād (kebangkitan).
[^7]: M. Iqbal, The Reconstruction of Religious Thought in Islam (Lahore: Ashraf, 1930), khususnya bagian hubungan wahyu dan sains.
[^8]: Habermas, Jürgen. The Future of Human Nature. Cambridge: Polity Press, 2003.
[^9]: Al-Ṭabarī, Jāmiʿ al-Bayān fī Taʾwīl al-Qurʾān, tafsir QS Yā Sīn:78–79.
[^10]: Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qurʾān al-ʿAẓīm, tafsir QS Yā Sīn:78–79.
[^11]: Al-Qurṭubī, al-Jāmiʿ li-Aḥkām al-Qurʾān, tafsir QS Yā Sīn:78–79.
[^12]: Sayyid Quṭb, Fī Ẓilāl al-Qurʾān, tafsir QS Yā Sīn:78–79.
[^13]: Ibn ʿĀshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, tafsir QS Yā Sīn:78–79.
[^14]: Murtadha Muthahhari, Man and Universe: An Islamic Perspective (Tehran: World Organization for Islamic Services, 1981).
Daftar Pustaka
Al-Ghazālī. Iḥyāʾ ʿUlūm al-Dīn. Beirut: Dār al-Maʿrifah, n.d.
Al-Qur’an al-Karīm.
Al-Ṭabarī. Jāmiʿ al-Bayān fī Taʾwīl al-Qurʾān. Kairo: Dār al-Maʿārif, 1968.
Habermas, Jürgen. The Future of Human Nature. Cambridge: Polity Press, 2003.
Iqbal, Muhammad. The Reconstruction of Religious Thought in Islam. Lahore: Ashraf, 1930.
Pääbo, Svante. Neanderthal Man: In Search of Lost Genomes. New York: Basic Books, 2014.
Robey, Pamela G. “Cell Sources for Bone Regeneration: The Good, the Bad, and the Ugly (But Promising).” Tissue Engineering Part B: Reviews 17, no. 6 (2011): 423–430.
Shapiro, Beth. How to Clone a Mammoth: The Science of De-Extinction. Princeton: Princeton University Press, 2015.
Akhir kalam, والله اعلم بالصواب

