Oleh: Suhaeli Nawawi, Pembina YWI
Bagian Kesebelas
Sulbi, Tara’ib, dan Misteri Cikal Bakal Organ Reproduksi: Antara Tafsir Klasik dan Biologi Modern
INDRAMAYI — Sejak lama manusia bertanya: bagaimana sesungguhnya kehidupan berawal? Dalam Al-Qur’an, muncul istilah menarik terkait proses penciptaan manusia: sulbi (punggung/lumbal) dan tara’ib (dada/toraks). Tafsir klasik menafsirkan keduanya sebagai simbol asal muasal air mani dan kontribusi laki-laki maupun perempuan dalam reproduksi.
Kini, sains modern memberikan gambaran baru yang justru memperkaya pemahaman ini.
Cikal Bakal Organ Reproduksi dalam Pandangan Biologi
Dalam embriologi, organ reproduksi (testis pada laki-laki, ovarium pada perempuan) tidak langsung terbentuk di tempat akhirnya.
Pada awal perkembangan janin, gonad primordial (cikal bakal organ reproduksi) muncul di dekat tulang punggung bagian lumbal (sulbi).
Selanjutnya, sel germinal primordial bermigrasi. Pada laki-laki, gonad bergerak turun menjadi testis di skrotum; pada perempuan, gonad menetap sebagai ovarium di panggul.
Dengan kata lain, secara ilmiah memang ada fase di mana cikal bakal organ reproduksi “berasal dari punggung” sebelum bermigrasi ke tempat akhirnya.
Pabrik Biologis vs Pabrik Mekanik
Upaya manusia modern untuk menciptakan sel reproduksi buatan (sintesis gamet) menghadapi kendala besar. Dari bahan dasar anorganik (CHNOPS: karbon, hidrogen, nitrogen, oksigen, fosfor, sulfur), sejauh ini tidak ada “pabrik mekanik” yang mampu menghasilkan sel hidup.
Namun, ada cara lain: manusia mencangkok sebagian proses yang sudah berlangsung dalam “pabrik biologis”. Artinya, ilmuwan berangkat bukan dari nol, melainkan memanfaatkan sel-sel yang sudah berada dalam jalur biologis, termasuk cikal bakal yang asalnya berada di dekat sulbi dan tara’ib.
Makna Transenden dari Sulbi dan Tara’ib
Kaitannya dengan tafsir klasik terasa menarik:
Sulbi → sesuai dengan letak awal gonad primordial di dekat tulang belakang.
Tara’ib → melambangkan sumber energi dan nutrisi dari bagian atas tubuh (dada/toraks), yang menopang proses diferensiasi sel.
Keduanya menjadi simbol betapa proses biologis selalu terkait dengan lingkungan yang lebih luas, bukan sekadar mandiri dari dirinya sendiri.
Di sinilah masuk unsur transenden: meski sains mampu menguraikan bahan kimia dan jalur biologi, “mesin kehidupan” tetaplah misteri yang tidak sepenuhnya bisa direduksi ke materi. Ada lapisan makna kosmik dan spiritual yang memberi arah pada kehidupan itu sendiri.
Kesimpulan
Upaya manusia untuk membuat sel reproduksi sintetis mungkin akan terus berkembang, tapi jalurnya bukan dari CHNOPS murni, melainkan melalui pabrik biologis yang sudah tersedia dalam tubuh. Di balik temuan ini, istilah Qur’ani sulbi dan tara’ib menemukan resonansinya dalam biologi modern, sekaligus membuka ruang refleksi: bahwa hidup tidak hanya soal molekul, tapi juga tentang informasi, keteraturan, dan mungkin, sentuhan transendensi.
BERSAMBUNG

