Oleh: Suhaeli Nawawi, Pembina YWI
Pendahuluan
INDRAMAYU — Pertanyaan klasik manusia sejak dahulu adalah: mungkinkah kehidupan kembali setelah kematian? Dari perspektif sains, kematian berarti berhentinya semua fungsi biologis organisme. Namun, Al-Qur’an memberi isyarat bahwa kebangkitan bukan sekadar khayalan, melainkan janji Tuhan. Salah satu ayat yang menarik perhatian adalah QS. Yā Sīn (36:78–79) yang menyebut tulang-belulang rapuh sebagai titik awal perdebatan tentang kebangkitan.
Kehidupan Pertama: dari Sulālah min Ṭīn
Al-Qur’an menegaskan bahwa manusia diciptakan dari “sulālah min ṭīn” — ekstrak dari tanah liat (QS. Al-Mu’minūn: 12).
Tafsir klasik: al-Ṭabarī menafsirkan sulālah sebagai “inti sari tanah yang halus, yang dengannya Allah memulai penciptaan Adam” (al-Ṭabarī, Jāmi‘ al-Bayān, 1954, 18:5). Ibn Katsīr juga menekankan bahwa manusia berasal dari “campuran air dan tanah yang kemudian menjadi liat” (Ibn Katsīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, 1999, 5:464).
Tafsir modern: M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa istilah ini dapat dipahami sebagai unsur-unsur tanah yang menjadi sumber kehidupan manusia, melalui tumbuhan dan makanan yang dimakannya (Shihab, Tafsir al-Mishbah, 2002, 9:273).
Dari perspektif sains, tanah liat memang mengandung mineral penting (karbon, nitrogen, fosfor, sulfur, magnesium, kalsium) yang menjadi bahan dasar molekul organik. Dengan kata lain, asal mula manusia bukan dari atom murni, melainkan dari senyawa anorganik tanah yang bertransformasi menjadi sistem biologis.
Kehidupan Multiseluler: dari Satu Sel ke Manusia
Setelah pembuahan, kehidupan manusia dimulai dari satu sel zigot. Sel tunggal ini kemudian membelah diri, berkembang, dan membentuk jaringan kompleks, hingga terbentuklah organisme multiseluler utuh.
Al-Qur’an menggambarkan fase ini: “Kemudian Kami jadikan air mani itu ‘alaqah, lalu ‘alaqah itu Kami jadikan mudhghah…” (QS. Al-Mu’minūn: 14).
Tafsir klasik: Ibn Katsīr menyatakan bahwa ayat ini menunjukkan tahapan perkembangan manusia yang menakjubkan, dari sesuatu yang hina menjadi makhluk yang sempurna (Ibn Katsīr, 1999, 5:465).
Tafsir modern: Tantawi Jauhari dalam Al-Jawāhir fī Tafsīr al-Qur’ān (1931) mengaitkan ayat ini dengan penemuan ilmu embriologi modern, sebagai bukti keserasian antara wahyu dan sains.
Kematian: Kembali ke Rufāt
Saat manusia meninggal, tubuhnya kembali ke unsur anorganik. Organ-organ lunak membusuk, sementara tulang belulang bertahan lebih lama. Dalam kasus kremasi, yang tersisa bukan atom bebas, melainkan gumpalan mineral (kalsium fosfat, kalsium karbonat, dan senyawa anorganik lainnya).
Al-Qur’an menyinggung hal ini:
“Apakah benar ketika kami telah menjadi tulang-belulang dan benda-benda hancur (rufāt), kami akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk baru?” (QS. Al-Isrā’: 49).
Tafsir klasik: al-Qurṭubī menjelaskan bahwa rufāt berarti “segala sesuatu yang hancur dan rapuh, seperti dedaunan kering atau serpihan tulang” (al-Qurṭubī, Al-Jāmi‘ li-Aḥkām al-Qur’ān, 1964, 10:293).
Tafsir modern: Quraish Shihab menafsirkan rufāt sebagai materi tubuh yang terurai, yang dalam pandangan manusia mustahil hidup kembali. Namun, mustahil menurut manusia tidak berarti mustahil bagi Allah (Shihab, 2002, 7:421).
Kebangkitan: Dari Rufāt ke Hidup Kembali
Sains forensik modern menunjukkan bahwa bahkan dari sisa jasad seperti tulang, terkadang masih dapat diidentifikasi jejak DNA. Meski proses kremasi menghancurkan sebagian besar biomolekul, struktur anorganik masih bisa bertahan.
Dari perspektif iman, kebangkitan tidak bergantung pada kesempurnaan jasad, tetapi pada kehendak Allah yang “menciptakan kali pertama” (QS. Yā Sīn: 79). Dengan demikian, kebangkitan dapat dipahami sebagai proses yang dimulai bukan dari atom kosong, melainkan dari materi anorganik sisa tubuh (rufāt), yang dihidupkan kembali oleh kekuasaan Allah.
Integrasi Sains dan Teologi
Jika ditarik garis besar, siklus kehidupan manusia menurut Al-Qur’an dapat dipahami sebagai berikut:
1.Asal-usul: Sulālah min ṭīn (mineral tanah) → sel reproduksi.
2.Kehidupan: Sel tunggal (zigot) → manusia multiseluler.
3.Kematian: Tubuh hancur → tulang belulang dan rufāt (materi anorganik).
4.Kebangkitan: Dari rufāt → makhluk baru atas kehendak Allah.
Siklus ini menegaskan bahwa awal dan akhir manusia sama-sama berporos pada unsur mineral, tetapi kehidupan — baik di dunia maupun di akhirat — hanya mungkin terjadi karena adanya campur tangan ruh ilahi.
Penutup
Dengan demikian, ayat-ayat Al-Qur’an mengenai sulālah min ṭīn dan rufāt memberi gambaran integratif antara sains dan iman. Dari sisi sains, manusia memang berasal dari unsur mineral bumi dan kembali menjadi mineral pasca-kematian. Dari sisi iman, kebangkitan adalah janji Allah yang menghubungkan materi anorganik dengan kehidupan baru.
Akhir kalam, والله اعلم بالصواب
