INDRAMAYU — PERTANYAAN
Akhir-akhir ini muncul gerakan stop tot tot wuk wuk di jalan. Beberapa bahkan telah memasang stiker bertuliskan stop sirene dan strobo. Bagaimana sebenarnya aturan penggunaan strobo dan sirene sampai harus ada gerakan stop tot tot wuk wuk di jalan? Apa hukumnya sembarangan memasang strobo di kendaraan pribadi? Kenapa lampu strobo dilarang?
Atas pencerahannya diucapkan terimakasih, untuk ubklawyers dan paralegalnya semoga semakin banyak duitnya. Aamiin..
Kang Memed – Driver Juhud
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
“INTISARI JAWABAN”
【Hukum Pidana】
𝔖𝔱𝔯𝔬𝔟𝔬 𝔞𝔡𝔞𝔩𝔞𝔥 𝔩𝔞𝔪𝔭𝔲 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔟𝔢𝔯𝔨𝔢𝔡𝔞𝔭-𝔨𝔢𝔡𝔦𝔭 𝔡𝔢𝔫𝔤𝔞𝔫 𝔠𝔢𝔭𝔞𝔱. 𝔇𝔞𝔩𝔞𝔪 𝔘𝔘 𝔏𝔏𝔄𝔍, 𝔦𝔰𝔱𝔦𝔩𝔞𝔥 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔡𝔦𝔤𝔲𝔫𝔞𝔨𝔞𝔫 𝔲𝔫𝔱𝔲𝔨 𝔩𝔞𝔪𝔭𝔲 𝔰𝔱𝔯𝔬𝔟𝔬 𝔞𝔡𝔞𝔩𝔞𝔥 𝔩𝔞𝔪𝔭𝔲 𝔦𝔰𝔶𝔞𝔯𝔞𝔱. 𝔄𝔡𝔞𝔭𝔲𝔫 𝔰𝔦𝔯𝔢𝔫𝔢 𝔞𝔡𝔞𝔩𝔞𝔥 𝔞𝔩𝔞𝔱 𝔲𝔫𝔱𝔲𝔨 𝔪𝔢𝔫𝔤𝔥𝔞𝔰𝔦𝔩𝔨𝔞𝔫 𝔟𝔲𝔫𝔶𝔦 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔪𝔢𝔫𝔡𝔢𝔫𝔤𝔲𝔫𝔤 𝔨𝔢𝔯𝔞𝔰 (𝔰𝔢𝔟𝔞𝔤𝔞𝔦 𝔱𝔞𝔫𝔡𝔞 𝔟𝔞𝔥𝔞𝔶𝔞 𝔡𝔞𝔫 𝔰𝔢𝔟𝔞𝔤𝔞𝔦𝔫𝔶𝔞).
𝔓𝔞𝔡𝔞 𝔡𝔞𝔰𝔞𝔯𝔫𝔶𝔞, 𝔩𝔞𝔪𝔭𝔲 𝔦𝔰𝔶𝔞𝔯𝔞𝔱 𝔡𝔞𝔫/𝔞𝔱𝔞𝔲 𝔰𝔦𝔯𝔢𝔫𝔢 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔡𝔦𝔤𝔲𝔫𝔞𝔨𝔞𝔫 𝔬𝔩𝔢𝔥 𝔨𝔢𝔫𝔡𝔞𝔯𝔞𝔞𝔫 𝔟𝔢𝔯𝔪𝔬𝔱𝔬𝔯 𝔲𝔫𝔱𝔲𝔨 𝔨𝔢𝔭𝔢𝔫𝔱𝔦𝔫𝔤𝔞𝔫 𝔱𝔢𝔯𝔱𝔢𝔫𝔱𝔲, 𝔶𝔞𝔦𝔱𝔲 𝔨𝔢𝔫𝔡𝔞𝔯𝔞𝔞𝔫 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔨𝔞𝔯𝔢𝔫𝔞 𝔰𝔦𝔣𝔞𝔱 𝔡𝔞𝔫 𝔣𝔲𝔫𝔤𝔰𝔦𝔫𝔶𝔞 𝔡𝔦𝔟𝔢𝔯𝔦 𝔩𝔞𝔪𝔭𝔲 𝔦𝔰𝔶𝔞𝔯𝔞𝔱 𝔟𝔢𝔯𝔴𝔞𝔯𝔫𝔞 𝔪𝔢𝔯𝔞𝔥 𝔞𝔱𝔞𝔲 𝔟𝔦𝔯𝔲 𝔰𝔢𝔟𝔞𝔤𝔞𝔦 𝔱𝔞𝔫𝔡𝔞 𝔪𝔢𝔪𝔦𝔩𝔦𝔨𝔦 𝔥𝔞𝔨 𝔲𝔱𝔞𝔪𝔞 𝔲𝔫𝔱𝔲𝔨 𝔨𝔢𝔩𝔞𝔫𝔠𝔞𝔯𝔞𝔫 𝔡𝔞𝔫 𝔩𝔞𝔪𝔭𝔲 𝔦𝔰𝔶𝔞𝔯𝔞𝔱 𝔟𝔢𝔯𝔴𝔞𝔯𝔫𝔞 𝔨𝔲𝔫𝔦𝔫𝔤 𝔰𝔢𝔟𝔞𝔤𝔞𝔦 𝔱𝔞𝔫𝔡𝔞 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔪𝔢𝔪𝔢𝔯𝔩𝔲𝔨𝔞𝔫 𝔭𝔢𝔯𝔥𝔞𝔱𝔦𝔞𝔫 𝔨𝔥𝔲𝔰𝔲𝔰 𝔡𝔞𝔯𝔦 𝔭𝔢𝔫𝔤𝔤𝔲𝔫𝔞 𝔧𝔞𝔩𝔞𝔫 𝔲𝔫𝔱𝔲𝔨 𝔨𝔢𝔰𝔢𝔩𝔞𝔪𝔞𝔱𝔞𝔫.
𝔏𝔞𝔫𝔱𝔞𝔰, 𝔟𝔞𝔤𝔞𝔦𝔪𝔞𝔫𝔞 𝔧𝔦𝔨𝔞 𝔞𝔡𝔞 𝔨𝔢𝔫𝔡𝔞𝔯𝔞𝔞𝔫 𝔟𝔢𝔯𝔪𝔬𝔱𝔬𝔯 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔪𝔢𝔩𝔞𝔫𝔤𝔤𝔞𝔯 𝔨𝔢𝔱𝔢𝔫𝔱𝔲𝔞𝔫 𝔱𝔢𝔯𝔰𝔢𝔟𝔲𝔱? 𝔄𝔭𝔞 𝔥𝔲𝔨𝔲𝔪𝔫𝔶𝔞 𝔰𝔢𝔪𝔟𝔞𝔯𝔞𝔫𝔤𝔞𝔫 𝔪𝔢𝔪𝔞𝔰𝔞𝔫𝔤 𝔰𝔱𝔯𝔬𝔟𝔬 𝔡𝔦 𝔨𝔢𝔫𝔡𝔞𝔯𝔞𝔞𝔫 𝔭𝔯𝔦𝔟𝔞𝔡𝔦?
𝔓𝔢𝔫𝔧𝔢𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔩𝔢𝔟𝔦𝔥 𝔩𝔞𝔫𝔧𝔲𝔱 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔄𝔫𝔡𝔞 𝔟𝔞𝔠𝔞 𝔲𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔡𝔦 𝔟𝔞𝔴𝔞𝔥 𝔦𝔫𝔦.
ULASAN SELENGKAPNYA;
Terimakasih atas pertanyaan Anda.
Aturan Umum Penggunaan Strobo dan Sirene
Sebelum menjawab pertanyaan Anda, kami akan menerangkan terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan strobo dan sirene. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia/KBBI, s͟t͟r͟o͟b͟o͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ l͟a͟m͟p͟u͟ y͟a͟n͟g͟ b͟e͟r͟k͟e͟d͟a͟p͟-k͟e͟d͟i͟p͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ c͟͟e͟͟p͟͟a͟͟t͟͟. Adapun s͟i͟r͟e͟n͟e͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ a͟l͟a͟t͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟n͟g͟h͟a͟s͟i͟l͟k͟a͟n͟ b͟u͟n͟y͟i͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟d͟e͟n͟g͟u͟n͟g͟ k͟e͟r͟a͟s͟ (s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ t͟a͟n͟d͟a͟ b͟a͟h͟a͟y͟a͟ d͟a͟n͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟n͟y͟a͟).
Aturan yang berkaitan dengan penggunaan strobo dan sirene di jalan, dapat merujuk pada UU LLAJ sebagaimana diubah dengan Perppu Cipta Kerja.
Dalam UU LLAJ, istilah yang digunakan bukanlah strobo melainkan lampu isyarat. Kenapa lampu strobo dilarang? Menjawab pertanyaan tersebut, p͟e͟n͟g͟g͟u͟n͟a͟a͟n͟ s͟t͟r͟o͟b͟o͟ t͟i͟d͟a͟k͟ d͟͟i͟͟l͟͟a͟͟r͟͟a͟͟n͟͟g͟͟, namun penggunaannya diatur, yakni u͟n͟t͟u͟k͟ k͟e͟p͟e͟n͟t͟i͟n͟g͟a͟n͟ t͟͟e͟͟r͟͟t͟͟e͟͟n͟͟t͟͟u͟͟, k͟e͟n͟d͟a͟r͟a͟a͟n͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟l͟e͟n͟g͟k͟a͟p͟i͟ s͟t͟r͟o͟b͟o͟ d͟͟a͟͟n͟͟/a͟t͟a͟u͟ s͟͟͟i͟͟͟r͟͟͟e͟͟͟n͟͟͟e͟͟͟.[¹]
Strobo atau lampu isyarat terdiri atas warna:[²]
a. merah;
b. biru; dan
c. kuning.
Siapa yang boleh memakai strobo? Pada dasarnya, kendaraan yang boleh memakai strobo adalah kendaraan bermotor yang digunakan untuk kepentingan tertentu, yaitu kendaraan yang karena sifat dan fungsinya diberi lampu isyarat berwarna merah atau biru sebagai tanda memiliki hak utama untuk kelancaran dan lampu isyarat berwarna kuning sebagai tanda yang memerlukan perhatian khusus dari pengguna jalan untuk keselamatan.[³]
Kemudian, lampu isyarat atau strobo memiliki fungsi tertentu berdasarkan warnanya. Menurut Pasal 59 ayat (3) UU LLAJ, lampu isyarat warna merah dan biru serta sirene b͟e͟r͟f͟u͟n͟g͟s͟i͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ t͟a͟n͟d͟a͟ k͟e͟n͟d͟a͟r͟a͟a͟n͟ b͟e͟r͟m͟o͟t͟o͟r͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟m͟i͟l͟i͟k͟i͟ h͟a͟k͟ u͟͟t͟͟a͟͟m͟͟a͟͟. Sedangkan, berdasarkan Pasal 59 ayat (4) UU LLAJ, lampu isyarat warna kuning b͟e͟r͟f͟u͟n͟g͟s͟i͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ t͟a͟n͟d͟a͟ p͟e͟r͟i͟n͟g͟a͟t͟a͟n͟ k͟e͟p͟a͟d͟a͟ p͟e͟n͟g͟g͟u͟n͟a͟ j͟a͟l͟a͟n͟ l͟͟a͟͟i͟͟n͟͟.
Adapun lampu isyarat atau strobo harus memenuhi persyaratan:[⁴]
a. terlihat di siang hari
dari jarak paling
sedikit 200 meter
dari segala arah; dan
b. lampu berbentuk
batang memanjang
dengan tidak boleh
melebihi lebar kabin
kendaraan.[⁵]
Lebih lanjut, sama halnya dengan strobo, untuk kepentingan tertentu, k͟e͟n͟d͟a͟r͟a͟a͟n͟ b͟e͟r͟m͟o͟t͟o͟r͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟l͟e͟n͟g͟k͟a͟p͟i͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ s͟͟͟͟i͟͟͟͟r͟͟͟͟e͟͟͟͟n͟͟͟͟e͟͟͟͟.[⁶] Sirene harus memenuhi persyaratan:[⁷]
a. dapat mengeluarkan
suara secara terus
menerus; dan
b. dalam keadaan
darurat dapat
mengaluarkan suara
semakin tinggi.
Dalam hal penggunaannya, l͟a͟m͟p͟u͟ i͟s͟y͟a͟r͟a͟t͟ d͟a͟n͟ s͟i͟r͟e͟n͟e͟ d͟i͟b͟a͟g͟i͟ m͟e͟n͟j͟a͟d͟i͟ sebagai berikut:[⁸]
a. lampu isyarat
w͟a͟r͟n͟a͟ b͟i͟r͟u͟ d͟a͟n͟
s͟i͟r͟e͟n͟e͟ d͟i͟g͟u͟n͟a͟k͟a͟n͟
u͟n͟t͟u͟k͟ k͟e͟n͟d͟a͟r͟a͟a͟n͟
b͟e͟r͟m͟o͟t͟o͟r͟ p͟e͟t͟u͟g͟a͟s͟
K͟e͟p͟o͟l͟i͟s͟i͟a͟n͟ N͟e͟g͟a͟r͟a͟
R͟e͟p͟u͟b͟l͟i͟k͟ I͟n͟d͟o͟n͟e͟s͟i͟a͟;
b. lampu isyarat
w͟a͟r͟n͟a͟ m͟e͟r͟a͟h͟ d͟a͟n͟
s͟i͟r͟e͟n͟e͟ d͟i͟g͟u͟n͟a͟k͟a͟n͟
u͟n͟t͟u͟k͟ k͟e͟n͟d͟a͟r͟a͟a͟n͟
b͟e͟r͟m͟o͟t͟o͟r͟ t͟͟a͟͟h͟͟a͟͟n͟͟a͟͟n͟͟,
p͟e͟n͟g͟a͟w͟a͟l͟a͟n͟ T͟e͟n͟t͟a͟r͟a͟
N͟a͟s͟i͟o͟n͟a͟l͟ I͟͟n͟͟d͟͟o͟͟n͟͟e͟͟s͟͟i͟͟a͟͟,
p͟e͟m͟a͟d͟a͟m͟
k͟͟e͟͟b͟͟a͟͟k͟͟a͟͟r͟͟a͟͟n͟͟,
a͟͟m͟͟b͟͟u͟͟l͟͟a͟͟n͟͟s͟͟, p͟a͟l͟a͟n͟g͟
m͟͟e͟͟r͟͟a͟͟h͟͟, r͟͟e͟͟s͟͟c͟͟u͟͟e͟͟, d͟a͟n͟
j͟e͟n͟a͟z͟a͟h͟;
c. lampu isyarat
w͟a͟r͟n͟a͟ k͟u͟n͟i͟n͟g͟
t͟a͟n͟p͟a͟ s͟i͟r͟e͟n͟e͟
d͟i͟g͟u͟n͟a͟k͟a͟n͟ u͟n͟t͟u͟k͟
k͟e͟n͟d͟a͟r͟a͟a͟n͟ b͟e͟r͟m͟o͟t͟o͟r͟
p͟a͟t͟r͟o͟l͟i͟ j͟͟a͟͟l͟͟a͟͟n͟͟ t͟o͟l͟,
p͟e͟n͟g͟a͟w͟a͟s͟a͟n͟ s͟a͟r͟a͟n͟a͟
d͟a͟n͟ p͟r͟a͟s͟a͟r͟a͟n͟a͟ l͟a͟l͟u͟
l͟i͟n͟t͟a͟s͟ d͟a͟n͟ a͟n͟g͟k͟u͟t͟a͟n͟
j͟͟a͟͟l͟͟a͟͟n͟͟, p͟e͟r͟a͟w͟a͟t͟a͟n͟ d͟a͟n͟
p͟e͟m͟b͟e͟r͟s͟i͟h͟a͟n͟
f͟a͟s͟i͟l͟i͟t͟a͟s͟ u͟͟m͟͟u͟͟m͟͟,
m͟e͟n͟d͟e͟r͟e͟k͟
k͟͟e͟͟n͟͟d͟͟a͟͟r͟͟a͟͟a͟͟n͟͟, d͟a͟n͟
a͟n͟g͟k͟u͟t͟a͟n͟ b͟a͟r͟a͟n͟g͟
k͟͟h͟͟u͟͟s͟͟u͟͟s͟͟;
Pengguna Jalan yang Diutamakan
Sebagaimana telah kami jelaskan, untuk lampu isyarat warna merah dan warna biru serta sirene berfungsi sebagai tanda kendaraan bermotor yang memiliki hak utama kendaraan bermotor. Adapun yang dimaksud dengan kendaraan yang memiliki hak utama adalah k͟e͟n͟d͟a͟r͟a͟a͟n͟ b͟e͟r͟m͟o͟t͟o͟r͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟d͟a͟p͟a͟t͟ p͟r͟i͟o͟r͟i͟t͟a͟s͟ d͟a͟n͟ w͟a͟j͟i͟b͟ d͟i͟d͟a͟h͟u͟l͟u͟k͟a͟n͟ d͟a͟r͟i͟ p͟e͟n͟g͟g͟u͟n͟a͟ j͟a͟l͟a͟n͟ l͟͟a͟͟i͟͟n͟͟.[⁹]
Berbagai kategori kendaraan bermotor pengguna jalan dengan hak utama dijabarkan lebih lanjut dalam Pasal 134 UU LLAJ, yang berbunyi:
Pengguna Jalan yang memperoleh hak utama untuk didahulukan sesuai dengan urutan berikut:
a. Kendaraan
pemadam kebakaran
yang sedang
melaksanakan
tugas;
b. ambulans yang
mengangkut orang
sakit;
c. Kendaraan untuk
memberikan
pertolongan pada
Kecelakaan Lalu
Lintas;
d. Kendaraan pimpinan
Lembaga Negara
Republik Indonesia;
e. Kendaraan pimpinan
dan pejabat negara
asing serta lembaga
internasional yang
menjadi tamu
negara;
f. iring-iringan
pengantar jenazah;
dan
g. konvoi dan/atau
Kendaraan untuk
kepentingan
tertentu menurut
pertimbangan
petugas Kepolisian
Negara Republik
Indonesia.
Kendaraan yang mendapat hak utama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 134 UU LLAJ harus dikawal oleh petugas Kepolisian Negara Republik Indonesia (“Polri”) dan/atau menggunakan lampu isyarat merah atau biru dan bunyi sirene. Kemudian, Polri melakukan pengamanan jika mengetahui adanya pengguna jalan sebagaimana dimaksud. Lalu, penting untuk diketahui bahwa a͟l͟a͟t͟ p͟e͟m͟b͟e͟r͟i͟ i͟s͟y͟a͟r͟a͟t͟ l͟a͟l͟u͟ l͟i͟n͟t͟a͟s͟ d͟a͟n͟ r͟a͟m͟b͟u͟ l͟a͟l͟u͟ l͟i͟n͟t͟a͟s͟ t͟i͟d͟a͟k͟ b͟e͟r͟l͟a͟k͟u͟ b͟a͟g͟i͟ k͟e͟n͟d͟a͟r͟a͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟d͟a͟p͟a͟t͟ h͟a͟k͟ u͟t͟a͟m͟a͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟m͟a͟n͟a͟ d͟i͟m͟a͟k͟s͟u͟d͟ d͟a͟l͟a͟m͟ P͟a͟s͟a͟l͟ 134 U͟U͟ L͟͟L͟͟A͟͟J͟͟.[¹⁰]
Melihat uraian di atas, sejatinya UU LLAJ telah mengatur mengenai penggunaan strobo dan sirene, serta kendaraan apa saja yang dapat menggunakan strobo dan sirene. Dengan demikian, menurut hemat kami, Anda dapat mengabaikan kendaraan-kendaraan pengguna strobo dan sirene yang tidak memenuhi kriteria di atas, salah satunya orang yang memasang strobo dan/atau sirene di kendaraan pribadi.
Gerakan “stop tot tot wuk wuk’’ dan “stop sirene dan strobo’’ di jalan, kami asumsikan karena adanya pelanggaran terhadap aturan penggunaan strobo dan/atau sirene oleh pengguna jalan, misalnya memasang strobo di kendaraan pribadi. Dengan demikian, pelanggar dapat dikenai sanksi pidana berdasarkan Pasal 287 ayat (4) UU LLAJ, yang berbunyi:
- Setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan yang melanggar ketentuan mengenai p͟e͟n͟g͟g͟u͟n͟a͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ h͟a͟k͟ u͟t͟a͟m͟a͟ b͟a͟g͟i͟ k͟e͟n͟d͟a͟r͟a͟a͟n͟ b͟e͟r͟m͟o͟t͟o͟r͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟g͟g͟u͟n͟a͟k͟a͟n͟ a͟l͟a͟t͟ p͟e͟r͟i͟n͟g͟a͟t͟a͟n͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ b͟u͟n͟y͟i͟ d͟a͟n͟ s͟i͟n͟a͟r͟ sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59, Pasal 106 ayat (4) huruf f, atau Pasal 134 dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 bulan atau denda paling banyak Rp250 juta.
Demikian jawaban kami, semoga bermanfaat dan dapat dijadikan pembelajaran untuk kita semua terlebih untuk penanya dan Paralegal ubklawyers pada khususnya.
D͟a͟s͟a͟r͟ H͟u͟k͟u͟m͟:
- Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan;
- Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja;
- Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja Menjadi Undang-Undang;
- Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2012 tentang Kendaraan.
Artikel ini adalah pemutakhiran dari artikel dengan judul Hukumnya Sembarangan Memasang Strobo di Kendaraan Pribadi yang dibuat oleh Arasy Pradana A. Azis, S.H., M.H. dan pertama kali dipublikasikan pada 09 September 2019. Dipublikasikan kedua oleh “..Hukumonline.com..” pada tanggal 23 September 2025. Dan diteruskan oleh ubklawyers pada tanggal 27 September 2025.
Seluruh Informasi Hukum yang ada di LBH-UMAR BIN KHATTAB disiapkan semata-mata untuk t͟͟͟u͟͟͟j͟͟͟u͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟ p͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, p͟e͟m͟b͟e͟l͟a͟j͟a͟r͟a͟n͟ dan b͟e͟r͟s͟i͟f͟a͟t͟ u͟m͟u͟m͟. Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan Pengacara, Konsultan Hukum dan/atau Paralegal UBK LAWYERS.
Sedang menghadapi permasalahan hukum? A͟j͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟t͟a͟n͟y͟a͟a͟n͟ melalui email, telepon atau chat.👇🏼
Email:
ubklawyer@gmail.com
Telepon/Chat:
089666552118
Berkenan G͟a͟b͟u͟n͟g͟ G͟r͟o͟u͟p͟, untuk jadi bagian Keluarga Besar UBK LAWYERS. Klik link dibawah.👇🏼
I͟K͟U͟T͟I͟ W͟h͟a͟t͟s͟A͟p͟p͟ C͟h͟a͟n͟n͟e͟l͟ LBH-UMAR BIN KHATTAB. Untuk memperkaya Riset Hukum Anda, klik link dibawah.👇🏼
🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸
#cerdashukum
#studylawtogether
#ubklawyers
